Monthly Archives: Sep 2026

Articles

JAWABAN DOA ITU DITERIMA, BUKAN DITUNGGU

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

JAWABAN DOA ITU DITERIMA, BUKAN DITUNGGU

Sering kali kita berpikir tugas kita hanyalah berdoa, lalu menunggu.

“Tuhan, kapan Engkau menjawab?”

“Tuhan, kapan Engkau menyembuhkan?”

“Tuhan, kapan Engkau menyediakan?”

Seolah-olah Tuhan masih berada di surga, mempertimbangkan apakah Dia akan memberikan jawaban atau tidak.
Padahal Yesus mengajarkan sesuatu yang sangat menarik:

“Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”

Perhatikan urutannya.
Percaya bahwa sudah menerima, sebelum melihat hasilnya.
Wow!

Inilah yang membedakan iman dari sekadar berharap.
Harapan berkata, “Mudah-mudahan suatu hari terjadi.”
Iman berkata, “Saya percaya apa yang Tuhan katakan, bahkan sebelum mata saya melihat hasilnya.”
Tetapi ada sesuatu yang perlu diluruskan.
Iman bukan kemampuan kita menciptakan realitas sesuka hati. Kita bukan “Tuhan kecil” yang mempunyai kuasa pencipta independen.
Kuasa tetap milik Tuhan.
Firman tetap Firman-Nya.
Otoritas yang kita miliki adalah otoritas yang diberikan kepada kita di dalam Kristus.

Kejadian mengatakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah serta diberi kuasa untuk memerintah atas ciptaan. Tetapi menjadi gambar Allah tidak berarti kita menjadi replika Allah dengan kemampuan penciptaan yang sama seperti Sang Pencipta.
Kita adalah wakil-Nya, bukan pengganti-Nya.

Nach, justru di situlah berita baiknya.
Kita tidak perlu menciptakan sendiri apa yang Tuhan belum sediakan.
Di dalam Kristus, Tuhan telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup dan kesalehan.

Jadi kehidupan iman bukan perjuangan membuat Tuhan menyediakan.
Kita belajar menerima dan berjalan di dalam apa yang sudah disediakan-Nya.

Yesus berkata dalam Markus 11 bahwa siapa yang berkata kepada gunung, “Terangkatlah dan tercampaklah ke dalam laut,” dan tidak bimbang dalam hatinya tetapi percaya, apa yang dikatakannya akan terjadi.

Ada tempat untuk berkata.
Ada tempat untuk percaya.
Ada tempat untuk menggunakan otoritas.
Kita tidak hanya memandang gunung sambil berkata, “Tuhan, tolong lakukan sesuatu.”

Ada saatnya kita berbicara kepada gunung berdasarkan apa yang Tuhan sudah firmankan.

Ketika gejala penyakit berteriak, kita tidak perlu menyangkal bahwa gejalanya ada. Tetapi kita juga tidak menjadikannya otoritas terakhir.
Firman Tuhanlah yang mempunyai kata terakhir.

Ketika keadaan bisnis berkata, “Tidak ada jalan,” jangan biarkan keadaan menentukan batas masa depan kita.
Cari hikmat Tuhan. Dengarkan tuntunan-Nya. Pegang Firman. Lalu lakukan bagian kita.

Iman bukan pasif. Tetapi iman juga bukan mencoba mengambil alih posisi Tuhan.
Itulah keseimbangannya.

Efesus 3:20 mengatakan bahwa Tuhan sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, menurut kuasa yang bekerja di dalam kita.
Kuasa itu berasal dari-Nya, tetapi bekerja di dalam kita.
Karena itu jangan terus menunggu sesuatu “jatuh dari langit” sementara Tuhan sudah memberikan Firman, hikmat, otoritas, karunia, kesempatan, bahkan langkah yang perlu kita ambil.

Kadang kita berdoa meminta pintu terbuka, tetapi ketika pintu terbuka kita tidak melangkah.
Kita berdoa meminta panen, tetapi tidak pernah menabur.
Kita berdoa meminta perubahan, tetapi menolak memperbarui pikiran.
Lalu kita berkata, “Tuhan, kapan?”

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat:
“Tuhan, apa yang sudah Engkau sediakan, dan bagaimana saya berjalan di dalamnya?”

Mazmur berkata, “Bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”

Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa setiap keinginan yang muncul otomatis berasal dari Tuhan.
Semakin hati kita berpusat kepada-Nya, semakin keinginan kita dibentuk oleh kebenaran-Nya. Karena itu hasrat hati tetap perlu diuji dengan Firman dan tuntunan Roh Kudus.
Kita bukan pengemis yang mencoba membujuk Bapa yang enggan memberi.

Kita adalah anak-anak yang datang dengan keyakinan karena Kristus telah membuka jalan.
Jadi berhentilah berpikir bahwa Tuhan harus diyakinkan terlebih dahulu agar bersedia berbuat baik.
Anugerah sudah menyediakan. Iman menerima. Firman memperbarui pikiran. Otoritas digunakan sesuai kehendak-Nya. Dan ketaatan mengambil langkah.

Roma 10 mengatakan, “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.”

Mulut dan hati.
Bukan sekadar mengucapkan formula.
Bukan pula deklarasi untuk memaksa realitas mengikuti kemauan kita.
Tetapi hati yang percaya kepada Tuhan dan mulut yang sepakat dengan Firman-Nya.
Jadi ketika keadaan berteriak sebaliknya, jangan menyerah.
Kembali kepada Firman.
Percaya.
Berkata.
Dengarkan tuntunan-Nya.
Dan melangkahlah.
Bukan karena kita sedang mencoba menciptakan jawaban doa, tetapi karena kita percaya Tuhan sudah menyediakan anugerah-Nya dan kita sedang belajar menerima serta berjalan di dalamnya.

“God’s Word conceived in your heart, then formed by the tongue, and spoken out of your own mouth, becomes a spiritual force releasing the ability of God within you.” — Charles Capps

“Firman Tuhan yang diterima dalam hati, dibentuk oleh lidah, lalu diucapkan melalui mulut kita, menjadi kekuatan rohani yang melepaskan kemampuan Tuhan yang bekerja di dalam kita.” — Charles Capps

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Iman bukan menciptakan apa yang Tuhan lupa sediakan. Iman menerima apa yang sudah disediakan oleh anugerah, lalu berani hidup berdasarkan kebenaran itu sebelum mata melihat hasilnya.”

“Faith does not create what God forgot to provide. Faith receives what grace has already provided and dares to live by that truth before the eyes can see the result.”
— Yenny Indra

Read More
Articles

JANGAN SALAHKAN TUHAN JANGAN SALAHKAN TUHAN, PERIKSA HATI KITA, SIAPKAN DIRI KITA UNTUK MUJIZAT.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

JANGAN SALAHKAN TUHAN JANGAN SALAHKAN TUHAN, PERIKSA HATI KITA, SIAPKAN DIRI KITA UNTUK MUJIZAT.

“Mengapa hidupku begini?”

“Mengapa Tuhan diam saja?”

Pertanyaan ini sering muncul saat kita menghadapi jalan buntu.

Tetapi mari kita lihat apa yang terjadi dalam 2 Raja-raja 6:24-33.

Kota Samaria dikepung musuh. Tidak ada yang bisa keluar masuk. Akibatnya kelaparan parah. Harga makanan menjadi sangat mahal. Bahkan ada ibu yang memakan anaknya sendiri. Betapa mengerikannya keadaan saat itu.

Saat tekanan datang, apa yang sesungguhnya ada di dalam hati kita akan terlihat.

Raja Israel frustrasi dan menyalahkan Nabi Elisa.

Tetapi apakah Elisa penyebab masalahnya?

Bukan.

Sesungguhnya rajalah yang seharusnya membawa bangsanya kembali kepada Tuhan, tetapi ia malah mencari kambing hitam.

Ini bukan kisah baru.

Dulu Raja Ahab juga menyalahkan Elia. Padahal justru Ahab dan keluarganya yang membawa Israel semakin jauh dari Tuhan.

Jangan salahkan Tuhan.

Tuhan bukan penyebab penderitaan kita. Dia adalah jawabannya.

Mungkin hari-hari ini kita sedang merasa sangat membutuhkan pertolongan.

Obat sudah dicoba tetapi belum sembuh.

Usaha sudah dikerjakan tetapi tetap seret.

Bisnis tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Doa-doa kita belum kelihatan hasilnya.

Apa yang harus kita lakukan?

Periksa hati kita.

Bukan untuk mencari-cari dosa lalu hidup dalam penghukuman. Bukan pula karena kita harus menjadi cukup baik dahulu supaya Tuhan bersedia menjawab doa kita.

Anugerah-Nya sudah tersedia.

Tetapi kita perlu jujur kepada diri sendiri. Apakah ada kepahitan yang terus dipelihara? Ketidaktaatan yang sebenarnya sudah kita ketahui? Atau pola pikir yang tidak selaras dengan Firman Tuhan?

Mari kita renungkan Markus 11:24-25.

Yesus mengajarkan bahwa apa saja yang kita minta dan doakan, percayalah bahwa kita telah menerimanya. Lalu tepat sesudah berbicara tentang iman, Yesus berkata bahwa ketika kita berdiri untuk berdoa, ampunilah.

Wow!

Iman dan pengampunan ternyata berjalan beriringan.

Kalau masih menyimpan luka atau dendam, bersih-bersih hati itu penting.

Bukan karena pengampunan merupakan harga yang harus kita bayarkan agar Tuhan mau memberkati kita. Kita mengampuni karena kita sendiri telah menerima anugerah yang begitu besar.

Jangan biarkan kepahitan, strife, atau sakit hati menguasai pikiran dan respons kita.

Lalu di pasal berikutnya, 2 Raja-raja 7, Elisa bernubuat bahwa besok harga makanan akan kembali normal.

Secara manusia, mustahil!

Tetapi benar, perubahan terjadi hanya dalam satu hari.

Ada seorang pejabat yang mencibir dan tidak percaya. Akibatnya ia melihat apa yang dinubuatkan itu terjadi, tetapi tidak menikmatinya.

Hatinya tidak siap mempercayai apa yang Tuhan katakan.

Mak jleb!

Pelajarannya penting.

Jangan menilai kemampuan Tuhan berdasarkan keadaan yang sedang kita lihat.

Hari ini seolah-olah tidak ada jalan, bukan berarti besok Tuhan tidak dapat membuka jalan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh kita.

Jangan menunggu segala keadaan menjadi ideal dahulu baru percaya.

Lihatlah Yusuf.

Dari penjara, ia naik ke istana dalam waktu yang sangat singkat.

Di sepanjang perjalanan hidupnya, Yusuf difitnah, dikhianati, dijual oleh saudara-saudaranya, bahkan dilupakan.

Namun Yusuf tetap berjalan bersama Tuhan.

Ia tidak membiarkan pengkhianatan menentukan siapa dirinya. Ia tidak membiarkan penjara memenjarakan masa depannya.

Bukan berarti Yusuf harus menjadi cukup baik terlebih dahulu agar Tuhan akhirnya bersedia memberkatinya.

Tuhan sudah menyertainya bahkan ketika ia masih berada di rumah Potifar dan di dalam penjara.

Karakter Yusuf bertumbuh di tengah proses itu.

Demikian juga dengan kita.

Pertanyaannya bukan, “Apakah saya sudah lulus ujian sehingga sekarang Tuhan wajib memberikan mukjizat?”

Pertanyaannya:

Apakah di tengah keadaan yang belum berubah, saya tetap percaya, tetap taat, menjaga hati, dan berdiri di atas Firman Tuhan?

Tuhan tidak mencari orang yang merasa dirinya hebat.

Dia menginginkan hati yang lembut, mau diajar, mau dibentuk, dan percaya kepada-Nya.

Efesus 3:20 berkata bahwa Dia sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, sesuai dengan kuasa yang bekerja di dalam kita.

Jadi jangan salahkan Tuhan ketika jawaban belum terlihat.

Jangan pula hidup dalam penghukuman dan sibuk menyalahkan diri sendiri.

Kembali kepada Firman.

Periksa hati.

Ampuni.

Perbarui pikiran.

Percaya.

Dan tetaplah berjalan bersama-Nya.

Bukan untuk membujuk Tuhan supaya akhirnya bersedia berbuat baik kepada kita.

Anugerah sudah menyediakan. Iman menerima.

Yuk, katakan bersama saya:

Tidak ada yang mustahil bagi Tuhanku.

Aku siap mengalami perluasan.

Aku siap menikmati hal-hal yang lebih besar.

Dan sekalipun hari ini mata kita belum melihat perubahan, kita tetap percaya kepada kebaikan-Nya dan berdiri teguh di atas Firman-Nya.

“Great faith is the product of great fights. Great testimonies are the outcome of great tests. Great triumphs can only come out of great trials.”— Smith Wigglesworth

“Iman yang besar lahir dari pertarungan besar. Kesaksian besar merupakan hasil dari ujian besar. Kemenangan besar hanya dapat lahir dari pencobaan besar.” — Smith Wigglesworth

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan ukur kebaikan Tuhan dari keadaan yang sedang kita alami. Berdirilah di atas Firman-Nya, jagalah hati, dan percayalah bahwa keadaan bukanlah kata terakhir.”

“Never measure God’s goodness by the circumstances you are facing. Stand on His Word, guard your heart, and trust that circumstances do not have the final say.”
— Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Tunggu Sampai Mati Untuk Berterima Kasih.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Tunggu Sampai Mati Untuk Berterima Kasih.

George Clooney pernah melakukan sesuatu yang kedengarannya seperti adegan film.

Ia mengundang 14 sahabatnya makan malam.

Mereka bukan sekadar teman sesama selebriti. Mereka adalah orang-orang yang sudah bersamanya selama puluhan tahun, termasuk ketika Clooney belum menjadi siapa-siapa.

Saat masih berjuang sebagai aktor di Los Angeles, ada yang meminjamkan uang. Ada yang membiarkannya tidur di sofa rumah mereka. Ada yang menolong ketika hidupnya masih jauh dari nyaman.

Clooney tidak lupa.

Tanggal 27 September 2013, keempat belas sahabat itu diundang ke rumahnya. Di setiap tempat duduk sudah tersedia sebuah koper hitam.

Ketika koper dibuka…

US$1 juta tunai!

Untuk setiap orang.

Total US$14 juta.

Dan pajaknya pun ditanggung Clooney.

Bayangkan suasananya.

Beberapa sahabatnya saat itu memang sudah mapan. Tetapi sebagian lainnya masih berjuang secara finansial. Rande Gerber bahkan bercerita bahwa salah seorang dari mereka bekerja di sebuah bar di bandara Texas dan naik sepeda ke tempat kerja untuk menghidupi keluarganya.

Rande sendiri sudah kaya. Ia merasa tidak pantas menerima uang itu dan mencoba menolak.

Clooney memberi ultimatum sederhana: kalau Rande tidak menerimanya, yang lain juga tidak mendapatkannya.

Akhirnya Rande menerima, lalu menyumbangkan uang tersebut untuk amal.

Tetapi bagian yang paling menyentuh bagi saya justru alasan Clooney melakukannya.

Bertahun-tahun kemudian ia menjelaskan, tanpa sahabat-sahabat itu ia tidak akan memiliki semua yang sekarang dimilikinya. Mereka toh akan masuk dalam surat wasiatnya jika sesuatu terjadi kepadanya.

Lalu mengapa harus menunggu sampai mati?

Jleb.

Bukankah kita sering begitu?

Kita begitu mudah mengingat orang yang mengecewakan kita, tetapi kadang lupa kepada mereka yang pernah menolong ketika kita sedang susah.

Ada guru yang dahulu memberi kesempatan.

Sahabat yang menemani ketika belum punya apa-apa.

Orang yang memperkenalkan kita kepada seseorang sehingga sebuah pintu terbuka.

Karyawan yang ikut berjuang ketika perusahaan masih kecil.

Orangtua yang berkorban diam-diam.

Pasangan yang berdiri di samping kita selama puluhan tahun.

Setelah sukses, semuanya terlihat seolah-olah hasil perjuangan kita sendiri.

Padahal tidak ada seorang pun yang sampai di tempatnya hari ini sendirian.

Yang saya sukai dari kisah Clooney bukan angka US$14 juta itu.

Tidak semua orang mampu memberikan sejuta dolar, dan rasa terima kasih memang tidak diukur dari besarnya hadiah.

Yang mengesankan adalah: dia ingat.

Kesuksesan tidak membuatnya lupa pada sofa tempat ia pernah menumpang tidur.

Itulah karakter.

Memberi kepada orang yang bisa membalas kita adalah transaksi.

Memberi untuk mendapatkan nama adalah promosi.

Tetapi menghargai orang yang pernah berjasa, bahkan ketika dunia sudah tidak tahu apa yang pernah mereka lakukan bagi kita, namanya tahu berterima kasih.

Saya jadi belajar sesuatu.

Kalau ada orang yang berjasa dalam hidup kita, jangan menunggu pemakamannya untuk menceritakan betapa baiknya dia.

Jangan menunggu terlambat untuk berkata, “Terima kasih. Saya tidak akan berada di sini tanpa bantuanmu.”

Telepon selagi dia masih bisa mendengarnya.

Peluk selagi dia masih bisa merasakannya.

Balas kebaikannya selagi kita masih mempunyai kesempatan.

George Clooney memilih tidak menunggu warisan berbicara setelah ia mati.

Ia ingin sahabat-sahabatnya mendengarnya langsung dari mulutnya:

Saya ingat.

Dan mungkin itulah salah satu tanda kesuksesan yang sesungguhnya.

Bukan sekadar seberapa jauh kita berhasil naik.

Tetapi apakah setelah berada di atas, kita masih ingat siapa yang pernah membantu kita berdiri.

“Feeling gratitude and not expressing it is like wrapping a present and not giving it.” – William Arthur Ward.

“Merasakan rasa syukur tetapi tidak mengungkapkannya seperti membungkus hadiah tetapi tidak memberikannya.” — William Arthur Ward.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Success shows how far we have traveled. Character shows whether we still remember those who walked with us when we had nothing.”

“Kesuksesan menunjukkan seberapa jauh kita telah melakukan perjalanan. Karakter menunjukkan apakah kita masih mengingat mereka yang berjalan bersama kita ketika kita tidak punya apa-apa.” — Yenny Indra

Read More
Articles

MENGENANG P. HOENTORO HADIWIDJOJO:APA YANG TERTINGGAL DARI NAMA KITA?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengenang P. HOENTORO HADIWIDJOJO:APA YANG TERTINGGAL DARI NAMA KITA?

Kemarin saya menulis tentang orang-orang yang berjasa dalam hidup kita. Tentang kebaikan yang jangan sampai dilupakan hanya karena waktu sudah berlalu. Lalu saya berpikir dari sisi sebaliknya. Kelak, ketika nama kita disebut, apa yang orang ingat tentang kita?

Ada seseorang bernama Hoentoro Hadiwidjojo. Ko Hoen, demikian saya memanggilnya, yang sampai hari ini saya ingat dengan rasa hormat. Beliau terkenal murah hati, suka membantu orang, sangat berbakti kepada orangtua dan peduli kepada keluarga. Kalau mencari teladan tentang u hao, berbakti kepada orangtua dan keluarga, Ko Hoen salah satunya.

Papa Ko Hoen bersama empat sahabatnya, termasuk papa saya, mengangkat saudara. Mereka menamakan persaudaraan itu Panca Saudara. Yang mengesankan, persaudaraan itu tidak berhenti ketika salah seorang meninggal.

Setelah papa saya meninggal, Ko Hoen secara berkala menelepon Mama, sekadar menanyakan kabar keluarga. Kalau melewati Kebumen, kota tempat keluarga kami tinggal, beliau menyempatkan diri menjenguk. Setelah Mama meninggal pun kebiasaan itu tidak berhenti. Ko Hoen menelepon Ay Cen, adik ipar yang meneruskan usaha Papa di Kebumen, menanyakan kabar keluarga. Padahal Ko Hoen jauh lebih tua. Seharusnya yang muda yang memperhatikan beliau. Kenyataannya justru beliau yang terus memperhatikan kami.

Kualitas karakter yang langka. Dan bukan hanya kepada keluarga kami. Kepada keluarga lainnya pun demikian.

Wow….

Ko Hoen meninggal pada masa Covid. Tetapi bertahun-tahun kemudian, karakter seperti itu ternyata tidak ikut terkubur bersama kepergiannya. Namanya masih membawa cerita tentang kebaikan.

Saya belajar, ternyata manusia meninggalkan jejak jauh sebelum meninggalkan dunia ini. Ada orang yang ketika namanya disebut, kita tersenyum. “Wah, dia baik sekali. Dulu ketika saya kesulitan, dia yang membantu.”

Tetapi ada pula nama yang setelah puluhan tahun disebut, ceritanya masih sama. “Dulu kami begitu percaya kepadanya. Justru karena percaya, kami tidak banyak bertanya. Belakangan baru sadar ternyata kami dirugikan.” Uangnya mungkin sudah lama habis. Tetapi rasanya masih tertinggal.

Dalam bisnis, tentu mencari keuntungan itu wajar. Saya pun pebisnis. Tidak ada yang salah dengan profit. Tetapi ada perbedaan besar antara mendapatkan keuntungan yang wajar dan mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan kepercayaan seseorang. Apalagi ketika orang itu percaya kepada kita sehingga tidak mengecek harga, tidak membandingkan, bahkan tidak banyak bertanya.

Secara hukum mungkin semuanya sah. Secara hitungan mungkin kita untung. Tetapi apakah setiap keuntungan layak diambil? Saya rasa tidak.

Dan tentu prinsip ini berlaku dua arah. Jangan pula menuduh seseorang tidak fair hanya karena kita tidak mendapatkan harga yang kita inginkan. Fair bukan berarti selalu murah. Fair berarti tidak mengambil keuntungan secara tidak patut dari ketidaktahuan atau kepercayaan orang lain.

“A good name is more desirable than great riches; to be esteemed is better than silver or gold.”

“Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar; dihormati lebih baik daripada perak dan emas.”

Semakin berumur, saya semakin mengerti mengapa. Apa artinya sejumlah uang masuk ke rekening kita, kalau pada saat yang sama kepercayaan seseorang keluar dari hidup kita?

Lebih menyedihkan lagi, mungkin kita sudah lupa peristiwanya. Tetapi orang yang pernah merasa dirugikan belum tentu melupakannya, bahkan puluhan tahun kemudian. Terkadang ceritanya diteruskan kepada anak-anaknya. Bukan karena sengaja menyimpan dendam, tetapi karena pengalaman mengajarkan mereka: lain kali hati-hati.

Tiba-tiba saya sadar, setiap transaksi bukan sekadar pertukaran uang. Kita sedang membangun reputasi. Setiap kali seseorang mempercayakan sesuatu kepada kita, sebenarnya dia sedang meletakkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang di tangan kita: kepercayaan. Jangan disia-siakan.

Saya tidak ingin suatu hari orang menyebut nama saya lalu berkata, “Saya percaya kepadanya, justru karena itulah saya dirugikan.” Saya ingin ketika nama saya disebut, orang berkata, “Saya pernah berurusan dengannya. Dia fair.”

Tidak harus selalu murah. Tidak harus selalu mengalah. Bisnis tetap bisnis. Tetapi fair. Uang bisa dicari lagi. Kesempatan bisa datang lagi. Namun sekali seseorang merasa kepercayaannya dimanfaatkan, membangunnya kembali tidak semudah mentransfer uang kembali ke rekeningnya.

Ko Hoen mungkin dahulu tidak pernah berpikir bahwa kemurahan hatinya masih akan diceritakan bertahun-tahun kemudian. Tetapi ternyata begitulah kehidupan. Kita sedang menulis kenangan tentang diri kita di hati orang lain setiap hari.

Karena itu jangan hanya bertanya, “Berapa keuntungan yang saya dapat?” Sesekali tanyakan juga, “Setelah semuanya selesai, apa yang tertinggal dari nama saya?”

Sebab pada akhirnya, mungkin bukan berapa banyak yang pernah kita miliki yang paling lama diingat orang, melainkan bagaimana kita memperlakukan mereka.

Dan saya memilih: lebih baik kehilangan sedikit keuntungan daripada kehilangan sebuah nama baik.

“A good name is more desirable than great riches; to be esteemed is better than silver or gold.” — Proverbs

“Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar; dihormati lebih baik daripada perak dan emas.”— Proverbs

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan hanya menghitung berapa banyak yang masuk ke rekening kita. Hitung juga apakah setelah semuanya selesai, orang masih mempercayai nama kita.” — Yenny Indra

“Don’t only count what enters your bank account. Count whether, when it is all over, people can still trust your name.” — Yenny Indra

Read More
Articles

Hati Tetap Bersih, Mata Tetap Terbuka.”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Hati Tetap Bersih, Mata Tetap Terbuka.”

Semakin panjang perjalanan hidup, semakin saya menyadari bahwa kita tidak dapat memperlakukan semua orang dengan cara yang sama.

Ada orang yang tulus mengasihi kita.

Ada yang pernah berjasa besar.

Ada yang menyenangkan di depan, tetapi ternyata berbeda di belakang.

Ada yang pernah mengecewakan.

Bahkan ada orang yang sudah kita ampuni, tetapi rasanya tidak bijaksana jika kita kembali memberikan kepercayaan sebesar sebelumnya.

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai anak Tuhan?

Apakah walking in love berarti harus dekat dengan semua orang?

Apakah mengampuni berarti harus mempercayai kembali?

Apakah menjaga jarak berarti kita tidak mengasihi?

Saya belajar, jawabannya tidak sesederhana hitam dan putih.

Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi. Bahkan mengasihi musuh dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita.

Tetapi Yesus juga berkata,

“Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Wow!

Ternyata ketulusan harus berjalan bersama kecerdikan.

Hati yang baik tidak harus menjadi hati yang naif.

Alkitab juga mengatakan, sejauh hal itu bergantung kepada kita, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Artinya kita melakukan bagian kita. Menjaga hati. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Tidak memelihara dendam.

Tetapi perdamaian tidak selalu berarti kedekatan.

Ada orang yang layak kita kasihi dari dekat. Ada pula yang tetap kita kasihi, tetapi dengan batas yang sehat.

Ada empat prinsip yang saya pegang:

Kebaikan diingat dengan gratitude.
Kesalahan diampuni dengan grace.
Kebenaran dihadapi dengan courage.
Hubungan dijalani dengan wisdom.

Saya sangat percaya pentingnya mengingat kebaikan orang.

Memang Tuhan adalah sumber segala sesuatu yang baik dan manusia hanyalah alat-Nya. Tetapi bagi saya, mengatakan “semua karena Tuhan” tidak pernah menjadi alasan untuk melupakan tangan yang pernah Tuhan pakai menolong kita.

Kalau seseorang pernah hadir ketika kita membutuhkan, memberikan waktu, tenaga, kesempatan, nasihat atau pertolongan, ingatlah.

Jangan take it for granted.

Gratitude is character.

Tetapi hidup tidak hanya mempertemukan kita dengan orang baik.

Kadang kita terluka.

Kadang diperlakukan tidak adil.

Kadang kepercayaan disalahgunakan.

Di sinilah grace dibutuhkan.

Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa yang salah menjadi benar. Mengampuni berarti saya menolak membawa racun perbuatan orang lain ke dalam hati saya.

Saya melepaskan hak untuk membalas.

Tetapi setelah mengampuni, ada sesuatu yang tetap harus dilakukan: menghadapi kebenaran.

Jika ada persoalan, cari faktanya.

Kalau perlu dibicarakan, bicarakan.

Jangan bergosip kepada sepuluh orang tetapi tidak pernah berbicara kepada orang yang bersangkutan.

Kebenaran membutuhkan courage.

Namun keberanian pun harus ditemani wisdom.

Tidak semua orang perlu mengetahui seluruh cerita kehidupan kita. Tidak semua orang layak menerima tingkat kepercayaan yang sama.

Bahkan Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada semua orang karena Dia mengetahui hati manusia.

Jadi ada perbedaan antara forgiveness dan trust.

Pengampunan dapat diberikan sebagai keputusan hati. Kepercayaan dibangun melalui karakter yang terbukti.

Kalau seseorang berkali-kali menunjukkan bahwa ia tidak dapat dipercaya, mengampuninya tidak mengharuskan kita menyerahkan kunci rumah kepadanya lagi.

Ha… ha…

Itu bukan kasih. Itu kurang wisdom.

Saya semakin belajar bahwa kedewasaan rohani bukan diukur dari seberapa banyak orang yang menyukai kita atau seberapa pandai kita menghindari konflik.

Salah satu ukurannya justru terlihat ketika hati kita terganggu.

Berapa lama kita membiarkan gangguan itu menguasai hati sebelum kembali kepada kebenaran?

Kembali kepada Firman.

Kembali kepada kasih.

Kembali kepada damai.

Lalu dari tempat itulah kita mengambil keputusan.

Bukan dari luka.
Bukan dari kemarahan.
Bukan pula karena takut tidak disukai.

Kita dapat mengasihi tanpa menjadi naif.

Mengampuni tanpa kehilangan hikmat.

Menghargai orang yang berjasa tanpa mengkultuskannya.

Menghadapi kesalahan tanpa membenci pelakunya.

Dan menjaga jarak tanpa menyimpan dendam.

Hati tetap bersih, tetapi mata tetap terbuka.

Mungkin itulah salah satu bentuk kedewasaan yang sesungguhnya.

Bukan memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, tetapi belajar memperlakukan setiap orang dengan kasih, kebenaran, keberanian dan hikmat.

“When someone shows you who they are, believe them the first time.” – Maya Angelou.

“Ketika seseorang menunjukkan siapa dirinya, percayalah sejak pertama kali ia menunjukkannya.” – Maya Angelou.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Mengampuni tidak berarti melupakan pelajaran. Lepaskan lukanya, tetapi simpan hikmatnya.”

“Forgiveness doesn’t mean forgetting the lesson. Release the hurt, but keep the wisdom.” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 4 5