JAWABAN DOA ITU DITERIMA, BUKAN DITUNGGU
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
JAWABAN DOA ITU DITERIMA, BUKAN DITUNGGU
Sering kali kita berpikir tugas kita hanyalah berdoa, lalu menunggu.
“Tuhan, kapan Engkau menjawab?”
“Tuhan, kapan Engkau menyembuhkan?”
“Tuhan, kapan Engkau menyediakan?”
Seolah-olah Tuhan masih berada di surga, mempertimbangkan apakah Dia akan memberikan jawaban atau tidak.
Padahal Yesus mengajarkan sesuatu yang sangat menarik:
“Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”
Perhatikan urutannya.
Percaya bahwa sudah menerima, sebelum melihat hasilnya.
Wow!
Inilah yang membedakan iman dari sekadar berharap.
Harapan berkata, “Mudah-mudahan suatu hari terjadi.”
Iman berkata, “Saya percaya apa yang Tuhan katakan, bahkan sebelum mata saya melihat hasilnya.”
Tetapi ada sesuatu yang perlu diluruskan.
Iman bukan kemampuan kita menciptakan realitas sesuka hati. Kita bukan “Tuhan kecil” yang mempunyai kuasa pencipta independen.
Kuasa tetap milik Tuhan.
Firman tetap Firman-Nya.
Otoritas yang kita miliki adalah otoritas yang diberikan kepada kita di dalam Kristus.
Kejadian mengatakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah serta diberi kuasa untuk memerintah atas ciptaan. Tetapi menjadi gambar Allah tidak berarti kita menjadi replika Allah dengan kemampuan penciptaan yang sama seperti Sang Pencipta.
Kita adalah wakil-Nya, bukan pengganti-Nya.
Nach, justru di situlah berita baiknya.
Kita tidak perlu menciptakan sendiri apa yang Tuhan belum sediakan.
Di dalam Kristus, Tuhan telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup dan kesalehan.
Jadi kehidupan iman bukan perjuangan membuat Tuhan menyediakan.
Kita belajar menerima dan berjalan di dalam apa yang sudah disediakan-Nya.
Yesus berkata dalam Markus 11 bahwa siapa yang berkata kepada gunung, “Terangkatlah dan tercampaklah ke dalam laut,” dan tidak bimbang dalam hatinya tetapi percaya, apa yang dikatakannya akan terjadi.
Ada tempat untuk berkata.
Ada tempat untuk percaya.
Ada tempat untuk menggunakan otoritas.
Kita tidak hanya memandang gunung sambil berkata, “Tuhan, tolong lakukan sesuatu.”
Ada saatnya kita berbicara kepada gunung berdasarkan apa yang Tuhan sudah firmankan.
Ketika gejala penyakit berteriak, kita tidak perlu menyangkal bahwa gejalanya ada. Tetapi kita juga tidak menjadikannya otoritas terakhir.
Firman Tuhanlah yang mempunyai kata terakhir.
Ketika keadaan bisnis berkata, “Tidak ada jalan,” jangan biarkan keadaan menentukan batas masa depan kita.
Cari hikmat Tuhan. Dengarkan tuntunan-Nya. Pegang Firman. Lalu lakukan bagian kita.
Iman bukan pasif. Tetapi iman juga bukan mencoba mengambil alih posisi Tuhan.
Itulah keseimbangannya.
Efesus 3:20 mengatakan bahwa Tuhan sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, menurut kuasa yang bekerja di dalam kita.
Kuasa itu berasal dari-Nya, tetapi bekerja di dalam kita.
Karena itu jangan terus menunggu sesuatu “jatuh dari langit” sementara Tuhan sudah memberikan Firman, hikmat, otoritas, karunia, kesempatan, bahkan langkah yang perlu kita ambil.
Kadang kita berdoa meminta pintu terbuka, tetapi ketika pintu terbuka kita tidak melangkah.
Kita berdoa meminta panen, tetapi tidak pernah menabur.
Kita berdoa meminta perubahan, tetapi menolak memperbarui pikiran.
Lalu kita berkata, “Tuhan, kapan?”
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat:
“Tuhan, apa yang sudah Engkau sediakan, dan bagaimana saya berjalan di dalamnya?”
Mazmur berkata, “Bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”
Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa setiap keinginan yang muncul otomatis berasal dari Tuhan.
Semakin hati kita berpusat kepada-Nya, semakin keinginan kita dibentuk oleh kebenaran-Nya. Karena itu hasrat hati tetap perlu diuji dengan Firman dan tuntunan Roh Kudus.
Kita bukan pengemis yang mencoba membujuk Bapa yang enggan memberi.
Kita adalah anak-anak yang datang dengan keyakinan karena Kristus telah membuka jalan.
Jadi berhentilah berpikir bahwa Tuhan harus diyakinkan terlebih dahulu agar bersedia berbuat baik.
Anugerah sudah menyediakan. Iman menerima. Firman memperbarui pikiran. Otoritas digunakan sesuai kehendak-Nya. Dan ketaatan mengambil langkah.
Roma 10 mengatakan, “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.”
Mulut dan hati.
Bukan sekadar mengucapkan formula.
Bukan pula deklarasi untuk memaksa realitas mengikuti kemauan kita.
Tetapi hati yang percaya kepada Tuhan dan mulut yang sepakat dengan Firman-Nya.
Jadi ketika keadaan berteriak sebaliknya, jangan menyerah.
Kembali kepada Firman.
Percaya.
Berkata.
Dengarkan tuntunan-Nya.
Dan melangkahlah.
Bukan karena kita sedang mencoba menciptakan jawaban doa, tetapi karena kita percaya Tuhan sudah menyediakan anugerah-Nya dan kita sedang belajar menerima serta berjalan di dalamnya.
“God’s Word conceived in your heart, then formed by the tongue, and spoken out of your own mouth, becomes a spiritual force releasing the ability of God within you.” — Charles Capps
“Firman Tuhan yang diterima dalam hati, dibentuk oleh lidah, lalu diucapkan melalui mulut kita, menjadi kekuatan rohani yang melepaskan kemampuan Tuhan yang bekerja di dalam kita.” — Charles Capps
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
“Iman bukan menciptakan apa yang Tuhan lupa sediakan. Iman menerima apa yang sudah disediakan oleh anugerah, lalu berani hidup berdasarkan kebenaran itu sebelum mata melihat hasilnya.”
“Faith does not create what God forgot to provide. Faith receives what grace has already provided and dares to live by that truth before the eyes can see the result.”
— Yenny Indra


