Articles

KETIKA “NOBODY” ADA DI TANGAN TUHAN…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

KETIKA “NOBODY” ADA DI TANGAN TUHAN…

Saya membaca sebuah quote yang mak jleb sekali:

“Moses spent forty years thinking he was somebody; forty years learning he was nobody; and forty years discovering what God can do with a nobody.” — D. L. Moody

“Musa menghabiskan empat puluh tahun merasa dirinya somebody; empat puluh tahun belajar bahwa dirinya nobody; dan empat puluh tahun berikutnya menemukan apa yang dapat Tuhan kerjakan melalui seorang nobody.”

Wow….

Musa memang menjalani tiga periode besar dalam hidupnya. Empat puluh tahun pertama dibesarkan di lingkungan istana Mesir. Kisah Para Rasul 7 mengatakan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir dan berkuasa dalam perkataan serta perbuatannya.

Somebody.

Punya pendidikan, akses, status dan kemampuan.

Ketika melihat seorang Ibrani dianiaya, Musa bertindak dengan caranya sendiri. Ia membunuh orang Mesir itu. Mungkin maksudnya membela bangsanya, tetapi caranya sendiri membawa masalah. Musa akhirnya melarikan diri ke Midian.

Berakhir sudah kehidupan istana.

Empat puluh tahun berikutnya, sang pangeran menjadi gembala di padang gurun.

Menarik sekali. Ketika akhirnya Tuhan memanggil Musa dari semak yang menyala untuk membawa Israel keluar dari Mesir, Musa justru bertanya,

“Siapakah aku ini?”

Dulu berani bergerak sendiri. Sekarang merasa tidak mampu.

Tetapi jawaban Tuhan luar biasa. Tuhan tidak sibuk meyakinkan Musa, “Kamu hebat kok. Kamu pintar. Kamu qualified.”

Tuhan berkata, “Certainly I will be with thee.”

Aku akan menyertai engkau.

Nah!

Rahasianya ternyata bukan siapa Musa, melainkan Siapa yang menyertai Musa.

Di situlah saya belajar sesuatu.

Dalam kehidupan, kita mudah sekali menganggap jabatan sebagai identitas. Direktur. Owner. Pemimpin. Pendeta. PIC. Guru. Orang sukses. Influencer. Apa pun itu.

Padahal jabatan bisa datang dan pergi.

Hari ini kita memimpin, besok orang lain menggantikan. Hari ini nama kita terpampang di depan, suatu hari generasi berikutnya mengambil tempat kita.

Bahkan kemampuan yang kita banggakan pun sebenarnya tidak berdiri sendiri. Siapa yang memberi kita napas? Kesempatan? Orang-orang yang menolong? Pintu yang terbuka? Ide yang tepat pada waktunya?

Karena itu Mazmur 127:1 berkata,

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Perhatikan, ayat itu tidak berkata jangan membangun.

Tetap membangun.

Tidak berkata pengawal tidak perlu berjaga.

Tetap berjaga.

Tetapi jangan pernah mengira hasil akhirnya bergantung pada kehebatan kita.

Kita bekerja, tetapi Tuhan sumbernya. Kita menanam, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan. Kita memimpin, tetapi kita sendiri harus dipimpin Tuhan.

Itulah sebabnya semakin besar kepercayaan yang diberikan kepada kita, seharusnya semakin rendah hati kita.

Bukan merasa diri tidak berharga. Bukan minder. Bukan pula berkata, “Saya bukan siapa-siapa, jadi saya tidak bisa apa-apa.”

Bukan itu.

Kita tahu siapa kita di dalam Kristus. Tetapi justru karena itu kita juga tahu siapa pusat kehidupan kita.

It’s all about God, not us.

Musa akhirnya dipakai Tuhan melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan dengan gelar seorang pangeran. Laut terbelah. Bangsa Israel keluar dari perbudakan. Air keluar dari batu. Tuhan melakukan perkara-perkara luar biasa melalui hidupnya.

Musa belajar bahwa tugasnya bukan menjadi Tuhan.

Tugasnya mendengar, percaya, taat dan mengikuti tuntunan-Nya.

Saya pun terus belajar hal yang sama.

Ketika Tuhan memberi kesempatan, jangan merasa, “Hebat ya saya.”

Ketika Tuhan memperluas pengaruh, jangan sampai berpikir, “Tanpa saya semuanya tidak jalan.”

Justru semakin dipakai Tuhan, semakin sadar:

Saya hanyalah steward. Pengelola.

Jabatan itu titipan. Pengaruh itu titipan. Bisnis itu titipan. Pelayanan itu titipan. Talenta itu titipan. Bahkan waktu yang saya miliki hari ini pun titipan.

Dan suatu hari semuanya akan kita serahkan kembali.

Mungkin keberhasilan terbesar dalam hidup bukan ketika dunia akhirnya menganggap kita somebody.

Melainkan ketika kita cukup mengenal Tuhan sehingga tidak lagi perlu membuktikan bahwa kita somebody.

Kita cukup berkata,

“Tuhan, tunjukkan jalannya. Saya ikut.”

Karena seorang nobody yang mengikuti Tuhan dapat menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dapat dicapai seorang somebody yang berjalan dengan kekuatannya sendiri.

Jikalau bukan Tuhan yang membangun, kita hanya kelelahan membangun sesuatu yang tidak pernah Dia minta.

Tetapi ketika Dia yang memimpin…

Tugas kita sederhana:

Dengar. Percaya. Taat. Ikuti.

Because ultimately,

It’s all about God, not us.

“Without God, we cannot. Without us, God will not.” – Augustine.

“Tanpa Tuhan, kita tidak mampu. Tanpa kita, Tuhan tidak akan melakukannya.” – Augustine.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Bukan seberapa hebat kita, tetapi seberapa taat kita mengikuti Dia. Ini tentang Tuhan, bukan kita.”

“It’s not about how great we are, but how faithfully we follow Him. It’s all about God, not us.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Bali Timbungan dan Strategi Bagaimana Entrepreneur Sejati Menyiasati Pandemi…
Bagaimana Cara Hidup Tuhan Yesus? Yuk kita teladani….!
Happy New Year 2023 Part 2