Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Bukan Sekadar Liburan: Dari Sampan Sunyi ke Kafe Unik di Jantung Ho Chi Minh

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bukan Sekadar Liburan: Dari Sampan Sunyi ke Kafe Unik di Jantung Ho Chi Minh

Pagi itu di Ho Chi Minh, dengan bus, kami menuju Sungai Mekong—salah satu sungai terpanjang di Asia—mengalir dari dataran tinggi Tibet di Tiongkok, lalu melewati enam negara: China, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, dan Vietnam, sebelum bermuara di Laut China Selatan. Panjang. Luas. Dan penuh cerita.

Vietnam sendiri punya sejarah panjang: pernah berada di bawah kekuasaan China selama lebih dari 1.000 tahun, lalu dijajah Perancis pada abad ke-19, kemudian mengalami perang panjang, termasuk perang dengan Amerika. Bahkan sempat ada konflik dengan Kamboja dan ketegangan dengan China.

Tiba di Mekong Delta, ada empat pulau utama yang dinamai dari hewan mitologi: Dragon (Naga), Unicorn/K? Lân (sering disebut “barong”), Turtle (Kura-kura), dan Phoenix (Burung Hong).

Kami memulai dari pulau Unicorn,
ke pabrik kecil pembuatan snack dari kelapa—semuanya masih dibuat secara tradisional, sederhana, tapi penuh ketekunan.
Kami juga diajak melihat peternakan lebah, mencicipi teh madu hangat, bahkan ditawarkan royal jelly yang dipercaya baik untuk kesehatan.

Lalu disajikan pula aneka buah tropis: rambutan, jambu, kelengkeng, nanas dll. Segar. Manis. Alami.

Sambil menikmati kesegarannya, beberapa wanita mengenakan gaun traditional Vietnam menyanyi dengan iringan musik. Sederhana tapi menyentuh.

Air kelapa mudanya terasa luar biasa manis. Sempat terpikir, “Ini pakai gula ya?”
Ternyata tidak.
Local guide menjelaskan: kelapa muda dengan kulit kecoklatan memang manis alami, sedangkan yang hijau cenderung hanya segar.

Perjalanan berlanjut dengan sampan kecil. Ini bagian yang paling saya suka.
Kami menyusuri sungai sempit yang berkelok-kelok, diapit pohon-pohon lebat seperti lorong alami. Hening. Hanya suara air dan dayung. Rasanya seperti dunia berhenti sejenak…
Dari situ kami berpindah ke perahu lebih besar menuju Pulau Phoenix untuk makan siang.

Di sana, kami mencoba makanan unik yang disebut “telur dinosaurus”—ketan yang digoreng hingga mengembang seperti bola besar. Renyah di luar, lembut di dalam. Sederhana… tapi meninggalkan kesan unik.

Konon, ada turis asing yang sengaja menginap di pulau ini hanya untuk pengalaman malam: mencari kunang-kunang. Bayangkan… gelap, sunyi, lalu titik-titik cahaya kecil berkelip di antara pepohonan. Indah serasa menyimpan misteri.

Selesai makan siang, kami kembali ke kota. Tapi perjalanan belum selesai.
Kami singgah di sebuah Kafe Koi yang unik. Bangunannya rumah tua, tapi diubah menjadi kafe dengan kolam besar berisi ikan koi raksasa.

Kita duduk sambil melihat ikan berenang di sekitar kaki. Ada rasa damai yang sulit dijelaskan. Seperti waktu berjalan lebih lambat. Ramai anak-anak muda yang silih berganti menikmati kafe unik ini.

Malamnya, Dinner Cruise dengan kapal cantik 3 lantai, berkeliling sungai menikmati keindahan Kota Ho Chi Minh yang dipenuhi gedung-gedung cantik yang menjulang tinggi khas kota metropolitan.Diiringi tarian dan nyanyian nan merdu merayu. Dan dr. Merry pun menyumbangkan suaranya yang merdu berduet dengan sang penyanyi.

Keesokan harinya, waktu bebas diisi dengan shopping. Setelah lelah berkeliling, kami menutup hari itu di tempat yang tidak kalah menarik: Kafe Apartemen.

Ini benar-benar unik. Sebuah gedung apartemen tua di tengah kota, yang disulap menjadi deretan kafe dan toko kecil. Dari luar terlihat nama-nama masing-masing kafe. Tapi begitu masuk, setiap lantai punya konsep dan karakter sendiri. Seperti banyak dunia kecil dalam satu bangunan. Untuk naik lift, membayar 3000 DVN/orang.

Banyak turis dari berbagai negara datang ke sini. Ada yang duduk santai dengan laptop, ada yang menikmati kopi di balkon sambil melihat lalu lintas kota, sementara di seberang jalan burung-burung merpati beterbangan.

Kami mencoba beberapa makanan khas Vietnam:

Salted Coffee—kopi dengan krim asin yang lembut, perpaduan rasa unik antara gurih dan manis.

Bún ch?—mi beras dengan daging panggang dan kuah segar.

Bánh mì—roti baguette khas Vietnam dengan isian daging, sayur, dan saus yang kaya rasa (pengaruh Perancis).

Bánh h?i th?t n??ng—lembaran tipis mi beras disajikan dengan daging panggang dan sayuran segar.

Semua terasa cocok di lidah kita. Familiar… tapi tetap punya karakter.

Dari Sungai Mekong yang tenang… sampai kafe apartemen yang penuh kreativitas, hari-hari di Ho Chi Minh terasa lengkap.

Bukan hanya melihat tempat.
Tapi merasakan kehidupan yang berbeda.
Dan seringkali, liburan terbaik bukan tentang ke mana kita pergi… tapi bagaimana kita belajar menikmati setiap momen, menambah wawasan dan naik level.

“Traveling-it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.
– Ibn Battuta.

“Perjalanan membuatmu tak bisa berkata-kata, lalu mengubahmu menjadi seorang pencerita.”- Ibn Battuta.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Ada Sesuatu di Da Nang yang Tidak Bisa Difoto… Tapi Terasa…”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Ada Sesuatu di Da Nang yang Tidak Bisa Difoto… Tapi Terasa…”

Da Nang itu kota yang langsung terasa “ramah” sejak langkah pertama. Bukan hanya cantik, tapi ada ketenangan yang tidak dibuat-buat. Konon, ini salah satu kota pertama di Vietnam yang jadi tujuan orang luar untuk tinggal. Saya mengerti kenapa.

Lautnya tenang, tidak terlalu berombak. Garis pantainya panjang dan bersih. Siang hari, banyak turis asing berjemur santai, seperti tidak ada beban. Kita yang melihat… ikut melambat. Ikut belajar menikmati.

Dari laut, kami bergerak ke Marble Mountains. Tempat ini unik. Bukan sekadar bukit batu. Di dalamnya ada gua, lorong, altar, dan keheningan yang terasa hidup.

Tapi yang paling membekas justru satu momen sederhana.
Di atap gua ada lubang kecil. Saat posisi matahari tepat, sinarnya masuk dan memancar lurus ke bawah. Dalam foto, bentuknya seperti sepasang air terjun cahaya. Indah… tapi lebih dari itu, ada rasa kagum yang sulit dijelaskan. Seperti diingatkan… terang itu selalu menemukan jalannya.

Sore hari, kami ke Dragon Bridge. Jembatan naga yang berdiri gagah di tengah kota. Di dekatnya ada Love Bridge, penuh hati merah dan gembok cinta.
Banyak orang datang untuk “mengikat cerita”.
Saya hanya berdiri, melihat… dan tersenyum kecil. Kadang hidup tidak perlu banyak simbol. Cukup hadir… dan mensyukuri.

Dan tentu saja… kopi.
Kami duduk santai di area yang sering dijuluki “Santorini-nya Da Nang”. Bangunan putih bersih, atap biru, dan sudut-sudut cantik di mana-mana.
Bougenville ungu cerah menjuntai, bantal-bantal warna-warni tersusun manis.

Seperti biasa, di mana pun kami berkumpul, selalu saja ada spot foto yang “memanggil”.

Di tangan saya, segelas salted coffee—unik, ada gurih tipis yang justru bikin nagih.
Lalu coconut coffee, creamy, dingin, sedikit manis, juga sangat terkenal di Vietnam.
Duduk di sana… rasanya sederhana. Tapi lengkap.

Hari berikutnya, kami menuju Ba Na Hills dan menginap di Mercure Danang French Village Bana Hills.
Keputusan yang sangat tepat.

Kami naik cable car. Panjang, tinggi, melintasi hutan dan kabut. Rasanya seperti masuk ke dunia lain. Begitu sampai di atas, suasana langsung berubah.

Bangunan bergaya Eropa. Udara sejuk. Ritme yang berbeda.
Keuntungan menginap?
Ini dia yang spesial.
Kami bisa ke Golden Bridge saat sudah sepi. Tidak perlu berdesakan. Bebas foto sepuasnya. Jeprat-jepret tanpa gangguan.

Jembatan dengan tangan raksasa itu bukan hanya ikonik. Ada rasa… seolah kita sedang “dipegang” dan diangkat lebih tinggi.

Di sekelilingnya, ada bangunan mirip Louvre, gereja bergaya Milan, Duomo di Milano —detailnya cantik. Bunga-bunga di setiap sudut bermekaran: merah, putih, ungu, kuning. Semua terasa hidup.
Malam hari lebih magis lagi.
Patung-patung tupai dan binatang ternyata menyala dari dalam. Lampu-lampu kecil di taman membuat suasana hangat, seperti di negeri dongeng.
Benar-benar terasa seperti di Eropa.

“Ini sih Eropa low budget…” ujar Siekah.
Kami tertawa. Dan memang… rasanya begitu.

Makanannya juga menyenangkan. Variatif, enak, dan cukup ramah di lidah. Jadi tidak perlu khawatir saat ingin mencoba berbagai menu.

Di Ba Na Hills, permainan juga banyak sekali. Ada bom-bom car, 4D dan 5D cinema, Drop Tower, indoor arcade, sampai Fantasy Park.
Menariknya, hampir semua sudah termasuk tiket. Kita bisa main tanpa harus mikir bayar lagi.

Yang tambahan hanya beberapa, salah satunya yang paling seru: Alpine Coaster.
Bisa pilih 1, 2, atau 3 putaran.
P. Indra dan Siekah pilih lebih dari sekali… dan tetap ingin mengulang lagi.
Rasanya?
Deg-degan saat melewati turunan dan tikungan… tapi justru itu yang bikin ketagihan.

Ba Na Hills bukan sekadar tempat foto.
Ini pengalaman lengkap.
Ada alam… ada arsitektur… ada hiburan… dan ada momen tenang yang tidak direncanakan.

Ada sesuatu di sana yang membuat kita berhenti sejenak… lalu tersenyum tanpa alasan.

Akhirnya, kami turun kembali. Menuju bandara. Terbang ke Ho Chi Minh City.
Perjalanan boleh lanjut.
Tapi selalu… ada bagian hati yang tertinggal.

Dan mungkin memang itu tujuan sebuah perjalanan.
Bukan hanya melihat tempat baru…
tapi menemukan rasa baru di dalam diri kita.

“What you seek is seeking you.” – Rumi.

“Apa yang kamu cari, sebenarnya sedang mencari kamu.” – Rumi.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Hoi An: Kota Tua yang Tidak Sibuk, Tapi Justru Paling Hidup

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hoi An: Kota Tua yang Tidak Sibuk, Tapi Justru Paling Hidup

Dari Sapa kami terbang ke Hoi An, kota tua yang terkenal di Vietnam. Perjalanan ini bukan sekadar pindah lokasi, tapi seperti masuk ke suasana yang berbeda. Begitu tiba, ritmenya langsung terasa lebih pelan… lebih hangat… dan lebih “hidup”.

Hotel kami tepat di pusat kota tua. Tinggal melangkah sedikit, kami sudah berada di tengah suasana yang tidak bisa dibuat-buat. Jalanan kecil, bangunan tua, warna-warna hangat… semuanya terasa menyatu.

Ikon kota ini adalah Japanese Covered Bridge. Jembatan tua peninggalan komunitas Jepang yang sudah berdiri ratusan tahun. Di satu sisi ada pengaruh Jepang, di sisi lain ada kawasan komunitas China dari Guangzhou, Teochew, dan Hokkien. Hoi An memang dari dulu adalah tempat pertemuan budaya.

Begitu malam tiba, semuanya berubah. Lampion-lampion menyala di mana-mana. Cahayanya lembut, tidak menyilaukan, tapi cukup untuk membuat suasana terasa romantis tanpa usaha.

Di sungai, sampan-sampan kecil melaju pelan. Para penumpang duduk tenang, lalu satu per satu melepaskan lentera kecil berisi lilin ke air. Katanya ini simbol doa, harapan, bahkan berkat—melepas yang lama, berharap yang baik datang.
Percaya atau tidak, saat melihatnya langsung, kita tidak sibuk menganalisa. Kita hanya diam… dan menikmati.

Kami berjalan menyusuri gang-gang kecil yang berkelok. Narrow, winding streets, tapi justru di situ pesonanya. Kami mengunjungi Chua Ong Pagoda, lalu Chinese Assembly Hall yang penuh detail dan warna. Ada rasa hormat terhadap tradisi yang masih dijaga sampai sekarang.

Kami juga masuk ke Tan Ky ancestral house yang sudah berusia lebih dari 200 tahun. Rumah ini dibangun pada akhir abad ke-18 oleh keluarga pedagang Vietnam yang cukup terpandang. Nama “Tan Ky” sendiri berarti “toko kemakmuran” atau “kemajuan”, mencerminkan harapan pemiliknya saat itu.

Yang menarik, rumah ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga toko dagang. Letaknya strategis, menghadap langsung ke sungai—memudahkan aktivitas perdagangan di masa Hoi An masih menjadi pelabuhan penting di Asia Tenggara.

Arsitekturnya unik, perpaduan gaya Vietnam, Jepang, dan Cina. Tiang-tiang kayu kokoh, ukiran detail, dan tata ruang yang dirancang untuk menghadapi banjir—karena rumah ini sudah berkali-kali melewati musim air pasang, tapi tetap berdiri sampai sekarang. Bahkan beberapa bagian interiornya masih asli, diwariskan turun-temurun hingga generasi ketujuh.

Masuk ke dalamnya, kita tidak merasa seperti di museum. Lebih seperti masuk ke kehidupan yang masih “bernafas”.
Sepanjang jalan, satu hal yang tidak bisa dilewatkan: makanan.

Kami mencoba Banh Mi yang konon paling enak di Vietnam, di Banh Mi Phuong. Ini bukan sekadar roti isi. Kulitnya renyah, isinya juicy, bumbunya meresap. Sekali gigit langsung mengerti kenapa orang rela antre.

Lalu ada Cao l?u, yang sering disebut seperti “pho kering”-nya Vietnam. Mi-nya kenyal, disajikan dengan irisan daging, sayuran, dan kuah yang hanya sedikit tapi kaya rasa. Simple, tapi dalam.

Yang menarik, di banyak sudut kota ada penjual bubur atau jenang—kalau orang Jawa bilang. Hangat, manis, dan comforting. Cocok dinikmati sambil duduk santai. Belum lagi minuman-minuman unik yang antreannya panjang. Dari kopi khas Vietnam sampai minuman dingin dengan campuran yang tidak biasa. Orang rela berdiri lama hanya untuk satu gelas.

Di Hoi An, makan bukan sekadar isi perut. Tapi bagian dari pengalaman.

Keesokan harinya, setelah sarapan, kami menuju Bay Mau Coconut Village. Suasananya langsung berubah dari tenang menjadi seru.

Kami naik basket boat, perahu bulat seperti mangkuk yang hanya boleh diisi dua orang. Mendayung melewati kanal kecil di antara pohon kelapa air yang tumbuh rapat, seperti lorong alami.

Lalu tiba-tiba… perahu diputar-putar di tengah. Air muncrat, musik terdengar, dan suasana langsung pecah.
Kristina, Ninin, dr. Merry, dr. Daniel berjoget di sampan tengah bersama penyanyi. Bahkan tamu dari grup lain ikut bergabung. Tidak ada yang canggung. Semua larut.
Wow… seru sekali.

Hoi An tidak menawarkan kemewahan yang berisik. Tapi ia memberi sesuatu yang lebih jujur.
Ia mengajak kita melambat, menikmati, dan merasakan.
Dan tanpa sadar, kita tidak hanya melihat… tapi ikut hidup di dalamnya.

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.” – Marcel Proust.

“Perjalanan sejati bukan tentang mencari pemandangan baru, tetapi memiliki cara pandang yang baru.” – Marcel Proust.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Angin Seolah Menahan Hujan… dan Kami Sampai di Puncak Fansipan”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Angin Seolah Menahan Hujan… dan Kami Sampai di Puncak Fansipan”

Hari ini kami meninggalkan Hanoi menuju Sapa. Perjalanan panjang, sekitar 6 hours driving. Tidak sebentar… tapi justru di situ letak nikmatnya. Kita dipaksa melambat. Melihat. Menyerap.
Sepanjang jalan, pegunungan bergulung seperti lukisan. Kabut turun naik, kadang menutup, kadang membuka. Ada momen di mana kita diam saja… dan hati terasa penuh.

Setibanya di Sapa, rombongan langsung menuju Cat Cat Village, sebuah desa kecil milik suku Black H’Mong. Desa ini dikenal dengan kehidupan tradisionalnya yang masih terjaga. Di sana orang bisa melihat air terjun, aliran sungai, pembangkit listrik kecil, juga aktivitas seperti menenun, membuat perhiasan perak, menempa alat, sampai ukiran batu.
Tapi kali ini… saya tidak ikut turun.
Gerimis mulai turun. Dan separuh rombongan, termasuk saya, memilih tetap di atas. Kami menikmati pemandangan dari kejauhan, dari puncak, sambil santai melihat-lihat souvenir.

Dan anehnya… tidak ada rasa rugi.
Kadang kita pikir harus ikut semua supaya lengkap. Tapi ternyata, menikmati dari tempat kita berada… juga cukup. Bahkan bisa lebih tenang.
Cat Cat Village tetap indah, meskipun hanya dilihat dari atas.

Perjalanan dilanjutkan ke gereja batu di pusat Sapa.
Gereja ini sudah berdiri sejak zaman kolonial Perancis. Konon dibangun dari batu tanpa semen.
Bayangkan… batu disusun, tapi bisa bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.
Saya berdiri di depannya cukup lama. Tidak besar. Tidak megah berlebihan. Tapi ada rasa kokoh yang sulit dijelaskan.
Seperti hidup… yang sebenarnya tidak perlu terlihat hebat, tapi harus dibangun dengan benar.

Malamnya, kami mencoba sesuatu yang unik. Tim ayam hitam dalam labu. Katanya ini makanan khas Sapa.
Setiap tempat selalu punya cerita lewat makanannya.

Keesokan harinya, kami pergi ke Moana Sapa, tidak jauh dari hotel. Tempat ini penuh spot foto yang cantik yang instagramable dan playful.
Ikonnya adalah patung wanita dengan kedua tangan terbuka. Seolah menyambut semua yang datang.
Di sekitarnya ada jembatan, ayunan, piano di atas air, bahkan sepasang bebek putih dan hitam yang lucu sekali.
Kami foto sana sini. Tertawa. Menikmati momen.
Simple… tapi penuh.

Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju Fansipan.
Sepanjang jalan menuju cable car, mata dimanjakan oleh bunga warna-warni dan berbagai spot foto. Cantik sekali. Rasanya seperti masuk ke dunia lain.

Angin mulai terasa lebih kencang. Awan hitam sesekali melintas, lalu matahari muncul kembali.
Kami berbaris menuju cable car.
Naik… perlahan… meninggalkan dunia bawah.
Tapi ternyata perjalanan belum selesai.
Keluar dari cable-car station, masih ada tantangan berikutnya. Banyak anak tangga yang harus dilalui sebelum sampai ke furnicular.
Di tengah perjalanan, berdiri patung Buddha emas. Sementara di sisi kanan atas, jauh di atas, ada patung Buddha hitam yang jauh lebih besar, terlihat begitu megah.

Fansipan sendiri dikenal sebagai “The Roof of Indochina”, dengan ketinggian 3.143 meter. Dulu, hanya pendaki yang benar-benar kuat yang bisa mencapai puncaknya. Sekarang, aksesnya lebih mudah… tapi tetap butuh effort.
Angin bertiup sangat kencang. Serius. Beberapa kali rasanya tubuh ini terdorong, hampir kehilangan keseimbangan.
Awan gelap datang… lalu pergi.
Dan kami terus naik.
Sampai akhirnya…
Kami sampai di puncak.

Di sana berdiri menara dengan bendera Vietnam yang berkibar gagah. Dan tulisan yang sederhana tapi penuh arti: Fansipan 3.143m – Top of Indochina.
Jepret… jepret…. foto pun diabadikan.
Betapa leganya…
Tujuan tercapai. Dan… tidak hujan.
Padahal ramalan cuaca siang itu seharusnya hujan lebat.
Makanya angin bertiup sangat kencang. Seolah hujan itu “ditahan”.
Dan di situ, hati ini hanya bisa berkata pelan…
God is good all the time.
Lalu… seperti biasa…

Shopping time.
Kami berjalan santai, menikmati Sapa Night Market. Lampu-lampu, udara dingin, suara orang, semuanya terasa hidup.

Perjalanan ini sederhana.
Tapi justru di situ… kita belajar menikmati hidup, tanpa harus semuanya sempurna.

“If you’re going through hell, keep going.” – Winston Churchill.

“Jika kamu sedang melewati masa sulit, teruslah berjalan” – Winston Churchill.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
##mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Tidak Instan, Tapi Indah: Pelajaran Hidup dari Hanoi yang Tidak Terlupakan”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Tidak Instan, Tapi Indah: Pelajaran Hidup dari Hanoi yang Tidak Terlupakan”

Pagi di Hanoi selalu punya cara sederhana untuk membuat hati kita diam… lalu kagum.
Hari itu kami memulai perjalanan ke Quang Phu Cau Incense Village. Desa kecil ini tidak biasa. Begitu melangkah masuk, mata langsung disambut lautan merah. Ribuan batang dupa disusun rapi, membentuk pola seperti bunga raksasa yang terbuka sempurna. Cantik… dan memukau.

Namun semakin lama memandang, semakin terasa… keindahan itu tidak lahir dalam semalam. Dupa-dupa itu harus melewati panas matahari, waktu, dan ketekunan sebelum akhirnya mengeluarkan aroma harum.
Saya tersenyum sendiri.

Bukankah hidup kita juga begitu?
Kita sering ingin hasil cepat. Jawaban doa yang instan. Padahal Tuhan bekerja lewat proses. Dipanaskan, dibentuk, diatur… sampai akhirnya hidup kita bukan hanya terlihat indah, tetapi juga mengeluarkan “aroma” yang menyenangkan hati-Nya.

Kami menuju Trang An Scenic Landscape Complex.
Perahu kecil yang kami tumpangi hanya berisi empat orang. Kami duduk santai, membiarkan perahu kayu itu meluncur pelan di atas air yang tenang. Di kiri kanan, tebing-tebing batu kapur berdiri megah, seperti lukisan hidup.

Perahu-perahu rombongan kami, 18 personil, meluncur kadang sedikit berlomba dan kadang berdampingan. Saling memotret, bergaya sambil tertawa ceria…

Ninin sibuk bergaya—dari pose santai sampai terlentang di ujung kepala perahu bak “supermodel dadakan” di atas perahu. Kami semua tertawa. Dr. Merry menyanyi tanpa henti… dari lagu anak-anak, Mandarin, sampai Bengawan Solo. Ada pula yang bergaya mendayung perahu, tetapi ada yang beneran kompak membantu mendayung.

Tidak ada yang terlalu serius. Dan justru di situlah letak keindahannya.
Kadang, liburan yang paling berkesan bukan karena tempatnya… tapi karena siapa yang berjalan bersama kita.

Lalu bagian yang paling seru… saat perahu mulai masuk ke gua.
Beberapa gua cukup rendah, membuat kami refleks menundukkan kepala. Ada momen hening… hanya suara air yang disentuh dayung. Lalu tiba-tiba… cahaya muncul di ujung gelap itu, membuka pemandangan baru yang lebih luas dan lebih indah.
Seperti diingatkan… selalu ada terang di ujung perjalanan.

Perjalanan hampir dua jam ini terasa singkat. Mungkin karena dipenuhi tawa.

Perjalanan kami juga dipenuhi dengan pengalaman rasa. Dari hari sebelumnya di restoran all you can eat dengan seafood lengkap… sampai makanan tradisional Vietnam yang sederhana tapi kaya cita rasa.

Salah satu yang paling berkesan adalah saat kami makan di Bún cha Huong Liên—tempat yang pernah dikunjungi Barack Obama.
Barack Obama makan di sini pada 23 Mei 2016, saat kunjungan resminya ke Vietnam. Malam itu ia makan bersama chef terkenal Anthony Bourdain—dan momen itu langsung viral ke seluruh dunia.

Yang menarik, meja, kursi, bahkan peralatan makan yang digunakan saat itu dipajang rapi di balik kaca. Foto kunjungan itu terpampang di dinding. Kreatif. Satu momen sederhana diolah menjadi cerita yang terus hidup. Cara Marketing yang cerdas.

Pengaruh Tiktok yang membawa kami ke sini, ternyata bukan sekadar viral.
Begitu makanan datang, langsung terasa… ini cocok dengan lidah kita.

Bún cha-nya punya rasa yang akrab. Sedikit manis, segar, dengan sentuhan asam yang ringan. Dagingnya empuk, kuahnya ringan tapi kaya rasa. Bahkan ada sensasi yang mengingatkan pada galantin… tapi dengan gaya Vietnam.
Ditambah lumpia udang goreng yang besar—renyah di luar, lembut di dalam.
Hhhmmm… lezat dan memuaskan.
Sederhana. Tidak mewah. Tapi justru itu daya tariknya. Ada rasa “asli” yang tidak dibuat-buat.

Menariknya, hanya dengan satu kali kunjungan Barack Obama, restoran ini seperti mendapat pintu yang terbuka lebar. Berkat mengalir… dan mereka tahu bagaimana menjaganya.

Malamnya, kami pikir hari sudah selesai.
Ternyata belum.
Kami naik jeep terbuka, berkeliling kota Hanoi. Angin malam langsung menyapa wajah. Jalanan hidup. Lampu kota berkelip. Kami duduk santai, sesekali berhenti untuk foto… lalu tertawa lagi.
Tidak ada yang dikejar. Tidak ada yang harus dibuktikan.
Hanya menikmati.

Dan justru di situ rasanya lengkap.
Hari itu penuh. Tapi bukan hanya penuh aktivitas… penuh rasa.

Life is good….
Tuhan baik dengan anugerah-Nya yang terus belimpah menyertai langkah anak-anak-Nya. Bahkan lewat perjalanan sederhana seperti ini.

“Sometimes it’s the journey that teaches you a lot” – Aubrey Drake Graham.

“Kadang justru perjalananlah yang mengajarkan banyak hal tentang tujuan kita.” – Aubrey Drake Graham.

YennyIndra
www.yennyindrppa.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 19 20 21 22 23 427