“Angin Seolah Menahan Hujan… dan Kami Sampai di Puncak Fansipan”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
“Angin Seolah Menahan Hujan… dan Kami Sampai di Puncak Fansipan”
Hari ini kami meninggalkan Hanoi menuju Sapa. Perjalanan panjang, sekitar 6 hours driving. Tidak sebentar… tapi justru di situ letak nikmatnya. Kita dipaksa melambat. Melihat. Menyerap.
Sepanjang jalan, pegunungan bergulung seperti lukisan. Kabut turun naik, kadang menutup, kadang membuka. Ada momen di mana kita diam saja… dan hati terasa penuh.
Setibanya di Sapa, rombongan langsung menuju Cat Cat Village, sebuah desa kecil milik suku Black H’Mong. Desa ini dikenal dengan kehidupan tradisionalnya yang masih terjaga. Di sana orang bisa melihat air terjun, aliran sungai, pembangkit listrik kecil, juga aktivitas seperti menenun, membuat perhiasan perak, menempa alat, sampai ukiran batu.
Tapi kali ini… saya tidak ikut turun.
Gerimis mulai turun. Dan separuh rombongan, termasuk saya, memilih tetap di atas. Kami menikmati pemandangan dari kejauhan, dari puncak, sambil santai melihat-lihat souvenir.
Dan anehnya… tidak ada rasa rugi.
Kadang kita pikir harus ikut semua supaya lengkap. Tapi ternyata, menikmati dari tempat kita berada… juga cukup. Bahkan bisa lebih tenang.
Cat Cat Village tetap indah, meskipun hanya dilihat dari atas.
Perjalanan dilanjutkan ke gereja batu di pusat Sapa.
Gereja ini sudah berdiri sejak zaman kolonial Perancis. Konon dibangun dari batu tanpa semen.
Bayangkan… batu disusun, tapi bisa bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.
Saya berdiri di depannya cukup lama. Tidak besar. Tidak megah berlebihan. Tapi ada rasa kokoh yang sulit dijelaskan.
Seperti hidup… yang sebenarnya tidak perlu terlihat hebat, tapi harus dibangun dengan benar.
Malamnya, kami mencoba sesuatu yang unik. Tim ayam hitam dalam labu. Katanya ini makanan khas Sapa.
Setiap tempat selalu punya cerita lewat makanannya.
Keesokan harinya, kami pergi ke Moana Sapa, tidak jauh dari hotel. Tempat ini penuh spot foto yang cantik yang instagramable dan playful.
Ikonnya adalah patung wanita dengan kedua tangan terbuka. Seolah menyambut semua yang datang.
Di sekitarnya ada jembatan, ayunan, piano di atas air, bahkan sepasang bebek putih dan hitam yang lucu sekali.
Kami foto sana sini. Tertawa. Menikmati momen.
Simple… tapi penuh.
Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju Fansipan.
Sepanjang jalan menuju cable car, mata dimanjakan oleh bunga warna-warni dan berbagai spot foto. Cantik sekali. Rasanya seperti masuk ke dunia lain.
Angin mulai terasa lebih kencang. Awan hitam sesekali melintas, lalu matahari muncul kembali.
Kami berbaris menuju cable car.
Naik… perlahan… meninggalkan dunia bawah.
Tapi ternyata perjalanan belum selesai.
Keluar dari cable-car station, masih ada tantangan berikutnya. Banyak anak tangga yang harus dilalui sebelum sampai ke furnicular.
Di tengah perjalanan, berdiri patung Buddha emas. Sementara di sisi kanan atas, jauh di atas, ada patung Buddha hitam yang jauh lebih besar, terlihat begitu megah.
Fansipan sendiri dikenal sebagai “The Roof of Indochina”, dengan ketinggian 3.143 meter. Dulu, hanya pendaki yang benar-benar kuat yang bisa mencapai puncaknya. Sekarang, aksesnya lebih mudah… tapi tetap butuh effort.
Angin bertiup sangat kencang. Serius. Beberapa kali rasanya tubuh ini terdorong, hampir kehilangan keseimbangan.
Awan gelap datang… lalu pergi.
Dan kami terus naik.
Sampai akhirnya…
Kami sampai di puncak.
Di sana berdiri menara dengan bendera Vietnam yang berkibar gagah. Dan tulisan yang sederhana tapi penuh arti: Fansipan 3.143m – Top of Indochina.
Jepret… jepret…. foto pun diabadikan.
Betapa leganya…
Tujuan tercapai. Dan… tidak hujan.
Padahal ramalan cuaca siang itu seharusnya hujan lebat.
Makanya angin bertiup sangat kencang. Seolah hujan itu “ditahan”.
Dan di situ, hati ini hanya bisa berkata pelan…
God is good all the time.
Lalu… seperti biasa…
Shopping time.
Kami berjalan santai, menikmati Sapa Night Market. Lampu-lampu, udara dingin, suara orang, semuanya terasa hidup.
Perjalanan ini sederhana.
Tapi justru di situ… kita belajar menikmati hidup, tanpa harus semuanya sempurna.
“If you’re going through hell, keep going.” – Winston Churchill.
“Jika kamu sedang melewati masa sulit, teruslah berjalan” – Winston Churchill.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
##mengenalTuhan #FirmanTuhan