Articles

Hoi An: Kota Tua yang Tidak Sibuk, Tapi Justru Paling Hidup

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hoi An: Kota Tua yang Tidak Sibuk, Tapi Justru Paling Hidup

Dari Sapa kami terbang ke Hoi An, kota tua yang terkenal di Vietnam. Perjalanan ini bukan sekadar pindah lokasi, tapi seperti masuk ke suasana yang berbeda. Begitu tiba, ritmenya langsung terasa lebih pelan… lebih hangat… dan lebih “hidup”.

Hotel kami tepat di pusat kota tua. Tinggal melangkah sedikit, kami sudah berada di tengah suasana yang tidak bisa dibuat-buat. Jalanan kecil, bangunan tua, warna-warna hangat… semuanya terasa menyatu.

Ikon kota ini adalah Japanese Covered Bridge. Jembatan tua peninggalan komunitas Jepang yang sudah berdiri ratusan tahun. Di satu sisi ada pengaruh Jepang, di sisi lain ada kawasan komunitas China dari Guangzhou, Teochew, dan Hokkien. Hoi An memang dari dulu adalah tempat pertemuan budaya.

Begitu malam tiba, semuanya berubah. Lampion-lampion menyala di mana-mana. Cahayanya lembut, tidak menyilaukan, tapi cukup untuk membuat suasana terasa romantis tanpa usaha.

Di sungai, sampan-sampan kecil melaju pelan. Para penumpang duduk tenang, lalu satu per satu melepaskan lentera kecil berisi lilin ke air. Katanya ini simbol doa, harapan, bahkan berkat—melepas yang lama, berharap yang baik datang.
Percaya atau tidak, saat melihatnya langsung, kita tidak sibuk menganalisa. Kita hanya diam… dan menikmati.

Kami berjalan menyusuri gang-gang kecil yang berkelok. Narrow, winding streets, tapi justru di situ pesonanya. Kami mengunjungi Chua Ong Pagoda, lalu Chinese Assembly Hall yang penuh detail dan warna. Ada rasa hormat terhadap tradisi yang masih dijaga sampai sekarang.

Kami juga masuk ke Tan Ky ancestral house yang sudah berusia lebih dari 200 tahun. Rumah ini dibangun pada akhir abad ke-18 oleh keluarga pedagang Vietnam yang cukup terpandang. Nama “Tan Ky” sendiri berarti “toko kemakmuran” atau “kemajuan”, mencerminkan harapan pemiliknya saat itu.

Yang menarik, rumah ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga toko dagang. Letaknya strategis, menghadap langsung ke sungai—memudahkan aktivitas perdagangan di masa Hoi An masih menjadi pelabuhan penting di Asia Tenggara.

Arsitekturnya unik, perpaduan gaya Vietnam, Jepang, dan Cina. Tiang-tiang kayu kokoh, ukiran detail, dan tata ruang yang dirancang untuk menghadapi banjir—karena rumah ini sudah berkali-kali melewati musim air pasang, tapi tetap berdiri sampai sekarang. Bahkan beberapa bagian interiornya masih asli, diwariskan turun-temurun hingga generasi ketujuh.

Masuk ke dalamnya, kita tidak merasa seperti di museum. Lebih seperti masuk ke kehidupan yang masih “bernafas”.
Sepanjang jalan, satu hal yang tidak bisa dilewatkan: makanan.

Kami mencoba Banh Mi yang konon paling enak di Vietnam, di Banh Mi Phuong. Ini bukan sekadar roti isi. Kulitnya renyah, isinya juicy, bumbunya meresap. Sekali gigit langsung mengerti kenapa orang rela antre.

Lalu ada Cao l?u, yang sering disebut seperti “pho kering”-nya Vietnam. Mi-nya kenyal, disajikan dengan irisan daging, sayuran, dan kuah yang hanya sedikit tapi kaya rasa. Simple, tapi dalam.

Yang menarik, di banyak sudut kota ada penjual bubur atau jenang—kalau orang Jawa bilang. Hangat, manis, dan comforting. Cocok dinikmati sambil duduk santai. Belum lagi minuman-minuman unik yang antreannya panjang. Dari kopi khas Vietnam sampai minuman dingin dengan campuran yang tidak biasa. Orang rela berdiri lama hanya untuk satu gelas.

Di Hoi An, makan bukan sekadar isi perut. Tapi bagian dari pengalaman.

Keesokan harinya, setelah sarapan, kami menuju Bay Mau Coconut Village. Suasananya langsung berubah dari tenang menjadi seru.

Kami naik basket boat, perahu bulat seperti mangkuk yang hanya boleh diisi dua orang. Mendayung melewati kanal kecil di antara pohon kelapa air yang tumbuh rapat, seperti lorong alami.

Lalu tiba-tiba… perahu diputar-putar di tengah. Air muncrat, musik terdengar, dan suasana langsung pecah.
Kristina, Ninin, dr. Merry, dr. Daniel berjoget di sampan tengah bersama penyanyi. Bahkan tamu dari grup lain ikut bergabung. Tidak ada yang canggung. Semua larut.
Wow… seru sekali.

Hoi An tidak menawarkan kemewahan yang berisik. Tapi ia memberi sesuatu yang lebih jujur.
Ia mengajak kita melambat, menikmati, dan merasakan.
Dan tanpa sadar, kita tidak hanya melihat… tapi ikut hidup di dalamnya.

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.” – Marcel Proust.

“Perjalanan sejati bukan tentang mencari pemandangan baru, tetapi memiliki cara pandang yang baru.” – Marcel Proust.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Thank You Pak Wepe…
Jangan Keras Kepala!
Tempat Yang Disebut “Di Sana” – Andrew Wommack.