Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Kebahagiaan Itu Dihidupi, Bukan Dikejar.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kebahagiaan Itu Dihidupi, Bukan Dikejar.

“Happiness cannot be traveled to, owned, earned, worn, or consumed. Happiness is the spiritual experience of living every minute with love, grace, and gratitude.” – Denis Waitley.

“Kebahagiaan tidak dapat dibawa, dimiliki, diperoleh, dipakai, atau dikonsumsi. Kebahagiaan adalah pengalaman spiritual menjalani setiap menit dengan cinta, rahmat, dan rasa syukur.” – Denis Waitley.

Kita sering tanpa sadar hidup seperti sedang mengejar sesuatu yang selalu di depan. Kebahagiaan terasa seperti tujuan yang harus dicapai. Nanti kalau keadaan sudah lebih baik… nanti kalau masalah selesai… nanti kalau hidup terasa lebih ringan… baru kita bisa bahagia.

Tapi kalau jujur, “nanti” itu tidak pernah benar-benar datang.

Ada satu kalimat yang sangat jujur: kebahagiaan tidak bisa ditempuh, dimiliki, atau dibeli. Kebahagiaan adalah pengalaman rohani. Cara kita menjalani hidup setiap hari, dengan kasih, kasih karunia, dan ucapan syukur.

Ini sederhana, tapi dalam.

Dunia mengajarkan kita hal yang berbeda. Kita diajari untuk mengaitkan kebahagiaan dengan pencapaian. Rumah lebih besar, kondisi lebih aman, relasi lebih menyenangkan. Bahkan tanpa sadar, kita mengukur kebahagiaan dari apa yang terlihat di luar.

Padahal banyak orang yang “terlihat bahagia” justru kosong di dalam.

Kenapa? Karena kebahagiaan tidak pernah berasal dari luar. Kebahagiaan selalu berakar di dalam hati yang tahu kepada siapa ia bergantung.

Sukacita sejati bukan hasil dari keadaan yang ideal. Sukacita adalah buah dari hubungan yang benar dengan Tuhan. Ketika hati kita terhubung dengan Dia, ada stabilitas yang tidak tergoyahkan.

Badai tetap datang. Tekanan tetap ada. Orang tetap bisa mengecewakan.

Tapi hati tidak runtuh.

Di sinilah banyak orang keliru. Kita berpikir kita harus menunggu semuanya baik, baru bisa bersyukur. Padahal justru sebaliknya. Kita belajar bersyukur dulu, baru kita mengalami damai.

Hidup bukan tentang menunggu badai berhenti. Hidup adalah belajar tetap tenang di tengah badai.

Dan di situlah kebahagiaan mulai terasa nyata.

Ada tiga hal sederhana yang sebenarnya menjadi fondasi hidup yang penuh sukacita.

Kasih.
Kasih membuat kita melihat orang lain dengan sudut pandang Tuhan. Tidak cepat menghakimi. Tidak mudah tersinggung. Hati jadi lebih luas.

Anugerah.
Ini yang membuat hidup jadi ringan. Kita berhenti menuntut kesempurnaan, baik dari diri sendiri maupun orang lain. Kita belajar menerima, dan itu melepaskan banyak tekanan yang tidak perlu.

Ucapan syukur.
Ini kunci yang paling praktis. Syukur menggeser fokus kita. Dari yang kurang, menjadi yang sudah ada. Dari masalah, menjadi penyertaan Tuhan. Dari kekhawatiran, menjadi kepercayaan.

Orang yang hidup dalam tiga hal ini tidak berarti hidupnya sempurna. Tapi hatinya stabil.

Dan stabilitas itu lebih berharga daripada kenyamanan.

Ada satu prinsip yang sederhana tapi sering diabaikan: kalau kita menunggu keadaan sempurna untuk bersukacita, kita tidak akan pernah benar-benar bersukacita.

Karena hidup ini tidak pernah sepenuhnya ideal.
Selalu ada celah. Selalu ada tantangan. Selalu ada hal yang bisa dikeluhkan.
Jadi pilihannya jelas.

Terus menunggu… atau mulai hidup berbeda.

Ketika kita mulai menyadari bahwa setiap hari adalah anugerah, cara kita melihat hidup berubah. Hal-hal kecil jadi berarti. Momen sederhana jadi berharga.

Bukan karena hidup tiba-tiba sempurna, tapi karena hati kita belajar melihat dengan benar.

Kita tidak lagi hidup dari kekurangan, tapi dari kelimpahan yang Tuhan sudah sediakan.

Kita tidak lagi hidup dari tekanan, tapi dari damai yang berasal dari dalam.

Dan yang paling penting, kita tidak lagi menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan… tapi sebagai cara hidup.

Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa tantangan. Tapi Dia menjanjikan penyertaan-Nya. Dan di situlah rahasia yang sering dilewatkan.

Bukan keadaan yang menentukan sukacita.
Tapi kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Jadi mungkin hari ini tidak ada yang berubah di luar.
Masalah masih ada. Situasi masih sama.
Tapi kita bisa memilih sesuatu yang berbeda.
Berhenti mengejar kebahagiaan.
Dan mulai menghidupinya.

Mulai dari hal sederhana:
mengasihi lebih tulus,
memberi ruang kasih karunia,
dan belajar bersyukur… bahkan untuk hal kecil.

Karena kebahagiaan sejati tidak menunggu di depan sana.
Ia hadir… di setiap langkah yang kita jalani dengan hati yang benar.

“If you are not grateful for what you have, what makes you think you would be happy with more?” – Roy T. Bennett

“Jika kamu tidak bersyukur dengan apa yang ada, apa yang membuatmu berpikir kamu akan bahagia dengan lebih banyak?” – Roy T. Bennett

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Hanya Mampir di “Rumah” Penjara: Rahasia Yusuf dan Mandela Mengubah Nasib.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hanya Mampir di “Rumah” Penjara: Rahasia Yusuf dan Mandela Mengubah Nasib.

Pernahkah kita merasa terjebak dalam situasi yang sangat tidak adil? Mungkin itu lingkungan kerja yang “toxic”, masalah keuangan yang tak kunjung usai, atau hubungan yang terasa menyesakkan. Rasanya ingin marah, protes, dan menyalahkan keadaan yang seolah-olah mengunci langkah kita.
Tapi ada satu detail kecil dari kisah Yusuf yang semakin kita renungkan, semakin terasa dalam maknanya. Ketika ia meminta juru minuman raja untuk mengingatnya, ia berkata: “keluarkanlah aku dari rumah ini.”

Perhatikan pilihan katanya yang sangat tidak lazim. Padahal Yusuf sedang berada di dalam penjara yang gelap, dingin, dan penuh stigma negatif. Namun, ia menyebut penjara itu sebagai rumah.

Wuih…. dahsyatnya!

Yusuf tidak menyebutnya sebagai tempat kutukan atau jurang penderitaan yang menghancurkan hidupnya. Dengan menyebut penjara sebagai “rumah”, Yusuf sedang menunjukkan bahwa ia tidak membiarkan situasi mendefinisikan narasinya. Ia tidak menamai musim hidupnya dengan bahasa kepahitan. Bagi Yusuf, penjara hanyalah tempat tinggal sementara—sebuah transit yang harus ia jalani, bukan identitas permanennya.

DIENK……

Ternyata sering kali, di situlah letak perbedaan antara orang yang akhirnya diangkat naik dan orang yang berhenti di tengah jalan. Yusuf tidak menunggu keadaan berubah untuk tetap hidup benar. Ia tetap berfungsi maksimal, tetap memperhatikan orang lain, bahkan tetap menafsirkan mimpi meski ia sendiri sedang “terkurung”. Ia hidup dari sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kenyamanan situasi.

Pola yang sama kita lihat dalam sejarah modern pada sosok Nelson Mandela. Bayangkan, Mandela menghabiskan 27 tahun hidupnya di penjara Robben Island yang sangat keras. Secara logika, tempat itu dirancang untuk mematahkan semangat manusia, menghancurkan martabat, dan memadamkan harapan.

Tapi apa yang terjadi?
Mandela justru menjadikan penjara sebagai “sekolah kepemimpinan” yang paling berharga. Selama di sana, ia tidak berhenti mendidik dirinya sendiri dan sesama tahanan. Ia belajar kesabaran yang luar biasa, disiplin diri yang ketat, dan empati yang mendalam—kualitas yang justru membentuknya menjadi negosiator ulung di kemudian hari.

Bahkan, Mandela melakukan sesuatu yang hampir mustahil: ia membangun hubungan dengan para penjaganya. Ia mendorong rekan-rekannya untuk memahami “lawan” mereka, bukan sekadar melawan secara emosional. Baginya, penjara bukan akhir dari segalanya, melainkan tempat pembentukan karakter agar ia siap memimpin sebuah bangsa besar yang sedang hancur.
Sangat melegakan, bukan?

Ini memberi kita satu pelajaran penting: Tempat tidak menentukan masa depan kita. Cara kita memandang tempat itulah yang menentukan apakah kita akan dimatangkan atau justru dihancurkan di dalamnya.

Tempatnya bisa berubah-ubah—dari rumah Potifar ke penjara, lalu ke istana—tapi satu hal yang tetap sama adalah penyertaan Tuhan yang kita undang dalam setiap musim.
Tuhan kita itu sangat sopan; Dia menunggu kita melibatkan-Nya untuk mengubah perspektif kita. Yusuf tidak mengambil bahasa “korban” atau merasa sebagai orang yang paling malang sedunia. Ia hidup dari janji Tuhan yang pernah ia terima lewat mimpi, bukan dari kepahitan pengalaman yang sedang ia jalani.

Sering kali, hasil akhir hidup kita tidak ditentukan oleh apa yang kita alami, melainkan oleh bagaimana kita memandang apa yang kita alami. Penundaan bukan berarti penolakan; itu bisa jadi adalah ruang bagi Tuhan untuk memperlebar kapasitas hati kita.

Jadi, jika hari ini kita merasa sedang berada di “penjara” kehidupan, jangan biarkan tempat itu menentukan siapa kita. Jangan jadikan penderitaan sebagai mahkota atau identitas. Sebutlah itu sebagai “rumah” sementara, tempat di mana kita sedang dipersiapkan untuk tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Ketika waktu Tuhan tiba, pastikan kita keluar bukan sebagai pribadi yang hancur dan penuh dendam, tetapi sebagai pribadi yang siap dan matang karena telah lulus dari sekolah pembentukan-Nya yang ajaib.

“I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it.” — Nelson Mandela

“Saya belajar bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemenangan atasnya”. — Nelson Mandela.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Botol Kaca Irena: Ketika Keberanian Sunyi Menggetarkan Surga

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Botol Kaca Irena: Ketika Keberanian Sunyi Menggetarkan Surga

?Pernahkah kita merasa bahwa hidup kita ini “biasa-biasa saja”? Tidak ada panggung besar, tidak ada tepuk tangan riuh, bahkan mungkin kebaikan yang kita lakukan tidak ada yang melihat. Rasanya sepi.

?Tapi tahukah Anda? Ada jenis keberanian yang tidak butuh teriakan. Keberanian yang bentuknya seperti doa pelan, namun sanggup mengubah masa depan.

?Irena Sendler adalah bukti nyatanya. Ia hanya seorang pekerja sosial biasa di Polandia saat Perang Dunia II. Ia tidak punya pangkat jenderal atau kuasa politik. Tapi ia punya satu hal yang tidak bisa dirampas: hati yang tidak mau kompromi dengan ketidakadilan.

?Ketika ribuan orang Yahudi dikurung dan menunggu maut, Irena memilih masuk ke sana. Setiap hari! Risikonya? Disiksa atau ditembak mati. Ia menyelundupkan bayi dalam kotak dan anak-anak dalam karung untuk dibawa ke tempat aman.

?Wuih…. dahsyatnya!

?Dan bagian yang membuat saya tertegun: Irena menulis nama asli anak-anak itu di secarik kertas, memasukkannya ke dalam botol kaca, lalu menguburnya di bawah pohon. Ia berharap suatu hari mereka bisa menemukan kembali jati diri mereka. Itu bukan sekadar kasihan, itu iman yang bergerak!

?Mungkin kita berpikir, “Itu kan zaman perang.” Tapi bukankah hari ini kita juga punya “perang” versi sendiri? Ada perang dalam rumah tangga, perang pikiran melawan rasa takut, hingga perang menghadapi karakter orang yang tidak kunjung berubah. Tidak ada bom, tapi tekanannya luar biasa. Tidak ada penjara fisik, tapi ada penjara emosional.

?DIENK……

Ternyata di situ Tuhan tidak bertanya, “Apakah kamu menyelamatkan ribuan orang?” Ia hanya bertanya, “Apakah kamu mau taat dalam bagian kecil yang Aku percayakan?”

?Keberanian rohani itu sering kali tidak viral. Ia adalah saat kita tetap mengasihi meski diperlakukan tidak adil. Tetap benar saat orang lain manipulatif. Tetap jujur saat lebih mudah diam. Itu sunyi, tapi surga mencatatnya dengan tinta emas.

?Irena pernah disiksa hingga kakinya patah. Namun kalimatnya setelah perang justru menampar saya:
“Saya seharusnya bisa melakukan lebih banyak.”
Sangat melegakan, bukan?

Kalimat itu bukan muncul dari orang yang haus pujian, tapi dari hati yang merasa masih kurang dalam kasih. Sering kali kita merasa sudah cukup sabar, sudah cukup berkorban. Padahal, mungkin Tuhan sedang memanggil kita naik satu tingkat lagi—bukan untuk jadi pahlawan di mata manusia, tapi untuk menjadi matang di mata-Nya.

?Yang paling menyentuh bagi saya adalah botol kaca itu. Dunia mungkin mencoba menghapus identitas kita lewat label orang lain atau situasi yang pahit. Tapi Tuhan menyimpan nama kita. Tidak terkubur, tidak hilang. Kesetiaan kecil dan air mata sunyi Anda tidak ada yang sia-sia.

?Hari ini, mungkin kita tidak sedang menyelamatkan bayi dari peperangan. Tapi kita sedang menyelamatkan iman dan karakter kita agar tidak ikut rusak oleh keadaan. Itu juga peperangan yang mulia!

?Tidak apa-apa jika kita tidak berdiri di panggung besar. Asal ketika Tuhan melihat hidup kita, Ia berkata: “Engkau setia. Engkau tidak menyerah pada kegelapan.”

?Lakukan bagianmu dengan tulus hari ini, walau tak terdengar. Karena dampak dari ketaatan yang sunyi bisa menembus generasi.

“?Every child saved with my help is the justification of my existence on this Earth, and not a title to glory.” — Irena Sendler.

“?Setiap anak yang berhasil diselamatkan dengan bantuan saya adalah pembenaran keberadaan saya di bumi ini, bukan gelar untuk kemuliaan”. — Irena Sendler.

?YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Masih Suka Mengeluh? Coba Jujur, Itu Bekerja atau Tidak?”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Masih Suka Mengeluh? Coba Jujur, Itu Bekerja atau Tidak?”

Pernah gak kita berhenti sejenak dan tanya ke diri sendiri: “Sebenarnya, mengeluh itu bikin hidup kita lebih baik atau malah makin berat?”

Saya pernah ada di posisi itu. Dulu, mengeluh terasa seperti hal yang wajar. Bahkan terasa “benar”. Kita merasa, “Ini kan memang salah… saya cuma menyuarakan kebenaran.” Kita mengeluh tentang keadaan, orang lain, keluarga, pekerjaan, bahkan pelayanan.

Kelihatannya sepele. Tapi kalau jujur, ada sesuatu yang pelan-pelan rusak di dalam.

Mengeluh itu seperti kebiasaan kecil yang diam-diam menggerogoti. Bukan hanya suasana hati, tapi cara kita melihat hidup, cara kita merespon Tuhan, bahkan cara kita memperlakukan orang lain.

Dan sering kali, kita tidak sadar.

Kita pikir kita sedang “menilai dengan benar”, padahal sebenarnya kita sedang melatih hati untuk fokus pada yang salah.

Padahal Firman Tuhan jelas: dari hati yang penuh, mulut berbicara. Artinya, kata-kata kita itu bukan sekadar reaksi… tapi cermin isi hati.

Kalau yang keluar terus adalah keluhan, kritik, dan ketidakpuasan… mungkin masalahnya bukan di luar. Mungkin ada sesuatu di dalam yang perlu dibereskan.

Mengeluh bukan cuma kebiasaan buruk. Akar terdalamnya adalah ketidakpercayaan.

Kita mengeluh karena kita tidak benar-benar percaya bahwa Tuhan itu baik. Kita tidak yakin Dia pegang kendali. Kita tidak percaya bahwa Dia sanggup bekerja bahkan di tengah situasi yang tidak ideal.

Akhirnya kita mengambil posisi sebagai “hakim”. Menilai, mengkritik, menyalahkan.

Tanpa sadar, kita sedang mengambil peran yang salah.

Dan efeknya nyata.

Hati yang suka mengeluh tidak akan pernah bisa melihat kebaikan Tuhan dengan jelas. Bukan karena Tuhan tidak baik, tapi karena fokusnya sudah salah.

Sebaliknya, iman yang sehat menghasilkan kata-kata yang berbeda.

Bukan berarti hidup selalu mulus. Tapi ada sikap hati yang memilih percaya, memilih bersyukur, dan tetap berkata benar… sekalipun keadaan belum berubah.

Ini yang membedakan.

Iman sejati mengalir dari damai dengan Tuhan. Dari kepercayaan bahwa Dia adalah Sumber kita. Bukan keadaan, bukan sistem dunia, bukan orang lain.

Dan di titik ini, kita belajar satu hal penting: ketika ada ketidaksepakatan, tidak semua harus kita selesaikan dengan reaksi cepat.

Serahkan kepada Tuhan.

Tidak semua konflik perlu ditangani dengan emosi. Tidak semua perbedaan harus kita menangkan.

Kadang, justru yang paling rohani adalah… diam.

Diam bukan berarti lemah. Diam adalah memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja.

Kita sering terlalu cepat bicara, terlalu cepat bereaksi, terlalu cepat membela diri. Padahal Tuhan belum selesai bekerja di balik layar.

Biarkan Dia yang membereskan.

Pada waktu yang tepat, Tuhan akan menuntun kita. Bisa jadi kita tetap terlibat dalam penyelesaiannya, dengan hikmat dan damai. Tapi bisa juga Tuhan membereskannya lewat cara yang tidak kita duga… bahkan melalui orang lain.

Tuhan itu kreatif.

Dia tidak terbatas dengan cara kita. Tidak ada situasi yang terlalu rumit bagi-Nya. Tidak ada hati yang terlalu keras bagi-Nya.

Yang kita butuhkan bukan selalu jawaban cepat, tapi kepercayaan yang tenang.

Dunia bisa kacau. Orang bisa mengecewakan. Situasi bisa tidak masuk akal.

Tapi hati yang percaya akan tetap stabil.

Dan dari hati seperti itu, keluar kata-kata yang membangun. Kata-kata yang memberi hidup. Kata-kata yang membawa damai.

Firman Tuhan berkata, jangan biarkan kata-kata yang merusak keluar dari mulut kita, tapi hanya yang membangun dan memberi kasih karunia bagi yang mendengar.

Artinya sederhana: setiap kita bicara, harusnya ada sesuatu yang menjadi lebih baik… bukan lebih rusak.

Jadi ini bukan soal hidup tanpa masalah.

Ini soal pilihan.

Mau tetap hidup dalam pola lama: mengeluh, menyalahkan, dan kehilangan damai…

Atau mulai hidup dari atas: percaya, bersyukur, dan memberi ruang bagi Tuhan bekerja.

Karena pada akhirnya, bukan kita yang harus mengontrol segalanya.

Kita hanya perlu percaya… dan taat.

Dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya dengan cara yang sering kali jauh lebih baik dari rencana kita.

“Lebih baik diam dan mempercayai Tuhan, daripada berbicara tanpa iman dan memperkeruh keadaan.”

“Never be afraid to trust an unknown future to a known God.”– Corrie ten Boom.

“Jangan pernah takut mempercayakan masa depan yang tidak kamu ketahui kepada Tuhan yang kamu kenal.” – Corrie ten Boom

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Memberi Itu Membuka Jalan, Bukan Kehilangan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Memberi Itu Membuka Jalan, Bukan Kehilangan.

Ada satu prinsip sederhana, tapi dampaknya bisa luar biasa besar dalam hidup: pemberian yang tepat bisa membuka jalan yang tidak bisa dibuka dengan usaha biasa.

Bukan manipulasi. Bukan sogokan. Tapi sebuah tindakan hati yang mengalir dari pengertian dan tujuan yang jelas.

Kita lihat kisah Ratu Syeba. Ia bukan orang miskin. Ia ratu, punya kekayaan, punya kuasa. Tapi menariknya, ketika ia mendengar tentang hikmat Salomo, ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia datang membawa hadiah besar, sangat besar.

Seberapa besar?

Catatan sejarah menyebut ia memberi sekitar 120 talenta emas. Kalau dikonversi, itu kira-kira lebih dari 4.000 kg emas. Dengan nilai sekarang, itu bisa mencapai sekitar 2–3 triliun rupiah. Belum termasuk rempah-rempah dalam jumlah sangat besar dan batu permata yang mahal.
Jadi ini bukan pemberian kecil. Ini keputusan serius.

Sekilas, orang bisa salah paham. “Untuk apa memberi sebanyak itu kepada orang yang sudah kaya?”

Kalau kita pikir secara dangkal, memang terlihat tidak masuk akal. Tapi Ratu Syeba tidak berpikir pendek. Ia berpikir strategis.

Ia tahu, kalau ia bisa mendapatkan akses kepada hikmat Salomo – orang paling kaya dan paling bijak di seluruh muka bumi -, itu jauh lebih berharga daripada emas yang ia bawa. Hikmat itu bisa dibawa pulang. Hikmat itu bisa diterapkan. Hikmat itu bisa mengubah sistem, memperbaiki bangsa, dan pada akhirnya menolong jauh lebih banyak orang.
Dan itu yang sering kita lewatkan.

Pemberian Ratu Syeba, membuka kesempatan baginya mendapatkan aliran hikmat dan kelimpahan yang dimiliki Salomo.
Ada cara untuk sukses.
Sukses itu bukan kebetulan, karena itu belajarlah pada orang yang sudah sukses di depan kita.

Memberi bukan soal kehilangan. Memberi itu soal membuka jalan kepada sesuatu yang lebih besar.

Dalam hidup saya pribadi, saya sudah berkali-kali mengalami ini dengan cara yang sangat sederhana.

Saya sering pindah kota. Datang ke tempat baru, tidak kenal siapa pun. Nol relasi.

Kalau hanya menunggu, ya bisa lama sekali. Tapi saya belajar satu hal: jangan tunggu pintu terbuka, kita bisa “mengetuk” dengan cara yang baik.

Saya kirim kue ke youth leader. Sambil titip anak-anak masuk sekolah minggu.

Sederhana sekali. Tapi dari situ, percakapan mulai. Hubungan mulai. Tidak kaku. Tidak canggung.
Dan membuka jalan.

Saya juga belajar, setiap kali ada orang yang menolong kita, jangan diam saja. Beri sesuatu. Tidak harus mahal. Bisa kue, bisa sesuatu kecil. Tapi itu membuat hubungan jadi hangat. Lebih manusiawi. Lebih hidup.
Itu cara menghargai.

Dan saya pribadi, karena saya suka membaca dan belajar, saya sering memberi buku.
Buat saya, buku itu bukan sekadar barang. Itu isi. Itu nilai. Itu bisa mengubah cara pikir seseorang.
Saya punya akses dengan penerbit, jadi sering kali saya tinggal minta nomor orangnya, transfer, dan buku langsung dikirim.

Banyak pembaca Seruput Kopi Cantik yang saya kirimi buku, bahkan gratis.
Dan yang menarik, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya jadi sahabat dekat.

Salah satunya Fenny Halim. Tersambung karena membaca Seruput Kopi Cantik
Awalnya hanya chat.
Lalu dia berpikir, “Kok bisa ada orang nggak kenal kirim buku gratis pula……”
Dari situ hubungan terbentuk. Hari ini, kami jadi sohib.

Ada lagi P. Irsan di Binjai. Awalnya dari Seruput Kopi Cantik juga. Waktu itu bisnisnya sedang bermasalah. Saya kirimi buku.
Ternyata dilahap habis. Satu buku, lanjut lagi. Sampai hampir sepuluh buku.

Melihat keseriusannya, saya bilang, “Sudah, sekolah saja.”
Program satu tahun, tapi karena online, selesai enam bulan.
Wow… keren ya?

Hasilnya? Bisnisnya bukan hanya pulih. Bertambah satu toko lagi. Dari jual jam, sekarang tambah toko kacamata. Bahkan jual tangki MPOIN juga… hahaha.

Dan sampai hari ini, kami ngobrol hampir setiap hari. Dari tidak kenal, jadi sahabat dekat.
Semua dimulai dari satu hal sederhana: memberi.

Jadi kalau mau jujur, memberi itu bukan soal uangnya. Tapi tentang hati, arah, dan tujuan.

Kalau memberi hanya karena kebiasaan, dampaknya kecil.
Tapi kalau memberi dengan pengertian, sesuai tuntunan Tuhan, itu bisa membuka pintu, memperluas relasi, bahkan mengubah hidup orang lain… dan hidup kita sendiri.

Tidak semua pemberian langsung kelihatan hasilnya. Tapi percayalah, tidak ada pemberian yang sia-sia.
Apa yang kita tabur, pasti kita tuai.
Bahkan segelas air yang kita berikan karena mengasihi-Nya, Tuhan perhitungkan. Membawa dampak natural mau pun rohani.
Karena setiap pemberian membawa sesuatu: akses, hubungan, favor, bahkan hikmat.

Penting untuk mengenali, ketika kita bermitra dengan sebuah pelayanan dan memberi dengan sengaja, kita dapat mengambil bagian dari berkat yang ada atas pelayanan itu.
Sama seperti petani, jika menabur di tanah yang subur, maka hasilnya tentu lebat.

Memberi bukan hanya untuk menerima, tapi memberi untuk membantu membawa ke tempat yang ingin kita tuju. Ketika kita melakukan itu, sebuah aliran supernatural dari keuangan Allah mulai mengalir kepada kita sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan kita sendiri dan sekaligus melimpah dalam pelbagai kebajikan.

Dan sering kali, yang kita terima kembali jauh lebih besar daripada yang kita berikan.
Sungguh, gift itu benar-benar powerful.

“No one has ever become poor by giving.”- Anne Frank.

“Tidak seorang pun pernah menjadi miskin karena memberi.” – Anne Frank.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 18 19 20 21 22 427