Category : Articles

Articles

Kadang Kita Tidak Ditipu… Kita Hanya Kurang Informasi.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kadang Kita Tidak Ditipu… Kita Hanya Kurang Informasi.

“Keledai tidak jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali,” demikian kata pepatah.

Dan terus terang, saya belajar banyak dari sebuah kasus yang cukup membuka mata saya. Bukan terutama soal uangnya, tetapi soal bagaimana saya bisa salah menilai seseorang.

Sebut saja namanya Amin.

Amin ini rajin pelayanan. Berkomitmen. Kalau diberi tugas, dikerjakan. Datang tepat waktu. Sikapnya sopan. Dan itu berlangsung bukan sehari dua hari, tetapi bertahun-tahun.

Jadi sebagai orang yang lebih tua, saya melihat dia sebagai anak muda yang baik. Layak dipercaya. Layak dibantu saat membutuhkan. Tidak ada alarm apa pun dalam hati saya.

Sampai akhirnya kasus itu terbongkar.

Dan ternyata bukan hanya saya yang tertipu.

Mulai muncul cerita dari anak-anak muda lain yang ternyata sudah lama tidak nyaman dengan Amin. Mereka melihat sisi karakter yang selama ini tidak tampak di depan orang-orang yang lebih senior.

Ternyata Amin pendendam. Orang yang sudah minta maaf dan berubah pun masih dijegal. Dalam hal uang juga mulai terlihat bahwa dirinya berbeda dengan image yang selama ini ditampilkan.

Tetapi setelah saya pikir-pikir lagi, sebenarnya tidak ada orang yang bisa berpura-pura dengan sempurna terus-menerus.

Pasti ada sisi-sisi kecil yang menunjukkan karakter aslinya, meski samar.

Kadang muncul lewat komentar kecil. Cara memperlakukan orang tertentu. Cara bicara saat kecewa. Cara bereaksi saat tidak diuntungkan. Cara memandang uang, posisi, atau relasi.

Masalahnya, sering kali kita tidak menangkap sinyal itu. Atau mungkin kita menangkapnya, tetapi mengabaikannya karena overall image orang itu terlihat baik.

Lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri:

“Di mana saya bisa terlewat?”

Jawabannya sederhana.

Karena saya kurang punya informasi yang akurat.

Kami beda generasi. Saya tidak bergaul dekat dengan Amin dan lingkaran pertemanannya. Anak-anak muda juga cenderung bersopan ria kepada yang lebih tua. Jadi yang terlihat di permukaan memang manis.

Saya menilai dari apa yang saya lihat, tetapi saya tidak punya cukup “peta”.

Dan di situlah saya belajar sesuatu yang penting:

Saat informasi kita salah, persepsi kita pun bisa salah. Dan saat persepsi salah, keputusan kita juga bisa salah.

As simple as that.

Kadang kita terlalu cepat berkata,
“Ah, saya gak mau dengar cerita orang. Nanti jatuhnya gosip.”

Padahal tidak semua usaha mencari informasi itu gosip.

Menurut saya, motivasinya yang menentukan.

Saya teringat satu pengalaman lain. Suatu kali salah satu grup teman pergi berlibur bersama dan saya tidak ikut. Setelah mereka pulang, saya mendengar sempat terjadi kesalahpahaman antar peserta.

Lalu seorang teman berkata:

“Kamu telpon si Ana saja, dia bisa jelaskan lebih detail.”

Saya langsung jawab,

“Gak mau… nanti saya bergosip.”

Dia tertawa dan berkata,

“Lha, ini kan kamu juga bergosip dengan aku?”

Saya lalu menjawab,

“Beda ya… tujuanku supaya saya tahu situasinya -peta politiknya- bagaimana. Saya gak mau ikut-ikutan. Dengan tahu gambar besarnya, saya bisa menempatkan diri dengan lebih bijak.”

Dan sampai hari ini saya masih merasa itu benar.

Karena menurut saya, dengan tahu informasi yang tepat, kita bisa menghindari ribuan pertempuran yang tidak perlu.

Ada orang ingin terlihat “suci”, sehingga menolak tahu apa pun. Akibatnya malah naif. Mudah dimanfaatkan. Mudah diperalat. Riskan salah ambil keputusan.

Tentu kita tidak boleh jadi tukang gosip. Itu jelas merusak.

Tetapi menjadi bijak juga perlu informasi yang benar.

Bahkan dalam dunia investasi pun demikian. Misalnya di bidang properti, kadang orang perlu mendengar kabar ‘gosip’ tentang rencana pembangunan suatu kawasan supaya bisa lebih dulu mengambil langkah.

Secara kasat mata tanah itu mungkin masih hutan belantara atau tampak seperti tanah mangkrak. Tetapi beberapa tahun kemudian, ternyata lokasi itu menjadi kawasan emas.

Karena itu, tidak semua informasi itu buruk. Yang penting adalah motivasi hati dan bagaimana kita menggunakannya dengan bijaksana.

Raja Salomo berkali-kali menekankan pentingnya hikmat dan discernment, kemampuan membedakan dengan tepat.

Hikmat bukan cuma soal hati baik. Hikmat juga soal kemampuan membaca manusia dan situasi dengan tepat.

Kita tidak bisa menolong semua orang hanya berdasarkan tampilan luar.

Dan sering kali, karakter asli seseorang baru terlihat saat uang, posisi, atau kepentingannya terganggu.

Karena itu saya memutuskan, ke depan sebelum mengambil keputusan, bahkan dalam hal menolong yang selama ini dianggap mulia, saya harus lebih berhati-hati.

Tanya dulu.
Cari tahu dulu.
Doakan dulu.
Jangan terburu-buru.

Sebab hati yang baik tanpa hikmat bisa menjadi pintu masuk bagi banyak masalah.

Dan saya percaya, Tuhan tidak pernah meminta kita menjadi naif. Tuhan meminta kita tetap mengasihi, tetapi juga bertumbuh dalam discernment dan kebijaksanaan.

“Not all information is gossip. Sometimes accurate information is God’s protection to keep us from the wrong battles.”— Yenny Indra.

“Tidak semua informasi adalah gosip. Kadang informasi yang tepat adalah perlindungan Tuhan supaya kita tidak masuk ke pertempuran yang salah.”— Yenny Indra.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Lahir dari Luka, Tetapi Dipilih Tuhan: Kisah James Robison.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Lahir dari Luka, Tetapi Dipilih Tuhan: Kisah James Robison.

James Robison lahir dari sebuah kisah yang sangat kelam.

Ibunya, Myra Wattinger, bekerja sebagai seorang perawat praktis. Suatu hari ia merawat seorang pria tua yang sakit. Tetapi anak laki-laki dari pria tua itu, seorang pria alkoholik, memperkosanya. Dari peristiwa tragis itulah James dikandung.

Myra sangat terpukul. Malu. Hancur. Ia bahkan sempat ingin menggugurkan kandungannya. Tetapi dokter yang ditemuinya menolak melakukan aborsi. Bertahun-tahun kemudian James sering berkata bahwa hidupnya ada karena seorang dokter memilih mempertahankan kehidupan seorang bayi yang tidak diinginkan.

Bayangkan ironinya.

Seorang anak yang lahir dari kekerasan… justru dipakai Tuhan membawa pengharapan kepada jutaan orang.

James lahir tahun 1943 di Houston, Texas. Masa kecilnya sangat sulit. Karena merasa tidak mampu membesarkannya, ibunya sempat menyerahkannya kepada keluarga pendeta yang merawat James kecil selama lima tahun pertama hidupnya.

Tetapi suatu hari ibunya datang dan mengambilnya kembali.

James pernah menceritakan bagaimana ia bersembunyi di bawah tempat tidur sambil menangis dan mencengkeram lantai ketika harus dipisahkan dari keluarga yang ia kasihi. Luka penolakan itu membekas dalam hidupnya.

Ia tumbuh dalam kemiskinan, ketidakstabilan, dan kemarahan. Ayah biologisnya dikenal keras dan alkoholik. Tidak heran James muda pernah dipenuhi rasa rendah diri dan pertanyaan besar:

“Mengapa saya lahir?”

Tetapi Tuhan sering kali memulai karya terbesar-Nya dari tempat paling gelap.

Saat remaja, James mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Untuk pertama kalinya ia mulai memahami bahwa hidupnya bukan kecelakaan. Bahwa asal-usul seseorang tidak menentukan tujuan akhirnya.

Dan ia sering memakai hidupnya sendiri sebagai contoh ketika berkata:

“Manusia mungkin berkata kita tidak diinginkan, tetapi Tuhan tetap bisa berkata kita dipilih.”

Kalimat itu bukan slogan rohani. Itu adalah kesaksian hidupnya sendiri.

James mulai berkhotbah sejak muda. Bukan karena hidupnya sempurna, tetapi justru karena ia tahu bagaimana rasanya terluka, ditolak, dan merasa tidak berharga. Ia berbicara dengan hati yang nyata. Tidak menggurui. Tidak berpura-pura.

Bersama istrinya Betty, ia kemudian membangun Life Outreach International, pelayanan yang memberitakan Injil sekaligus memberi makan orang lapar, menyediakan air bersih, dan menolong mereka yang menderita di berbagai negara.

Salah satu hal yang sangat kuat dari hidup James adalah: ia tidak membiarkan masa lalu menentukan identitasnya.

Itulah sebabnya ayat ini sangat dalam maknanya:

“Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus maupun Apolos, baik Kefas, baik dunia, hidup maupun mati, _waktu sekarang maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya._ Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.” (1 Korintus 3:21-23, TLB)

Dalam bahasa Inggris tertulis:

“He has given you all of the present and all of the future.”

“Dia telah memberikanmu semua masa kini dan semua masa depan.”

Mengapa ayat itu berbicara tentang present dan future, tetapi tidak menyebut masa lalu?

*Karena bagi orang percaya, masa lalu sudah dipaku di kayu salib.*

Move On…. Tinggalkan!

Terlalu banyak orang masih hidup dari luka lama, rasa malu lama, kegagalan lama, dosa lama, dan penolakan lama. Padahal Yesus datang bukan hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga memberi identitas baru.

James Robison memahami itu.

Ia bisa saja hidup sebagai korban. Ia bisa saja pahit kepada dunia. Tetapi ia memilih mempercayai tujuan Tuhan lebih besar daripada luka masa lalunya.

Dan sampai akhir hidupnya, dampaknya terus terasa.

Ada kehidupan yang berhenti saat seseorang meninggal. Tetapi ada kehidupan yang terus berbicara bahkan setelah orangnya tidak ada lagi.

James Robison termasuk yang kedua.

Dari seorang bayi yang nyaris diaborsi, ia menjadi suara pengharapan bagi dunia.

Dan mungkin itulah sebabnya kalimat Tuhan ini terasa begitu tepat untuk hidupnya:

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” (Matius 25:21)

Betapa indahnya…..

“Your present circumstances don’t determine where you can go; they merely determine where you start.” – Nido Qubein

“Keadaan kita saat ini tidak menentukan ke mana kita bisa pergi; itu hanya menentukan dari mana kita memulai.”- Nido Qubein

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kita Sibuk Mengesankan Orang yang Juga Sedang Sibuk Mengesankan Kita…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kita Sibuk Mengesankan Orang yang Juga Sedang Sibuk Mengesankan Kita…

_“What matters after 91 years?”_ apa yang penting saat berusia 91tj?

Pertanyaan itu ditanyakan kepada seorang hamba Tuhan senior, Chuck Swindoll, yang sudah melewati begitu banyak musim kehidupan. Sudah melihat keberhasilan, kegagalan, pelayanan besar, pujian, kritik, air mata, dan kemenangan.

Jawabannya ternyata sederhana.

Bukan tentang pencapaian besar.
Bukan tentang nama terkenal.
Bukan tentang berapa banyak orang mengenalnya.

Ia berkata kira-kira seperti ini:

Home and family. Relationship. Knowing who you are. Accepting who you are. Then being who you are.

Rumah. Keluarga. Relasi. Mengenal siapa diri kita. Menerima siapa diri kita. Lalu menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Dalam usia 91 tahun, seseorang biasanya sudah tidak tertarik lagi hidup untuk pencitraan. Sudah terlalu lelah untuk berpura-pura. Yang tersisa hanyalah hal-hal yang benar-benar bernilai.

Lalu Chuck mengutip perkataan James Dobson yang sangat tajam:

“We don’t even know who we think we are until we find out who other people think we are. So we’re busy making an impression on someone, who is busy making an impression on us.”

Artinya:

“Kita bahkan tidak benar-benar tahu siapa diri kita sampai kita tahu apa pendapat orang tentang kita. Jadi kita sibuk mengesankan orang lain, sementara orang itu juga sibuk mengesankan kita.”

Ironis bukan?

Aduh…. Dalam sekali.

Bukankah sering kali hidup kita memang seperti itu?

Kita berkata ingin menyenangkan Tuhan, tetapi diam-diam hati kita hancur kalau tidak dihargai manusia.
Kita berkata hidup sederhana, tetapi tetap ingin terlihat berhasil.
Kita berkata melayani Tuhan, tetapi masih sakit kalau tidak dianggap penting.

Tanpa sadar, hidup berubah menjadi panggung.

Bukan lagi hidup dari identitas di dalam Kristus, tetapi hidup dari reaksi orang lain.

Kalau dipuji, kita naik.
Kalau diabaikan, kita jatuh.
Kalau diterima, kita tenang.
Kalau ditolak, kita kehilangan damai.

Padahal Efesus 2:10 berkata:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.”

Kita adalah workmanship Tuhan.
Karya-Nya.
Bukan produk opini manusia.

Dunia terus menekan kita untuk tampil.
Tampil kuat.
Tampil berhasil.
Tampil rohani.
Tampil bahagia.

Tetapi Tuhan tidak pernah meminta kita hidup sebagai performance.

Tuhan tidak menciptakan kita untuk mempertahankan image. Tuhan menciptakan kita untuk berjalan bersama-Nya.

Semakin dewasa seseorang, biasanya ia mulai sadar, ketenangan bukan datang karena berhasil membuat semua orang kagum. Ketenangan datang waktu kita berhenti haus validasi.

Ada orang yang rumahnya besar tetapi jiwanya capek.
Ada yang pelayanannya besar tetapi hidupnya penuh kecemasan karena terus mempertahankan reputasi.
Ada yang terlihat kuat di depan banyak orang, tetapi sebenarnya tidak tahu siapa dirinya tanpa tepuk tangan manusia.

Karena itu jawaban Chuck Swindoll sangat indah.

Di ujung hidup, yang penting ternyata bukan pencitraan.
Tetapi:
siapa yang kita kasihi,

siapa yang berjalan bersama kita,

dan apakah kita akhirnya berdamai dengan diri kita sendiri di hadapan Tuhan.


Knowing who you are.
Accepting who you are.
Then being who you are.

Ini bukan ajakan hidup sembarangan. Ini bicara tentang hidup asli. Hidup yang tidak lagi diperbudak kebutuhan untuk selalu terlihat hebat.

Kadang mujizat terbesar bukanlah menjadi terkenal.
Tetapi menjadi tenang.

Tenang karena tahu: “Aku dikasihi Tuhan bahkan tanpa harus membuktikan apa-apa.”

Dan orang yang paling damai sering kali bukan orang yang berhasil mengesankan semua orang.

Tetapi orang yang akhirnya berhenti mencoba.

“Ketika kita berhenti hidup demi kesan manusia, barulah kita mulai hidup dalam keaslian yang memberi damai.” — Yenny Indra

Setuju?

“Care about what other people think and you will always be their prisoner.” – Lao Tzu.

“Kalau kita terus hidup berdasarkan pendapat orang lain, kita akan selalu menjadi tawanan mereka” – Lao Tzu.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Hati-Hati, Kita Bisa Menjadi “Tuhan” Dalam Hidup Orang Lain…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hati-Hati, Kita Bisa Menjadi “Tuhan” Dalam Hidup Orang Lain…

Ada sesuatu yang menarik yang pernah diungkapkan oleh Dr.Caroline Leaf, seorang pakar neuroscience dan kesehatan mental yang banyak meneliti hubungan antara pikiran, emosi, dan pola hidup manusia.

Menurutnya, banyak orang yang sejak kecil kekurangan perhatian emosional akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang sangat suka merawat orang lain. Mereka menjadi penolong. Menjadi tempat bersandar. Menjadi orang yang selalu hadir ketika dibutuhkan.

Konon, pikiran manusia akan terus mencari jalan untuk mendapatkan apa yang dulu tidak sempat ia rasakan.

Kalau dulu seseorang jarang ditenangkan, jarang diperhatikan, atau terlalu cepat dipaksa menjadi “kuat”, tanpa sadar ia bisa membangun identitas sebagai orang yang selalu memberi kepada orang lain.

Dan jujur saja, waktu membaca itu, saya seperti ditampar pelan.

Karena saya sadar, ada banyak hal yang selama bertahun-tahun saya lakukan secara otomatis, tanpa benar-benar memeriksa akar pikirannya.

Sebagai anak Tuhan, sejak kecil saya diajar bahwa kita harus murah hati. Harus menolong. Apalagi kalau ada saudara seiman yang membutuhkan. Dan itu memang baik.

Mungkin bukan jumlah yang spektakuler, tetapi prinsip berbagi itu seperti kewajiban moral.

Lagipula, dari kecil kita dididik bahwa berbuat baik adalah sesuatu yang mulia.

Lalu Sekolah Charis . Belajar firman. Lulus. Tetapi ternyata, lulus sekolah tidak otomatis membuat pola pikir langsung berubah.

Perubahan mindset membutuhkan pembaharuan pikiran dan prosesnya terus-menerus.

Dan salah satu pelajaran yang paling sulit saya pahami, ternyata tidak semua perbuatan baik otomatis benar.

Gubbraaakkk…

Wah… ini perlu waktu bertahun-tahun untuk benar-benar saya mengerti.

Karena selama ini logikanya sederhana: kalau ada orang susah lalu kita membantu, bukankah itu baik?

Ya, baik.

Tetapi apakah selalu benar?

Ternyata belum tentu.

Kadang tanpa sadar, saat kita selalu menjadi jawaban bagi semua kebutuhan orang lain, kita sedang mengambil posisi yang seharusnya menjadi bagian Tuhan dalam hidup mereka.

Kita menjadi “penolong tetap”.

Akibatnya, orang itu tidak belajar percaya Tuhan. Tidak belajar bertumbuh. Tidak belajar menggunakan iman dan tanggung jawab pribadinya.

Yang lebih berbahaya, orang-orang mulai terbiasa menggantungkan diri kepada kita.

Sedikit-sedikit datang. Sedikit-sedikit minta bantuan. Sedikit-sedikit berharap kita turun tangan.

Awalnya kita merasa dibutuhkan.

Lama-lama lelah.

Lalu mulai kecewa.

Dan kalau jujur, kadang muncul pahit hati: “Kenapa ya saya selalu dikelilingi orang yang maunya ditolong terus?”

Padahal mungkin tanpa sadar kita sendiri ikut membangun pola itu.

Kita terlalu cepat menyelesaikan masalah orang lain.

Terlalu cepat menjadi penyelamat.

Padahal kasih yang sehat bukan membuat orang bergantung kepada kita, tetapi menolong mereka bertumbuh dewasa.

Di situlah saya mulai mengerti perbedaan antara sekadar “baik” dan melakukan apa yang “benar”

strong>Yang benar bukan selalu memberi ikan. Kadang yang benar adalah mengajar orang me

Kadang yang benar adalah membimbing seseorang mengenal kebenaran Firman Tuhan, belajar berdiri dengan imannya sendiri, lalu memberi ruang bagi Tuhan bekerja dalam hidupnya.

Memang lebih cepat memberi bantuan.

Sementara memuridkan orang membutuhkan kesabaran, hikmat, dan kepekaan rohani.

Itulah sebabnya Amanat Agung Tuhan bukan hanya mengabarkan Kabar Baik, tetapi juga memuridkan.

Bukan sekadar membuat orang merasa tertolong sesaat, tetapi membawa mereka bertumbuh menjadi pribadi yang mengenal Tuhan, mendengar suara-Nya, dan berjalan bersama-Nya.

Karena tujuan akhirnya bukan membuat orang tergantung pada manusia, tetapi makin mengandalkan Tuhan.

Dan di sinilah saya belajar sesuatu yang penting: kita tidak bisa menolong hanya berdasarkan rasa kasihan atau emosi.

Kita harus belajar menolong sesuai pimpinan Tuhan.

Ada saat Tuhan memang menyuruh kita memberi.

Ada saat Tuhan menyuruh kita diam.

Ada saat Tuhan meminta kita menopang seseorang.

Tetapi ada juga saat Tuhan membiarkan seseorang melewati proses supaya imannya bertumbuh.

Kalau tidak hati-hati, rasa “ingin menolong” bisa berubah menjadi campur tangan yang justru menghambat pekerjaan Tuhan dalam hidup orang itu.

Karena itu kita perlu makin peka mendengar suara Tuhan.

Bukan sekadar bergerak karena iba, tekanan, atau rasa tidak enak.

Semakin dewasa rohani, semakin kita belajar bertanya: “Tuhan, apa yang benar untuk dilakukan dalam situasi ini?”

Kadang jawabannya memberi.

Kadang jawabannya menunggu.

Kadang jawabannya membimbing.

Kadang jawabannya hanya mendoakan.

Dan jujur saja, mendengar suara Tuhan dalam hal seperti ini membutuhkan latihan terus-menerus.

Sebab hati manusia mudah terseret rasa bersalah, kebutuhan untuk diterima, atau keinginan merasa dibutuhkan.

Hari ini saya percaya, kalau seseorang sungguh-sungguh mencari Tuhan dengan segenap hati, Tuhan sanggup menuntun, membuka jalan, dan memelihara hidupnya.

Kita boleh membantu. Tentu.

Tetapi jangan sampai kita mengambil alih proses yang seharusnya membuat seseorang belajar berjalan bersama Tuhan.

Dan ternyata menarik sekali… prinsip Firman Tuhan itu sejalan dengan apa yang dijelaskan Dr.Caroline Leaf.

Pola yang tidak disadari akan terus berjalan otomatis, sampai kita berhenti sejenak dan mulai bertanya:

“Apakah saya menolong karena dipimpin kasih dan hikmat Tuhan… atau karena saya merasa harus selalu menjadi penyelamat?”

Makes sense?

“Give a man a fish and you feed him for a day. Teach him how to fish and you feed him for a lifetime.” – Chinese Proverb

“Beri seseorang ikan, ia kenyang sehari. Ajari ia memancing, ia bisa hidup seumur hidup.” – pepatah China.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Sebetulnya Saya Sudah Curiga…” Nah, Terus Kenapa Diam?”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra


“Sebetulnya Saya Sudah Curiga…” Nah, Terus Kenapa Diam?”

Ada kalanya dalam hidup, kasih tidak selalu berbentuk pujian atau kata-kata manis. Kadang kasih justru muncul dalam bentuk keberanian untuk mengingatkan sebelum semuanya terlambat.

Saya sering memperhatikan satu pola, baik di perusahaan, organisasi, pelayanan, bahkan dalam pertemanan.

Saat semuanya masih terlihat baik-baik saja, banyak orang memilih diam. Tetapi begitu fraud terbongkar, pengkhianatan terjadi, atau masalah besar akhirnya meledak, mendadak orang-orang mulai bicara:

“Sebetulnya saya sdh curiga bla bla bla…”

“Tanda-tandanya sudah kelihatan sich… cuma saya gak berani bilang. Ya klo betul, klo ga kan dikira gossip.”

Gubbbraaaaak…

Orang Surabaya bilang: mbencekno.

Semua orang berlomba-lomba jadi pengamat setelah kejadian.

Kadang saya berpikir, mengapa kita tidak berprinsip lebih baik mencegah daripada mengobati?

Bukankah kerugian besar sering terjadi justru karena terlalu banyak orang memilih diam demi menjaga ‘aman’?
Demi tidak dianggap bergosip, berkhianat, menghakimi…dkk.

Takut salah. Takut tidak disukai. Takut dianggap negative thinking. Takut dibilang tukang gosip.

Padahal diam belum tentu bijaksana.

Saya belajar dari kitab Amsal:

“Teman baik memukul dengan maksud baik, – terjemahan lain berkata, ‘sahabat rela melukai demi kebaikan’ – tetapi musuh mencium berlimpah-limpah.”

Wisdom ini sangat dalam.

Teman sejati tidak selalu mengatakan apa yang enak didengar. Kadang ia berani menyampaikan sesuatu yang tidak nyaman demi melindungi orang yang dikasihinya.

Karena itu, saat saya melihat sesuatu yang mencurigakan, saya memilih membicarakan dengan jujur kecurigaan saya dan alasannya.

Apakah pasti diterima?
Sama sekali tidak.
Bahkan bisa saja dicurigai saya yang sentimen….

Tetapi saya belajar bahwa niat hati yang benar lebih penting daripada usaha menjaga image diri sendiri.

Saya biasanya menyampaikan dengan sederhana saja. Tidak menyerang. Tidak menghakimi. Tidak membangun drama.

Saya hanya bilang:
“Saya dengar berita ……, kebenarannya belum pasti 100% benar. Klo saya bla..bla…bla… karena logikanya begini…daripada ruginya terlalu besar, toh ga ada ruginya check and recheck. Jika ternyata infonya ga benar, lupakan saja. Tapi klo benar, gak sampai kebablasan. Better di check ulang sich.”

Selesai.

Menurut saya, cara seperti ini jauh lebih sehat daripada menyebarkan gossip di belakang, tetapi tidak pernah berani bicara kepada pihak yang berkepentingan.

Karena tujuan kita bukan menghancurkan orang.

Tujuannya menjaga.

Dan setelah menyampaikan, ya sudah… biarkan orang itu memilih dan memutuskan apa yang terbaik baginya. Bukan ranah saya untuk mengaturnya.

Kita tidak bisa memaksa orang menerima warning kita.

Kita juga tidak bisa mengontrol keputusan mereka.

Tanggung jawab kita hanyalah menyampaikan dengan hati yang benar, motivasi yang bersih, dan sikap yang tetap hormat.

Saya mengajarkan hal yang sama pada staf kami. Saat ada tanda-tanda berbahaya, segera beritahu kami.
Ketika terlalu dekat dengan masalah, kerap pandangan kita blur…. tapi yang dari kejauhan, melihat lebih jelas.

One day, kebenaran akan terungkap. Sahabat kita bisa menilai, siapa temannya yang sejati dan siapa teman yang hanya datang saat keadaan baik-baik saja.
Waktu akan membuktikannya.

Dari pengalaman, akhirnya teman tadi sadar, saya betul-betul berusaha untuk menjaga dia karena saya mengasihinya.
Ini yang membuat persahabatan berkualitas dan menunjukkan loyalitas yang sejati.

Kalimat itu sangat menyentuh hati saya.

Karena sering kali orang baru mengerti, sebuah warning lahir dari kasih setelah mereka melihat sendiri kenyataannya.

Memang tidak semua warning akan diterima dengan baik. Kadang kita disalahpahami. Kadang dianggap terlalu sensitif. Kadang malah dicurigai punya agenda tertentu.

Tetapi saya percaya, lebih baik dianggap cerewet sebentar daripada menyesal seumur hidup sambil berkata:

“Dulu sebenarnya saya sudah tahu…”

Dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak ahli analisa setelah semuanya terlambat.
Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang cukup tulus untuk peduli, cukup berani untuk bicara, dan cukup dewasa untuk menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan kasih.

Martin Luther King Jr. Berujar,
“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends – Pada akhirnya, kita tidak akan mengingat kata-kata musuh, tetapi diamnya teman-teman kita.”

Bagaimana pendapat Anda?

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.” – Edmund Burke.

“Yang diperlukan agar kejahatan menang hanyalah ketika orang-orang baik memilih tidak melakukan apa-apa.” – Edmund Burke

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 3 4 5 6 7 326