Category : Articles

Articles

“Ketika “Maaf” Belum Memperbaiki Jendela yang Pecah…”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Ketika “Maaf” Belum Memperbaiki Jendela yang Pecah…”

Saya membaca sebuah cerita sederhana tentang sebuah jendela yang pecah.

Seorang laki-laki memecahkan jendela rumah seorang perempuan. Ia meminta maaf, dan perempuan itu mengampuninya.
Selesai?

Ternyata tidak.

Setiap malam udara dingin masuk melalui celah jendela. Ketika hujan turun, air masuk ke rumah. Perempuan itu masih merasakan dampak dari sesuatu yang sudah diampuninya.

Akhirnya ia berkata, “Kita perlu memperbaiki jendelanya.”

Laki-laki itu bingung.

“Bukankah aku sudah minta maaf?”

Kalimat sederhana ini sebenarnya menggambarkan banyak hubungan.

Pengampunan dan pemulihan adalah dua hal yang berbeda.

Mengampuni berarti kita memilih untuk tidak menyimpan kesalahan seseorang sebagai utang di dalam hati. Kita menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dan tidak membiarkan kepahitan menguasai hidup kita.

Tetapi mengampuni tidak berarti kita harus berpura-pura bahwa jendelanya tidak pecah.

Kalau kepercayaan rusak, mungkin diperlukan waktu untuk membangunnya kembali. Kalau seseorang berulang kali melukai melalui perkataan atau tindakannya, permintaan maaf saja tidak cukup. Dibutuhkan perubahan.

Kata-kata meminta maaf. Karakter membuktikan perubahan.

Karena itu, kita perlu belajar membedakan antara forgiveness, trust, dan reconciliation.

Kita bisa mengampuni seseorang tanpa langsung mempercayainya kembali. Kita bisa mengasihi seseorang tanpa memberikan akses yang sama seperti sebelumnya. Kita bisa berdamai di dalam hati tanpa memaksakan hubungan kembali seperti dahulu.

Ini bukan berarti kita menjadi keras.

Ini berarti kita belajar menjadi bijaksana.

Tuhan mengajarkan kita untuk melihat buah. Seseorang dapat berkata, “Saya sudah berubah,” tetapi perubahan sejati akhirnya terlihat dari cara ia hidup.

Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lakukan: menjadikan luka sebagai identitas.

Ya, pengalaman buruk itu nyata. Ada orang yang mengecewakan kita. Ada hubungan yang melukai. Ada kegagalan yang menyakitkan.

Tetapi kita tidak perlu menyebut yang buruk sebagai sesuatu yang Tuhan kerjakan.

Yang baik berasal dari Tuhan. Yang buruk bukan berasal dari-Nya.

Iblis datang untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Tuhan datang supaya kita memiliki hidup dan menikmatinya dalam kelimpahan.

Jadi ketika pengalaman buruk datang, jangan berhenti pada pertanyaan, “Mengapa ini terjadi kepadaku?”

Kita dapat berkata,

“Tuhan, aku tidak menerima ini sebagai kehendak-Mu. Tetapi sekarang aku mau melihat bagaimana aku bisa bertumbuh dan keluar dari pengalaman ini sebagai pribadi yang lebih kuat di dalam Kristus.”

Sebab kita tidak selalu dapat memilih pengalaman yang datang kepada kita.

Tetapi kita dapat memilih apa yang akan kita lakukan terhadap pengalaman itu.

Dan ini bukan hanya berlaku untuk pengalaman buruk.

Setiap pengalaman, baik maupun buruk, memberi kesempatan kepada kita untuk naik level dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Pengalaman yang baik mengajarkan kita bersyukur.

Keberhasilan mengajarkan kita bertanggung jawab.

Kegagalan mengajarkan kita mengevaluasi diri.

Kekecewaan mengajarkan kita menjadi lebih bijaksana.

Orang yang melukai kita dapat mengajarkan kita tentang pengampunan, batas yang sehat, dan discernment.

Bukan berarti kita menyebut kejahatan sebagai sesuatu yang baik. Tidak.

Yang buruk tetap buruk. Tetapi kita tidak harus menyia-nyiakannya.

Kita bisa membiarkan pengalaman buruk membuat kita pahit. Atau kita bisa membawanya kepada Tuhan dan bertumbuh melewatinya.

Dulu mungkin kita terlalu mudah percaya. Sekarang kita belajar membedakan.

Dulu kita takut berkata tidak. Sekarang kita belajar berkata tidak tanpa kebencian.

Dulu kita selalu mencari penerimaan manusia. Sekarang kita belajar hidup dari identitas kita di dalam Kristus.

Itulah pertumbuhan.

Bukan menjadi lebih keras, tetapi menjadi lebih matang.

Bukan kehilangan kasih, tetapi belajar mengasihi dengan hikmat.

Bukan hidup tanpa pengalaman buruk, tetapi tidak membiarkan pengalaman buruk menentukan siapa kita.

Mungkin jendelanya pernah pecah.
Tetapi kita tidak harus selamanya tinggal di rumah yang dingin.

Tuhan sanggup memulihkan hati kita dan memakai setiap proses untuk membuat kita semakin kuat, bijaksana, penuh kasih, dan semakin serupa dengan Kristus.

Jadi jangan hanya bertanya,

“Apa yang terjadi kepadaku?”

Tanyakan juga,

“Siapa saya setelah melewati semua ini?”

Karena hidup bukan hanya tentang apa yang terjadi kepada kita.

Hidup juga tentang siapa kita memilih untuk menjadi setelahnya.

Jangan sia-siakan satu pun pengalaman. Yang baik menjadi alasan untuk bersyukur. Yang buruk menjadi kesempatan untuk bertumbuh. Keduanya dapat membuat kita naik level.

“There are no mistakes, no coincidences. All events are blessings given to us to learn from.” – Elisabeth Kübler-Ross.

“Tidak ada kesalahan dan tidak ada kebetulan. Semua peristiwa adalah kesempatan untuk kita belajar.” – Elisabeth Kübler-Ross.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

“Luka boleh menjadi bagian dari ceritamu, tetapi jangan biarkan luka menjadi penulis ceritamu.”

“Wounds may be part of your story, but never let them become the author of your story.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Menikmati Hidup, Itu Juga Ibadah….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menikmati Hidup, Itu Juga Ibadah….

Entah mengapa, kita sering merasa bersalah ketika sedang tidak produktif.

Duduk menikmati kopi terasa membuang waktu. Tidur siang dianggap malas. Liburan terlalu lama membuat kita mulai berpikir, “Seharusnya saya mengerjakan sesuatu.”

Apalagi orang yang terbiasa hidup aktif. Belajar, bekerja, melayani, menolong orang, mengejar target. Diam sebentar saja rasanya tidak nyaman.

Padahal saya semakin belajar bahwa beristirahat dan menikmati berkat Tuhan pun merupakan bagian dari ibadah.

Tuhan tidak menciptakan kita menjadi mesin produktivitas.

Ada waktu bekerja, ada waktu berhenti. Ada waktu menabur, ada waktu menikmati hasilnya. Ada waktu belajar dan berdoa, tetapi ada juga waktu tertawa bersama keluarga, jalan-jalan, makan enak, menikmati alam, tidur cukup, bahkan sekadar duduk tanpa melakukan apa-apa.

John Piper berkata,
“God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.”

“Tuhan paling dimuliakan di dalam kita ketika kita merasa paling dipuaskan di dalam Dia.”

Saya teringat kisah Ed Dufresne, seorang pengajar yang terkenal dengan pelayanan kesembuhan. Ketika ia didiagnosis kanker, ia bertanya kepada Tuhan, “Why?”

Menurut kesaksian yang kemudian diceritakan Nancy Dufresne, istrinya, Ed menyadari ada hal yang harus dikoreksi dalam kehidupannya. Ia bertobat dan melakukan penyesuaian. Ia percaya Tuhan mengatakan bahwa kanker itu akan hilang dalam tiga puluh hari. Pada hari ke-28 ia kembali diperiksa dokter, dan kanker itu sudah tidak ditemukan.

Ada pelajaran menarik dari kisah keluarga Dufresne ini. Nancy juga pernah menceritakan seseorang yang bekerja begitu keras hingga tubuhnya terkuras. Setelah mengalami kesembuhan supernatural, orang itu kembali kepada pola hidup lamanya tanpa melakukan koreksi, kemudian kembali sakit. Pesannya sederhana: kesembuhan bukan alasan untuk terus memperlakukan tubuh dengan cara yang salah.

Ini membuat saya berpikir.

Saya membaca kisah banyak tokoh iman yang luar biasa. Mereka percaya kesembuhan. Mereka mendoakan orang sakit dan menyaksikan berbagai mujizat. Tetapi sebagian dari mereka sendiri pernah bergumul dengan masalah kesehatan. Smith Wigglesworth, misalnya, dikenal sangat kuat dalam pelayanan kesembuhan, tetapi ia sendiri pernah mengalami batu ginjal berat selama bertahun-tahun.

Jadi iman tidak berarti kita boleh mengabaikan tubuh.
Tubuh kita adalah mortal body, tubuh yang fana.

Tubuh membutuhkan makanan, air, tidur, gerak, pemulihan dan istirahat secara natural. Percaya kepada kuasa Tuhan dan memelihara tubuh bukan dua hal yang bertentangan.

Saya juga tidak berani menyimpulkan bahwa setiap orang yang sakit pasti kurang tidur, stres, atau terlalu sibuk. Itu terlalu sederhana dan tidak adil. Penyakit mempunyai banyak faktor.

Tetapi satu hal jelas: tubuh mempunyai batas yang perlu dihormati.

Kadang kita begitu sibuk mengejar sesuatu yang berikutnya sampai lupa menikmati apa yang sudah Tuhan berikan.

Sudah punya keluarga, tidak sempat menikmatinya.
Sudah punya rumah, jarang duduk santai di dalamnya.
Sudah punya kesempatan traveling, tetapi sepanjang perjalanan masih sibuk bekerja.
Sudah diberkati, tetapi tidak pernah merasa cukup untuk berhenti dan berkata, “Terima kasih Tuhan. Hidup ini indah.”

Mungkin kita perlu mengubah cara berpikir.

Menikmati berkat bukan berarti kita materialistis.
Beristirahat bukan berarti malas.
Berlibur bukan berarti kehilangan tujuan.
Tidur cukup bukan berarti kurang beriman.
Semuanya bisa menjadi ungkapan syukur ketika dilakukan dengan hati yang benar.

Tuhan tidak hanya senang melihat kita menghasilkan sesuatu. Saya percaya Dia juga senang ketika kita menikmati dengan penuh syukur apa yang telah Dia berikan.

Jadi bekerjalah dengan excellent. Kejar mimpi. Terus belajar. Berdoa. Berkarya. Jadilah berkat.

Tetapi tahu kapan harus berhenti.

Tidurlah.

Tertawalah.

Traveling-lah.

Nikmati makanan.

Nikmati keluarga dan sahabat.

Nikmati hari yang Tuhan berikan.

Karena kehidupan bukan hanya sesuatu yang harus kita selesaikan.

Kehidupan adalah pemberian yang juga perlu kita nikmati.
Apalagi di usia saya…. itulah sebabnya liburan bersama teman-teman atau keluarga, sesuatu yang penting.

Dan mungkin salah satu bentuk syukur yang paling indah adalah ketika kita bisa berhenti sejenak, tersenyum, lalu berkata,

“Tuhan, terima kasih. Hari ini saya tidak sedang mengejar apa-apa. Saya hanya sedang menikmati kebaikan-Mu.”

Ternyata, beristirahat dengan penuh syukur pun bisa menjadi ibadah.

“You must ruthlessly eliminate hurry from your life.”You must ruthlessly eliminate hurry from your life.” – Dallas Willard

“Kita harus dengan sungguh-sungguh menyingkirkan ketergesa-gesaan dari hidup kita.” – Dallas Willard

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Apa gunanya memiliki begitu banyak berkat kalau kita terlalu sibuk untuk menikmatinya?”

“What is the point of having so many blessings if we are too busy to enjoy them?” – Yenny Indra

Read More
Articles

Ternyata Kelimpahan Itu Punya Alamat Lho….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ternyata Kelimpahan Itu Punya Alamat Lho….

Kita sering menghubungkan kelimpahan dengan uang, keberhasilan, bisnis yang berkembang, jabatan tinggi, atau kehidupan yang nyaman.

Padahal kelimpahan Tuhan jauh lebih besar daripada itu.

Kelimpahan Ilahi meliputi roh, jiwa, dan tubuh. Hidup yang utuh. Ada damai sejahtera, sukacita, kesehatan, hubungan yang baik, keluarga yang menikmati kebersamaan, pekerjaan yang berarti, sekaligus kecukupan untuk menjadi berkat.

Dan yang indah, kelimpahan Tuhan tidak datang dengan paket dukacita yang menyertainya.

Ada orang yang sangat sukses menurut ukuran dunia, tetapi harga yang dibayar begitu mahal. Waktunya habis mengejar pencapaian. Tidak punya waktu untuk pasangan, anak-anak, bahkan dirinya sendiri. Rumahnya besar, tetapi jarang dinikmati. Uangnya bertambah, tetapi damainya justru berkurang.

Itulah sebabnya tempat paling berkelimpahan bagi kita bukan sekadar tempat yang paling menguntungkan.

Our wealthiest place is in God’s plan.
Tempat kelimpahan kita ada di dalam rencana Tuhan.

Persoalannya, bagaimana kita dapat hidup di dalam rencana Tuhan kalau kita tidak mengenali suara-Nya?

Kita membutuhkan rhema, suara Tuhan yang khusus bagi kita.

Firman Tuhan adalah fondasi yang tidak berubah, tetapi dalam perjalanan hidup, ada begitu banyak keputusan yang tidak tertulis secara spesifik: bisnis mana yang harus diambil, pintu mana yang sebaiknya dilepaskan, kapan maju, kapan berhenti, dengan siapa bekerja sama, bahkan sesuatu yang tampaknya bagus tetapi sebenarnya bukan bagian kita.

Di sinilah kita membutuhkan kepekaan mendengar-Nya.

Tuhan membukakan sebuah rahasia yang menarik:

“Orang yang memegang perintah-perintah-Ku dan menaatinya, dialah yang sungguh-sungguh mengasihi Aku; dan siapa yang sungguh-sungguh mengasihi Aku akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. Aku akan membuat diri-Ku terlihat jelas olehnya dan membuat diri-Ku menjadi nyata baginya.”

Ternyata ada hubungan antara mengasihi, menaati, dan mengalami Tuhan menjadi semakin nyata.

Banyak orang antusias terhadap Tuhan. Senang mendengarkan berbagai khotbah, membaca buku rohani, mengikuti seminar dan berbagai kegiatan. Pengetahuannya banyak. Bisa menjelaskan berbagai kebenaran dengan sangat menarik.

Tetapi mengetahui Firman berbeda dengan melakukannya.

Bayangkan seseorang berdiri di depan jendela toko roti. Setiap hari ia mengagumi croissant, cake, dan berbagai roti yang terpajang di sana. Ia hafal namanya, tahu bahan-bahannya, bahkan bisa bercerita dengan fasih betapa lezatnya roti-roti itu.

Masalahnya satu.
Ia tidak pernah masuk, membeli, lalu memakannya.
Akhirnya ia tetap kurus.

Demikian juga kehidupan rohani. Kita tidak bertumbuh karena banyaknya Firman yang kita dengar, tetapi karena Firman yang kita percaya dan hidupi.

Kadang kita taat pada bagian yang kita sukai, tetapi mengabaikan bagian yang tidak nyaman. Padahal kasih yang sejati menghasilkan ketaatan.

Namun ketaatan ini berbeda dengan legalisme.
Orang legalistik taat supaya diterima Tuhan, supaya diberkati, atau karena takut dihukum.

Anugerah Tuhan membalik urutannya.
Kita taat bukan supaya dikasihi. Kita taat karena kita mengasihi-Nya dan hidup dalam kasih-Nya.

Lalu Tuhan memberikan janji yang luar biasa: Dia akan menyatakan diri-Nya, membuat diri-Nya semakin nyata bagi kita.

Semakin kita mengenal hati-Nya dan membiasakan diri merespons Firman-Nya, semakin peka kita mengenali suara-Nya. Bukan karena Tuhan baru mulai berbicara, tetapi karena hati kita semakin selaras dengan-Nya.

Di sanalah rhema menjadi semakin jelas.
Ternyata mendengar suara Tuhan bukan sekadar mencari sebuah “suara” untuk memberi tahu kita harus memilih A atau B.
Ini buah dari hubungan kasih.

Kita mengenal suara seseorang karena kita mengenal pribadinya.
Dan ketika kita mengenal suara-Nya, mengikuti tuntunan-Nya, serta berani menaati-Nya, kita menemukan tempat yang memang sudah disediakan-Nya bagi kita.

Mungkin bukan tempat yang paling gemerlap menurut dunia.
Tetapi di sanalah ada damai. Ada tujuan. Ada kecukupan. Ada sukacita. Ada kehidupan yang utuh.

Our wealthiest place is in God’s plan.

Dan sering kali, jalan menuju ke sana dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:

Dengar Firman-Nya. Kasihi Dia. Lakukan apa yang kita sudah tahu.
Lalu selangkah demi selangkah, suara-Nya menjadi semakin nyata.

“Kelimpahan sejati bukan sekadar memiliki lebih banyak, tetapi berada tepat di tempat yang Tuhan rancangkan bagi kita.”

Setuju?

“God always gives His best to those who leave the choice with Him.” – Jim Elliot.

“Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada mereka yang menyerahkan pilihan kepada-Nya.” – Jim Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan sekadar mencari pintu yang paling menguntungkan. Carilah pintu yang Tuhan tunjukkan. Di sanalah kelimpahan kita berada.”

“Don’t simply look for the most profitable door. Look for the door God shows you. That is where your abundance lies.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Menikah dengan Orang yang Terus Berubah… Oh!


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menikah dengan Orang yang Terus Berubah… Oh!

Baru-baru ini saya belajar sesuatu yang menarik dari seorang wanita yang sudah menikah lebih dari 60 tahun.

Setelah puluhan tahun menikah, ia berkata, akhirnya ia berhenti menuntut suaminya untuk selalu mengerti dirinya.

Bukan karena menyerah terhadap pernikahannya. Justru karena ia semakin memahami pernikahan.

Bertahun-tahun ia berusaha menjelaskan isi pikiran dan perasaannya kepada seorang pria yang sungguh-sungguh mencintainya, tetapi memang dia tidak melihat dunia dengan cara yang sama.

Akhirnya ia menyadari sesuatu.

Suaminya mungkin tidak akan pernah memahaminya, seperti sahabat wanitanya memahami dirinya. Tidak seperti ibunya dahulu. Tidak seperti seseorang yang mempunyai cara berpikir dan kepekaan yang mirip dengannya.

Tetapi bukan berarti suaminya kurang mencintainya.
Dia hanya mencintai dengan cara yang berbeda.

Lewat tindakan. Kehadiran. Tanggung jawab. Kesetiaan. Dan setelah lebih dari 60 tahun, pria itu tetap berada di sisinya.

Mak jleb!

Kadang-kadang masalahnya bukan pasangan kita kurang baik, melainkan kita meminta satu orang suami ini, menjadi segala-galanya bagi kita.

Kita ingin pasangan menjadi kekasih, sahabat terbaik, teman curhat, teman traveling, partner bisnis, pendengar sempurna, orang yang mengerti tanpa dijelaskan, bahkan harus menyukai segala sesuatu yang kita sukai.

Berat sekali!

Ada kebutuhan yang memang kita temukan dalam pernikahan. Ada yang kita temukan dalam persahabatan. Ada yang kita temukan dalam hubungan dengan Tuhan. Dan ada pula ruang pribadi yang perlu kita miliki untuk bertumbuh dan menikmati kehidupan.

Pernikahan yang sehat tidak berarti dua orang harus melebur menjadi satu pribadi yang identik.
Mereka tetap dua pribadi berbeda yang memilih berjalan bersama.

Saya kemudian teringat sebuah wisdom tentang persahabatan puluhan tahun. Rahasianya ternyata sederhana: *mereka tidak menuntut satu sama lain tetap menjadi orang yang sama.*

Suami yang dikenal pada usia 25 tahun tentu tidak persis sama ketika berusia 35, 45, 55, apalagi 65.

Orang berubah.

Menikah, punya anak, kehilangan orang yang dicintai, mengalami keberhasilan, kegagalan, kekecewaan, menemukan tujuan baru. Semua pengalaman itu membentuk kita.

Begitu pula dalam pernikahan.

Orang yang kita nikahi puluhan tahun lalu sudah berubah.

Dan surprise… kita juga!

Karena itu mungkin salah satu seni terbesar dalam pernikahan bukan sekadar mencintai orang yang kita nikahi dahulu, tetapi terus belajar mengenal siapa dirinya sekarang.

Kadang kita terjebak berkata, “Kamu dulu tidak begini.”

Memang.

Dulu kita pun tidak seperti sekarang.

Pernikahan bisa menjadi melelahkan ketika kita terus meminta pasangan kembali pada versi lamanya. Padahal kehidupan sedang membawa kami berdua memasuki musim yang baru.

Tentu perubahan bukan alasan untuk membenarkan perilaku buruk, ketidaksetiaan atau sikap yang merusak. Kasih tetap membutuhkan rasa hormat, tanggung jawab dan batas yang sehat.

Tetapi dalam kehidupan normal, manusia memang bertumbuh.
Mungkin setelah puluhan tahun menikah, kita perlu kembali berkenalan.

Apa yang sekarang penting baginya?

Apa yang sedang dipikirkannya?

Apa yang dahulu disukainya tetapi sekarang tidak lagi?

Apa impiannya pada musim kehidupan ini?

Dan mungkin pertanyaan yang sama perlu kita ajukan kepada diri sendiri.

Tuhan tidak menciptakan pernikahan supaya dua manusia saling menguras sampai masing-masing kehilangan jati dirinya. Justru dalam kasih yang sehat, keduanya mempunyai ruang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang semakin matang.

Akhirnya saya mengerti.
Pernikahan yang panjang bukan kisah dua orang yang tidak pernah berubah.
Justru sebaliknya.

Mereka sudah berubah berkali-kali, tetapi terus belajar mencintai versi terbaru satu sama lain.

Dan pemahaman ini membuat kita bisa menghindari ribuan pertempuran yang sebenarnya tidak perlu.

Kebenarannya, kita tidak pernah benar-benar bisa mengubah seseorang. Semakin kita memaksa pasangan menjadi seperti yang kita inginkan, semakin mudah hubungan berubah menjadi medan perang.

Pada akhirnya saya belajar, bukan dia yang harus saya ubah. Saya yang memilih untuk berubah.

Saya belajar membiarkan Tuhan bekerja terlebih dahulu di dalam diri saya. Mengubah cara saya melihat, merespons, berbicara, mengampuni dan mengasihi. Ketika hidup Tuhan semakin bebas mengalir melalui diri kita, perubahan itu akan terlihat dalam sikap dan kehidupan sehari-hari. Dan sering kali, tanpa banyak tuntutan, kehidupan kita justru mulai memengaruhi pasangan.

Bukan manipulasi. Bukan tekanan. Bukan pula seribu nasihat yang tidak diminta.
Kehidupan yang berubah mempunyai suara yang jauh lebih keras daripada tuntutan.

Karena itu, mungkin investasi terbaik untuk sebuah pernikahan bukanlah menghabiskan seluruh energi memikirkan bagaimana mengubah pasangan.
Melainkan membangun hubungan yang intim dan berkualitas dengan Tuhan.

Biarkan Dia memenuhi ruang-ruang yang selama ini kita tuntut untuk dipenuhi oleh pasangan. Biarkan kasih, hikmat dan damai-Nya mengalir melalui kita.

Lalu kita akan menemukan sebuah kebebasan yang indah:

Saya tidak harus mengubah pasangan saya untuk dapat mengasihinya. Saya hanya perlu terus bertumbuh bersama Tuhan, lalu mengasihi dia dari kelimpahan yang saya terima dari-Nya.

Dan barangkali itulah salah satu bentuk cinta yang paling dewasa:

“Aku tidak menuntutmu menjadi orang yang dulu kunikahi. Aku mau terus mengenal, menghargai dan mencintai pribadi yang sedang Tuhan bentuk hari ini.”

“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.” – Leo Tolstoy.

“Semua orang berpikir untuk mengubah dunia, tetapi tidak seorang pun berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.” — Leo Tolstoy.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Jangan habiskan hidup untuk membentuk pasangan sesuai keinginan kita. Biarkan Tuhan membentuk kita, lalu kasih-Nya mengalir dan mengubah suasana.”

“Don’t spend your life shaping your spouse into who you want them to be. Let God shape you, then let His love flow through you and change the atmosphere.” – Yenny Indra

Read More
Articles

“Kalau Bukan untuk Bahagia, Lalu untuk Apa Kita Menikah?”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Kalau Bukan untuk Bahagia, Lalu untuk Apa Kita Menikah?”

Pernikahan itu tidak mudah. That’s why marak perceraian di mana-mana. Saya berpuluh-puluh tahun belajar dari berbagai buku tentang pernikahan dan masih harus terus belajar.

Sampai saya menemukan pelajaran ini.

Ternyata para wanita dalam Alkitab menikah bukan supaya bahagia melainkan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri: tujuan Allah.

Ini mengubah cara saya memandang pernikahan.

Hari ini kita sering masuk ke dalam pernikahan dengan pertanyaan, “Apakah dia akan membuat saya bahagia?” “Apakah kebutuhan saya akan terpenuhi?” “Apakah dia pasangan yang sesuai dengan harapan saya?”

Tidak salah menginginkan kebahagiaan dalam pernikahan. Tetapi kalau kebahagiaan menjadi pusatnya, kita akan mudah kecewa. Sebab pernikahan mempertemukan dua manusia yang sama-sama sedang bertumbuh, bukan dua manusia sempurna.

Perhatikan perempuan-perempuan dalam Kitab Suci.

Sara mengikuti Abraham ketika Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya menuju tempat yang bahkan belum diketahuinya. Rut memilih tetap bersama Naomi ketika secara manusia keputusan itu tidak memberikan keuntungan baginya. Priskila bersama Akwila bukan hanya membangun rumah tangga, tetapi juga mengambil bagian dalam pelayanan dan membantu pertumbuhan jemaat mula-mula.

Ada pula perempuan Sunem yang bersama suaminya membuka rumah bagi nabi Elisa. Ester bahkan menggunakan pengaruhnya di hadapan raja untuk menyelamatkan bangsanya.

Mereka tidak hidup dengan pertanyaan, “Apa yang bisa saya dapat dari pernikahan ini?”

Mereka hidup dengan kesadaran, “Apa yang dapat Tuhan lakukan melalui kehidupan saya?”

Saya tertarik dengan prinsip Pengkhotbah 4:9-10: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri… Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya.”

Betapa indahnya!

Pernikahan bukan terutama tentang dua orang yang saling memenuhi semua kebutuhan emosional. Pernikahan adalah dua orang yang belajar berjalan bersama, saling menguatkan, saling mengoreksi, dan saling menolong untuk menjadi semakin serupa dengan kehendak Allah.

Tentu saja tidak berarti istri harus selalu mengikuti suami dalam segala hal. Alkitab justru menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat memiliki pengaruh yang sangat kuat.

Abigail menghentikan Daud dari tindakan yang akan mendatangkan pertumpahan darah. Ester berani mengambil risiko untuk menyelamatkan bangsanya. Artinya, pengaruh seorang istri bukan sesuatu yang harus ditakuti atau ditekan. Yang penting adalah bagaimana pengaruh itu digunakan.

Pengaruh tanpa hikmat dapat menjadi manipulasi. Tetapi pengaruh yang dipimpin Roh Kudus dapat membawa keselamatan, damai dan perubahan.

Itulah sebabnya saya menyukai pertanyaan ini:

“Atmosfer rohani seperti apa yang sedang saya ciptakan di rumah saya setiap hari?”

Amsal 14:1 berkata, “Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.”

Kita mungkin tidak bisa mengontrol respons pasangan kita. Kita tidak bisa memaksa suami berubah. Kita juga tidak bisa menentukan hasil dari setiap keputusan.

Tetapi kita bisa memilih bagaimana kita merespons.

Kita bisa memilih untuk berbicara dengan hikmat.

Kita bisa memilih kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam.

Kita bisa memilih tidak membalas kemarahan dengan kemarahan.

Kita bisa memilih membawa Firman Tuhan ke dalam rumah, bukan membawa setiap persoalan menjadi peperangan.

Dan yang paling penting, kita bisa mempercayakan hasilnya kepada Tuhan.

Sara tidak dapat menghasilkan janji Allah dengan kekuatannya sendiri. Rut tidak dapat memaksa Boas menjadi penebusnya. Ester tidak dapat menjamin bagaimana raja akan merespons.

Bagian mereka adalah ketaatan. Hasil akhirnya berada di tangan Tuhan.

Saya pikir inilah kedewasaan dalam pernikahan.

Bukan mencari pasangan yang sempurna, tetapi menjadi pasangan yang terus kembali kepada hikmat Tuhan.

Bukan sibuk menghitung apa yang kurang dari pasangan, tetapi bertanya, “Tuhan, bagaimana Engkau ingin memakai saya di dalam keluarga ini?”

Sebab pernikahan yang kuat tidak dibangun oleh manusia yang sempurna.

Pernikahan yang kuat dibangun oleh dua manusia yang tidak sempurna, tetapi terus belajar kembali kepada Tuhan.

Dan mungkin inilah warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan kepada anak-anak kita: bukan sekadar keluarga yang terlihat baik dari luar, tetapi sebuah rumah di mana mereka melihat iman, kasih, pengampunan, hikmat dan ketergantungan kepada Tuhan.

Karena pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang berapa bahagia kita menjalani hidup bersama, tetapi berapa banyak tujuan Allah yang dapat lahir melalui kehidupan kita bersama.

“Marriage is not about finding someone who completes you, but becoming two people who help each other become who God created them to be.”

“Pernikahan bukan tentang menemukan seseorang yang melengkapi kita, tetapi menjadi dua orang yang saling menolong untuk menjadi seperti yang Tuhan ciptakan.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Pernikahan berubah ketika kita berhenti bertanya, ‘Apa yang bisa kudapat darinya?’ dan mulai bertanya, ‘Apa yang Tuhan ingin lahir melalui kami?”

“Marriage changes when we stop asking,
‘What can I get from it?’ and start asking,
‘What does God want to bring forth through us?””
– Yenny Indra

Read More
1 3 4 5 6 7 336