“Sebetulnya Saya Sudah Curiga…” Nah, Terus Kenapa Diam?”
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
“Sebetulnya Saya Sudah Curiga…” Nah, Terus Kenapa Diam?”
Ada kalanya dalam hidup, kasih tidak selalu berbentuk pujian atau kata-kata manis. Kadang kasih justru muncul dalam bentuk keberanian untuk mengingatkan sebelum semuanya terlambat.
Saya sering memperhatikan satu pola, baik di perusahaan, organisasi, pelayanan, bahkan dalam pertemanan.
Saat semuanya masih terlihat baik-baik saja, banyak orang memilih diam. Tetapi begitu fraud terbongkar, pengkhianatan terjadi, atau masalah besar akhirnya meledak, mendadak orang-orang mulai bicara:
“Sebetulnya saya sdh curiga bla bla bla…”
“Tanda-tandanya sudah kelihatan sich… cuma saya gak berani bilang. Ya klo betul, klo ga kan dikira gossip.”
Gubbbraaaaak…
Orang Surabaya bilang: mbencekno.
Semua orang berlomba-lomba jadi pengamat setelah kejadian.
Kadang saya berpikir, mengapa kita tidak berprinsip lebih baik mencegah daripada mengobati?
Bukankah kerugian besar sering terjadi justru karena terlalu banyak orang memilih diam demi menjaga ‘aman’?
Demi tidak dianggap bergosip, berkhianat, menghakimi…dkk.
Takut salah. Takut tidak disukai. Takut dianggap negative thinking. Takut dibilang tukang gosip.
Padahal diam belum tentu bijaksana.
Saya belajar dari kitab Amsal:
“Teman baik memukul dengan maksud baik, – terjemahan lain berkata, ‘sahabat rela melukai demi kebaikan’ – tetapi musuh mencium berlimpah-limpah.”
Wisdom ini sangat dalam.
Teman sejati tidak selalu mengatakan apa yang enak didengar. Kadang ia berani menyampaikan sesuatu yang tidak nyaman demi melindungi orang yang dikasihinya.
Karena itu, saat saya melihat sesuatu yang mencurigakan, saya memilih membicarakan dengan jujur kecurigaan saya dan alasannya.
Apakah pasti diterima?
Sama sekali tidak.
Bahkan bisa saja dicurigai saya yang sentimen….
Tetapi saya belajar bahwa niat hati yang benar lebih penting daripada usaha menjaga image diri sendiri.
Saya biasanya menyampaikan dengan sederhana saja. Tidak menyerang. Tidak menghakimi. Tidak membangun drama.
Saya hanya bilang:
“Saya dengar berita ……, kebenarannya belum pasti 100% benar. Klo saya bla..bla…bla… karena logikanya begini…daripada ruginya terlalu besar, toh ga ada ruginya check and recheck. Jika ternyata infonya ga benar, lupakan saja. Tapi klo benar, gak sampai kebablasan. Better di check ulang sich.”
Selesai.
Menurut saya, cara seperti ini jauh lebih sehat daripada menyebarkan gossip di belakang, tetapi tidak pernah berani bicara kepada pihak yang berkepentingan.
Karena tujuan kita bukan menghancurkan orang.
Tujuannya menjaga.
Dan setelah menyampaikan, ya sudah… biarkan orang itu memilih dan memutuskan apa yang terbaik baginya. Bukan ranah saya untuk mengaturnya.
Kita tidak bisa memaksa orang menerima warning kita.
Kita juga tidak bisa mengontrol keputusan mereka.
Tanggung jawab kita hanyalah menyampaikan dengan hati yang benar, motivasi yang bersih, dan sikap yang tetap hormat.
Saya mengajarkan hal yang sama pada staf kami. Saat ada tanda-tanda berbahaya, segera beritahu kami.
Ketika terlalu dekat dengan masalah, kerap pandangan kita blur…. tapi yang dari kejauhan, melihat lebih jelas.
One day, kebenaran akan terungkap. Sahabat kita bisa menilai, siapa temannya yang sejati dan siapa teman yang hanya datang saat keadaan baik-baik saja.
Waktu akan membuktikannya.
Dari pengalaman, akhirnya teman tadi sadar, saya betul-betul berusaha untuk menjaga dia karena saya mengasihinya.
Ini yang membuat persahabatan berkualitas dan menunjukkan loyalitas yang sejati.
Kalimat itu sangat menyentuh hati saya.
Karena sering kali orang baru mengerti, sebuah warning lahir dari kasih setelah mereka melihat sendiri kenyataannya.
Memang tidak semua warning akan diterima dengan baik. Kadang kita disalahpahami. Kadang dianggap terlalu sensitif. Kadang malah dicurigai punya agenda tertentu.
Tetapi saya percaya, lebih baik dianggap cerewet sebentar daripada menyesal seumur hidup sambil berkata:
“Dulu sebenarnya saya sudah tahu…”
Dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak ahli analisa setelah semuanya terlambat.
Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang cukup tulus untuk peduli, cukup berani untuk bicara, dan cukup dewasa untuk menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan kasih.
Martin Luther King Jr. Berujar,
“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends – Pada akhirnya, kita tidak akan mengingat kata-kata musuh, tetapi diamnya teman-teman kita.”
Bagaimana pendapat Anda?
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.” – Edmund Burke.
“Yang diperlukan agar kejahatan menang hanyalah ketika orang-orang baik memilih tidak melakukan apa-apa.” – Edmund Burke
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
