Category : Articles

Articles

Kamu Tidak Hilang, Kamu Sedang Dicari.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kamu Tidak Hilang, Kamu Sedang Dicari.

Ada satu bagian hidup yang sering tidak kita ceritakan ke siapa pun. Bagian ketika kita merasa “hilang”. Bukan hilang secara fisik, tapi hilang arah, hilang semangat, hilang rasa berharga. Kita masih ada, masih berfungsi, tapi di dalam terasa kosong.

Dalam salah satu cerita yang Yesus sampaikan, ada seorang perempuan yang kehilangan satu dirham. Hanya satu dari sepuluh. Secara logika, ia masih punya sembilan. Masih cukup. Tapi ia tidak menganggapnya kecil. Ia menyalakan pelita, menyapu rumah, dan mencari dengan teliti sampai menemukannya. Karena bagi dia, yang satu itu tetap bernilai.

Di sini kita belajar sesuatu yang penting. Nilai tidak hilang hanya karena kita jatuh. Tidak hilang karena kita tersesat. Tidak hilang karena kita gagal. Dirham itu tetap perak, walaupun ada di debu. Begitu juga kita.

Masalahnya, saat kita berada di titik rendah, kita mulai percaya bahwa kita sudah kehilangan nilai. Kita merasa sudah terlalu jauh, terlalu rusak, terlalu terlambat. Padahal bukan nilai kita yang hilang. Kita hanya “tergeser posisi”.

Dan Tuhan tidak pernah mengabaikan itu. Dia tidak berkata, “Sudahlah, masih ada yang lain.” Dia tidak berkata, “Itu salahnya sendiri.” Dia mencari.

Dia menyalakan terang. Terang itu membuka hal-hal yang selama ini tersembunyi. Kadang tidak nyaman. Kita mulai melihat luka lama, pola pikir yang salah, kebiasaan yang merusak. Tapi di situlah pemulihan dimulai.

Lalu ada proses “menyapu”. Membersihkan. Menggeser apa yang selama ini menutupi nilai kita. Ego, kepahitan, ketakutan, kompromi. Ini juga tidak mudah, tapi tanpa itu, kita tetap tertutup.

Dan Tuhan tidak berhenti sampai menemukan.

Kalau kita lihat dalam kehidupan nyata, kisah seperti ini juga nyata. Joyce Meyer pernah mengalami masa kecil yang sangat berat. Ia mengalami pelecehan dari ayahnya sendiri selama bertahun-tahun. Luka itu membentuk hidupnya. Ia tumbuh dengan rasa marah, kepahitan, dan identitas diri yang rusak. Dalam banyak hal, hidupnya terlihat seperti “hancur dari dalam”.

Tetapi Tuhan tidak berhenti di situ.

Dalam perjalanannya, Joyce mulai mengenal firman Tuhan secara pribadi. Prosesnya tidak instan. Tuhan mulai menyingkapkan luka-luka yang selama ini ia simpan. Ia harus belajar mengampuni, belajar mempercayai kembali, belajar mengubah cara berpikirnya yang selama ini dipenuhi trauma. Itu menyakitkan, tapi juga menyembuhkan.

Sedikit demi sedikit, hidupnya dipulihkan. Bukan hanya secara emosi, tapi juga secara rohani. Dari seseorang yang penuh luka, ia berubah menjadi seseorang yang membawa pemulihan bagi banyak orang. Hari ini, pelayanannya menjangkau jutaan orang di seluruh dunia.

Ia tidak kehilangan nilai. Ia hanya sempat tertutup oleh luka.

Begitu juga kita.

Kadang hidup terasa kacau, tidak jelas, bahkan memalukan. Tapi bisa jadi itu bukan akhir. Itu bagian dari proses Tuhan untuk menemukan, membuka, dan memulihkan kita.

Dan saat perempuan itu menemukan dirhamnya, ia bersukacita. Ia merayakan. Itu gambaran hati Tuhan. Pemulihan kita bukan hal kecil bagi-Nya.

Jadi kalau hari ini kita merasa hilang, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya sudah selesai. Bisa jadi kita tidak hilang. Kita sedang dicari.

Dan proses yang kita jalani sekarang, walaupun tidak nyaman, bisa jadi adalah cara Tuhan membawa kita kembali.

Jangan menolak terang. Jangan menolak proses.

Karena di ujungnya, kita bukan hanya ditemukan… kita dipulihkan.

“God doesn’t call the qualified, He qualifies the called.” — Unknown

“Tuhan tidak memanggil yang mampu, Dia memampukan yang dipanggil.” – Anonim

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

You are not forgotten. You are being found.”

“Kamu tidak dilupakan. Kamu sedang ditemukan.” – YennyIndra

Read More
Articles

Bukan Sekadar Naik Posisi, Tapi Dipanggil untuk Tujuan…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Bukan Sekadar Naik Posisi, Tapi Dipanggil untuk Tujuan…

Di sebuah kerajaan besar, raja sedang mencari ratu baru. Banyak perempuan dikumpulkan, dipersiapkan, dan diberi kesempatan untuk tampil sebaik mungkin. Secara alami, suasananya penuh persaingan. Masing-masing ingin terlihat paling menarik, paling menonjol, paling layak dipilih.

Di tengah situasi itu, ada Ester. Seorang perempuan muda Yahudi, tanpa latar belakang istana, tanpa “modal” sosial. Menariknya, saat yang lain sibuk menunjukkan diri, Ester justru memilih hal yang berbeda. Ia tidak mencoba mengatur segalanya dengan caranya sendiri. Ia mengikuti saran para sida-sida istana, orang-orang yang setiap hari melayani raja, yang tahu selera raja, tahu apa yang disukai dan tidak disukai.

Secara logika, mungkin terlihat sederhana. Tapi sebenarnya ini keputusan yang sangat cerdas.

Ester tidak mengandalkan dirinya. Ia rendah hati untuk belajar dan mau diarahkan oleh orang yang lebih paham situasi. Sementara yang lain sibuk bersaing dan menonjolkan diri, Ester memilih mendengar.

Dan justru itu yang membuatnya berbeda.

Ia tidak tampil berlebihan, tidak memaksakan diri, tidak mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia berjalan dengan hikmat, bukan ambisi.

Hasilnya, ia mendapat perkenanan.

Ini menarik. Kadang kita pikir untuk maju, kita harus paling terlihat, paling keras, paling menonjol. Tapi Ester menunjukkan hal lain. Justru sikap hati yang benar, kerendahan hati untuk belajar, dan kepekaan membaca situasi, itu yang membuka pintu.

Dan benar saja, Ester akhirnya terpilih menjadi ratu.

Tapi kisahnya tidak berhenti di sana.

Beberapa waktu kemudian, muncul ancaman besar. Ada rencana untuk memusnahkan seluruh bangsa Yahudi. Dan Ester, walaupun sekarang ratu, tetap bagian dari bangsa itu.

Di sinilah posisi yang ia miliki tiba-tiba punya makna yang jauh lebih besar.

Mordekhai, orang yang membesarkannya, mengirim pesan yang sangat jelas. Intinya begini:
“Jangan pikir kamu aman hanya karena kamu ada di istana. Kalau kamu diam sekarang, pertolongan tetap akan datang dari tempat lain, tapi kamu bisa kehilangan bagianmu. Siapa tahu justru untuk saat seperti ini kamu ditempatkan di posisi itu.”

Kalimat ini sederhana, tapi tajam.

Mordekhai sedang mengingatkan Ester bahwa posisinya bukan kebetulan. Ada tujuan di baliknya. Dan tujuan itu sedang menunggu responsnya.

Ester dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Kalau ia diam, ia aman. Tapi bangsanya binasa. Kalau ia bicara, ia bisa kehilangan nyawa.

Karena menghadap raja tanpa dipanggil bukan hal sepele.

Di titik ini, kita melihat sesuatu yang dalam. Ester tidak langsung bertindak gegabah. Ia tidak mengandalkan keberanian sesaat. Ia berhenti, ia berdoa, ia berpuasa.

Ia memastikan hatinya selaras dulu, sebelum melangkah.

Lalu ia mengambil keputusan.

Ia berkata, kalau harus mati, ia siap.

Ini bukan nekat. Ini keputusan sadar.

Dan dari satu langkah itu, sejarah berubah. Bangsanya diselamatkan.

Kalau dipikir-pikir, semua ini dimulai dari hal yang terlihat kecil. Dari sikap hati saat di proses. Dari kerendahan hati untuk mendengar. Dari pilihan untuk tidak bersaing secara ego, tapi berjalan dengan hikmat.

Lalu berlanjut ke keberanian saat momen besar datang.

Sering kali kita menunggu momen besar, tapi lupa membangun sikap yang benar di hal kecil.

Ester tidak tiba-tiba siap di momen tekanan. Ia sudah dibentuk sebelumnya.

Kalau kita tarik ke hidup kita, ini sederhana tapi dalam.

Tidak semua kesempatan datang dengan label “ini panggilanmu”. Kadang kita baru sadar setelah kita sudah ada di dalamnya.

Posisi kita hari ini, pekerjaan kita, lingkungan kita, bisa jadi bukan kebetulan.

Pertanyaannya bukan “kenapa saya di sini”, tapi “untuk apa saya di sini”.

Dan saat momen itu datang, biasanya tidak nyaman.

Akan ada risiko. Akan ada tekanan.

Di situlah kita memilih. Diam dan aman, atau taat dan berdampak.

Ester memilih taat.

Dan itu yang membuat hidupnya berarti.

“Courage is not the absence of fear, but the triumph over it.” — Nelson Mandela

“Keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi menang atas rasa takut itu.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Favor is not a reward. It is a responsibility.”

“Perkenanan bukan hadiah. Itu tanggung jawab.”
– YennyIndra

Read More
Articles

Jaga Hatimu, Karena di Situlah Peperangan Dimulai…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jaga Hatimu, Karena di Situlah Peperangan Dimulai…

Ada kisah yang sejak kecil mungkin sudah kita kenal: Simson dan Delila.

Simson bukan orang biasa. Sejak dari kandungan, ia telah dikhususkan bagi Allah sebagai seorang nazir. Tuhan memberikan kepadanya kekuatan yang luar biasa. Kita membaca bagaimana suatu hari Simson sedang berjalan menuju Timna, lalu seekor singa muda datang mengaum-aum hendak menerkamnya. Roh TUHAN berkuasa atas Simson, sehingga ia mencabik singa itu seperti orang mencabik anak kambing, padahal ia tidak membawa senjata apa pun.

Bayangkan. Singa datang dengan kekuatannya, tetapi Simson mengalahkannya dengan tangan kosong.

Bukan hanya itu. Simson kemudian mampu mengalahkan ribuan orang Filistin seorang diri. Kekuatan yang bekerja di dalam dirinya benar-benar luar biasa.

Tetapi orang yang memiliki kekuatan sebesar itu akhirnya jatuh.

Bukan karena ia tidak kuat.
Bukan karena musuhnya lebih kuat.
Bukan karena rambutnya semata-mata.
*Persoalannya adalah hatinya.*

Diceritakan bagaimana Delila berkali-kali mendesak Simson untuk memberitahukan sumber kekuatannya. Tiga kali Simson memberikan jawaban yang tidak benar. Tetapi Delila tidak berhenti.

Ia terus mendesak Simson setiap hari sampai hatinya jemu.

Lalu ia berkata:
“Bagaimana mungkin engkau berkata: Aku mencintai engkau, padahal hatimu tidak bersama-sama dengan aku?”

Akhirnya Simson memberitahukan seluruh isi hatinya.

Dan perhatikan kalimat ini karena menurut saya sangat penting:
“Ia telah memberitahukan kepadanya seluruh isi hatinya.”

Di situlah titik balik kehidupan Simson.

Delila bukan hanya mendapatkan informasi. Ia mendapatkan akses kepada hati Simson.

Ketika Delila mengetahui bahwa rambut Simson tidak pernah dicukur karena ia seorang nazir Allah sejak kandungan, ia menyuruh orang Filistin datang. Simson dibuat tidur di pangkuannya, lalu ketujuh rambut kepalanya dicukur.

Ketika Simson terbangun, ia berpikir ia akan kembali melepaskan diri seperti sebelumnya.
Tetapi kali ini berbeda.

“TUHAN telah meninggalkan dia.”

Selama ini kita sering berpikir masalah Simson adalah rambut.
Padahal sebenarnya bukan.
Persoalannya adalah hati.

Rambut hanyalah tanda lahiriah dari sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu kehidupan yang telah dikhususkan bagi Allah. Simson tahu panggilannya. Ia tahu kekuatannya berasal dari Tuhan. Tetapi ia gagal menjaga apa yang dipercayakan kepadanya.

Inilah yang sering tidak kita sadari dalam kehidupan rohani.
Kita sibuk memikirkan apa yang terjadi di luar, padahal peperangan terbesar sering kali terjadi di dalam hati.

Dalam kitab Amsal, Raja Salomo berkata:
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Mengapa hati harus dijaga?
Karena apa yang menguasai hati kita akhirnya akan memengaruhi pikiran, perkataan, keputusan, dan kehidupan kita.

Saya percaya salah satu alasan orang percaya sulit berjalan dalam kasih karunia, iman, pengurapan Roh Kudus, dan kepenuhan yang Tuhan telah sediakan adalah karena kita belum belajar menjaga hati dan roh kita.

Kita tahu Tuhan adalah Penyedia. Tetapi ketika kekurangan datang, apakah hati kita langsung panik?

Kita tahu Tuhan adalah Penyembuh. Tetapi ketika tubuh belum berubah, apakah kita mulai menerima ketakutan?

Kita tahu Tuhan menyertai kita. Tetapi ketika seseorang menyakiti kita, apakah kita membiarkan kepahitan tinggal di dalam hati?

Di situlah penjagaan hati menjadi penting.
Hati kita tidak boleh menjadi tempat tinggal bagi setiap perkataan yang kita dengar.

Tidak semua suara harus kita izinkan menetap.
Tidak semua opini harus kita percaya.
Tidak semua ketakutan harus kita pelihara.
Tidak semua pikiran harus kita jadikan kenyataan.

Amsal Salomo berkata:
“Orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”

Menaklukkan kota mungkin terlihat hebat. Tetapi Tuhan berkata bahwa menguasai diri sendiri jauh lebih besar.

Simson memiliki kekuatan untuk mengalahkan singa dan ribuan musuh, tetapi ia gagal menjaga hatinya sendiri.

Betapa mudahnya kita mengagumi kekuatan Simson, tetapi lupa belajar dari kelemahannya.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan:
“Seberapa kuat saya?”
Melainkan:
“Siapa yang memegang hati saya?”

Apakah Firman Tuhan?
Atau perkataan manusia?
Apakah iman?
Atau ketakutan?
Apakah kasih karunia?
Atau rasa bersalah dan kepahitan?

Jaga hati kita.
Jaga roh kita.
Sebab dari sanalah kehidupan mengalir.

Dan ketika hati kita terus diselaraskan dengan Firman Tuhan, kita akan semakin mampu berjalan dalam apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita: kasih karunia, iman, pengurapan, kepenuhan, dan kehidupan yang menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya.

Masalahnya bukan seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Masalahnya adalah siapa yang kita izinkan memegang hati kita.

He who conquers others is strong; he who conquers himself is mighty.” – Lao Tzu

“Orang yang menaklukkan orang lain adalah kuat; orang yang menaklukkan dirinya sendiri adalah perkasa.- Lao Tzu

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Musuh tidak selalu menghancurkan kita dari luar. Kadang ia menang ketika kita memberinya akses ke dalam.”

“The enemy does not always destroy us from the outside. Sometimes he wins when we give him access to what is within.” – Yenny Indra

Read More
Articles

SATU PUTARAN LAGI….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

SATU PUTARAN LAGI….

“The walls of Jericho didn’t get smaller with every lap. They just built the faith that would eventually bring them down.

God had already declared the victory before the first step was taken. They didn’t need a better plan. They needed one more lap of obedience.

Whatever wall you are facing, keep walking.”
— Christine Caine

“Tembok Yerikho tidak menjadi semakin kecil setiap kali mereka mengelilinginya. Setiap putaran justru membangun iman yang pada akhirnya membawa tembok itu runtuh.

Tuhan sudah menyatakan kemenangan bahkan sebelum langkah pertama diambil. Mereka tidak membutuhkan strategi yang lebih baik. Mereka membutuhkan satu putaran ketaatan lagi.

Apa pun tembok yang sedang Anda hadapi, teruslah berjalan.”

Pernahkah kita merasa seperti sedang menatap tembok?

Sudah berdoa. Sudah percaya. Sudah melakukan yang kita tahu harus dilakukan.

Tetapi tidak ada perubahan.

Masalah dalam keluarga masih sama. Bisnis belum bergerak seperti yang diharapkan. Jawaban yang dinantikan belum terlihat. Tubuh belum menunjukkan perubahan. Bahkan setelah sekian lama berjalan bersama Tuhan, tembok itu rasanya masih berdiri kokoh.

Kisah Yerikho mengajarkan sesuatu yang menarik.

Ketika bangsa Israel berdiri di hadapan Yerikho, Tuhan tidak memberikan strategi perang yang masuk akal. Tidak ada perintah membuat senjata baru atau mencari titik terlemah tembok.

Mereka hanya diperintahkan berjalan mengelilingi kota itu sekali sehari selama enam hari. Hari ketujuh, tujuh kali. Kemudian bersorak.

Aneh.

Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih menarik.

Sebelum mereka mengambil langkah pertama, Tuhan sudah berkata kepada Yosua, “Aku serahkan ke tanganmu Yerikho.”

Bukan, “Aku akan menyerahkannya.”

Kemenangan sudah dinyatakan ketika temboknya masih berdiri.

Wow!

Bayangkan posisi mereka.

Mata melihat tembok.

Tetapi telinga sudah mendengar kemenangan.

Dan di antara keduanya ada sebuah pilihan: mana yang akan dipercaya?

Inilah iman.

Iman bukan menyangkal bahwa tembok itu ada. Iman melihat tembok, tetapi memilih memberikan otoritas lebih tinggi kepada apa yang Tuhan katakan.

Hari pertama mereka berjalan.

Tidak terjadi apa-apa.

Hari kedua, tembok masih sama.

Hari ketiga, keempat, kelima…

Tidak ada retakan.

Bahkan hari keenam mereka bisa saja berkata, “Apa gunanya? Kita sudah mengelilinginya berkali-kali dan nothing happens.”

Menariknya, Tuhan tidak menjelaskan kepada mereka apa yang sedang terjadi di balik layar.

Tugas mereka sederhana:

Terus berjalan.

Bukankah kita sering berhenti justru di sini?

Kita ingin melihat sedikit perubahan sebagai bukti bahwa iman kita bekerja.

Doa sudah mulai dijawab sedikit.

Keadaan mulai membaik.

Ada tanda-tanda positif.

Barulah kita tenang.

Tetapi bagaimana kalau belum ada tanda apa pun?

Yerikho mengajarkan bahwa ketiadaan perubahan yang terlihat bukan berarti Firman Tuhan tidak sedang bekerja.

Tembok itu tidak semakin pendek setiap kali mereka berkeliling.

Tetapi setiap putaran membawa mereka semakin dekat kepada saat kemenangan menjadi terlihat.

Karena itu jangan mengubah apa yang Tuhan sudah katakan hanya karena keadaan belum berubah.

Jangan biarkan ketakutan menulis ulang janji Tuhan.

Jangan buru-buru mencari strategi baru ketika Tuhan hanya meminta kita tetap berjalan dalam apa yang sudah Dia tunjukkan.

Tentu ketaatan bukan berarti melakukan ritual yang sama berulang-ulang untuk “memaksa” Tuhan bekerja. Bukan putaran mereka yang mempunyai kuasa magis.

Kuasa ada pada Tuhan. Mereka hanya mempercayai-Nya cukup untuk taat.

Mungkin hari ini kita sedang berada di putaran kedua.

Atau keenam.

Atau mungkin kita merasa sudah sangat lama mengelilingi tembok yang sama.

Kita tidak tahu.

Tetapi kita tahu siapa Tuhan.

Karena itu, mata boleh melihat tembok, tetapi hati tetap berpegang pada Firman.

Terus berdoa.
Terus percaya.
Terus memperkatakan janji-Nya.
Terus melakukan bagian yang Tuhan sudah tunjukkan.

Dan jangan menilai kesetiaan Tuhan berdasarkan apa yang terlihat hari ini.
Sebab sering kali kita tidak membutuhkan rencana yang lebih hebat.
Kita hanya perlu satu langkah ketaatan lagi.

Whatever wall you are facing…
Keep walking.

Mungkin temboknya belum bergerak sedikit pun.
Tetapi Firman Tuhan juga belum berubah sedikit pun.
Dan jawaban doa serta mujizat, menanti di depan sana….

Siap?

“Faith never knows where it is being led, but it loves and knows the One who is leading.” – Oswald Chambers.

“Iman tidak selalu tahu ke mana ia sedang dibawa, tetapi ia mengasihi dan mengenal Pribadi yang menuntunnya.” – Oswald Chambers.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Mata melihat tembok. Iman melihat janji. Ketaatan terus berjalan.”

“Eyes see the wall. Faith sees the promise. Obedience keeps walking.”
– Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Terlalu Cepat Menganggapnya Personal…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Terlalu Cepat Menganggapnya Personal…

Pernahkah kita bertemu seseorang yang tiba-tiba berbicara kasar, meremehkan, atau memperlakukan kita dengan tidak menyenangkan?

Respons pertama kita biasanya langsung mencari kesalahan sendiri.

Saya salah apa?
Apakah perkataan saya menyinggung dia?
Mengapa dia memperlakukan saya seperti ini?

Lalu tanpa sadar, satu tindakan orang lain berhasil mengambil alih pikiran kita sepanjang hari.

Saya membaca sebuah pemikiran menarik dari Dr. Caroline Leaf: orang biasanya lebih mudah bersikap baik ketika keadaan di dalam dirinya juga baik. Sebaliknya, ketidakramahan seseorang sering kali lebih banyak menceritakan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya daripada siapa orang yang sedang dihadapinya.

Saya pikir ada wisdom yang bisa kita pelajari di sini.

Orang yang aman dengan dirinya sendiri tidak perlu merendahkan orang lain supaya merasa lebih tinggi.

Orang yang damai tidak perlu menciptakan drama untuk mendapatkan perhatian.

Orang yang mengenal nilainya tidak perlu menghancurkan nilai orang lain.

Sebab apa yang memenuhi hati seseorang, cepat atau lambat akan keluar melalui perkataan dan tindakannya.

Mungkin ada luka yang belum selesai. Mungkin ada insecurity. Mungkin ada kemarahan yang dipendam. Mungkin ada tekanan hidup yang tidak kita ketahui.

Dan kebetulan kita sedang berdiri di dekatnya ketika semuanya tumpah keluar.

Tetapi memahami alasan seseorang bersikap buruk bukan berarti membenarkan perilakunya.

Tuhan mengajarkan kita untuk mengampuni, mengasihi, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Tuhan juga mengajarkan hikmat.

Kasih tidak membuat kita kehilangan discernment.

Kita dapat memahami seseorang sedang terluka, tetapi tetap mengakui bahwa tindakannya salah.

Kita dapat mengampuni seseorang tanpa terus-menerus memberikan kesempatan kepadanya untuk memperlakukan kita dengan cara yang sama.

Kita dapat mendoakannya tanpa harus selalu berada dekat dengannya.

Understanding doesn’t require proximity.

Memahami tidak selalu berarti harus dekat.

Menurut saya, ini salah satu pelajaran penting dalam membangun hubungan yang sehat.

Kadang kita berpikir menjadi orang baik berarti harus selalu mengalah, selalu mengatakan ya, selalu tersedia, bahkan terus bertahan dalam hubungan yang tidak sehat supaya dianggap penuh kasih.

Tidak demikian.

Tuhan mengajarkan kasih, tetapi kasih tidak sama dengan kehilangan batas. Ada waktunya mendekat, ada waktunya mengambil jarak. Ada waktunya berbicara, ada waktunya diam. Ada orang yang dapat kita kasihi dari dekat, ada pula yang lebih bijaksana kita kasihi dari kejauhan.

Kasih dan hikmat harus berjalan bersama.

Hal lain yang perlu kita jaga adalah jangan terlalu cepat menjadikan perlakuan orang sebagai ukuran nilai diri kita.

Kalau seseorang meremehkan kita, itu tidak membuat kita menjadi kurang berharga.

Kalau seseorang tidak menyukai kita, itu tidak mengurangi nilai kita.

Kalau seseorang berbicara buruk tentang kita, perkataannya tidak mempunyai hak untuk mendefinisikan siapa kita.

Nilai kita tidak naik ketika dipuji dan tidak turun ketika diremehkan. Nilai kita berasal dari Tuhan.

Ketika hal ini semakin kuat di dalam hati, kita tidak perlu memenangkan setiap perdebatan.

Tidak perlu membuktikan diri kepada semua orang.

Tidak perlu membalas setiap komentar.

Bahkan tidak perlu membuat semua orang memahami posisi kita.

Kadang respons yang paling bijaksana adalah mengampuni, mendoakan, kemudian melanjutkan hidup dengan damai.

Wish them well, from a distance.

Bukan karena membenci.

Justru karena kita tidak membenci, kita tidak perlu terus bertengkar. Kita menyerahkan orang itu kepada Tuhan dan menjaga hati kita sendiri.

Dan setiap pengalaman, termasuk perjumpaan dengan orang yang sulit, bisa menjadi kesempatan untuk bertumbuh.

Belajar tidak mengambil semuanya secara personal.

Belajar mengenali boundaries.

Belajar membedakan kasih dengan people-pleasing.

Belajar mengampuni tanpa menjadi naif.

Belajar tetap lembut tanpa membiarkan diri terus-menerus terluka.

Pada akhirnya kita memang tidak bisa menentukan bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Tetapi kita bisa menentukan apa yang tetap tinggal di dalam hati kita setelah mereka pergi.

Jangan biarkan ketidakramahan seseorang mencuri damai kita.

Pahami bila perlu.

Ampuni.

Tetapkan batas dengan hikmat.

Lalu teruslah berjalan.

Sebab perilaku orang lain mungkin menunjukkan apa yang sedang terjadi di dalam diri mereka, tetapi respons kita menunjukkan apa yang sedang bertumbuh di dalam diri kita.

“No one can make you feel inferior without your consent.”
— Eleanor Roosevelt

“Tidak seorang pun dapat membuatmu merasa rendah tanpa persetujuanmu.” — Eleanor Roosevelt

YennyIndra
yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Perlakuan orang lain tidak menentukan nilaimu, tetapi responsmu menunjukkan kedewasaanmu.”

“How others treat you does not determine your worth, but how you respond reveals your maturity.” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 4 5 6 336