Category : Articles

Articles

Ekspektasi yang Salah, Luka yang Diulang.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ekspektasi yang Salah, Luka yang Diulang.

Kita sering berpikir masalahnya ada pada orang lain. Mereka tidak peka. Tidak peduli. Tidak bertanggung jawab. Tidak seperti yang kita harapkan.

Padahal kalau jujur, sumber luka itu sering bukan tindakan mereka, tapi ekspektasi kita.

Kita berharap orang lain berpikir seperti kita berpikir. Merasa seperti kita merasa. Bereaksi seperti kita bereaksi.

Kita akan membalas chat. Mereka tidak.
Kita akan datang tepat waktu. Mereka tidak.
Kita akan minta maaf. Mereka diam.

Lalu kita kecewa.

Bukan sekali. Tapi berulang.

Masalahnya sederhana, tapi sering tidak disadari: kita sedang memakai “standar kita” untuk mengukur orang lain.

Dan itu tidak realistis.

Setiap orang hidup dari pola yang berbeda. Cara mereka dibentuk oleh pengalaman, luka, nilai hidup, cara berpikir, bahkan cara mereka melihat ancaman dan rasa aman. Apa yang bagi kita jelas, bagi mereka belum tentu penting. Apa yang bagi kita salah, bagi mereka bisa jadi normal.

Di sinilah letak jebakannya.

Kita tidak melihat orang itu apa adanya. Kita melihat versi yang kita harapkan.

Dan ketika realita tidak cocok dengan harapan, kita menyebutnya “menyakitkan”.

Padahal sebenarnya kita sedang kaget karena realita tidak mengikuti skenario kita.

Kalau kita jujur, sebagian besar kekecewaan kita bukan karena orang berubah. Tapi karena kita tidak mau menerima siapa mereka sebenarnya.

Kita tahu polanya. Kita sudah melihatnya berulang. Tapi kita tetap berharap kali ini beda.

Ini bukan soal kasih atau pengampunan. Ini soal kejelasan melihat.

Orang akan bertindak sesuai dengan hati dan pola mereka, bukan sesuai dengan keinginan kita.

Dan kedewasaan itu dimulai saat kita berhenti kaget.

Bukan berarti kita jadi dingin atau tidak peduli. Justru sebaliknya. Kita jadi lebih tenang, lebih stabil, dan lebih bijak dalam merespon.

Kita tidak lagi memberi ekspektasi yang tidak realistis. Kita mulai menempatkan orang sesuai kapasitas mereka.

Orang yang tidak konsisten, jangan ditaruh di posisi yang butuh konsistensi.
Orang yang tidak komunikatif, jangan diharapkan membaca hati kita.
Orang yang tidak dewasa, jangan diberi tanggung jawab emosional yang berat.

Ini bukan menghakimi. Ini membaca dengan jernih.

Kita tetap bisa mengasihi tanpa harus terus terluka.

Kita tetap bisa memberi tanpa harus berharap balik dari orang yang memang tidak punya kapasitas memberi.

Di titik ini, damai mulai masuk.

Karena kita tidak lagi memaksa orang menjadi seperti kita.

Kita menerima bahwa setiap orang berjalan dengan “setting” yang berbeda.

Dan menariknya, justru di situ relasi jadi lebih sehat.

Kita berhenti bereaksi berlebihan. Kita tidak gampang tersinggung. Kita tidak lagi mengambil semuanya secara pribadi.

Karena kita sadar, banyak hal bukan tentang kita.

Itu hanya cerminan dari siapa mereka.

Coba minggu ini lakukan satu hal sederhana.

Setiap kali kecewa, jangan langsung menyimpulkan. Jangan langsung tersinggung.

Tanya satu hal ini dalam hati:

“Aku tadi berharap dia bertindak seperti aku… atau seperti dia yang sebenarnya?”

Jawaban itu akan membuka mata.

Kalau kita berharap sesuai siapa dia, kita tidak akan kaget. Kita bisa siap. Kita bisa memilih respon yang tepat.

Tapi kalau kita terus berharap dia jadi seperti kita, kita hanya sedang mempersiapkan diri untuk kecewa lagi.

Hidup ini lebih ringan saat kita berhenti menuntut orang menjadi versi yang kita inginkan.

Dan mulai belajar melihat mereka apa adanya.

Di situlah hikmat bekerja.

Kita tidak lagi hidup dari ekspektasi, tapi dari kejelasan.

Dan kejelasan itu melindungi hati kita.

“You have power over your mind, not outside events.”-Marcus Aurelius.

“Kamu berkuasa atas pikiranmu, bukan atas keadaan di luar dirimu.” – Marcus Aurelius.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Rancangan Tuhan Membuat Hidup Menjadi Utuh.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Rancangan Tuhan Membuat Hidup Menjadi Utuh.

Ada masa-masa dalam hidup ketika kita mulai mempertanyakan diri sendiri.

Mengapa jalan hidup saya berbeda?
Mengapa banyak hal terasa terlambat?
Mengapa orang lain tampak melaju, sementara saya seperti tertahan di tempat?

Dan kalau jujur, kadang muncul pikiran yang diam-diam melemahkan hati:

“Mungkin saya sudah melewatkan rencana Tuhan.”

Perasaan itu nyata. Apalagi ketika melihat harapan yang runtuh, hubungan yang gagal, doa yang belum terjawab, atau musim hidup yang terasa panjang dan melelahkan.

Tetapi ada satu hal yang perlu kita ingat baik-baik:

Kita lahir bukan secara kebetulan.

Sebelum kita ada di dunia ini, Tuhan sudah memiliki rancangan. Setiap pribadi datang ke bumi membawa tujuan, kapasitas, dan assignment yang berbeda-beda. Karena itu perjalanan hidup setiap orang memang tidak akan sama.

Masalahnya, banyak orang menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang sebenarnya bukan bagian dari panggilannya.

Mereka mengejar pengakuan, posisi, kekayaan, atau kehidupan orang lain. Tetapi jauh di dalam hati, tetap ada rasa kosong yang tidak bisa dijelaskan.

Mengapa?

Karena jiwa manusia tidak pernah benar-benar dipuaskan hanya dengan pencapaian. Kita dipuaskan saat hidup berjalan selaras dengan tujuan Tuhan.

Untuk itulah kita ada di dunia ini.

Ada orang yang memiliki banyak uang tetapi kehilangan damai. Ada yang terkenal tetapi hidupnya kosong. Ada yang terlihat berhasil di luar, tetapi lelah dan hancur di dalam.

Sebaliknya, ada orang-orang yang mungkin hidup sederhana, tetapi hatinya penuh, tenang, dan utuh karena mereka tahu sedang berjalan di jalur Tuhan.

Saya sangat percaya kalimat ini:

“The plan of God is the wealthiest place in the world.”

“Rencana Tuhan adalah tempat terkaya di dunia.”

Bukan hanya kaya secara materi. Tetapi kaya damai sejahtera, kaya makna, kaya sukacita, kaya kepuasan hidup.

Karena tidak ada yang lebih melegakan selain mengetahui bahwa hidup kita dipakai untuk sesuatu yang memang Tuhan rancangkan.

Itulah sebabnya tugas terbesar kita sebenarnya bukan berusaha menjadi seperti orang lain. Tugas kita adalah mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti arahan-Nya.

Kadang arah Tuhan tidak selalu masuk akal.

Yusuf harus melewati penjara sebelum istana. Musa harus masuk padang gurun sebelum memimpin bangsa besar. Daud harus menjadi gembala dan pelarian sebelum menjadi raja.

Proses mereka berbeda-beda, tetapi satu hal sama: mereka belajar berjalan bersama Tuhan.

Dan itu juga perjalanan kita.

Kadang kita terlalu fokus pada hasil akhir sampai lupa bahwa Tuhan sedang membentuk kita di tengah proses. Penundaan tidak selalu berarti penolakan. Musim sulit tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita.

Sering kali justru di musim itulah Tuhan sedang membangun kapasitas, karakter, dan ketahanan di dalam diri kita.

Karena tujuan tanpa kesiapan bisa menghancurkan seseorang.

Jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan hidupmu gagal hanya karena jalannya berbeda dari bayanganmu.

Jangan ukur nilai hidup berdasarkan timeline orang lain.

Ada orang yang mekar lebih cepat. Ada yang dibentuk lebih lama. Ada yang harus melewati musim dihancurkan, dipulihkan, lalu dibangun kembali dengan lebih kuat.

Tetapi selama Tuhan masih memberi napas, berarti cerita hidupmu belum selesai.

Masih ada tujuan Tuhan yang harus digenapi.

Karena itu jangan menyerah terhadap hidupmu sendiri.

Tetap letakkan tangan pada “bajak” itu. Tetap berjalan, meski perlahan. Tetap percaya, meski belum melihat semuanya jelas.

Tuhan tidak meminta kita mengetahui seluruh masa depan sekaligus. Tuhan hanya meminta kita tetap setia mengikuti langkah-Nya hari demi hari.

Dan semakin kita berjalan bersama-Nya, semakin kita akan menyadari sesuatu:

Hidup yang paling penuh, utuh dan memuaskan, bukanlah hidup yang paling mudah. Tetapi hidup yang berada di dalam rencana Tuhan.

Di situlah hati menjadi utuh.
Di situlah jiwa menemukan damai.
Dan di situlah hidup akhirnya terasa “pulang.”

“The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why.” – Mark Twain.

“Dua hari terpenting dalam hidup adalah hari ketika kita dilahirkan dan hari ketika kita menemukan untuk apa kita dilahirkan.” – Mark Twain.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Proses Itu Tidak Pernah Sia-Sia…


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Proses Itu Tidak Pernah Sia-Sia…

Kita semua senang berbicara tentang mimpi besar, doa yang terjawab, promosi, keberhasilan, dan pintu-pintu yang terbuka. Tetapi sangat sedikit orang yang suka membicarakan proses.

Padahal justru di sanalah kehidupan dibentuk.

Yusuf tidak langsung menjadi penguasa di Mesir. Ia melewati sumur, dijual saudara sendiri, menjadi budak, difitnah, dipenjara, dilupakan orang, lalu perlahan dibawa naik oleh Tuhan. Kalau dipikir secara manusia, jalannya terasa aneh. Terlalu panjang. Bahkan tampak tidak adil.

Tetapi Tuhan tidak pernah membuang waktu.

Sering kali kita berpikir tujuan adalah hal terpenting. Padahal bagi Tuhan, siapa diri kita saat sampai di tujuan jauh lebih penting daripada sekadar posisi yang kita capai.

Karena itu Tuhan membawa kita melalui berbagai stages kehidupan. Ada level ketika tanggung jawab mulai diperbesar. Ada tahap ketika karakter dibentuk lewat tekanan. Ada musim ketika iman diuji saat tidak ada satu pun hal yang terlihat bergerak.

Dan jujur saja, proses itu tidak nyaman.
Kita maunya cepat. Tuhan maunya matang.

Kita sering berdoa minta dipakai lebih besar, tetapi Tuhan justru membawa kita masuk ke musim pembentukan yang membuat ego dikikis, emosi ditertibkan, motivasi dimurnikan, dan hati dilatih tetap benar bahkan ketika tidak dihargai.

Di situlah banyak orang menyerah.

Mereka ingin hasil tanpa proses. Ingin promosi tanpa tanggung jawab. Ingin dipakai Tuhan tanpa mau dibentuk Tuhan.

Padahal sesuatu yang dibangun tanpa kedalaman biasanya tidak bertahan lama.

Yusuf berbeda.

Saat menjadi budak di rumah Potifar, sebenarnya Tuhan sedang melatih banyak hal dalam dirinya. Yusuf belajar tanggung jawab, ketelitian, tata krama, dan cara bersikap di lingkungan Mesir. Ia belajar bagaimana membawa diri dengan hormat dan bijaksana. Semua itu kelihatannya kecil, tetapi ternyata menjadi bagian penting dalam persiapannya.

Kelak, saat berdiri di hadapan Firaun, Yusuf tidak tampil seperti orang pahit yang haus pembelaan diri.

Ia tahu cara berbicara dengan sopan tanpa meninggikan diri. Ia tidak memanfaatkan kesempatan bertemu raja untuk menuntut keadilan atau meminta dibebaskan dari penjara. Padahal secara manusia, itu kesempatan emas.

Tetapi Yusuf tidak bergerak dari luka.
Ia bergerak dari kedewasaan.

Ia justru memberikan solusi. Ia mengarahkan perhatian kepada Allah dan memuliakan Tuhan, bukan mempromosikan dirinya sendiri.

Dan sikap seperti itu terasa.

Ada sesuatu dari orang yang sungguh “rest in the Lord” yang membawa rasa aman bagi orang lain. Tidak memaksa. Tidak haus pengakuan. Tidak sibuk meninggikan diri. Ada ketenangan yang membuat orang nyaman mempercayainya.

Itulah yang dilihat Firaun.

Meski Yusuf orang asing, mantan narapidana, dan bukan bagian dari bangsa Mesir, Firaun merasa aman memberikan kuasa penuh kepadanya. Para petinggi Mesir pun tidak merasa terancam oleh kehadiran Yusuf.

Mengapa?

Karena proses panjang telah menghasilkan kestabilan di dalam dirinya.

Pengendalian diri tidak muncul tiba-tiba. Kerendahan hati juga bukan sesuatu yang instan.

Salah satu stages penting dalam hidup Yusuf adalah belajar mengelola kekecewaan.

Bayangkan saat juru minuman yang pernah ditolongnya justru melupakannya bertahun-tahun. Yusuf punya alasan untuk kecewa, marah, bahkan pahit kepada Tuhan. Tetapi penundaan tidak membuatnya kehilangan hati.

Dan itu sangat penting.

Banyak orang gagal bukan saat menderita, tetapi saat kecewa. Kecewa membuat hati berubah arah. Mulai sinis. Mulai kehilangan kasih. Mulai mempertanyakan Tuhan.

Tetapi Yusuf tetap menjaga hati.

Ternyata yang Tuhan kerjakan di dalam diri Yusuf selama 13 tahun proses jauh lebih besar daripada posisi yang akhirnya ia terima.

Karena apa yang dibentuk Tuhan di dalam diri kita melalui proses, itulah yang nantinya menjadi fondasi bagi tujuan hidup kita.

Kadang kita mengira Tuhan sedang menahan kita. Padahal sebenarnya Tuhan sedang memperbesar kapasitas kita.

Sebab berkat besar membutuhkan hati yang besar. Tanggung jawab besar membutuhkan kedewasaan besar.

Dan kedewasaan tidak lahir dalam semalam.

Jangan remehkan stages kehidupan yang sedang kita jalani hari ini.

Bisa jadi hari-hari yang terasa berat, sepi, membosankan, bahkan menyakitkan itu justru sedang dipakai Tuhan untuk membentuk kestabilan, hikmat, pengendalian diri, dan hati yang siap dipercaya.

Masa persiapan tidak pernah sia-sia.

“Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened.” – Helen Keller.

“Karakter tidak dibentuk dalam kenyamanan dan kehidupan yang tenang. Hanya melalui ujian dan penderitaan jiwa menjadi kuat. – Helen Keller.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Hidup Mulai Tenang, Tetapi Jiwa Masih Takut

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Hidup Mulai Tenang, Tetapi Jiwa Masih Takut

Dr. Caroline Leaf pernah menulis sesuatu yang sangat menarik.

Ia berkata bahwa sering kali seseorang justru merasa cemas ketika hidupnya mulai baik-baik saja.

Mengapa?

Karena terlalu lama hidup dalam “survival mode” membuat damai terasa asing.

Orang yang bertahun-tahun hidup dalam tekanan, konflik, ketakutan, penolakan, atau stres terus-menerus, akhirnya terbiasa hidup waspada. Otaknya terus mencari ancaman. Bahkan ketika ancaman itu sebenarnya sudah tidak ada lagi.

Dan ini kalimat yang sangat dalam dari Caroline Leaf:

“The anxiety you feel in the good moments is your mind catching up to a life it hasn’t learned to trust yet.”

“Kecemasan yang muncul di saat-saat baik sebenarnya adalah pikiran kita yang sedang berusaha mengejar kehidupan yang belum ia pelajari untuk dipercayai.”

Aduh… dalam sekali.

Bukankah banyak dari kita memang seperti itu?

Saat hidup sulit, kita berdoa meminta damai.
Tetapi waktu damai itu datang, kita malah gelisah.

Takut semuanya akan rusak lagi.
Takut kecewa lagi.
Takut ditinggalkan lagi.
Takut sakit lagi.
Takut kehilangan lagi.

Akhirnya kita tidak pernah benar-benar menikmati sukacita.

Tubuh duduk di tempat yang aman, tetapi pikiran masih hidup di masa lalu.

Padahal Firman Tuhan berkata bahwa kita dipanggil untuk hidup dalam damai sejahtera. Bukan damai palsu dari keadaan luar, tetapi damai yang menjaga hati dan pikiran.

Masalahnya, banyak orang lebih terbiasa hidup dalam tekanan daripada hidup dalam ketenangan.

Kalau suasana tenang, malah curiga.
Kalau semuanya baik-baik saja, malah berpikir:
“Pasti nanti ada sesuatu yang buruk terjadi.”

Mengapa?

Karena pikiran yang terus-menerus hidup dalam ancaman akhirnya membentuk pola berpikir tertentu.

Dan itu sebabnya pembaruan pikiran sangat penting.

Firman Tuhan tidak hanya menyelamatkan roh kita. Firman juga memulihkan cara berpikir kita.

Ada orang yang sudah keluar dari situasi toxic, tetapi pikirannya belum keluar.
Sudah tidak hidup dalam penolakan, tetapi masih merasa tidak aman.
Sudah diberkati Tuhan, tetapi tetap hidup dengan mentalitas takut kehilangan.

Itulah sebabnya Tuhan sering membawa kita masuk dalam proses “rest”.

Belajar percaya.
Belajar tenang.
Belajar berhenti mengantisipasi kehancuran setiap saat.

Kadang yang paling sulit bukan melewati badai.

Tetapi mempercayai bahwa badai sudah berlalu.

Bangsa Israel juga seperti itu. Walaupun sudah keluar dari Mesir, mental budak mereka belum hilang. Mereka masih berpikir seperti orang tertindas.

Dan banyak orang percaya hidup seperti itu hari ini.

Sudah ditebus.
Sudah diampuni.
Sudah diberkati.
Tetapi pikiran masih hidup dalam mode bertahan.

Karena itu Caroline Leaf memberi latihan sederhana:
tuliskan tiga hal yang benar-benar baik dalam hidup kita saat ini.

Mengapa?

Karena pikiran perlu belajar melihat bukti bahwa Tuhan sedang bekerja.

Ini sangat sejalan dengan prinsip Firman Tuhan tentang mengarahkan pikiran kepada perkara yang benar, mulia, baik, dan patut disyukuri.

Semakin kita melatih pikiran melihat kebaikan Tuhan, semakin jiwa belajar tenang.

Dan ketenangan itu bukan berarti masalah tidak ada.

Tetapi hati kita tidak lagi diperbudak ketakutan.

Ada orang yang hidupnya sederhana tetapi damai.
Ada juga yang hidupnya berkelimpahan tetapi selalu gelisah.

Karena damai bukan hasil keadaan luar.
Damai lahir dari pikiran yang mulai percaya bahwa Tuhan sungguh memegang hidup kita.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang mengalami itu.

Hidup mulai membaik.
Doa mulai dijawab.
Keadaan mulai tenang.

Tetapi anehnya, hati malah gelisah.

Kalau itu terjadi, jangan langsung merasa ada yang salah dengan diri kita.

Mungkin jiwa kita hanya sedang belajar sesuatu yang baru:
belajar hidup tanpa ketakutan.

Dan itu perlu proses.

Tetapi kabar baiknya, Tuhan sanggup memulihkan bukan hanya keadaan hidup kita, tetapi juga pola pikir kita.

Sedikit demi sedikit, hati belajar percaya lagi.

Bahwa tidak semua musim baik harus berakhir buruk.

Bahwa damai bukan jebakan.

Dan bahwa kita boleh menikmati kebaikan Tuhan tanpa terus hidup menunggu kehancuran datang.

«“Kadang luka masa lalu membuat kita lebih akrab dengan ketakutan daripada damai. Tetapi kasih Tuhan sanggup melatih jiwa kita untuk tenang kembali.” — Yenny Indra»

Sometimes the bravest thing you can do is to let yourself feel safe again.”- Morgan Harper Nichols

“Kadang tindakan paling berani adalah mengizinkan diri kita merasa aman kembali.- Morgan Harper

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Damai Mengubah Selera Kita Terhadap Orang

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Damai Mengubah Selera Kita Terhadap Orang

Dr. Caroline Leaf pernah menulis sebuah kalimat yang sangat menarik:

“Peace literally changes your taste in people. You get a whole new perspective on what and who you want around you.”

Damai benar-benar mengubah selera kita terhadap orang. Kita mendapatkan perspektif yang baru tentang siapa dan apa yang kita inginkan yang ada di sekitar kita.

Saat pertama kali membaca kalimat itu, saya langsung terdiam.

Karena ternyata banyak hubungan yang kita pilih bukan dibangun dari kesehatan jiwa, melainkan dari apa yang selama ini terasa akrab bagi kita.

Ada versi diri kita di masa lalu yang terus memilih tipe orang yang sama berulang kali, tetapi tidak pernah mengerti mengapa.

Mengapa selalu tertarik pada orang yang sulit?

Mengapa selalu terjebak dalam hubungan yang melelahkan?

Mengapa selalu memberi kesempatan kepada orang yang terus melukai?

Sering kali jawabannya bukan karena kita bodoh atau tidak belajar dari pengalaman.

Jawabannya lebih dalam dari itu.

Pikiran manusia cenderung tertarik pada apa yang sudah dikenalnya.

Jika sejak kecil seseorang tumbuh di tengah konflik, ketidakstabilan, penolakan, kritik, atau hubungan yang tidak sehat, semua itu perlahan dianggap normal. Walaupun menyakitkan, rasanya tetap familiar.

Pikiran akan terus kembali kepada apa yang terasa seperti rumah.

Bahkan ketika “rumah” itu sebenarnya melukai.

Itulah sebabnya ada orang yang berulang kali masuk ke pola yang sama. Nama orangnya berbeda, tetapi ceritanya hampir sama. Lukanya juga sama.

Yang belum berubah sebenarnya bukan orang-orang di sekitarnya.

Yang belum berubah adalah pola pikirnya.

Karena itu perubahan hidup yang sejati selalu dimulai dari dalam.

Kita tidak bisa membangun masa depan yang berbeda dengan cara berpikir yang sama.

Banyak orang berharap hidupnya berubah, tetapi tetap mempertahankan kesimpulan-kesimpulan lama tentang dirinya.

Masih merasa tidak cukup baik.

Masih merasa harus menyenangkan semua orang.

Masih merasa harus berjuang mendapatkan penerimaan.

Masih merasa dirinya tidak layak dicintai.

Padahal selama pola pikir itu masih ada, pilihan-pilihan hidup kita akan terus dipengaruhi olehnya.

Inilah sebabnya kita perlu terus memperbarui pikiran.

Kita perlu mengganti standar lama dengan standar yang benar.

Kita perlu berhenti menilai diri berdasarkan luka, kegagalan, atau pengalaman masa lalu.

Kita perlu belajar melihat diri sebagaimana kita memang dirancang untuk menjadi.

Dan salah satu cara yang paling kuat adalah terus memperkatakan identitas yang sehat kepada diri sendiri.

Bukan sekadar afirmasi kosong.

Tetapi mengingatkan diri tentang siapa kita sebenarnya.

“Aku berharga.”

“Aku layak dihormati.”

“Aku tidak harus mengejar penerimaan semua orang.”

“Aku boleh hidup dengan damai.”

“Aku tidak harus mengulangi pola lama.”

Apa yang terus kita pikirkan dan ucapkan akan membentuk cara kita memandang hidup.

Sedikit demi sedikit, program lama mulai digantikan oleh cara berpikir yang baru.

Dan ketika itu terjadi, sesuatu yang menarik mulai muncul.

Selera kita berubah.

Dulu kita tertarik pada drama.

Sekarang kita menghargai ketenangan.

Dulu kita menganggap ketidakpastian itu menarik.

Sekarang kita menghargai konsistensi.

Dulu kita mengejar orang yang sulit memberi perhatian.

Sekarang kita lebih menghargai orang yang hadir, jujur, dan dapat dipercaya.

Mengapa?

Karena damai sedang membentuk ulang standar hidup kita.

Perhatikan perubahan itu.

Jangan abaikan.

Itu salah satu tanda paling jelas bahwa ada sesuatu yang sedang bertumbuh sehat di dalam diri kita.

Ketika jiwa mulai pulih, kita tidak lagi tertarik pada hal-hal yang dulu membuat kita terluka.

Kita mulai memilih apa yang memberi kehidupan, bukan sekadar apa yang terasa familiar.

Dan mungkin itulah salah satu tanda kedewasaan yang sesungguhnya:

Bukan ketika kita berhasil mengubah semua orang di sekitar kita.

Tetapi ketika kita berubah cukup dalam sehingga tidak lagi tertarik pada pola yang pernah menghancurkan kita.

Karena saat damai menjadi rumah baru bagi jiwa kita, pilihan-pilihan hidup kita pun mulai berubah.

Dan sering kali, perubahan terbesar dalam hidup dimulai dari satu hal sederhana:

“Cara kita berpikir tentang diri kita sendiri.”

“True healing does not begin when life changes. It begins when the way we see ourselves starts to change.”
— Yenny Indra

“Pemulihan yang sejati bukan ketika hidup kita berubah terlebih dahulu. Pemulihan dimulai ketika cara kita melihat diri sendiri mulai berubah.” — Yenny Indra

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 5 6 326