Category : Articles

Articles

Xi’an: Sehari Melompat Menembus Ribuan Tahun….


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Xi’an: Sehari Melompat Menembus Ribuan Tahun….

Kemarin kami masih berada di Qinghai, memakai jaket, ditemani hujan dan udara dingin.
Hari ini?

Welcome to Xi’an!

Matahari bersinar terang dan suhu siang mencapai 31°C.
Panas!

Katanya musim panas di Xi’an suhu bisa menembus 40°C, sementara musim dinginnya bisa bersalju.
Benar-benar ekstrem.

Tetapi justru di bawah matahari yang menyengat itu, kami mulai menjelajahi salah satu kota paling bersejarah di Tiongkok.

Xi’an dahulu dikenal sebagai Chang’an dan pernah menjadi ibu kota bagi 13 dinasti Tiongkok selama lebih dari seribu tahun. Letaknya strategis, dikelilingi pegunungan dan kawasan sungai, sekaligus menjadi salah satu titik penting Jalur Sutra.

Tidak heran sejarah ada di mana-mana.
Perhentian pertama kami adalah Xi’an City Wall.

Tembok kota yang kita lihat sekarang sebagian besar berasal dari Dinasti Ming, dibangun pada abad ke-14. Kelilingnya hampir 14 kilometer, tingginya sekitar 12 meter, dan termasuk tembok kota kuno yang paling lengkap terpelihara di Tiongkok.

Bayangkan…

Sudah berdiri sekitar 650 tahun!

Gerbangnya besar dengan pintu merah bertabur paku-paku keemasan. Berdiri di bawahnya membuat manusia terasa kecil sekali.

Malam hari katanya lebih cantik lagi karena seluruh tembok diterangi lampu.

Xi’an memang seperti kota yang masa lalunya tidak pernah benar-benar pergi.

Dari peninggalan Dinasti Ming, kami melompat mundur lebih jauh lagi…

Lebih dari dua ribu tahun!

Kami menuju Terracotta Warriors, pasukan tanah liat yang dibuat untuk menjaga makam Qin Shi Huang, kaisar pertama yang mempersatukan Tiongkok.

Yang membuat ceritanya semakin menarik, penemuan luar biasa ini terjadi secara tidak sengaja.

Tahun 1974, beberapa petani sedang menggali sumur.
Mereka bukan sedang mencari benda purbakala.
Bukan arkeolog.
Cuma mau mencari air.
Eh… malah menemukan salah satu penemuan arkeologi terbesar abad ke-20.

Ha… ha….

Ketika masuk ke dalam bangunan besar yang menaungi Pit No. 1, barulah saya memahami skalanya.

Wow!

Barisan demi barisan prajurit berdiri di depan kami.

Bukan puluhan.

Ribuan!

Ada prajurit infanteri, pemanah, perwira, kuda dan kereta perang. Menariknya, wajah mereka tidak terlihat persis sama. Bentuk rambut, ekspresi, pakaian dan detailnya berbeda-beda.

Seperti sebuah pasukan sungguhan yang tiba-tiba membeku selama lebih dari dua ribu tahun. Konon patung-patung itu replika prajurit sungguhan.

Dan ternyata Terracotta Warriors hanyalah sebagian dari proyek makam Qin Shi Huang.

Kompleks makamnya membentang sekitar 56 kilometer persegi.

Lebih mencengangkan lagi, makam utama sang kaisar hingga sekarang belum dibuka sepenuhnya.

Catatan sejarawan Tiongkok kuno, Sima Qian, menceritakan adanya sungai dan lautan yang dibuat dari merkuri di dalam makam. Penelitian modern memang menemukan kadar merkuri yang tidak biasa di kawasan tersebut.

Misterius ya….

Dua ribu tahun berlalu dan manusia modern masih belum mengetahui seluruh rahasia yang terkubur di sana.

Ada pula cerita terkenal bahwa senjata-senjata perunggu yang ditemukan tetap terawat karena teknologi chromium coating yang sangat maju.

Ternyata penelitian modern mengoreksi teori tersebut. Kondisi tanah dan komposisi perunggunya kemungkinan jauh lebih berperan daripada teknologi pelapisan krom yang sengaja dibuat.

Menarik.

Sejarah pun kadang harus bersedia dikoreksi ketika bukti baru ditemukan.

Setelah melihat pasukan Terracotta, kami melanjutkan ke area taman makam kaisar.

Suasananya berubah total.

Dari ribuan prajurit tanah liat menjadi taman hijau yang tenang.

Pohon-pohon Yangliu menjuntai sampai hampir menyentuh air. Ada jembatan merah melengkung, gunung hijau di belakangnya, dan semuanya terpantul begitu jernih di permukaan kolam.

Cantik sekali!

Ada pula ayunan besar yang dihiasi bunga-bunga merah.

Ya sudah…

Foto lagi!

Wkwkwk….

Namanya juga traveling. Sejarah dapat, foto juga jangan sampai ketinggalan.

Tetapi perjalanan menembus waktu kami ternyata belum selesai.

Malamnya kami menonton Ancient City Beacon, sebuah pertunjukan kolosal yang membawa penonton ke masa pergolakan Tiongkok sekitar tahun 1935.

Terus terang saya tidak memahami seluruh ceritanya.

Lha wong dialognya Mandarin….

Ha… ha….

Secara singkat kisahnya tentang Zhao Yunfeng, seorang pemuda yang mengalami tragedi keluarga, kemudian terlibat dalam perlawanan terhadap penindasan di tengah masa Tiongkok yang penuh pergolakan.

Tetapi meski tidak memahami setiap dialog, pertunjukannya tetap spektakuler.

Yang paling unik, kursi penontonnya bisa berputar mengikuti perpindahan adegan.

Jadi bukan sekadar panggung yang berubah.

Kami yang ikut “dibawa” menuju setting berikutnya.

Ada peperangan, ledakan, kereta, pesawat, efek air, bahkan anjing dan unta sungguhan muncul dalam pertunjukan.

Rasanya seperti berada di dalam film.

Barulah ketika perjalanan hari itu selesai saya menyadari sesuatu.

Pagi kami berdiri di atas tembok kota berusia sekitar 650 tahun.

Siang kami berhadapan dengan pasukan yang dibuat lebih dari 2.000 tahun lalu.

Malam kami “dipindahkan” ke Tiongkok tahun 1935.

Dalam satu hari, Xi’an membawa kami melompat-lompat menembus zaman.

Dan mungkin itulah daya tarik terbesar kota ini.

Xi’an tidak hanya menyimpan sejarah di museum.

Sejarahnya masih berdiri dalam tembok-temboknya, terkubur di bawah tanahnya, hidup dalam taman-tamannya, bahkan dipentaskan kembali di atas panggung.

Dua ribu tahun lalu manusia membangun sesuatu yang mereka pikir akan menemani seorang kaisar menuju keabadian.

Hari ini sang kaisar telah lama tiada.

Tetapi karya tangan manusia yang ditinggalkannya justru membuat jutaan orang dari seluruh dunia datang untuk melihatnya.

Waktu memang berlalu, tetapi jejak yang kita tinggalkan bisa berbicara jauh lebih lama daripada umur kita sendiri.

Dan perjalanan Xi’an kami…
masih belum selesai. 🙂

“What we do now echoes in eternity.” – Marcus Aurelius.

“Apa yang kita lakukan sekarang bergema hingga kekekalan.” – Marcus Aurelius.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Sejarah mengajarkan satu hal yang tidak disukai ego: sehebat apa pun seseorang pada zamannya, suatu hari ia akan menjadi cerita. Pertanyaannya, cerita seperti apa?”

“History teaches the ego an uncomfortable truth: no matter how great someone is in their time, one day they will become a story. The question is, what kind of story?”
– Yenny Indra

Read More
Articles

Ketika Yesus Menjadi Nyata di Tengah Hujan…


Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Yesus Menjadi Nyata di Tengah Hujan…

“I will let Myself be clearly seen by him and make Myself real to him.”
Yohanes 14:21 ( AMPC).

Beberapa hari ini saya terus terpikat pada satu frasa:

“Make Myself real to him.”

Yesus ingin menjadi nyata bagi kita.

Dulu mungkin saya membayangkan Tuhan menjadi nyata ketika doa dijawab persis seperti yang saya inginkan.

Ternyata tidak selalu demikian.

Perjalanan ke Chaka Salt Lake dan Qinghai Lake memberi saya pelajaran sederhana.

Saat hendak ke Chaka, saya berdoa agar tidak hujan.

Mengapa?

Karena Chaka terkenal sebagai Mirror of the Sky. Ada lapisan air tipis di atas hamparan garam yang memantulkan langit seperti cermin. Kalau hujan, tentu pengalaman dan fotonya berbeda.

Saya sudah berdoa.

Setelah itu saya memilih berhenti memikirkannya.

Beberapa teman masih berkata,

“Semoga nggak hujan ya…”

“Kalau hujan bagaimana?”

Saya pikir, sudah berdoa, ya sudah.

Bukan berarti Tuhan harus mengikuti keinginan saya.

Saya hanya percaya Dia mengasihi saya. Apa pun hasilnya, saya akan tetap menikmati perjalanan.

Dan ternyata…
Cuaca Chaka bagus!

Kami mendapatkan foto-foto dengan pantulan yang cantik.
Puji Tuhan.

Doa dijawab sesuai keinginan.
Senang?
Tentu!

Lalu perjalanan berlanjut ke Qinghai Lake dan keesokan harinya, Kanbula Forest Park.

Dan…
Hujan.
Ha… ha….

Kali ini tidak berhenti.
Foto pun tidak bisa sebanyak yang kami harapkan.

Sehebat apa pun manusia, ternyata ada wilayah-wilayah kehidupan di mana kita harus mengakui:

Kita bukan Tuhan.

Manusia bisa membangun kereta supercepat, membuat jalan menembus pegunungan, menciptakan teknologi luar biasa.
Tetapi kita tidak bisa memerintah awan sesuka hati.

Pertanyaannya kemudian:
Apakah sukacita saya ikut berhenti karena hujan tidak berhenti?

Nah, justru di sinilah Yohanes 14:21 terasa semakin nyata.

Mungkin “make Myself real to him” bukan hanya ketika Tuhan memberikan apa yang saya minta.

Kadang Yesus justru menjadi sangat nyata ketika keadaan tidak sesuai keinginan, tetapi saya menemukan sesuatu di dalam hati saya sudah berubah.

Dulu mungkin kecewa.
Ngomel.
Sudah jauh-jauh datang ke sini, kok malah hujan?
Sekarang?
Dibawa happy saja.

Kami tetap menikmati perjalanan.
Lihat-lihat ke sekeliling.

Eh… ada bunga-bunga cantik.
Jepret!
Cakep juga.
Ha… ha….

Saya belajar, kita tidak selalu dapat menentukan apa yang terjadi di luar, tetapi kita tidak perlu menyerahkan remote control hati kita kepada keadaan.

Inilah yang dikatakan Kolose 3:15:
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu…”

Perhatikan kata memerintah.

Berarti bukan cuaca yang memerintah.
Bukan komentar orang.
Bukan keadaan bisnis.
Bukan perubahan rencana.
Bukan pula apakah doa kita dijawab persis seperti keinginan kita.

Damai Kristus yang memerintah.

Paulus berkata dalam Filipi 4 bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Saya suka kata belajar.

Artinya kedewasaan tidak otomatis terjadi.

Kita berlatih.
Hari ini cuaca.
Besok mungkin bisnis.
Lain kali hubungan.
Atau rencana yang tiba-tiba berubah.

Setiap kesempatan menjadi tempat kita belajar:
Apakah keadaan mengendalikan hati saya, atau Kristus yang memerintah di sana?

Dan saya mulai melihat sesuatu yang lebih dalam.

Di Chaka, saya mengenal kebaikan Tuhan ketika hujan berhenti.

Di Qinghai & Kanbula, saya juga dapat mengenal kebaikan Tuhan ketika hujan tetap turun.

Wow.

*Ternyata kebaikan Tuhan tidak berubah mengikuti cuaca.*

Kalau iman kita hanya bersukacita ketika keadaan sesuai doa, kita akan mudah naik turun.

Tetapi ketika kita mengenal Pribadi-Nya, kita bisa berkata:
Saya suka kalau hujannya berhenti.
Kalau tetap hujan?
Tuhan tetap baik.
Mari kita cari bunga cantik!

Ha… ha….

Why?
Saya mengenal karakter Bapa saya yang mengasihi saya tanpa syarat. Meski saya tidak tahu alasannya, saya percaya kepada-Nya: kebaikan-Nya, pertimbangan-Nya dan pilihan-Nya.

Tidak perlu saya mencari alasan yang rohani yang masuk akal.
Tidak semua dalam hidup bisa kita pahami dengan otak kita yang hanya sebesar kacang – “Your Peanut Brain”, kata Greg Mohr, guru saya.

Mungkin inilah salah satu bentuk *distinction* yang sesungguhnya.

Bukan tampil berbeda supaya orang kagum.

Tetapi begitu mengenal Kristus sehingga ketika cuaca kehidupan berubah, sesuatu dari Kristus tetap terlihat melalui kita.

Damai-Nya.
Sukacita-Nya.
Kemampuan menikmati kehidupan.
Rasa syukur.
Dan ketenangan yang tidak mudah dicuri keadaan.

Jesus makes Himself real to us, bukan hanya melalui mukjizat yang mengubah keadaan, tetapi juga melalui transformasi yang mengubah cara kita menjalani keadaan.

Akhirnya saya belajar:

Mukjizat bukan hanya ketika hujan berhenti. Kadang mukjizat yang lebih dalam adalah ketika hujan tetap turun, tetapi sukacita kita tidak ikut hanyut bersamanya.

Damai Kristus memerintah hatiku.

Hujan atau cerah…

He is here. And I am okay.

“You have made us for Yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in You.” – St. Augustine

“Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan tenang sampai menemukan ketenangannya di dalam-Mu.” – St. Augustine.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

*”Yesus menjadi nyata bukan hanya ketika Dia mengubah apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi ketika kehadiran-Nya mengubah apa yang terjadi di dalam kita.”*

*”Jesus becomes real not only when He changes what happens around us, but when His presence changes what happens within us.” – Yenny Indra*

Read More
Articles

Qinghai: Ketika Hujan Mengubah Itinerary…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Qinghai: Ketika Hujan Mengubah Itinerary…

Hari kedua perjalanan kami di Qinghai, tujuan utamanya adalah Qinghai Lake, danau air asin pedalaman terbesar di Tiongkok.

Danau ini benar-benar besar. Luasnya sekitar 4.600 kilometer persegi, sementara Pulau Bali sekitar 5.600 kilometer persegi.

Bayangkan, sebuah danau luasnya hampir menyamai Pulau Bali!

Pantas ketika memandangnya, rasanya bukan sedang melihat danau.

Lebih mirip laut.

Air membentang luas sampai ke horizon. Qinghai Lake berada di dataran tinggi sekitar 3.200 meter di atas permukaan laut dan juga terkenal sebagai habitat serta tempat persinggahan berbagai jenis burung migran.

Kami sudah membayangkan berjalan di area tepi danau, melihat burung-burung beterbangan di pantai, memberi mereka makan….
Sayangnya hari itu hujan.

Bukan hujan sebentar lalu berhenti.
Hujan terus turun.
Kami tidak bisa turun menikmati tepi danau dan berfoto seperti yang sudah dibayangkan. Akhirnya Qinghai Lake kami nikmati dari kejauhan sambil minum kopi.

Ya sudah…
Dibawa happy saja.

Sehebat apa pun manusia membuat itinerary, tetap ada hal-hal yang tidak bisa kita atur.
Salah satunya cuaca.

Tetapi ternyata ceritanya belum selesai.

Ketika kami berjalan menuju toilet, eh… di dekat toilet justru ada bunga warna-warni yang cantik

Merah, kuning, ungu dan berbagai warna lainnya tersusun seperti karpet hidup.

Nah…

Yang di danau tidak bisa foto, di dekat toilet malah dapat spot foto!

Ha… ha….

Langit boleh kelabu, tetapi bunga-bunganya tetap cerah.
Jepret… jepret….
Cakep juga ternyata!

Kadang traveling memang lucu. Kita sudah membayangkan akan mendapatkan foto terbaik di tempat wisata utama, ternyata tidak bisa. Eh, justru menemukan sesuatu yang cantik di tempat yang sama sekali tidak diperhitungkan.

P. Indra bahagia, sibuk mengubah foto-foto teman-teman menjadi video lucu-lucu dengan AI.
Ternyata, selalu ada cara kreatif menikmati sesuatu bukan?

Keesokan harinya, itinerary kami seharusnya menuju Kanbula National Forest Park.

Ternyata hujan belum juga berhenti.
Bahkan hujan turun terus sepanjang hari hingga malam.

Saat itu pemerintah Tiongkok memang sedang meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem. Beberapa hari sebelumnya, kawasan perbatasan Nepal–Tibet baru saja mengalami bencana banjir bandang yang sangat dahsyat akibat runtuhnya gletser dan material batu di Himalaya. Air, lumpur dan bebatuan menerjang lembah, menghancurkan permukiman, jalan serta jembatan. Ratusan orang meninggal dan banyak lainnya masih dinyatakan hilang.

Di Qinghai sendiri, hujan lebat saat itu meningkatkan risiko banjir, longsor dan aliran lumpur sehingga pemerintah setempat meningkatkan status kesiapsiagaan di sejumlah wilayah.

Safety first.

Kanbula pun ditutup untuk pengunjung.

Sayang memang, karena sepanjang perjalanan kami bisa melihat betapa uniknya kawasan Kanbula.

Pegunungannya berwarna kemerahan,tanahnya berwarna merah, berpadu dengan pepohonan hijau, sementara beberapa bagian mulai berwarna kuning.
Merah, hijau, kuning…
Menarik….

Meski tidak bisa masuk ke kawasan wisatanya, setidaknya kami masih bisa menikmati pemandangannya dari perjalanan.

Karena Kanbula tutup, perjalanan dilanjutkan menuju Guide Ancient City.

Kami berjalan-jalan di kawasan kota tua tersebut dan mengunjungi sebuah monastery. Suasananya sangat berbeda dari Qinghai Lake. Perjalanan ini memang menarik—dalam beberapa hari saja kami berpindah dari danau garam, pegunungan, kota tua, hingga monastery.

After lunch, perjalanan dilanjutkan menuju Kumbum Monastery, yang juga dikenal sebagai Ta’er Temple, dekat Xining.

Kumbum merupakan salah satu biara Buddha Tibet yang paling penting di Qinghai dan salah satu pusat utama tradisi Gelug dalam Buddhisme Tibet. Kompleksnya luas, sehingga kami menggunakan shuttle bus untuk menjelajahinya.

Dua hari di Qinghai benar-benar mengajarkan bahwa traveling tidak selalu berjalan sesuai itinerary.

Qinghai Lake hujan.
Tidak bisa foto di tepi danau.
Kanbula malah tutup.
Rencana berubah.

Tetapi kami tetap minum kopi, menemukan hamparan bunga cantik dekat toilet, menikmati pegunungan merah dari kejauhan, mengunjungi kota tua dan melihat monastery-monastery yang menarik.

Tidak semua yang direncanakan berhasil dikunjungi, tetapi selalu ada sesuatu yang bisa dinikmati.
Bukankah justru kejadian-kejadian seperti inilah yang kelak paling seru diceritakan?

Hari ini saatnya kami meninggalkan Xining.
Sebelum menuju train station, kami sempat mampir ke pasar tradisional. Menarik melihat kue-kue, buah dan sayuran segar dengan harga yang sangat murah. Bahkan masih ada kue hangat, lezat ala jadul yang kalau dikonversikan harganya sekitar seribu rupiah. Peach segar pun hanya sekitar 5 yuan.

Kami mencicipi berbagai jajanan sambil bercanda dan tertawa bersama teman-teman.

Ternyata bahagia saat traveling tidak selalu harus datang dari tempat wisata spektakuler. Menikmati jajanan sederhana dan tertawa bersama teman pun bisa menjadi kenangan yang menyenangkan.

Perjalanan dilanjut dengan bullet train dari Xining menuju Xi’an.

Bye-bye Qinghai…

Xi’an, here we come!

Itinerary boleh berubah.

The journey continues.


“Life is what happens to you while you’re busy making other plans.” – John Lennon

“Hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sedang sibuk membuat rencana-rencana lain.” – John Lennon

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Ketika tempat yang kita tuju tertutup, jangan ikut menutup mata. Bisa jadi keindahan sedang menunggu di tempat yang tidak kita rencanakan.”

“When the place we planned to visit is closed, don’t close your eyes with it. Beauty may be waiting somewhere we never planned to find” – Yenny Indra

Read More
Articles

Chaka Salt Lake: Ketika Bumi Meminjam Langit sebagai Cerminnya…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Chaka Salt Lake: Ketika Bumi Meminjam Langit sebagai Cerminnya…

Kali ini liburan kami menjelajahi Xining–Xi’an dan sekitarnya.

Perjalanan dari Xining menuju Chaka Salt Lake memakan waktu sekitar 4,5 jam.

Tetapi perjalanan panjang ini tidak membosankan. Qinghai seperti membawa kami melintasi sejarah, budaya, dan bentang alam yang sama sekali berbeda dari kota-kota besar China yang biasa kita lihat.

Xining sejak dahulu mempunyai posisi strategis sebagai pintu menuju Dataran Tinggi Tibet dan bagian penting jaringan perdagangan Jalur Sutra. Berbagai etnis hidup berdampingan di Qinghai, termasuk Han, Tibet, Mongol, dan Hui.

Yang menarik perhatian saya, di sini cukup banyak masyarakat Muslim Tionghoa, terutama etnis Hui.

Urusan halal mereka serius sekali.

Bukan sekadar tidak makan babi. Makanan yang dikonsumsi juga diperhatikan proses dan pengolahannya. Driver kami seorang Muslim. Bahkan snack yang kami bawa dari Indonesia pun tidak mau dicicipinya karena ia tidak mengetahui dengan pasti proses pembuatannya.

Saya justru kagum melihat bagaimana seseorang memegang keyakinannya dengan sungguh-sungguh.

Sementara local guide kami penganut Budha Tibet.

Traveling memang membuat dunia terasa semakin luas.

Kita bertemu manusia dengan budaya, tradisi, dan keyakinan berbeda. Tidak harus menjadi sama untuk bisa saling menghormati.

Dalam perjalanan kami juga mendengar cerita tentang Pegunungan Kunlun, salah satu rangkaian pegunungan besar di Asia yang mempunyai tempat istimewa dalam sejarah dan legenda Tiongkok.

Jika bepergian dengan Qinghai-Tibet Railway menuju Lhasa, kereta akan melintasi kawasan Kunlun. Salah satu bagian jalurnya bahkan berada di sekitar ketinggian 4.600 meter. Semakin tinggi, permukiman manusia semakin jarang. Bentang alamnya didominasi pegunungan dan habitat satwa liar.

Jadi teringat sohib saya, P. Irsan, yang suka sekali cerita silat. Kunlun Pai, perguruan silat yang sering muncul dalam cerita-cerita pendekar Tiongkok… ternyata mengambil namanya dari Pegunungan Kunlun yang benar-benar ada.

Ha… ha….

Selama ini tahunya dari cerita silat, sekarang saya berada di kawasan yang selama ini hanya hidup dalam imajinasi.

Daerah ini memang sudah berada di dataran tinggi. Chaka Salt Lake sendiri terletak sekitar 3.059 meter di atas permukaan laut, sementara perjalanan menuju Tibet bahkan dapat membawa kita ke ketinggian lebih dari 5.000 meter.

Di tempat seperti ini, mau tidak mau kita kembali menyadari betapa kecilnya manusia di tengah kemegahan ciptaan Tuhan.

Lalu tibalah kami di Chaka Salt Lake.

Wow!

Sejauh mata memandang terlihat hamparan putih.

Garam.

Bukan salju.

Chaka terbentuk melalui proses alam yang sangat panjang. Kawasan ini merupakan cekungan tertutup. Air membawa berbagai mineral ke dalamnya, lalu penguapan meninggalkan kandungan garam yang selama ribuan tahun membentuk lapisan garam keras yang kita lihat hari ini.

Kami kemudian menaiki kereta wisata menuju salah satu pemberhentian di area danau.

Sebelum turun ke hamparan garam, kami diberi pelindung karet untuk membungkus sepatu. Detail kecil, tetapi menunjukkan bagaimana kebutuhan dan kenyamanan wisatawan dipikirkan dengan serius.

Tidak heran pengalaman berwisata di banyak tempat di China terasa begitu tertata.

Barulah saya memahami mengapa tempat ini terkenal sebagai “Mirror of the Sky”, Cermin Langit.

Di atas lapisan garam yang keras terdapat air tipis. Ketika kondisi tepat dan air cukup tenang, permukaannya memantulkan langit, awan, dan manusia yang berdiri di atasnya.

Jepret!

Kita seperti mempunyai kembaran di bawah kaki.

Langit di atas.

Langit di bawah.

Cantik sekali.

Dan sekarang saya mengerti mengapa cuaca begitu penting di Chaka.

Sebelum datang, saya sudah berdoa supaya tidak hujan. Setelah menyampaikan permintaan kepada Tuhan, saya memilih tidak memikirkannya lagi.

Beberapa teman masih berkali-kali berkata,

“Semoga nggak hujan ya…”

“Kalau hujan bagaimana?”

Saya memilih berhenti di sana.

Saya sudah meminta. Sekarang bagian saya adalah percaya.

Bukan karena saya yakin Tuhan harus mengikuti keinginan saya, tetapi karena saya yakin apa pun hasilnya, kasih-Nya kepada saya tidak berubah dan Dia tahu yang terbaik.

Dan ketika akhirnya berdiri di sana menikmati pantulan Chaka yang indah, hati saya penuh syukur.

Di kawasan ini ternyata bukan hanya ada hamparan garam. Ada berbagai karya dan spot foto yang unik: patung-patung ukiran garam, bangunan menyerupai istana bak Disneyland, gitar besar yang mengingatkan saya pada Hard Rock Cafe, ayunan, dan berbagai tempat cantik untuk berfoto.

Pokoknya urusan foto…

Kalau di Harbin hampir semuanya dibuat dari es, di Chaka garam pun naik kelas menjadi karya seni.

China memang mengerti kebutuhan para turis.

Ha… ha….

Ada pula legenda lokal tentang cermin yang membuat Chaka semakin puitis. Salah satu cerita menghubungkan kawasan Qinghai dengan cermin, matahari, dan bulan. Entah bagaimana persisnya legenda itu berkembang selama berabad-abad, berdiri di Chaka membuat saya memahami mengapa manusia zaman dahulu menghubungkan tempat ini dengan sebuah cermin raksasa.

Alamnya memang seperti lukisan.

Dan perjalanan hari itu ditutup dengan kenikmatan yang jauh lebih sederhana:

Lamian halal buatan penduduk Muslim setempat.

Wuih…

Mi-nya lembut dan empuk sekali. Setelah berjalan di udara dataran tinggi dengan oksigen yang lebih tipis, semangkuk lamian hangat rasanya naik kelas menjadi makanan bintang lima.

Kami menginap semalam di Chaka.

Kebetulan tanggal 25 Agustus itu wedding anniversary saya dan P. Indra yang ke-41.

Surprise!

Tanpa kami duga, TX Travel sudah menyiapkan extra food, dua kue tart, bahkan kamar kami dihias lucu untuk merayakan anniversary.

Wow… senangnya!

Thank you TX Travel, P. Anton Thedy & B. Rita, Lita, TL kami, dan semua teman-teman. Love you all!

Chaka menjadi salah satu pemberhentian yang indah.

Perjalanan kami masih berlanjut.

“If I could wish for anything, I would not wish for wealth or power, but for a passionate sense of possibility-for an eye that, forever young and eager, always sees what could be.” – Søren Kierkegaard.

“Jika aku bisa meminta apa saja, aku tidak ingin kekayaan atau kekuasaan, melainkan kepekaan jiwa terhadap potensi, serta mata yang selalu muda dan bersemangat untuk melihat berbagai kemungkinan.” – Søren Kierkegaard.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

A quiet heart reflects God’s goodness more clearly, just as still water reflects the sky.”

“Hati yang tenang memantulkan kebaikan Tuhan dengan lebih jelas, seperti air yang tenang memantulkan langit.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Tetap Muda, Ternyata Bukan Karena Usia…. Lho?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tetap Muda, Ternyata Bukan Karena Usia…. Lho?

Pernahkah seseorang berkata kepada kita, “Kok kamu kelihatan jauh lebih muda dari umurmu?”

Biasanya kita spontan menjawab, “Ah, masa sih?” lalu tersenyum senang.

Tetapi ada sesuatu yang menarik dari tulisan yang saya baca. Pesannya bukan sebenarnya tentang kulit, wajah, atau berapa banyak kerutan yang kita miliki.

Ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar penampilan.

Psikologi mengenal istilah subjective age, yaitu usia yang kita rasakan di dalam diri, yang tidak selalu sama dengan usia kronologis. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang mengalami lebih banyak stres dan lebih sedikit pengalaman positif, ia cenderung merasa lebih tua dan bahkan melaporkan bahwa dirinya terlihat dan berperilaku lebih tua. Sebaliknya, pengalaman positif dapat membantu seseorang merasa lebih muda.

Menarik, bukan?

Jadi ketika seseorang terlihat lebih muda, tentu faktor genetik, kesehatan, perawatan tubuh, tidur, nutrisi dan banyak faktor lainnya tetap berperan. Kita tidak boleh menyederhanakan semuanya menjadi, “Kalau hatimu bahagia, pasti wajahmu muda.”

Tetapi psikologi memang menemukan hubungan antara stres, cara kita memandang diri sendiri, dan kesejahteraan emosional. Persepsi yang lebih positif terhadap proses menua juga ditemukan dapat meredam dampak stres terhadap keluhan kesehatan fisik.

Nah, di sinilah saya melihat sesuatu yang lebih dalam.

Kita semua pernah melewati badai.

Ada doa yang belum terjawab. Ada orang yang mengecewakan. Ada hubungan yang tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Ada kehilangan. Ada masa ketika kita menangis diam-diam dan tidak seorang pun tahu.

Tetapi pengalaman pahit tidak harus membuat hati kita pahit.

Kita boleh terluka tanpa menjadi pahit.
Kita boleh kecewa tanpa kehilangan pengharapan.
Kita boleh menangis tanpa kehilangan sukacita.

Menurut saya, ini salah satu bentuk kedewasaan yang paling indah.

Semakin bertambah usia, seharusnya kita tidak semakin berat karena membawa semua luka masa lalu ke mana-mana. Justru kita belajar meletakkan apa yang sudah tidak perlu dibawa.

Belajar melepaskan.

Belajar mengampuni.

Belajar berkata, “Tidak apa-apa, saya tidak harus memenangkan semua perdebatan.”

Belajar menjaga energi.

Belajar menjauh dari drama tanpa menyimpan kebencian.

Belajar tetap baik tanpa harus membuat semua orang menyukai kita.

Dan yang paling penting, belajar menjaga damai sejahtera di dalam hati.

Bukankah ada orang yang secara usia masih muda tetapi wajah dan hidupnya terlihat begitu lelah?

Sebaliknya, ada orang yang usianya sudah jauh lebih matang, tetapi ketika kita berbicara dengannya, ada sesuatu yang ringan. Matanya masih berbinar. Ia masih bisa tertawa. Masih punya mimpi. Masih ingin belajar. Masih mudah bersyukur.

Menurut saya, itulah hati yang tidak membiarkan kehidupan menjadi keras.

Bukan berarti hidupnya mudah.

Justru mungkin ia sudah melewati jauh lebih banyak badai daripada yang kita tahu.

Tetapi ia memilih untuk tidak membiarkan badai menentukan siapa dirinya.

Dan di sinilah iman saya kepada Tuhan membuat perbedaannya.

Saya percaya damai bukan berarti hidup tanpa masalah.

Damai adalah ketika kita tahu bahwa kita tidak menghadapi hidup seorang diri.

Ada Tuhan yang memegang hidup kita.

Ada kasih karunia yang cukup untuk hari ini.

Ada pengharapan bahwa cerita kita belum selesai.

Karena itu, saya tidak ingin memasuki usia yang semakin bertambah dengan hati yang semakin tua.

Saya ingin usia bertambah, tetapi hati tetap hidup.

Tetap ingin belajar.

Tetap mudah mengagumi kebaikan Tuhan.

Tetap bisa tertawa karena hal-hal sederhana.

Tetap punya keberanian untuk memulai lagi.

Tetap bisa mengasihi meskipun pernah terluka.

Dan tetap memilih damai ketika sebenarnya kita punya banyak alasan untuk marah.

Mungkin inilah arti sebenarnya dari “looking younger than your age.”

Bukan berarti kita harus terlihat dua puluh tahun lebih muda.

Tetapi ketika orang bertemu dengan kita, mereka merasakan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh skincare apa pun:

hati yang ringan, jiwa yang damai, dan sukacita yang belum kehilangan kehidupan.

Usia akan terus berjalan.

Kerutan mungkin akan datang.

Rambut mungkin akan berubah warna.

Tubuh mungkin tidak lagi sekuat dulu.

Tetapi jangan biarkan hati kita ikut menjadi tua.

Biarlah tubuh bertambah usia, tetapi hati semakin matang, semakin damai, semakin penuh kasih, dan semakin hidup di dalam Tuhan.

Mungkin itulah kecantikan yang sesungguhnya.

Dan kecantikan seperti itu tidak mengenal usia.

“Beautiful young people are accidents of nature, but beautiful old people are works of art” – Eleanor Roosevelt.

“Menjadi muda dan cantik adalah anugerah alam, tetapi menjadi indah di usia tua adalah sebuah karya seni.”
– Eleanor Roosevelt.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Mungkin rahasia tetap muda bukan terletak pada bagaimana kita merawat wajah, tetapi bagaimana kita menjaga hati agar tidak kehilangan sukacita.”

“Perhaps the secret to staying young is not how we care for our face, but how we guard our hearts from losing their joy.” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 4 5 336