Category : Articles

Articles

JANGAN BUKA CELAH…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

JANGAN BUKA CELAH…

Yohanes 14:21 AMPC
“Orang yang memiliki perintah-perintah-Ku dan memeliharanya adalah orang yang mengasihi Aku; dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku akan mengasihi dia dan akan menunjukkan diri-Ku kepadanya. [Aku akan membiarkan diri-Ku terlihat jelas olehnya dan menjadikan diri-Ku nyata baginya.]”

Mengapa kesembuhan belum termanifestasi dan berkat seolah tidak mengalir, padahal kita sudah memperkatakan Firman Tuhan?

Firman adalah sumber kehidupan kita.

Amsal 4:20-22 berkata,
“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku… Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.”

Karena itu kita memperkatakan ayat-ayat kesembuhan, kelimpahan, perlindungan, dan janji-janji Tuhan. Kita merenungkannya sampai Firman memenuhi hati dan memperbarui pikiran kita.

Tetapi jangan berhenti di sana.

Setelah memperkatakan Firman, belajarlah diam dan dengarkan tuntunan Roh Kudus.

Roma 8:14 berkata, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”

Mungkin kita sedang percaya Tuhan untuk kesembuhan, tetapi Roh Kudus mengingatkan supaya beristirahat. Kita percaya untuk kelimpahan, tetapi Dia menunjukkan keputusan finansial yang harus diperbaiki. Kita berdoa agar keadaan berubah, tetapi Roh Kudus justru menunjukkan sikap hati yang perlu dibereskan.

Salah satu hal yang sering dianggap sepele adalah strife: pertengkaran, perselisihan, iri hati, dan kepahitan.

Yakobus 3:16 berkata,
“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”

Perhatikan: every evil work.

Strife bukan perkara kecil.

Bukan berarti Tuhan berkata, “Karena kamu bertengkar, Aku tidak mau memberkatimu.” Kasih karunia Tuhan tidak diberikan berdasarkan kesempurnaan perilaku kita. Yesus sudah membayar semuanya.

Namun ketika kita terus memelihara strife, kita sedang berjalan berlawanan dengan Firman dan membuka ruang bagi kekacauan. Kita memberi celah kepada iblis untuk memporakporandakan kehidupan kita.

Efesus 4:26-27 memperingatkan,
“Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”

Neither give place to the devil.

Artinya ada place yang jangan kita berikan.

Iblis memang berjalan berkeliling seperti singa yang mengaum mencari orang yang dapat ditelannya. Tetapi 1 Petrus 5:9 tidak menyuruh kita takut kepadanya. Justru dikatakan,

“Lawanlah dia dengan iman yang teguh.”

Jadi jangan hidup dengan kesadaran bahwa setan selalu mengawasi kita. Hiduplah dengan kesadaran bahwa Tuhan ada di dalam kita dan kita memiliki otoritas di dalam Kristus.

Musuh bukan pusat perhatian kita. Kristuslah pusat perhatian kita.

Ada orang berkata, “Kalau hidup kita mulus-mulus saja, mungkin karena kita berjalan searah dengan setan sehingga tidak perlu diganggu.”

Kita perlu berhati-hati dengan pemikiran seperti itu.

Yesus memang berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)

Tetapi kehidupan yang damai bukan bukti bahwa seseorang berjalan bersama setan. Amsal 3:17 justru menggambarkan jalan hikmat sebagai “jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera.”

Yang perlu kita lakukan bukan mencari-cari serangan musuh, tetapi menutup setiap celah dan hidup selaras dengan Firman.

Salah satu cara terpenting adalah walking in love.

Galatia 5:6 mengatakan,
“Faith which worketh by love.”

Iman bekerja melalui kasih.

Walking in love bukan harga yang kita bayar supaya Tuhan mau memberkati kita. Kita berjalan dalam kasih karena itulah natur kehidupan baru kita di dalam Kristus.

Ketika hati bebas dari strife, kepahitan, dan iri hati, energi kita tidak habis untuk memadamkan kebakaran yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Energi, waktu, dan perhatian kita dapat dipakai untuk mengerjakan apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Itulah kehidupan yang efektif.

Bukan sibuk melawan setan sepanjang hari, tetapi sibuk berjalan bersama Tuhan.

Firman memenuhi hati kita.
Roh Kudus memimpin langkah kita.
Kasih menentukan respons kita.
Dan kita menolak memberikan tempat kepada musuh.

Ketika hidup semakin selaras dengan Firman, kita semakin bebas menikmati apa yang sudah Tuhan sediakan dan semakin efektif menjadi terang dan garam dunia.

Jadi setelah memperkatakan janji Tuhan, jangan hanya bertanya,

“Kapan manifestasinya?”

Tanyakan juga,

“Roh Kudus, apa langkahku selanjutnya?”

Lalu dengarkan.

Ketika Dia menunjukkan sesuatu, lakukan.

Firman memberi arah. Roh Kudus memimpin langkah. Kasih menjaga jalan kita tetap bersih.

“Walking in love is the way to victory.” -Kenneth E. Hagin.

“Berjalan dalam kasih adalah jalan menuju kemenangan.”- Kenneth E. Hagin.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Musuh tidak selalu membutuhkan pintu yang terbuka lebar. Sebuah celah cukup. Tutup dengan kasih, jaga dengan Firman.”

“The enemy doesn’t always need a wide-open door. A foothold is enough. Close it with love, guard it with the Word.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Terlalu Cepat Menyebutnya Malapetaka…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Jangan Terlalu Cepat Menyebutnya Malapetaka…

“The secret of overcoming is to see Jesus in everything that happens in our lives.”

“Rahasia untuk menang adalah melihat Tuhan di dalam segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita.”— David Wilkerson

Saya suka pemikiran ini.

Tetapi ada satu hal penting yang perlu kita pahami.

Melihat Tuhan dalam segala sesuatu bukan berarti segala sesuatu berasal dari Tuhan.

Tuhan itu baik. Dia bukan sumber malapetaka, penyakit, kehancuran atau berbagai hal buruk yang terjadi dalam kehidupan kita.

Namun ketika sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi, kita mempunyai pilihan: terus menatap masalah sampai ketakutan menguasai kita, atau mengarahkan mata kepada Tuhan dan bertanya,

“Tuhan, bagaimana Engkau melihat keadaan ini? Tunjukkan kepadaku jalan keluarnya.”

Ini bukan denial.

Ini iman.

Salah seorang anak saya mempunyai bisnis. Dalam perjalanan membangun bisnis tersebut, ada seorang investor yang tiba-tiba memutuskan untuk keluar.

Mendadak.

Tentu mengagetkan.

Kalau hanya melihat keadaan saat itu, mudah sekali menganggapnya sebagai masalah besar. Investor keluar berarti modal berkurang, dukungan berubah, dan berbagai rencana mungkin harus disusun kembali.

Tetapi saya suka respons anak saya.

Ia tidak tenggelam dalam kekecewaan. Ia memilih berpikir positif dan percaya,

“Pasti ada sesuatu yang baik yang bisa terjadi dari semua ini.”

Bukan berarti keluarnya investor itu dianggap berasal dari Tuhan.

Bukan pula pura-pura mengatakan semuanya baik-baik saja.

Tetapi ia memilih tidak membiarkan kejadian hari ini menentukan bagaimana ia memandang masa depannya.

Beberapa bulan berlalu.

Suatu hari mantan investor tersebut menghubunginya kembali.

Kali ini bukan untuk kembali menjadi investor.

Ia ingin melakukan sebuah kegiatan sosial dan memberikan sumbangan dalam jumlah cukup besar. Karena bisnisnya bergerak di bidang yang berbeda, ia membutuhkan produk yang kebetulan memang diproduksi oleh perusahaan anak saya.

Akhirnya ia membeli produk tersebut untuk dibagikan.

Dan karena produk itu berasal dari perusahaan anak saya, brand perusahaan anak saya tercetak besar-besar di sana.

Ketika mendengarnya saya langsung berpikir,

Lho… ini namanya promosi dibayari orang lain!

Ha… ha…

Orang yang beberapa bulan sebelumnya keluar dari bisnisnya, sekarang justru mengeluarkan uang sendiri untuk membeli produknya sekaligus memperkenalkan brand anak saya kepada lebih banyak orang.

Mak jleb!

Saya kembali belajar sesuatu:

Jangan terlalu cepat memberi nama “malapetaka” kepada sebuah kejadian ketika ceritanya belum selesai.

Kita baru membaca satu halaman.

Tuhan melihat seluruh buku.

Sering kali masalah terbesar kita bukan hanya apa yang terjadi, tetapi kesimpulan yang terlalu cepat kita buat tentang apa yang terjadi.

Pintu tertutup.

“Wah, habislah saya.”

Seseorang meninggalkan kita.

“Berarti semuanya gagal.”

Rencana berubah.

“Masa depan saya berantakan.”

Belum tentu.

Don’t put a period where God may only be putting a comma.

Jangan menaruh titik pada cerita yang mungkin baru sampai koma.

Apa yang hari ini terlihat sebagai kehilangan belum tentu berakhir sebagai kerugian.

Apa yang tampaknya seperti pintu tertutup belum tentu berarti perjalanan berhenti.

Dan sesuatu yang hari ini membuat kita bertanya, “Kok bisa begini?”, beberapa bulan kemudian mungkin membuat kita tersenyum,

“Oh… ternyata begini ceritanya.”

Di sinilah mengenal Tuhan menjadi sangat penting.

Ketika kita mengenal karakter-Nya, kita tidak menilai kebaikan Tuhan berdasarkan keadaan.

Keadaan berubah.

Tuhan tidak.

Karena itu overcoming tidak selalu dimulai ketika masalah kita selesai.

Kadang kemenangan dimulai di tengah masalah, ketika cara kita melihatnya berubah.

Kita berhenti bertanya dengan ketakutan, “Bagaimana kalau semuanya berantakan?”

Dan mulai berkata,

“Saya memang belum tahu bagaimana akhirnya, tetapi saya tahu siapa Tuhan saya.”

Ada masalah yang perlu kita lawan dengan iman.

Ada keputusan yang membutuhkan wisdom.

Ada pintu yang perlu diketuk.

Ada pula keadaan yang perlu kita serahkan kepada Tuhan sambil tetap melakukan bagian kita.

Faith bukan duduk diam menunggu keajaiban.

Faith adalah tetap berjalan bersama Tuhan ketika kita belum melihat keseluruhan gambarnya.

Dan setiap pengalaman, baik maupun buruk, dapat menjadi kesempatan untuk membuat kita naik level, semakin bijaksana dan semakin mengenal Tuhan.

Bukan karena semua pengalaman berasal dari-Nya.

Tetapi karena apa pun yang terjadi, Tuhan sanggup bekerja bersama kita dan mengubahnya menjadi kebaikan bagi masa depan kita.

Jadi kalau hari ini sesuatu berjalan berbeda dari rencana, jangan buru-buru panik.

Jangan cepat memberi label gagal.

Serahkan kepada Tuhan.

Minta hikmat-Nya.

Lakukan bagian kita.

Tetap percaya kepada karakter-Nya.

Lalu terus berjalan.

Karena bisa jadi sesuatu yang hari ini kita tangisi sebagai kehilangan, suatu hari justru membuat kita tersenyum dan berkata,

“Untung saya tidak menyerah ketika ceritanya baru setengah jalan.”

“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards.” – Steve Jobs.

“Kita tidak dapat menghubungkan titik-titik kehidupan dengan melihat ke depan; kita baru dapat melihat hubungannya ketika menoleh ke belakang”.- Steve Jobs.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Jangan menilai masa depan dari satu kejadian hari ini. Cerita yang belum selesai belum layak diberi kesimpulan.”

“Don’t judge your future by one event today. An unfinished story doesn’t deserve a final conclusion.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Punya Emas, Tapi Tidak Ada Toko! oh…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Punya Emas, Tapi Tidak Ada Toko! oh…

Kadang saya merenungkan perjalanan bangsa Israel dan Tuhan itu luar biasa.

Bayangkan, mereka keluar dari Mesir setelah mengalami perbudakan dan penindasan selama beberapa generasi. Tetapi mereka tidak keluar sebagai rombongan budak miskin yang tidak mempunyai apa-apa.

Sebelum mereka pergi, Tuhan menyuruh bangsa Israel meminta barang-barang perak, emas dan pakaian kepada orang Mesir.

Dan orang Mesir memberikannya!

Keluaran 12:35-36 bahkan mengatakan bahwa dengan cara itu mereka “merampasi orang Mesir.”

Wow!

Setelah bekerja sebagai budak bertahun-tahun, mereka keluar membawa kekayaan.

Seolah-olah upah yang selama ini tidak mereka nikmati dibayar sekaligus ketika mereka meninggalkan Mesir.

Tetapi kemudian Tuhan membawa mereka ke…

padang gurun.

Nah, di sinilah menurut saya menarik.

Mereka punya emas.

Punya perak.

Punya barang-barang berharga.

Tetapi…

mau shopping di mana?

Ha… ha….

Tidak ada mall.

Tidak ada restoran.

Tidak ada supermarket.

Tidak ada marketplace.

Mendadak emas yang mereka bawa tidak bisa menghasilkan air ketika haus dan tidak bisa menciptakan makanan ketika lapar.

Tuhan sedang memperlihatkan sesuatu yang sangat penting:
Kekayaan adalah berkat, tetapi kekayaan bukan Sumber.

Di Mesir mereka mengenal sistem yang menyediakan kebutuhan melalui kerja keras sebagai budak.

Di padang gurun mereka harus belajar mengenal Tuhan sebagai Sumber mereka.

Ketika panas, ada tiang awan.

Ketika malam, ada tiang api.

Ketika lapar, manna turun dari langit.

Dan manna pun mempunyai aturan supernatural yang unik.

Hari biasa, kalau disimpan sampai besok, manna menjadi busuk.

Tetapi menjelang Sabat?
Mereka mengumpulkan dua kali lipat dan manna yang sama bisa bertahan sampai keesokan harinya.

Tuhan seperti sedang berkata,
“Pemeliharaanmu tidak bergantung pada manna. Pemeliharaanmu bergantung kepada-Ku.”

Lebih dahsyat lagi, Mazmur 105:37 mencatat bahwa ketika Tuhan membawa mereka keluar, tidak ada yang lemah di antara suku-suku mereka.

Ulangan 8:4 mengatakan pakaian mereka tidak menjadi usang dan kaki mereka tidak membengkak selama empat puluh tahun. Ulangan 29:5 bahkan menyebut pakaian dan kasut mereka tidak menjadi usang.

Serba supernatural.

Masalahnya, bangsa Israel lebih cepat keluar dari Mesir daripada Mesir keluar dari pikiran mereka.

Tubuh mereka sudah bebas.
Hati mereka masih sering menoleh ke belakang.
Setiap menghadapi kesulitan, mereka mengeluh.

Makanan?
Ingat Mesir.

Kesulitan?
Mesir lagi.

Menghadapi musuh?
Ingin kembali ke Mesir.

Padahal di depan mereka ada Tanah Perjanjian yang berlimpah susu dan madu.

Ulangan 1:2 memberi detail yang menyentak: perjalanan dari Horeb menuju Kadesh-Barnea melalui pegunungan Seir sebenarnya hanya sebelas hari perjalanan.
Namun generasi yang keluar dari Mesir akhirnya berputar-putar di padang gurun selama puluhan tahun.

Mak jleb!

Ternyata jarak menuju janji Tuhan tidak selalu menjadi masalah terbesar. Cara berpikir kitalah yang kadang membuat perjalanan menjadi sangat panjang.
Lalu muncul generasi berikutnya.
Yosua memimpin mereka memasuki Tanah Perjanjian.

Apa pesan Tuhan kepadanya?

Yosua 1:8.
Renungkan Firman itu siang dan malam.
Perkatakan.
Lakukan dengan hati-hati apa yang tertulis di dalamnya.
Barulah perjalananmu berhasil dan engkau beruntung.
Mereka tetap menghadapi peperangan.
Tanah Perjanjian bukan tanah tanpa musuh.
Tetapi berulang kali mereka menyaksikan kemenangan yang tidak mungkin dihasilkan oleh kekuatan manusia semata.

Tembok Yerikho runtuh setelah mereka mengelilinginya dan bersorak.

Dalam peperangan lain, Tuhan mengacaukan musuh, bahkan batu-batu besar dari langit menghantam mereka.

Tuhan yang berperang bagi umat-Nya.

Dan saya rasa di sinilah pelajarannya bagi kita.

Kita bahkan memiliki sesuatu yang generasi Israel di padang gurun tidak miliki seperti kita sekarang: Firman Tuhan yang tertulis lengkap di tangan kita.

Kita bisa membacanya.

Merenungkannya.

Memperkatakannya.

Dan menyelaraskan cara berpikir serta tindakan kita dengannya.

Jangan sampai memiliki Alkitab tetapi cara berpikir kita tetap seperti budak yang baru keluar dari Mesir.

Tuhan bukan sedang mengajar kita memandang rendah kekayaan. Justru Dialah yang memberi kemampuan untuk memperoleh kekayaan.

Tetapi jangan pernah menukar Pemberi dengan pemberian-Nya.

Emas bisa menjadi alat.

Tetapi emas bukan sumber.

Sumber kita tetap Tuhan.

Dan ketika kita mengenal Sang Sumber, padang gurun sekalipun tidak mempunyai kuasa untuk menentukan masa depan kita.

Karena tujuan Tuhan bukan membuat kita berputar-putar di padang gurun.

Ada Tanah Perjanjian di depan. Saatnya memperbarui pikiran, mempercayai Firman, lalu berjalan masuk.

“What comes into our minds when we think about God is the most important thing about us.” – A.W. Tozer.

“Apa yang muncul dalam pikiran kita ketika memikirkan Tuhan adalah hal terpenting tentang diri kita.” – A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Kadang yang memperpanjang perjalanan bukan jauhnya tujuan, tetapi cara berpikir lama yang kita bawa menuju masa depan.”

“Sometimes it is not the distance to our destination that prolongs the journey, but the old mindset we carry into the future.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Xi’an: Suatu Hari, Kita Semua Menjadi Cerita… Lalu Apa Cerita kita?*

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Xi’an: Suatu Hari, Kita Semua Menjadi Cerita… Lalu Apa Cerita kita?*

Ada perjalanan yang membuat kita terkagum-kagum melihat pemandangan. Ada yang membuat kita belajar sejarah. Ada pula yang akhirnya mengingatkan bahwa hidup ini sebaiknya jangan terlalu serius.

Perjalanan kali ini memberi saya semuanya.

Kami mengunjungi Hukou Waterfall, air terjun spektakuler di Yellow River, sungai terpanjang kedua di China dan salah satu sungai terpanjang di dunia.

Yellow River bermula dari dataran tinggi Qinghai, lalu mengalir lebih dari 5.000 kilometer sebelum akhirnya bermuara ke laut. Sungai ini dijuluki “Mother River of China” karena di sepanjang alirannya lahir dan berkembang berbagai pusat peradaban China kuno.

Menariknya, di Hukou aliran sungai yang sangat lebar tiba-tiba menyempit drastis. Bayangkan volume air sebesar itu dipaksa melewati celah yang jauh lebih kecil.

Hasilnya?

Bergemuruh!

Air berwarna kuning kecokelatan menerjang bebatuan dengan kekuatan dahsyat. Kabut air beterbangan, dan ketika sinar matahari mengenainya, pelangi muncul di atas air.

Ketika sinar matahari menembus miliaran tetesan air kecil dari kabut tersebut, cahaya mengalami pembiasan (refraction) dan pemantulan (reflection), lalu terurai menjadi spektrum warna pelangi.

Indah sekali.

Namanya Hukou, yang berarti “mulut teko”. Memang seperti air dalam teko raksasa yang tiba-tiba dituangkan melalui mulut yang sempit.

Dan di tengah pemandangan sedahsyat itu, apa yang kami lakukan?

Berfoto!

Mei Tjien berfoto mengenakan baju tradisional merah, naik keledai berhias bunga warna-warni. Hahaha….
P. Indra bikin AI foto saya seperti Mei Tjien. Kreatif! Hahaha….

Kalau sudah sampai jauh-jauh ke China, sekalianlah membuat kenangan.

Hari berikutnya lebih santai. Jalan-jalan di sekitar Muslim Quarter, -yang banyak dihuni oleh muslim dari Suku Hui -, shopping dan tentu saja… makan.

Kami mencicipi Hongliu Rouchuan, sate domba khas yang ditusuk menggunakan batang pohon Hongliu atau tamarisk.
Saat dipanggang, batang kayunya memberi aroma khas sekaligus membantu mengurangi bau prengus daging.
Tusukannya yang tebal memungkinkan potongan daging dibuat besar, empuk dan juicy.

Keesokan harinya, Ayam Hulu , tidak kalah keren. Ayam khas Chang’an yang dimasak tiga kali: direbus, dikukus, lalu digoreng utuh.
Hasilnya mantap: ayam menggembung, kulitnya garing, tetapi dagingnya lembut dan juicy.
Pantas menjadi salah satu kuliner legendaris Xi’an.

“Eh, ingat gak ayam yang kita makan waktu di Xi’an?”

Hahaha….

Perjalanan memang bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi. Sering kali justru rasa, aroma, tawa dan kejadian kecil yang tinggal paling lama dalam ingatan.

Hari terakhir membawa kami kembali menembus waktu.
Kami mengunjungi Small Wild Goose Pagoda, Big Wild Goose Pagoda dan Xi’an Museum.

Small Wild Goose Pagoda membawa kami kembali ke zaman Dinasti Tang. Berdiri di kompleks Jianfu Temple, pagoda ini dibangun pada awal abad ke-8 pada masa Kaisar Zhongzong dan berkaitan erat dengan perkembangan Buddhisme serta penerjemahan kitab-kitab yang dibawa dari India. Lebih dari 1.300 tahun berlalu, bangunan ini masih berdiri, menjadi saksi bagaimana kejayaan sebuah zaman akhirnya berubah menjadi sejarah.

Xi’an dahulu bernama Chang’an
, salah satu ibu kota terpenting dalam sejarah China sekaligus titik awal Jalur Sutra kuno.

Big Wild Goose Pagoda
dibangun pada zaman Dinasti Tang dan erat kaitannya dengan Xuanzang, biksu terkenal yang melakukan perjalanan panjang ke India untuk mempelajari ajaran Buddha dan membawa kembali berbagai manuskrip ke China.

Lalu beberapa jam kemudian kami sudah berada di dunia yang sama sekali berbeda.
Shopping di Joy Mall dan Momo Park.
Dari pagoda kuno ke pusat perbelanjaan modern.

Dari peninggalan Dinasti Tang ke Museum Coklat, lalu makan es krim berbentuk panda yang lucu.
Bahkan P. Indra ikut menikmati es krim panda. Ini baru layak diabadikan!

Belum selesai.

Ada naga raksasa, berbagai instalasi yang sangat Instagrammable, patung babi yang membuat kami berhenti untuk berfoto, sampai Sun Go Kong raksasa bak anak-anak kecil…

China memang jago membuat sesuatu menjadi larger than life.

Malam hari, Xi’an berubah lagi. Lampu-lampu menyala, bangunan kuno bermandikan cahaya keemasan, orang-orang berjalan memakai kostum tradisional. Berfoto bak pendekar silat dengan background Xi’an Bell Tower.

Ancient China bertemu modern China.

Dan entah mengapa, setelah melihat semuanya, saya justru berpikir tentang waktu.
Apalagi perjalanan kali ini bertepatan dengan ulang tahun Kristina Roberts.
Seru… berkesan penuh canda dan tawa.

Happy Birthday Kristina sayang….

Kami merayakannya bersama. Ada kue, dinner rame-rame, foto bersama dan tentu saja suasana yang meriah.Kadang tidak penting ke mana kita pergi tetapi kebersamaan yang tercipta yang membuatnya berharga.

Pada akhirnya, tempat boleh luar biasa, tetapi perjalanan menjadi jauh lebih berharga karena dengan siapa kita menjalaninya.

Perjalanan ini akhirnya ditutup dengan sesuatu yang sangat sederhana: makan bersama, merayakan ulang tahun seorang sahabat, shopping, tertawa, menikmati es krim panda dan mengabadikan berbagai momen konyol.

Besok kami pulang ke Indonesia.
Tetapi hati saya pulang membawa satu pengingat:

Hidup memang serius, tetapi jangan sampai terlalu sibuk membangun kehidupan sampai lupa menikmatinya.

Bekerjalah. Bangunlah sesuatu yang bernilai. Tinggalkan jejak yang baik.
Tetapi jangan lupa tertawa.
Nikmati teman-teman yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa lama kita berada di dunia.

Tetapi tentang bagaimana kita mengisinya, dengan siapa kita menjalaninya, dan cerita apa yang tertinggal setelah kita pergi. Dan biarkan kasih Tuhan memancar melalui kepribadian kita. Hidup menjadi lebih nikmat, karena kita memberinya rasa bak ‘Garam Dunia’.

“Life is what happens to you while you’re busy making other plans.” — John Lennon.

“Hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sedang sibuk membuat berbagai rencana.” — John Lennon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #Xi’an #China #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Suatu hari foto-foto kita akan menjadi kenangan, barang-barang kita berpindah tangan, dan nama kita menjadi cerita. Karena itu jangan hanya membangun sesuatu untuk dimiliki. Bangunlah kehidupan yang layak dikenang.”

“One day our photos will become memories, our possessions will change hands, and our names will become stories. So don’t merely build things to own. Build a life worth remembering.”
— Yenny Indra

Read More
Articles

Huashan: Gara-Gara Medali, Akhirnya Sampai Puncak!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Huashan: Gara-Gara Medali, Akhirnya Sampai Puncak!

Hari ini perjalanan kami menuju Mount Hua atau Huashan.

Mendengar nama Huashan, saya langsung teringat P. Irsan, sohib saya yang paling cinta cerita pendekar-pendekar Tiongkok.

Ha… ha….

Bagi penggemar cerita silat, nama Huashan Pai tentu tidak asing. Dalam dunia persilatan—Huashan sering muncul sebagai salah satu perguruan silat terkenal.

Dulu hanya membaca atau mendengar namanya dalam cerita.
Hari ini kami benar-benar berada di Huashan.

Huashan berarti Flower Mountain. Gunung ini memiliki lima puncak utama yang jika dilihat susunannya menyerupai kelopak bunga. Huashan juga merupakan salah satu dari Lima Gunung Suci Besar Tiongkok dan terkenal dengan formasi granitnya yang menjulang dramatis.

Tujuan kami adalah West Peak, yang tingginya sekitar 2.086 meter. Puncak tertinggi Huashan sendiri adalah South Peak, sekitar 2.155 meter.

Untuk mencapainya ada berbagai cara.
Yang jago dan punya tenaga berlebih, silakan hiking.

Kami?

Shuttle bus, coaster, cable car….

Wkwkwk….

Tetap sampai gunung kok!

Perjalanan dengan West Peak Cable Car justru menjadi pengalaman tersendiri. Gondola meluncur di antara gunung-gunung granit yang bertumpuk-tumpuk sejauh mata memandang.

Cantik sekali!

Kadang gondola naik tajam, kemudian turun, lalu naik lagi sehingga lintasannya terlihat seperti huruf W.

Di beberapa bagian rasanya seperti sedang menggantung di udara dengan jurang menganga jauh di bawah.
Yang membuat saya terkagum-kagum, untuk membangun jalur ini mereka bahkan membuat stasiun cable car menembus gunung granit.
Bayangkan bagaimana membangunnya di medan seperti itu.

Orang Tiongkok memang jago membuat tempat yang tadinya sulit dijangkau menjadi accessible bagi begitu banyak orang.

Setelah turun dari cable car, kami tiba di area sebuah kuil, tempat para turis berkumpul, beristirahat dan makan sebelum melanjutkan perjalanan.

Awalnya P. Indra sudah mantap.
Cukup sampai sini saja.
Kami pun memesan ayam goreng dan menikmatinya dengan santai.

Ngapain capek-capek naik ke atas?

Ha… ha….

Di restoran itu kami bertemu Amelia yang ternyata juga sedang makan.
Setelah ngobrol, akhirnya kami bertiga sepakat,

“Naik sedikit yuk… cari spot foto yang cantik.”

Bukan mau ke puncak lho.

Cuma cari foto!

Wkwkwk….

Begitu keluar dari restoran, kami bertemu Siekah yang menggunakan semacam robot atau exoskeleton pendukung kaki untuk membantu mendaki. Katanya sewanya sekitar 200 yuan.

Menarik sekali.

Kami pun dipinjami untuk mencobanya bergantian.

P. Indra yang pertama mencoba.

Wuih….

Enteng lho!

Ketika melangkah, kaki seperti mendapat tambahan tenaga yang mendorong ke atas.

P. Indra rupanya keasyikan mencoba.

Jalan….

Naik….

Terus naik….

Tanpa terasa, sudah hampir setengah perjalanan!

Ha… ha….

Lha, kalau sudah sampai situ, masa balik?

Kemudian gantian saya dan Amelia mencobanya sambil terus mendaki.

Lucu juga. Awalnya kami bertiga sama sekali tidak berniat menuju puncak. Hanya mau naik sedikit mencari spot foto yang bagus.

Eh… robot membuat kami keterusan naik.

Di tengah perjalanan itulah kami bertemu dr. Jusuf yang sedang turun dari puncak.

Dan perhatian saya langsung tertuju pada sesuatu yang tergantung di lehernya.

Medali emas!

Lho?

Ada medalinya?

Wow….

Mau ah!

Ha… ha….

Mendadak tujuan berubah.

Tadi cuma mau foto.

Sekarang harus sampai puncak!

Ternyata manusia memang unik.

Pemandangan indah belum tentu berhasil menyuruh naik.

Robot berhasil membawa kami setengah jalan.

Medali menyelesaikan sisanya.

Wkwkwk….

Akhirnya kami bertiga melanjutkan pendakian melewati ratusan anak tangga menuju puncak.

Robot atau tidak, anak tangganya tetap harus dilewati satu demi satu.

Dan akhirnya….

Yeaaayy…. sampai puncak!

Lulus!

Ha… ha….

Di atas ada kuil lagi, dengan pemandangan pegunungan granit berlapis-lapis yang luar biasa indah.

Dan tentu saja….

MEDALI!

Kami memesan medali dan masing-masing diberi nama.

Entah mengapa benda kecil itu terasa sangat berharga setelah melewati ratusan anak tangga.

Bukan soal harga medalinya.
Tetapi ceritanya.
Melihat teman berhasil.
Ikut termotivasi.
Dan akhirnya sampai.

Di situlah saya kembali merasakan salah satu kenikmatan traveling bersama teman-teman.
Kita sering berjalan lebih jauh karena ada orang lain yang berjalan bersama kita.

Ketika satu orang semangat, yang lain ikut.
Ketika melihat teman sudah berhasil, muncul pikiran,
Kalau dia bisa, masa saya tidak?
Dan tanpa terasa kita melakukan sesuatu yang tadinya bahkan tidak masuk rencana.

Ternyata teman seperjalanan bukan hanya membuat perjalanan lebih menyenangkan.
Kadang mereka membuat kita menemukan bahwa kita mampu berjalan lebih jauh daripada yang kita kira.

Pemandangan di puncak memang menakjubkan. Gunung granit berlapis-lapis yang cantik, berdiri kokoh di antara pepohonan hijau…
Ada Huashan cafe pula…
Cantiiik….

Ada satu lagi kreativitas orang Tiongkok yang membuat kami tertawa.

Mereka menjual es krim berbentuk Huashan.

Tentu saja kami beli.

Lalu es krimnya dipegang di depan gunung asli….

Foto!

Gunung ketemu gunung.

Ha… ha….

Perjalanan turun pun tidak kalah seru.

Naik coaster ketika berangkat sudah menyenangkan, tetapi saat pulang karena jalurnya menurun terasa jauh lebih cepat.

Wuiiih….

Meluncur!

Setelah seharian naik-turun gunung, cable car, tangga, robot, medali dan coaster, resto siap menyambut kami dengan masakan Xi’an yang lezat.

Untungnya makanan Xi’an cocok sekali dengan lidah Indonesia.

Enak!

Dan ternyata hari belum selesai.

Hotel kami dikelilingi toko-toko dan tempat makan.

Malam hari?

Shopping time!

Ha… ha….

Mei Tjien, Bu Ketum kami, memang pintar memilih lokasi hotel. Pulang tour seharian, tinggal keluar hotel dan kehidupan malam Xi’an sudah menunggu.

Dan…. kami kembaran beli jaket Teddy Bear! Tunggu cerita selanjutnya besok ya..

Life is good.
Praise The Lord!

It is not the mountain we conquer, but ourselves.” – Edmund Hillary.

“Bukan gunung yang kita taklukkan, melainkan diri kita sendiri.” – Edmund Hillary.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Puncak yang tadinya tidak kita rencanakan, kadang menjadi cerita yang paling kita banggakan.”

“Sometimes the summit we never planned to reach becomes the story we’re most proud to tell.” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 4 336