Category : Articles

Articles

Cah Sedes ’80: Srawung Maneh, Ngraketake Paseduluran.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Cah Sedes ’80: Srawung Maneh, Ngraketake Paseduluran.

Ada sesuatu yang istimewa ketika orang-orang yang pernah melewati masa remaja bersama dipertemukan kembali setelah puluhan tahun.

Bukan sekadar reuni. Rasanya seperti membuka kembali sebuah album lama. Tiba-tiba suara tawa, panggilan akrab, cerita masa sekolah, bahkan kebiasaan kecil yang sudah puluhan tahun berlalu terasa hidup kembali.

SS adalah singkatan dari SMA Sedes Sapientiae Semarang, sekolah putri tempat kami bertumbuh pada masa itu.

Kini kami kembali berkumpul dalam Reuni SS’80, dengan tema yang manis sekali:

Cah Sedes
DELAPAN PULUH
SRAWUNG MANEH, NGRAKETAKE
PASEDULURAN

Srawung maneh berarti kembali berkumpul, kembali bergaul. Ngraketake paseduluran berarti semakin merekatkan persaudaraan.

Dan rasanya memang tepat sekali.

Sebagian besar teman berkumpul di Semarang. Ada yang datang dari Jakarta, Bandung dan berbagai kota lainnya. Bahkan Mami Lian terbang jauh dari Los Angeles dan Conny datang dari Sydney.

Yang membuat reuni ini semakin istimewa, ternyata ada beberapa teman yang tidak pernah berjumpa lagi sejak lulus SMA.
Artinya…
46 tahun!
Wuih…

Tidak heran ketika akhirnya bertemu kembali, ada yang spontan bertanya,
“Masih kenal aku nggak?”
Hahaha…

Kami pun saling memperhatikan wajah masing-masing. Ada yang berubah menjadi ibu-ibu anggun dan cantik. Ada pula yang wajahnya masih terasa seperti ketika SMA, hanya sekarang sedikit lebih “berisi”.

Yang pasti, semua tetap membawa cerita.

Salah satunya Wati, yang dulu jago memimpin senam saat SMA. Wati juga bercerita bahwa salah satu tugasnya di kelas adalah mencubit saya kalau saya mulai mengantuk!

Wkwkwk…

Begitulah. Teman yang dulu mencubit kita karena mengantuk ternyata tetap menjadi bagian dari cerita yang membuat kita tertawa puluhan tahun kemudian.

Dan tentu saja ada cerita tentang Mami Lian.
Sejak awal masuk SMA, ia sudah dikenal sangat keibuan. Walaupun anak bungsu, naluri keibuannya luar biasa. Kalau ada teman yang sakit, permintaannya sering kali,

“Temani aku ke dokter, Mami.”

Jadilah saya memanggilnya Mami. Panggilan itu kemudian menular ke seluruh teman.

Dan sekarang Mami Lian benar-benar menjadi Mami jagoan!
Bayangkan tinggal di Amerika Serikat tetapi bisa memasak gudeg, rendang, empek-empek, bahkan membuat tape!

Mantap abis!

P. Indra dan saya bergabung dengan rombongan dari Solo. Tujuan pertama kami adalah Rasa Madu Heritage.

Kami sibuk berfoto, berpindah dari satu sudut ke sudut lain sambil berceloteh mengenang masa lalu. Satu foto memunculkan satu cerita, satu cerita mengingatkan cerita lainnya.

Begitulah kalau teman lama berkumpul.

Malamnya, setelah dinner di Kampung Kecil dan merayakan Ultah Siska & Inge, kami berkumpul di Mezzanine Cafe, Hotel Paragon dengan dress code yang unik:
DASTER!
Wuih!

Maka dimulailah pesta foto ibu-ibu.
Begitu ada yang berfoto, yang lain langsung ingin ikut.

“Ini khusus anak asrama!”

Yang bukan anak asrama menyingkir.

“Ini khusus anak A3!”

Yang bukan anak A3 mencari kelompok lain.

“Ini khusus anak kost!”

Yang tidak masuk kategori lagi-lagi minggir.

Gubraaak!

Hahaha…

Lucunya, tidak ada yang tersinggung. Kami malah menertawakan diri sendiri sambil sibuk mencari kelompok yang sesuai.

Giliran foto rame-rame, ada yang menunjukkan 1 jari, 2 jari atau 3 jari artinya ini yang anak A1, A2 atau A3…..
Gayanya Sedesian banget!

Ada 12 suami yang ikut reuni. Tugas mereka?
Menjadi fotografer!

Maklum, para ibu ini sepertinya tidak pernah kehabisan gaya. Depan hotel, taman, lorong, bahkan depan bus yang sedang parkir pun bisa menjadi background foto.

Alamaaak!

Keesokan harinya kami menuju kawasan Kemuning,menikmati jembatan kaca di tengah hamparan kebun teh yang hijau dengan udara pegunungan yang sejuk.
Pemandangannya cantik sekali.

Di sepanjang jalan, tawa canda tak henti-hentinya. Apalagi mendengarkan celotehan Lucy dengan istilah-istilahnya yang kuno ala jaman oma-oma kita.
Ada sepur (kereta api), dayoh(tamu), ulem-ulem (undangan)….dst.
Tawa pun pecah ramai sekali.

Tetapi jembatan kaca ini juga menjadi ujian keberanian. Ada yang benar-benar takut dan bersikeras tidak mau berjalan di atas kaca. Ada yang awalnya takut, tetapi melihat temannya berani, akhirnya ikut melangkah.

Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Akhirnya berhasil!

Bukankah sering kali hidup juga begitu? Kadang kita bukan tidak mampu. Kita hanya perlu melihat seseorang melangkah lebih dahulu untuk membuat kita berani mencoba.

Lunch di Ayam Tim Mbok Iyem, lalu dilanjutkan dengan kegiatan yang memang tidak boleh dilewatkan dalam reuni ibu-ibu:
shopping!

Batik menjadi sasaran. Kalau sudah melihat batik, energi mendadak bertambah.

Malamnya tibalah Gala Dinner dengan dress code kebaya.
Suasana langsung berubah menjadi anggun. Teman-teman tampil cantik dengan kebaya masing-masing. Tetapi setelah beberapa lagu, suasana anggun itu berubah menjadi pesta.

Ada persembahan lagu merdu dari Yaya dan Ridar. Kemudian Polonaise, rock & roll, cha-cha-cha, games lucu, bahkan permainan sambil berjoget.

Lalu tampil line dance yang dipimpin Tjoe Sin bersama Lucy Londo, Kinta, Liez, Sandra, Theresia Biekun, dr. Roestina, dan Sianny.
Wuih cakep!

Gerakan mereka luwes, kompak dan begitu menarik. Melihatnya saja sudah membuat kaki ingin ikut bergerak.

Bapak-bapak pun akhirnya tidak bisa bersembunyi.
Mereka dibagi menjadi dua kelompok dan harus berlomba mengoper karet menggunakan sedotan kepada teman berikutnya, dilanjutkan dengan permainan mengoper bola melewati kepala.

Kelihatannya sederhana.
Tetapi ketika dilakukan oleh para bapak-bapak…
Kami tertawa terbahak-bahak!

Hadiah-hadiah pun berlimpah dibagikan, membuat suasana semakin seru dan meriah.
Malam ini, Mak Tien juga ultah.

Kemudian P. Hery Santoso dan P. She Fung tampil menyanyi sekaligus berjoget. Akhirnya nyaris semua peserta ikut turun berjoget.
Malam itu benar-benar pecah!

Hari ketiga sekaligus hari terakhir, kami menuju Pasar Gede Solo.

Menikmati dawet khas Solo, mencicipi babi pincuk, membeli kerupuk rambak dan berbagai oleh-oleh khas Solo.
Antrean menikmati dawet legendaris Solo bahkan sampai membuat orang-orang kesulitan lewat karena kami beramai-ramai menunggu dilayani.

Hahaha…

Sebagian teman masih sempat berfoto dengan kebaya khas Solo.
Namanya juga ibu-ibu…
Shopping tetap harus masuk agenda!

Lunch terakhir kami nikmati di Adem Ayem, sebelum akhirnya kami kembali ke kota masing-masing.

Tiga hari berlalu begitu cepat.
Namun yang kami bawa pulang bukan hanya foto, batik, oleh-oleh atau kenangan lucu.

Kami membawa kembali sesuatu yang jauh lebih berharga:
persaudaraan.

Ada teman yang baru bertemu lagi setelah 46 tahun. Ada yang datang dari Los Angeles, Sydney, Jakarta, Bandung, Solo, Semarang dan berbagai kota lainnya.
Jarak ternyata tidak mampu menghapus sesuatu yang pernah ditanam bersama.

Cah Sedes tetap Cah Sedes.

Wajah berubah. Usia bertambah. Rambut memutih. Tetapi ketika kami berkumpul, tertawa dan saling menggoda, rasanya seperti kembali menjadi anak-anak SMA.

Mungkin itulah arti srawung maneh, ngraketake paseduluran.
Bukan sekadar bertemu kembali, tetapi menemukan kembali kehangatan yang pernah ada.

Dan semakin panjang perjalanan hidup, semakin kita menyadari bahwa salah satu kekayaan terbesar bukanlah apa yang kita kumpulkan, melainkan siapa yang masih dapat kita peluk, kita ajak tertawa, dan kita syukuri keberadaannya.

Terima kasih untuk Panitia Reuni SS’80 yang telah membuat semua ini terjadi.

Terutama Christina Martini selaku ketua panitia, Yani Astuti sebagai bendahara, serta Tjoe Sin, Eka Lestari, Henny, Hartati, Sandra, Linda, Kinta, Inge Araki, Indrawati, Lily Is, Ratna Susiani, dr. Roestina dan dr. Vivianti.

Terima kasih sudah menyediakan waktu, tenaga, pikiran dan hati untuk mempertemukan kembali kami semua.
Karena pada akhirnya, reuni yang paling indah bukanlah tentang betapa megah acaranya.
Tetapi tentang betapa hangat hati kita ketika pulang.

Cah Sedes, sampai bertemu lagi.
Srawung maneh…
Ngraketake paseduluran.

“In everyone’s life, at some time, our inner fire goes out. It is then burst into flame by an encounter with another human being.” – Albert Schweitzer.

“Dalam kehidupan setiap orang, pada suatu saat api di dalam dirinya dapat meredup. Kemudian api itu kembali menyala oleh perjumpaan dengan orang lain.” – Albert Schweitzer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Read More
Articles, Travelling

Brunei… Kejutan Indah yang Tidak Pernah Kami Rencanakan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Brunei… Kejutan Indah yang Tidak Pernah Kami Rencanakan

Sesungguhnya tidak ada rencana sedikit pun untuk pergi ke Brunei Darussalam.
Tujuan kami sebenarnya hanya Kuching, Malaysia.
Namun seperti biasa, saat P. Indra mempelajari peta perjalanan, tiba-tiba ia berkata,

“Brunei sudah dekat.”

Akhirnya, jadilah kami terbang sekitar 1 jam 15 menit dari Kuching menuju Bandar Seri Begawan.

Begitulah kadang perjalanan hidup.
Kita membuat rencana.
Lalu sebuah kesempatan kecil muncul dan mengubah semuanya.
Dan ternyata, perjalanan yang tidak direncanakan itu justru meninggalkan kenangan yang begitu manis.

Begitu pertama kali menginjakkan kaki di Bandar Seri Begawan, saya langsung merasa seperti kembali ke Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu.

Kota ini tenang.
Tidak banyak gedung tinggi.
Jalan-jalannya tidak padat.
Suasananya jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Kami tinggal di kawasan Gadong, salah satu kawasan yang cukup ramai di Bandar Seri Begawan. Malam hari kami menikmati Gadong Night Market, melihat berbagai makanan lokal yang dijajakan dengan suasana sederhana dan akrab.

Brunei memang negara kecil, tetapi sejarahnya panjang.

Kesultanan Brunei telah ada selama berabad-abad dan pernah menjadi kerajaan yang berpengaruh di kawasan Kalimantan dan Asia Tenggara. Memasuki abad ke-20, penemuan minyak dan gas mengubah perekonomian negeri ini secara besar-besaran.

Namun menariknya, kekayaan itu tidak membuat Bandar Seri Begawan berubah menjadi kota yang penuh gedung pencakar langit.

Brunei tetap terasa tenang.
Dan mungkin justru itulah daya tariknya.

Salah satu pengalaman yang paling menarik adalah mengunjungi Kampong Ayer Cultural & Tourism Gallery.

Kampong Ayer dikenal sebagai salah satu permukiman air terbesar dan tertua di dunia. Rumah-rumah berdiri di atas tiang di atas Sungai Brunei, dihubungkan oleh jembatan-jembatan.

Yang membuat saya kagum, ini bukan sekadar tempat wisata.
Masyarakat benar-benar hidup di sana.
Ada rumah, sekolah, masjid, klinik, toko, bahkan fasilitas pemadam kebakaran.
Kehidupan modern berjalan berdampingan dengan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun.

Kami kemudian mengunjungi Royal Regalia Museum.

Di sini tersimpan berbagai benda yang berkaitan dengan Kesultanan Brunei, termasuk kereta kerajaan, perlengkapan upacara, hadiah kenegaraan, dan berbagai koleksi yang menggambarkan perjalanan panjang kerajaan ini.

Namun suasana Brunei semakin berbeda ketika malam tiba.

Kami mengunjungi Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien.

Kalau siang hari sudah indah, malam hari terasa magis.

Kubah emasnya diterangi cahaya lampu. Bangunan putihnya berdiri anggun di tepi kolam yang tenang, dan pantulannya di permukaan air membuat pemandangan semakin memesona.

Saya berdiri cukup lama hanya untuk menikmati keindahannya.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Jame’ Asr Hassanil Bolkiah, masjid terbesar di Brunei.

Ke-29 kubah emasnya berkilauan diterpa cahaya malam, melambangkan Sultan Brunei yang ke-29, Sultan Hassanal Bolkiah.

Dua masjid.

Dua karakter.

Yang satu terasa klasik dan romantis.

Yang satu megah dan monumental.

Tetapi keduanya sama-sama membuat kami terpukau.

Saya selalu menyukai tempat yang tidak hanya indah untuk difoto, tetapi juga meninggalkan rasa damai setelah kita meninggalkannya.

Dan Brunei memiliki rasa itu.

Namun perjalanan kami belum selesai.

Sebelum meninggalkan Brunei, kami masih memiliki satu tujuan terakhir.

The Empire Brunei.

Begitu bus memasuki kawasan resort ini, saya langsung mengerti mengapa tempat ini begitu terkenal.

Luas kawasan The Empire mencapai sekitar 180 hektare.

Saking luasnya, ke mana-mana kami diantar menggunakan buggy listrik.

Rasanya seperti berada di sebuah kota kecil yang seluruhnya dibuat untuk menikmati liburan.

Bangunan utamanya megah, dengan marmer, pilar-pilar tinggi, dan detail arsitektur yang elegan.

Berbagai restoran tersedia dengan konsep berbeda, dari restoran fine dining, restoran Asia, kafe hingga lounge. Banyak ruang dirancang dengan jendela kaca besar sehingga pemandangan laut dan taman terasa seperti bagian dari interior.

Di luar bangunan utama terbentang lapangan golf 18 hole yang hijau dan luas hingga mengarah ke Laut Cina Selatan.

Ada kolam renang, spa, pusat kebugaran, lapangan tenis, bowling, bioskop, marina, pantai privat, dan berbagai fasilitas rekreasi lainnya.

Tetapi bagi saya, kemewahan terbesar The Empire bukan semua fasilitas itu.

Melainkan ketenangannya.

Sore itu kami berdiri di balkon yang menghadap laut.

Angin bertiup lembut.

Matahari perlahan turun.

Langit berubah dari biru menjadi jingga keemasan, lalu perlahan dihiasi semburat merah muda dan ungu.

Kami sibuk memotret.

Berkali-kali.

Sulit berhenti.

Sunset dari balkon The Empire benar-benar luar biasa cantiknya.

Cahaya matahari yang memantul di permukaan laut membuat seluruh pemandangan terasa hangat dan damai.

Saat itu saya tidak banyak berbicara.

Saya hanya menikmati.

Dan mengucap syukur.

Bukankah sering kali kita mengira kemewahan adalah sesuatu yang mahal?

Padahal mungkin kemewahan yang sesungguhnya adalah memiliki waktu untuk berhenti sejenak.

Menghirup udara segar.

Memandang matahari terbenam.

Menikmati laut yang bersih.

Lalu menyadari bahwa semua keindahan itu adalah sesuatu yang tidak dapat kita ciptakan sendiri.

Begitulah Brunei menutup perjalanan kami.

Kami datang tanpa rencana.

Hanya karena sebuah titik di peta terlihat “sudah dekat”.

Tetapi kami pulang membawa begitu banyak cerita.

Tentang Kampong Ayer.

Tentang sejarah Kesultanan Brunei.

Tentang masjid-masjid yang berkilauan di malam hari.

Tentang kehidupan yang tenang.

Dan tentang sebuah resort megah di tepi laut yang menutup perjalanan kami dengan sunset yang begitu indah.

Bukan hanya karena tempat-tempatnya.

Tetapi karena Brunei mengajarkan saya satu hal sederhana:

Tidak semua perjalanan indah harus direncanakan jauh-jauh hari. Kadang-kadang, kejutan terbaik justru menunggu di jalan yang tidak pernah kita rencanakan.

Dan mungkin…
itulah cara Tuhan memperkaya perjalanan kita.
Kita membuat rencana.
Dia melihat peta yang jauh lebih luas.

“Not all those who wander are lost.” – J.R.R. Tolkien

“Tidak semua orang yang mengembara itu tersesat.” – J.R.R. Tolkien

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Read More
Articles

Tuhan Mengirim Penolong yang Tidak Kita Duga

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Tuhan Mengirim Penolong yang Tidak Kita Duga

Kita sering membayangkan pertolongan Tuhan datang lewat cara besar: mujizat instan, orang penting, atau perubahan drastis. Tapi kisah Yeremia menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dalam—Tuhan bekerja melalui orang yang tidak terlihat, tapi tepat.

Yeremia tidak jatuh ke dalam sumur karena kesalahan. Ia dimasukkan ke dalamnya karena kebenaran yang ia sampaikan membuat para pemimpin tersinggung. Mereka tidak mau mendengar suara Tuhan, jadi mereka memilih membungkam utusan-Nya.

Sumur itu bukan sekadar lubang. Itu seperti penjara tanpa jalan keluar. Tidak ada air, hanya lumpur. Yeremia tidak bisa berdiri dengan kuat, tidak bisa keluar sendiri. Secara manusia, itu kondisi yang sangat putus harapan.

Dan di titik itulah nama yang jarang kita dengar muncul.

Ebed-Melekh.

Dia bukan nabi.
Dia bukan pemimpin besar.
Dia bukan orang penting dalam sistem.

Alkitab mencatat dia sebagai seorang Etiopia—orang asing di tengah bangsa Israel. Secara status, dia bahkan tidak berada di posisi berpengaruh. Tapi justru orang seperti inilah yang Tuhan pakai.

Yang membuat Ebed-Melekh berbeda bukan posisinya, tapi hatinya.

Dia melihat ketidakadilan, dan dia tidak diam.

Saat orang lain memilih aman, dia memilih benar. Dia datang kepada raja dan berkata bahwa apa yang dilakukan kepada Yeremia itu salah. Ini bukan langkah kecil. Ini berisiko. Bisa saja dia ditolak, bahkan dihukum.

Tapi dia tetap berbicara.

Ini poin penting:
Tuhan sering bekerja lewat orang yang berani bertindak benar, bukan yang sekadar tahu kebenaran.

Raja akhirnya memberi izin. Tapi perhatikan, prosesnya tidak langsung spektakuler.

Ebed-Melekh tidak hanya berkata, “angkat dia keluar.”
Dia turun tangan dengan detail.

Dia mengambil kain-kain bekas dan pakaian usang. Dia tahu tali saja bisa melukai tubuh Yeremia yang sudah lemah. Jadi dia memberi alas di bawah ketiaknya sebelum ditarik.

Ini bukan sekadar menyelamatkan. Ini memperhatikan.

Tuhan tidak hanya peduli kita keluar dari masalah.
Dia peduli bagaimana kita keluar—tanpa menambah luka.

Ebed-Melekh kemudian memimpin proses itu. Tali diturunkan. Yeremia diminta berpegang. Orang-orang menariknya perlahan sampai dia keluar dari sumur.

Perhatikan ini baik-baik:

Pertolongan Tuhan datang melalui:

orang yang tepat

waktu yang tepat

cara yang penuh perhatian

Tidak terburu-buru. Tidak asal jadi.

Dan satu hal lagi yang sering terlewat—

Yeremia tetap harus berpegang pada tali itu.

Artinya, ada bagian Tuhan dan ada bagian kita. Tuhan kirim penolong. Tuhan siapkan jalan. Tapi kita tetap harus merespons. Tetap harus bertahan. Tetap harus percaya saat proses berlangsung.

Kalau Yeremia melepaskan pegangan di tengah jalan, dia tidak akan keluar.

Ini berbicara langsung ke hidup kita.

Kadang kita sudah mulai “ditarik keluar”—
situasi mulai berubah, orang mulai menolong, pintu mulai terbuka—
tapi karena prosesnya tidak cepat, kita jadi ragu, lalu “melepas.”

Di sinilah banyak orang gagal.

Bukan karena Tuhan tidak menolong, tapi karena tidak bertahan cukup lama untuk melihat hasilnya.

Kisah ini juga mengoreksi cara kita melihat orang.

Sering kita menunggu “tokoh besar” datang menolong. Padahal Tuhan bisa pakai siapa saja—bahkan orang yang tidak kita anggap penting.

Ebed-Melekh tidak terkenal. Tapi tanpa dia, Yeremia tetap di dalam sumur.

Kadang dalam hidup kita:

penolong itu bukan yang kita harapkan

jalannya bukan yang kita rancang

waktunya bukan yang kita pilih

Tapi justru di situlah tangan Tuhan bekerja paling nyata.

Dan satu hal yang memberi kekuatan—

Tuhan tidak pernah terlambat melihat.

Sebelum Ebed-Melekh bergerak, Tuhan sudah melihat Yeremia. Sebelum tali diturunkan, Tuhan sudah merancang pertolongan.

Jadi kalau hari ini kita merasa seperti di dalam “sumur”: gelap, sempit, tidak ada jalan keluar—

ingat ini:

Tuhan sudah melihat.
Tuhan sudah menyiapkan.
Dan Tuhan bisa memakai siapa saja untuk menarik kita keluar.

Tugas kita sederhana:

Tetap pegang talinya. Jangan lepaskan.

Karena ketika Tuhan mengirim pertolongan, Dia tidak setengah-setengah. Dia menarik kita keluar—dengan cara yang penuh perhatian, dan dengan tujuan yang lebih besar dari sekadar selamat.

God is our refuge and strength, an ever-present help in trouble.”- Psalm 46:1

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” – Mazmur 46:1

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

The pit was never your destination. It was the place where God proved you were never alone.”

“Lubang itu bukan tujuanmu. Itu tempat di mana Tuhan membuktikan kamu tidak pernah sendirian” – YennyIndra

Read More
Articles

Tak Ada Hati yang Terlalu Rusak untuk Dipulihkan

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Tak Ada Hati yang Terlalu Rusak untuk Dipulihkan

Ada kalanya kita memandang seseorang lalu berkata dalam hati, “Orang ini sudah tidak mungkin berubah.” Mungkin karena ia terlalu keras, terlalu sombong, terlalu jauh dari Tuhan, atau terlalu lama hidup dalam dosa. Kita pun diam-diam kehilangan harapan.

Jika ada orang yang tampaknya paling kecil kemungkinannya untuk bertobat, Nebukadnezar adalah salah satunya.

Ia adalah raja paling berkuasa pada zamannya. Ia menaklukkan bangsa-bangsa, menghancurkan Yerusalem, dan mengangkut umat Allah ke pembuangan. Kekuasaan membuatnya lupa diri. Ia memandang dirinya sebagai sumber keberhasilan, seolah-olah seluruh kerajaan Babel berdiri karena kehebatannya sendiri.

Namun kesombongan selalu membawa manusia menjauh dari Tuhan.

Allah tidak membinasakan Nebukadnezar, tetapi merendahkannya. Dalam Daniel 4, ia kehilangan kewarasannya. Selama tujuh masa ia hidup seperti binatang di padang. Rambutnya memanjang seperti bulu rajawali dan kukunya seperti kuku burung.

Sekilas, kisah ini terdengar seperti hukuman yang mengerikan. Namun jika kita membaca sampai akhir, kita menemukan sesuatu yang luar biasa.

Alkitab berkata, “Pada akhir zaman itu aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, maka akal budiku kembali kepadaku.”

Pemulihan dimulai ketika pandangannya berubah. Selama ini ia hanya memandang dirinya sendiri. Kini ia menengadah kepada Allah.

Yang menarik, tujuan utama kisah ini bukanlah sekadar menunjukkan bahwa Allah sanggup memulihkan kesehatan mental seseorang. Tujuan utamanya adalah agar Nebukadnezar mengenal siapa Allah yang sesungguhnya. Setelah dipulihkan, ia tidak lagi memuji dirinya. Ia berkata, “Sekarang aku memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Surga.”

Inilah Anugerah Allah.

Allah bukan hanya sanggup memulihkan keadaan kita. Dia ingin memulihkan hati kita agar kembali mengenal-Nya.

Sering kali kita lebih tertarik pada mukjizat daripada Pribadi yang melakukan mukjizat. Kita berdoa agar masalah selesai, tetapi lupa bahwa tujuan terbesar Tuhan adalah membawa kita semakin dekat kepada-Nya.

Kisah Nebukadnezar juga mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menilai orang lain.

Mungkin hari ini ada anggota keluarga yang keras hati, teman yang menolak Injil, atau seseorang yang tampaknya mustahil berubah. Jangan terlalu cepat menutup pintu pengharapan. Jika Allah sanggup menjangkau seorang raja yang paling angkuh di dunia, Dia juga sanggup menjamah siapa pun yang kita doakan.

Itulah sebabnya kita tidak pernah boleh berhenti berharap.

Namun kisah ini juga menjadi cermin bagi diri kita sendiri. Kesombongan tidak selalu tampil dalam bentuk membanggakan harta atau jabatan. Kadang kesombongan muncul saat kita merasa tidak membutuhkan Tuhan, mengandalkan kemampuan sendiri, atau diam-diam mengambil kemuliaan yang seharusnya menjadi milik-Nya.

Nebukadnezar dipulihkan bukan karena ia hebat, melainkan karena Allah penuh belas kasihan.

Demikian juga kita.

Tidak ada seorang pun yang dipulihkan karena jasanya sendiri. Kita dipulihkan karena anugerah. Kasih karunia Allah sanggup mengangkat orang yang paling terpuruk, mengampuni orang yang paling berdosa, dan memulihkan hidup yang tampaknya sudah hancur.

Karena itu, jangan pernah berkata, “Sudah terlambat.” Selama masih ada kasih karunia, masih ada harapan.

Mungkin hari ini yang perlu kita lakukan bukan berusaha lebih keras, melainkan seperti Nebukadnezar: menengadah kepada Allah. Saat mata kita kembali tertuju kepada-Nya, kita akan menyadari bahwa Dia tetap berdaulat, tetap penuh kasih, dan tetap sanggup melakukan apa yang tidak mungkin bagi manusia.

Tidak ada hati yang terlalu keras untuk disentuh-Nya. Tidak ada hidup yang terlalu rusak untuk dipulihkan-Nya. Dan tidak ada orang yang berada di luar jangkauan kasih karunia-Nya.

“The Lord is able to transform the hardest heart because His grace is greater than human pride.”

“Tuhan sanggup mengubahkan hati yang paling keras, karena kasih anugerah-Nya jauh lebih besar daripada kesombongan manusia.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Pemulihan sejati tidak dimulai ketika keadaan berubah, tetapi ketika hati kembali mengakui bahwa Tuhanlah Raja.”

“True restoration does not begin when circumstances change, but when the heart once again acknowledges God as King.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Hanya Percaya pada Tangan Tuhan, Kenalilah Hati-Nya.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Hanya Percaya pada Tangan Tuhan, Kenalilah Hati-Nya.

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar sebuah ilustrasi dari Ps. Wendell Parr, guru saya, yang sangat sederhana, tetapi begitu dalam.

Pada hari Senin ia berkata kepada anak-anaknya, “Hari Sabtu nanti kita pergi ke kebun binatang.”

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan apakah tiketnya sudah dibeli. Tidak ada cerita apakah uangnya sudah cukup. Tidak ada pembahasan bagaimana semuanya akan terlaksana.

Namun sejak hari Selasa, anak-anaknya sudah bersukacita. Mereka bercerita kepada teman-temannya dengan penuh semangat, “Sabtu nanti aku pergi ke kebun binatang!”

Mereka tidak pernah bertanya, “Papa, uangnya ada tidak?” Mereka juga tidak berdoa, “Dalam nama Yesus, kami patahkan setiap roh yang menghalangi kami pergi ke kebun binatang.”

Mengapa?

Karena bagi mereka hanya ada satu alasan.

Papa sudah berkata. Itu sudah cukup.

Mereka tidak sedang percaya kepada kebun binatang. Mereka percaya kepada ayah yang memberi janji.

Bukankah di situlah letak iman yang sesungguhnya?

Sering kali kita mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi kalau jujur, kita lebih sibuk memikirkan bagaimana Tuhan akan menggenapi janji-Nya daripada siapa Dia yang memberi janji.

Kita percaya Tuhan sanggup menyembuhkan. Kita percaya Tuhan sanggup mencukupi. Kita percaya Tuhan sanggup membuka jalan.

Namun ketika jawaban belum datang, hati mulai gelisah. Kita bertanya-tanya apakah Tuhan masih bekerja.

Tanpa sadar, kita lebih mencari tangan Tuhan daripada mengenal hati-Nya.

Padahal iman yang dewasa bukan hanya berkata, “Aku percaya Tuhan sanggup.” Iman yang dewasa juga berkata, “Aku percaya Tuhan itu baik.”

Abraham memahami rahasia ini.

Ketika Allah memintanya mempersembahkan Ishak, ia tidak mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir. Namun ia mengenal Pribadi yang berbicara kepadanya. Karena itu imannya tidak berdiri di atas penjelasan, melainkan di atas karakter Allah.

Sering kali kita berkata, “Tuhan, jelaskan dulu, baru aku percaya.”

Tetapi Tuhan seolah berkata, “Percayalah kepada-Ku. Nanti engkau akan mengerti.”

Semakin saya berjalan bersama Tuhan, semakin saya menyadari bahwa fokus-Nya sering kali berbeda dengan fokus kita.

Kita datang membawa daftar kebutuhan.

“Tuhan, berkati usahaku.”
“Tuhan, pulihkan keuanganku.”
“Tuhan, lipatgandakan investasiku.”

Seolah-olah Tuhan terutama sedang mengurus financial portfolio kita.

Padahal yang terutama sedang dikerjakan-Nya adalah membentuk karakter kita.

Why?

Karena Tuhan tahu bahwa karakter jauh lebih berharga daripada harta. Uang bisa habis. Jabatan bisa hilang. Peluang bisa lewat. Tetapi karakter yang dibentuk oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah seumur hidup.

Semakin kita mengenal hati Bapa, semakin kita diubahkan menjadi serupa dengan Kristus.

Dan ketika karakter kita bertumbuh, favor dan hikmat Tuhan mulai mengalir dengan sendirinya.

Kita tidak lagi mengejar berkat, tetapi hidup dalam pribadi yang siap dipercayakan berkat.

Di situlah kita mulai bersinergi dengan Roh Kudus.

Secara alami, kemampuan manusia terbatas. Tetapi ketika Roh Kudus memimpin langkah kita, hasilnya menjadi jauh melampaui kemampuan alami kita.

Yang natural dipenuhi kuasa yang supernatural.

Alkitab berkata, “Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus orang, dan seratus orang akan mengejar sepuluh ribu orang.” (Imamat 26:8).

Itulah kehidupan yang dipimpin Roh Kudus. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Allah bekerja melalui hidup kita.

Ratapan 3:22-23 mengingatkan,

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya; selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

Perhatikan, Firman Tuhan tidak berkata bahwa setiap pagi kita akan mengerti semua jawaban. Yang diingatkan setiap pagi adalah satu hal: besar kesetiaan-Nya.

Paulus pun berkata dalam Filipi 3:10,
“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia…”

Bukan lebih dahulu mengejar mujizat, tetapi mengenal Pribadi yang melakukan mujizat.

Mungkin hari ini Anda masih menunggu jawaban doa.

Ingatlah anak-anak kecil itu.

Mereka tidak tahu bagaimana ayah mereka akan mengatur semuanya.

Mereka hanya tahu satu hal.
Papa sudah berkata.

Bukankah demikian seharusnya iman kita?
Bapa sudah berfirman. Itu sudah cukup.

“God is too good to be unkind and too wise to be mistaken. And when we cannot trace His hand, we must trust His heart.” – Charles H. Spurgeon.

“Allah terlalu baik untuk berlaku tidak baik, dan terlalu bijaksana untuk keliru. Ketika kita tidak dapat melihat tangan-Nya bekerja, kita harus mempercayai hati-Nya.” – Charles H. Spurgeon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Kedewasaan rohani bukan ditandai oleh seberapa banyak doa yang telah dijawab Tuhan, melainkan oleh seberapa dalam kita tetap mempercayai hati-Nya ketika belum semua jawaban kita terima.”

“Spiritual maturity is not measured by how many prayers God has answered, but by how deeply we continue to trust His heart even before every answer comes.” — Yenny Indra

Read More
1 4 5 6 7 8 336