Category : Articles

Articles

Ketika Dunia Gaduh, Iman Kita Jangan Ikut Goyah

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Dunia Gaduh, Iman Kita Jangan Ikut Goyah

Perang.
Rumor.
Spekulasi akhir zaman.

Beberapa hari ini timeline penuh dengan pembahasan Amerika, Israel, Iran. Video demi video muncul. Tafsiran demi tafsiran berseliweran. Ada yang yakin ini tanda terakhir. Ada yang mulai menghitung-hitung nubuatan, menghubungkan ayat dengan headline berita.

Jujur, suasananya bisa bikin hati ikut tegang.

Di tengah semua itu, sahabat saya, Ci Mei Lian, menulis di grup gereja kami di Surabaya. Pesannya sederhana dan dewasa: jangan berspekulasi tentang “ramalan” akhir zaman. Dan mari berdoa untuk perdamaian. Kasihan anak-anak dan warga sipil yang jadi korban di pihak mana pun.

Saya membaca itu, dan entah kenapa hati saya langsung tenang.
Saya setuju.
Tuhan mengasihi semua manusia…
Tidak perlu membela kanan or kiri.

Saya tidak mendalami detail eskatologi. Ada orang-orang yang memang belajar dan dipanggil khusus di bidang itu. Biarlah mereka yang membahasnya dengan bertanggung jawab. Tidak semua orang harus jadi analis akhir zaman. Dan tidak semua berita harus kita tafsirkan.

Lalu sikap saya bagaimana?
Saya kembali ke tempat yang selalu aman: Firman.

Mazmur 91 bukan ayat hiasan untuk ditempel di dinding atau dibagikan saat suasana mencekam.
Itu deklarasi posisi.

“Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa, akan berkata kepada TUHAN: Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

Perhatikan kata “duduk” dan “bermalam”. Itu bukan visit, kunjungan singkat. Tetapi tinggal. Itu menetap. Itu pilihan sadar untuk berada di bawah naungan-Nya, bukan di bawah bayang-bayang ketakutan.

Lanjutannya tegas sekali.
“Ia akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.”
“Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang.”

Dan ayat yang selalu mengguncang iman saya:
“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.”
“Tulah tidak akan menimpa engkau, dan malapetaka tidak akan mendekat kepada kemahmu.”

Itu bukan janji untuk orang yang panik. Itu janji untuk orang yang memilih tinggal dalam naungan-Nya.

Ada bagian Tuhan. Ada bagian kita.
Bagian Tuhan adalah melindungi, melepaskan, menjaga. Bagian kita adalah tinggal, percaya, dan terus membangun iman.

Jangan salah. Saya juga manusia. Bisa merasa khawatir. Bisa terdistraksi oleh berita. Tapi saya belajar ini: kalau hati mulai goyah, itu tanda saya perlu kembali duduk. Bukan menambah konsumsi berita, tapi menambah waktu di hadirat-Nya.

Yesus pernah berkata, “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Pertanyaannya menusuk.
Bukan: adakah Ia mendapati orang yang paling update soal geopolitik?
Bukan: adakah Ia mendapati orang yang paling jago mengaitkan berita dengan kitab Wahyu?

Tetapi: adakah Ia mendapati iman?
Iman tidak lahir dari ketakutan.
Iman tidak dibangun dari rumor.
Iman timbul dari pendengaran akan Firman.

Dan waktu kita bukan tak terbatas.
Di usia saya sekarang, saya makin sadar, energi dan fokus adalah aset rohani.

Saya bisa menghabiskan waktu untuk belajar dadakan tentang akhir zaman.
Biar keren, biar update, biar gak kalah dengan yang lainnya.
Atau saya justru memakai waktu yang ada, untuk memperkuat iman, meneguhkan hati, memperdalam persekutuan dengan Dia?

Saya memilih yang kedua.
Saya memilih duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi.
Saya memilih bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa.
Saya memilih membangun iman, bukan membangun ketakutan.

Dunia boleh gaduh.
Timeline boleh panas.
Spekulasi boleh ramai.
Tapi jiwa kita tidak harus ikut gemetar.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita bertahan bukanlah pengetahuan detail tentang kronologi akhir zaman.

Yang membuat kita kokoh adalah keyakinan sederhana namun dalam:
Tuhan adalah perlindungan kita.
Dan iman kepada-Nya adalah posisi paling aman yang bisa kita miliki, apa pun yang sedang terjadi di dunia.

Bagaimana dengan Anda?

“I’ve read the last page of the Bible. It’s all going to turn out all right.” – Billy Graham.

“Saya sudah membaca hingga halaman terakhir Alkitab. Pada akhirnya semuanya akan berakhir dengan baik.” – Billy Graham.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Tante Tirsa Rahardjo: Kasih yang Tidak Butuh Panggung.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tante Tirsa Rahardjo: Kasih yang Tidak Butuh Panggung.

Foto quotes yang ditulis Tante Drg. Tirsa, muncul di Facebook saya. Diposting oleh P. Benjamin Rahardjo, putra bungsunya.

Focus on God, not your problem
Listen to God, not your insecurity
Rely on God, not your strength
Courage is going from failure to failure without losing enthusiasm
— Winston Churchill

Dan… hati saya meleleh.

Di usia 95 tahun, masih terus belajar, bahkan mengutip Winston Churchill.
Wow… sungguh kehidupan yang patut diteladani.

Saat Tante Tirsa pulang ke Rumah Bapa, hati ini ingin sekali menulis tentang beliau, pahlawan dan teladan saya. Tetapi saya teringat, semasa hidup tante kurang suka ditulis.

“Tante nggak melakukan apa-apa, Yenny… Tante berterima kasih, tapi jangan ditulis-tulis,” ujarnya.

Hari pertama setelah Om dimakamkan, Tante kembali mengunjungi teman seusianya untuk memijat dan merawatnya. Seorang keponakan yang menderita asma kronis, hingga akhirnya mengalami patah tulang akibat kerapuhan tulang karena komplikasi terapi, sudah lama masuk dalam daftar pelayanannya.

Tante Tirsa melihat ada ibu-ibu yang tidak memiliki pekerjaan. Kemudian didorongnya mereka belajar menjahit. Setelah itu, Tante membeli kain daster dan memotongnya sendiri, lalu meminta mereka menjahitnya dan memberi upah. Daster tersebut kemudian dibagikan kepada keluarga dan orang-orang yang membutuhkan.

Setiap mendengar kotbah Minggu, Tante mencatat. Di rumah, catatan itu disalin dengan rapi, difotokopi, lalu dikirimkan kepada teman-teman dekat dan saudara-saudaranya.

Wow…

Jika dilakukan oleh yang muda, mungkin biasa.
Namun saat yang melakukan sudah sepuh, itu menggetarkan hati.
Di luar sana, tidak sedikit orang tua yang sibuk mengeluhkan penyakitnya.
Tante Tirsa justru hadir menjawab kebutuhan oma-oma dengan hati yang tulus. Walk in their shoes.
Langka.

Di zaman ini, tidak sedikit pelayanan dilakukan demi organisasi, demi menambah daftar kegiatan “baik”, tanpa hati benar-benar terlibat.
Tante Tirsa berbeda.
Beliau mendengarkan. Beliau peduli.

Flashback ke tahun 2005, saat pertama kali saya pindah ke Surabaya dan berjemaat di MDC, yang digembalakan Ps. Andreas Rahardjo.
Suatu kali ada seminar wanita SHINE. Saya menulis ulang topik “Excellence”.

Itulah pertama kalinya saya menulis di publik. Sejak itu, hampir setiap minggu tulisan saya dan Lia Sutandio muncul di warta jemaat.
Sejujurnya, tulisan saya waktu itu tentu belum bagus. Saya belum belajar menulis.

Namun yang memukau, setiap bertemu, Tante Tirsa tidak sekadar memuji.
Beliau mengutip apa yang saya tulis.
Bayangkan… yang mengutip adalah ibunda gembala saya, sosok yang dihormati.
Ternyata kepada Lia pun beliau melakukan hal yang sama.
Bukankah ini teladan?

Tante memahami bahwa penulis pemula butuh dukungan.
Jika saya masih menulis sampai hari ini, ada investasi kasih Tante Tirsa di sana.

Beliau juga selalu menanyakan keadaan suami dan anak-anak.
“Tante berdoa untuk keluarga Yenny…”

Setelah saya pindah ke Jakarta, sesekali beliau menelepon dan berkomentar tentang Seruput Kopi Cantik.
“Tante tetap membaca tulisan Yenny. Terima kasih ya… tulisannya bagus-bagus…”

Saat Tante Tirsa pulang ke Rumah Bapa, Ko Paulus Rahardjo mengirimkan kisah ini:
Sebulan sebelum mama meninggal, tepat 22 Desember, kami merayakan ulang tahunnya yang ke-95. Sederhana, tetapi bermakna.
Saya bertanya,
“Apa yang mama inginkan dalam sisa hidup mama?”
Mama menjawab tenang,
“Mama ingin meninggal dengan tenang, dalam tidur.”
Saya berkata,
“Kalau begitu, Ma, setiap malam serahkan nyawa mama ke tangan Tuhan.”

Kami berdoa.
Doa kami bukan tentang kematian, tetapi tentang kekuatan menjalani hari-hari yang Tuhan masih beri.
Dan Tuhan menjawab dengan cara-Nya.

Mama tidak dipanggil dalam tidur.
Tetapi pada saat yang ia sukai: pagi hari, saat berenang, berolahraga.
Tiba-tiba Mama terdiam, tidak bergerak, Pak Andreas yang sedang berenang di sebelahnya segera meraih dan memeluk Mama.

Mama pulang dalam keadaan aktif, dijaga, dan dikelilingi kasih.
Penutupan hidup yang penuh damai.

Wow… Tuhan menjawab doa.
*”Mama tidak sendiri. Pindah dari pelukan anak di kolam renang langsung ke pelukan TUHAN,”* kata Ko Paulus.

Saya percaya, Tante disambut Tuhan dengan:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia…”

“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” – Mother Teresa.

“Kita mungkin tidak bisa melakukan hal-hal besar. Tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.” – Mother Teresa.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Iman atau Tindakan Medis? Ketika Hikmat dan Mujizat Tidak Bertentangan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Iman atau Tindakan Medis? Ketika Hikmat dan Mujizat Tidak Bertentangan.

Anita duduk lama di mobil setelah keluar dari ruang dokter.
Diagnosisnya jelas: ada sel kanker, ditemukan sangat dini.
Secara medis, ini kabar baik. Masih sangat operable. Peluang sembuh tinggi.
Tetapi di dalam hatinya muncul pergumulan yang tidak sederhana.
Sebagai orang percaya, ia tahu Tuhan sanggup menyembuhkan secara supernatural.

Lalu pertanyaannya muncul:
Haruskah ia berdiri teguh menunggu mujizat?
Atau justru segera mengambil tindakan medis?
Apakah operasi berarti kurang iman?
Ini bukan lagi soal teologi kesembuhan.
Ini soal pengambilan keputusan.

Dan Alkitab sangat jelas:
iman tidak pernah meniadakan hikmat.

Seringkali kita tanpa sadar menjadikan mujizat sebagai penentu keputusan medis. Seolah-olah kalau kita cukup rohani, kita tidak perlu tindakan.
Padahal mengharapkan manifestasi supernatural itu sehat.
Yang tidak sehat adalah menjadikannya syarat untuk menunda langkah yang secara jelas bijak.

Paulus tidak pernah berkata kepada Timotius:
“Percaya saja. Jangan pakai apa pun.”
Justru ia menasihati Timotius:
“Janganlah minum air saja, tetapi tambahkanlah sedikit anggur oleh karena perutmu dan penyakitmu yang sering kambuh.”

Dengan kata lain, gunakan sesuatu yang membantu tubuh.

Iman tidak menggantikan hikmat.
Iman berjalan bersama hikmat.

“Orang bijak melihat malapetaka, lalu bersembunyi, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka

Kitab Amsal berkata bahwa orang bijak melihat bahaya dan mengambil tindakan.
Jika sesuatu masih bisa ditangani sejak dini, maka bertindak adalah bentuk tanggung jawab.
Operasi dini, ketika peluang baik masih tinggi, bukan tanda kurang iman.
Itu stewardship atas tubuh yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sama seperti kita tetap mengunci pintu rumah walau percaya Tuhan melindungi.

Para jenderal iman juga tidak anti tindakan medis.
Kenneth Hagin pernah menjalani operasi jantung.
Oral Roberts yang terkenal dengan pelayanan kesembuhannya, pada tahun 1983, menjalani operasi bypass jantung (open heart surgery) karena penyakit jantung koroner

Mereka tetap mengajarkan kesembuhan ilahi, tetapi tidak menolak alat yang Tuhan ijinkan tersedia.
Mereka tidak melihat operasi sebagai melawan mujizat.
Mereka melihatnya sebagai kemungkinan jalur manifestasi.

Greg Mohr, salah satu guru saya, pernah menceritakan kisah yang sangat membuka mata.

Tahun 1975, John Osteen mengalami masalah jantung dan dijadwalkan operasi.
Saat menunggu di rumah sakit, ia mendengar Tuhan berkata:
“Pulanglah. Tidak perlu operasi. Aku akan menyembuhkanmu.”
John taat. Ia pulang. Dan ia sembuh secara supernatural.

Namun tahun 1986, masalah jantung itu datang lagi.
Ia kembali ke rumah sakit.
Kali ini, ia mendengar Tuhan berkata:
Operasi.
Dan John taat lagi.
Ia menjalani operasi — dan sembuh.

Sebagian orang terkejut.
“Lho, kok operasi? Bukankah dulu sembuh tanpa operasi?”
Seolah-olah imannya turun.

Padahal Alkitab berkata:
Iman timbul dari pendengaran. Pendengaran oleh firman Kristus.

John tidak kehilangan iman.
Ia justru berjalan dalam iman.
Karena iman sejati bukan bersikeras pada metode, tetapi taat pada suara Tuhan saat itu.

Ada orang yang menganggap pergi ke dokter, minum obat, atau operasi berarti tidak beriman.
Itu keliru.
Dokter juga alat Tuhan.
Tuhan bisa menyembuhkan secara supernatural.
Tuhan juga bisa menyembuhkan melalui proses medis.
Dan seringkali, Ia bekerja melalui keduanya.

Jadi pola pikir kita perlu diluruskan.
Bukan:
Operasi = natural
Mujizat = supernatural
Tetapi:
Tuhan bisa bekerja tanpa operasi.
Tuhan bisa bekerja melalui operasi.
Dan operasi tidak menghalangi kuasa Tuhan.
Ia bisa menjadi salurannya.

Pertanyaan yang lebih sehat bukan:
“Apakah saya cukup beriman untuk tidak operasi?”
Tetapi:
Apa keputusan paling bertanggung jawab dengan terang yang ada sekarang?

Jika kanker masih dini, masih bisa ditangani, dan peluang hasil baik tinggi, maka secara hikmat tindakan dini adalah langkah bijak.
Dan iman tetap punya tempat di dalamnya.
Memilih operasi bukan berarti menyerah kepada manusia.
Justru sebaliknya.
Kita tetap mengharapkan hasil terbaik.
Kita mengharapkan pemulihan cepat.
Kita mengharapkan tidak ada penyebaran.
Kita mengharapkan tubuh merespons dengan baik.
Itu tetap iman.
Tuhan menemui kita di setiap level iman yang kita miliki.

Kuncinya bukan metode.
Kuncinya hubungan.
Apa yang Tuhan arahkan pada saat itu — itulah yang kita taati.

Seperti John Osteen.
Kadang jalannya pulang tanpa operasi.
Kadang jalannya masuk ruang operasi.
Keduanya bisa sama-sama iman.
Karena iman bukan soal memilih jalur supernatural.

Iman adalah mengikuti jejak Tuhan.
Dan berjalan dalam hikmat tidak pernah bertentangan dengan percaya pada mujizat.

“Do all the good you can, by all the means you can.” – John Wesley.

“Lakukan semua kebaikan yang dapat kamu lakukan, dengan semua sarana yang tersedia – John Wesley.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ketika Sistem Melukai, Jangan Menyalahkan Yesus…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Sistem Melukai, Jangan Menyalahkan Yesus…

“Kemarin, saya mendapat kehormatan untuk berbicara dalam ibadah di Howard University,” demikian A.R. Bernard memulai.
Ia menyinggung ketegangan yang banyak dialami generasi muda saat ini:
“Saya tidak religius — saya spiritual.”

Ia berkata, ia mengerti bahasa itu.
Ia pun pernah menggunakannya ketika mempertanyakan institusi dan menantang sistem yang tidak mencerminkan perubahan yang dikhotbahkan.

Namun ia juga mengingatkan:
Spiritualitas tanpa pembentukan bisa menjadi kabur dan tidak berakar.

Kita perlu belajar membedakan antara Yesus — karakter-Nya, pengajaran-Nya, dan cara-Nya menyatakan natur Allah — dengan konstruksi sosial yang dibangun oleh manusia.
Di situlah kita bisa sungguh-sungguh mengikuti Dia.

Lalu muncul pertanyaan penting:
Bagaimana kita memisahkan pribadi Yesus dari sistem yang dibangun atas nama-Nya?

Yesus sendiri pernah memberikan gambaran yang sangat kuat.
Ia menceritakan tentang seorang yang dirampok di tengah jalan.
Ia terluka, tergeletak, tidak berdaya.
Seorang imam lewat.
Ia melihat… lalu berjalan terus.

Seorang Lewi lewat.
Ia juga melihat… lalu melewati.
Mereka adalah orang-orang sistem.
Orang-orang yang memahami aturan, fungsi, dan tanggung jawab religius.

Namun justru seorang Samaria — orang luar, bukan bagian dari struktur — yang berhenti.
Ia mendekat.
Ia merawat luka.
Ia mengangkat.
Ia memulihkan.
Perumpamaan ini sederhana, tetapi tajam.

Terkadang yang paling dekat dengan sistem justru yang paling jauh dari empati.
Dan yang paling mencerminkan hati Tuhan justru bukan mereka yang menjaga struktur, tetapi mereka yang melihat manusia.
Inilah realitas yang banyak dialami hari ini.

Ketika anak muda berkata, “Aku spiritual, bukan religius,” seringkali itu bukan karena mereka menolak Tuhan.
Itu lahir dari luka.
Ada yang pernah melayani dengan tulus, tetapi ketika hidupnya goyah, respons yang ia terima hanya seputar jadwal.

Ada yang datang membawa pergumulan pribadi, tetapi yang ditanyakan bukan “apa yang kamu alami?”, melainkan “siapa yang akan menggantikanmu?”
Ada yang berharap didengar, tetapi yang mereka temui adalah sistem yang harus tetap berjalan.

Mereka tidak sedang menolak Kristus.
Mereka sedang bereaksi terhadap pengalaman.
Luka itu bukan datang dari Yesus, tetapi dari struktur yang dibangun manusia, yang kadang berbicara lebih keras daripada kasih.
Dan di titik itulah banyak orang mulai menjauh.
Bukan dari Tuhan.
Dari sistem.
Namun tanpa sadar, keduanya disamakan.
Ketika sistem melukai, Yesus ikut disalahkan.

Padahal realitas pelayanan memang tidak sederhana.
Banyak pemimpin rohani hidup di bawah tekanan menjaga keberlangsungan.
Pelayanan harus tetap jalan.
Jadwal harus stabil.
Sistem harus tidak terganggu.

Tanpa disadari, peran yang muncul bukan lagi gembala jiwa, tetapi:
administrator rohani
penjaga struktur
pengarah pelayanan

Fokusnya bukan pada hati yang terluka, tetapi pada fungsi yang harus tetap berjalan.
Di titik tertentu, pelayanan mulai dijalankan bak bisnis di perusahaan sekuler – menekankan efisiensi, kontinuitas, dan stabilitas, sementara ruang bagi empati semakin menyempit.
Dan dalam tekanan itu, empati sering menjadi korban pertama.
Tidak ada ruang untuk benar-benar walk in others shoes – berjalan di sepatu orang lain.

Yang ada hanyalah respons praktis:
Yang penting ada pengganti.
Yang penting pelayanan tetap jalan.
Bagi orang yang sedang bergumul, ini terasa seperti penolakan.

Lalu muncul kesimpulan yang menyakitkan:
Kalau beginilah wajah pelayanan, mungkin beginilah wajah Tuhan.

Padahal Yesus sangat berbeda.
Ia tidak memperlakukan manusia sebagai bagian dari sistem.
Ia berhenti di tengah perjalanan demi satu orang.
Ia menunda agenda demi mendengar.
Ia tidak melihat manusia sebagai fungsi, tetapi sebagai jiwa.
Ia tidak menjaga jadwal.
Ia menjaga hati.

Yesus tidak pernah mengorbankan manusia demi stabilitas pelayanan.
Ia justru mengorbankan diri-Nya demi manusia.

Bagi para pemimpin, ini juga menjadi cermin.
Pelayanan membawa pengaruh.
Jemaat, posisi, akses, bahkan kedekatan dengan kekuasaan sosial.
Fasilitas, pujian, peluang — semua itu bisa menjadi berkat, tetapi juga jebakan.
Sering dikatakan, perbedaan antara pendeta dan figur publik kadang sangat tipis bagaikan sehelai rambut belaka.
Keduanya bisa dipuja.
Keduanya bisa dielu-elukan.
Dan ketika pujian menggantikan empati, sistem bisa kehilangan jiwa.

Tulisan ini bukan untuk menolak gereja.
Tetapi untuk mengajak kita semua — pemimpin maupun jemaat — melakukan check and recheck:

Apakah kita sedang mencerminkan Kristus?
Atau hanya menjaga struktur?
Atau tanpa sadar memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri?
Karena pada akhirnya,

“The greatest single cause of atheism in the world today is Christians who acknowledge Jesus with their lips, then walk out the door and deny Him by their lifestyle.” — Brennan Manning

“Satu penyebab atheisme terbesar di dunia saat ini adalah orang Kristen yang mengakui Yesus dengan bibir mereka, lalu berjalan keluar pintu dan menyangkal Dia dengan gaya hidup mereka.” — Brennan Manning

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Sudah Dalam Kristus, Mengapa Hidup Masih Berat?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Sudah Dalam Kristus, Mengapa Hidup Masih Berat?

Beberapa waktu ini saya merenungkan sesuatu yang sangat sederhana… tapi diam-diam menentukan arah hidup kita.
Identitas.

Bukan identitas di KTP.
Bukan peran sebagai ibu, istri, pemimpin, atau pelayan Tuhan.

Tapi identitas kita di dalam Kristus.
“In Christ.”
Kalimat ini sering kita dengar.
Tapi sering kita masih hidup seolah-olah di luar.
Padahal sejak lahir baru, posisi kita sudah berubah.
Kita tidak lagi berdiri di luar, berusaha mendekat kepada Tuhan.
Kita sudah ditempatkan di dalam Dia.

Artinya:
Bukan lagi hidup untuk mendapatkan penerimaan,
tapi hidup dari penerimaan.
Bukan lagi berusaha supaya diberkati,
tapi hidup dari berkat.
Ini seperti pindah sistem kehidupan.

Dulu kita hidup dari:
usaha
ketakutan
pembuktian diri
Sekarang kita hidup dari:
union
kelimpahan
keamanan identitas

Namun seringkali, meskipun posisi kita sudah berubah, cara hidup kita belum.
Kita masih berpikir seperti dulu.
Masih merasa harus melakukan sesuatu supaya hasil berubah.

Di sinilah saya mulai melihat hukum tabur tuai dengan cara yang lebih sehat.
Bukan sebagai transaksi.
Tapi sebagai arah hidup.

Saya teringat kisah Warren Buffett.
Ia bukan orang yang menjadi kaya karena “mengejar uang”.
Sejak muda, ia menabur satu hal:
nilai.

Ia membaca, belajar, membangun cara berpikir yang benar tentang investasi.
Ia menabur:
disiplin
kesabaran
hikmat
Hasilnya?
Ia menuai keuangan dalam skala luar biasa.

Bukan karena ia menabur uang terlebih dahulu dalam jumlah besar.
Tapi karena ia menabur kehidupan yang tepat.

Sebaliknya, banyak orang punya uang, menabur uang, tapi tetap tidak menuai kekayaan.
Karena yang ditabur sebenarnya adalah:
ketakutan
emosi
keputusan impulsif
Hidup menuai apa yang ditanam, bukan sekadar apa yang diberikan.

Di dalam Kristus, kita sudah diberkati.
Itu posisi.

Tapi apa yang kita tabur setiap hari menentukan pengalaman kita.
Kita selalu menabur.
Lewat pikiran.
Lewat kata-kata.
Lewat respon.

Saat kita menabur kekhawatiran, kita menuai gelisah.
Saat kita menabur syukur, kita menuai damai.
Bukan karena Tuhan berubah.
Tapi karena arah hidup kita berubah.
Tabur tuai bukan mesin rohani.
Bukan:
beri lalu mendapat.
Ini tentang kehidupan yang kita lepaskan.

Seperti air.
Air selalu mengalir.
Tapi arah alirannya menentukan ke mana ia pergi.
Mengalir saja tidak cukup.
Kalau arahnya ke bawah, ia tidak akan naik.

Saya juga teringat Mother Teresa.
Ia tidak menabur uang.
Ia menabur kasih.
Ia menabur pelayanan.
Ia menabur kepedulian.

Apa yang ia tuai?
Favor – Perkenanan, dunia.
Dukungan global.
Sumber daya yang terus mengalir.
Keuangan datang… bukan karena ia mengejarnya.
Tetapi karena kehidupan yang ia lepaskan menciptakan dampak.

Di dalam Kristus, sumber kita sudah benar.
Kita tidak menabur supaya Tuhan memberkati.
Kita menabur karena kita hidup dari sumber yang diberkati.
Dan apa yang kita lepaskan setiap hari akan membentuk realitas yang kita alami.

In Christ bukan berarti hidup tanpa konsekuensi.
Tapi hidup dari posisi yang benar, sehingga taburan kita mengalir dari kelimpahan, bukan dari kekurangan.
Dan dari situlah kehidupan mulai bertumbuh…
bukan karena kita mengejar hasil,
tetapi karena kita hidup dari sumber yang benar.

“Sow a thought, reap an action; sow an action, reap a habit; sow a habit, reap a character; sow a character, reap a destiny.” – Stephen Covey.

“Taburlah pikiran, tuailah tindakan; taburlah tindakan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah masa depan” – Stephen Covey.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 5 6 7 8 9 319