Articles

Kita Sibuk Mengesankan Orang yang Juga Sedang Sibuk Mengesankan Kita…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kita Sibuk Mengesankan Orang yang Juga Sedang Sibuk Mengesankan Kita…

_“What matters after 91 years?”_ apa yang penting saat berusia 91tj?

Pertanyaan itu ditanyakan kepada seorang hamba Tuhan senior, Chuck Swindoll, yang sudah melewati begitu banyak musim kehidupan. Sudah melihat keberhasilan, kegagalan, pelayanan besar, pujian, kritik, air mata, dan kemenangan.

Jawabannya ternyata sederhana.

Bukan tentang pencapaian besar.
Bukan tentang nama terkenal.
Bukan tentang berapa banyak orang mengenalnya.

Ia berkata kira-kira seperti ini:

Home and family. Relationship. Knowing who you are. Accepting who you are. Then being who you are.

Rumah. Keluarga. Relasi. Mengenal siapa diri kita. Menerima siapa diri kita. Lalu menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Dalam usia 91 tahun, seseorang biasanya sudah tidak tertarik lagi hidup untuk pencitraan. Sudah terlalu lelah untuk berpura-pura. Yang tersisa hanyalah hal-hal yang benar-benar bernilai.

Lalu Chuck mengutip perkataan James Dobson yang sangat tajam:

“We don’t even know who we think we are until we find out who other people think we are. So we’re busy making an impression on someone, who is busy making an impression on us.”

Artinya:

“Kita bahkan tidak benar-benar tahu siapa diri kita sampai kita tahu apa pendapat orang tentang kita. Jadi kita sibuk mengesankan orang lain, sementara orang itu juga sibuk mengesankan kita.”

Ironis bukan?

Aduh…. Dalam sekali.

Bukankah sering kali hidup kita memang seperti itu?

Kita berkata ingin menyenangkan Tuhan, tetapi diam-diam hati kita hancur kalau tidak dihargai manusia.
Kita berkata hidup sederhana, tetapi tetap ingin terlihat berhasil.
Kita berkata melayani Tuhan, tetapi masih sakit kalau tidak dianggap penting.

Tanpa sadar, hidup berubah menjadi panggung.

Bukan lagi hidup dari identitas di dalam Kristus, tetapi hidup dari reaksi orang lain.

Kalau dipuji, kita naik.
Kalau diabaikan, kita jatuh.
Kalau diterima, kita tenang.
Kalau ditolak, kita kehilangan damai.

Padahal Efesus 2:10 berkata:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.”

Kita adalah workmanship Tuhan.
Karya-Nya.
Bukan produk opini manusia.

Dunia terus menekan kita untuk tampil.
Tampil kuat.
Tampil berhasil.
Tampil rohani.
Tampil bahagia.

Tetapi Tuhan tidak pernah meminta kita hidup sebagai performance.

Tuhan tidak menciptakan kita untuk mempertahankan image. Tuhan menciptakan kita untuk berjalan bersama-Nya.

Semakin dewasa seseorang, biasanya ia mulai sadar, ketenangan bukan datang karena berhasil membuat semua orang kagum. Ketenangan datang waktu kita berhenti haus validasi.

Ada orang yang rumahnya besar tetapi jiwanya capek.
Ada yang pelayanannya besar tetapi hidupnya penuh kecemasan karena terus mempertahankan reputasi.
Ada yang terlihat kuat di depan banyak orang, tetapi sebenarnya tidak tahu siapa dirinya tanpa tepuk tangan manusia.

Karena itu jawaban Chuck Swindoll sangat indah.

Di ujung hidup, yang penting ternyata bukan pencitraan.
Tetapi:
siapa yang kita kasihi,

siapa yang berjalan bersama kita,

dan apakah kita akhirnya berdamai dengan diri kita sendiri di hadapan Tuhan.


Knowing who you are.
Accepting who you are.
Then being who you are.

Ini bukan ajakan hidup sembarangan. Ini bicara tentang hidup asli. Hidup yang tidak lagi diperbudak kebutuhan untuk selalu terlihat hebat.

Kadang mujizat terbesar bukanlah menjadi terkenal.
Tetapi menjadi tenang.

Tenang karena tahu: “Aku dikasihi Tuhan bahkan tanpa harus membuktikan apa-apa.”

Dan orang yang paling damai sering kali bukan orang yang berhasil mengesankan semua orang.

Tetapi orang yang akhirnya berhenti mencoba.

“Ketika kita berhenti hidup demi kesan manusia, barulah kita mulai hidup dalam keaslian yang memberi damai.” — Yenny Indra

Setuju?

“Care about what other people think and you will always be their prisoner.” – Lao Tzu.

“Kalau kita terus hidup berdasarkan pendapat orang lain, kita akan selalu menjadi tawanan mereka” – Lao Tzu.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
The Influence of a Righteous Woman
The Meaning You Give, The life You live
Rahasia Kesembuhan & Hidup Yang Berkenan Kepada Allah.