Category : Articles

Articles

Lahir dari Luka, Tetapi Dipilih Tuhan: Kisah James Robison.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Lahir dari Luka, Tetapi Dipilih Tuhan: Kisah James Robison.

James Robison lahir dari sebuah kisah yang sangat kelam.

Ibunya, Myra Wattinger, bekerja sebagai seorang perawat praktis. Suatu hari ia merawat seorang pria tua yang sakit. Tetapi anak laki-laki dari pria tua itu, seorang pria alkoholik, memperkosanya. Dari peristiwa tragis itulah James dikandung.

Myra sangat terpukul. Malu. Hancur. Ia bahkan sempat ingin menggugurkan kandungannya. Tetapi dokter yang ditemuinya menolak melakukan aborsi. Bertahun-tahun kemudian James sering berkata bahwa hidupnya ada karena seorang dokter memilih mempertahankan kehidupan seorang bayi yang tidak diinginkan.

Bayangkan ironinya.

Seorang anak yang lahir dari kekerasan… justru dipakai Tuhan membawa pengharapan kepada jutaan orang.

James lahir tahun 1943 di Houston, Texas. Masa kecilnya sangat sulit. Karena merasa tidak mampu membesarkannya, ibunya sempat menyerahkannya kepada keluarga pendeta yang merawat James kecil selama lima tahun pertama hidupnya.

Tetapi suatu hari ibunya datang dan mengambilnya kembali.

James pernah menceritakan bagaimana ia bersembunyi di bawah tempat tidur sambil menangis dan mencengkeram lantai ketika harus dipisahkan dari keluarga yang ia kasihi. Luka penolakan itu membekas dalam hidupnya.

Ia tumbuh dalam kemiskinan, ketidakstabilan, dan kemarahan. Ayah biologisnya dikenal keras dan alkoholik. Tidak heran James muda pernah dipenuhi rasa rendah diri dan pertanyaan besar:

“Mengapa saya lahir?”

Tetapi Tuhan sering kali memulai karya terbesar-Nya dari tempat paling gelap.

Saat remaja, James mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Untuk pertama kalinya ia mulai memahami bahwa hidupnya bukan kecelakaan. Bahwa asal-usul seseorang tidak menentukan tujuan akhirnya.

Dan ia sering memakai hidupnya sendiri sebagai contoh ketika berkata:

“Manusia mungkin berkata kita tidak diinginkan, tetapi Tuhan tetap bisa berkata kita dipilih.”

Kalimat itu bukan slogan rohani. Itu adalah kesaksian hidupnya sendiri.

James mulai berkhotbah sejak muda. Bukan karena hidupnya sempurna, tetapi justru karena ia tahu bagaimana rasanya terluka, ditolak, dan merasa tidak berharga. Ia berbicara dengan hati yang nyata. Tidak menggurui. Tidak berpura-pura.

Bersama istrinya Betty, ia kemudian membangun Life Outreach International, pelayanan yang memberitakan Injil sekaligus memberi makan orang lapar, menyediakan air bersih, dan menolong mereka yang menderita di berbagai negara.

Salah satu hal yang sangat kuat dari hidup James adalah: ia tidak membiarkan masa lalu menentukan identitasnya.

Itulah sebabnya ayat ini sangat dalam maknanya:

“Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus maupun Apolos, baik Kefas, baik dunia, hidup maupun mati, _waktu sekarang maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya._ Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.” (1 Korintus 3:21-23, TLB)

Dalam bahasa Inggris tertulis:

“He has given you all of the present and all of the future.”

“Dia telah memberikanmu semua masa kini dan semua masa depan.”

Mengapa ayat itu berbicara tentang present dan future, tetapi tidak menyebut masa lalu?

*Karena bagi orang percaya, masa lalu sudah dipaku di kayu salib.*

Move On…. Tinggalkan!

Terlalu banyak orang masih hidup dari luka lama, rasa malu lama, kegagalan lama, dosa lama, dan penolakan lama. Padahal Yesus datang bukan hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga memberi identitas baru.

James Robison memahami itu.

Ia bisa saja hidup sebagai korban. Ia bisa saja pahit kepada dunia. Tetapi ia memilih mempercayai tujuan Tuhan lebih besar daripada luka masa lalunya.

Dan sampai akhir hidupnya, dampaknya terus terasa.

Ada kehidupan yang berhenti saat seseorang meninggal. Tetapi ada kehidupan yang terus berbicara bahkan setelah orangnya tidak ada lagi.

James Robison termasuk yang kedua.

Dari seorang bayi yang nyaris diaborsi, ia menjadi suara pengharapan bagi dunia.

Dan mungkin itulah sebabnya kalimat Tuhan ini terasa begitu tepat untuk hidupnya:

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” (Matius 25:21)

Betapa indahnya…..

“Your present circumstances don’t determine where you can go; they merely determine where you start.” – Nido Qubein

“Keadaan kita saat ini tidak menentukan ke mana kita bisa pergi; itu hanya menentukan dari mana kita memulai.”- Nido Qubein

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kita Sibuk Mengesankan Orang yang Juga Sedang Sibuk Mengesankan Kita…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kita Sibuk Mengesankan Orang yang Juga Sedang Sibuk Mengesankan Kita…

_“What matters after 91 years?”_ apa yang penting saat berusia 91tj?

Pertanyaan itu ditanyakan kepada seorang hamba Tuhan senior, Chuck Swindoll, yang sudah melewati begitu banyak musim kehidupan. Sudah melihat keberhasilan, kegagalan, pelayanan besar, pujian, kritik, air mata, dan kemenangan.

Jawabannya ternyata sederhana.

Bukan tentang pencapaian besar.
Bukan tentang nama terkenal.
Bukan tentang berapa banyak orang mengenalnya.

Ia berkata kira-kira seperti ini:

Home and family. Relationship. Knowing who you are. Accepting who you are. Then being who you are.

Rumah. Keluarga. Relasi. Mengenal siapa diri kita. Menerima siapa diri kita. Lalu menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Dalam usia 91 tahun, seseorang biasanya sudah tidak tertarik lagi hidup untuk pencitraan. Sudah terlalu lelah untuk berpura-pura. Yang tersisa hanyalah hal-hal yang benar-benar bernilai.

Lalu Chuck mengutip perkataan James Dobson yang sangat tajam:

“We don’t even know who we think we are until we find out who other people think we are. So we’re busy making an impression on someone, who is busy making an impression on us.”

Artinya:

“Kita bahkan tidak benar-benar tahu siapa diri kita sampai kita tahu apa pendapat orang tentang kita. Jadi kita sibuk mengesankan orang lain, sementara orang itu juga sibuk mengesankan kita.”

Ironis bukan?

Aduh…. Dalam sekali.

Bukankah sering kali hidup kita memang seperti itu?

Kita berkata ingin menyenangkan Tuhan, tetapi diam-diam hati kita hancur kalau tidak dihargai manusia.
Kita berkata hidup sederhana, tetapi tetap ingin terlihat berhasil.
Kita berkata melayani Tuhan, tetapi masih sakit kalau tidak dianggap penting.

Tanpa sadar, hidup berubah menjadi panggung.

Bukan lagi hidup dari identitas di dalam Kristus, tetapi hidup dari reaksi orang lain.

Kalau dipuji, kita naik.
Kalau diabaikan, kita jatuh.
Kalau diterima, kita tenang.
Kalau ditolak, kita kehilangan damai.

Padahal Efesus 2:10 berkata:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.”

Kita adalah workmanship Tuhan.
Karya-Nya.
Bukan produk opini manusia.

Dunia terus menekan kita untuk tampil.
Tampil kuat.
Tampil berhasil.
Tampil rohani.
Tampil bahagia.

Tetapi Tuhan tidak pernah meminta kita hidup sebagai performance.

Tuhan tidak menciptakan kita untuk mempertahankan image. Tuhan menciptakan kita untuk berjalan bersama-Nya.

Semakin dewasa seseorang, biasanya ia mulai sadar, ketenangan bukan datang karena berhasil membuat semua orang kagum. Ketenangan datang waktu kita berhenti haus validasi.

Ada orang yang rumahnya besar tetapi jiwanya capek.
Ada yang pelayanannya besar tetapi hidupnya penuh kecemasan karena terus mempertahankan reputasi.
Ada yang terlihat kuat di depan banyak orang, tetapi sebenarnya tidak tahu siapa dirinya tanpa tepuk tangan manusia.

Karena itu jawaban Chuck Swindoll sangat indah.

Di ujung hidup, yang penting ternyata bukan pencitraan.
Tetapi:
siapa yang kita kasihi,

siapa yang berjalan bersama kita,

dan apakah kita akhirnya berdamai dengan diri kita sendiri di hadapan Tuhan.


Knowing who you are.
Accepting who you are.
Then being who you are.

Ini bukan ajakan hidup sembarangan. Ini bicara tentang hidup asli. Hidup yang tidak lagi diperbudak kebutuhan untuk selalu terlihat hebat.

Kadang mujizat terbesar bukanlah menjadi terkenal.
Tetapi menjadi tenang.

Tenang karena tahu: “Aku dikasihi Tuhan bahkan tanpa harus membuktikan apa-apa.”

Dan orang yang paling damai sering kali bukan orang yang berhasil mengesankan semua orang.

Tetapi orang yang akhirnya berhenti mencoba.

“Ketika kita berhenti hidup demi kesan manusia, barulah kita mulai hidup dalam keaslian yang memberi damai.” — Yenny Indra

Setuju?

“Care about what other people think and you will always be their prisoner.” – Lao Tzu.

“Kalau kita terus hidup berdasarkan pendapat orang lain, kita akan selalu menjadi tawanan mereka” – Lao Tzu.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Hati-Hati, Kita Bisa Menjadi “Tuhan” Dalam Hidup Orang Lain…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hati-Hati, Kita Bisa Menjadi “Tuhan” Dalam Hidup Orang Lain…

Ada sesuatu yang menarik yang pernah diungkapkan oleh Dr.Caroline Leaf, seorang pakar neuroscience dan kesehatan mental yang banyak meneliti hubungan antara pikiran, emosi, dan pola hidup manusia.

Menurutnya, banyak orang yang sejak kecil kekurangan perhatian emosional akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang sangat suka merawat orang lain. Mereka menjadi penolong. Menjadi tempat bersandar. Menjadi orang yang selalu hadir ketika dibutuhkan.

Konon, pikiran manusia akan terus mencari jalan untuk mendapatkan apa yang dulu tidak sempat ia rasakan.

Kalau dulu seseorang jarang ditenangkan, jarang diperhatikan, atau terlalu cepat dipaksa menjadi “kuat”, tanpa sadar ia bisa membangun identitas sebagai orang yang selalu memberi kepada orang lain.

Dan jujur saja, waktu membaca itu, saya seperti ditampar pelan.

Karena saya sadar, ada banyak hal yang selama bertahun-tahun saya lakukan secara otomatis, tanpa benar-benar memeriksa akar pikirannya.

Sebagai anak Tuhan, sejak kecil saya diajar bahwa kita harus murah hati. Harus menolong. Apalagi kalau ada saudara seiman yang membutuhkan. Dan itu memang baik.

Mungkin bukan jumlah yang spektakuler, tetapi prinsip berbagi itu seperti kewajiban moral.

Lagipula, dari kecil kita dididik bahwa berbuat baik adalah sesuatu yang mulia.

Lalu Sekolah Charis . Belajar firman. Lulus. Tetapi ternyata, lulus sekolah tidak otomatis membuat pola pikir langsung berubah.

Perubahan mindset membutuhkan pembaharuan pikiran dan prosesnya terus-menerus.

Dan salah satu pelajaran yang paling sulit saya pahami, ternyata tidak semua perbuatan baik otomatis benar.

Gubbraaakkk…

Wah… ini perlu waktu bertahun-tahun untuk benar-benar saya mengerti.

Karena selama ini logikanya sederhana: kalau ada orang susah lalu kita membantu, bukankah itu baik?

Ya, baik.

Tetapi apakah selalu benar?

Ternyata belum tentu.

Kadang tanpa sadar, saat kita selalu menjadi jawaban bagi semua kebutuhan orang lain, kita sedang mengambil posisi yang seharusnya menjadi bagian Tuhan dalam hidup mereka.

Kita menjadi “penolong tetap”.

Akibatnya, orang itu tidak belajar percaya Tuhan. Tidak belajar bertumbuh. Tidak belajar menggunakan iman dan tanggung jawab pribadinya.

Yang lebih berbahaya, orang-orang mulai terbiasa menggantungkan diri kepada kita.

Sedikit-sedikit datang. Sedikit-sedikit minta bantuan. Sedikit-sedikit berharap kita turun tangan.

Awalnya kita merasa dibutuhkan.

Lama-lama lelah.

Lalu mulai kecewa.

Dan kalau jujur, kadang muncul pahit hati: “Kenapa ya saya selalu dikelilingi orang yang maunya ditolong terus?”

Padahal mungkin tanpa sadar kita sendiri ikut membangun pola itu.

Kita terlalu cepat menyelesaikan masalah orang lain.

Terlalu cepat menjadi penyelamat.

Padahal kasih yang sehat bukan membuat orang bergantung kepada kita, tetapi menolong mereka bertumbuh dewasa.

Di situlah saya mulai mengerti perbedaan antara sekadar “baik” dan melakukan apa yang “benar”

strong>Yang benar bukan selalu memberi ikan. Kadang yang benar adalah mengajar orang me

Kadang yang benar adalah membimbing seseorang mengenal kebenaran Firman Tuhan, belajar berdiri dengan imannya sendiri, lalu memberi ruang bagi Tuhan bekerja dalam hidupnya.

Memang lebih cepat memberi bantuan.

Sementara memuridkan orang membutuhkan kesabaran, hikmat, dan kepekaan rohani.

Itulah sebabnya Amanat Agung Tuhan bukan hanya mengabarkan Kabar Baik, tetapi juga memuridkan.

Bukan sekadar membuat orang merasa tertolong sesaat, tetapi membawa mereka bertumbuh menjadi pribadi yang mengenal Tuhan, mendengar suara-Nya, dan berjalan bersama-Nya.

Karena tujuan akhirnya bukan membuat orang tergantung pada manusia, tetapi makin mengandalkan Tuhan.

Dan di sinilah saya belajar sesuatu yang penting: kita tidak bisa menolong hanya berdasarkan rasa kasihan atau emosi.

Kita harus belajar menolong sesuai pimpinan Tuhan.

Ada saat Tuhan memang menyuruh kita memberi.

Ada saat Tuhan menyuruh kita diam.

Ada saat Tuhan meminta kita menopang seseorang.

Tetapi ada juga saat Tuhan membiarkan seseorang melewati proses supaya imannya bertumbuh.

Kalau tidak hati-hati, rasa “ingin menolong” bisa berubah menjadi campur tangan yang justru menghambat pekerjaan Tuhan dalam hidup orang itu.

Karena itu kita perlu makin peka mendengar suara Tuhan.

Bukan sekadar bergerak karena iba, tekanan, atau rasa tidak enak.

Semakin dewasa rohani, semakin kita belajar bertanya: “Tuhan, apa yang benar untuk dilakukan dalam situasi ini?”

Kadang jawabannya memberi.

Kadang jawabannya menunggu.

Kadang jawabannya membimbing.

Kadang jawabannya hanya mendoakan.

Dan jujur saja, mendengar suara Tuhan dalam hal seperti ini membutuhkan latihan terus-menerus.

Sebab hati manusia mudah terseret rasa bersalah, kebutuhan untuk diterima, atau keinginan merasa dibutuhkan.

Hari ini saya percaya, kalau seseorang sungguh-sungguh mencari Tuhan dengan segenap hati, Tuhan sanggup menuntun, membuka jalan, dan memelihara hidupnya.

Kita boleh membantu. Tentu.

Tetapi jangan sampai kita mengambil alih proses yang seharusnya membuat seseorang belajar berjalan bersama Tuhan.

Dan ternyata menarik sekali… prinsip Firman Tuhan itu sejalan dengan apa yang dijelaskan Dr.Caroline Leaf.

Pola yang tidak disadari akan terus berjalan otomatis, sampai kita berhenti sejenak dan mulai bertanya:

“Apakah saya menolong karena dipimpin kasih dan hikmat Tuhan… atau karena saya merasa harus selalu menjadi penyelamat?”

Makes sense?

“Give a man a fish and you feed him for a day. Teach him how to fish and you feed him for a lifetime.” – Chinese Proverb

“Beri seseorang ikan, ia kenyang sehari. Ajari ia memancing, ia bisa hidup seumur hidup.” – pepatah China.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Sebetulnya Saya Sudah Curiga…” Nah, Terus Kenapa Diam?”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra


“Sebetulnya Saya Sudah Curiga…” Nah, Terus Kenapa Diam?”

Ada kalanya dalam hidup, kasih tidak selalu berbentuk pujian atau kata-kata manis. Kadang kasih justru muncul dalam bentuk keberanian untuk mengingatkan sebelum semuanya terlambat.

Saya sering memperhatikan satu pola, baik di perusahaan, organisasi, pelayanan, bahkan dalam pertemanan.

Saat semuanya masih terlihat baik-baik saja, banyak orang memilih diam. Tetapi begitu fraud terbongkar, pengkhianatan terjadi, atau masalah besar akhirnya meledak, mendadak orang-orang mulai bicara:

“Sebetulnya saya sdh curiga bla bla bla…”

“Tanda-tandanya sudah kelihatan sich… cuma saya gak berani bilang. Ya klo betul, klo ga kan dikira gossip.”

Gubbbraaaaak…

Orang Surabaya bilang: mbencekno.

Semua orang berlomba-lomba jadi pengamat setelah kejadian.

Kadang saya berpikir, mengapa kita tidak berprinsip lebih baik mencegah daripada mengobati?

Bukankah kerugian besar sering terjadi justru karena terlalu banyak orang memilih diam demi menjaga ‘aman’?
Demi tidak dianggap bergosip, berkhianat, menghakimi…dkk.

Takut salah. Takut tidak disukai. Takut dianggap negative thinking. Takut dibilang tukang gosip.

Padahal diam belum tentu bijaksana.

Saya belajar dari kitab Amsal:

“Teman baik memukul dengan maksud baik, – terjemahan lain berkata, ‘sahabat rela melukai demi kebaikan’ – tetapi musuh mencium berlimpah-limpah.”

Wisdom ini sangat dalam.

Teman sejati tidak selalu mengatakan apa yang enak didengar. Kadang ia berani menyampaikan sesuatu yang tidak nyaman demi melindungi orang yang dikasihinya.

Karena itu, saat saya melihat sesuatu yang mencurigakan, saya memilih membicarakan dengan jujur kecurigaan saya dan alasannya.

Apakah pasti diterima?
Sama sekali tidak.
Bahkan bisa saja dicurigai saya yang sentimen….

Tetapi saya belajar bahwa niat hati yang benar lebih penting daripada usaha menjaga image diri sendiri.

Saya biasanya menyampaikan dengan sederhana saja. Tidak menyerang. Tidak menghakimi. Tidak membangun drama.

Saya hanya bilang:
“Saya dengar berita ……, kebenarannya belum pasti 100% benar. Klo saya bla..bla…bla… karena logikanya begini…daripada ruginya terlalu besar, toh ga ada ruginya check and recheck. Jika ternyata infonya ga benar, lupakan saja. Tapi klo benar, gak sampai kebablasan. Better di check ulang sich.”

Selesai.

Menurut saya, cara seperti ini jauh lebih sehat daripada menyebarkan gossip di belakang, tetapi tidak pernah berani bicara kepada pihak yang berkepentingan.

Karena tujuan kita bukan menghancurkan orang.

Tujuannya menjaga.

Dan setelah menyampaikan, ya sudah… biarkan orang itu memilih dan memutuskan apa yang terbaik baginya. Bukan ranah saya untuk mengaturnya.

Kita tidak bisa memaksa orang menerima warning kita.

Kita juga tidak bisa mengontrol keputusan mereka.

Tanggung jawab kita hanyalah menyampaikan dengan hati yang benar, motivasi yang bersih, dan sikap yang tetap hormat.

Saya mengajarkan hal yang sama pada staf kami. Saat ada tanda-tanda berbahaya, segera beritahu kami.
Ketika terlalu dekat dengan masalah, kerap pandangan kita blur…. tapi yang dari kejauhan, melihat lebih jelas.

One day, kebenaran akan terungkap. Sahabat kita bisa menilai, siapa temannya yang sejati dan siapa teman yang hanya datang saat keadaan baik-baik saja.
Waktu akan membuktikannya.

Dari pengalaman, akhirnya teman tadi sadar, saya betul-betul berusaha untuk menjaga dia karena saya mengasihinya.
Ini yang membuat persahabatan berkualitas dan menunjukkan loyalitas yang sejati.

Kalimat itu sangat menyentuh hati saya.

Karena sering kali orang baru mengerti, sebuah warning lahir dari kasih setelah mereka melihat sendiri kenyataannya.

Memang tidak semua warning akan diterima dengan baik. Kadang kita disalahpahami. Kadang dianggap terlalu sensitif. Kadang malah dicurigai punya agenda tertentu.

Tetapi saya percaya, lebih baik dianggap cerewet sebentar daripada menyesal seumur hidup sambil berkata:

“Dulu sebenarnya saya sudah tahu…”

Dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak ahli analisa setelah semuanya terlambat.
Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang cukup tulus untuk peduli, cukup berani untuk bicara, dan cukup dewasa untuk menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan kasih.

Martin Luther King Jr. Berujar,
“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends – Pada akhirnya, kita tidak akan mengingat kata-kata musuh, tetapi diamnya teman-teman kita.”

Bagaimana pendapat Anda?

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.” – Edmund Burke.

“Yang diperlukan agar kejahatan menang hanyalah ketika orang-orang baik memilih tidak melakukan apa-apa.” – Edmund Burke

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Doa Berubah, Jawaban Itu Terlihat.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Doa Berubah, Jawaban Itu Terlihat.

Pagi itu di BBL, seperti biasa kami mulai dengan doa. Sederhana, tapi hangat. Lalu Bu Nelsy menyampaikan satu pokok doa: minta didoakan adik bungsunya supaya menemukan jodoh.

Jujur, ini doa yang sangat manusiawi. Banyak dari kita pernah atau sedang mendoakan hal yang sama—untuk anak, saudara, bahkan diri sendiri. Kita rindu yang terbaik. Kita ingin Tuhan campur tangan.

Tapi di tengah suasana itu, Bu Hening tiba-tiba berbagi. Dan yang ia sampaikan bukan teori. Itu pengalaman. Dan terasa sekali—ada bobotnya.

Ia cerita tentang anaknya, Christine.

Bertahun-tahun ia berdoa. Doanya jelas: minta Tuhan beri jodoh yang seiman, sepadan, takut akan Tuhan. Tidak salah. Bahkan sangat rohani.

Tapi waktunya panjang. Dari usia 23 sampai 29 tahun. Enam tahun doa yang sama terus diulang.

Sampai satu titik, ketika ia belajar Firman di DE dan BBL, ada sesuatu yang “klik.” Bukan di luar, tapi di dalam.

Ia sadar—cara berdoanya perlu diluruskan.

Bukannya sejak dalam kandungan ia sudah menyerahkan masa depan anaknya kepada Tuhan? Bukankah Tuhan sudah menyediakan yang terbaik? Lalu kenapa terus meminta seperti sesuatu itu belum ada?

Di situ ia mulai mengubah doanya.

Bukan lagi meminta. Tapi bersyukur.

Ia mulai berkata: “Tuhan, terima kasih, Engkau sudah siapkan pasangan hidup untuk anak saya. Yang seiman, takut akan Tuhan, dan sepadan.”

Setiap pagi, ia dan suaminya sepakat mengucapkan itu. Tidak panjang. Tidak setiap hari juga. Tapi jelas. Fokus. Selaras dengan apa yang ia percayai.

Dan yang menarik—tidak lama.

Dua bulan.

Anaknya datang dan berkata, “Ma, aku sudah ketemu pasangan hidupku.”

Sederhana. Tapi kuat.

Tanggal 14 Februari 2026, Christine diberkati Tuhan dalam pernikahan dengan Edwin.

Bukan kebetulan. Ini buah dari perubahan cara percaya.

Kalau kita jujur, banyak dari kita ada di posisi yang sama seperti Bu Hening dulu. Kita berdoa, tapi dalam hati masih seperti “mengejar” sesuatu yang kita pikir belum ada.

Padahal Firman mengajarkan, Tuhan sudah menyediakan.

Kadang yang perlu diubah bukan situasinya—tapi cara kita melihat dan meresponsnya.

Dari terus meminta, menjadi percaya dan mengucap syukur.

Dari fokus pada “belum ada,” menjadi yakin “Tuhan sudah sediakan.”

Di situlah iman mulai bekerja dengan benar.

Ada beberapa hal sederhana tapi penting dari kesaksian ini.

Pertama, Firman meluruskan cara kita berdoa. Bukan soal banyaknya kata, tapi apakah selaras dengan kebenaran.

Kedua, iman itu tidak memohon dengan ragu, tapi menyatakan dengan percaya. Ucapan syukur itu bukan basa-basi. Itu posisi hati.

Ketiga, kesepakatan membawa kekuatan. Bu Hening dan suami berdoa bersama. Ada kesatuan. Dan itu penting.

Keempat, kesaksian itu nyata. Ketika Firman dihidupi, hasilnya tidak perlu dipaksakan. Akan terlihat.

Dan satu hal lagi yang terasa kuat: ketika Bu Hening berbagi, kita bisa merasakan—ini bukan cerita orang lain. Ini hidupnya sendiri. Ada keyakinan. Ada damai. Ada iman yang “menular.”

Itu yang tidak bisa dibuat-buat.

Mungkin hari ini kita juga sedang mendoakan sesuatu. Jodoh, kesehatan, keluarga, masa depan.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Tapi mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang perlu kita tanya: apakah kita masih meminta seolah Tuhan belum bekerja, atau kita sudah percaya bahwa Dia sudah menyediakan?

Perubahan kecil pada cara kita berdoa bisa membuka cara kita melihat.

Dan ketika cara kita melihat berubah, kita mulai melihat tangan Tuhan bekerja—lebih jelas, lebih nyata.

Kadang bukan Tuhan yang lambat menjawab. Kadang kita yang belum tepat dalam percaya.

Dan ketika itu diluruskan, kita tidak hanya melihat jawaban. Kita punya kesaksian.

Dan di sinilah bagian yang sering kita lewatkan.

Kesaksian itu bukan sekadar cerita.
Kesaksian itu seperti nubuatan—bahwa Tuhan mau melakukannya lagi, termasuk untuk kita.
Kesaksian itu juga seperti peta jalan. Kita melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup seseorang, dan kita tahu—jalan itu nyata, dan kita bisa berjalan di jalur yang sama.

Yang menarik dari Bu Hening, ia tidak sibuk melihat ke sekeliling. Tidak mencoba menilai pria mana yang cocok jadi menantunya. Tidak mencocok-cocokkan.

Ia memilih percaya.

Percaya bahwa sebelum dunia dijadikan, Tuhan sudah menyiapkan pribadi yang tepat untuk anak-anak-Nya.

Ini mengingatkan saya pada Adam ketika bertemu Hawa:
“Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.”

Adam tidak bingung. Tidak menimbang-nimbang. Ia mengenali.
Ada sesuatu di dalam yang tahu: ini dari Tuhan.
Wow… menarik sekali.

Karena kita juga bisa memilih berdasarkan selera. Tapi seringkali, akhirnya kita harus bekerja keras mencocokkan sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar pas.

Dan itu melelahkan.

Padahal Tuhan sudah punya rancangan.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu… yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Tuhan tidak asal memilihkan. Dia tidak coba-coba.

Tapi satu hal yang penting: Tuhan itu tidak memaksa.

Dia memberi, Dia menuntun, tapi tetap memberi kita pilihan.

Kita bisa ikut jalan-Nya. Kita juga bisa memilih jalan sendiri.

Lalu bagaimana kalau kita merasa sudah terlanjur salah memilih?
Jujur, mungkin ada konsekuensi.
Tapi itu bukan akhir.

Kalau kita mau kembali kepada Tuhan, menyerahkan semuanya, Dia sanggup mengubah situasi yang berantakan menjadi kebaikan bagi kita.

Itulah Tuhan kita.

Dahsyat, bukan?

Jadi mungkin hari ini kita tidak hanya mendengar kesaksian.
Kita sedang diundang.
Diundang untuk percaya dengan cara yang benar.
Diundang untuk berjalan di jalur yang sama.
Dan diundang untuk mengalami sendiri—bahwa Tuhan itu benar-benar bekerja.

“The surrender of ourselves to God is not the end, but the beginning of true life.” – Andrew Murray.

“Penyerahan diri kepada Tuhan bukan akhir, tetapi awal kehidupan yang sesungguhnya. – Andrew Murray.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 14 15 16 17 18 336