Say What You Want…Say What You Mean… Mean What You Say….
Saya dibesarkan dengan pemahaman bahwa yang natural itu yang nyata. Yang supernatural bisa terjadi, tetapi hanya untuk orang-orang tertentu saja. Mujijat hanya untuk orang yang suci dan besar imannya.
Meski bertahun-tahun kemudian saya mengenal Tuhan, tetapi cara hidup saya tetap sama. Mengutamakan yang natural. Berdoa? Ya tentu saja. Tapi kehujanan ya langsung cari obat dulu. Mencegah supaya tidak pilek.
Sampai saya mulai mengenal Tuhan secara pribadi dan lahir baru. Berulangkali mengalami pertolongan Tuhan. Hal-hal yang mustahil terjadi. Saya mulai agak paham, bahwa Tuhan bisa melakukan hal-hal yang mustahil menurut nalar manusia. Tetapi tetap dengan pemahaman, hasil lab dan vonis dokter, itu final.
Hingga saya mulai sekolah di Charis. Agak membingungkan ketika mendengar kalimat, “Fakta itu Bukan kebenaran, hanya Firman Tuhan yang merupakan kebenaran.”
Saya harus mengubah mindset, bahwa yang rohani itu yang nyata. Andrew Wommack mengingatkan, sesungguhnya saya tidak pernah melihat otak, paru-paru dan jantung saya. Tetapi saya percaya bahwa saya punya otak, paru-paru dan jantung. Namun saya sulit percaya bahwa firman Tuhan yang rohani dan tidak kelihatan itu, bisa mempengaruhi yang jasmani.
Betul juga ya?
Yang rohani inilah yang akan mencipta yang jasmani. Sungguh awalnya sulit dipahami. Make sense… Berarti saya harus mengubah pola pikir saya.
Firman Tuhan roh dan hidup. Tuhan mencipta alam semesta dengan perkataan atau firman-Nya. Artinya Kita pun mencipta hidup kita melalui perkataan yang keluar dari mulut kita.
Tanpa disadari, kita lebih sering mengucapkan hal-hal yang TIDAK kita inginkan, dibandingkan menyatakan hal-hal yang kita inginkan.
“Bisnis memang sepi gara-gara pandemi…”
Padahal yang kita inginkan adalah bisnis kita ramai. Mestinya kita mengatakan: “Secara umum bisnis memang sepi karena adanya pandemi, tapi sumber berkatku dari Tuhan, aku percaya Tuhan mengadakan perbedaan, sesuai janji-Nya, karena aku beribadah kepada-Nya. Bisnisku pasti ramai…”
Terjadilah menurut imanmu.
“Kakiku masih sakit, padahal aku sudah berdoa dan beriman.”
Seharusnya, “Kakiku memang masih sakit, tetapi karena aku sudah berdoa dan beriman, aku percaya aku SUDAH sembuh dan manifestasi kesembuhan di tubuhku sedang dalam proses.”
Nach ini menunjukkan kita sepakat dengan Tuhan dan firman-Nya. Yg rohani yang menentukan apa yang terjadi di alam jasmani. Katakan apa yang kita inginkan! Setuju?
Your words are so powerful that they will kill or give life.
Kata-katamu sangat berkuasa, dapat menghancurkan atau memberi kehidupan.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Kisah Apik Di Balik Charis Graduation & Promotion.
Yeaaaayyyy… Akhirnya lulus! Bagi teman-teman CJ 1 (Charis Jakarta angkatan 1), 4 tahun sudah mereka belajar bersama. Sedangkan bagi saya sekitar 3 tahun karena level 1 saya ambil program koresponden. Banyak pengalaman dan pembentukan terutama karakter, terjadi. Saat menoleh ke belakang, kami sadar betapa kami sudah bertumbuh dan makin dewasa rohani. Menemukan komunitas yang positif, di mana kami bisa saling mengingatkan prinsip-prinsip yang dipelajari dari para guru di Sekolah Charis.
Kami tidak sekedar belajar doktrin tetapi kami belajar membangun relationship dengan Tuhan. Sekarang Tuhan nyata berkarya dalam kehidupan kami setiap hari. Ini yang langka!
Sekolah Charis bisa ada di Indonesia karena ada P. Irwan & B. Angeline yang berani mengambil langkah hebat dan berani.
Beliau bercerita, saat sekolah di Charis Colorado, ada pembicara dahsyat yang hadir. Di saat sang pembicara mendoakan seorang siswa Indonesia lain yang hadir, kata-kata nubuatan tentang Indonesia yang dahsyat dilontarkan.
Meski bukan mereka yang menerima nubuatan, tetapi mereka meraihnya dengan iman serta bertindak. Saat itu mereka masih level 2, lalu melanjutkan level 3 di Hongkong dengan membawa misi untuk mendirikan Sekolah Charis di Indonesia.
Thanks P. Iwan & B. Angeline sehingga Sekolah Charis bisa ada di Indonesia!
Pelajarannya: Kehendak Tuhan tidak akan pernah gagal, meski ada yang mengabaikannya. Jika kita tidak bersedia dipakai, Tuhan bisa memakai orang lain yang bersedia. Tentunya, kita sendiri yang rugi karena menolak atau mengabaikannya. Tujuan hidup kita dicapai, karena kita bersedia taat dan setia.
Jalan Tuhan itu unik. Suatu hari waktu buka kontak HP, terlihat nama Imam Syahroni. Anak muda yang saya kenal saat membeli apartemen di Johor, Malaysia. Karena sama-sama dari Surabaya, segera akrab. Dan kejadiannya sudah lama… beberapa tahun lalu.
“Kita ini punya otoritas lho… Eman klo gak dimanfaatkan,” ujar Imam suatu ketika.
“Oh ya… Ayoo ceritain,”
Mulailah Imam memberi ‘teaser’, sambil memperkenalkan buku “Otoritas Orang Percaya”, karya Andrew Wommack.
Segera saya membeli dan membacanya. Wow… Keren sekali. Saya pun melaporkan apa yang saya dapat pada Imam.
“Ada sekolahnya juga di Jakarta. Mampir klo pas ke Jakarta,” Imam mengundang.
Saat sedang di Jakarta, saya pun ikut hadir dalam kelas. Bisa dibayangkan, semua murid sudah saling kenal, except me… ? Nekad karena penasaran.
Ternyata memang benar-benar dahsyat. Tanpa ditunda lagi, hari itu juga saya ambil formulir pendaftaran dan langsung join.
Hidup saya berubah… Cara Tuhan menangkap saya, terpikir saja tidak. Mungkin Imam pun tidak menyangka, ngobrol iseng, bisa menghasilkan ‘buah’ yang mengubah hidup seseorang yaitu YennyIndra. Thanks Bro Imam…. !!! Kamu ‘malaikatku’
Pelajarannya: Tabur saja info kebaikan ke mana saja. Kita tidak pernah tahu mana yang akan tumbuh. Dan itu tugasnya Tuhan. Tugas kita hanyalah setia berbagi.
CJ1 graduation (lulus level 2) bersama dengan Promotion CJ3 (lulus level 1). Nach hebatnya, sebagai wakil CJ3 yang speech Drg. Iwan. Sementara wakil CJ1 yang speech Drg Henny Oetami, istri Drg. Iwan. Suami istri ini keren Abis.
P. Iwan seperti biasa membawakannya penuh humor hingga membuat semua peserta terpingkal-pingkal. Termasuk P. Chris Manusama tidak terkecuali…
Sepotong kalimat P. Iwan yang terus terngiang-ngiang di telinga, “Saat hendak mengambil keputusan, saya berprinsip: Allah TIDAK BOLEH dirugikan! Allah harus mendapatkan tempat terbaik dalam kehidupan saya! Kalau saya mengambil keputusan ini, Tuhan dapat apa? Belajarlah melihat, seperti Tuhan melihat… Ketika saya dapat melihat dengan jelas seperti Tuhan melihat, maka saya tidak akan salah arah.”
Mak jleb! Perenungan dan pewahyuan yang sangat dalam. Saya tahu, ini bukan P. Iwan, tetapi Tuhan yang sedang menyampaikan isi hatinya kepada saya! Dan saya wajib mempraktekkan dan menghidupinya!
Bu Henny tidak kalah bagusnya. Dengan lugas mengingatkan, kami sudah lulus level 2, sekarang menyandang gelar alumni Charis. Tetapi masih ada 1 langkah terakhir, level 3. Lho koq masih sekolah lagi?
Level 2 sudah lulus secara teori, tetapi level 3 itu penerapan maksimalnya. Alangkah baiknya saat mempraktekkannya bersama-sama dengan teman yang satu visi. Kami bisa saling belajar dan membangun. Project-project besar menanti di depan.
“If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together” – African Proverb.
Jika ingin berjalan cepat, pergilah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, pergilah bersama-sama” – Pepatah Afrika.
Bagaimana kalau…? Begitu banyak kendala-kendala yang muncul memenuhi benak kita sebelum melangkah. Tetapi saat melangkah dengan iman, penyediaan Tuhan terjadi. Semua kendala, ada solusinya. Bahkan lebih baik daripada yang bisa kita pikirkan. Dulu saya tidak yakin level 2 bisa memenuhi persyaratan kehadiran minimum di kelas. Saya kan warga Surabaya. Siapa nyana ada pandemi? Saya nyaris gak pernah absen. Stay terus di Jakarta.
“Lama ya… 1 level 2 tahun…”
Ya kan sekolahnya 2 minggu sekali. Di rumah kami dapat tugas mendengarkan dan mempelajari 8 video pelajaran dari guru-guru dari Colorado, USA @50 menit. Saat di sekolah hari Sabtu, dibahas.
Kami yang sudah berkumpul 3-4 tahun, justru sudah kepikiran, bagaimana caranya supaya bisa terus berkumpul saat sudah lulus nanti. Tidak mudah memperoleh komunitas yang membangun dan positif. Kami tetap hidup sangat normal di tengah pandemi. Sehat, bebas dari ketakutan dan bahagia. Kalau Allah ada di pihakku, siapa dapat melawan aku?
Pelajarannya: Dalam hidup, jalani bersama Tuhan. Ambil langkah pertama dengan iman, maka Dia akan membimbing kita langkah demi langkah. Tidak sekaligus…. Tetapi langkah demi langkah, Dan setiap langkah merupakan suatu mujizat!
You will not hear GOD clearly on the SPECIFICS, if you don’t obey the GENERAL – Rich Kanyali.
Anda tidak akan mendengar perintah TUHAN yang SPESIFIK dengan jelas, jika Anda tidak mematuhi perintah-perintah-Nya yang UMUM – Kaya Kanyali.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK- PEDULI KESEHATAN
Ada sejumlah kunci untuk melihat mujizat Tuhan terwujud secara konsisten. Salah satu yang paling sedikit dipahami, karena itu jarang dipraktikkan, adalah fakta bahwa kesembuhan berada di bawah otoritas orang percaya. Tuhan telah menyediakan kuasa kesembuhan-Nya dan menempatkannya di dalam diri setiap orang percaya yang telah lahir baru. Terserah kita untuk menggunakannya atau tidak. Memahami dan menggunakan otoritas kita adalah kunci untuk melihat mujizat terjadi.
Lihatlah bagaimana Petrus dan Yohanes melayani kesembuhan orang lumpuh dalam Kisah Para Rasul 3:1-8 (TB). “Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah. Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata: “Lihatlah kepada kami.” Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.”
Perhatikan Petrus tidak berdoa untuk orang ini. Dia juga tidak meminta Tuhan untuk menyembuhkannya. Dia berkata, “Seperti yang telah kuberikan kepadamu.” Ini tidak berarti bahwa Petrus adalah sumber penyembuhan ini. Perhatikan apa yang Petrus katakan dalam Kisah Para Rasul 3:12 (TB), “Petrus melihat orang banyak itu lalu berkata: “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?”
Kuasa Tuhanlah yang menyembuhkan orang ini, tetapi kuasa itu berada di bawah otoritas Petrus. Petrus melanjutkan dengan mengatakan dalam ayat 16 bahwa adalah iman dalam nama Yesus yang telah menciptakan mujizat ini.
Tetapi Petrus tidak meminta Tuhan untuk menyembuhkan orang ini. Dia percaya Tuhan telah melakukan bagian-Nya dan telah menempatkan kuasa itu di dalam dirinya. Sekarang adalah tanggung jawab Petrus untuk melepaskan kekuatan itu, dan itulah yang dia lakukan.
Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk berdoa bagi orang sakit dalam arti bahwa kita meminta Dia untuk menyembuhkan mereka. Dia menyuruh kita untuk menyembuhkan orang sakit. Ada perbedaan BESAR antara keduanya. Ini ada hubungannya dengan beroperasi dalam otoritas yang telah Dia berikan kepada kita. Lihatlah perintah-perintah ini yang Tuhan berikan kepada murid-murid-Nya.
“Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang.” Lukas 9:1-2 (TB).
“Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.” Matius 10:1 (TB)
“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Matius 10:7-8 (TB).
Yesus menyuruh kita untuk menyembuhkan orang sakit BUKAN mendoakan orang sakit. Sungguh pernyataan yang radikal! Ini akan membuat kita dikeluarkan dari kebanyakan gereja hari ini, tetapi ini adalah kata-kata yang persis, tepat yang diucapkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Dan inilah alasan tepatnya, mengapa banyak orang tidak melihat mujizat yang mereka doakan. Mereka tidak menggunakan otoritas dan memerintah dengan kuasa Tuhan; sebaliknya, secara pasif meminta Tuhan untuk melakukan apa yang Dia perintahkan untuk mereka lakukan.
Saya tahu ini bertentangan dengan doktrin Kristen yang populer. Kita terus-menerus diberitahu bahwa bukan kita tetapi Tuhanlah Sang Penyembuh, dan saya setuju dengan itu sepenuhnya. Tetapi, saya juga percaya bahwa Tuhan telah menempatkan kuasa penyembuhan-Nya di bawah otoritas kita, dan terserah kepada kita untuk menggunakannya atau tidak. Jika kita tidak mengambil otoritas kita serta berperan sebagai pemimpin (komandan) yang berkuasa, malahan memilih mengemis, minta pertolongan Tuhan, maka kekuatan Tuhan tidak akan dilepaskan. Perlu ada pembaharuan radikal pemikiran kita dalam menghadapi masalah ini.
Seorang teman baik saya, Dave Duell, mengadakan pertemuan di Afrika bertahun-tahun yang lalu. Itulah pertama kalinya mereka melihat mujizat seperti orang buta dapat melihat dan orang tuli disembuhkan. Orang-orang begitu bersemangat sehingga mereka mengerumuninya saat Dave berjalan di jalanan, mencoba menyentuhnya agar mereka bisa disembuhkan. Pikiran pertamanya dipengaruhi oleh pemikiran religius yang saya coba ubah. Dia berpikir, Mereka seharusnya tidak melihat ke arahku. Saya bukan penyembuh; Yesuslah Sang Penyembuh. Dia hendak menghentikan perbuatan mereka, ketika Tuhan berbicara kepadanya. Tuhan berkata, “Dave, apakah kamu ingat ketika Aku mengendarai keledai itu ke Yerusalem, dan semua orang meletakkan pakaian dan daun palem di jalanan serta berteriak, ‘Hosana… Hosana…’? Apa yang akan kamu pikirkan jika keledai itu berbicara dan berkata, ‘Ini bukan saya! Itu bukan saya’? Sikap itu hanya akan mengungkapkan kesombongan si keledai. Tidak ada yang memuji keledai itu; mereka memuji Dia yang menunggangi keledai itu.”
Ketika Dave menyadarinya, orang-orang tidak mencoba menyentuhnya tetapi menyentuh Yesus yang dia bawa, maka dibiarkannya mereka menyentuhnya semau mereka dan orang-orang disembuhkan. Inilah yang terjadi dengan murid-murid abad pertama. Petrus menyuruh orang-orang berbaris di jalan-jalan sehingga bayangannya menyentuh mereka pun, mereka disembuhkan (Kis. 5:15).
Lihatlah bagian Kitab Suci yang menakjubkan dalam Yesaya 45:11(TB): “Beginilah firman TUHAN, Yang Mahakudus, Allah dan Pembentuk Israel: “Kamukah yang mengajukan pertanyaan kepada-Ku mengenai anak-anak-Ku, atau memberi perintah kepada-Ku mengenai yang dibuat tangan-Ku?
Sungguh ayat yang dahsyat! Apa maksud Tuhan ketika Dia menyuruh kita untuk memerintahkan Dia? Yah, tentu tidak berarti kita lebih kuat dan lebih berkuasa dari Dia sehingga dapat memerintah-Nya. Maksudnya, selaras dengan hal-hal yang telah dikerjakan-Nya, Tuhan ingin kita mengambil otoritas kita dan memerintahkan dengan kuasa-Nya.
Ibarat seperti listrik. Perusahaan listrik PLN memproduksi listrik lalu mengirimkannya ke rumah kita. Tentu listrik itu bukan kekuatan kita, tetapi listrik itu berada di bawah kendali otoritas kita. Saat ingin menyalakan lampu, tentu kita tidak lagi menelepon PLN, meminta mereka untuk menyalakan lampu. Tidak! Mereka tidak akan melakukan itu. Mereka memproduksi aliran listrik, tetapi kekuatan listrik itu berada di bawah perintah kita. Sekarang kita cukup menekan sakelar di dinding dan memerintahkan daya listrik untuk bekerja. Apakah ini berarti kita adalah sumber listriknya? Tentu tidak! Kita dapat memasukkan bola lampu ke dalam mulut kita, dan itu tidak akan pernah menyala. Kita bukanlah sumber kekuatan listriknya, tetapi kitalah yang mengendalikan apa yang dilakukan kekuatan itu. Kita dapat memohon kepada PLN semua yang kita inginkan, tetapi PLN tidak akan menekan tombol itu untuk kita. Tugas kita harus menerima otoritas serta mengakuinya bahwa kekuatan listrik itu berada di bawah komando kita.
Inilah yang Tuhan bicarakan. Tuhan telah menyembuhkan semua orang, yang akan membutuhkan kesembuhan di kemudian hari. Dia telah melakukannya dua ribu tahun yang lalu ketika Yesus menanggung bilur-bilur kita di punggung-Nya. Kemudian Dia menaruh kuasa kebangkitan-Nya di dalam setiap orang percaya (Ef. 1:19-20). Dia telah melakukan bagian-Nya, dan sekarang terserah kita, apakah kita melakukan bagian kita, atau tidak. Kita perlu mengambil otoritas yang telah Dia berikan kepada kita dan menjadi komandan, bukan pengemis. Inilah kebenaran dahsyat yang terbukti berhasil, itulah alasan mengapa kita melihat begitu banyak mujizat. Kita tidak sekedar berdoa untuk orang sakit; kita menyembuhkan mereka dalam nama Yesus.
Saya tahu pemikiran ini menimbulkan banyak pertanyaan, bukan sekedar jawaban, jadi saya telah menulis pengajaran tentang Otoritas Orang Percaya.
[Repost ; “Our Authority Releases God’s Power” – Andrew Wommack, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Dikritik? Tidak disukai orang lain? Uh… Bikin baper…. Dan tidak menyenangkan tentunya.
Namun saat bergaul dengan orang-orang besar, seperti Dale Carnegie, beliau akan berujar: “Tidak ada orang yang mau menyepak anjing yang mati.”
Lho maksudnya? Dale Carnegie menjelaskan, ketika kritik datang atau ada orang yang tidak menyukai kita, bisa jadi itu merupakan pujian yang tersembunyi. Anjing mati menggambarkan sesuatu yang tidak berharga. Sampai menendang atau menyepak pun, orang tidak sudi. Nach kalau kita disepak, karena kita berharga.
Kalau kita sampai dikritik, dibenci, tidak disukai, -bukan karena perbuatan atau sikap kita yang salah -, itu membuktikan kita sedang mengerjakan sesuatu yang berdampak dan mempengaruhi orang lain. Sehingga ada orang-orang yang merasa terganggu dan merasa perlu menyepak.
Gak usah sedih, kecewa … Ternyata Joel Osteen menjelaskan:
25% orang yang mengenal kita, tidak akan menyukai kita. Kelompok ini apa pun yang terjadi, tidak akan pernah menyukai kita.
25% lagi, tidak menyukai kita tetapi dapat diyakinkan agar menyukai kita.
25% lagi, menyukai kita tetapi dapat diyakinkan untuk tidak menyukai kita.
25% sisanya, menyukai kita dan akan selalu mendukung di belakang kita. No matter what…. Wow…
Memahami kebenaran ini, membuat kita realistis dan tidak menginginkan semua orang menyukai kita. Ketika kita ingin menyenangkan semua orang, maka kita tidak akan mencapai sesuatu.
I don’t know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody. – Bill Cosby.
Saya tidak tahu kunci kesuksesan, tetapi kunci kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang.- Bill Cosby.
Trying To Please everyone is a recipe for stress, misery and frustration. Be yourself it’ll be good to know who’s down with that.
Mencoba Untuk Menyenangkan setiap orang adalah resep untuk stres, sengsara, dan frustrasi. Jadilah dirimu sendiri, akan lebih baik mengetahui siapa yang di seberang kita.
Nach lho, Menarik sekali…
Dahlan Iskan berujar, dalam sebuah organisasi, 10% teratas adalah orang-orang yang terbaik. 10% terbawah adalah yang terburuk. 80% sisanya, tergantung siapa yang memimpin? Kelompok ini bisa dipengaruhi tergantung pemimpin dan orang-orang yang mempengaruhinya.
Pelajarannya: Kita tidak perlu fokus pada yang memang dalam keadaan apa pun tidak berada di pihak kita. Wasting time. Buang-buang waktu. Sebaliknya, fokus saja pada kelompok yang memang bisa dipengaruhi untuk bersama-sama berjalan menuju tujuan yang sama. Tuhan menciptakan kita di dunia ini, memiliki peran yang tak tergantikan, memenuhi tujuan hidup dari Tuhan, menjadi bagian sesuatu yang besar. Jika kita tidak memenuhi tanggungjawab itu, bagian itu akan kosong … Menjadi tidak utuh lagi.
Dean Hawk memberikan ilustrasi dengan puzzle. Saat puzzle disusun, mulai nampak bentuk dan gambarnya. Tetapi ketika ada satu saja bagian puzzle yang hilang, maka lukisan puzzle itu menjadi berlubang dan tidak utuh lagi. Ini menggambarkan, seberapa pun besarnya peranan kita, peran kita itu penting.
Ibarat mobil, kehilangan sebuah baut, meski pun kecil, bisa mengakibatkan kecelakaan fatal.
Dan kita diberkati agar dapat menjadi berkat bagi orang lain. Mari kita menggenapi peran kita yang tak tergantikan, yang telah ditetapkan Tuhan dengan menjadi diri kita yang terbaik.
You are where God wants you to be at this very moment. Every experience is part of His divine plan.
Anda berada di tempat yang diinginkan Tuhan saat ini. Setiap pengalaman merupakan bagian dari rencana ilahi-Nya.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Bagaimana Saya Tahu Kalau Saya Betul-Betul Beriman Atau Tidak?
Chat masuk dari sahabat saya, Denny Christian. Artikel tulisan Barry Bennett & artikel lainnya, yang dipilih Denny selalu bagus dan menggigit. Saya pun meminta ijin, tidak hanya menterjemahkannya, tetapi melengkapinya dengan contoh kasus supaya para pembaca jelas dan paham.
Iman bukan masalah mental atau sekedar pikiran. Iman itu dari hati. Dengan hati manusia percaya, bukan dengan kepala,. (Roma 10:8-10).
Keras kepala bukanlah iman, meskipun iman yang benar akan menghasilkan ketekunan. Iman BUKAN sekedar pengetahuan tentang iman. Mengetahui sesuatu itu benar dan menjadi keras kepala, tidak sama dengan “MENDENGAR” dari Tuhan dan berjalan dalam damai sejahtera, keyakinan dan kepastian.
Ketika seseorang berdoa mengharapkan terjadinya kesembuhan, banyak yang bingung antara pengetahuan di kepala mereka, memang kehendak Tuhan untuk menyembuhkan VS iman yang dimaksud Tuhan Yesus agar kesembuhan terjadi.
Pengetahuan itu penting, tetapi pengetahuan BUKAN iman. Iman hanya memiliki satu sumber; Mendengar dari Allah. (Roma 10:17).
Sekian puluh tahun lalu, gembala saya di Jogja, putranya sakit dan panas tinggi. P. Gembala dan istrinya berdoa dan mereka berdua diingatkan akan janji Tuhan bahwa putranya akan sembuh. Baik sang gembala mau pun istrinya, yakin mendengar pesan yang sama dan mereka berdua sepakat serta yakin sepenuh hati, putranya sembuh. Tanpa ke dokter dan ke rumah sakit, putranya sembuh secara supernatural.
Tidak lama kemudian ada jemaat baru yang suaminya mengalami kecelakaan. Dalam kondisi gegar otak, dokter menyarankan operasi. Tetapi si ibu ini, bersiteguh menolak operasi. Dia ingin meniru apa yang dialami putra gembalanya. Sang gembala sudah menjelaskan, tetapi dia bergeming. Akhirnya, suaminya meninggal.
Di mana letak perbedaannya? Sang gembala & istri MENDENGAR Suara Tuhan, melalui ayat yang diingatkan. Suara Tuhan bisa juga diterima melalui firman yang tengah dibaca, seolah-olah dihidupkan oleh Roh Kudus, menjadi Rhema – Suara Tuhan Yang Hidup secara pribadi untuk kita. Ada banyak cara Tuhan berbicara, tetapi yang paling sering melalui firman yang dihidupkan oleh Roh Kudus. Dan kita yang mendengar suara-Nya tahu, tahu dan tahu…
Berbeda dengan si ibu yang suaminya kecelakaan, dia tahu secara mental, di dalam pikirannya bahwa kehendak Tuhan menyembuhkan. Tetapi dia TIDAK mendengar suara Tuhan dan TIDAK menerima arahan Tuhan secara spesifik, bahwa Tuhan akan menyembuhkan secara supernatural.
Tuhan bisa menyembuhkan secara Natural mau pun Supernatural. Dokter dan obat pun sarana yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan.
Greg Mohr menjelaskan kita harus seimbang. Jika sakit karena hal natural, penyembuhannya natural. Yang disebabkan hal supernatural, penyembuhannya supernatural.
Pelajaran pentingnya, kita Tidak Bisa meniru pengalaman orang lain. Itu bukan iman. Kesembuhan Bukan Formula! Tuhan Yesus berulangkali menyembuhkan orang buta tetapi caranya tidak pernah sama.
Seorang teman bertanya, “B. Yenny, saya mulai meriang. PCR gak bu? Klo PCR lalu positif, saya jadi kuatir. Saya ‘mengimani’ oleh bilur-bilur Yesus, saya sudah sembuh”
“PCR saja…”
Untung contoh serupa diajarkan di sekolah. Nach itu gunanya sekolah.
Kalau kita masih bertanya kepada orang lain, berarti TIDAK YAKIN alias Tidak Beriman. Pasti Tidak mendengar suara-Nya.
Kalau kita benar-benar Mendengar Suara Tuhan, ada Keyakinan Yang Tidak Tergoyahkan, biar pun seluruh dunia berbeda pendapat, kita Tetap Yakin karena kita tahu, tahu dan tahu…
Cara Tuhan berbicara itu spesifik, personal dan satu-satunya untuk orang tersebut.
Semak duri yang menyala dan tidak terbakar, hanya terjadi satu kali dalam sejarah, dan satu-satunya untuk Musa. Dan Musa tahu, tahu dan tahu… Semak Duri Yang Menyala & Tidak Terbakar, Itu Tuhan. Demikian juga ketika kita mendengar suara-Nya. Yakin. Pasti. Personal hanya untuk kita.
• Kita harus dihidupkan oleh Roh Kudus (Rm. 8:16). • Iman bersifat rohani (2 Kor. 4:13), BUKAN emosional. • Jenis iman Tuhan (iman yang diaktifkan dengan mendengarkan suara-Nya) tidak akan pernah gagal. • Ketika iman yang benar diaktifkan di bidang penyembuhan, sakit penyakit harus tunduk! Penyembuhan dimulai. Keadaan kita akan menjadi lebih baik, bukan lebih buruk.
Tidak ada penghukuman jika kita tidak benar-benar beriman kepada Tuhan. Tuhan memahami koq level iman kita masing-masing. Berita baiknya, Tuhan akan menemui kita di setiap level iman yang kita miliki. Dan Dia menerima kita apa adanya.
Jangan biarkan ke-keraskepala-an kita, pada akhirnya membunuh kita. Saat bimbang, kita tidak akan memperoleh apa-apa. (Yakobus 1:6-7) Justru kebimbangan itu yang menjadi pijakan iblis untuk menghancurkan serta memporak-porandakan hidup kita.
Datang kepada Tuhan, Serahkanlah segala kebimbangan dan kekuatiran kita kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kita. 1 Petrus 5:7 (TB)
Lakukan apa yang kita bisa secara alami untuk tetap hidup dan berkembang, serta tinggallah di hadirat Tuhan: berdoa dan baca firman -, sampai kita memperoleh kepastian ilahi, tentang apa yang harus kita lakukan. Tuhan itu setia dan senantiasa mengasihi kita. Janji-Nya selalu YA dan AMIN.
Praktik yuk….
When God speaks, he does not give new revelation about himself that contradicts what he has already revealed in Scripture. Rather, God speaks to give application of his Word to the specific circumstances in your life. When God speaks to you, he is not writing a new book of Scripture; rather, he is applying to your life what he has already said in his Word. – Henry T. Blackaby, Hearing God’s Voice.
Ketika Tuhan berbicara, dia tidak memberikan pewahyuan baru tentang diri-Nya yang bertentangan dengan apa yang telah dia ungkapkan dalam Kitab Suci. Sebaliknya, Tuhan berbicara untuk memberikan penerapan Firman-Nya pada keadaan khusus dalam hidup Anda. Ketika Tuhan berbicara kepada Anda, dia tidak sedang menulis sebuah kitab baru yang berbeda dengan Kitab Suci; sebaliknya, dia menerapkan dan meneguhkan pada hidup Anda apa yang telah dia katakan dalam Firman-Nya. – Henry T. Blackaby, Mendengar Suara Tuhan.
Note: Artikel Barry Bennett ini juga memperjelas topik Mendengar Suara Tuhan. Sila Klik Link