Pertanyaan yang Menyelamatkan Sebuah Pernikahan…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Pertanyaan yang Menyelamatkan Sebuah Pernikahan…
Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan yang sangat menyentuh hati.
Bukan tulisan dari seorang konselor pernikahan terkenal. Bukan pula hasil penelitian yang panjang. Hanya sebuah kisah sederhana tentang seorang wanita berusia 96 tahun yang telah menikah selama 74 tahun.
Ini jelas bukan sekedar teori….
Seseorang bertanya kepada ibu yang bijak itu,
“Apa yang membuat pernikahan Anda bisa bertahan selama itu?”
Saya membayangkan jawabannya mungkin tentang cinta yang besar, pasangan yang romantis, atau kehidupan yang nyaris tanpa konflik.
Tetapi ternyata bukan itu.
Ia tidak berkata, “Kami tidak pernah bertengkar.”
Ia juga tidak berkata, “Kami selalu bahagia.”
Sebaliknya, ia mengakui dengan jujur,
“Kami pernah bertengkar. Kami pernah menangis. Kami pernah saling mengecewakan. Bahkan ada saat-saat kami berhenti berbicara.”
Saya tersenyum ketika membacanya. Paham sekali rasanya.
Wuih…. Akhirnya ada seseorang yang berani mengatakan bahwa pernikahan yang panjang bukanlah pernikahan tanpa masalah.
Yang membuat saya semakin terdiam adalah kalimat berikutnya.
Setiap malam sebelum tidur, salah satu dari mereka selalu bertanya,
“Apakah kita baik-baik saja?”
Sederhana sekali.
Namun mungkin justru pertanyaan itulah yang menyelamatkan hubungan mereka selama puluhan tahun.
Wanita itu melanjutkan,
“Kami tahu bahwa kesombongan tidak pernah menyelamatkan sebuah hubungan. Kasih selalu dimulai ketika ego berakhir.”
Kalimat itu begitu dalam.
Berapa banyak hubungan yang sebenarnya tidak hancur karena masalah yang besar, tetapi karena tidak ada yang mau mengalah?
Tidak ada yang mau meminta maaf lebih dulu.
Tidak ada yang mau membuka percakapan.
Tidak ada yang mau bertanya, “Apakah kita baik-baik saja?”
Lalu ia memandang cincin pernikahannya dan berkata,
“Ada hari-hari ketika mengucapkan ‘Maaf’ terasa mustahil. Tetapi kehilangan satu sama lain terasa jauh lebih menyakitkan.”
Saya rasa, itulah kedewasaan.
Bukan berarti tidak terluka.
Bukan berarti tidak kecewa.
Tetapi mampu melihat bahwa hubungan jauh lebih berharga daripada kemenangan sesaat.
Yang paling saya sukai adalah kalimat menjelang akhir.
Sambil menggenggam tangan suaminya, ia berkata,
“Kami tidak pernah bertengkar untuk menang. Kami bertengkar untuk saling memahami.”
Bukankah sering kali kita justru melakukan sebaliknya?
Kita sibuk mengumpulkan alasan mengapa kita benar.
Kita mendengarkan hanya untuk membalas.
Kita berbicara bukan untuk memahami, tetapi untuk memenangkan perdebatan.
Padahal setiap kali ada yang menang dalam pertengkaran suami istri, sesungguhnya yang kalah adalah hubungan itu sendiri.
Sebelum meninggalkan ruangan, wanita itu menoleh kepada cucunya dan memberikan nasihat yang indah.
“Pilihlah seseorang yang sanggup kamu ampuni. Dan jadilah seseorang yang layak untuk diampuni.”
Saya berhenti membaca sejenak.
Kalimat itu mengingatkan saya bahwa pernikahan bukanlah tentang menemukan orang yang sempurna.
Kita semua akan mengecewakan orang yang kita kasihi, cepat atau lambat.
Karena itu yang dibutuhkan bukan kesempurnaan, melainkan anugerah dan kasih Tuhan yang mengalir melalui kita. Kita jelas tidak bisa melakukannya dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi bersama Tuhan, kita pasti bisa!
Pernikahan yang langgeng, bukanlah pasangan yang tidak pernah salah, tetapi dua orang yang terus memilih untuk kembali mengasihi.
Saya percaya, hubungan yang langgeng dibangun bukan oleh momen-momen besar, melainkan oleh ribuan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.
Memilih meminta maaf.
Memilih mengampuni.
Memilih mendengar.
Memilih tetap tinggal ketika ego mengajak pergi.
Dan mungkin, mulai malam ini, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita tanyakan kepada orang-orang yang kita kasihi,
“Apakah kita baik-baik saja?”
Bisa jadi, pertanyaan sederhana itu akan menyembuhkan lebih banyak hal daripada seribu argumen yang kita menangkan.
“Love is the will to extend one’s self for the purpose of nurturing one’s own or another’s spiritual growth.” – M. Scott Peck
“Kasih adalah kemauan untuk memberikan diri demi menolong diri sendiri maupun orang lain bertumbuh secara rohani.” – M. Scott Peck
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur
Hubungan yang kuat bukan dibangun oleh dua orang yang selalu benar, tetapi oleh dua orang yang selalu memilih untuk memulihkan.”
“Strong relationships are not built by two people who are always right, but by two people who always choose restoration.” — Yenny Indra
