Tag Archives: #seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Articles

Kalau Aku Bisa Kembali ke Masa Lalu…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kalau Aku Bisa Kembali ke Masa Lalu…

Kalau hari ini Anda diberi kesempatan kembali ke masa lalu, apa yang ingin Anda ubah?

Mungkin Anda ingin memilih jurusan yang berbeda. Menolak sebuah pekerjaan. Tidak menikah terlalu cepat. Lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua. Atau mengambil keputusan yang selama ini paling Anda sesali.

Pertanyaan seperti ini sering muncul, bahkan menjadi tren di media sosial: “Apa yang akan kamu katakan kepada dirimu yang lebih muda?”

Jujur, saya juga pernah memikirkannya.

Namun belakangan ini saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Bagaimana jika justru semua musim yang ingin kita hapus itu adalah bagian dari proses yang membentuk kita menjadi pribadi hari ini?

Bukan berarti Allah merancang penderitaan kita. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan: Allah itu baik. Dia bukan sumber kejahatan atau penderitaan. Tetapi firman juga menunjukkan bahwa tidak ada satu pun pengalaman yang sia-sia ketika kita menyerahkannya ke dalam tangan-Nya.

Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya. Itu bukan rencana Allah. Itu adalah kejahatan manusia. Namun pada akhirnya Yusuf dapat berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”

Allah tidak menciptakan kejahatan itu, tetapi Dia sanggup mengubahnya menjadi berkat.

Demikian juga dalam hidup kita.

Ada musim-musim yang terasa tidak adil. Ada doa yang belum kita lihat jawabannya. Ada pintu yang tertutup ketika kita merasa pintu itulah harapan terakhir. Ada kegagalan yang membuat kita mempertanyakan diri sendiri.

Kalau boleh jujur, kita ingin melewati semua bagian itu.
Tetapi bagaimana jika justru di sanalah karakter kita sedang dibentuk?

Emas dimurnikan dalam api. Otot bertumbuh karena tekanan. Demikian pula iman menjadi semakin dewasa ketika tetap memilih percaya kepada Tuhan, sekalipun keadaan belum berubah.

Firman Tuhan berkata bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.

Perhatikan, tidak dikatakan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Yang dikatakan adalah Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu. Artinya, sekalipun dunia yang telah jatuh ini menghadirkan banyak hal yang menyakitkan, Allah tidak pernah kehilangan kemampuan untuk menenun semuanya menjadi sesuatu yang indah.

Mungkin hari ini Anda sedang berada di ruang yang terasa asing.

Anda membayangkan pada usia sekarang seharusnya karier sudah lebih baik. Bisnis sudah lebih berkembang. Keluarga sudah lebih harmonis. Kesehatan sudah pulih. Namun kenyataannya berbeda.

Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Anda tertinggal.

Tuhan tidak pernah panik melihat garis waktu hidup kita.
Dia hadir di tengah jarak antara kenyataan hari ini dan impian yang belum kita lihat menjadi nyata.
Dia tidak meninggalkan kita di tengah proses.

Sering kali kita baru memahami penyertaan Tuhan ketika menoleh ke belakang. Saat itu kita menyadari bahwa justru di musim yang paling sulit, kita belajar berdoa lebih sungguh-sungguh. Kita belajar mengampuni. Kita belajar bergantung kepada anugerah-Nya, bukan kepada kekuatan sendiri.

Kalau semua jalan selalu mulus, mungkin kita hanya mengenal berkat Tuhan, tetapi tidak pernah benar-benar mengenal hati-Nya.

Hari ini mungkin masih ada pertanyaan yang belum terjawab.

Tidak apa-apa.

Iman bukan berarti memiliki semua jawaban. Iman adalah tetap mempercayai Pribadi yang memegang seluruh jawaban.

Suatu hari nanti, ketika kita melihat kembali perjalanan hidup ini, mungkin kita akan berkata, “Tuhan, sekarang aku mengerti. Engkau tidak pernah meninggalkanku. Bahkan ketika aku tidak memahami apa yang sedang terjadi, Engkau tetap bekerja.”

Dan mungkin, bagian hidup yang paling ingin kita hapus hari ini justru akan menjadi bagian yang paling kita syukuri karena melalui itulah kita semakin mengenal Allah.

God wasn’t absent in your hardest seasons. He was working.
You can’t skip the pain and still get the formation.
The unfair parts, the unplanned parts, the parts that hurt the most – they weren’t detours from His plan. They were the plan.*
*He was with you in every single one of them. – Christine Cain.

Allah tidak pernah absen dalam musim-musim tersulit hidupmu. Dia tetap bekerja.*
*Kita tidak bisa melewati rasa sakit tanpa mengalami pembentukan.
Bagian-bagian hidup yang terasa tidak adil, yang tidak pernah kita rencanakan, dan yang paling menyakitkan bukan berasal dari Allah. Namun, ketika kita tetap berjalan bersama-Nya, tidak satu pun dari semuanya menjadi sia-sia. Allah sanggup memakai setiap keadaan untuk membentuk karakter kita dan mendatangkan kebaikan.
Dia menyertai kita dalam setiap langkah perjalanan itu – Christine Caine.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tetapi Dia berjanji tidak akan membiarkan satu pun badai berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang berharga di dalam diri kita ketika kita tetap berjalan bersama-Nya.”

“God does not promise a life without storms, but He does promise that no storm is wasted when we keep walking with Him.” — Yenny Indra

Read More
Articles

Dua Kata yang Mengubah Segalanya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Dua Kata yang Mengubah Segalanya!

Ada kalanya yang paling kita takuti bukanlah kegagalan itu sendiri.
Melainkan pulang setelah gagal.

Kita takut dihakimi.
Takut dipersalahkan.
Takut mendengar kalimat, “Sudah kubilang, kan?”

Rasa malu sering kali membuat seseorang menjauh, bukan hanya dari keluarga, tetapi juga dari Tuhan.

Saya teringat sebuah kisah yang dibagikan Ruth Graham pada pemakaman ayahnya, Billy Graham, tahun 2018.

Setelah menjalani pernikahan selama 21 tahun yang berakhir dengan perceraian, Ruth mengambil keputusan yang terburu-buru. Ia menikah lagi, meskipun orang tua dan anak-anaknya telah menasihatinya untuk tidak melakukannya.

Sehari setelah pernikahan itu berlangsung, ia mulai sadar bahwa ia telah membuat kesalahan besar.

Lima minggu kemudian, ia meninggalkan hubungan itu.

Dengan hati yang hancur, dipenuhi rasa malu dan penyesalan, ia mengemudikan mobil menuju rumah orang tuanya di Montreat, North Carolina.

Sepanjang perjalanan ia membayangkan berbagai kemungkinan.

Bagaimana jika ayahnya kecewa?
Bagaimana jika ia dimarahi?
Bagaimana jika ia dianggap telah mempermalukan keluarga?

Ruth sadar apa yang dilakukannya, mencoreng nama besar ayahnya, yang terkenal di seluruh dunia.

Namun ketika mobilnya memasuki halaman rumah, pemandangan yang ia lihat sama sekali di luar dugaannya.

Billy Graham sudah berdiri di luar rumah, menunggunya.
Begitu Ruth turun dari mobil, ayahnya memeluknya erat dan hanya mengucapkan dua kata.

“Welcome home.”
“Selamat datang di rumah.”

Hanya itu.
Tidak ada ceramah.
Tidak ada kalimat yang menyalahkan.
Tidak ada penghukuman.
Yang ada hanyalah pelukan seorang ayah.

Saat membaca kisah ini, hati saya langsung teringat kepada perumpamaan anak yang hilang.

Ketika anak itu pulang, ia telah menyiapkan pidato panjang. Ia siap menjadi seorang hamba karena merasa dirinya tidak lagi layak disebut anak.
Tetapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, ayahnya sudah berlari memeluknya.

Kasih selalu lebih cepat daripada rasa bersalah.

Bukankah sering kali kita membayangkan Tuhan seperti hakim yang sedang menunggu untuk menegur kita?

Padahal firman menggambarkan Dia sebagai Bapa yang merindukan anak-anak-Nya kembali pulang.

Bukan karena Dia menganggap dosa tidak penting.
Tetapi karena pengampunan-Nya lebih besar daripada kegagalan kita.

Sering kali yang membuat kita tetap terikat bukanlah dosa itu sendiri.
Melainkan rasa malu.

Kita merasa sudah terlalu jauh.
Sudah terlalu banyak kesalahan.
Sudah terlalu mengecewakan Tuhan.

Namun Kasih Kristus berkata sebaliknya.

Anugerah selalu membuka jalan pulang.
Saya percaya setiap kita pernah mengalami musim ketika merasa gagal.

Gagal sebagai orang tua.
Gagal sebagai pasangan.
Gagal dalam pekerjaan.
Bahkan mungkin merasa gagal sebagai orang percaya.

Kalau hari ini Anda sedang berada di titik itu, jangan biarkan rasa malu menjauhkan Anda dari Bapa.
Justru datanglah kepada-Nya.

Karena kasih Allah tidak dimulai ketika kita berhasil.
Kasih-Nya sudah ada bahkan ketika kita masih penuh kegagalan.

Mungkin kita membayangkan Tuhan akan berkata, “Mengapa kamu melakukan itu?”

Tetapi saya percaya, hati Bapa lebih dahulu berkata,
“Selamat datang di rumah.”
Itulah Anugerah….

Kasih yang tidak menunggu kita sempurna, sebelum menerima kita.
Kasih yang memulihkan, mengangkat, lalu memberi kita kekuatan untuk melangkah lagi.

Karena rumah Bapa bukanlah tempat bagi orang-orang yang tidak pernah gagal.
Rumah Bapa adalah tempat bagi mereka yang mau pulang.

“When we honestly ask ourselves which person in our lives means the most to us, we often find that it is those who, instead of giving advice or solutions, have chosen rather to share our pain and touch our wounds with a warm and tender hand.” – Henri Nouwen.

“Ketika kita jujur bertanya siapa yang paling berarti dalam hidup kita, sering kali jawabannya adalah mereka yang tidak buru-buru memberi nasihat atau solusi, melainkan memilih hadir, ikut merasakan luka kita, dan menyentuhnya dengan kasih.” – Henri Nouwen.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

“Anugerah tidak menunggu kita layak untuk pulang. Kasih karunia justru membuka pintu agar kita berani pulang.”

“Grace doesn’t wait until we are worthy to come home. Grace opens the door so we have the courage to come home.” — Yenny Indra

Read More
Articles

Pertanyaan yang Menyelamatkan Sebuah Pernikahan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Pertanyaan yang Menyelamatkan Sebuah Pernikahan…

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan yang sangat menyentuh hati.

Bukan tulisan dari seorang konselor pernikahan terkenal. Bukan pula hasil penelitian yang panjang. Hanya sebuah kisah sederhana tentang seorang wanita berusia 96 tahun yang telah menikah selama 74 tahun.

Ini jelas bukan sekedar teori….

Seseorang bertanya kepada ibu yang bijak itu,
“Apa yang membuat pernikahan Anda bisa bertahan selama itu?”

Saya membayangkan jawabannya mungkin tentang cinta yang besar, pasangan yang romantis, atau kehidupan yang nyaris tanpa konflik.

Tetapi ternyata bukan itu.

Ia tidak berkata, “Kami tidak pernah bertengkar.”

Ia juga tidak berkata, “Kami selalu bahagia.”

Sebaliknya, ia mengakui dengan jujur,

“Kami pernah bertengkar. Kami pernah menangis. Kami pernah saling mengecewakan. Bahkan ada saat-saat kami berhenti berbicara.”

Saya tersenyum ketika membacanya. Paham sekali rasanya.

Wuih…. Akhirnya ada seseorang yang berani mengatakan bahwa pernikahan yang panjang bukanlah pernikahan tanpa masalah.

Yang membuat saya semakin terdiam adalah kalimat berikutnya.

Setiap malam sebelum tidur, salah satu dari mereka selalu bertanya,

“Apakah kita baik-baik saja?”

Sederhana sekali.

Namun mungkin justru pertanyaan itulah yang menyelamatkan hubungan mereka selama puluhan tahun.

Wanita itu melanjutkan,
“Kami tahu bahwa kesombongan tidak pernah menyelamatkan sebuah hubungan. Kasih selalu dimulai ketika ego berakhir.”

Kalimat itu begitu dalam.
Berapa banyak hubungan yang sebenarnya tidak hancur karena masalah yang besar, tetapi karena tidak ada yang mau mengalah?

Tidak ada yang mau meminta maaf lebih dulu.
Tidak ada yang mau membuka percakapan.
Tidak ada yang mau bertanya, “Apakah kita baik-baik saja?”

Lalu ia memandang cincin pernikahannya dan berkata,

“Ada hari-hari ketika mengucapkan ‘Maaf’ terasa mustahil. Tetapi kehilangan satu sama lain terasa jauh lebih menyakitkan.”

Saya rasa, itulah kedewasaan.
Bukan berarti tidak terluka.
Bukan berarti tidak kecewa.
Tetapi mampu melihat bahwa hubungan jauh lebih berharga daripada kemenangan sesaat.

Yang paling saya sukai adalah kalimat menjelang akhir.
Sambil menggenggam tangan suaminya, ia berkata,

“Kami tidak pernah bertengkar untuk menang. Kami bertengkar untuk saling memahami.”

Bukankah sering kali kita justru melakukan sebaliknya?

Kita sibuk mengumpulkan alasan mengapa kita benar.
Kita mendengarkan hanya untuk membalas.
Kita berbicara bukan untuk memahami, tetapi untuk memenangkan perdebatan.

Padahal setiap kali ada yang menang dalam pertengkaran suami istri, sesungguhnya yang kalah adalah hubungan itu sendiri.

Sebelum meninggalkan ruangan, wanita itu menoleh kepada cucunya dan memberikan nasihat yang indah.

“Pilihlah seseorang yang sanggup kamu ampuni. Dan jadilah seseorang yang layak untuk diampuni.”

Saya berhenti membaca sejenak.

Kalimat itu mengingatkan saya bahwa pernikahan bukanlah tentang menemukan orang yang sempurna.
Kita semua akan mengecewakan orang yang kita kasihi, cepat atau lambat.

Karena itu yang dibutuhkan bukan kesempurnaan, melainkan anugerah dan kasih Tuhan yang mengalir melalui kita. Kita jelas tidak bisa melakukannya dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi bersama Tuhan, kita pasti bisa!

Pernikahan yang langgeng, bukanlah pasangan yang tidak pernah salah, tetapi dua orang yang terus memilih untuk kembali mengasihi.

Saya percaya, hubungan yang langgeng dibangun bukan oleh momen-momen besar, melainkan oleh ribuan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.

Memilih meminta maaf.
Memilih mengampuni.
Memilih mendengar.
Memilih tetap tinggal ketika ego mengajak pergi.

Dan mungkin, mulai malam ini, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita tanyakan kepada orang-orang yang kita kasihi,

“Apakah kita baik-baik saja?”

Bisa jadi, pertanyaan sederhana itu akan menyembuhkan lebih banyak hal daripada seribu argumen yang kita menangkan.


“Love is the will to extend one’s self for the purpose of nurturing one’s own or another’s spiritual growth.” – M. Scott Peck

“Kasih adalah kemauan untuk memberikan diri demi menolong diri sendiri maupun orang lain bertumbuh secara rohani.” – M. Scott Peck

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Hubungan yang kuat bukan dibangun oleh dua orang yang selalu benar, tetapi oleh dua orang yang selalu memilih untuk memulihkan.”

“Strong relationships are not built by two people who are always right, but by two people who always choose restoration.” — Yenny Indra

Read More