Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Lahir Karena Kecelakaan? (Healing Part 6)

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Lahir Karena Kecelakaan? (Healing Part 6)

Menyambung Healing Part 5, dr. Henry Wright mengatakan, jika akar permasalahan tidak diselesaikan, meski pun sekarang sembuh, penyakit itu akan kumat lagi. Maka saya mencoba belajar dan menuliskan apa yang saya pelajari, semoga menjadi berkat untuk teman-teman.

“Bu Yenny, saya anak yang tidak diinginkan. Mama saya hendak menggugurkan saya tapi tidak berhasil. Itu membuat saya senantiasa merasa tertolak.”

Familiar dengan kisah seperti ini?
Sesungguhnya setiap orang pernah tertolak dalam kadar tertentu. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari masalah ini. Bahkan Gregory Dickow mengatakan akar segala permasalahan manusia adalah Rejection, penolakan.

Semua karena dunia memang sudah jatuh ke dalam dosa. Masalah ini sudah dimulai begitu Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Mereka malu, tertolak dan berusaha menyembunyikan diri dari Allah.
Iblis terus menerus melontarkan tuduhan, mengingatkan segala kesalahan kita sehingga kita makin terpuruk, merasa tidak layak dikasihi dan mengasihani diri sendiri.
Setting for less – rela menerima bukan yang terbaik.

Manusia lupa, kunci kesembuhannya hanya satu: kembali kepada Sang Pencipta, Allah sendiri.
Dalam hati kita, ada tempat kosong yang tidak dapat dipuaskan oleh apa pun, mau pun siapa pun… Selain Allah sendiri.

Kasih semua manusia itu bersyarat. Jika berharap kepada manusia, cepat atau lambat, ada saatnya mereka akan mengecewakan kita.
Hanya kasih Tuhan yang tak bersyarat.


Semakin saya sekolah dan mengenal kasih Allah, semakin saya bahagia karena sekarang kebahagiaan saya tidak lagi tergantung pada penerimaan suami, anak, menantu, teman atau siapa pun. Tidak pula tidak tergantung situasi di sekeliling saya.

Ketika saya memahami betapa Allah mengasihi saya bahkan sebelum saya lahir, sebelum saya bisa melakukan apa pun, bahkan saat masih dalam kandungan, sungguh itu sangat melegakan.
Allah mengasihi saya Tanpa Syarat!

Nyanyian Raja Daud, “Even if my father and mother abandon me, The Lord will HOLD ME CLOSE. – Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN MEMELUK AKU.”

Sekarang penerimaan orang lain tidaklah sepenting dulu, karena saya sudah dipuaskan dengan penerimaan Allah. Saya merasa aman, utuh, puas, sebelum berhubungan dengan orang lain. Semakin saya merasa puas dengan keberadaan saya di dalam Tuhan, makin saya bisa menoleransi dan bisa menerima kekurangan orang lain.
Semakin saya merasa aman dan memahami identitas saya di dalam Tuhan, semakin teman-teman dan orang-orang di sekeliling menyukai saya.

Apakah konsisten seperti itu?
Tidak!
Saya tidak steril terhadap kesalahan. Saat melakukan kesalahan, iblis pun tidak menunda serangannya. Intimidasi terus berlangsung.
Namun sekarang saya sudah punya senjata untuk menangkalnya.
Datang kepada Allah, mohon ampun, bertobat dan menyerahkan yang selanjutnya terjadi kepada-Nya.
Ya… Sudah. Pasrah.
Saya melakukan bagian saya yang terbaik, selebihnya biarlah Tuhan melakukan bagian-Nya.

Saat iblis terus menuduh, membuat perasaan bersalah menekan, saya bisa berdoa:
“Tuhan, tolonglah agar orang itu mengerti apa yang saya maksudkan dalam hatiku. Buatlah dia melupakan kata-kata salah yang sudah terlanjur keluar dan tolong agar ketulusan hatiku bisa dirasakannya sehingga kesalahpahaman bisa terurai dan diselesaikan dengan baik. “

Doa seperti ini sangat menolong untuk menghapus intimidasi.


Percaya atau tidak?
Ketika hubungan kita dengan Tuhan berlangsung baik dan mulus, seluruh aspek kehidupan kita menjadi baik.
Tidak berarti hidup mulus tanpa masalah, namun meski ada masalah, keyakinan di dalam hati begitu kuat:
Semuanya akan baik-baik saja karena Tuhan sudah berjanji bahwa masa depanku adalah masa depan yang penuh harapan.

Beberapa teman bertanya, ingin tahu formula cara P. Irsan diberkati.
Uniknya, hidup menurut Hukum Kerajaan Allah, itu bukan formula. Saat seseorang memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, pintu-pintu kesempatan yang tak terpikirkan terbuka.

“Saya diberkati melebihi apa yang bisa saya pikirkan, berlimpah-limpah” ujar P. Irsan pada tanggal 8 November lalu, “…ada kawan beli jam dinding 153 biji, 31 tahun buka toko , baru hari ini dapat orderan gak masuk akal wkwkwk… Saya kan cuma pedagang eceran.”

Lalu tgl 13 November, chat masuk lagi.
“Ada fenomena aneh… kemarin ada orang beli batere , sekali beli mau 100 biji. Terpaksa aku kumpulkan dari kiri kanan, hari ini datang lagi mau 100 biji, kumpulkan lagi dari kiri kanan dapat 80 biji. 31 tahun buka toko baru dapat rekor pemesanan yang gak masuk akal. Nb: saya cuma pedagang eceran wkwkwk…. Jadi hilang kekesalan semalam ujian nilai jeblok wkwkwk… “

Padahal nilai ujian P. Irsan masih masuk kategori B, tetapi beliau tidak puas.
Fenomena ini terjadi setelah P. Irsan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan makin mengenal-Nya.
Logikanya di mana?
Apa hubungannya?
Speechless. Saya pun tidak bisa menjelaskannya. Tetapi itu kenyataannya.

Berkat yang bekerja menurut Hukum Kerajaan Allah itu bukan formula melainkan relationship. Hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.


Bagaimana dengan teman yang gagal digugurkan?
Sesuatu yang melegakan, tidak peduli apa penyebab seseorang hamil, tetapi begitu sel telur bertemu sperma di rahim seorang wanita, Tuhan sudah menetapkan tujuan bagi hidupnya. Kecelakaan, malapetaka terjadi karena dunia sudah jatuh dalam dosa.
Tetapi anak itu lahir bukan kecelakaan. Setiap anak spesial di mata Tuhan, memiliki tujuan khusus yang tak tergantikan dan Tuhan mengasihi serta menerimanya apa adanya. Tanpa syarat.

Ketika seseorang menyerahkan hidupnya, berbalik kepada Tuhan dan hidup mengikuti Hukum Kerajaan Allah, maka segala sesuatu yang menurut penglihatan kasat mata sesuatu yang ‘buruk’, akan diubah Tuhan menjadi batu pijakan, agar kita dapat naik ke tempat yang tinggi, yang tidak dapat dicapai, tanpa ada batu pijakan itu.
Dahsyat bukan?

“Mana buktinya Bu Yenny?”

Azie Taylor Morton, Menteri Keuangan Amerika Serikat pada zaman Presiden Jimmy Carter.
Dia lahir hasil dari perkosaan seorang pria terhadap ibunya yang bisu, tuli dan miskin sehingga dia tidak mengenal ayahnya.

Karena menanggung malu, ibunya melahirkannya di kebun yang sepi tanpa bidan. Yang menolong melahirkan adalah seorang ibu tua pemilik kebun.

Hidupnya sangat miskin hingga dalam umur yang masih sangat muda, Azie terpaksa bekerja untuk mencari nafkah untuk dia dan ibunya karena saat itu ibunya sakit stroke.
Dia bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan kapas.
Azie benci keadaan saat itu.
Kecewa kepada TUHAN saat itu karena DIA tidak adil atas hidupnya. Di saat kebanyakan anak-anak menikmati hidup layak, dia harus bergumul dalam penderitaan. Diejek dengan julukan ‘anak haram’, dikucilkan dan Azie tidak melihat harapan bagi masa depannya.

Suatu hari, Azie bertemu dengan seorang pendeta.
Beliau berkata, “Azie..tahukah kamu bahwa hidup ini adalah anugerah, Nak? TUHAN memberikan kamu kebebasan memilih. Mau tetap mengeluh seperti ini atau bangkit dari kemiskinan, pilihan itu ada di tanganmu, Nak. Perlu kamu ketahui rencana TUHAN atasmu bukan rencana kecelakaan melainkan hari depan yang penuh harapan.
Selama bisa memilih, pilihlah yang terbaik.”

Nadanya lirih namun penuh makna.
Kata-kata pendeta itu membangkitkan semangatnya untuk berdiri tegak dan doa ibunya membuatnya kuat menghadapi tantangan hidup. Akhirnya Azie memilih keluar dari rasa kecewa dan tak berguna ini.

Singkat cerita, Azie mulai bekerja dengan giat untuk membiayai sekolah dan kehidupan ibunya.
Berkat doa sang ibu serta kerja keras yang ulet, akhirnya TUHAN memberkati Azie dengan melimpah, meraih kesuksesan. Azie menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Tidak hanya itu, Azie satu-satunya wanita Afro-Amerika yang tandatangannya tertera dalam lembar mata uang US dollar.

Janji Tuhan Ya dan Amin!


Hidup itu bak HP Iphone, misalnya. Ketika ada sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya, ke mana tempat terbaik untuk membenahinya?
Ke Apple Service Center. Kan Iphone buatan Apple.

Dengan cara yang sama, saat hidup kita tidak berjalan lancar, ke mana tempat terbaik untuk membenahinya?
Datang kepada Allah, Sang Pencipta. Dialah yang dapat memuaskan dan memenuhi apa yang kita butuhkan.
Dia yang tahu bagaimana agar tubuh kita dapat bekerja secara optimal.
Dia juga yang tahu bagaimana Hukum Alam dan Hukum Kerajaan Allah bekerja, sehingga dengan menyelaraskan diri dengan hukum-hukum itu, pintu-pintu kesempatan terbuka, kekayaan alam ditemukan dan dikelola dengan efektif. Allah pula yang tahu bagaimana kita seharusnya menjalani hidup ini yang terbaik.

Siap belajar?
Mari kita hidup melekat kepada-Nya.

I am the vine; you are the branches. The one who remains in me – and I in him – bears much fruit, because apart from me you can accomplish nothing.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

??YennyIndra??
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?? MPOIN PLUS & PIPAKU??
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Read More
Articles

Adakah Sesuatu Yang Hilang?”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Adakah Sesuatu Yang Hilang?”

Sebagai seorang guru, saya terus-menerus mengevaluasi pengajaran saya mau pun pengajaran orang lain.
Saya tidak memiliki bayangan, bahwa saya memiliki semua jawaban. Kita semua tahu sebagian. Saya telah dipengaruhi oleh guru-guru hebat dan terkenal lainnya selama bertahun-tahun. Saya membaca sebuah buku tadi malam, yang memberkati saya bertahun-tahun yang lalu, tetapi kali ini tampak mandul. Kebenaran yang disajikannya, lebih berupa formula untuk berpindah dari titik A ke titik B. Informasi itu benar, tetapi ada sesuatu yang hilang.

Saya tidak akan menganggap bukunya menangkap kedalaman penuh perjalanannya dengan Tuhan, tetapi itu memicu sesuatu dalam diri saya yang ingin saya bagikan dengan Anda.

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Yohanes 14:6 (TB).

Mungkinkah banyak dari kita telah memahami bahwa Yesus adalah Jalan dan Kebenaran, tetapi kita kehilangan dinamika penuh Kehidupan?
Bisakah kita memisahkan Kebenaran dari Kehidupan, dan masih memiliki Kehidupan?
Sebagai seorang guru selama bertahun-tahun, saya dapat melihat ke belakang dan melihat di mana saya bersalah dalam hal ini. Kebenaran itu kuat, dan Kebenaran membebaskan orang (Yohanes 8:31-32), tetapi Kebenaran (ajaran yang baik dalam konteks ini), tidak dapat berdiri sendiri terpisah dari Kehidupan.

Apa yang saya katakan adalah : Hidup tercipta karena persekutuan dengan Tuhan. Adam dan Hawa harus berjalan dan berbicara dengan Tuhan di Taman. Kebenaran akan datang dari persekutuan. Begitu sering kita berbicara tentang “hubungan” dengan Tuhan, tetapi jarang kita berbicara tentang “persekutuan”. Hubungan itu dengan darah. Persaudaraan terjalin karena pilihan.

Kebenaran yang terpisah dari Kehidupan bisa menjadi formula. Kebenaran yang muncul dari persekutuan dengan Bapa akan menjadi hidup. Yohanes memahami ini dan mengatakannya seperti ini:

“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”
1 Yohanes 1:3 (TB).

“Persekutuan kita adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Putra-Nya.”
Apa yang dilihat dan didengar dalam persekutuan atau relationship itu, merupakan kebenaran yang dinyatakan bagi kita.
(note: iluminasi/pewahyuan/rhema, perkataan Tuhan yang spesifik untuk kita).

Sebelum kita memiliki persekutuan yang benar, (-hingga tercipta relasi yang intim dan bisa mendapatkan iluminasi/pewahyuan/rhema-), kita akan terjebak dengan formula dan frustrasi.

Saya pernah mengalaminya dan mungkin Anda juga pernah mengalaminya. Saya mendorong Anda agar memiliki persekutuan dengan Bapa. Biarkan Dia mengungkapkan kebenaran Firman-Nya kepada Anda. Itu tidak akan pernah menjadi formula. Ini akan menjadi Kehidupan.

[Repost : “Is Something Missing?”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Put God First

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Put God First

Setiap biji apel berpotensi menjadi pohon apel yang besar dan berbuah banyak, tetapi tidak semua biji apel berakhir menjadi pohon apel yang besar dan berbuah banyak.

Demikian juga dengan manusia.
Setiap manusia lahir dengan potensi untuk menjadi orang besar, sukses dan menjadi berkat bagi ‘dunia’, tetapi tidak banyak manusia yang dapat mencapai potensi maksimalnya.

Apa sebabnya?
Apa yang menentukan keberhasilan masa depan seseorang?
Hasil penelitian membuktikan bahwa 95% masa depan kita, ditentukan oleh CARA PIKIR, KEPUTUSAN dan TINDAKAN yang kita ambil.

Demikian kutipan sebagian artikel SMART BELIEFS, buku yang saya tulis bertahun-tahun lalu, di tag kembali ke saya oleh Eyha Umina Aya ke FB saya.
Thanks sis…

Kebetulan?
Tidak.
Tuhan ingin saya merenungkannya.


Biji apel adalah benih, seperti firman Tuhan adalah benih.

Mengapa ada benih yang menghasilkan buah yang banyak hingga melimpah, sementara ada yang buahnya langka bahkan nyaris tidak berbuah?
Benihnya sama. Punya potensi yang sama.
Perbedaannya terletak pada tanah di mana biji apel itu tumbuh.
Kerap kita dengar, “tanahnya cocok maka pohon apel berbuah lebat.”

Tanah ini melambangkan hati kita.
Tanah yang tipis, tidak subur, penuh semak berduri membuat benih apel tidak bisa tumbuh dengan baik
Fokus pada permasalahan, salah mindset, mengandalkan diri sendiri, mengikuti hikmat dan cara dunia, akan menghimpit pohon apel sehingga hidup segan, mati pun tak mau.

Bukankah sudah menjadi kebiasaan kita selama ini, kita yang mengatur, mengendalikan dan merasa menjadi ‘tuhan’, lalu saat berdoa hanya sekedar melaporkan rencana kita serta ‘memerintahkan’ Tuhan untuk memberkatinya?
Itulah sebabnya janji-janji-Nya tidak terealisasi dalam hidup kita.
Kita tidak habis mengerti, mengapa demikian?
Padahal janji-janji-Nya Ya dan Amin.
Lalu kepahitan dan menyalahkan Tuhan.

Saya pun demikian, hingga bertobat dan belajar.
Aturan mainnya bukan seperti itu.

Tuhan sudah memiliki rencana bagi hidup kita, jaaauuuuhhh sebelum kita ada di dalam kandungan ibu kita. Hari-hari kita telah ditulis-Nya!

Oleh karena itu seharusnya setiap hari kita datang kepada-Nya, meminta arahan Sang Boss, agar kita menjalani hidup menggenapi rencana-Nya bagi masa depan kita.

Seyogyanya kehidupan kita berputar di sekitar-Nya. Allah yang menjadi pusat kehidupan kita.
Put God First!
Jadikan Tuhan yang utama dan terutama!
Itulah cara hidup yang berkenan kepada-Nya dan itu pula rahasianya agar tanah hati kita menjadi subur.

Jika tanah hati kita subur, tidak usah sibuk berdoa meminta, berpuasa, memerintahkan agar apel berbuah lebat, dengan sendirinya pohon apel kita akan berbuah berlimpah-limpah.

Di mana ada Tuhan, kelimpahan dan ‘mujizat’ terjadi secara natural.
Saat secara natural dunia berhenti berbuah, mujizat Tuhan terus mengalirkan buahnya, tidak mengenal waktu.

Apa sebabnya?
Mengutip dari Smart Beliefs, apa yang menentukan keberhasilan masa depan seseorang?
Hasil penelitian membuktikan bahwa 95% masa depan kita, ditentukan oleh CARA PIKIR, KEPUTUSAN dan TINDAKAN yang kita ambil.

Dengan menjadikan Tuhan pusat kehidupan kita, cara pikir, keputusan dan tindakan kita selaras dengan kehendak-Nya.
Sudah pasti yang the best.
Klo kita kerjasamanya dengan Allah, siapa yang dapat melawan kita?
Pastilah kesuksesan, kepuasan, hikmat, damai sejahtera, kesehatan yang semuanya tersimpan di dalam benih-Nya, akan terealisasi dalam hidup kita.
Puas, kenyang bahkan berlebihan hingga bisa berbagi dengan orang-orang di sekeliling kita.

Itulah definisi kaya menurut Tuhan. Bukan menjadi konglomerat, atau menumpuk kekayaan bagi diri sendiri, tetapi apa pun yang kita butuhkan tercukupi dengan limpahnya, bahkan memiliki extra untuk memberkati orang lain.
Diberkati untuk menjadi berkat! Karena itulah tujuan kita lahir di dunia ini.

Mau?
Praktik sama-sama yuk….

True faith submits to God’s plan, whether or not, it confides with ours – Randy Alcorn.

Iman yang sejati tunduk pada rencana Tuhan, terlepas dari apakah rencana itu sesuai dengan rencana kita atau tidak – Randy Alcorn.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Jenis Kasih Tuhan dalam Pernikahan.”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Jenis Kasih Tuhan dalam Pernikahan.”

Sangat sedikit hal-hal di dunia saat ini, yang dulu pernah menjadi bagian dari rencana Allah yang sempurna bagi umat manusia. Sistem pemerintahan yang rumit, dengan semua pengawasan dan keseimbangan serta hukumnya, tidak akan diperlukan jika bukan karena korupsi yang dihasilkan oleh dosa. Sistem moneter, dengan semua pembelian dan penjualan, tidak akan diperlukan di dunia tanpa dosa, dimana setiap orang memperlakukan orang lain seperti mereka ingin diperlakukan. Dan berbagai hal lainnya yang dianggap institusi dalam masyarakat kita saat ini, sesungguhnya tidak pernah dimaksudkan oleh Tuhan. Ini semua diadakan hanya sebagai cara untuk mencoba mengatasi dan mengendalikan penyimpangan yang masuk ke dunia melalui dosa.

Tetapi ada satu hal yang Tuhan tetapkan ketika manusia masih dalam kondisi tidak berdosa dan mengatakan bahwa tidak baik bagi manusia untuk seorang diri saja adalah pernikahan.
Kejadian 2:18 (TB). TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Seorang pria sempurna yang tidak memiliki tekanan atau masalah, seperti yang kita ketahui hari ini pun, masih belum lengkap tanpa pasangan. Dan bukan Adam yang mendekati Tuhan sehubungan dengan situasi ini dan meminta pendamping. Adam tidak tahu apa yang dia lewatkan! Tuhanlah yang berinisiatif memulai semuanya, karena Pernikahan adalah rencana-Nya yang sempurna.
Semua ini menekankan betapa Pernikahan seharusnya menempati prioritas tinggi dalam kehidupan kita. Namun, biasanya Pernikahan tidak menempati posisi sepenting itu.

Bahkan orang Kristen saat ini, hanya melakukan sangat sedikit usaha dalam Pernikahannya, oleh karena itu, kita hanya mendapatkan sangat sedikit manfaat pula dalam Pernikahan. Kita telah memiliki visi, apa saja berkat yang Tuhan maksudkan untuk Pernikahan, namun semua itu menjadi kurang diminati, akibat banyaknya contoh Pernikahan yang menyedihkan, yang terjadi di sekitar kita hari-hari ini.

2 Korintus 10:12 (TB) mengatakan: “Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!”

Inilah yang telah terjadi selama bertahun-tahun. Kebanyakan pasangan tidak tahu apa yang Tuhan maksudkan dengan Pernikahan, jadi mereka menerima hubungan di bawah standar yang sama, yang mereka lihat telah dialami orang lain. Mereka berpikir konflik hanyalah bagian normal Pernikahan; dan pasangan yang hanya hidup berdampingan tanpa pertempuran lahiriah, dianggap sebagai pasangan yang ideal, meski pun pasangan itu mungkin mengalami perang dingin yang berkecamuk. Bagaimana pun, semua orang mengalami masalah dengan Pernikahan mereka hari ini.

Yah, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa tidak semua orang mengalami masalah dengan Pernikahan mereka pada hari ini! Tuhan bergerak dengan kuat di area ini, dan terlepas dari apa yang dialami oleh pasangan lain di seluruh dunia, orang Kristen dapat memiliki yang terbaik dari Tuhan di dalam rumah tangga mereka. Tuhan menetapkan Pernikahan, jadi Dia pasti tahu bagaimana membuatnya bekerja dengan benar. Satu-satunya alasan dua dari tiga Pernikahan di Amerika berakhir dengan perceraian adalah karena orang-orang yang terlibat di dalamnya, tidak mengikuti petunjuk yang Tuhan berikan tentang Pernikahan. Sesederhana itu. Solusinya tidak mudah, tetapi sesederhana itu.

Apa yang Tuhan katakan tentang pernikahan?
Dari Efesus 5:22-23 (TB). “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh; kita mendapatkan cukup banyak petunjuk.”

Artikel ini tidak memberikan ruang yang cukup bagi kita untuk membahas semua hal yang disampaikan kitab suci ini tentang Pernikahan, tetapi tentu saja satu prinsip yang terjalin di antara semuanya adalah kasih: jenis kasih Tuhan.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa — lembaga Pernikahan Tuhan hanya akan bekerja dengan jenis kasihnya Tuhan.–

Dalam menasihati ratusan pasangan, saya telah menemukan bahwa banyak orang Kristen, bahkan mereka yang telah dibaptis oleh Roh Kudus, masih melayani satu sama lain dengan kasih duniawi yang sama seperti sebelum mereka menjadi orang Kristen. Dalam banyak kasus, awalnya mereka mulai menerapkan kasih Tuhan kepada saudara dan saudari seiman di dalam tubuh Kristus dan mengembangkan sikap “terbeban bagi yang terhilang”, namun sulit menerapkan cara yang serupa, dalam hubungan dengan pasangan mereka. Jenis kasih Tuhan ini juga harus diterapkan dalam Pernikahan kita.

Salah satu perbedaan yang paling mencolok bagi saya antara kasih dunia dan jenis kasih Tuhan adalah, kita dapat mengajar diri kita sendiri untuk beroperasi di dalam kasih Tuhan.
Titus 2:4, mengatakan bahwa wanita yang lebih tua harus mengajar wanita yang lebih muda “untuk mengasihi suami mereka, untuk mengasihi anak-anak mereka.”
Kasih duniawi sepenuhnya dimotivasi oleh emosi atau indera, tetapi kasih Tuhan datang dari hati, meski perasaan pasti terpengaruh, mereka tidak memotivasi atau menghalangi kasih Tuhan.

Cinta duniawi digambarkan oleh seorang anak laki-laki telanjang, kecil, gemuk yang berkeliling menembaki orang-orang dengan panah untuk menyebabkan mereka “jatuh” cinta atau “mabuk” karena cinta. Itu sama sekali bukan cinta sejati.

Kasih Tuhan tetap sama kemarin, hari ini, dan selamanya. Begitulah Tuhan (Ibrani 13:8) dan Tuhan adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Orang yang mengasihi satu menit, kemudian suasana hatinya berubah dan mereka bertindak sebaliknya pada menit berikutnya, sama sekali tidak beroperasi dalam kasih Tuhan. Mungkin saja kita ingin bereaksi dengan kemarahan, tetapi kita bisa memilih untuk bertindak dalam kasih.

Banyak orang bingung tentang hal ini dan berpikir, saya tidak bisa bertindak mengasihi mereka, jika saya tidak merasakannya. Oh, kita bisa!
Firman Tuhan memberitahu kita untuk mengasihi bahkan pada musuh kita (Maius. 5:44). Ini sebuah perintah.
Dia tidak mengatakan, untuk melakukannya jika kita menginginkannya. Jika kita memilih melakukan apa yang Tuhan perintahkan, perasaan kita akan mengikuti.
Kita dapat mengajar diri kita sendiri untuk mengasihi dengan jenis kasihnya Tuhan.

Seseorang yang benar-benar lahir baru, ingin melakukan apa yang Tuhan katakan walau pun dia tidak selalu merasa ingin melakukannya. Perasaan kita telah dirusak oleh kehidupan lama, sebelum kita datang kepada Kristus. Sekarang kita berada didalam Kristus, kita memiliki janji-Nya bahwa roh kita telah diubahkan secara total (2 Korintus. 5:17) dan menjadi seperti Dia.
Galatia 5:22 mengatakan, kasih adalah bagian dari buah Roh. Ini secara khusus berbicara tentang Roh Kudus; manusia baru kita lahir dari Roh, jadi sungguh benarlah kasih Tuhan telah dicurahkan ke dalam roh kita juga. Kita memang memiliki kasih Tuhan dalam diri manusia baru kita. Namun, perasaan kita tidak secara otomatis berubah. Perasaan kita akan terus bertindak, sebagaimana kita diajar untuk bertindak, hingga kita menaklukkannya dan membawanya di bawah kendali manusia roh kita. Tidaklah munafik untuk bertindak dalam kasih, meski kita tidak merasakannya. Justru sungguh munafik untuk bertindak berdasarkan apa yang kita rasakan, alih-alih bertindak sesuai dengan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus Yesus.

—Jenis kasih Tuhan adalah pilihan yang kita ambil, berdasarkan apa yang Tuhan katakan, dan kemudian bertindak dengan iman sampai menjadi kenyataan dalam roh, jiwa, dan tubuh kita.—

Jika kita dapat menerima kebenaran dasar tentang kasih Tuhan ini, maka kita dapat mulai konsisten dalam mengasihi pasangan kita, —karena kasih kita didasari pada pilihan yang telah kita putuskan, bukannya berdasarkan apa yang mereka lakukan.—
Inilah akar penyebab dari hampir semua perselisihan di dalam pernikahan. Semuanya baik-baik saja sampai salah satu pasangan melakukan kesalahan pada yang lain, dan terjadilah pertengkaran.
Tidakkah kita senang, karena Tuhan tidak memperlakukan kita seperti itu?
Roma 5:8 mengatakan, “Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Puji Tuhan!
—Kasih Tuhan tidak didasarkan pada apa yang telah kita lakukan untuk-Nya atau apa yang pantas kita terima, tetapi pada pilihan-Nya untuk mengasihi kita. Itulah yang terjadi secara lengkap!—
Kita tidak melakukan apa pun untuk mendapatkan kasih Tuhan. Dia yang memilih untuk memberikannya. Kita dapat memilih untuk menerima kasih semacam itu dan kemudian memberikannya kepada orang lain dengan cara yang sama.

Cara lain untuk mengatakannya, bahwa kasih Tuhan tidak bersyarat. Yesus tidak menunggu sampai kita layak atau telah bertobat sebelum Dia menyerahkan diri-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Dia memberikan diri-Nya bagi kita ketika kita masih berdosa dan hidup dalam pemberontakan melawan Dia (Roma 5:8). Kasih yang sama diperluas hingga menjangkau Hitler, sama seperti kasihnya kepada kita. Perbedaannya terletak pada penerimaan atau penolakan kita terhadapnya, bukan pada tawaran kasih-Nya. Kasih Tuhan tidak bersyarat.

Kita harus menerapkan kasih Tuhan yang tak bersyarat ini dalam Pernikahan kita. Jika tinggal bersama seseorang dalam jangka waktu yang lama, kita akan menemukan kesalahan mereka. Jika kasih kita bersyarat, maka kita akan mulai memberi mereka apa yang pantas mereka dapatkan, yaitu masalah. Dan kita pun yakin, ketika melakukan kesalahan, kita akan menuai apa yang telah kita tabur.

Saya dulu bekerja di ruangan gelap di studio fotografi. Kami bercanda tentang wanita-wanita ini yang akan datang untuk melihat bukti dalam foto mereka, lalu melontarkan komentar tentang betapa buruknya foto mereka. Mereka akan berkata, “Gambar ini tidak menggambarkan saya yang sesungguhnya!” Jawaban kami adalah, “Nyonya, Anda tidak membutuhkan penghakiman, Anda membutuhkan belas kasihan.”

Begitu juga di dalam pernikahan.
Pasangan kita, yang melihat kita dalam keadaan terburuk, harus memberi kita belas kasihan, bukan penghakiman. Kegagalan di bidang inilah akar dari sebagian besar masalah pernikahan. Banyak pasangan benar-benar menggunakan kasih yang bersyarat sebagai senjata untuk menekan dan memotivasi pasangan mereka untuk melakukan sesuatu.
Itu akan menghancurkan Pernikahan.

Jika alasan yang membuat pasangan kita tetap bertahan adalah ketakutan karena kita meledak marah jika mereka mengacau, maka kita menyiksanya.
Itulah yang dikatakan 1 Yohanes 4:18, “Ketakutan mendatangkan siksaan.”
Kita mungkin melihat beberapa hasil melalui metode itu, tetapi itu adalah fakta, bahwa kita sedang membangun kebencian serta penolakan di dalamnya, dan cepat atau lambat, itu akan meledak.

Kasih Tuhan tidak bersyarat.

[Repost : “God’s Kind of Love in Marriage”, – Andrew Wommack, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Cermin & Saya: Lho Apa Hubungannya?

https://mpoin.com/

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Cermin & Saya: Lho Apa Hubungannya?

Hati-hati lho ya kalo beli Cermin sekarang!!!

KUALITAS CERMIN SEKARANG MUTUNYA JELEK BANGET

Menurutku dari semua barang produksi sekarang, mutunya yang paling jelek adalah kaca cermin.

Kalo kaca cermin tahun 1970, 1980 dulu, sangat bagus buat ngaca… Aku ngaca, kelihatan Muda, Ganteng, Menawan & Menarik.

Tapi cermin-cermin keluaran sekarang, sungguh gak bermutu, kualitasnya rendah… terbukti setiap aku ngaca, kelihatan Keriput… Tua… dan Peot… Seperti kakek-kakek.


Ah… Dasar P. Mindi, nama panggilan P. Mindiarto Djugorahardjo… 🙂 🙂 🙂

Kita tertawa terbahak-bahak, lucu… 🙂
Tetapi sesungguhnya, itu yang sering kita lakukan: menyalahkan cermin, tidak sadar bahwa apa yang ada di cermin ya memang seperti itulah diri kita.
Sudah menjadi kebiasaan, foto di edit. Biar kelihatan langsing dan muda. Senaaang…
Ssst… Termasuk saya… Wkwkwk 🙂

Saat masalah terjadi, langsung jari kita menuding orang lain. Seluruh dunia boleh salah, asal jangan saya!.

“Nanti dulu, ada alasannya mengapa saya berbuat begitu…,” begitulah yang umum dilontarkan.
Tersinggung ketika kebenaran disodorkan, meski pun memang itu faktanya.

Ternyata itu memang ciri khas manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Tidak hanya terjadi sekarang, tetapi sudah sejak jaman Adam dan Hawa.
Adam sudah diberitahu Tuhan, jangan makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, pada saat makan, kamu akan mati. Manusia diberi free will, kehendak bebas.

Tetapi saat ditanya Tuhan, Adam menjawab, “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

Padahal saat Hawa memberikan buahnya, Adam memang memilih ikut memakannya. Kan Adam punya free will juga.
Menyalahkan orang lain adalah ciri khas orang-orang yang hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa.


” Some people create their own storms then get upset when it rains… Beberapa orang menciptakan badai mereka sendiri, lalu marah saat hujan turun…”, ujar Crefo Dollar, “Other’s don’t understand just how pervasive the effects of Sin are! Yang lainnya tidak mengerti betapa luas dampak dosa yang dilakukannya.”

Lucunya lagi, tidak sedikit yang dengan sadar melakukan sesuatu, lalu menyalahkan Tuhan saat badai itu menerpa. Mereka lupa, bahwa setiap perbuatan, ada konsekuensinya. Apa yang ditabur, itu yang dituai.

Tidak ingat Tuhan ketika berbuat dosa, tetapi marah pada Tuhan saat buah dosa itu menyulitkan hidupnya.

Mungkin di surga Tuhan tepok jidat, “Salahku opo Jal? Salah-Ku apa coba? Koq jadi Aku yang kena getahnya?”


Dan penyelesaian masalahnya, sesungguhnya very simple. Dimulai dengan keberanian untuk bertanggung jawab, tanpa menuding ke kanan dan ke kiri.
Itulah yang disebut sebagai momen pertobatan.

“Tuhan, ini salahku! Aku butuh pertolongan-Mu…”

Teringat akan kisah yang diceritakan oleh guru saya, Rick McFarland.

Pada suatu ketika, 5 orang anak asyik berenang di laut. Cuaca cerah dan pemandangan pun sangat indah. Mereka sangat menikmatinya sambil bermain riang, lalu tiba-tiba seorang anak terseret dan nyaris tenggelam.
Teman-temannya segera berenang ke tepian, mencari penjaga pantai dan minta pertolongannya.
Sang penjaga pantai segera melihat ke laut… Nampak anak itu berjuang keras menyelamatkan diri.
Sang penjaga pantai bergeming.

“Mengapa Anda tidak segera menolongnya?”
Penjaga pantai tetap diam, namun matanya terus menatap ke laut.

Nampak si anak makin kuat berusaha lepas dari jeratan air sambil berteriak minta pertolongan.

“Cepatlah, tolong dia …”, Teriak orang-orang yang melihatnya dengan hati miris. Teman-teman anak ini kebingungan tetapi mereka merasa tidak mampu menolong juga.

Penjaga pantai diam seribu bahasa. Matanya dengan konsentrasi penuh melihat ke laut.
Nampak anak itu makin lemah…. Kehabisan tenaga.
Begitu si anak nyaris tenggelam, sang penjaga pantai segera melompat, menangkap anak itu dan membawanya ke tepi pantai lalu memberikan pernafasan buatan serta menolongnya.

“Mengapa engkau membiarkan anak ini nyaris mati baru engkau menolongnya?”

“Selama anak ini masih memberontak, berusaha dengan kekuatannya sendiri untuk menyelamatkan diri, maka saya tidak bisa menolongnya. Saya sudah berpengalaman puluhan tahun. Justru saya bisa kehabisan tenaga, hanya untuk mengatasi pemberontakan anak ini. Berbahaya baik untuk anak ini, mau pun saya. Saat sang anak sudah menyerah, barulah saya bisa menolongnya. “

Banyak orang yang ingin mendapatkan pertolongan dari Tuhan, tetapi mereka masih sibuk memberontak, melawan, menuding kanan kiri. Alasan ini itu untuk mengurangi kadar kesalahannya dan menutupi rasa malunya. Ketika emosi yang mendominasi, justru makin banyak hal-hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan, tetapi ditindaklanjuti. Kesalahan makin banyak, melebar ke sana ke mari.
Masalah yang sesungguhnya cukup kecil dan masih bisa diselesaikan sesaat, ketika melebar, menjadi tidak memungkinankan untuk dibereskan lagi.
Tumpukan kesalahan yang tumpang tindih.

Tuhan ‘berkata’, seperti sang penjaga pantai, “Sampai kamu menyerah, barulah Aku dapat menolongmu…”

Lelah menanti doa belum juga terjawab?
Mungkin ini saat yang tepat untuk menyerah, bertobat dan berhenti ingin mengatur Tuhan.
Serahkan masalah kita kepada Tuhan, tunduk, taat dan ikuti cara-Nya, bukan memaksa-Nya mengikuti cara kita.

“God can do in a split second what might otherwise take you many years. -Tuhan dapat melakukan dalam sepersekian detik mengubah sesuatu, yang secara normal mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun.” quotes Joel Osteen terngiang-ngiang di telinga saya.

Daripada jungkir balik terlalu lama menderita, pikir-pikir lebih mudah menyerahkan permasalahan kepada Tuhan, Ahlinya. Tuhan tahu jalan terpendek, tercepat dan terbaik untuk menyelesaikan masalah saya.
Syaratnya, hanya bersedia menyerah dan mengakui saya ini salah, gak mampu, gak bisa apa-apa tanpa Dia.

Kalau harus mengaku salah dan minta maaf kepada orang lain, ya sudah lakukan.
Gengsi?
Walah… Gengsi sekarang dijual seribu tiga biji, goda teman saya. 🙂 🙂 🙂

Lebih enteng klo salah ya ngaku salah, gak usah banyak alasan. Tidak ada orang yang steril dari kesalahan.
Pasrah ‘bongkokan’ alias pasrah sepenuh hati pada Tuhan dan maunya Tuhan.

Firman Tuhan itu cermin, yang membuat kita sadar, Sudahkah kita hidup sesuai dengan standar-Nya?
Berhenti menyalahkan cermin!

Saya pun memilih bertobat dan berserah kepada Tuhan.
Bagaimana dengan Anda?

Unhappiness does not come from the way things are, but from the difference between how things are and how we think they should be – Crefo. A. Dollar.

Ketidakbahagiaan tercipta bukan disebabkan keadaan itu apa adanya, tetapi karena perbedaan antara keadaan yang ada dengan bagaimana keadaan itu seharusnya menurut pemikiran kita – Crefo. A.Dolar.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 222 223 224 225 226 416