Ada sesuatu tentang air yang menarik perhatian kita. Keindahan kumpulan besar air yang tenang, suara gemericik air di anak sungai, atau pemandangan ombak laut yang memukau saat mereka berlarian ke pantai menyebabkan sebagian besar dari kita berhenti, menatap, mendengarkan, dan merenung.
Air sangat penting bagi kehidupan di planet ini. Jumlah air dalam tubuh manusia berkisar antara 50-75%. Rata-rata tubuh manusia dewasa, 50-65% nya adalah air. Tanpa air dalam tubuh alami, kita hanya bisa hidup beberapa hari. Sungguh menarik bahwa Yesus berbicara tentang air hidup sebagai solusi bagi pencarian manusia akan hidup yang kekal.
Yesus menjawab dan berkata kepadanya, “Jika kamu tahu karunia Allah, dan siapa yang berkata kepadamu, Beri aku minum”; Anda akan memintanya, dan dia akan memberi Anda air hidup. (Yohanes 4:10).
Manusia roh kita membutuhkan air kehidupan. Yesuslah ‘air hidup’ itu. Sama seperti tubuh fisik kita tidak dapat hidup lama tanpa air alami, roh kita tidak dapat makmur tanpa mengambil bagian dari Yesus. Yesuslah satu-satunya yang dapat memuaskan dahaga roh kita. Tidak ada lagi yang bisa memuaskan. Pekerjaan kita sendiri, membuat kita frustrasi dan lelah. Mencari makna kehidupan kepada orang lain tidak pernah memuaskan. Hanya Yesus yang dapat memenuhi kita dengan damai, sukacita, iman, kasih dan hidup.
“Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Yohanes 4:14 (TB).
Semua orang bisa datang kepada Sang Sumber Kehidupan. Tidak ada biaya. Free of charge.
Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” Wahyu 22:17 (TB).
Hal yang luar biasa lagi, ‘air kehidupan’ yang sama yang telah memberi kita kehidupan, dapat mengalir dari kita kepada orang lain juga, saat kita berbagi kasih Tuhan. Kita memiliki ‘air’ yang bisa dibagikan kepada dunia!
“Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yohanes 7:38 (TB).
[Repost : “Are You Thirsty?”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Intimidasi Senjata Iblis Menyerang Kita. (Healing Part 7)
Berulang kali saya minta Rheva menulis kesaksiannya disembuhkan secara supernatural dari syaraf terjepit, tetapi tak kunjung muncul jua. Hingga setahun kemudian Rheva email. Ternyata terkuak penyebabnya.
“Sebenernya bu, ampunilah aku karena kemarin-kemarin aku masih suka ketakutan ga berani bersaksi, kalau kumat bagaimana?”, ujar Rheva, “Aku ditodong Taufan teman sekelas di CJ3 bersaksi, aku sudah ga bisa menghindar. Begitu menyetujuinya, apa yang terjadi?
Rasa sakitnya muncul lagi 2 hari sebelum jadwal kesaksian! Aku ga berani buka mulut, cuma diam, dan aku bilang sama si jahat “Jangan permainkan aku, pergi deh, aku ga mau termakan tipuanmu!!!” Pagi harinya aku bangun, the pain is gone, lenyap tak berbekas. Aku kesaksian bagaimana disembuhkan dari syaraf terjepit secara supernatural, tanpa rasa sakit sedikit pun… Memang battlefield of the mind – peperangan dalam pikiran, selalu ada ya bu… tapi ya itu, otot rohani harus terus dilatih.
Ini aku ceritain ke kakak rohaniku…. unbelief – ketidakpercayaan, itu tetap bisa hadir, tapi aku menetapkan hati, ga mau naik turun kalau mempercayai kesembuhan…. karena karya Allah itu sempurna, ga setengah-setengah…. kalau sudah sembuh, akan selalu sehat. Aku pegang erat-erat kebenaran ini. “
Ketakutan yang sama saya alami saat saya ‘yakin’ disembuhkan dari Hipertiroid. Tetapi saya tidak berani cek laboratorium karena terselip ketakutan kalau ternyata hasilnya tidak sembuh bagaimana?
Darimana saya ‘tahu’ kalau saya sembuh? » Malam hari jantung saya tidak berdebar-debar lagi, meski pun saya sudah lepas obat. Detak jantung sekitar di angka 100 ketika sedang parah-parahnya. Sekarang sekitar 60 – 70 an. » Berat badan saya stabil tanpa obat. Sebelumnya, tanpa obat, berat badan langsung meluncur turun dengan cepatnya.
Menjelang vaksin Covid, saya test laboratorium, hasilnya normal. Yeaaayyyy…. Betul-betul sembuh dan terbukti dengan hasil lab. Lega.
Beberapa minggu lalu, saya mendapatkan tugas sharing. Seminggu sebelum hari H, berkumpul dengan teman-teman bercengkerama seperti biasa. Tiba-tiba saya ingat Yuliadi akan sharing bulan depan. Tanpa berpikir panjang saya berkomentar, “Yul, mesti ada klimaksnya… Biar ada yang bisa ditindaklanjuti pendengar.”
Selama seminggu itu saya betul-betul diteror ‘musuh’. “Koq bisa kasi saran Yuliadi? Yuliadi itu lebih berpengalaman..lebih jagoan dari saya… Belum lagi disampingnya P. Paulus, yang pengalamannya puluhan tahun dan sudah terkenal di seluruh negeri. Bagaimana dengan sharingmu minggu depan? Memangnya kamu bisa?”
Perasaan bersalah, takut, galau bercampur aduk. Intimidasi demi intimidasi berputar-putar di kepala. Padahal Yuliadi, P. Paulus mungkin sudah tidak ingat apa yang saya katakan.
Saya mengingatkan diri: it’s all about God, not me. Ini semua tentang Tuhan, bukan saya. Saya bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
Persis malam sebelum hari H, menjelang tidur tiba-tiba jantung saya berdebar-debar keras. Terlintas pikiran seperti yang dialami Rheva, jangan – jangan Hipertiroid saya kambuh lagi. Langsung saya sadar, ini bukan pikiran saya mau pun pikiran dari Tuhan. Tetapi pikiran yang diselipkan si ‘musuh’ yaitu iblis. Segera saya usir dalam nama Allah!
Sharing keesokan harinya lancar dan berjalan dengan baik. Begitu selesai, rasanya leegggaaa… Janji Tuhan Ya dan Amin. Dia tidak pernah meninggalkan mau pun membiarkan kita.
Yuliadi menulis di grup WA sekolah:
Guilt, fear, shame – rasa bersalah, ketakutan, rasa malu, adalah 3 senjata yang paling sering digunakan setan untuk merusak kesehatan tubuh seseorang. – Dr. Henry Wright.
Kadang-kadang perasaan bersalah bisa dipicu oleh hal-hal yang sedemikian sepele, terlambat menjemput anak di sekolah, meledak marah untuk hal-hal yang remeh lalu iblis menuduh kita bukan ibu atau istri yang baik….
Ada teman atau keluarga dekat yang berkomentar negatif, tanpa sadar kita menyetujuinya dan merasa ‘kita tidak cukup baik.’ Timbul perasaan tertolak, kepahitan dan malu.
Berhari-hari didera perasaan negatif, imun tubuh pun menurun. Berpikir, oh… Kurang minum vitamin. Terlalu lelah.. Atau kurang istirahat. Padahal penyebab utamanya justru intimidasi si musuh.
Saat ngobrol dengan Rheva, saya bercerita akan menulis bahwa intimidasi itu sesuatu yang wajar tetapi jangan diterima, karena itu pikiran yang diselipkan oleh musuh. Penting ini, banyak yang tidak paham.
“Betul Bu…. Ketakutan ini bisa muncul lagi setiap saat, karena symptomsnya memang real ya bu. Langsung kerasa,” sahut Rheva, “Tapi aku selalu inget kesaksian alan n Debby Moore. Otaknya memang masih rusak tapi dia hidup mengalahkan hasil MRI- nya. Sekarang aku melatih imanku untuk bisa melihat bantalan tulangku digantikan yang baru oleh Tuhan. Baby steps untuk belajar mempercayai hal ini.”
Inilah kisah Alan & Debby Moore yang di mention Rheva:
Suatu hari Alan Moore yang tengah merawat kebunnya, terjatuh. Ternyata terkena stroke. Segera Debby, istrinya membawanya ke rumah sakit. Hasil rontgen menunjukkan 1/3 otak Alan memang mati. Tetapi baik Alan mau pun Debby percaya bahwa kesembuhan sudah ada di dalam roh mereka. Maka mereka bersepakat untuk memanifestasikannya, menolak intimidasi musuh bahwa stroke tidak bisa sembuh. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, para suster dan dokter terheran-heran karena Alan bisa berjalan sendiri ke toilet, padahal secara medis, seharusnya Alan lumpuh separuh tubuhnya.
Di rontgen ulang, hasilnya tetap sama. 1/3 otaknya tetap mati. Tetapi kenyataannya Alan bisa berjalan bahkan bekerja normal seperti sedia kala. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kesaksian ini yang menguatkan Rheva, tidak peduli kondisi bantalan tulangnya seperti apa, pokoknya Rheva yakin, dia normal dan sembuh.
Sesungguhnya kita sudah paham di kepala, taktik lama si iblis tetapi ternyata menyingkirkannya, tidak semudah teorinya. Karena itu perlu untuk senantiasa memperkuat fondasi rohani kita: pemahaman akan kasih Allah yang tanpa syarat dan menerimanya, hingga menghidupinya dalam hati. Dan bergaullah dengan orang-orang yang percaya bahwa kesembuhan itu sudah ada di dalam kita, maka terjadilah menurut imanmu.
Praktik yuk….
Real faith has perfect peace and joy and a shout at any time. It always sees the victory – Smith Wigglesworth.
Iman sejati memiliki damai yang sempurna, sukacita dan bersorak kapan saja. Karena iman sejati selalu melihat kemenangan. – Smith Wigglesworth.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Ada sikap “anti-kemakmuran” di gereja saat ini, namun kebanyakan orang yang bersikap seperti itu, didalam hatinya ingin menjadi makmur. Ada alasan mengapa sikap ini begitu umum. Beberapa guru kemakmuran menjalani gaya hidup yang memang layak mendulang kritik. Kita bisa memahaminya. Tetapi iman timbul karena mendengarkan Firman Tuhan (Roma 10:17), dan iman untuk meraih kemakmuran, timbul karena mendengarkan pengajaran tentang kemakmuran. Kita perlu tahu apa yang Alkitab katakan tentang kemakmuran.
1 Tawarikh 29:12 (TB) mengatakan, “Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.”
Tuhan berkata bahwa mereka yang percaya kepada-Nya tidak akan kekurangan hal yang baik (Mazmur 34:10). Mempercayai diri sendiri atau sistem dunia ini adalah resep untuk menuai bencana. Manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya. (Yer. 10:23(TB) ). Ada cara yang lebih baik, dan itulah cara Tuhan.
Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.
Ulangan 8:18 (TB). Tuhanlah yang memberi kita kekuatan untuk mendapatkan kekayaan. Perhatikan Dia tidak memberi kita kekayaan secara langsung. Dia memberi kita kekuatan, atau kemampuan, untuk mendapatkan kekayaan. Disadari atau tidak, Tuhan adalah sumber kemakmuran kita. Mungkin saja kita berkata, “Tapi saya bekerja untuk memperoleh uang ini. Tuhan tidak memberikan ini padaku. Saya yang mendapatkannya.”
Izinkan saya mengajukan pertanyaan ini: Apa yang kita lakukan sehingga dilahirkan pada masa paling makmur dalam sejarah ini? Kita bisa saja terlahir sebagai budak atau di negara yang tidak memiliki peluang ekonomi. Kita tidak memberikan kepada diri kita sendiri baik bakat mau pun kemampuan. Kita dapat mengembangkan bakat kita, tetapi masing-masing dari kita memiliki karunia yang diberikan kepada kita oleh Tuhan. Kita tidak dapat mengembangkan apa yang tidak Tuhan berikan kepada kita.
Jika bahan kimia di otak kita sedikit berbeda, kita bisa menjadi sangat marah. Jika kita memiliki cacat yang melemahkan, kita tidak akan bisa bekerja. Jadi, sekali lagi saya katakan, disadari atau tidak, Tuhan adalah sumber kemakmuran kita.
Kemakmuran finansial bukanlah berarti Tuhan memberi kita uang; Dia memberi kita urapan yang memungkinkan kita menjadi makmur. Aset yang sesungguhnya bukanlah uang—bukan rumah, bukan mobil, bukan benda-benda fisik yang berwujud—melainkan urapan dari Tuhan untuk menghasilkan kekayaan. Aset yang sesungguhnya adalah nikmat Allah. Uang bukanlah kemakmuran; uang adalah produk sampingan dari kemakmuran. Banyak orang Kristen jatuh ke dalam perangkap untuk mengukur kemakmuran dengan jumlah barang yang mereka miliki. Menjadi makmur adalah mengandalkan Tuhan sebagai sumber Anda.
Ada orang yang makmur tanpa mempercayai Tuhan, tetapi biasanya ada harga yang harus dibayar, yang ‘menghancurkan’ hidup mereka (1 Timotius 6:9). Mereka mengalami kesulitan, stres, bermasalah dalam perkawinannya, dan seterusnya (1 Timotius 6:10). Mereka mungkin kaya, tetapi ada harga yang harus dikorbankan di bidang lainnya. Jika kita berhasil di jalan Tuhan, berkat Tuhan akan membuat kita kaya, dan tidak ada kesedihan yang akan ditambahkan padanya (Amsal 10:22).
Saya percaya bahwa langkah pertama menuju kemakmuran adalah mengakui bahwa kita adalah sekedar penatalayan bagi keuangan Tuhan. Ini membutuhkan perubahan pola pikir yang lebih besar daripada cara dunia memandang uang. Dunia mendorong kita untuk menjadi pemilik dan bukan penatalayan. Tapi itu bukan terserah apa maunya kita dalam menentukan apa yang akan kita lakukan dengan uang yang ada di tangan kita. Tuhan telah mempercayakan keuangan pada kita sehingga kita sekarang mempercayai-Nya dengan cara mengelolanya sesuai kehendak-Nya. Kemudian Dia akan membuat kita beruntung. Saya tahu kedengarannya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, tetapi memang begitu adanya.
Tuhan mempunyai rencana atas hidupmu. Mulailah dari posisi penatalayanan, dan biarkan Dia menjadi pemilik. Maka kita akan diberkati, diberkati, dan diberkati.
Ketika Tuhan menjadi sumber kita, Dia akan menyediakan semua kebutuhan kita. Dan itu tidak akan sesuai dengan hukum ekonomi dunia ini, yang dilengkapi dengan semua depresi dan resesinya. Namun kebutuhan kita akan dipenuhi sesuai dengan ekonomi ala Tuhan. Itu dahsyat!
Filipi 4:19 mengatakan, “Tetapi Allahku akan memenuhi segala kebutuhanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya oleh Kristus Yesus.”
Tuhan berkata Dia akan menyediakan semua yang kita butuhkan! Dan itu tidak sesuai dengan sistem dunia ini. Ketika Tuhan menjadi sumber keuangan kita, maka kita tidak hanya memiliki kemakmuran supernatural tetapi juga kedamaian yang tidak dimiliki orang-orang di dunia.
Ketika orang memberi perpuluhan, banyak dari antara mereka merasa bahwa mereka memberi dari apa yang telah mereka peroleh. Lagi pula, merekalah yang bekerja untuk mendapatkan gaji. Tetapi segalanya akan berubah bagi mereka jika mereka melihat diri mereka sendiri sebagai penatalayan, sementara yang menangani sumber daya adalah Tuhan. Penatalayan adalah orang-orang yang melihat diri mereka bertanggung jawab atas apa yang telah Tuhan percayakan kepada mereka.
Mempercayai Tuhan dalam bidang keuangan adalah langkah kecil iman. Dan jika Anda tidak dapat mempercayai Dia dengan apa yang paling kecil, maka menurut apa yang Yesus katakan dalam Lukas 16, Dia tidak dapat mempercayai kita dengan kekayaan surgawi:
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Lukas 16:10-11 (TB).
Beberapa orang tidak disembuhkan karena mereka tidak pernah mengembangkan iman mereka di bidang keuangan. Jangan salah paham—saya tidak mengatakan bahwa kita dapat membeli kesembuhan Anda. Itu salah. Tetapi ada orang-orang yang tidak mengalami kesembuhan dimanifestasikan, karena mereka tidak pernah mempercayai Tuhan “dalam hal yang terkecil” (Lukas 16:10). Itu mungkin tidak berlaku dalam setiap kasus, tetapi sering kali menjadi masalah. Inilah tempat awal. Kita tidak dapat melewatkan hal ini.
Jika kita memahami pengelolaan keuangan dengan benar, itu akan memungkinkan kita menjadi berkat bagi orang lain.
Dan seperti yang dikatakan 2 Korintus 9:8 (TB). “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.”
Alasan Tuhan melimpahkan kasih karunia kepada kita, agar kita berkerlimpahan—memberi—untuk setiap pekerjaan baik. Motif sebenarnya di balik keuangan bukanlah untuk mendapatkan—melainkan untuk memberi. Ini adalah titik kritis.
Banyak orang yang menolak pengajaran tentang kemakmuran Alkitabiah melakukannya karena mereka melihatnya sebagai egois atau serakah. Mereka berkata, “Saya sudah cukup. Saya mungkin tidak kaya, tetapi saya memiliki atap di atas kepala saya dan kebutuhan dasar saya terpenuhi. Saya tidak ingin atau membutuhkan lagi.” Tapi itulah sikap egois.
Jika kita memiliki semua yang kita butuhkan, percayalah lebih banyak lagi kepada Tuhan sehingga kita dapat membantu orang lain. Pikiran yang mengatakan “Saya sudah cukup—lupakan orang lain” adalah sikap yang benar-benar egois. Kita perlu makmur, bukan agar kita dapat memiliki lebih banyak, tetapi agar kita dapat menjadi berkat yang lebih besar.
Tuhan memberi tahu Abram bahwa Allah akan memberkati dia dan menjadikannya berkat (Kejadian 12:2). Kita tidak dapat memberikan apa yang tidak kita miliki. Abram tidak bisa menjadi berkat bagi orang lain sampai dia diberkati.
Demikian juga, Anda dan saya tidak dapat memenuhi tujuan Tuhan bagi hidup kita tanpa menerima kemakmuran-Nya. Kerajaan Allah tidak dapat maju tanpa umat Allah menjadi makmur. Kita membutuhkan pewahyuan ini. Kita perlu tahu bagaimana memakmurkan jalan Tuhan.
Saya telah dipanggil oleh Tuhan untuk mendirikan Charis Bible College, yang akan mengubah kehidupan puluhan ribu orang yang, pada gilirannya, akan mempengaruhi tubuh Kristus di seluruh dunia. Ini sesuatu yang besar, dan diperlukan banyak uang untuk mencapainya. Saya berdoa agar Anda, rekan-rekan saya, akan mengizinkan Tuhan untuk mencapai kepuasan-Nya terhadap Anda dengan cara memakmurkan Anda dengan setiap pekerjaan yang baik (Mazmur 35:27).
[Repost : “Financial Stewardship”, – Andrew Wommack, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Apa kunci untuk berjalan dalam kemenangan terus-menerus dalam hidup? Kita semua membuat kesalahan dan melakukan hal-hal yang kita harap tidak kita lakukan. Kesalahan-kesalahan ini bisa menjadi awal dari kehidupan yang penuh rasa bersalah, penghukuman dan kekalahan, atau bisa menjadi momen di mana kita dengan cepat pulih dan bergerak maju dengan kekuatan kasih karunia Tuhan. Bagaimana cara kita mengatasi kesalahan, akan menentukan masa depan kita.
Dalam kisah Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32) ada pewahyuan yang kuat yang dapat membebaskan kita dari belenggu kegagalan masa lalu kita. Setelah menghabiskan semua warisannya untuk memuaskan kedagingannya, Anak yang Hilang mendapati dirinya memberi makan babi untuk mencari nafkah dan mempertimbangkan untuk memakan makanan mereka, sekedar untuk bertahan hidup. Setelah mencapai titik terendah dalam hidupnya, kitab suci berkata, “Ketika dia sadar kembali.”
Pria ini memiliki momen kesadaran diri yang kuat. Dia menyadari kebodohan, pemborosan, kegagalan, penurunan serta situasinya yang tanpa harapan. Sampai dia mau mengakui kesalahannya, dia ditakdirkan untuk tetap dalam kondisi itu. Tetapi begitu dia jujur ??pada dirinya sendiri dan menyadari konsekuensi dari pilihannya, dia berada dalam posisi siap dipulihkan.
Setelah menyadari kondisinya, dia berkata, “Aku akan bangkit dan pergi menemui ayahku, dan aku akan berkata kepadanya, “Ayah, aku telah berdosa terhadap surga dan di hadapanmu.” Inilah pertobatan sejati. Sebuah keputusan dibuat untuk kembali ke ayahnya. Pertobatan adalah keputusan untuk berbalik dari apa yang kita anggap merusak, dan kembali kepada Dia yang mengampuni dan menyembuhkan. Anak yang hilang itu bertobat dan menyerahkan hatinya kepada Bapanya.
Bagian terakhir dari pemulihan Anak yang Hilang ditemukan ketika dikatakan, “Jadi dia bangkit dan datang kepada ayahnya.” Pertobatan hanya murni dan sejati, jika diikuti dengan tindakan yang menegaskannya. Itulah proses pemulihan. Niat baik tanpa tindakan yang sesuai, tidak akan menyelesaikan proses pemulihan.
Prinsip-prinsip ini akan berhasil dalam situasi apa pun. Begitu kita benar-benar menyadari kesalahan kita, pemikiran kita yang salah, kata-kata kita yang salah atau gaya hidup kita yang merusak, kita berada dalam posisi untuk kembali kepada Bapa kita. Tetapi itu tidak bisa menjadi keputusan emosional sesaat. Harus diikuti dengan tindakan. Tidak peduli apa pun yang telah kita lakukan, selalu mungkin untuk dipulihkan.
Pengakuan, pertobatan, dan pemulihan akan membuat kita tetap berada di tempat yang penuh anugerah dan kemenangan.
[Repost : “Recognition, Repentance and Recovery”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Apa pun kepercayaan atau agama seseorang, memberi itu sesuatu yang baik. Tetapi saya baru belajar, ternyata motivasi pemberian kita jaaauuuuhhh lebih penting daripada pemberian itu sendiri. Wow..
“Dea tidak layak sakit ce… Dia orang yang baaaiiik luar biasa. Hatinya lembut, selalu ingin berbagi dengan orang lain. Setiap bulan dia membagikan makanan ke panti asuhan, panti jompo bahkan satpam dan tukang sapu di kompleks rumahnya. Rutin lho… Bukan hanya sekali-sekali, ” ujar sahabat saya sambil mengusap air matanya, “Dea lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Koq bisa Tuhan ijinkan Dea sakit? Padahal orang-orang yang jahat justru sehat-sehat saja.”
“Orang berbuat baik, itu motivasinya apa dulu? Kalau dia berbuat baik supaya dia diterima Tuhan, misalnya, itu menjadi beban yang tidak pernah cukup. Dia melakukan 6, rasanya masih kurang baik, 7, kurang baik juga, gak ada habisnya. Karena pemahaman Dea salah, ” ujar Yuliadi, sahabat saya menjelaskan, “Justru orang ‘jahat’ yang hidupnya gak karuan, gak pernah didera rasa bersalah. Jadi hidupnya justru sehat-sehat saja.”
Pertama, penyakit bukan dari Tuhan.Tetapi dari si musuh, iblis. Pemikiran yang salah itu yang memicu penyakit.
Seperti orang berpikir dalam dirinya, demikianlah ia, kata Raja Sulaiman/Salomo.
Pikiran kita menentukan kondisi kita. Dan pikiran itu hasil keputusan kita sendiri. Karena itu, perlu membangun mindset yang benar agar kita hidup sehat dan makmur sesuai dengan kehendak Tuhan.
Ke dua, motivasi kita dalam memberi, lebih penting daripada pemberiannya. Ada orang-orang yang memberi karena dikejar perasaan bersalah, takut kalau tidak memberi nanti tidak diberkati. Jadi seperti orang memberi sesajen saja.
Ada juga yang seperti judi, Tuhan berjanji melipatgandakan apa yang kita berikan menjadi 30, 60, 100 kali lipat, maka memberi dengan tujuan dilipatgandakan. Ini jelas motivasi yang salah. Kita memberi karena kita SUDAH diberkati, sebagai ucapan syukur. BUKAN SUPAYA diberkati. Meski hukumnya memang tabur tuai tetapi bukan itu yang menjadi fokus dan motivasi alasan kita memberi.
Ingat, antara waktu menabur dan menuai ada jeda. Nach kalau yang ditanam biji mangga atau durian, bisa bertahun-tahun, baru bisa berbuah. Jangan sampai kecewa, ketika panen tak kunjung tiba. Sikap hati kita, tabur saja segala hal baik yang bisa kita lakukan, soal panen, biarkan Tuhan dan alam yang mengatur. Janji Tuhan Ya dan Amin. Kalau pun saat kita hidup tidak sempat menikmati tuaiannya, mungkin anak cucu kita yang menuainya.
Bahkan ada orang yang korupsi di perusahaan, lalu menyumbang dalam jumlah besar untuk pembangunan rumah ibadah. Dieeeenk…..!!! Dia berharap dengan sumbangannya, hati nuraninya yang dikejar rasa bersalah bisa ditenteramkan. Dosanya bisa di discount. Nyogok Tuhan, tujuannya 🙂
Banyak orang menilai dari kulitnya saja. Perbuatannya kelihatannya baik, tetapi asal dana dan tujuannya yang menentukan. Tuhan menilainya bukan dari apa yang dilakukan, melainkan motivasi dalam melakukannya, jauh lebih penting. Hhmmm… Make sense!
Ketiga, memberi dari apa yang ada pada kita, bukan yang belum kita miliki.
Andrew Wommack menyoroti, akhir-akhir ini banyak orang yang memberikan persembahan dengan menggesek kartu kreditnya. Niatnya baik, ingin memberkati orang lain, tetapi caranya kurang bijak. Uang dari kartu kredit adalah uang yang BELUM dimiliki seseorang, alias hutang, seharusnya persembahan tidak demikian. Orang itu ingin ‘beriman’ memberi dalam jumlah besar. Andrew menegaskan, itu salah. Keinginan itu baik, tetapi itu berlawanan dengan kebenaran yang diajarkan Tuhan. Persembahan yang berkenan kepada Tuhan, berasal dari uang yang memang milik kita.
Penting diingat, yang baik itu belum tentu benar. Berpeganglah pada kebenaran dari Tuhan. Persembahan seyogyanya diberikan dari uang atau harta yang SUDAH kita miliki.
Keempat, Berilah dengan sukacita bukan dengan berat hati.
Karena perpuluhan itu miliknya Tuhan, kerap asal sudah dibayar, hati plong. Padahal kadang dilakukan dengan motivasi takut kena kutuk kalau tidak dibayar, atau merasa berdosa merampok milik Tuhan.
Alasan dan sikap saat mempersembahkan, jauh lebih penting daripada nilai yang dipersembahkan
Tuhan menghendaki kita mempersembahkannya dengan hati yang penuh sukacita, kasih serta ucapan syukur. Bagi orangtua, lebih membahagiakan ketika sang anak membawakan bunga di kebun tetapi diberikan dengan antusias, ceria dan penuh kasih. Daripada diberi kado mahal tetapi dengan wajah yang cemberut, berat hati dan penuh beban. Bukankah persembahan itu mewakili kasih di hati si pemberi?
Pengajaran ini membuat saya lebih bijak dan dewasa rohani. Bagaimana dengan Anda?
GIVING IS BETTER THAN RECEIVING. When God blesses you financially, don’t raise your standard of living. Raise your standard of giving. – Mark Batterson.
MEMBERI LEBIH BAIK DARIPADA MENERIMA. Ketika Tuhan memberkati Anda secara finansial, jangan menaikkan standar hidup Anda. Tingkatkan standar pemberian Anda. – Mark Batterson.
YennyIndra TANGKI AIR & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN