Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Toxic Shame.

Gospel Truth’s Cakes

Yenny Indra

Toxic Shame.

Ketika anak-anak masih kecil, kerap mereka pulang sekolah dengan bangga menceritakan pencapaiannya,

“Ma, aku hebat lho…. Tadi aku bla… bla… bla… Dan Bu guru memujiku.”

Lucu ya…. Dan sebagai orangtua, kita merasa bangga.

Tetapi seiring bertambahnya usia, kita sadar, memuji diri sendiri itu tidak wajar. Tabu.
Kadang ada yang meremehkan dsb. Ternyata pencapaian kita gak sepenting itu.
Meski pun sesungguhnya kita butuh pengakuan itu. Apalagi orang-orang yang bahasa kasihnya “Kata – Kata Penghargaan”, menurut Gary Chapman, dia merasa dikasihi ketika dipuji, diakui melalui perkataan verbal.

Kejujuran menjadi barang langka, di mana kita tidak bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan apa adanya.

Bisa dibenci orang, kalau tidak pintar-pintar membawa diri. Tahu waktu, kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan sesuatu.


Suatu ketika, saya keceplosan tidak sengaja, betul-betul karena kelelahan, saya berkomentar ‘negatif’ mengungkapkan apa yang sejujurnya saya rasakan. Tanpa ada maksud apa pun…. Beneran…

Ketika teman saya menjawab sedemikian positifnya….
Tiba-tiba saya sadar, malu…..
Duh saya sudah sekolah sekian lama koq ternyata tetap punya pikiran negatif, dan tidak sebaik teman saya.

Perasaan malu, bersalah, menyalahkan diri sendiri bisa sedemikian mendera, sampai termimpi-mimpi saat tidur.
Bersamaan beberapa minggu lagi saya mendapatkan kesempatan bersaksi.
Saya merasa tidak layak….

“Lhah wong masih punya pikiran negatif koq mau bersaksi… Hatimu gak bersih, gak layak…”
Tuduhan-tuduhan itu meneror siang malam…
Tekanan darah tiba-tiba naik, dan saya sakit.

Lalu saya mengundurkan diri. Saya butuh waktu membereskan apa yang ada di dalam hati.
Padahal saya sekolah, tiap hari fokus firman….
Tiap hari post Seruput Kopi Cantik….
Bayangkan… Koq ga jadi panutan.
Ke depan saya harus lebih hati-hati, berpikir tulus, murni, baik, selalu memandang dari sisi positif dsb. dsb….
Demikian saya berjanji dalam hati, dengan perasaan tertuduh.

Ada perasaan takut mengecewakan orang lain, tidak bisa memenuhi harapan orang lain, tidak menjadi Terang & Garam dsb. Padahal makin berusaha dengan kekuatan sendiri, makin mustahil.

Sudah berdoa, minta ampun pada Tuhan dan paham, semua rasa malu, kesalahan dan dosa sudah ditanggung Yesus di Kayu Salib, tapi koq ya… Perasaan malu gak hilang-hilang juga.

Apakah hanya saya yang mengalaminya?
Gak tahulah.


Secara tidak sengaja Joyce Meyer muncul di Instagram saya.
Joyce bercerita, bahwa apa yang saya alami, itu disebut, Toxic Shame.

Tidak sekedar malu pada apa yang sudah kita lakukan atau katakan, bisa juga malu karena apa yang sudah dilakukan orang lain terhadap kita, tetapi akhirnya kita menjadi malu terhadap diri kita sendiri!
Inilah yang disebut Toxic Shame, perasaan malu yang meracuni.
Ketika kita malu terhadap diri sendiri, itu akan meracuni setiap aspek kehidupan kita.

Joyce Meyer mengalami sexual abuse dari kecil. Itu bukan salahnya, dia masih kecil tidak berdaya. Namun dia menjadi malu terhadap dirinya, merasa tidak layak, marah, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Padahal dia hanyalah korban. Menyalahkan diri sendiri.

Apa beda rasa malu yang sehat dengan yang meracuni?
The Gottman Institute mengungkapkan:

Healthy shame guides toward self-correction, making amends, and growth.
Toxic shame, on the other hand, can be very harmful psychologically. It’s deeply absorbed in the nervous system (meaning, you feel it in your gut). Toxic shame is self-punishing and lingers on.

Rasa malu yang sehat membimbing menuju koreksi diri, perbaikan, dan pertumbuhan.
Rasa malu yang meracuni, di sisi lain, bisa sangat berbahaya secara psikologis. Perasaan ini diserap dalam sistem saraf (artinya, Anda merasakannya di usus Anda). Rasa malu meracuni, berakibat menghukum diri sendiri dan terus berlanjut, dan berlanjut…

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, (yaitu, dalam dagingku), di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan berbuat apa yang baik…….. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Demikian ungkapan Rasul Paulus.

Kita semua bisa merasakan dilema ini. Frustrasi karena mengetahui hal yang benar untuk dilakukan, tetapi karena kelemahan daging serta kelemahan tekad mental kita sendiri, mendapati diri kita melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan.

Tuhan ingin kita mengasihi diri sendiri. Tuhan menerima dan SUDAH mengampuni segala dosa kita, baik dosa masa lalu, sekarang, mau pun dosa di masa yang akan datang.
Semua sudah lunas dibayar!

Saya paham prinsip itu, sudah lulus ujian, nempel di kepala, tetapi ternyata belum menghidupinya!

Salah ucapan, tidak sekedar malu terhadap perkataan yang salah, saya jadi malu terhadap diri sendiri!


Setiap menulis, saya mengaitkannya dengan Tuhan karena bagi saya, Tuhan itu pusat kehidupan saya.
Dengan menuliskannya, saya mengajari diri saya sendiri, agar prinsip ini terukir dalam hati.

Kadang ada pembaca yang mengharapkan penulisnya seperti malaikat.
Tentu tidak bisa!
Saat hubungan dengan Tuhan mulus, saya merasa jauh lebih sabar. Karena sabar itu buah roh.
Tetapi ada kalanya, hubungan dengan Tuhan tidak sedekat biasanya, masalah datang bertubi-tubi, emosi muncul juga.

Tuhan itu Allah yang Mahabaik.
Munculnya Joyce Meyer menyadarkan saya akan Toxic Shame.
Tidak hanya itu, tanpa sengaja bertemu teman dalam sebuah pertemuan. Ketika sedang ngobrol sana sini, teman ini menceritakan hal yang sama seperti yang saya rasakan. Dia berkomentar sama dengan komentar saya yang ‘negatif’.

Wuiiihhh…. Leganya!
Ternyata bukan saya yang jahat. Ada orang lain berpendapat demikian juga. Itu normal.
Hingga kini saya berusaha jujur, klo baik, saya puji. Di berbagai artikel Seruput Kopi Cantik saya kerap bahkan senang mengapresiasi teman-teman. Namun jika saya tidak merasa mendapat sesuatu, saya diam, tidak mau memuji sekedar basa-basi. Gak nyaman di hati.

Meski demikian, iblis tidak langsung berhenti. Beberapa bulan kemudian, ketika saya diberi kesempatan bersaksi, teror kembali datang.

Saya berdoa dan bilang sama Tuhan:
It’s all about You, my Lord… not me.
Saya ingin menceritakan kebaikan-Mu, untuk kemuliaan-Mu, biarlah saya menjadi wadah, silakan hati-Mu, perkataan-Mu yang Engkau alirkan melaluiku.
Saya tidak mau dikalahkan lagi oleh si musuh.

Semua berjalan lancar setelah saya tidak mengandalkan diri sendiri. Tetapi bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Joyce Meyer menambahkan,
“Meski pun hari ini adalah hari buruk Anda, sepanjang hari Anda bersikap tidak baik… Marah, menggerutu, dll tetapi saya beritahu: Tuhan tetap mengasihi Anda. Karena Tuhan melihat hatimu. Anda berada di sini karena Anda mencari-Nya dan mengasihi-Nya bukan? Allah perhitungkan hal itu.”

Memahami kita dibenarkan BUKAN karena kita baik atau melakukan hal yang benar, tetapi karena beriman kepada Yesus dan karya Salib yang Sudah Selesai, sungguh merupakan fondasi yang teguh.
Kita tidak diombang-ambingkan oleh perbuatan kita, tetapi saya benar karena saya ada di dalam Kristus.

Ketika kita belajar kebenaran firman Tuhan dan hidup dari Roh Allah, dosa dikalahkan.
Dan hasilnya? Kita tidak mengutuki diri sendiri lagi.
Tidak ada penghukuman ketika kita berjalan dalam Roh.

Yuk hidup dalam roh….

So now there is no condemnation for those who belong to Christ Jesus. – Romans 8:1

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8:1 (TB)

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Rest In The Lord!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Rest In The Lord!

Ada permasalahan dalam hidup yang datang berulangkali. Mungkin saja penampilannya berbeda tetapi esensinya sama.
Biasanya setiap menghadapi masalah seperti ini, saya segera mencari ahli di bidang ini, konsultan untuk minta pendapatnya, menyusun strategi dsb.
Kali ini, tidak!

Saya baru belajar pelajaran yang baru, – pelajaran lama sesungguhnya – tetapi baru saat ini menjadi pewahyuan yang hidup bagi saya.
Ketika saya menerima Tuhan sebagai Juruselamat, saat itu juga anugerah-Nya tercurah atas hidup saya.
Artinya, secara rohani, saya sekarang duduk di sebelah kanan Allah dalam POSISI MENANG.

Maksudnya?
Klo saya mau hidup secara rohani, tugas saya Rest In The Lord – Beristirahat di dalam Tuhan dalam posisi Menang.
Mempercayakan hidup kepada Tuhan dan percaya bersama Tuhan, kita sudah menang atas masalah, persoalan dan apa pun yang membebani hidup kita.

Lalu masalah yang dihadapi bagaimana?
Serahkan apa yang kita khawatirkan kepada Tuhan, sebab Dia yang memelihara kita.
Saya memerintahkan dengan Otoritas yang diberikan Tuhan, agar permasalahan selesai. Tuhan yang meluruskan jalan kami.

Ada godaan untuk melihat secara kasat mata, bagaimana hasilnya. Tetapi ada suara kecil yang mengingatkan kisah tentang pohon Ara.
Ketika pohon itu dikutuk, saat itu juga akar-akarnya menjadi kering dan mati tetapi secara kasat mata, kelihatannya tetap seperti biasa. Seolah tidak ada yang terjadi.
Tetapi keesokan harinya terbukti secara kasat mata, pohon ara itu benar-benar mati.
Percayalah!
Dan saya pun taat.

Apa yang terjadi?
Semua berlangsung mulus.
Kekhawatiran-kekhawatiran tidak terjadi.

Terbersit dalam pikiran, ketika menghadapi masalah, lalu sibuk membiarkan ketakutan-ketakutan meneror kita, sesungguhnya saat itulah kita sedang menciptakan permasalahan yang lebih berat. Membuka celah sehingga iblis masuk memporakporandakan hidup kita.

Kalau hati kita damai, tenang, rest in the Lord… Gantian si iblis yang pusing kepala.

Saat menunggu, apa yang harus dilakukan?
Deklarasikan saja janji-janji-Nya dan berdoa dalam roh. Percaya bahwa Janji Allah Ya dan Amin.
Segala kemenangan dimulai dari dunia roh, baru tercipta ke dalam dunia natural.
Biarkan Tuhan yang berperang bagi kita.

Rahasianya, pada saat keadaan baik, tanam benih firman Tuhan sebanyak-banyaknya dan dihidupi.
Firman itu Allah sendiri.
Firman itu Roh dan Hidup. Berkuasa untuk mencipta. Bahkan dunia ini pun ditopang oleh firman-Nya.
Yang rohani itu lebih nyata daripada yang jasmani.
Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Permasalahannya, apakah kita cukup rendah hati bersedia mengijinkan Tuhan berkarya melalui kehidupan kita?
Menjadikan Dia benar-benar Allah, yang utama dan terutama dalam kehidupan kita?
Jika Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hidup ini.

Semakin menghidupi prinsip-prinsip ini, hidup makin ringan.
Tidak sibuk ngotot mengatur banyak hal tetapi membiarkan Tuhan yang mengarahkannya.

“Jika Tuhan memberi jeruk, buatlah limun” – Zig Ziglar.

Tugas saya hanya mengantisipasi apa yang Tuhan sediakan, buatlah yang terbaik darinya, sesuai arahan-Nya.
Life is so simple!

Ingat prinsip ini:
Ketika kita turun tangan, Tuhan lepas tangan.
Saat kita lepas tangan, Tuhan turun tangan.
Nach pilih mana?


Chat seorang teman dari Surabaya, Siau Siang.

“Ci Yenny, Bolehkah Siau Siang share keajaiban Tuhan buat Siang?

“Tentu boleh. Saya penasaran nich…”

“Aku mau share, pas malam lebaran aku dapat musibah tersiram minyak panas di kaki. Padahal di rumah tidak ada orang satu pun juga. Saat itu aku sedang bikin pisang goreng untuk dibagi-bagikan ke tetangga yang mau berbuka puasa.
Niatnya baik, tapi yang terjadi justru musibah kecelakaan….,” Siau Siang bercerita,
“Tuhan tolong…… itu aja yg bisa aku ucapkan. Tidak kuat rasanya. Panas puollllll…. Tapi tidak ada yang menolong. Aku ingat yang tertulis di Seruput Kopi Cantik, kesembuhan sudah ada di dalam rohku. Aku beriman, Tuhan menyembuhkan. Akhirnya, hanya diolesi salep yang diberi oleh teman-teman saja. Dan hari ini tepat 2 minggu setelah kecelakaan itu. Tuhan sudah menyembuhkan Siang…

Sebelum ini, Siang berbaik hati meminjamkan uang pensiun suami kepada seorang teman yang sedang kesulitan keuangan. Ternyata pembayaran justru mengalami aneka lika liku bak drama. Sebagian bisa terbayar tetapi masih ada yang tersisa hingga kini. ?. Niat baik tapi disalahgunakan.
Sungguh Siang sedih dan bingung, ini uang suami… Bayangkan…
Sebaliknya ada saudara seiman lain, yang justru memberi berkat. ‘Malaikat’ yang dikirim Tuhan.”

“Siang, ke depan hati-hati soal uang. Karena uang itu tidak kenal teman atau saudara. Lebih baik beri seikhlasnya, jangan memberi hutang…. Justru hubungan pertemanan bisa rusak karenanya. Yang baik, belum tentu benar. Sebelum mengambil keputusan apa pun, bawa dalam doa dulu.”

“Th 2014 akhir anakku kena kasus narkoba, bukan sebagai pemakai, yang Siang takutkan sebagai penjual. Tuhan selalu menolong dan tidak se-sen pun uang yang saya keluarkan saat anakku ditahan. Saya selalu setia pada Tuhan, gak pernah komplain. Sekarang anakku jadi anak yang berbakti, yang menanggung biaya hidup orangtuanya. Hidup tidak selalu mulus, tetapi Tuhan selalu dapat diandalkan dan endingnya masa depan penuh damai sejahtera.

Dari berbagai pergumulan, pengalaman, kesulitan yang saya alami, sungguh ajaib Tuhan kita. Th 2019 Siang dan suami bisa ikut tour ke Holyland berdua, free of charge. Gratis… Tis… Tis… Tis…. Hadiah dari Tuhan….
Padahal th 2018 Siang juga dapat gratis ke Holyland, tetapi suami bayar.
Bayangkan… Siang dapat 2x free ke Holyland.
Pokoknya ga ada yang mustahil bersama Tuhan.
Terimakasih untuk Seruput Kopi Cantik yang selalu menguatkan imanku di saat-saat penuh pergumulan.”

Wow….
Ketika Siau Siang Rest In The Lord, berserah sungguh-sungguh kepada Tuhan, maka jalan keluar yang tak terpikirkan pun terjadi. Tuhan kirim ‘malaikat’ yang mengembalikan sebagian uang yang sudah raib tak berbekas, kaki yang terbakar sembuh, anaknya sekarang menjadi anak berbakti. Dapat gratis ke Holyland pula. Siang 2x gratis dan suami 1x gratis ke Holyland … ???
So sweet….

Sungguh menyenangkan saat mendengar iman teman-teman dikuatkan karena Seruput Kopi Cantik.
Berarti saya menulis ini, kehendak Tuhan.
Tidak ada kebahagiaan yang melebihi kesadaran, bahwa kita berada ditengah-tengah kehendak-Nya dan sedang mengerjakan tugas yang diberikan-Nya.

Mari kita bersama-sama menghidupi kehendak-Nya & Rest In The Lord!

What you believe is powerful. If you can change what you believe, you can change your life! – Joseph Prince.

Apa yang Anda yakini sangat dahsyat. Jika Anda dapat mengubah apa yang Anda yakini, Anda dapat mengubah hidupmu! – Joseph Prince.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Tidak Ada Penghukuman.”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Tidak Ada Penghukuman.”

Dalam Roma pasal 7, Paulus menderita karena dosa di dalam dagingnya yang menghalanginya melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya.
“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, (yaitu, dalam dagingku), di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan berbuat apa yang baik…….. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.”

Kita semua bisa merasakan dilema ini. Frustrasi karena mengetahui hal yang benar untuk dilakukan, tetapi karena kelemahan daging serta kelemahan tekad mental kita sendiri, mendapati diri kita melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan.

Paulus selanjutnya berbicara tentang ‘hukum pikirannya’ versus ‘hukum di dalam anggota-anggotanya’ (daging/tubuhnya). Hanya ada dua pilihan, seperti Paulus, kita akan berteriak ‘Aku ini manusia celaka!’

Pernyataan itu menggambarkan penghukuman diri.
Frustrasi karena kelemahan dan kegagalan yang terus-menerus menyebabkan rasa bersalah. Ketika mencoba melakukan hal yang benar hanya dengan kekuatan serta kemauan sendiri, maka kita akan gagal.
Apakah ada pilihan lain?

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”
Roma 8:1 (TB).

Paulus menggambarkan kehidupan berdasarkan kekuatan kehendak, sebagai berjalan dalam daging. Meskipun pikiran mungkin berperang dengan daging, itu juga merupakan bagian dari daging, dan daging tidak ada gunanya. Daging tidak bisa mengalahkan daging!

Kemudian Dia menyatakan, tidak ada penghukuman (rasa bersalah dan penghukuman diri) bagi mereka yang memilih pilihan ketiga – hidup oleh Roh!
Ketika hidup oleh Roh Tuhan, kita diperlengkapi dengan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada kekuatan kehendak dan tekad mental kita sendiri.
Roh Allah mengizinkan kita hidup dalam dimensi kasih karunia dan damai sejahtera, tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk menaklukkan dosa, melainkan mengandalkan penyediaan-Nya untuk hidup dalam Roh.

Dosa hanya memiliki kekuatan ketika kita memilih untuk menghadapinya dengan kekuatan kita sendiri.
Ketika kita belajar untuk hidup dari Roh Allah, dosa dikalahkan. Dan hasilnya? Anda tidak akan mengutuki diri sendiri lagi.
Tidak ada penghukuman ketika Anda berjalan dalam Roh.

[Repost ; “No Condemnation”. – Barry Bennett, Penerjemah Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Serba Serbi Konseling, Perpuluhan & Kebenaran Yang Membebaskanmu

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Serba Serbi Konseling, Perpuluhan & Kebenaran Yang Membebaskanmu.

Saya termasuk yang percaya bahwa konseling dengan seseorang, tidak terlalu bermanfaat.
Jangan marah dulu…. Atau didebat ya…

Jika ada seorang istri curhat, sebut saja Ani, yang bermasalah dengan suaminya, Budi.
Ketika Ani menceritakan permasalahannya, tentu sesuai cara pandang Ani. Jika kita menanggapinya, tentunya solusi yang menurut pemikiran kita makes sense, sesuai dengan kondisi yang diceritakan Ani, misalnya kondisi ABC.

Lalu kita mendengar dari Budi, ceritanya berbeda dari, konon XYZ.
Nach lho…. Mana yang benar?

Keduanya gak ada yang benar.
Karena baik ABC mau pun XYZ bukanlah penyebab sesungguhnya.
Munculnya ABC dan XYZ dipicu oleh salah perkataan, ketersinggungan, Ani keqi dengan keluarga Budi, demikian pula sebaliknya.
Apalagi mereka sudah menikah berpuluh-puluh tahun. Sudah segunung tuh uneg-uneg dihatinya.

Belum lagi ABC & XYZ dipengaruhi cara Ani mau pun Budi dalam menyikapi sesuatu: cara mereka memberi makna pada sebuah peristiwa.

Ani tidak bikinin kopi pagi ini. Budi bisa mengartikan, pasti gara-gara habis berantem semalam. Ani masih marah. Ini makna yang diberikan Budi.
Sementara Ani tidak bikin kopi, karena kemarin lupa beli kopi dan beneran sudah habis. Tapi karena sedang diem-dieman sama Budi, ya diam saja… Padahal Ani sebetulnya sudah gak marah sama Budi tapi mau menyapa duluan, masih gengsi…

Salah memberikan makna, tentunya membuat solusi tidak tepat sasaran bukan?

Btw saya sedang pesan kaos Provokasi-nya P. Prasetya M. Brata yang bertuliskan:
“The Meaning You Give, The Life You Live.”
Makna yang kamu berikan, menentukan hidup yang kamu jalani.
Keren ya….

Manusia kesulitan untuk memahami akar permasalahan yang sesungguhnya.
Tetapi Allah tahu akar permasalahan yang sebenarnya.
Dan buat Tuhan, enteng beresin masalah mereka.
Makes sense?

Itulah sebabnya, saya gak terlalu suka sok kasi solusi kalau ada yang curhat.
Justru gantian saya yang sakit kepala, jika menampung terlalu banyak ‘sampah’.
Prefer saya kasi artikel, buku, link video dsb supaya mencari Tuhan langsung.
Saya hanya bisa kasi teaser, menunjukkan jalan yang saya tahu, agar bisa berjumpa Tuhan langsung.

Setelah mulai mengenal Tuhan, sang istri gak lagi curhat kanan kiri. Ketika istrinya berubah, suaminya mulai berubah. Makin banyak kebenaran diaplikasikan, dengan sendirinya segala sesuatu berubah secara natural.
Lama gak jumpa, ternyata suami istri itu sudah rukun sekarang.

Dan kamu akan mengetahui kebenaran, kebenaran itulah yang akan memerdekakan kamu,” kata Tuhan.
Dan itulah yang terjadi.


Seorang teman stress berat. Kambuh, sembuh, seperti yoyo. Bertahun-tahun begitu. Pernah saking stress parah, sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa.
Gila dong….

Gak juga.
Sadar ga sesungguhnya setiap kita, ada ‘gila’-nya juga dengan kadar yang berbeda-beda. Itulah sebabnya banyak orang yang dianggap aneh, antik, ‘kukuai’ kata orang chinese….
Menyebalkan, menjengkelkan..
Hanya saja sama orang disekitar masih dianggap wajar.
Diberi label ‘normal’, jadi masuk kategori normal.

Ketakutan berlebihan, phobia ini itu, takut berbicara di depan umum seperti saya dulu, coba saja ke psikiater or psikolog… Nanti dikasi tau: itu gejala kejiwaan.

Setelah fokus sekolah, belajar firman dengan tekun, teman yang stressnya bak yoyo, sembuh dengan sendirinya. Bebas obat. Sangat normal.
Presentasinya bagus.
Yang menganggap dirinya waras, belum tentu bisa presentasi.

“Dan kamu akan mengetahui kebenaran, kebenaran itulah yang akan memerdekakan kamu,” kata Tuhan.
Dan itulah yang terjadi.


Sahabat saya, Coach Antonius Arif bercerita, pada tahun 2020 saat pandemi, beliau kesulitan mencicil rumah keduanya.
Pendapatan berkurang, maka dana yang ada diprioritaskan untuk membayar gaji karyawan dulu.

Oneday istri Coach Arif kena Covid, berlanjut Coach Arif kena juga. Di rumah sakit itulah titik balik hidupnya terjadi. Dia dijamah Tuhan dan mengalami perjumpaan pribadi dengan-Nya.
Buku-buku Andrew Wommack dilahapnya. Banyak keajaiban terjadi tetapi cicilan rumah tetap belum bisa dilunasi. Mencicil sebisanya.

Tahun 2021, Coach Arif mulai melakukan perpuluhan. “Rasanya mustahil banget saya melakukan perpuluhan karena merasa saya yang kerja keras mati-matian koq suru nyumbang. Yang ada ya biaya-biaya ditutup dulu, baru sisanya bisa disumbangkan,” Coach Arif bercerita,
“Suatu ketika saya mendengar, gapapa sich gak memberikan perpuluhan kepada Tuhan. Tapi ingat ketika Anda memberikan sesuatu, Anda berikan dulu kepada Tuhan. Jangan seakan-akan Anda memberikan tips kepada Tuhan. Ketika mendengar kata tips, terus terang saya tertampar. Iya juga ya… Koq saya memberikan terakhir kepada Tuhan? Bukannya yang pertama sebagai buah sulung kepada Tuhan. Lalu saya belajar tentang bendahara atau pengelola. Saya sadar, uang ini uang Tuhan, saya hanya pengelola karena itu saya berikan perpuluhan… Kan ini duit Tuhan. Perusahaan kami sekarang menempatkan Tuhan sebagai pemiliknya.”

Tahun 2021, kami dapat project besar miliaran rupiah. Perusahaan yang semula jumlah karyawan hanya sekitar 11 orang, sekarang jadi sekitar 18 orang di masa pandemi. Perusahaan bertumbuh.

” Kami ingin menjual rumah, yang dulu dibeli seharga 1.2 Milyar. Tapi tragis sekali, hanya ditawar 1.4 Milyar padahal sudah dicicil selama 7 tahun. Untung hanya 200 juta, padahal masih ada hutang 800 juta lebih. Sudah hopeless maka pada bulan Oktober 2021, saya serahkan kepada Tuhan, terserah Tuhan maunya apa? Semuanya baik milik pribadi mau pun perusahaan, saya serahkan kepada Tuhan.

Memang omset sudah mulai naik. Tetapi gak ada penampakan sesuatu yang luar biasa. Tetapi menariknya pada 15 Desember 2021, kami bisa menarik uang sebesar 820 juta lebih untuk melunasi hutang dan bahkan masih ada sisa uang 1 Milyar untuk renovasi.

Ini sesuatu yang menarik buat saya, ketika saya menyerahkan problem serta perusahaan kami kepada Tuhan maka perusahaan kami jadi berkelimpahan. Omset kami meningkat 3x lipat bukan dibandingkan omset th 2020 tetapi th 2019, sebelum pandemi.
Ini yang amazing banget… Ketika mengandalkan diri sendiri, sampai kapan pun rasanya tidak pernah berhasil. Tetapi ketika mengandalkan Tuhan, hal-hal yang diluar kemampuan kami secara natural, terjadi.” Demikianlah Coach Arif menutup kisahnya.

Kembali terbukti. “Dan kamu akan mengetahui kebenaran, kebenaran itulah yang akan memerdekakan kamu,” kata Tuhan.
Dan itulah yang terjadi.


Sebagai penutup, perpuluhan BUKAN magic. Tuhan ingin kita semua mempersembahkan dengan penuh sukacita dan rela hati.
Berapa pun yang kita tabur, pasti berbuah. Tuhan tidak pernah berhutang. Bahkan segelas air putih yang kita berikan karena Tuhan atau mengasihi sesama pun, Tuhan perhitungkan.

Bukan jumlah uangnya yang menjadi magicnya, tetapi MOTIVASI kita dalam memberikan sesuatu yang terlebih penting.

Mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, tidak hanya uang, apa saja, ketika tidak rela, terpaksa, Allah bilang itu sia-sia.
Gak ada hasilnya.

Seperti anak kita, beri sesuatu karena mengasihi mamanya… Rasanya apa saja yang saya punya, ingin saya berikan untuknya… Hati kita luluh…
Apalagi Tuhan… Betul ga?

Seluruh alam semesta milik Tuhan. Allah tidak butuh uang kita. Tetapi kalau kita tidak menabur benih, ya gak mungkinlah bisa panen. Itu prinsipnya.

Setiap berkat yang kita terima, ada yang berupa ‘roti’ untuk kita makan dan nikmati, tetapi ada juga yang berupa benih untuk ditabur, jadi berkat bagi orang lain.
Kita diberkati untuk menjadi berkat….

Konon perusahaan pasta gigi Colgate, sang pemilik mempersembahkan 90% keuntungannya dan dia hidup hanya dengan 10% keuntungan, dibalik…, itu pun masih sangat berkelimpahan.. Ini contoh yang dilakukan oleh orang yang sudah benar-benar mengalami serta membuktikan kesetiaan dan kebaikan Tuhan.

Siap mengasihi dan mentaati Tuhan? Yuk….

In nature we never see anything isolated, but everything in connection with something else which is before it, beside it, under it and over it. – Johann Wolfgang Von Goethe

Di alam semesta, kita tidak pernah melihat sesuatu yang terisolasi, sendirian, tetapi segala sesuatu berhubungan dengan sesuatu yang lain, yang ada di depannya, di sampingnya, di bawahnya dan di atasnya. -Johann Wolfgang Von Goethe

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Kesembuhan Anda.”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Kesembuhan Anda.”

Tuhan berbicara kepada saya tentang penyembuhan baru-baru ini dari perikop terkenal ini :
“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.”
Amsal 4:20?-?22 (TB).

Ini petunjuk paling sederhana namun paling mendalam yang diberikan untuk penyembuhan dalam Kitab Suci.
Banyak orang Kristen dengan tulus mencoba membaca Alkitab, mencari kesembuhan, namun tidak mendapatkan hasil.

Saya berpikir sendiri, banyak orang merasa mereka hidup “di dalam Firman” tetapi tidak memperoleh kesembuhan.
Saat itulah Tuhan berbicara dalam hati saya dan berkata bahwa banyak orang yang “di dalam Firman,” tetapi Firman tidak menemukan tempat “di dalam mereka.”

Saya langsung teringat perumpamaan Penabur dalam Matius 13:18-23.
Banyak orang menjadi “pendengar” Firman, tetapi hati orang itu yang menentukan hasilnya. Sebagian tidak mengerti, sebagian lagi tidak berakar (tidak memiliki komitmen sejati), bahkan merasa bimbang ketika situasi yang tidak menguntungkan terjadi, sementara yang lain lagi membiarkan kekhawatiran hidup mencekik Firman.
Bukannya mereka tidak “di dalam Firman.” Namun karena Firman tidak masuk ke dalam mereka.
Saya pernah bersalah dalam hal ini.

Kita mungkin membaca untuk belajar dan memahami, membuktikan kebenaran poin doktrin tertentu, atau mempersiapkan pembelajaran Alkitab, tetapi apakah kita benar-benar memberi perhatian, mencondongkan telinga rohani kita, dan membiarkan Firman ditempatkan di hati kita?
Saya memahami, ada perbedaan besar antara “mengetahui” apa yang Firman katakan secara mental dengan memiliki pewahyuan yang benar didalam hati saya.

Setelah membaca satu bab atau satu bagian Kitab Suci, apakah Anda langsung melupakannya saat Anda menjalani hari Anda? Ataukah sebuah ayat atau pewahyuan memberi energi kepada Anda, lalu Anda merenungkannya selama berjam-jam bahkan lebih lama lagi?
Apakah membaca bagi Anda merupakan kewajiban, ataukah memberi kehidupan?
Firman yang tersimpan di dalam hati kitalah yang membawa kehidupan dan kesehatan dari Tuhan.

Sifat alami Firman Tuhan itu membawa kehidupan dan menyehatkan.
“Disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka.”
Mazmur 107:20 (TB).
Sampai kita menghargai Firman, menempatkannya ke dalam hati serta pikiran kita, – selama itu belum tercapai -, kita membatasi kuasa penyembuhannya.

Mungkin saja kita berada “di dalam” Firman, tetapi apakah Firman itu benar-benar ada “di dalam” kita?

[Repost ; “Your Healing”. – Barry Bennett, Penerjemah Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 188 189 190 191 192 416