Articles

Hati Tetap Bersih, Mata Tetap Terbuka.”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Hati Tetap Bersih, Mata Tetap Terbuka.”

Semakin panjang perjalanan hidup, semakin saya menyadari bahwa kita tidak dapat memperlakukan semua orang dengan cara yang sama.

Ada orang yang tulus mengasihi kita.

Ada yang pernah berjasa besar.

Ada yang menyenangkan di depan, tetapi ternyata berbeda di belakang.

Ada yang pernah mengecewakan.

Bahkan ada orang yang sudah kita ampuni, tetapi rasanya tidak bijaksana jika kita kembali memberikan kepercayaan sebesar sebelumnya.

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai anak Tuhan?

Apakah walking in love berarti harus dekat dengan semua orang?

Apakah mengampuni berarti harus mempercayai kembali?

Apakah menjaga jarak berarti kita tidak mengasihi?

Saya belajar, jawabannya tidak sesederhana hitam dan putih.

Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi. Bahkan mengasihi musuh dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita.

Tetapi Yesus juga berkata,

“Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Wow!

Ternyata ketulusan harus berjalan bersama kecerdikan.

Hati yang baik tidak harus menjadi hati yang naif.

Alkitab juga mengatakan, sejauh hal itu bergantung kepada kita, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Artinya kita melakukan bagian kita. Menjaga hati. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Tidak memelihara dendam.

Tetapi perdamaian tidak selalu berarti kedekatan.

Ada orang yang layak kita kasihi dari dekat. Ada pula yang tetap kita kasihi, tetapi dengan batas yang sehat.

Ada empat prinsip yang saya pegang:

Kebaikan diingat dengan gratitude.
Kesalahan diampuni dengan grace.
Kebenaran dihadapi dengan courage.
Hubungan dijalani dengan wisdom.

Saya sangat percaya pentingnya mengingat kebaikan orang.

Memang Tuhan adalah sumber segala sesuatu yang baik dan manusia hanyalah alat-Nya. Tetapi bagi saya, mengatakan “semua karena Tuhan” tidak pernah menjadi alasan untuk melupakan tangan yang pernah Tuhan pakai menolong kita.

Kalau seseorang pernah hadir ketika kita membutuhkan, memberikan waktu, tenaga, kesempatan, nasihat atau pertolongan, ingatlah.

Jangan take it for granted.

Gratitude is character.

Tetapi hidup tidak hanya mempertemukan kita dengan orang baik.

Kadang kita terluka.

Kadang diperlakukan tidak adil.

Kadang kepercayaan disalahgunakan.

Di sinilah grace dibutuhkan.

Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa yang salah menjadi benar. Mengampuni berarti saya menolak membawa racun perbuatan orang lain ke dalam hati saya.

Saya melepaskan hak untuk membalas.

Tetapi setelah mengampuni, ada sesuatu yang tetap harus dilakukan: menghadapi kebenaran.

Jika ada persoalan, cari faktanya.

Kalau perlu dibicarakan, bicarakan.

Jangan bergosip kepada sepuluh orang tetapi tidak pernah berbicara kepada orang yang bersangkutan.

Kebenaran membutuhkan courage.

Namun keberanian pun harus ditemani wisdom.

Tidak semua orang perlu mengetahui seluruh cerita kehidupan kita. Tidak semua orang layak menerima tingkat kepercayaan yang sama.

Bahkan Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada semua orang karena Dia mengetahui hati manusia.

Jadi ada perbedaan antara forgiveness dan trust.

Pengampunan dapat diberikan sebagai keputusan hati. Kepercayaan dibangun melalui karakter yang terbukti.

Kalau seseorang berkali-kali menunjukkan bahwa ia tidak dapat dipercaya, mengampuninya tidak mengharuskan kita menyerahkan kunci rumah kepadanya lagi.

Ha… ha…

Itu bukan kasih. Itu kurang wisdom.

Saya semakin belajar bahwa kedewasaan rohani bukan diukur dari seberapa banyak orang yang menyukai kita atau seberapa pandai kita menghindari konflik.

Salah satu ukurannya justru terlihat ketika hati kita terganggu.

Berapa lama kita membiarkan gangguan itu menguasai hati sebelum kembali kepada kebenaran?

Kembali kepada Firman.

Kembali kepada kasih.

Kembali kepada damai.

Lalu dari tempat itulah kita mengambil keputusan.

Bukan dari luka.
Bukan dari kemarahan.
Bukan pula karena takut tidak disukai.

Kita dapat mengasihi tanpa menjadi naif.

Mengampuni tanpa kehilangan hikmat.

Menghargai orang yang berjasa tanpa mengkultuskannya.

Menghadapi kesalahan tanpa membenci pelakunya.

Dan menjaga jarak tanpa menyimpan dendam.

Hati tetap bersih, tetapi mata tetap terbuka.

Mungkin itulah salah satu bentuk kedewasaan yang sesungguhnya.

Bukan memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, tetapi belajar memperlakukan setiap orang dengan kasih, kebenaran, keberanian dan hikmat.

“When someone shows you who they are, believe them the first time.” – Maya Angelou.

“Ketika seseorang menunjukkan siapa dirinya, percayalah sejak pertama kali ia menunjukkannya.” – Maya Angelou.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Mengampuni tidak berarti melupakan pelajaran. Lepaskan lukanya, tetapi simpan hikmatnya.”

“Forgiveness doesn’t mean forgetting the lesson. Release the hurt, but keep the wisdom.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Ketika Merasa Tidak Berguna, Tuhan Justru Sedang Bekerja…
“Apakah Anda Di Dalam Terang?”
Kebaikan Tuhan Selama-lamanya…