Articles

Karakter Kita Terlihat Saat Tidak Ada yang Melihat…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Karakter Kita Terlihat Saat Tidak Ada yang Melihat…

David Gibbs Jr. adalah seorang pengacara Kristen, pengkhotbah, sekaligus pendiri Christian Law Association. Bertahun-tahun ia membela gereja, sekolah Kristen dan orang-orang percaya dalam berbagai persoalan hukum.

Ia terbiasa berdiri di mimbar, mengajar Firman dan berbicara kepada banyak orang.

Tetapi suatu hari, pelajaran terbesar justru datang bukan dari mimbar.

Melainkan dari sebuah motel.

Saat check-in, Gibbs mendapati tidak ada air mengalir di kamarnya.

Kesal, ia menelepon resepsionis.

Dan meledaklah kemarahannya.

Ia berbicara kasar kepada seorang wanita muda yang sedang bertugas. Mungkin bagi Gibbs saat itu, ia hanya sedang menyampaikan komplain yang memang beralasan.

Bukankah kita sering begitu?

“Memang salah mereka!”

“Saya kan bayar!”

“Pelayanannya memang buruk!”

Masalahnya mungkin benar.

Tetapi cara kita merespons masalah belum tentu benar.

Lalu wanita muda itu mengatakan sesuatu yang membuat Gibbs terdiam.

Ternyata ia mengenal Gibbs.

Ia pernah mendengarnya berkhotbah di sekolah Alkitab tempatnya belajar. Ia mengagumi pelayanannya. Bahkan setiap hari ia mendoakan Gibbs dan setiap bulan menyisihkan sedikit uangnya untuk mendukung pelayanan tersebut.

Lalu wanita itu menangis.

Ouch!

Bayangkan perasaan Gibbs.

Seseorang yang selama ini mendengarkan khotbahnya, mendoakannya, bahkan ikut menopang pelayanannya, sekarang melihat sisi dirinya yang sama sekali berbeda dari apa yang selama ini ia ajarkan.

Gibbs tersadar.

Ia turun menemui wanita itu, berlutut di hadapannya dan meminta maaf.

Saya belajar sesuatu dari kisah ini.

Karakter kita yang sesungguhnya sering kali bukan terlihat ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, tetapi ketika sesuatu mengganggu kenyamanan kita.

Mudah bersikap ramah ketika orang memperlakukan kita dengan baik.

Mudah berbicara tentang kasih ketika tidak ada yang menjengkelkan.

Mudah berkata harus sabar ketika bukan kita yang sedang menunggu.

Tetapi coba penerbangan dibatalkan.

Pesanan restoran salah.

Karyawan melakukan kesalahan.

Internet mati ketika sedang meeting penting.

Atau seseorang berbicara dengan nada yang tidak kita sukai.

Tiba-tiba keluarlah sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam hati.

Itulah sebabnya Firman mengajarkan agar kita cepat mendengar, lambat berbicara dan lambat marah. Sebab amarah manusia tidak menghasilkan kebenaran Tuhan.

Menariknya, masalah terbesar Gibbs hari itu sebenarnya bukan air yang tidak mengalir.

Masalah sesungguhnya adalah apa yang mengalir keluar dari dirinya ketika air tidak mengalir.

Mak jleb!

Kita sering berdoa agar Tuhan memakai hidup kita menjadi berkat.

Tetapi menjadi berkat bukan hanya soal berapa banyak orang yang mendengarkan kita berbicara.

Kehidupan kita sendiri sedang berbicara.

Cara kita memperlakukan waiter.

Cara berbicara kepada asisten rumah tangga.

Cara merespons customer service.

Cara memperlakukan bawahan yang melakukan kesalahan.

Cara berbicara kepada pasangan ketika sedang lelah.

Bahkan cara kita memperlakukan seseorang yang tidak mempunyai sesuatu yang kita butuhkan.

Semuanya sedang berbicara.

Dan sering kali kehidupan berbicara jauh lebih keras daripada perkataan.

Namun ada bagian lain dari kisah Gibbs yang juga saya sukai.

Ketika menyadari kesalahannya, ia tidak membela diri.

Tidak berkata, “Ya, tetapi memang airnya mati.”

Ia merendahkan dirinya dan meminta maaf.

Itu juga karakter.

Kedewasaan bukan berarti kita tidak pernah salah.

Kedewasaan adalah ketika salah, kita cukup rendah hati untuk mengakuinya, memperbaikinya, lalu belajar darinya.

Mungkin sebelum marah, ada baiknya kita belajar memberi diri sendiri sedikit jeda.

Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan keras.

Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan.

Dan tidak semua persoalan layak membuat kita kehilangan damai.

Sebab kita tidak pernah tahu siapa yang sedang memperhatikan kehidupan kita.

Pada akhirnya, karakter bukan siapa kita ketika berdiri di atas panggung. Karakter adalah siapa kita ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan.

Dan mungkin justru di sanalah pesan kehidupan kita yang sesungguhnya sedang disampaikan.

“Surely what a man does when he is taken off his guard is the best evidence for what sort of man he is.” – C.S. Lewis.

“Apa yang dilakukan seseorang ketika ia lengah merupakan bukti terbaik tentang seperti apa dirinya sebenarnya.” – C.S. Lewis.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Perkataan dapat menginspirasi orang, tetapi cara kita memperlakukan mereka menentukan apakah perkataan itu layak dipercaya.”

“Words may inspire people, but how we treat them determines whether those words are worth believing.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Love & Fogiveness
Toxic People – Dengan Kasih & Disiplin, Tetapkan Boundaries & Strategi!
“Dari Mana Asalnya Kehidupan?”