Articles

Jangan Terlalu Cepat Menganggapnya Personal…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Terlalu Cepat Menganggapnya Personal…

Pernahkah kita bertemu seseorang yang tiba-tiba berbicara kasar, meremehkan, atau memperlakukan kita dengan tidak menyenangkan?

Respons pertama kita biasanya langsung mencari kesalahan sendiri.

Saya salah apa?
Apakah perkataan saya menyinggung dia?
Mengapa dia memperlakukan saya seperti ini?

Lalu tanpa sadar, satu tindakan orang lain berhasil mengambil alih pikiran kita sepanjang hari.

Saya membaca sebuah pemikiran menarik dari Dr. Caroline Leaf: orang biasanya lebih mudah bersikap baik ketika keadaan di dalam dirinya juga baik. Sebaliknya, ketidakramahan seseorang sering kali lebih banyak menceritakan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya daripada siapa orang yang sedang dihadapinya.

Saya pikir ada wisdom yang bisa kita pelajari di sini.

Orang yang aman dengan dirinya sendiri tidak perlu merendahkan orang lain supaya merasa lebih tinggi.

Orang yang damai tidak perlu menciptakan drama untuk mendapatkan perhatian.

Orang yang mengenal nilainya tidak perlu menghancurkan nilai orang lain.

Sebab apa yang memenuhi hati seseorang, cepat atau lambat akan keluar melalui perkataan dan tindakannya.

Mungkin ada luka yang belum selesai. Mungkin ada insecurity. Mungkin ada kemarahan yang dipendam. Mungkin ada tekanan hidup yang tidak kita ketahui.

Dan kebetulan kita sedang berdiri di dekatnya ketika semuanya tumpah keluar.

Tetapi memahami alasan seseorang bersikap buruk bukan berarti membenarkan perilakunya.

Tuhan mengajarkan kita untuk mengampuni, mengasihi, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Tuhan juga mengajarkan hikmat.

Kasih tidak membuat kita kehilangan discernment.

Kita dapat memahami seseorang sedang terluka, tetapi tetap mengakui bahwa tindakannya salah.

Kita dapat mengampuni seseorang tanpa terus-menerus memberikan kesempatan kepadanya untuk memperlakukan kita dengan cara yang sama.

Kita dapat mendoakannya tanpa harus selalu berada dekat dengannya.

Understanding doesn’t require proximity.

Memahami tidak selalu berarti harus dekat.

Menurut saya, ini salah satu pelajaran penting dalam membangun hubungan yang sehat.

Kadang kita berpikir menjadi orang baik berarti harus selalu mengalah, selalu mengatakan ya, selalu tersedia, bahkan terus bertahan dalam hubungan yang tidak sehat supaya dianggap penuh kasih.

Tidak demikian.

Tuhan mengajarkan kasih, tetapi kasih tidak sama dengan kehilangan batas. Ada waktunya mendekat, ada waktunya mengambil jarak. Ada waktunya berbicara, ada waktunya diam. Ada orang yang dapat kita kasihi dari dekat, ada pula yang lebih bijaksana kita kasihi dari kejauhan.

Kasih dan hikmat harus berjalan bersama.

Hal lain yang perlu kita jaga adalah jangan terlalu cepat menjadikan perlakuan orang sebagai ukuran nilai diri kita.

Kalau seseorang meremehkan kita, itu tidak membuat kita menjadi kurang berharga.

Kalau seseorang tidak menyukai kita, itu tidak mengurangi nilai kita.

Kalau seseorang berbicara buruk tentang kita, perkataannya tidak mempunyai hak untuk mendefinisikan siapa kita.

Nilai kita tidak naik ketika dipuji dan tidak turun ketika diremehkan. Nilai kita berasal dari Tuhan.

Ketika hal ini semakin kuat di dalam hati, kita tidak perlu memenangkan setiap perdebatan.

Tidak perlu membuktikan diri kepada semua orang.

Tidak perlu membalas setiap komentar.

Bahkan tidak perlu membuat semua orang memahami posisi kita.

Kadang respons yang paling bijaksana adalah mengampuni, mendoakan, kemudian melanjutkan hidup dengan damai.

Wish them well, from a distance.

Bukan karena membenci.

Justru karena kita tidak membenci, kita tidak perlu terus bertengkar. Kita menyerahkan orang itu kepada Tuhan dan menjaga hati kita sendiri.

Dan setiap pengalaman, termasuk perjumpaan dengan orang yang sulit, bisa menjadi kesempatan untuk bertumbuh.

Belajar tidak mengambil semuanya secara personal.

Belajar mengenali boundaries.

Belajar membedakan kasih dengan people-pleasing.

Belajar mengampuni tanpa menjadi naif.

Belajar tetap lembut tanpa membiarkan diri terus-menerus terluka.

Pada akhirnya kita memang tidak bisa menentukan bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Tetapi kita bisa menentukan apa yang tetap tinggal di dalam hati kita setelah mereka pergi.

Jangan biarkan ketidakramahan seseorang mencuri damai kita.

Pahami bila perlu.

Ampuni.

Tetapkan batas dengan hikmat.

Lalu teruslah berjalan.

Sebab perilaku orang lain mungkin menunjukkan apa yang sedang terjadi di dalam diri mereka, tetapi respons kita menunjukkan apa yang sedang bertumbuh di dalam diri kita.

“No one can make you feel inferior without your consent.”
— Eleanor Roosevelt

“Tidak seorang pun dapat membuatmu merasa rendah tanpa persetujuanmu.” — Eleanor Roosevelt

YennyIndra
yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Perlakuan orang lain tidak menentukan nilaimu, tetapi responsmu menunjukkan kedewasaanmu.”

“How others treat you does not determine your worth, but how you respond reveals your maturity.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Belajar Dari Dr. Henry Cloud: Boundaries!
Nasib? NO!
“Jangan Menyerah!”