Category : Articles

Articles

“Paskah Yang Mengubah Relasi ….”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Paskah Yang Mengubah Relasi ….”

Dulu Wajib Jaga Jarak 1000 Yard, Sekarang: Datanglah Mendekat!
Apa maksudnya?

“Namun, antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta. Jangan mendekatinya, supaya kamu tahu jalan mana yang harus kamu tempuh, sebab kamu belum pernah melalui jalan itu sebelumnya.”
— Yosua 3:4 (TB)

Pernahkah kita merasa Tuhan itu jauh? Seolah-olah ada jarak lebar antara kita dan-Nya? Ternyata… memang dulu begitu!

Di jaman Perjanjian Lama, bangsa Israel harus menjaga jarak seribu yard (kira-kira 900 meter) dari Tabut Perjanjian — lambang kehadiran nyata Tuhan.

Tuhan itu kudus. Terang-Nya tak terjangkau.
Mereka tidak boleh sembarangan mendekat. Hanya para imam yang bisa mengangkat Tabut, itupun dengan aturan yang sangat ketat. Bahkan saat membongkar perkemahan, Tabut ditutupi dengan kain-kain khusus agar tidak ada mata biasa yang melihatnya (Bilangan 4:5-6). Semua ini menunjukkan: “Jaga jarak! Aku kudus, jangan sembarangan datang.”

Ketika tabut Allah hendak jatuh, Uza memegangnya.
Apa yang terjadi?
Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya l itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu. (2 Samuel 6:7)

Oh……

Itulah sebabnya, ada orang Israel yang seumur hidupnya tidak pernah benar-benar melihat Tabut itu. Kehadiran Tuhan terasa jauh dan tidak bisa diakses langsung. Itulah suasana Perjanjian Lama.

Namun… semuanya berubah saat Yesus datang!

Yesus datang membawa undangan baru:
“Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberimu kelegaan.” (Matius 11:28)
Bukan lagi “jaga jarak”, tetapi “datanglah mendekat”!

Mengapa bisa berubah total?

Karena darah Anak Domba telah tercurah.
Karena korban yang sempurna sudah diberikan.
Karena tabir pemisah sudah terbelah dari atas ke bawah saat Yesus mati di kayu salib (Matius 27:51).
Karena sekarang, kita semua punya akses langsung kepada Bapa — bukan karena kita kudus, tetapi karena Yesus yang kudus telah membuka jalan.

Penulis Ibrani menulis dengan penuh keyakinan:
“Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16)

Dulu, untuk tahu “jalan mana yang harus ditempuh”, mereka harus melihat Tabut dari jauh dan ikut di belakangnya. Tapi sekarang… Roh Kudus tinggal di dalam kita! Kita dipimpin langsung dari dalam, bukan dari jarak 1000 yard!

Bahkan Roh Allah dengan segala kekayaan dan kuasa-Nya, berdiam di dalam roh orang yang sudah lahir baru. (1 Kor 3:16)
Allah memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.
2 Korintus 1:22 (TB)

Wow! Betapa besar kasih karunia yang kita terima!

Sayangnya… banyak orang percaya masih hidup seolah-olah di bawah Perjanjian Lama.
Masih merasa Tuhan itu jauh. Masih takut datang karena merasa diri belum cukup suci, belum layak, belum doa puasa, belum baca Alkitab.

Padahal Yesus sudah berkata: “Datanglah!”
Bukan karena kita layak, tapi karena Dia yang melayakkan kita.

Jangan biarkan rasa bersalah atau kegagalan membuat kita menjauh dari Tuhan. Justru saat kita lemah, kita butuh datang. Saat kita kacau, kita butuh kasih karunia. Saat kita bimbang, kita butuh suara-Nya.

Dan pintu-Nya selalu terbuka.

Dulu: 1000 yard. Sekarang: pelukan kasih.
Dulu: jangan mendekat. Sekarang: datanglah dengan keberanian.
Dulu: hanya imam yang bisa. Sekarang: kita semua dipanggil menjadi imam bagi Tuhan.

Jangan hidup di bawah bayang-bayang hukum Taurat. Hidupilah undangan kasih dari Yesus.
Dia berkata: “Datanglah… jangan menjauh lagi.”

Dan ketika kita datang kepada-Nya, Dia membawa kita kepada tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madunya.
Di mana segala berkat rohani di surga dikaruniakan dan kita memanifestasikannya dengan iman.

Mau? Yuk….

“We must not content ourselves with Easter as a historical fact. Christ’s resurrection changes everything, especially how we approach God.” – John Stott

“Kita tidak boleh puas dengan
Paskah sebagai fakta sejarah. Kebangkitan Kristus mengubah segalanya, terutama cara kita mendekati Allah.” – John Stott

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Perkataan Kita Menentukan Arah Hidup, Sadarkah Kita?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Perkataan Kita Menentukan Arah Hidup, Sadarkah Kita?

Ada kekuatan dahsyat dalam ucapan kita. Seringkali kita lupa, hidup ini bergerak ke arah kata-kata yang kita ucapkan terus menerus. Apa yang kita katakan, terutama saat tekanan datang, menjadi cermin dari keyakinan terdalam kita.

Ketika seseorang berkata, “Saya tidak yakin bisa melalui ini,” ia sedang mengatur arah hidupnya menuju ketidakmampuan.
Sebaliknya, orang yang berkata, “Saya tidak mengerti bagaimana caranya, tapi saya percaya Tuhan pasti buka jalan” sedang membuka pintu bagi kemungkinan, pengharapan, dan bahkan mukjizat.

“Seperti apa yang kau katakan dihadapan-Ku, demikian akan Ku-lakukan kepadamu”, demikian janji-Nya.

Hidup tidak akan selalu sesuai rencana kita, tapi jika kita memilih berkata benar, jujur, dan penuh iman, maka kita sedang mempersiapkan jalan yang terang bagi hari esok.

Dalam hidup sehari-hari, kita sering bertemu orang-orang yang tampaknya tak bisa melewatkan satu cerita pun tanpa bumbu tambahan. Misalnya, kejadian kecil, seperti menolong orang tua menyeberang jalan, bisa berubah menjadi, “Saya satu-satunya yang berani melawan arus kendaraan, menyelamatkan beliau dari nyaris celaka!”
Padahal, sebenarnya cukup sederhana: ia membantu menyeberang di lampu merah yang sedang menyala. Tapi mengapa perlu dilebih-lebihkan?

Ada juga seseorang yang saya kenal, setiap kali ia menceritakan sesuatu, selalu ada tambahan-tambahan dramatis. Jika dia menghadiri seminar, ia akan bilang bahwa pembicara utama bahkan menyebut namanya karena pertanyaannya yang luar biasa. Jika ia berlibur, maka fotonya dipenuhi angle yang membuat seolah ia tokoh utama film Hollywood.
Sekilas lucu, tapi lama-lama menyedihkan, karena orang mulai tidak menganggap serius apa pun yang dia ucapkan. Ia menciptakan dunia palsu lewat kata-kata yang membungkus kekosongan harga dirinya.

Karena keinginan untuk terlihat hebat di mata orang lain begitu kuat, sampai mereka rela mengubah fakta, memperbesar prestasi, dan menambah cerita yang tak pernah terjadi.

Sayangnya, ini juga memperlihatkan sesuatu yang dalam—rasa kurang percaya diri, dan kebutuhan akan pengakuan yang tak pernah cukup dipenuhi.

Perkataan yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan lama-lama akan membuat orang lain ragu mempercayai kita. Bahkan saat kita mengatakan kebenaran pun, orang akan bertanya-tanya: “Benarkah kali ini?”

Kredibilitas yang rusak bukan karena dosa besar, tapi karena terlalu sering mengarang demi tampil memukau.

Prinsip kehidupan berkata
Hidup dan mati dikuasai oleh lidah. Siapa menggemakannya, akan memakan buahnya.

Apa yang kita katakan dapat membangun atau menghancurkan reputasi kita sendiri
Bukan hanya hidup orang lain yang bisa kita lukai lewat kata-kata, tetapi juga masa depan kita sendiri. Karena ucapan kita membentuk keyakinan, dan keyakinan membentuk tindakan, lalu tindakan membentuk takdir.

“Watch your thoughts, they become words;
watch your words, they become actions;
watch your actions, they become habits;
watch your habits, they become character;
watch your character, it becomes your destiny.”
– Lao Tzu

Jaga perkataanmu. Itu bukan sekadar suara, tapi blueprint -cetak biru hidupmu.

“Kata-kata adalah gambaran isi hati. Jika hati bersih, maka ucapan akan jujur dan membawa manfaat. Tetapi jika lidah digunakan untuk membungkus kebohongan demi pujian, maka ia perlahan menggerogoti wibawa dan harga diri sendiri. Karena kepercayaan tidak dibangun dari kepandaian bicara, tetapi dari kejujuran yang konsisten,” demikian nasihat Buya Hamka.

Nach mau sukses?
Dipercaya?
Jadi pemimpin besar yang dihormati?
Mulailah dengan menjaga perkataan kita!

Mau belajar sama-sama? Yuk……

What you say can become a self-fulfilling prophecy.” Denis Waitley.

Apa yang Anda katakan bisa menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya. – Denis Waitley

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tak Perlu Takut, Hidupmu Ada dalam Penjagaan-Nya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tak Perlu Takut, Hidupmu Ada dalam Penjagaan-Nya!

Tak ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya aman, sukses, dan hidup bahagia. Tapi tidak sedikit pula orang tua yang justru terjebak dalam ketakutan tersembunyi.
Seperti Ayub dalam kisah kuno, ia terus mempersembahkan korban karena takut anak-anaknya berbuat dosa. Bukan karena iman, tapi karena kekhawatiran. Ironisnya, yang ia takutkan justru terjadi!

Itulah pelajaran besar yang saya pelajari:
ketika kita hidup dipimpin oleh ketakutan, kita tidak sedang melindungi keluarga kita—kita justru membuka pintu bagi hal-hal buruk yang kita takutkan.

Dulu saya pikir, semakin saya khawatir, semakin saya mencintai mereka. Ternyata salah! Khawatir bukan bukti kasih. Kekhawatiran adalah perwujudan rasa tidak percaya. Tidak percaya bahwa Tuhan mampu menjaga orang-orang yang kita kasihi jauh lebih baik daripada kita sendiri.

Ketakutan dan iman itu seperti dua sisi mata uang. Keduanya bekerja lewat kata-kata.
Saat kita berkata, “Aduh, jangan-jangan anakku kenapa-kenapa di jalan,” kita sedang membuka jalan bagi pikiran negatif untuk bekerja.
Pikiran yang terus diulang, – entah benar atau salah -, akan kita percayai dan menjadi keyakinan. Dan keyakinan yang salah—yang lahir dari ketakutan—akan membawa kita kepada keputusan yang salah pula.

Tuhan mengingatkan,
“Berhati-hatilah dengan apa yang kamu dengar.
Ukuran pemikiran dan pembelajaran yang kamu berikan kepada kebenaran yang kamu dengar, akan menjadi ukuran kebajikan dan pengetahuan yang kembali kepadamu—
dan lebih dari itu, akan diberikan kepadamu yang mau mendengar.”

Prinsipnya, apa yang kita terima dari Firman Tuhan bergantung pada seberapa sungguh-sungguh kita memberi perhatian, merenungkan, dan memperdalamnya. Semakin besar perhatian dan penggalian kita terhadap kebenaran, semakin besar pula hasil yang kita tuai—bahkan ditambahkan lebih dari itu.

Tapi ketika kita belajar hidup dalam iman, kita berkata, “Anakku dilindungi tangan Tuhan. Ke mana pun ia pergi, ada malaikat yang menjagai dia. Tuhan sudah berjanji, Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku. Janji Tuhan Ya dan Amin.”

Kata-kata kita bukan hanya sekadar penghiburan, tapi pernyataan iman yang punya kuasa!

Kuncinya: Kenali sumber pikiranmu.

Pikiran dari Tuhan selalu datang dengan damai sejahtera. Seringkali muncul dari dalam, tenang tapi kuat. Tapi pikiran dari musuh datang tiba-tiba, menyerang seperti badai. Memaksa, membuat cemas, dan mendesak untuk segera diambil tindakan.

Pernah satu malam saya gelisah, memikirkan salah satu anak saya yang sedang bepergian. Pikiran saya dipenuhi kemungkinan terburuk. Saat itu saya belajar menundukkan pikiran saya dan bertanya: “Ini dari mana ya?”
Ternyata bukan dari Tuhan. Maka saya belajar menolak pikiran tersebut dan menggantinya dengan ucapan syukur serta janji-janji perlindungan Tuhan.

Kalau tidak, saya bisa saja langsung menelepon anak saya dengan nada khawatir dan tanpa sadar, justru menularkan ketakutan saya kepadanya.

Kita tidak bisa mencegah burung beterbangan di atas kepala, tapi kita bisa mencegahnya membuat sarang di kepala kita. Begitu pula pikiran. Jangan biarkan pikiran negatif tinggal dan berkembang. Segera tolak dan gantikan dengan yang benar.

Lalu, apa bedanya doa yang panik dan doa yang penuh iman?

Doa yang panik muncul dari kecemasan dan ketidakpercayaan. Kata-katanya dipenuhi kekhawatiran: “Tuhan, jangan sampai terjadi sesuatu ya… lindungi ya… jangan-jangan begini… jangan-jangan begitu…” Setelah berdoa pun hati tetap gelisah, pikiran masih berkecamuk, dan kita makin ingin mengontrol keadaan.

Sebaliknya, doa yang penuh iman lahir dari hati yang yakin akan kasih dan kuasa Tuhan. Kata-katanya penuh syukur: “Tuhan, terima kasih karena Engkau sudah menjaga anakku. Aku percaya Engkau bekerja dalam hidupnya. Aku tenang karena Engkau setia.” Setelah berdoa, hati terasa ringan dan damai. Kita bisa tersenyum, bahkan tidur nyenyak karena tahu segala sesuatu dalam tangan-Nya.

Hari ini, mari kita koreksi cara kita berdoa.
Apakah motivasi kita berdasarkan iman atau ketakutan?
Apakah kita sedang percaya pada kebaikan Tuhan, atau sedang mencoba “mengendalikan” keadaan lewat doa karena kita panik?

Ketika doa kita lahir dari hati yang percaya, damai sejahtera akan mengikuti. Tapi kalau kita makin panik setelah berdoa, mungkin itu bukan doa… mungkin itu hanya pelampiasan rasa takut.

Yuk, mulai hari ini kita memilih hidup dari tempat percaya, bukan cemas. Menyerahkan orang-orang yang kita kasihi ke tangan Tuhan, yang jauh lebih sanggup menjagai mereka daripada kita.

Kita lakukan bagian kita: membimbing, mengingatkan, mencintai, dan… percaya. Selebihnya, Tuhan yang melakukan bagian-Nya.

Karena ternyata, yang benar-benar menjaga dan memelihara hidup mereka bukan kita. Tapi Tuhan yang maha kasih dan setia.

“Worry does not empty tomorrow of its sorrow. It empties today of its strength.”
— Corrie ten Boom

“Kekhawatiran tidak mengurangi kesusahan hari esok. Tapi ia mencuri kekuatan kita hari ini.”— Corrie ten Boom

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Mau Sukses? Sediakan Kantong Anggur yang Baru!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mau Sukses? Sediakan Kantong Anggur yang Baru!

Kalau mau hidup kita berubah, langkah pertama yang harus diambil bukanlah mengubah situasi luar, tetapi memperbaharui pikiran kita. Pikiran lama ibarat kantong anggur tua—tidak sanggup menampung anggur yang baru. Mau diberkati, tapi cara pikirnya masih penuh curiga. Mau hubungan yang harmonis, tapi pikirannya penuh luka lama dan prasangka. Mana bisa?

Ada satu rahasia kehidupan yang sering dilupakan: Perubahan sejati dimulai dari dalam. Dari pola pikir.
Dari keputusan untuk menyingkirkan “sampah-sampah batin” yang selama ini kita pelihara—rasa marah, kecewa, trauma masa lalu, bahkan ego dan pembenaran diri. Itu semua seperti baju kotor yang harus dilepas sebelum kita bisa mengenakan pakaian baru.

Dan saat baju kotor itu sudah dilepas, saat hati mulai terbuka dan lembut, di situlah kita bisa mulai menerima ‘kebenaran hidup’ yang memerdekakan. Tapi hanya menerima tidak cukup. Yang membuat perubahan nyata bukan pengetahuan, tapi tindakan.

Berapa banyak orang tahu bahwa mengampuni itu penting, tapi tetap menyimpan dendam?
Berapa banyak tahu bahwa berpikir positif itu sehat, tapi tetap berkutat dengan pikiran negatif setiap hari?

Pengetahuan tanpa tindakan hanya akan menipu diri sendiri. Kita merasa sudah berubah karena tahu banyak, padahal belum ada yang berubah. Seperti orang yang rajin baca buku kesehatan tapi tetap makan sembarangan. Tidak ada hasil yang bisa dituai karena pengetahuan itu tidak pernah menjadi bagian dari gaya hidup.

Dan lucunya, seringkali kita membela pola pikir lama dengan berbagai alasan logis. “Tapi aku memang disakiti… Tapi kenyataannya susah…
Tapi aku nggak bisa begitu…”

Semua itu kedengarannya masuk akal, tapi diam-diam jadi benteng yang membatasi kehidupan kita.
Pola pikir lama seperti itu adalah benteng batin yang harus diruntuhkan. Karena selama kita percaya bahwa perubahan itu mustahil, maka memang akan mustahil terjadi.

Saya teringat kisah seorang ibu muda, sebut saja Bu Rina.
Suaminya mengalami kecelakaan berat dan harus dirawat berbulan-bulan. Secara manusia, keadaan mereka nyaris putus asa. Tapi dalam kondisi itulah Bu Rina memutuskan untuk mengubah pola pikirnya.

Ia berkata, “Kalau saya terus memikirkan apa yang salah, saya tidak akan kuat. Saya pilih percaya, dan mulai mengucap syukur untuk hal-hal kecil.”

Setiap pagi, ia menuliskan tiga hal yang ia syukuri. Ia berkata positif kepada suaminya, walau kondisinya belum membaik.
Apa yang terjadi?
Suaminya mulai menunjukkan kemajuan. Emosinya stabil, dan pemulihannya lebih cepat dari prediksi dokter.

“Ternyata waktu saya mengubah cara berpikir dan mulai praktek ucapan syukur, semuanya ikut berubah,” ujarnya.
Kuncinya bukan pada situasi luar—tapi pada cara pikir yang diperbaharui.

Lalu, apa langkah praktisnya?

– Miliki hati yang rendah dan terbuka. Berani akui bahwa pikiran kita butuh diperbaharui. Lepaskan ego, dan izinkan kebenaran masuk.

– Terima dan renungkan prinsip hidup yang sehat, positif, membangun. Ulangi dalam pikiran sampai menjadi bagian dari diri kita.

– Praktekkan. Sekecil apapun langkahnya, lakukan. Ketika kita melakukan bagian kita, maka Tuhan akan melakukan bagian-Nya.

– Campurkan semuanya dengan iman.
Saya baru sadar, terkadang kita melakukannya, tetapi tanpa iman. Tanpa harapan.

Percaya bahwa hidup bisa berubah, bahwa diri kita bisa dipulihkan, bahwa masa depan bisa lebih baik dari masa lalu.

Tuhan yang akan mengerjakannya di dalam kita, asalkan ada iman, sehingga Tuhan bisa masuk ke dalam situasi kita dan membawa kita menuju sisi kemenangan.

Setiap orang punya kesempatan kedua. Tapi tidak semua orang mau mengubah kantong anggurnya. Banyak yang ingin isi baru, tapi tetap ngotot pakai pikiran lama. Padahal, perubahan tidak datang begitu saja. Perubahan harus diciptakan—dan itu dimulai dari memperbaharui pikiran.

Mau anggur baru?
Siapkan kantong yang baru.
Dan lihatlah, hidup yang baru pun akan mengikuti.

Saya pun belajar…..
Yuk praktek….
Hidup hanya sekali dan tidak bisa diulang, klo tidak mencoba sekarang, kapan lagi?

Change your thoughts and you change your world.” – Norman Vincent Peale

Ubah pikiran Anda dan Anda mengubah dunia Anda. – Norman Vincent Peale.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Abang-abange Lambe dan Cerita di Balik Sosok Hebat di Sosmed.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Abang-abange Lambe dan Cerita di Balik Sosok Hebat di Sosmed.

“Ci Yenny kenal Eva?”
“Eva siapa ya?”
“Katanya teman ci Yenny, yang bla… bla…bla….”
“Ooo kenal di sosmed tapi saya belum pernah bertemu…”
“Sekarang saya tahu, klo bilang teman ci Yenny, belum tentu ci Yenny kenal pribadi,” komentar Bu Nini.

Demikian juga kadang staf marketing tanya hal serupa,
“Bu Yenny, ini P. Badu minta tempo… katanya teman ibu?”
Kadang betul-betul teman baik, tetapi ada pula yang sekedar tahu di sosmed, bersua pun belum.

Nach … kadang karena dekat dengan seseorang yang kita hormati, kerap kita menganggap orang itu sama dengan orang yang kita hormati. Ini pengalaman saya…

Awal masuk Jakarta, saya diundang teman dari Surabaya yang jadi pembicara di grup pengusaha di Jakarta.
Wow… menarik.
Setiap minggu ada acara pertemuan rutin, di mana peserta bisa belajar dari para pengusaha sukses dari berbagai bidang.
Saya pun rutin hadir. Teorinya, jika ingin sukses, bergaullah dengan orang sukses.

Sang ketua, terkenal berintegritas dan bisnisnya di mana-mana.
Sebagai orang baru, saya memperhatikan siapa yang dekat dengan sang ketua, tentunya orang itu oke juga…
Tetapi gak berani mendekati atau bertanya pada sang ketua.
Kan saya orang baru dan hanya peserta biasa saja. Yang dekat dengan P. Ketua semua orang hebat. Banyak yang ketua di berbagai organisasi lainnya. Punya massa yang besar.

Suatu ketika P. Ketua memperkenalkan pembicara yang keren, P. Bambang. Prestasinya luar biasa, jagoan mengatur sistim program komputer perusahaan bahkan bisa bikinin apps semacam tokped.
Sekian tahun lalu masih langka.

P. Bambang menunjukkan saat dia diwawancarai di majalah nasional karena prestasi bisnisnya. Di sosmed, banyak foto beliau dengan para pejabat dan konglomerat Indonesia.
Beberapa waktu kemudian beliau bersaksi, karena fotonya dengan tokoh-tokoh penting, tarif saat beliau berbicara jadi naik.

Oneday, P. Bambang mengadakan tur disertai seminar yang mengupas apa yang diajarkan oleh Anthony Robbins, Robert Kiyosaki dan beberapa tokoh terkenal dunia lainnya.
Wow…. bukan liburan biasa ini.

Lalu di grup WA, tertulis list pesertanya. P. Ketua dan tokoh-tokoh penting di grup pengusaha itu, namanya tercantum di deretan paling atas.

Saya pun bersemangat ikut dan bilang ke P. Indra, “Kapan lagi bisa liburan sambil belajar hal-hal hebat, bersama pengusaha-pengusaha sukses pula. Kita tidak hanya belajar ilmunya, tetapi bisa belajar pula dari sharing para pengusaha sukses yang liburan bersama. Membangun networking, yang mendukung kemajuan bisnis kita…”

Mendekati hari H, ternyata list peserta berubah. Nama P. Ketua dan pengusaha-pengusaha sukses itu hilang. Tapi sudah terlanjur bayar, apa boleh buat….

Pada hari yang ditentukan, kami berangkat tetapi yang membawa tur asistennya, gadis muda asisten P. Bambang yang berusia sekitar 30 tahunan. Konon P. Bambang akan menyusul besok, karena jadwal beliau padat sekali. Maklum orang penting.
Ternyata sampai tur hari terakhir, P. Bambang gak kelihatan batang hidungnya, bahkan si asisten kebingungan, saat makan siang sebelum ke airport, uang sakunya tidak cukup untuk bayar. Gak tega, gadis ini seusia putri saya, akhirnya saya tutup kekurangannya.

Pengalaman ini mengajarkan saya, mesti check dan recheck. Sayang di bawah, termasuk staf saya, karena mereka melihat oooo itu teman dekat pemilik jadi kerap keputusan dan privilege diberikan karena pertimbangan itu.

Penting ya…kadang tidak terpikir, dengan siapa kita dekat, siapa yang kita promosikan, padahal komentar itu dimaksud sekedar pemanis mulut saja….. “Abang-abange lambe”, istilah Orang Jawa.
Ternyata membuat salah keputusan di level bawah.
Mana berani mereka menolak permintaannya, kan sohib bos?
Demikian mereka berpikir…

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga…
Ketahuanlah belang P. Bambang. Ternyata banyak perusaha yang tertipu duit besar karena iming-iming P. Bambang bikin semacam mall di sosmed, yang tidak pernah terealisasi.
Pintarnya P. Bambang, dia menjual nama P. Ketua dan pengusaha-pengusaha sukses yang memang punya nama baik, sebagai rekan kerja, teman dekat dsb.
Masih untung….- Orang Jawa selalu untung, 🙂 – saya cuma tertipu liburan yang gak seberapa….

Jakarta … oh Jakarta… yang terkenal lebih kejam dari ibu tiri,
memang ‘terbukti’ …

Beware of false knowledge; it is more dangerous than ignorance.” – George Bernard Shaw

Waspadalah terhadap pengetahuan palsu; itu lebih berbahaya daripada ketidaktahuan. – George Bernard Shaw

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan
#MotivasiKebaikan

Read More
1 45 46 47 48 49 319