Category : Articles

Articles

“HEALING WORSHIP TOUR”* * – Bagaimana Cara Mendengarkan Suara Tuhan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“HEALING WORSHIP TOUR”*
* – Bagaimana Cara Mendengarkan Suara Tuhan?

Kita semua rindu mendengar suara Tuhan. Tapi sering kali kita berkata, “Aku tidak mendengar suara Tuhan… tidak ada mimpi, tidak ada penglihatan… tidak ada firman yang ‘melompat keluar’ saat saya membacanya .”

Padahal, Tuhan selalu berbicara. Tapi… apakah kita sedang mendengarkan?

Andrew Wommack, founder Sekolah Charis, pernah bersaksi tentang bagaimana ia memulai program televisinya—bukan karena suara dari langit atau penglihatan spektakuler—tetapi karena dorongan lembut di hatinya.

Ia berkata, “Tuhan berbicara melalui impresi, pikiran, dan dorongan dalam roh kita. Seperti suara yang lembut dan tenang. Masalahnya bukan pada Tuhan yang tidak berbicara, tetapi kita yang belum belajar membedakan suara-Nya.”

Wow… mengena banget, ya?

Andrew Wommack menekankan bahwa mendengar suara Tuhan membutuhkan dua hal: keyakinan bahwa Tuhan memang berbicara, dan kemauan untuk melatih pendengaran rohani kita.

Tuhan berkata, “Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku.” Itu artinya, mendengar suara Tuhan adalah hak kita sebagai anak-anak-Nya. Tapi seperti mendengar siaran radio, kita harus menyesuaikan frekuensinya. Kalau tidak? Ya kita bisa keliru, atau tidak mendengar apa-apa.

Kita mungkin rajin berdoa, membaca firman… tetapi sesudah itu, menghabiskan waktu duduk bersama orang-orang yang bicara negatif. Menceritakan pengalaman buruk, penyakit, atau kegagalan. Lama-lama, kita dikelilingi atmosfer ketidakpercayaan.

Inilah yang harus kita hindari. Kalau kita ingin mendengar suara Tuhan, kita perlu memosisikan diri dalam atmosfer iman—bukan ketakutan.

Kita bangun atmosfer iman dengan mendengar Firman, menyembah Tuhan, dan mengisi hati kita dengan kesaksian-kesaksian yang membangkitkan harapan. Itulah sebabnya mengapa setiap kali kita berkumpul, kita saling membagikan kesaksian.

Saat seseorang bersaksi, jangan hanya berkata, “Bagus.” Tapi katakan, “Tuhan, kalau Engkau bisa lakukan itu untuk dia, Engkau bisa lakukan itu untukku juga.”

Kesaksian itu nubuatan bahwa Tuhan mau melakukannya lagi untuk kita.

Iman datang dari mendengar, dan mendengar Firman Tuhan.

Seorang pemuda lumpuh sejak lahir di Listra duduk mendengarkan Paulus sedang mengajarkan Firman, dan pemuda itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman untuk disembuhkan.

Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.

Tidak ada yang menumpangkan tangan. Tidak ada yang berdoa panjang. Tapi saat iman timbul karena mendengar Firman, mujizat langsung terjadi. Ia melompat dan berjalan!

Bayangkan, hanya dengan mendengar Firman dan dia dikelilingi suasana penuh iman, pemuda itu bisa sampai pada titik siap menerima kesembuhan yang mengubah hidupnya selamanya.

Itulah iman. Itulah ‘suara Tuhan’ yang disampaikan melalui Paulus.

Saat kita membaca buku yang ditulis oleh seseorang yang sudah mengalami Tuhan, maka yang ditulisnya adalah Firman dan kehendak Tuhan.
Ketika membacanya, bisa jadi kita mendapatkan pewahyuan saat membacanya.
Itulah ‘Suara Tuhan’ bagi kita.

Senantiasa ada orang-orang yang mengenal Tuhan lebih baik daripada kita. Belajar dari mereka, menghemat waktu dan membawa percepatan pengenalan kita akan Tuhan.

Tidak selalu juga harus persis dengan firman yang tertulis.
Kadang ada orang yang menyampaikan hikmat atau nasehat yang selaras dengan firman Tuhan, itu pun bisa merupakan ‘Suara Tuhan’, yang menjadi jawaban doa kita.

Nah … cara yang paling simple dan efektif, dengan sekolah. Contohnya, Sekolah Charis
Why?
Melalui sekolah, topik pelajarannya sudah tersusun rapi, mudah dimengerti.

Ketika saya bersekolah, mengalami percepatan yang melampaui apa yang bisa saya pikirkan.

Selain belajar topik pelajaran yang diajarkan, saya pun belajar dari pengalaman pribadi para guru. Pergumulan, kesalahan, kegagalan mau pun kesuksesan mereka. Semua itu menjadi ‘Peta Jalan’ bagi saya dalam menapaki masa depan.

Dan tidak hanya itu, teman-teman yang memilih sekolah, mereka pembelajar.
Kesaksian demi kesaksian dari pengalaman teman-teman yang menghidupi firman Tuhan juga sangat luar biasa.

Yang tanpa disadari, saya dikelilingi oleh teman-teman yang mengejar Tuhan dan firman-Nya. Suasana iman senantiasa mengelilingi, memudahkan saya mendapatkan berbagai jawaban doa serta hidup dalam berkat.

Apa yang terjadi?
Perubahan karakter dan kualitas hidup tercipta. Prioritas menjadi jelas. Nilai-nilai kebenaran terbentuk menjadi panduan kehidupan. Damai sejahtera yang melampaui segala akal menyelimuti hati.
Bebas stress, bebas ketakutan, tidak lagi responsif. Hidup jadi jauuuh lebih menyenangkan…

Saya merasa begitu diperlengkapi secara menyeluruh untuk menjalani kehidupan di masa depan.

Ada kabar menarik nich!
Salah seorang guru Charis, Daniel Amstutz, akan berkunjung ke Indonesia
Beliau akan berkunjung ke 4 kota sekaligus.

Spesialisasi pelayanan Daniel Amstutz adalah Pujian Penyembahan & Kesembuhan Ilahi.

“HEALING WORSHIP TOUR”
– “TUR IBADAH PENYEMBUHAN”

Yang akan diselenggarakan di:
? Jakarta 12 Juli 2025
? Semarang 14 Juli 2025
? Surabaya 16 Juli 2025
? Bali 18 Juli 2025.

Save The Dates!
Jangan lupa, catat tanggalnya teman-teman dan bersiaplah untuk hadir. Bawa teman dan saudara yang sakit.
Acara ini FREE….lho!

Hadir sama-sama yuk…..

“The first and most basic thing we can and must do is to keep God before our minds.” – Dallas Willard

“Hal pertama dan paling mendasar yang bisa dan harus kita lakukan adalah menjaga Tuhan tetap ada di dalam pikiran kita.” – Dallas Willard.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT*
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kuncinya, Menempatkan Diri Agar Bisa Mendengar Tuhan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kuncinya, Menempatkan Diri Agar Bisa Mendengar Tuhan…

Dalam hidup ini, setiap kita pasti percaya pada sesuatu. Bisa Firman Tuhan, bisa pendapat dokter, pengalaman pribadi, atau berita yang kita dengar. Tapi jika yang kita percayai bertentangan dengan Firman Tuhan… itulah yang disebut ketidakpercayaan.

Di tengah pergumulan, saat fakta-fakta seolah berteriak—rasa sakit, kekurangan, tekanan, atau situasi yang tampak mustahil—apa yang seharusnya kita lakukan?

Duduk. Diam. Dan mendengar.

Sederhana, tapi bukan perkara mudah. Namun, di situlah kuncinya. Kita perlu mendisiplinkan diri untuk duduk dan menempatkan diri di bawah atmosfer iman—di mana kita bisa terus mendengar dan mendengar Firman Tuhan.

Bukan mendengar keluhan orang, bukan cerita sedih, apalagi berita-berita yang menyulut ketakutan. Tapi mendengar Firman yang hidup. Firman yang penuh kuasa, yang mampu membangkitkan iman dan mengubah keadaan apa pun!

“Iman datang dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Tuhan.” Maka ketika iman kita lemah, solusinya bukan sibuk cari pertolongan ke sana kemari, tapi justru kita perlu mendengar. Bukan satu kali, tapi terus-menerus. Sampai Firman itu mengakar dan menghasilkan keyakinan yang tak tergoyahkan di dalam hati kita.

Rahab si pelacur bisa percaya dan bertindak karena dia mendengar. Dia mendengar bagaimana Tuhan membelah Laut Merah, menaklukkan dua raja besar, dan menyertai bangsa Israel. Semua orang di kota Yerikho mendengar hal yang sama, tapi hanya Rahab yang merespon dengan iman.

Dia berkata, “Aku tahu!”
Bukan karena dia melihat…
Bukan karena kejadiannya sudah terjadi…
Tapi karena dia percaya Firman itu pasti digenapi.

Sungguh luar biasa!
Kalau Rahab bisa… kita pun bisa!

Tantangan zaman ini: kita hidup dalam dunia yang dipenuhi ‘laporan jahat’. Berita-berita yang secara fakta memang benar—penyakit, bencana, krisis ekonomi—namun sering kali justru membunuh iman. Maka, kalau kita lebih percaya pada fakta daripada Kebenaran Firman Tuhan, kita sedang membiarkan ketidakpercayaan bertumbuh diam-diam.

Pengalaman tidak bisa dijadikan standar kebenaran. Firmanlah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu.

Karena itu, mari kita periksa: Apa yang sedang kita dengar setiap hari? Apakah yang kita dengar sedang membangun iman… atau malah menumbuhkan ketakutan?

Salah satu rahasia orang-orang yang hidup dalam dimensi mujizat: Mereka menjaga pintu hati mereka.

Apa yang masuk lewat telinga dan mata akan menentukan arah hidup kita. Jangan remehkan obrolan, tontonan, atau bacaan—semuanya punya kuasa membentuk pola pikir dan akhirnya… menentukan hasil hidup.

Sebaliknya, ketika kita menempatkan diri dalam lingkungan yang dipenuhi Firman, kesaksian, dan orang-orang yang percaya… atmosfer iman tercipta. Dan saat itulah, mujizat menjadi nyata.

Tuhan pernah menegur dengan lembut dalam hati,
“Kamu tak perlu tahu bagaimana caranya. Cukup tahu bahwa Aku sanggup.”

Dan benar. Saat kita duduk, diam, dan terus mendengar—iman itu tumbuh. Bukan karena kita memaksakan percaya, tapi karena benih Firman menyatu dengan roh kita… dan buahnya pun muncul dengan sendirinya.

Mungkin hari ini belum terasa perubahan. Tapi jangan berhenti mendengar. Teruskan. Karena Firman itu hidup dan aktif. Pada suatu ketika, pada titik tertentu …….. Ia akan menjadi rhema—pewahyuan pribadi dari Tuhan—yang menggerakkan tangan-Nya bekerja dalam hidup kita.

Jangan menunggu semuanya terlihat baik baru percaya. Tapi mari katakan bersama:
“Aku tahu, tahu dan tahu… Tuhanku sanggup dan setia menolongku!”

Seperti Rahab,kita pun akan melihat tangan Tuhan bekerja—melampaui nalar, melampaui harapan.

“Faith sees the invisible, believes the unbelievable, and receives the impossible.” – Corrie ten Boom.

“Iman melihat yang tak kelihatan, percaya pada yang tak masuk akal, dan menerima yang mustahil – Corrie ten Boom.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Roh Kudus, Sahabat Terdekatku—Lebih dari Sekadar Pengalaman ….

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Roh Kudus, Sahabat Terdekatku—Lebih dari Sekadar Pengalaman ….

Saya masih ingat betul saat pertama kali saya berbahasa roh. Rasanya… luar biasa! Saya menitikkan air mata terharu, tersungkur, dan hati saya meluap penuh sukacita. Seolah langit terbuka dan saya disentuh langsung oleh hadirat Tuhan.

Tapi lama-lama, sadar… itu baru permulaan. Saya hanya mencicipi awalnya saja, belum benar-benar mengenal Pribadi agung di balik pengalaman itu—Roh Kudus.

Terlalu sering kita menjadikan Roh Kudus seperti alat. Kalau sudah bisa berbahasa roh, kita merasa “sudah sampai.”
Tujuan Sudah Tercapai. No!!!

Itu baru pintu masuk ke dunia rohani. Seperti bayi yang baru lahir, kita perlu bertumbuh, belajar mendengar suara-Nya, dan melibatkan Dia dalam setiap aspek kehidupan kita.

“As a man thinks in his heart, so is he. – Seperti seseorang berpikir dalam hatinya, demikianlah dia”

Cara kita memandang Roh Kudus sangat menentukan cara kita berelasi dengan-Nya. Jika kita hanya mengejar kuasa-Nya, mengharapkan mujizatnya semata maka kita akan kecewa….itu sekedar puncak gunung es yang terlihat di permukaan.

Di bawah laut masih tersimpan gunung besar yang menyimpan berbagai kelimpahan, kuasa dan hal-hal dahsyat yang semestinya bisa kita nikmati. Syaratnya?
Bangun hubungan pribadi yang intim dengan-Nya.
Dialah Roh Penolong yang dikirim Bapa untuk menuntun, membimbing serta mengarahkan kita. Dia tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kita.
Namun Dia juga pribadi yang sopan dan lembut. Dia tidak petnah memaksakan kehendak-Nya.
Tergantung apakah kita mengundang-Nya untuk bejerjasama serta mengijinkan-Nya untuk berkarya dalam kehidupan kita.

Jika kita menyadari, Dia adalah Sahabat sejati yang tinggal di dalam kita, hidup kita pun akan diubahkan dari dalam.
Roh Kuduslah satu-satunya Sahabat Sejati yang terus akan menemani kita, hingga kita kembali ke rumah Bapa..

Siapa orang terdekat kita?
Suami? Anak? Orangtua? Sohib?
Percayalah…. saat kita meninggal, kita akan berangkat sendirian. Suami, anak, orangtua apalagi sahabat hanya mengantar hingga ke persemayaman yang terakhir.
Siapa yang tetap menemani kita?
Roh Kudus!
Karena siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. 1 Korintus 6:17 (TB)

Bulan 30 Desember 2009, kami sekeluarga terjebak di padang belantara Western Australia saat hendak menuju Pinnacles. Cuti libur di Aussie sejak 29 Desember hingga Senin 3 Januari 2010.
Mobil Camry sewaan kami selip.
Tidak ada signal HP, saat itu masih menggunakan GPS Garmin. Kami tersesat di hamparan tabah kosong yang belum digarap. Tidak ada bangunan, tidak ada manusia dan tidak ada mobil lewat karena kami cukup jauh dari jalan raya. Yang ada hanya kangguru yang berkali-kali lewat.

Secara nalar logika, semua jalan buntu. Di luar kota besar Australia, jalanan sangat sepi. Lebih banyak domba daripada manusianya.
Kami hanya bisa berdoa minta mujizat pertolongan Tuhan.
Apa yang terjadi?
Keesokan paginya ada mobil Jeep besar datang, melewati tempat kami terdampar. Pabrik nereka berlawanan arah tetapi Roh Kudus menuntun mereka agar berputar agar bertemu dengan kami.
Bukankah sungguh luar biasa? Roh Kudus tidak pernah terlambat atau gagal. Tepat ketika kami sudah bersiap-siap menyiapkan koper cabin untuk meninggalkan mobil kami untuk mencari pertolongan dan menyelamatkan diri!

Zakharia 4:6-7 mengajarkan:
“Bukan dengan kekuatan, bukan dengan kuasa, tetapi dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam… Gunung besar akan menjadi dataran!”

Masalah besar sekalipun akan tunduk saat kita berjalan bersama Roh Kudus. Tapi sayangnya, banyak orang percaya tidak mengenal Pribadi ini. Kita sibuk mengejar mujizat, tanpa membangun hubungan dengan Sang Pembuat mujizat.

Yesus sendiri tidak memulai pelayanan-Nya tanpa Roh Kudus. Ia dibaptis, Roh turun ke atas-Nya. Ia dipimpin Roh ke padang gurun, dan kembali dalam kuasa Roh. Sebelum naik ke sorga, Ia berkata:
“Tinggallah di Yerusalem sampai kamu diperlengkapi dengan kuasa dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49)

Kuasa itu bukan sekadar kemampuan supranatural—itu Pribadi Allah sendiri yang tinggal di dalam kita!

Pernahkah kita menyapa-Nya pagi hari?
“Selamat pagi, Roh Kudus. Terima kasih Engkau menyertai saya saat tidur dan memberkatinya. Apa yang Engkau ingin sampaikan hari ini? Saya mau menyelaraskan hidupku dengan rancanganMu.”

Ketika saya mulai berbicara kepada-Nya seperti seorang Sahabat, hidup saya berubah. Saya mendapatkan arahan dalam keputusan penting, kekuatan saat lemah, dan tuntunan dalam pelayanan.

Dia Allah. Dia Pribadi. Dia Sahabat. Dan saat kita menyambut Dia sebagai Sahabat sejati, bahkan gunung terbesar pun akan menjadi dataran.

“The reason the world is not seeing Jesus is that Christian people are not filled with Jesus. They are satisfied with attending meetings weekly, reading the Bible occasionally and praying sometimes. It is an awful thing to see people who profess to be Christians live lifeless, powerless, and Christless lives.” —Smith Wigglesworth.

“Alasan dunia tidak melihat Yesus adalah karena orang Kristen tidak dipenuhi oleh Yesus. Mereka puas hanya menghadiri pertemuan mingguan, membaca Alkitab sesekali, dan berdoa kadang-kadang. Sungguh tragis melihat orang yang mengaku Kristen hidup tanpa kehidupan, tanpa kuasa, dan tanpa Kristus.” —Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Mengapa Harus Berputar-putar di Padang Gurun 40 Tahun?

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Mengapa Harus Berputar-putar di Padang Gurun 40 Tahun?

Satu kali saya membaca ulang kisah bangsa Israel di padang gurun dan bertanya-tanya… Kenapa sih harus sampai 40 tahun? Bukankah Tuhan mahakuasa? Bukankah Tanah Perjanjian itu cuma butuh beberapa minggu perjalanan dari Mesir?

Tapi Tuhan ternyata bukan cuma tertarik membawa mereka ke tempat yang benar—Dia ingin membentuk mereka jadi orang yang benar.

Alkitab mencatat, mereka sudah dua tahun menerima hukum Taurat di Gunung Sinai, dan setelah itu Tuhan menyuruh mereka berputar-putar selama 38 tahun lagi. Kenapa?

Karena mereka bersungut-sungut, mengeluh, dan tidak percaya.

Salah satu keluhan mereka bahkan cukup menyakitkan di telinga Tuhan:
“Anak-anak kami pasti akan mati di padang gurun ini!”

Tapi apa jawaban Tuhan?

“Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran… semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku… tetapi anak-anakmu yang telah kamu katakan akan menjadi tawanan—merekalah yang akan Kubawa masuk…”
(Bilangan 14:29-31 TB)

Wow! Yang mereka takutkan justru Tuhan balikkan. Anak-anak mereka tidak mati, malah mereka yang akhirnya masuk dan merebut tanah itu. Sedangkan para pengeluh—yang menolak percaya—mati di padang gurun.

Tuhan tidak pernah kejam. Tapi Dia adil. Dia sabar, memberi kesempatan, tapi tidak bisa membawa orang-orang yang penuh ketakutan, keras hati, dan suka bersungut-sungut masuk ke dalam janji-Nya.

Tapi jangan salah… Di tengah penghakiman dan ketegasan Tuhan, kita tetap melihat kasih dan kelembutan-Nya.

Lihat saja Rahab. Seorang perempuan dari Yerikho, pelacur lagi! Tapi ketika ia mendengar tentang Allah Israel, hatinya berubah. Ia berkata:

“Tuhanmu adalah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.” (Yosua 2:11)

Karena imannya, Rahab dan seluruh keluarganya diselamatkan. Bahkan, Tuhan menunda seluruh arak-arakan penghancuran Yerikho demi perempuan ini! Rahab pun dicatat dalam silsilah Yesus, karena dia menikah dengan salah seorang pengintai yang diselamatkannya.

Bukan masa lalu yang menentukan masa depan kita—imanlah yang memindahkan kita dari kutuk menjadi berkat!

Hal yang sama terjadi pada Lot. Kota tempat tinggalnya, Sodom, penuh dengan kejahatan. Tapi Tuhan menyebut Lot sebagai orang benar (2 Petrus 2:7). Bahkan malaikat diutus khusus untuk menyelamatkan dia dan keluarganya—hanya karena ada satu orang yang percaya.

Bahkan, karena Yakub, Laban pun diberkati berlimpah-limpah. Laban sendiri mengaku:

“Tuhan memberkati aku karena engkau.” (Kejadian 30:27)

Dan karena Yusuf, Potifar mengalami hal yang sama.

“Sejak Potifar memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.” (Kejadian 39:5)

Apa artinya?

Orang yang menempel, setia, dan taat kepada Tuhan—membawa berkat dan perlindungan bagi sekelilingnya! Bahkan rumah tangga, keluarga, tempat kerja, atau kotanya sekalipun… bisa ikut menikmati aliran berkat ilahi hanya karena ada satu orang benar di dalamnya!

Sodom dihancurkan bukan karena Tuhan pilih kasih. Tapi karena dosanya sudah sangat berat (Kej. 18:20). Sama halnya dengan bangsa Kanaan. Tuhan sabar menunggu mereka bertobat. Bahkan dalam Kejadian 15:16, Tuhan berkata bahwa hukuman bagi mereka belum datang karena “kesalahan orang Amori belum genap.” Tapi saat kejahatan mereka mencapai puncaknya, Tuhan bertindak. Itu bentuk keadilan.

Dan inilah pelajaran besarnya:

Tuhan tidak sembarangan menghukum. Dia menimbang hati, mengamati keputusan pribadi, dan selalu memberikan kesempatan. Tapi pada akhirnya, Dia tidak akan membawa mereka yang terus mengeluh dan memberontak ke dalam tanah perjanjian kehidupan.

Hanya orang yang percaya, taat, dan mau dibentuk yang bisa masuk dan menikmati janji-Nya.

Jadi hari ini, kita tanya hati kita masing-masing:
Apakah aku seperti generasi lama yang terus bersungut-sungut?

Atau seperti Kaleb, Yosua, Rahab… bahkan Lot—yang hatinya berpaut kepada Tuhan?

Padang gurun bukan akhir cerita. Tapi jangan biarkan kita mati di sana karena sikap hati yang salah. Kalau kita mau bertobat, percaya, dan setia pada Tuhan—Dia sanggup membalikkan kisah kita. Bahkan lebih dari itu: melalui kita, keluarga kita pun bisa ikut diberkati dan dipelihara oleh Tuhan!
Setuju?

“Your attitude determines how far you go with God. A thankful heart is the key to promotion in the kingdom.” – Andrew Wommack.

“Sikap hatimu menentukan seberapa jauh engkau berjalan bersama Tuhan. Hati yang bersyukur adalah kunci untuk promosi dalam Kerajaan Allah”.- Andrew Wommack

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kaleb: Teladan Iman yang Menantang Generasi

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kaleb: Teladan Iman yang Menantang Generasi

Kisah Kaleb adalah salah satu yang penuh dengan inspirasi, keberanian, dan iman yang tak tergoyahkan. Ia bukan hanya seorang pejuang yang menaklukkan raksasa, tetapi juga seorang ayah dan paman yang meninggalkan warisan iman yang luar biasa. Kisah hidupnya mengajarkan kita tentang bagaimana berani meminta dan mengklaim janji Tuhan, bahkan di tengah tantangan yang besar. Kaleb menunjukkan kepada kita bahwa iman yang teguh bisa menginspirasi orang lain untuk juga berani berdiri teguh dalam janji-janji Tuhan.

Pada masa ketika sebagian besar bangsa Israel merasa takut dan ragu-ragu untuk memasuki tanah perjanjian, Kaleb berbeda. Ketika para pengintai melihat adanya raksasa, keturunan Enak, yang membuat mereka merasa gentar, Kaleb tidak terpengaruh. Dengan penuh keyakinan, ia berkata, “Aku mau tanah itu! Aku mau tanah yang semua orang takuti. Aku akan menghadapi raksasa itu dengan kuasa Tuhan!” (Yosua 14:12). Kaleb tidak hanya berbicara tentang apa yang Tuhan janjikan, tetapi ia bersedia untuk menanggung tantangan besar demi mengklaimnya.

Dalam perjalanan iman Kaleb, kita melihat warisan yang ia tinggalkan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya, terutama bagi keponakannya, Otniel. Kaleb mengundang Otniel untuk mengikuti jejaknya.

Dalam usaha menaklukkan kota Debir, Kaleb memberikan janji bahwa siapa pun yang berhasil menaklukkan kota tersebut akan mendapatkan anak perempuannya, Aksa, sebagai istri.

Tanpa ragu, Otniel maju dan merebut kota itu. Kaleb menepati janjinya, dan Aksa menjadi istri Otniel. Ini bukan hanya tentang kemenangan fisik, tetapi juga tentang bagaimana keberanian dan iman Kaleb menginspirasi generasi berikutnya untuk mengambil langkah berani dalam iman.

Namun, kisah ini tidak berhenti di situ. Aksa, putri Kaleb, menunjukkan bahwa keberanian dalam meminta juga merupakan bagian dari warisan yang ditinggalkan oleh Kaleb.

Setelah mendapatkan tanah dari ayahnya, Aksa dengan berani meminta tambahan: “Berilah aku suatu berkat. Karena engkau telah memberikan kepadaku tanah di tanah Negeb, berilah juga kepadaku sumber-sumber air”.

Dengan iman, Aksa tahu bahwa ia bisa meminta lebih dan mendapatkan lebih, dan Kaleb mengabulkan permintaannya dengan memberikan mata air atas dan mata air bawah, menjadikan tanah itu subur.

Apa yang dapat kita pelajari dari Kaleb dan keluarganya?

Pertama, kita diajarkan untuk berani meminta.
Tuhan suka melihat anak-anak-Nya yang berani meminta dan berani mengklaim apa yang telah Dia janjikan. Kaleb mengajarkan kita bahwa iman bukan hanya tentang menerima janji Tuhan, tetapi juga tentang berani menghadapinya, bahkan ketika ada “raksasa” yang tampaknya menghalangi kita. Kaleb dan keluarganya tidak takut menghadapi rintangan, karena mereka tahu bahwa Tuhan akan berjalan bersama mereka.

Lebih dari itu, Kaleb menunjukkan kepada kita pentingnya meninggalkan warisan iman bagi generasi berikutnya.

Keberanian dan iman yang ia tunjukkan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya, yang kemudian meneruskan perjuangan itu. Otniel, yang terinspirasi oleh pamannya, dan Aksa, yang belajar untuk meminta lebih dari Tuhan, adalah bukti nyata dari warisan iman yang ditinggalkan Kaleb.

Kaleb adalah contoh nyata bahwa iman tidak hanya untuk kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain di sekitar kita. Ketika kita hidup dengan iman yang teguh, kita menjadi teladan bagi anak-anak kita, keponakan, dan bahkan orang-orang di sekitar kita. Iman kita bisa menjadi sumber inspirasi yang menggerakkan orang lain untuk mengambil langkah-langkah berani dalam hidup mereka.

Sebagai orang tua, pemimpin, atau siapa pun kita, kita semua dipanggil untuk meninggalkan warisan iman.

Apakah kita sedang menginspirasi orang lain untuk berani meminta, untuk berani mengklaim janji Tuhan?
Apakah kita hidup dengan iman yang bisa menginspirasi generasi berikutnya?
Kaleb, dengan segala keberaniannya, telah menunjukkan kepada kita bagaimana melakukannya.

Tuhan telah memberikan janji-janji-Nya kepada kita, dan seperti Kaleb, kita dipanggil untuk berani mengambilnya. Kita tidak perlu takut dengan raksasa atau tantangan yang ada di depan kita. Dengan iman, kita bisa maju dan meraih tanah perjanjian yang telah Tuhan sediakan. Jadi, mari kita tinggalkan warisan iman yang kuat, seperti yang dilakukan Kaleb, dan inspirasi generasi berikutnya untuk berani meminta dan mengambil apa yang telah Tuhan janjikan.

“The greatest legacy one can pass on to one’s children and grandchildren is not money or other material things accumulated in one’s life, but rather a legacy of character and faith.” – Billy Graham.

“Warisan terbesar yang bisa diberikan seseorang kepada anak dan cucunya bukanlah uang atau harta benda, tetapi warisan karakter dan iman – Billy Graham.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 43 44 45 46 47 319