Category : Articles

Articles

Lima Danau Berantai Bak Planet Mars!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Lima Danau Berantai Bak Planet Mars!

Acara hari ini kami ke Wudianchi Scenic Area mengunjungi danau-danau vulkanik yang terbentuk akibat aktivitas gunung berapi. Ditetapkan sebagai Taman Geologi Global UNESCO pada 2004 karena nilai ilmiah dan keindahannya.

Wudianchi artinya “Lima Danau Berantai”.
Terbentuk dari letusan gunung berapi ratusan tahun lalu, wilayah ini memiliki lima danau saling terhubung mirip rantai yang indah dikelilingi gunung dan pepohonan yang hijau.

Salah satu daya tarik paling mencolok di Wudianchi Scenic Area adalah pemandangannya yang dramatis dan nyaris seperti dunia asing, kerap dibandingkan dengan permukaan bulan atau planet Mars. Karena minimnya tanaman di area tertentu dan dominasi batuan gelap, NASA bahkan pernah mempelajari wilayah ini sebagai analog permukaan bulan dan Mars!
Konon saat matahari terbenam, bayangan panjang di hamparan batuan hitam menciptakan pemandangan seperti di planet lain.

Batuan Vulkanik Hitam membentuk Lava Fields, Lava Beku yang Luas, terhampar di seluruh area, dipenuhi batuan vulkanik hitam yang terbentuk dari aliran lava gunung berapi purba. Batuan ini membentuk hamparan luas seperti “lautan beku” yang disebut “Lava Sea”.
Teksturnya Unik karena di permukaan batuan memiliki pola retakan khas (columnar jointing) dan lubang-lubang bekas gelembung gas vulkanik, menciptakan pemandangan yang kasar dan eksotis. Perpaduan danau dan bebatuan vulkanik hitam, itu membentuk formasi geologis yang dramatis, menciptakan lanskap menyerupai bulan.

Beberapa gunung berapi seperti Gunung Laohei dan Gunung Huoshao memiliki kawah yang masih jelas terlihat, dengan lereng curam berwarna hitam kemerahan.
Di beberapa zona, terdapat bebatuan vulkanik besar akibat bom vulkanik yang terlempar saat letusan, serta lapili, kerikil vulkanik yang menyebar di sekitarnya.

Nach yang keren karena fenomena alam ini terbentuklah “Air Mineral Penyembuh”– sumber airnya kaya mineral dan diyakini memiliki khasiat kesehatan, menarik banyak pengunjung untuk terapi alami. Konon membuat kulit mulus dan menyembuhkan berbagai penyakit kulit.
Rasanya seperti air yang mengandung soda, sedikit pahit, segar dan dingiiin sekali. Ada sedikit bau besi.
Kami berjumpa dengan penduduk lokal yang membawa jerigen untuk mengambil air penyembuh ini, untuk dikonsumsi sehari-hari.

Meski terlihat gersang, tanah di sini sangat subur karena mineral vulkanik, sehingga ditumbuhi tanaman hijau yang kontras dengan batuan hitam.
Pohon-pohon tinggi kelihatan kurus tetapi ternyata menurut Eric, local guide kami, sudah berusia ratusan tahun. Akibat lava, batangnya tidak bisa besar.
Tanaman padi hanya bisa panen setahun sekali, full vitamin dan mineral, tidak heran nasinya enaak sekali… pulen. Butiran jagungnya rasanya seperti ketan.

Pada saat musim dingin di daerah utara, seperti kota Mohe, bisa mencapai suhu hingga minus 40-50 derajad….
Bbbbrrrrr…… seperti apa tuh dinginnya!

Samping hotel kami, ada sederet toko lokal. Barang-barang yang dijual, kebanyakan diimpor dari Rusia, justru bukan produk China.

Sejarah Cakwe… yang dicertakan Hendry, Tour Leader kami, sungguh menggelitik
Sadar gak mengapa cakwe selalu dijual sepasang?
Camilan sederhana ini punya latar belakang sejarah yang gelap dan dipenuhi kemarahan serta dendam.
Jadi, ceritanya bermula di zaman Dinasti Song Selatan (1127-1279 M), saat Tiongkok sedang kacau balau.

Yue Fei, jenderal legendaris yang sangat dicintai rakyat karena keberaniannya. Konon di badan Yue Fei sejak kecil sudah di tatto oleh ayahnya, agar selalu cinta negara.
Sementara ada Qin Hui, perdana menteri licik yang berkhianat dan merencanakan eksekusi Yue Fei.
Caranya? Dengan memfitnah Yue Fei pada raja, bahwa Yue Fei hendak merebut tahta kerajaan.

Nah, saat rakyat tahu sang pahlawan dibunuh oleh Qin Hui dan istrinya, mereka ngamuk berat! Tapi karena gak bisa langsung menghukum sang pengkhianat, dan jaman itu belum ada demo, apa yang mereka lakukan?
Mereka menciptakan simbolik balas dendam lewat… makanan!

lya, beneran! Rakyat membuat adonan berbentuk dua manusia, yang mewakili Qin Hui dan istrinya, lalu… digoreng dalam minyak panas! Bayangin aja, tiap gigitan ke “tubuh” adonan itu seperti bentuk hukuman buat si pengkhianat.
Unik banget ya?
Jadi saat menggoreng mestinya sambil marah-marah…
“Kapok ya … Qin Hui dan istri yang jahat…”, sambil gemas, menggunakan sumpit, kepala cakwe diputar, membayangkan seperti memutar kepala Qin Hui dan istrinya.
Itulah sejarahnya, mengapa cakwe dalam bahasa Mandarin disebut Youtiao artnya “Batang Goreng”
Wkwkwk…..

Liburan itu selalu menyenangkan.

“Nature is the source of all true knowledge.” – Leonardo da Vinci.

“Alam adalah sumber segala pengetahuan sejati.”- Leonardo da Vinci.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bangau Mahkota Merah Yang Menawan….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bangau Mahkota Merah Yang Menawan….

Dari Jakarta subuh, kami landing di Beijing, pagi harinya. Lalu menuju Great Wall di *Mutianyu*. Ada beberapa lokasi untuk menuju ke Great Wall. Mutianyu dipilih, karena ada cable car-nya. Tidak semua pintu ada cable car.

Great Wall jauh lebih modern, bersih, cantik dan lengkap fasilitasnya sekarang, termasuk cable car, dibandingkan saat mengunjunginya sekian tahun lalu. Cafe-cafe modern terlihat di sana sini.

Keesokan harinya, kami terbang lagi ke Qiqihar, sebelah utara Beijing. Tur kali ini bersama Bu Rita – TX Travel, memang menuju bagian paling utara China – Kota Mohe – yang berbatasan dengan Rusia dan Inner Mongolia.

Tidak heran jika biasa di pesawat, jendela diminta dibuka, di sepanjang perjalanan menuju Qiqihar justru wajib ditutup, hingga landing.
Saat P. Indra membuka jendela, segera didatangi petugas.
Ada petugas pria muda di pesawat yang terus mengawasi, ternyata dia seorang polisi.
Rupanya Rusia begitu dekat, sehingga dilarang untuk melihat negara lain dari jendela pesawat. Bisa dicurigai mata-mata…. oh, paham sekarang!

Tujuan hari ini menuju Zhalong Nature Reserve, tempat penangkaran bangau Red Crown Crane, – Bangau Mahkota Merah -, bangau dengan warna merah di kepalanya.

Red-Crowned Crane (Grus japonensis) termasuk salah satu burung paling langka dan simbolis di dunia, terutama di budaya Asia Timur. Di China, burung ini sering dikaitkan dengan umur panjang, kebahagiaan, dan kesetiaan.

Konon bangau ini sangat langka sekarang. Jumlahnya hanya sekitar 3000 – 3500 ekor di alam liar, di seluruh dunia dan terancam punah.

Zhalong Nature Reserve merupakan salah satu lahan basah terbesar di dunia dan rumah bagi sekitar 300 Red-Crowned Cranes.
– Daerah ini menyediakan rawa-rawa, padang rumput, dan danau dangkal yang ideal untuk berkembang biaknya burung ini.

Musim terbaik melihatnya,
bulan April–Oktober, saat migrasi dan musim kawin.
Ada pula Festival Crane Qiqihar yang diadakan setiap bulan Agustus, terkenal dengan tarian elegan yang dilakukan saat musim kawin dan menampilkan pertunjukan crane dan edukasi konservasi.

Burung bangau ini, saat musim Panas, mereka bersantai di Rusia Timur Jauh atau di Cina Timur Laut, nikmati udara sejuk sambil mencari ikan di sungai yang jernih.

Ketika musim dingin menjelang tiba, sekitar bulan Oktober–November karena sungai-sungai membeku, burung-burung berunding,
“Uh, udah mulai dingin nih, yuk pindah ke Korea atau Jepang!”

Burung-burung bangau itu bergerombol migrasi, pindah tempat dan bisa terbang sejauh
1.000–1.500 km ke Semenanjung Korea, yang berada di DMZ Korea, alias daerah perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan.
Hah???
Iya…. justru di zona perang ini yang jadi surganya burung!
Selain Korea, Jepang bagian timur, terutama di Pulau Hokkaido, juga menjadi tujuan favorit migrasi burung Red Crown Crane.

Saat musim semi tiba, merka terbang kembali ke utara, ke Rusia Timur Jauh atau di Cina Timur Laut.

Tetapi tidak semua bangau bermigrasi. Ada populasi yang menetap dan hidup di Hokkaido, Jepang sepanjang tahun, yang disebut tancho dalam bahasa Jepang.
Mereka tetap di rawa-rawa dan lahan basah karena lingkungannya relatif hangat berkat arus laut hangat.
Unik ya?

Oh ya, ada “Music Road” – Jalan yang Bernyanyi untuk Para Traveler… saat kami dari Qiqihar menuju ke Zhalong Nature Reserve.
Apa itu?
Di Provinsi Heilongjiang, ada jalan sepanjang 1km yang dirancang dengan alur khusus di aspal. Ketika roda mobil melewatinya dengan kecepatan 40-60km/jam, jalan ini akan memainkan lagu “Mo Li Hua”, yaitu Lagu Rakyat China tentang Bunga Melati secara alami!
So sweet…..

Filosofi Kerennya:
“Seperti bangau yang menari harmonis dengan angin, manusia pun bisa menciptakan seni yang selaras dengan alam.
Cakeeep!

Tunggu ya… kisah-kisah selanjutnya!

*Like cranes, we are bound by neither borders nor seasons – only by the courage to spread our wings.” – YennyIndra*

*Seperti bangau, kita tak terikat perbatasan atau musim- dengan didukung keberanian untuk membentangkan sayap – YennyIndra.*

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT*
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Yohanes Pembaptis: Sukses Menurut Sorga!”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Yohanes Pembaptis: Sukses Menurut Sorga!”

Dalam ukuran dunia, Yohanes Pembaptis tampaknya “gagal”. Hidupnya pendek, penuh tantangan, diakhiri dengan tragis: dipenggal oleh perintah raja, hanya karena tarian seorang wanita. Ironis, bukan? Padahal dia adalah nabi besar yang mempersiapkan jalan bagi Mesias!

Tapi ukuran Tuhan jauh berbeda. Yesus sendiri berkata, “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis” (Lukas 7:28).
Wow! Itu pujian langsung dari Tuhan sendiri. Jadi… siapa yang sebenarnya sukses?

Yohanes tahu siapa dirinya.
Suatu hari dia melihat Yesus lewat dari jauh, dia menunjuk dan berkata, “Lihat Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
Sejak hari itu, murid-muridnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Yesus.

Ketika murid-muridnya yang masih mengikutinya, gelisah karena Yesus mulai “menarik perhatian” dan pengikut Yohanes berkurang, dia tetap tenang.

Mereka berkata, “Rabbi, orang yang bersama Engkau di seberang Yordan… lihat, Dia membaptis dan semua orang datang kepada-Nya.” Seolah berkata, “Yohanes, kamu kehilangan pengaruh!”

Tapi Yohanes menjawab bijak: “Seseorang tidak dapat menerima apa pun kecuali diberikan kepadanya dari sorga.” (Yohanes 3:27).
Dan yang lebih dahsyat lagi, dia berkata:
“Ia harus makin besar, dan aku harus makin kecil.”

Apa artinya?
Yohanes paham bahwa tugasnya hanya membuka jalan. Dia bukan Mesias. Bukan pusat perhatian. Dia adalah sahabat mempelai pria, bukan mempelai itu sendiri. Dan itu membuatnya sangat bersukacita!

Yohanes tahu posisinya.
Dia tidak terjebak dengan ukuran dunia: seberapa besar panggungmu, berapa banyak pengikutmu, atau seberapa lama kamu melayani.

Yohanes tidak menemukan identitasnya dalam panggilan, tapi dalam Tuhannya.

Karena kalau kita mengikat identitas pada posisi—entah itu sebagai gembala, pelayan, pengusaha, atau apapun—kita akan goyah saat posisi itu berubah.

Yohanes tetap setia sampai akhir. Bahkan ketika ia harus kehilangan nyawa karena kebenaran yang disampaikannya, dia tidak goyah.

Banyak orang mencibir, “Masa seorang nabi besar mati begitu muda?”

Firman Tuhan pernah berkata tentang Yohanes Pembaptis: Ia adalah pelopor.
Bukan hanya pelopor di dunia, tapi juga pelopor sampai ke dalam kematian.

Yohanes diutus untuk membuka jalan, bukan hanya bagi pelayanan-Nya di bumi, tapi juga agar ia bisa mendahului dan mengumumkan di sorga,
“Dia datang! Dia datang!”

Itulah sebabnya Yohanes harus mendahului-Nya—baik dalam hidup, maupun dalam kematian.
Wow…..luar biasa!

Yohanes memahami perannya. Ia tidak gentar.
Ia berkata dengan penuh keyakinan dan sukacita:
“Aku sedang bertransisi, dan aku sangat bersukacita… karena sekarang aku bisa pergi.”

Sungguh luar biasa. Seorang pelopor sejati yang menyelesaikan bagiannya dengan sempurna—dan membuka jalan, bahkan sampai ke seberang kehidupan.

Ukuran kesuksesan seseorang tidak diukur oleh seberapa lama seseorang hidup di dunia ini, melainkan seberapa baiknya dia menggenapi rancangan Tuhan dalam hidupnya.

Bukankah ini sangat kontras dengan dunia kita sekarang? Banyak orang mengejar panggung, pujian manusia, dan pengikut media sosial. Tapi di mata Tuhan, kesuksesan tidak diukur dari berapa banyak orang yang mengikuti kita, tetapi apakah kita telah menggenapi rancangan Allah dalam hidup kita!

Sebelum kita lahir, bahkan sebelum Tuhan menenun kita dalam kandungan ibu, Ia sudah memiliki rancangan khusus, unik, dan tak tergantikan bagi setiap kita (Mazmur 139:13-16).
Kita lahir bukan kebetulan!
Kita dikirim ke dunia dengan misi surgawi yang hanya bisa digenapi oleh kita. Orang lain mungkin bisa lebih pintar, lebih tampan atau lebih populer, tapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi kita dalam rencana Tuhan!

Kunci hidup yang penuh dan utuh adalah: menggenapi rancangan Tuhan. Hanya itu yang membuat kita benar-benar puas. Bukan harta, bukan popularitas, bukan prestasi duniawi. Tapi ketaatan kepada kehendak-Nya.

Yohanes Pembaptis tahu siapa dirinya dan apa misi hidupnya. Ia tidak bingung dengan identitasnya. Ia tidak terikat pada panggilannya sebagai nabi, karena ia tahu siapa dirinya di dalam Kristus. Dan karena itu, ketika tugasnya selesai, ia bisa keluar dari dunia ini bukan dengan kesedihan, tetapi dengan sukacita besar! Ia tahu: “Aku sudah menyelesaikan tugasku.”

Bagaimana dengan kita? Apakah kita hidup mengejar pengakuan manusia, ataukah dengan setia menggenapi bagian kita dalam rencana Tuhan?

Mari hidup seperti Yohanes. Fokus pada tujuan surgawi. Jangan terjebak oleh angka, popularitas atau perbandingan. Surga bersorak bukan karena jumlah pengikut, tapi karena ketaatan kita!

Dan ketika hari kita tiba, kita pun bisa berkata seperti Yohanes, “Sukacitaku penuh… karena aku telah menggenapi bagian yang Tuhan percayakan padaku!”

Itulah sukses sejati menurut Tuhan.
Siap? Yuk….

“The purpose of your life is far greater than your own personal fulfillment, your peace of mind, or even your happiness.” – Rick Warren.*l

“Tujuan hidupmu jauh lebih besar daripada sekadar kepuasan pribadi, ketenangan pikiran, atau bahkan kebahagiaanmu.” – Rick Warren.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Benarkah Firman Tuhan Mengubah Takdir? Hmmm.. Simak Ini!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Benarkah Firman Tuhan Mengubah Takdir? Hmmm.. Simak Ini!

Siapa yang tak ingin mujizat? Kita semua pasti rindu melihat terobosan, kesembuhan, pertolongan Tuhan yang nyata.
Saat masalah besar menimpa, bak badai menggelora…. kita rindu solusi instan.

Dan ternyata, Tuhan mau juga lho memberi solusi instan …
Yeaaaayyyyy…..

Alkisah Yoram, anak Raja Ahab, menjadi raja di Samaria. Setelah ayahnya meninggal, raja Moab memberontak. Ia enggan membayar upeti seratus ribu anak domba dan bulu dari seratus ribu domba jantan.

Lalu Raja Yoram mengajak Yoram, raja Yehuda dan raja Edom bersekutu, memerangi raja Moab.
Mereka sudah siap berperang, tetapi tersesat di padang gurun selama tujuh hari, tanpa air. Lapar, haus, letih—bahaya besar mengintai.

Raja Yoram, anak Ahab, panik dan mulai menyalahkan Tuhan, “Apakah Tuhan membawa kita ke sini untuk membunuh kita?”

Tapi Yosafat, raja yang mengenal Allah, berkata,
“Dengar, aku tahu apa yang kamu katakan. Aku tidak menyangkal situasinya. Aku tahu kita kehabisan air. Aku tahu kita tidak punya persediaan. Tapi… apakah ada nabi Tuhan di sini?”
Ia tahu:satu Firman dari Tuhan dapat mengubah segalanya.

Mereka mendatangi Elisa. Dan saya suka bagaimana Elisa merespons. Ia berkata, “Seandainya bukan karena hormatku pada Yosafat, aku tidak akan memandangmu.” Tapi karena ada orang benar di sana—ada iman—maka Firman Tuhan turun.

Elisa berkata, “Bawakan aku pemetik kecapi.” Ketika pujian dinaikkan, hadirat Tuhan turun… dan Firman Tuhan datang! Bukan strategi militer, bukan motivasi kosong—tapi perkataan langsung dari Tuhan!

“Lembah kering ini akan dipenuhi air. Kamu tidak akan melihat angin atau hujan, tetapi tiba-tiba… air akan muncul!”

Tidak ada air di mana pun. Ternak akan mati, kuda akan mati, semua orang akan mati… tapi Tuhan berkata: “Lembah yang kering ini, situasi keringmu, akan segera berubah!”
Mungkinkah?

Iman datang dari pendengaran—bukan hanya mendengar Firman tertulis, tapi Rhema, Firman Allah yang spesifik dan hidup! Saat Firman itu datang, musim bisa berubah, keadaan bisa berubah dan yang paling mustahil pun bisa terjadi.

Inilah firman Tuhan: Lembah kering ini akan dipenuhi air. Engkau tidak akan melihat angin atau hujan, tetapi lembah ini akan penuh dengan air.” Engkau dan ternakmu dan semua hewanmu akan punya air dalam kelimpahan. Bukan hanya tetesan. Tuhan selalu memberi dengan berlimpah. Dia adalah Allah yang lebih dari cukup. Dia tidak memberi seadanya.

Wow……. Dahsyat!

Mujizat terjadi. Tetapi mari kita renungkan: semua itu dimulai dari Firman Tuhan. Bukan karena kepintaran manusia. Bukan karena kekuatan. Tapi karena suara Tuhan diikuti dengan ketaatan.

Dan perhatikan: mujizatnya “tiba-tiba” muncul. Tidak ada awan. Tidak ada angin. Tapi esok paginya, air mengalir dari Edom. Bumi yang kering menjadi kolam!

Tapi jangan berhenti di situ.

Tuhan memang sanggup melakukan mujizat. Tapi jangan terpukau oleh mujizat. Kejar Firman-Nya!

Banyak orang hanya mengejar mujizat—seperti penonton yang bersorak karena sulap—tapi hidupnya tetap kacau karena tidak pernah membangun fondasi di atas Firman.
Mujizat bisa memulai perubahan, tapi hanya Firman yang bisa menjaga, memperkuat, dan memperbesar hidup kita.

Saya belajar: Firman Tuhan itu kekuatan Tuhan.
God’s Power!

Dia menciptakan dunia dengan Firman. Tuhan menyembuhkan dengan Firman. Firman itulah dasar iman kita.

Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Tuhan.
Tapi bukan sekadar membaca atau mendengar biasa. Kita butuh *Rhema—Firman hidup yang dinyatakan secara pribadi dalam hati kita.*

Dan satu Firman Rhema dari Tuhan, jika kita tangkap, percaya, dan lakukan, itu bisa mengubah takdir kita.
Tetapi kalau hanya didengar tanpa tindakan?
Tidak akan terjadi apa-apa.

Firman tidak bekerja otomatis. Tuhan butuh iman dan respon kita. Tanpa tindakan, takdir tidak berubah.

“Diberkatilah dia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan digenapi.”
Penggenapan hanya terjadi bagi orang yang percaya dan bertindak.

Mujizat bisa menarik perhatian kita. Tapi Firman yang akan menopang kita sampai garis akhir.

Jadi hari ini, jika hati kita sedang gersang, jika hidup seperti lembah kering—jangan hanya berdoa minta keajaiban. Cari Tuhan, kejar Firman-Nya, dengar suara-Nya, lalu bertindak sesuai petunjuk-Nya.

Firman-Nya tidak akan gagal.

Mujizat itu luar biasa, tetapi Firman adalah fondasi. Pegang Firman itu dan lihat bagaimana Tuhan mengubah lembah keringmu jadi kolam berkat yang melimpah. Kita pun hidup dalam berkat.

Siap praktik? Yuk…..

*”Miracles come by hearing the voice of God and obeying it.” – Oral Roberts.*

*”Mujizat datang dengan mendengar suara Tuhan dan menaati-Nya. – Oral Roberts.*

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Hidup yang Berdampak: Warisan yang Abadi.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Hidup yang Berdampak: Warisan yang Abadi.

Ketika saya mengenang pelajaran Steven Covey dalam buku “ The 7 Habits of Highly Effective People” ,
HABIT 2: BEGIN WITH THE END IN MIND – kebiasaan ke dua: Mulailah dengan tujuan akhir dalam pikiran.

Nah saat ikut seminar P. Prasetya M. Brata, kami diberi tugas menulis naskah pidato untuk seseorang yang akan dibacakan saat pemakaman masing-masing. Saya termenung… Jika saya meninggal, saya ingin dikenang sebagai pribadi seperti apa?

Pertanyaan sederhana, namun menggetarkan jiwa. Karena jawabannya tidak akan datang tiba-tiba pada hari kematian kita. Jawaban itu dibentuk oleh keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini.

Tuhan memberi saya jawaban lewat kisah Onesiforus.

Dalam 2 Timotius 1:16 KJV tertulis:
“Tuhan memberikan kasih karunia kepada rumah Onesiforus; karena ia sering menyegarkan aku, dan tidak malu akan rantai-ku.”

Wah… satu ayat, tapi dampaknya sampai 2.000 tahun kemudian! Nama Onesiforus hanya disebut dua kali di Alkitab, tetapi efek hidupnya menggetarkan sejarah kekristenan!

Apa yang ia lakukan? Ia menyegarkan Paulus. Mungkin lewat makanan, pakaian, atau bahkan sekadar mendengarkan dan hadir. Yang jelas: ia tidak malu terhadap Paulus, bahkan saat Paulus ada dalam penjara. Ia tekun mencari Paulus di Roma—kota besar, berbahaya, dan penuh risiko. Tapi Onesiforus tidak mundur. Ia tetap setia. Ia hidup sesuai namanya: pembawa manfaat.

Bandingkan dengan Phygellus dan Hermogenes dalam 2 Timotius 1:15—disebut hanya untuk dikenang sebagai pengecut.
Duh… saya tidak mau dikenang seperti itu!

Tindakan kecil Onesiforus, mungkin terlihat remeh saat itu. Tapi karena ia melakukannya dengan kasih dan iman, Tuhan mencatatnya. Bukan hanya dalam kitab, tapi dalam sejarah kekal!

“Tuhan tidak melupakan pekerjaan kasihmu…” (Ibrani 6:10)

Itu sebabnya saya suka menulis kisah-kisah seperti Seruput Kopi Cantik. Bukan sekadar cerita, tapi kesaksian yang mengangkat prinsip-prinsip Tuhan yang bisa diteladani. Pernah seorang teman berkata, “Tulisan ibu seperti pelita. Menuntun saya di tengah gelapnya keputusan.”
Wow… saya terharu.

Ternyata, saat kita menulis kebaikan Tuhan atau melakukan hal kecil dengan kasih—itu bisa menjadi warisan yang memberkati orang lain bahkan setelah kita tidak ada.

“Tulislah sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak untuk ditulis.” – Benjamin Franklin

Dan ini alasan saya terus menulis. Saya ingin meninggalkan jejak yang memberkati, bukan sekadar nama di batu nisan.

Onesiforus adalah contoh nyata bahwa tidak harus menjadi pengkotbah besar atau mengukir prestasi yang spektakuler, untuk meninggalkan warisan abadi. Cukup setia. Cukup mengasihi. Cukup hadir. Bahkan di saat sulit.

Matius 10:42 (TB) Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Jadi, jangan pernah meremehkan tindakan kasih yang sederhana. Tuhan menghargainya.

Ketika kita hidup dengan tujuan kekal, keputusan kita menjadi berbeda. Kita tidak lagi dikuasai rasa takut atau ego. Karena kita tahu, yang kita bangun bukan hanya reputasi—tetapi warisan rohani.

“Anda tidak kebetulan ada di dunia ini. Tuhan telah menciptakan Anda untuk sebuah tujuan yang luar biasa. Hidup yang paling memuaskan adalah saat Anda menemukan dan mengikuti panggilan yang telah Tuhan rencanakan bagi Anda.” – Rick Warren

Teman-teman, mari kita renungkan:
Apakah hidup kita hari ini akan dikenang dengan sukacita atau disesali orang?
Apakah kita hidup untuk memberi dampak atau sekadar menjalani hari?

Saya percaya…
Hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, tapi berapa banyak hidup yang kita sentuh.

Dan ingatlah,Albert Schweitzer (filsuf & dokter peraih Nobel Perdamaian) berkata,

“Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing.”

Keteladanan bukan hal utama dalam memengaruhi orang lain. Itu satu-satunya cara.

Maukah kita menjadi seperti Onesiforus?
Membawa manfaat. Menyegarkan sesama. Menjadi berkat.

Hidup seperti itu, akan terus bersuara… bahkan setelah kita diam.
Sesungguhnya, selama orang masih menyebut nama kita, diri kita belum meninggal, kata orang bijak.

Menarik bukan?

“Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, to all the people you can, as long as ever you can – John Wesley

“Lakukan segala kebaikan yang Anda bisa, dengan segala cara yang Anda bisa, di semua tempat yang Anda bisa, kepada semua orang yang Anda bisa, selama Anda bisa.” – John Wesley.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 41 42 43 44 45 319