Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Mengenang Bagus:Tabur Benih Dulu Dong….Ini Rahasianya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengenang Bagus:Tabur Benih Dulu Dong….Ini Rahasianya!

Chat Martini masuk.
Bagus meninggal dunia mendadak subuh kemarin.
Sungguh mengagetkan.

Martini pun mengirimkan artikel Seruput Kopi Cantik yang menceritakan pelajaran dari keteladanan kehidupan Bagus.

Teringat ucapan terimakasih bagus yang begitu senang, kisahnya saya tulis dan mendapat banyak respon positif dari para pembaca.

Sengaja saya Post Ulang untuk mengenang dan menghargai Bagus.

Terimakasih Tuhan atas limpahan rahmat-Mu, demikian tertulis dalam status terakhirnya.

Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat…..


Saya baru pulang dari Semarang. Ada dua teman mantu, jadi kami teman-teman alumni SMA Sedes Sapientiae, rame-rame njagong manten.
Reuni selalu menyenangkan. Dari mengunjungi Kota Lama hingga napak tilas ke sekolah. Tidak lupa berfoto-ria dan tertawa terbahak-bahak mengenang masa-masa sekolah. Termasuk foto di depan kelas masing-masing. Kelas saya A-3, kata teman-teman. Padahal sejujurnya, sudah lupa …. Ssst… Jangan buka rahasia …!

Yang lucu, mantan anak-anak asrama paling cinta foto duduk di tangga. Puluhan tahun lalu foto di sana, sambil menanti pukul 18.00 waktunya makan malam. Sekarang foto lagi di tempat yang sama. Wuih…. Rasanya keren banget!

Padahal jadi anak asrama dulu, makanannya sayur kangkung terus. Sampai ngetop istilah, mabuk kangkung. Kalau makan sup, duh .. susahnya cari isinya …. kuahnya saja yang banyak. ..
Herannya, sehat-sehat saja tuh!

“Ayoo anak-anak asrama… Foto!”

Seperti kelompok eksklusif saja anak-anak asrama ini.
Sampai teman-teman yang bukan anak asrama tidak mau kalah.

“Ayooo foto yang Non -Asrama,” ujar Linda tidak mau kalah.
Hahaha….

Selama di Semarang, Martini menyewa mobil. Drivernya bernama Bagus, yang ternyata suami dari keponakan Martini.
Dia bercerita, dulunya Bagus gonta ganti bisnis dan pekerjaan. Ga ada yang jadi.

Bagus orangnya baik. Jadi dia berinisiatif untuk mengantar para suster jika ingin bepergian.
Karena pelayanan Bagus itu baik dan memuaskan, mulailah suster-suster itu bercerita.
Word of mouth terjadi.
Satu persatu orang yang perlu diantar dengan mobil, mengontak Bagus. Apalagi kalau pergi ke tempat-tempat ziarah umat Katolik, Bagus hafal karena seringnya mengantar para suster. Ini nilai plus tersendiri yang membuat customernya suka dengan Bagus.

Dengan berjalannya waktu, tidak hanya warga Semarang yang mengenal Bagus, tetapi teman-teman Martini dari berbagai kota, menggunakan jasa Bagus. Lalu saudara-saudara para temannya. Bagus pun bekerjasama dengan teman-temannya, agar dapat melayani tamu-tamunya yang makin banyak.

Pelajarannya:
Banyak orang ketika gagal, ya sudah ga mau mengerjakan sesuatu kalau ga ada imbalannya.
Apa untungnya buatku? Itu yang ada dalam pikiran mereka.

Bagus berbeda!
Bagus mulai dengan melayani para suster, dengan tulus, tanpa mengharapkan balas jasa.
Bagus menabur benih kebaikan.

Apakah benih langsung berbuah?
Tidak!
Butuh waktu cukup panjang hingga akhirnya orang-orang mengenal Bagus.
Selama itu, Bagus memberikan service yang baik hingga customernya puas dengan pelayanannya.

Barulah tiba masa panen. Tak disangka, menyewakan mobil justru sekarang menjadi pintu berkat bagi Bagus dan kawan-kawannya.

Tuhan tidak pernah berhutang. Hukum Kerajaan Surga selalu sama: Hukum Tabur Tuai.
Bahkan segelas air putih yang kita berikan dengan tulus saja, Tuhan perhitungkan.

Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu”, ujar sang bijak.

Pastikan kita menabur, maka tidak usah khawatir, masa panen pasti tiba.
Selama menunggu masa panen, jaga sikap dan perkataan yang sesuai dengan apa yang kita doakan dan imani.

Kalau ingin diberkati, kata-kata kita harus sesuai…
Menunjukkan kita penuh harapan menanti panen yang besar, berlimpah-ruah.
Imajinasi kita juga melihat panen yang berlimpah…

Dan ingat, berlimpah artinya cukup untuk kita plus extra untuk dibagikan kepada orang lain. Diberkati untuk menjadi berkat.

Setuju?

You can’t sow an apple seed and expect to get an avocado tree. The consequences of your life are sown in what you do and how you behave. – Tom Shadyac

Kita tidak dapat menabur benih apel dan berharap mendapatkan pohon alpukat. Konsekuensi hidup ditaburkan dalam apa yang kita lakukan dan bagaimana kita berperilaku- Tom Shadyac

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Apa Hubungan Orang Percaya dengan Pemerintahan Sipil?”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Apa Hubungan Orang Percaya dengan Pemerintahan Sipil?”

Biarlah setiap jiwa tunduk pada kekuatan yang lebih tinggi. Karena tidak ada kekuatan selain dari Allah: kekuatan yang ada ditetapkan oleh Allah. . . Karena penguasa bukanlah pembawa ketakutan bagi perbuatan baik, tetapi bagi kejahatan.

Maka apakah kita tidak takut pada kuasanya? lakukan apa yang baik, dan kita akan mendapat pujian yang sama: Karena pemerintah adalah pelayan Allah bagi kita untuk mendatangkan kebaikan. Tetapi jika kita melakukan apa yang jahat, takutlah; karena pemerintah tidak membawa pedang dengan sia-sia: karena dia adalah pelayan Allah, seorang pembalas untuk mengeksekusi murka atas orang yang melakukan kejahatan. (Roma 13:1-7)

Roma 13:1-7 menjelaskan hubungan orang percaya dengan Pemerintahan Sipil. Pemerintah Sipil telah diberi wewenang oleh Tuhan untuk memuji orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat jahat.
Menjadi pelayan Tuhan bagi orang-orang demi kebaikan. Pemerintah juga diberdayakan untuk mengenakan pajak, membela dan menghukum.

Penting untuk dipahami bahwa konsep pemerintahan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, bukan setiap jenis pemerintahan atau setiap penguasa. Pemerintah memiliki tujuan yang ditetapkan Tuhan tetapi tidak setiap pemerintahan dan setiap pemimpin berasal dari Tuhan. Allah tidak membangkitkan pemerintahan yang tidak saleh. Kehendak Tuhan adalah agar pemerintah menjadi alat untuk kebaikan dan bukan kejahatan.

Kita menemukan pewahyuan serupa dalam 1 Petrus 2.

“Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,
maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.”
1 Petrus 2:13-14 (TB).

Sekali lagi, peran pemerintah yang ditetapkan Tuhan adalah untuk menghukum kejahatan dan memuji mereka yang melakukannya dengan baik.

Jelas, tidak semua pemerintah sipil memenuhi panggilan ini sebagai pelayan Tuhan. Sejauh kita dapat menjalani ‘kehidupan yang tenang dan damai dalam segala kesalehan dan kejujuran,’ (1 Timotius 2:1-3) kita tidak boleh ‘melawan kuasa’ (Roma 13:2) dan kita harus melakukannya yang baik (Roma 13:3). Itu termasuk mematuhi hukum negara. Ketika hukum-hukum itu memaksakan perilaku yang tidak saleh pada warga negaranya, maka keputusan harus dibuat sejauh mana hukum tersebut dapat dipatuhi.

Jika kita sebagai orang percaya dapat membela dan melindungi aspek kesalehan dari pemerintah kita, kita harus melakukannya. Jika kita dapat mengusir keputusan pemerintah yang tidak saleh, kita harus melakukannya. Tetapi pemerintah kita tidak akan pernah menjadi sumber utama identitas, kebebasan, dan takdir kita.
Sumber-sumber itu hanya ditemukan di dalam Yesus saja.

[Repost : “What is the believer’s relationship to civil government?”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Pernahkah kita menyadari bahwa ekspresi dan bahasa tubuh kita, menentukan kesuksesan dan kegagalan kita?

https://mpoin.com/

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Pernahkah kita menyadari bahwa ekspresi dan bahasa tubuh kita, menentukan kesuksesan dan kegagalan kita?

Buku “Tipping Point”, karya Malcolm Gladwell, membuktikan hal itu!
Wow….

Sekelompok pemirsa TV yang dipilih secara acak diminta untuk menilai ekspresi wajah dari tiga penyiar berita paling terkenal pada zaman itu, yang disiarkan di Acara Televisi ABC, NBC, dan CBS.
Yang dinilai persepsi “positif” atau “negatif” ekspresi para penyiar berita ini, saat mendiskusikan calon presiden tahun 1980: 
Ronald Reagan dan Jimmy Carter.

Studi tersebut menemukan bahwa Peter Jennings sang pembawa berita ABC news memiliki “bias wajah” ketika membahas tentang Ronald Reagan—Jennings tampak sedikit lebih bahagia mendiskusikan Reagan dibandingkan saat mendiskusikan Carter di dalam berita yang dibacakannya
Dan bias wajah Jennings secara halus mempengaruhi pemirsa TV ABC untuk memilih Reagan.

Banyak ahli statistik membantah kesimpulan ini.
Padahal ABC mungkin jaringan TV yang paling memusuhi Reagan pada tahun 1980—pemirsa ABC seharusnya tidak memilih Reagan.

Gladwell berpendapat bahwa ekspresi wajah sang penyiar, berpotensi memainkan peran utama dalam meyakinkan pemirsa, siapa yang seharusnya mereka pilih.
Ekspresi wajah Peter Jennings-lah yang membuat pemirsa ABC berpikir lebih positif terhadap Ronald Reagan, sehingga akhirnya, memilih Reagan dalam pemilihan umum.

Dalam terminologi Gladwell, Jennings memenuhi syarat bertindak sebagai Salesman (mungkin saja dia tidak sengaja, “menjual” Reagan kepada para pemirsanya).

Inilah contoh , kemungkinan ribuan pemirsa yang memilih Reagan karena persuasi alias bujukan yang terjadi di alam bawah sadarnya.
Meski pemirsa ABC mengklaim bahwa mereka memilih Reagan karena kebijakannya.
Tetapi sesungguhnya tidak!

Menarik bukan?


Dengan cara yang sama, sesungguhnya ekspresi, penampilan dan bahasa tubuh yang kita tampilkan, itu mempengaruhi orang-orang di sekitar kita.
Apakah mereka akan berada di sisi kita atau justru berseberangan memusuhi kita?

Carrie Pickett menekankan, cara kita memandang orang lain akan secara langsung mempengaruhi cara kita memperlakukan mereka setiap hari.
Jika secara umum kita memandang orang lain bodoh dan tidak layak diperlakukan dengan baik, maka kita akan memperlakukan mereka demikian.

Kita harus memutuskan apakah orang lain semata sumber daya yang dapat kita manfaatkan demi mencapai tujuan dan membangun kerajaan kita sendiri; Atau kita memandang mereka sebagai panggilan untuk dikasihi dan dilayani?

Orang lain akan merasakannya dan kita pun akan menuai buahnya sesuai ‘benih’ perlakuan kita terhadap orang lain.

Kita dipanggil Tuhan untuk menjadi terang dan garam di dunia ini. Sehingga dunia sekeliling kita menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Itulah yang diharapkan Tuhan terhadap kita, yang mengaku beribadah dan mengasihi-Nya.

Pertanyaannya:
Apakah orang disekeliling kita juga merasakan persuasi yang sama, -seperti yang dirasakan oleh pemirsa TV ABC yang menonton berita yang dibawakan oleh Peter Jennings-, sehingga merasakan kehadiran Allah melalui kehidupan kita?


Begitu banyak orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mengejar ‘kekayaan’, ‘kesuksesan’ dan demi meraih ‘keuntungan’ materi.
Sedihnya, begitu banyak yang justru memakai jubah ‘rohani’, kata-katanya seolah sudah tidak menginjak bumi, karena demikian sucinya, tetapi justru orang-orang yang seperti inilah yang akhirnya mengecewakan bahkan menyalahgunakan kepercayaan kita bahkan menilap duit kita.

Sebuah ungkapan lama mengatakan, “Jika Anda mengejar kupu-kupu, Anda tidak akan pernah bisa menangkapnya. Tapi jika Anda diam, kupu-kupu itu akan menghampiri Anda.”

Ketika kita berdiri diam dan mematuhi perintah-perintah Allah, kita akan menyaksikan Tuhan membukakan pintu-pintu kesempatan dan berkat-berkat-Nya akan datang ke atas, menguasai bahkan mengejar kita.

Kita diperkenan dihadapan Allah dan manusia!
Orang menyukai kita tanpa sebab, pokoknya suka saja. Wibawa dan kasih Allah terpancar melalui kita.

Hebatnya, berkat Tuhan tidak sebatas materi semata. Kesehatan mengejar kita. Kebaikan juga mengejar kita.

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia, digenapi di dalam kehidupan kita.

Bagaimana cara meraih semua ini?
Isi hati dan pikiran dengan kebenaran firman Tuhan. Karena apa yang tersimpan dalam hati, terpancar melalui ucapan mulut, bahasa tubuh serta ekspresi wajah kita.
Mempengaruhi pula cara kita memperlakukan orang lain.
Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai…

Seperti Peter Jennings yang mempengaruhi penonton TV ABC untuk memilih Ronald Reagan, bisakah dibayangkan jika yang terpancar melalui kepribadian kita adalah kasih dan karakter Allah sendiri?
Apa pun yang tidak pernah timbul dalam hati manusia, yang melampaui mimpi-mimpi kita sekali pun, akan Tuhan sediakan bagi kita yang mengasihi-Nya.

Mau? Belajar yuk…

“We choose what attitudes we have right now. And it’s a continuing choice.” – John Maxwell.

“Kita yang memilih sikap kita saat ini. Dan itu merupakan pilihan yang berkelanjutan.” – John Maxwell

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Being VS Doing

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Being VS Doing

Kecenderungan seseorang saat mengasihi Tuhan, kebanyakan mengaitkan dengan apa yang dilakukan untuk menyatakan kasihnya. Alias Doing.

Benarkah itu yang Tuhan kehendaki?
Sedangkan yang diperhitungkan Tuhan itu motivasi dibalik apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita kerjakan.

Kita memberikan sumbangan besar, tetapi dengan motivasi supaya dipuji orang, maka Tuhan bilang, ya pujian itu upahnya.
Sebaliknya, kita memberi sumbangan, mungkin jumlahnya tidak banyak, tetapi dengan penuh ucapan syukur karena ingin menghormati Tuhan, itu lebih berkenan.

Tuhan ingin kita mengasihi sesama. Padahal kasih itu ya Allah itu sendiri. Artinya, agar dapat mengasihi sesama, kita perlu memiliki Sang Kasih, yaitu Allah sendiri.
Tanpa melekat kepada Allah, kita tidak bisa mengasihi dengan tulus sesuai yang Tuhan inginkan.
Itulah sebabnya Tuhan ingin kita menjadi Being dari diri-Nya.

Caranya?
Dengan melekat kepada-Nya.
Ibaratnya, kita ini ranting pohon anggur. Sementara Tuhan adalah pokok anggurnya.
Ranting bisa menghasilkan buah anggur yang manis, selama ranting itu menempel pada pokok anggurnya. Jika ranting itu dipotong, dia akan layu dan mati.

Kuncinya, menjadikan diri kita persembahan yang hidup yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna, sesuai dengan Roma 12: 2 dengan cara memperbaharui pikiran kita selaras dengan firman-Nya.


Banyak orang menilai kesuksesan pelayanan seorang pendeta dari berapa banyak jemaatnya?
Seberapa besar gerejanya?
Seberapa top dia dikenal di dalam dan luar negeri?

Bagi jemaat, seberapa besar pengaruhnya? Seberapa banyak kegiatannya? Dst.

Tetapi apakah kriteria Tuhan tentang pelayanan seseorang seperti itu?
Belum tentu!

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan:
Ananias!”
Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!”
Kisah Para Rasul 9:10 (TB)

Saya puluhan kali membaca bagian ayat ini tetapi saya tidak pernah memahami keistimewaannya, hingga Andrew Wommack membahasnya.

Sungguh luar biasa, ketika Tuhan memanggil Ananias, dia langsung menjawab,
Ini aku, Tuhan!”

Ananias senantiasa Siap, hingga saat Tuhan memanggilnya, dia sudah ready.
Wow… Ini sikap yang luar biasa.

Sementara sebagian besar dari kita selalu sibuk dengan berbagai hal ‘penting’ berkaitan dengan kebutuhan hidup masing-masing, Ananias senantiasa berjaga-jaga, awas dan fokus pada Tuhan.

Tugas Ananias adalah mendoakan Paulus yang buta setelah mengalami perjumpaan pribadi di jalan dengan Tuhan, saat dia tengah menganiaya jemaat Tuhan.
Setelah didoakan Ananias, selaput yang menutupi mata Paulus gugur dan dia bisa melihat kembali. Ananias pula yang membaptis Paulus.

Yang tercatat dalam Alkitab, hanya itu pelayanan Ananias. Tetapi betapa dahsyatnya pelayanan Ananias ini, dia dipakai Tuhan untuk melayani Paulus yang menulis 13 surat atau 1/3 Alkitab Perjanjian Baru.

Pelayanan Ananias ini penting dan signifikan sekali.
Di mata Tuhan, tidak kalah pentingnya dibandingkan pelayanan Paulus, meski Paulus jauh lebih terkenal.

Terbukti bagi Tuhan bukan banyaknya pelayanan atau apa yang kita kerjakan yang terpenting. Melainkan seberapa baik kita melekat dan menyerap dari Allah.
Satu pelayanan dengan kekuatannya Allah akan berdampak lebih dahsyat daripada seribu pelayanan yang mengandalkan kekuatan kita sendiri.
Diluar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Andrew menekankan, ketika seseorang yang disertai Tuhan masuk ke dalam satu ruangan, atmosfir ruangan itu langsung berubah.
Saat Tuhan hadir, atmosfir berubah.
Kehadiran Allah itu nyata.

Bukan banyaknya pelayanan atau jemaat yang hadir yang menjadi tolok ukur, tetapi seberapa banyak kehidupan yang diubahkan sehingga menyerupai Allah yang penting.

Allah berdiam sempurna di dalam roh kita. Tetapi kerap pikiran, emosi dan kehendak kita menghalangi kuasa Allah terpancar melalui hidup kita.
Hanya pembaharuan pikiran yang selaras dengan firman Tuhanlah yang memungkinkan kita memancarkan karakter Allah melalui hidup kita.
Being living sacrifice (menjadikan diri kita persembahan yang hidup bagi Tuhan) jauuuh Lebih Penting daripada Doing (apa yang kita lakukan) mau pun Having (apa yang kita miliki).

Belajar sama-sama yuuuk…

Therefore I exhort you, brothers and sisters, by the mercies of God, to present your bodies as a sacrifice – alive, holy, and pleasing to God – which is your reasonable service. Do not be conformed to this present world, but be transformed by the renewing of your mind, so that you may test and approve what is the will of God – what is good and well-pleasing and perfect.

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Boundaries ….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Boundaries ….

“Thanks for your love and continuous support. I am a blessed wife, woman, mother and mother in laws,” ujar B. Linda Rahardjo,
Tugas orang tua terhadap anak :
1. Memberi nama.
2. Mendidik.
3. Menikahkan.
*SELESAI!*
4. Mendoakan anak dan cucu seumur hidupku. Sampai dipanggil Tuhan. (Bonus)
Sekarang sisa hidup ini. Belajar jadi wanita bijak sesuai kehendak Tuhan.
Kita melahirkan anak untuk dilepaskan.
Yg tak boleh dilepaskan hanya doa-doa  kita. Itu yang bernilai kekekalan. Benar ga ya?”

Dr. Paulus dan B. Linda Rahardjo adalah pasangan pemimpin yang menjadi panutan bagi saya. Harmonis, cinta Tuhan, sukses, anak-anaknya berprestasi luar biasa dan hidup mereka sungguh-sungguh memberi dampak positif dalam pekerjaan mau pun komunitas.
Jawaban ini sebagai balasan saat saya chat mengucapkan Happy Wedding Anniversary.

Apakah kebetulan?
Saya yakin tidak!
Tuhan sedang berbicara dan mengajar saya melalui chat beliau.
Saya pun merenung.

Anak dilahirkan untuk dilepaskan.
Anak itu titipan Tuhan. Dia tidak bisa memilih siapa ortunya, demikian juga sang ortu tidak bisa memilih siapa anaknya.
Tentunya Tuhan tahu mana yang paling pas untuk keduanya. Ada tujuan tertentu, mengapa Tuhan mengatur demikian.

Anak diberi nama, dididik sesuai dengan pengertian sang ortu. Tidak ada ortu yang sempurna. Keduanya saling belajar dan dibentuk dalam perjalanan hidup baik ortu mau pun sang anak.

Setelah anak menikah, dilepaskan. Tugas orangtua tinggal mendoakan hingga ajal menjemput.
Anak telah mendirikan negaranya sendiri, negara yang merdeka.
Cara saya berhubungan, tidak lagi ibu dengan anak, melainkan antar negara.

Bagaimana dengan cucu?
“Itu milik negara lain. Kita bisa memberikan usulan dan pendapat, tetapi keputusan di tangan mereka.
Jangan pernah merasa cucu itu milik kita. Itu bukan ranah kita,” ujar Rosita sahabat saya kerap memberi nasihat.

Hhhmmm Tuhan baik, mengirim banyak mentor untuk saya.

Boundaries (batas-batas alias pagarnya) menjadi jelas sekarang.
Boundaries yang jelas, menghindarkan kita dari ribuan pertempuran yang tidak perlu.
Thanks Ci Linda & Rosita!
Saya belajar.

*****
Prinsip anak bukan milik kita, pertama saya dengar saat mengikuti seminar Mother Wise.
Cukup mengagetkan para peserta karena sebagai orang Asia, sudah menjadi kewajiban anak untuk memelihara dan merawat orangtuanya di masa tua.
Itu tanda bakti sang anak.

Baik pengajaran leluhur mau pun firman Tuhan mengajarkan, ada berkat (hoki) tersendiri untuk anak yang berbakti.

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu, merupakan salah satu perintah dalam 10 Perintah Allah.

Tinggal di Panti Jompo, merupakan ketakutan dari beberapa teman.
Dan sebagian menganggap anaknya durhaka jika tidak bersedia merawat orangtuanya di masa tua.

“Menurut Bu Yenny bagaimana?”, tanya seorang teman.

“Saya tidak tahu bu… Saya bukan Tuhan. Kadang kita begitu sibuknya memikirkan apa yang mungkin terjadi di masa depan, sementara apa yang akan terjadi 1 jam lagi saja, kita tidak pernah tahu.”

Selama masih mampu mandiri, kami memilih hidup mandiri. Idola saya Bu Magdalena Sukartono. Meski sudah berusia 80 tahun masih aktif bersosmed, cerdas, sehat, kreatif dan menjadi motivator terkenal. Masih menjadi pendamping beberapa perusahaan besar. Hidup sendiri secara mandiri bersama Ling Ling anjingnya.

Saat sepuh dan butuh pertolongan, tentu saya lebih senang jika ada anak yang bersedia merawat. Tetapi kalau tidak pun, saya percaya, itu yang terbaik bagi saya.

Di Panti Jompo yang bagus, mereka senang koq hidup dengan teman-teman segenerasinya.
Sahabat saya, Vannessa, melayani di Panti Jompo di Belgia. Mereka diperlakukan dengan baik, penuh kasih dan dihormati. Terlebih Vannessa memang pelayan Tuhan yang penuh kasih dan peduli.

Saya meminta kepada Tuhan, jangan sampai hidup saya merepotkan siapa pun. Tidak ingin berhutang budi juga.

Hidup saya ada di tangan Tuhan. Sejak muda saya sudah mengikut Tuhan dan saya percaya, Allahku mengasihi saya lebih daripada saya bisa mengasihi diri saya sendiri.
Dia sudah berjanji, merancanglan bagi saya, hari depan yang penuh harapan.
Dan saya percaya.

Sepanjang hidup saya berusaha taat dan menabur berbagai benih kasih dan kebaikan baik dalam hidup anak-anak, keluarga, teman dan orang-orang yang saya kenal, semampu saya dan sesuai dengan pengertian saya pada saat itu. Sempurna? Tentu tidak! Tetapi Tuhan tahu sikap dan ketulusan hati saya.

Dan saya selalu percaya, apa yang saya tabur, itulah yang saya tuai. Termasuk saya berusaha konsisten menulis Seruput Kopi Cantik, sebagai benih inspirasi kebaikan yang saya tabur selama bertahun-tahun.

Saya senang sekali dengan komentar Novi yang sangat bijak,
“Aku bilang ke anak tunggalku, papi mami tidak akan membebani kamu harus memelihara kami. Papi mami akan hidup sendiri setelah kamu menikah. Kami juga sudah membeli asuransi kesehatan agar tidak membebani kamu kelak. Kalau perlu, Papi mami tidak keberatan jika harus tinggal di Panti Jompo. Tentunya dengan harapan panti jompo yang nyaman seperti di luar negeri.”

Kembali saya belajar…

Hidup itu bukan saya yang mengatur. Saya bukan Tuhan.

Yang bisa saya lakukan adalah hidup berhikmat.
Saya percaya kesembuhan Tuhan, tetapi saya tetap menyiapkan asuransi kesehatan, sebagai payung.
Menabung agar bisa mencukupi kebutuhan hingga akhir hayat nanti.
P. Indra dan saya berusaha semaksimal mungkin menyiapkan masa depan yang terbaik, agar jangan sampai saat meninggal nanti, meninggalkan berbagai beban yang memberatkan anak-anak dan keluarga.
Terus menerus belajar dan berkarya, agar setidaknya saat kami sudah tidak di dunia ini, mereka punya kebanggaan tersendiri menjadi keturunan kami.

*Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka.*

Saya selalu bangga menjadi anak papa dan mama saya dan menjadi menantu dari ortu P. Indra.
Ke mana pun kami pergi, berbagai kesaksian bagaimana papa-papa kami menolong orang lain. Mama- mama yang murah hati senang berbagi.
Itu menjadi teladan kami.

Hidup hanyalah meresponi secara positif apa pun yang disodorkan oleh kehidupan.
Ketika hidup memberimu jeruk, buatlah limun, demikian quotes Zig Ziglar.

Saya tidak sibuk memikirkan yang nun jauh di sana.
Tugas saya memastikan setiap langkah hidup saya setiap hari,  betul-betul mengikuti arahan Tuhan dan mengerjakan yang terbaik sesuai kehendak-Nya.
Saya yakin dan beriman, saya akan berada di tempat yang terbaik dan menjadi pribadi terbaik yang menggenapi rancangan-Nya dalam hidup saya.

I do my best and God will do the rest.
Itulah kesuksesan yang sejati!

Bagaimana pendapat Anda?

Your call will become clear as as your mind is transformed by the reading of Scripture and the internal work of God’s Spirit. The Lord never hides His will from us. In time, as you obey the call first to follow, your destiny will unfold before you. The difficulty will lie in keeping other concerns from diverting your attention. – Swindoll Charles R.

Panggilan hidup kita menjadi jelas ketika pikiran kita diubahkan selaras dengan  firman Tuhan dan pekerjaan internal Roh Allah.  Tuhan tidak pernah menyembunyikan kehendak-Nya dari kita.  Pada waktunya, saat kita mendahulukan, mematuhi dan mengikuti panggilan-Nya, takdir akan terbentang di hadapan kita.  Kesulitannya adalah menjaga agar perhatian kita tidak teralihkan pada hal yang lain. – Swindoll Charles R.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 228 229 230 231 232 416