Articles

Menikmati Hidup, Itu Juga Ibadah….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menikmati Hidup, Itu Juga Ibadah….

Entah mengapa, kita sering merasa bersalah ketika sedang tidak produktif.

Duduk menikmati kopi terasa membuang waktu. Tidur siang dianggap malas. Liburan terlalu lama membuat kita mulai berpikir, “Seharusnya saya mengerjakan sesuatu.”

Apalagi orang yang terbiasa hidup aktif. Belajar, bekerja, melayani, menolong orang, mengejar target. Diam sebentar saja rasanya tidak nyaman.

Padahal saya semakin belajar bahwa beristirahat dan menikmati berkat Tuhan pun merupakan bagian dari ibadah.

Tuhan tidak menciptakan kita menjadi mesin produktivitas.

Ada waktu bekerja, ada waktu berhenti. Ada waktu menabur, ada waktu menikmati hasilnya. Ada waktu belajar dan berdoa, tetapi ada juga waktu tertawa bersama keluarga, jalan-jalan, makan enak, menikmati alam, tidur cukup, bahkan sekadar duduk tanpa melakukan apa-apa.

John Piper berkata,
“God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.”

“Tuhan paling dimuliakan di dalam kita ketika kita merasa paling dipuaskan di dalam Dia.”

Saya teringat kisah Ed Dufresne, seorang pengajar yang terkenal dengan pelayanan kesembuhan. Ketika ia didiagnosis kanker, ia bertanya kepada Tuhan, “Why?”

Menurut kesaksian yang kemudian diceritakan Nancy Dufresne, istrinya, Ed menyadari ada hal yang harus dikoreksi dalam kehidupannya. Ia bertobat dan melakukan penyesuaian. Ia percaya Tuhan mengatakan bahwa kanker itu akan hilang dalam tiga puluh hari. Pada hari ke-28 ia kembali diperiksa dokter, dan kanker itu sudah tidak ditemukan.

Ada pelajaran menarik dari kisah keluarga Dufresne ini. Nancy juga pernah menceritakan seseorang yang bekerja begitu keras hingga tubuhnya terkuras. Setelah mengalami kesembuhan supernatural, orang itu kembali kepada pola hidup lamanya tanpa melakukan koreksi, kemudian kembali sakit. Pesannya sederhana: kesembuhan bukan alasan untuk terus memperlakukan tubuh dengan cara yang salah.

Ini membuat saya berpikir.

Saya membaca kisah banyak tokoh iman yang luar biasa. Mereka percaya kesembuhan. Mereka mendoakan orang sakit dan menyaksikan berbagai mujizat. Tetapi sebagian dari mereka sendiri pernah bergumul dengan masalah kesehatan. Smith Wigglesworth, misalnya, dikenal sangat kuat dalam pelayanan kesembuhan, tetapi ia sendiri pernah mengalami batu ginjal berat selama bertahun-tahun.

Jadi iman tidak berarti kita boleh mengabaikan tubuh.
Tubuh kita adalah mortal body, tubuh yang fana.

Tubuh membutuhkan makanan, air, tidur, gerak, pemulihan dan istirahat secara natural. Percaya kepada kuasa Tuhan dan memelihara tubuh bukan dua hal yang bertentangan.

Saya juga tidak berani menyimpulkan bahwa setiap orang yang sakit pasti kurang tidur, stres, atau terlalu sibuk. Itu terlalu sederhana dan tidak adil. Penyakit mempunyai banyak faktor.

Tetapi satu hal jelas: tubuh mempunyai batas yang perlu dihormati.

Kadang kita begitu sibuk mengejar sesuatu yang berikutnya sampai lupa menikmati apa yang sudah Tuhan berikan.

Sudah punya keluarga, tidak sempat menikmatinya.
Sudah punya rumah, jarang duduk santai di dalamnya.
Sudah punya kesempatan traveling, tetapi sepanjang perjalanan masih sibuk bekerja.
Sudah diberkati, tetapi tidak pernah merasa cukup untuk berhenti dan berkata, “Terima kasih Tuhan. Hidup ini indah.”

Mungkin kita perlu mengubah cara berpikir.

Menikmati berkat bukan berarti kita materialistis.
Beristirahat bukan berarti malas.
Berlibur bukan berarti kehilangan tujuan.
Tidur cukup bukan berarti kurang beriman.
Semuanya bisa menjadi ungkapan syukur ketika dilakukan dengan hati yang benar.

Tuhan tidak hanya senang melihat kita menghasilkan sesuatu. Saya percaya Dia juga senang ketika kita menikmati dengan penuh syukur apa yang telah Dia berikan.

Jadi bekerjalah dengan excellent. Kejar mimpi. Terus belajar. Berdoa. Berkarya. Jadilah berkat.

Tetapi tahu kapan harus berhenti.

Tidurlah.

Tertawalah.

Traveling-lah.

Nikmati makanan.

Nikmati keluarga dan sahabat.

Nikmati hari yang Tuhan berikan.

Karena kehidupan bukan hanya sesuatu yang harus kita selesaikan.

Kehidupan adalah pemberian yang juga perlu kita nikmati.
Apalagi di usia saya…. itulah sebabnya liburan bersama teman-teman atau keluarga, sesuatu yang penting.

Dan mungkin salah satu bentuk syukur yang paling indah adalah ketika kita bisa berhenti sejenak, tersenyum, lalu berkata,

“Tuhan, terima kasih. Hari ini saya tidak sedang mengejar apa-apa. Saya hanya sedang menikmati kebaikan-Mu.”

Ternyata, beristirahat dengan penuh syukur pun bisa menjadi ibadah.

“You must ruthlessly eliminate hurry from your life.”You must ruthlessly eliminate hurry from your life.” – Dallas Willard

“Kita harus dengan sungguh-sungguh menyingkirkan ketergesa-gesaan dari hidup kita.” – Dallas Willard

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Apa gunanya memiliki begitu banyak berkat kalau kita terlalu sibuk untuk menikmatinya?”

“What is the point of having so many blessings if we are too busy to enjoy them?” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Serenity Prayer
“Kekuatan Penglihatan – Vision”
Di Mana Kita Mencari Kunci Yang Hilang?