Maya Angelou & Oprah Winfrey: Ketika Masa Lalu Berusaha Membungkammu…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Maya Angelou & Oprah Winfrey: Ketika Masa Lalu Berusaha Membungkammu…
Beberapa waktu lalu saya membaca buku “I Know Why the Caged Bird Sings” karya Maya Angelou.
Saya akhirnya mengerti mengapa buku ini begitu mengubah hidup Oprah Winfrey.
Maya Angelou mengalami pelecehan seksual saat masih berusia delapan tahun.
Sesudah kejadian itu terungkap, pelakunya dipenjara. Tidak lama kemudian ia meninggal. Maya kecil lalu menarik sebuah kesimpulan yang keliru.
“Perkataankulah yang menyebabkan dia mati.”
Seorang anak berusia delapan tahun tentu belum mampu memahami rumitnya hidup orang dewasa.
Yang ia tahu hanyalah satu hal.
Suaraku berbahaya.
Karena itulah Maya memilih diam.
Bukan sehari.
Bukan seminggu.
Hampir lima tahun.
Bayangkan menjadi seorang anak yang hidup dalam ketakutan setiap hari. Ingin tertawa tetapi takut. Ingin bercerita tetapi tidak berani. Ingin dipercaya tetapi merasa dirinya kotor. Ingin hidup normal tetapi terus dihantui rasa malu.
Banyak orang mengira luka terbesar dari pelecehan adalah kejadian itu sendiri.
Padahal sering kali yang lebih menyakitkan adalah apa yang terjadi setelahnya.
Korban mulai kehilangan rasa aman.
Sulit mempercayai orang.
Mudah menyalahkan diri sendiri.
Merasa tidak berharga.
Merasa rusak.
Bahkan ada yang bertahun-tahun terus bertanya,
“Kalau saja waktu itu aku…”
Padahal sesungguhnya mereka bukan pelakunya.
Mereka adalah korbannya.
Yang membuat saya terharu, titik balik hidup Maya bukan dimulai dari terapi yang rumit.
Bukan pula dari seseorang yang memberinya ceramah panjang.
Melainkan dari seorang wanita bernama Mrs. Bertha Flowers.
Mrs. Flowers tidak memaksa Maya berbicara.
Ia tidak berkata,
“Sudahlah… lupakan saja.”
Ia juga tidak berkata,
“Kamu harus kuat.”
Sebaliknya, ia membangun sesuatu yang mungkin sudah lama hilang dari hidup Maya.
Rasa aman.
Ia mengajak Maya membaca buku.
Membacakan puisi.
Mengobrol tentang banyak hal.
Perlahan-lahan, Maya mulai menemukan kembali suaranya.
Bukan hanya suara untuk berbicara.
Tetapi suara untuk hidup.
Bertahun-tahun kemudian, Maya Angelou menjadi salah satu penulis dan pembicara paling berpengaruh di dunia.
Ironisnya, perempuan yang pernah memilih diam selama lima tahun, sekarang justru dikenal karena kata-katanya.
Kisah Maya kemudian dibaca oleh jutaan orang, termasuk Oprah Winfrey.
Oprah pernah mengalami luka masa kecil yang hampir serupa. Dilecehkan banyak orang bahkan memiliki anak di usia 14 tahun dan meninggal.
Saat membaca buku Maya, ia berkata bahwa untuk pertama kalinya ia merasa ada seseorang yang benar-benar memahami apa yang ia rasakan.
Ia tidak lagi merasa sendirian. Lalu mereka bersahabat.
“Ubahlah luka-lukamu menjadi hikmat,” ujar Oprah Winfrey, presenter televisi, penulis, dan filantropis yang menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.”
Saya belajar sesuatu dari dua wanita luar biasa ini.
Orang yang terluka tidak selalu membutuhkan jawaban.
Sering kali mereka lebih membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal.
Yang mau mendengar tanpa buru-buru menyimpulkan.
Yang tidak memaksa mereka segera pulih.
Yang tidak menghakimi ketika mereka menangis.
Yang tidak berkata, “Kamu harus move on.”
Karena luka tidak sembuh oleh tekanan.
Luka sembuh ketika seseorang kembali merasa aman.
Ketika ia kembali percaya bahwa hidupnya masih berharga.
Ketika ia mulai berani berharap lagi.
Kalau hari ini di sekitar kita ada seseorang yang membawa luka seperti ini, mungkin kita tidak memiliki semua jawaban.
Tidak apa-apa.
Kadang kehadiran yang tulus jauh lebih menyembuhkan daripada seribu kalimat yang terdengar bijaksana.
Mungkin yang mereka butuhkan bukan orang yang paling pandai berbicara.
Melainkan seseorang yang mau duduk di samping mereka, mendengarkan tanpa menghakimi, dan dengan sabar mengingatkan bahwa masa lalu tidak harus menjadi akhir cerita.
Maya Angelou dan Oprah Winfrey tidak dapat mengubah masa lalu mereka. Tetapi mereka membuktikan bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan.
Saya percaya, inilah pengharapan yang Tuhan berikan kepada kita. Bukan berarti semua yang terjadi itu baik, tetapi Tuhan sanggup bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.
Apa yang dimaksudkan si jahat untuk melukai kita, di tangan Tuhan dapat menjadi kesaksian. Dan apa yang pernah membuat kita kehilangan suara, di tangan Tuhan dapat berubah menjadi suara yang membawa pengharapan bagi banyak orang.
“When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.”- Viktor Frankl
“Ketika kita tidak lagi mampu mengubah suatu keadaan, tantangannya adalah mengubah diri kita sendiri.” – Viktor Frankl
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
