Articles

Investasi Rugi, Salahnya Tuhan?*

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Investasi Rugi, Salahnya Tuhan?

Di sekolah, dalam group discussion seorang teman bercerita, beberapa temannya kehilangan uang karena robot trading yang konon diprakarsai oleh sebuah institusi keagamaan. Leadernya yang mengajak mereka ikut. Awalnya senang, untungnya gede. Tapi saat raib, mereka kecewa.

Dan repotnya, saat yang ‘mengajak’ itu leader dari sebuah institusi keagamaan maka Tuhan ikut ‘dibenci dan disalahkan’.
Kita cenderung ‘menyamakan’ leader, pemimpin agama, orang yang mengaku beragama tertentu, dengan Tuhan.

“Ngakunya orang beragama…., koq kalau marah melebihi orang yang gak kenal Tuhan,” seorang teman tersinggung.

Padahal kita semua ini masih manusia biasa, bukan malaikat.
Dari pengalaman pribadi, saya merasakan, saat hubungan dengan Tuhan beres, saya cenderung lebih sabar. Tapi ketika jauh dari Tuhan, tidak jarang karakter lama menggoda, jauh lebih emosian.

Demikian pula soal uang dan investasi.
Kita sendiri yang ambil keputusan, terima keuntungannya, koq giliran rugi, Tuhan yang disalahkan?

Akhirnya setelah jatuh bangun, trial & error, saya mengambil keputusan: apa pun yang terjadi, untung or rugi, itu tanggung jawab saya!

Leader boleh membujuk, tapi sesungguhnya kita memang setuju, maka transfer uangnya. Kalau mau untungnya, ya mesti mau resikonya juga.

****
Sekian tahun lalu, saya belajar dari buku Anthony Robbins, T. Harv Eker dll cara mengatur keuangan.
Kalau ada uang lebih, mau berinvestasi itu dibagi.

Misal uang yang mau diinvestasikan itu 100, begini cara mengaturnya.

Berapa uang yang berani kita investasikan untuk yang high risk?
High Risk, resiko tinggi, tentu high return. Untungnya gede. Tapi kalau hilang, ya relakan. Jangan sampai mengganggu perekonomian keluarga, apalagi bisnis kita.

Kemudian tentukan berapa yang medium risk?
Medium tentu untungnya tidak sebesar yang high risk. Resiko kelas menengah.

Sisanya taruh di Low Risk, seperti deposito, tabungan dll. Kalau banknya bagus, super aman. Tapi bunganya keciiil, bisa lebih rendah dari inflasi. Duit kita menyusut tanpa disadari.
Tabungan sewaktu-waktu bisa diambil. Deposito tunggu jatuh tempo. Kadang saya lebih suka money market, setara deposito, pencairan bisa sewaktu-waktu, butuh 3 hari kerja.

Penting kita punya tabungan, asuransi dll. Saat ada kebutuhan mendesak, gak perlu ‘gedor-gedor pintu surga.’
Yang lebih penting lagi, Andrew Wommack mengajarkan, kita harus punya ‘rumah perbendaharaan alias tabungan’ agar Tuhan bisa memberkati kita.

Anthony Robbins memberi contoh, yang high risk 10.
Medium risk, 20 lalu sisanya Low risk 70.
Saat  yang high risk uang sebesar 10 ini ada keuntungan misal 2, jadi 12, yang 2 cepat-cepat diambil, dimasukkan ke low risk.
Demikian juga yang medium risk, saat ada keuntungan, segera ambil dan masukkan ke low risk.
Jadi resikonya tetap sama.

Yang sering terjadi, saat lihat keuntungannya besar, semua uang yang dimiliki, langsung dipindahkan ke high risk. Begitu habis, ludes semuanya.
Sejujurnya, ini lebih gampang diceritakan daripada dipraktekkan.

*****
Pada suatu hari minggu sekitar tahun 2005 – 2006, saya bertemu dengan Ani. Sebelumnya Ani pernah ikut investasi Seven Diamonds yang marak waktu itu, dan rugi. Karenanya, ketika ramai SwissCash, Ani menolak ikut.

Saya minta saran Ani. “Terserah”, sambil menceritakan pengalamannya.
Ketika itu P. Indra menyuruh saya hari Senin, transfer ikut Swisscash. Sungkan terus menerus dibujuk temannya.
“Ikut sedikit gapapa… Semua teman ikut lho, tinggal P. Indra.”

“Ci Yenny, Pendeta A dan jemaatnya juga ikut lho…” teman ini membujuk saya juga.

Tidak sedikit orang-orang yang memanfaatkan tokoh-tokoh agama untuk memuluskan bisnisnya.
Bangga sekali dengan Greg Mohr, guru saya di Charis, yang menolak tegas ‘persembahan’ mau pun namanya dimanfaatkan oleh orang-orang seperti itu, yang berusaha memanfaatkan nama Tuhan untuk kepentingan pribadi.
Dunia penuh godaan, butuh keteguhan hati untuk bisa berdiri diatas kebenaran–Nya.

Hari itu P. Surnarmo yang kotbah.
“Haregene di jaman modern seperti ini, masih ada orang yang percaya, uang bisa beranak besar-besaran tanpa bekerja…”

Pulang gereja, Ani langsung berkomentar,
“Itu lho… Langsung dijawab Tuhan…”

Kami pun selamat dari Swisscash. Batal transfer.
Apakah Tuhan selalu menyelamatkan dengan cara Supernatural seperti itu? Gak juga.

Tuhan ingin saya berhikmat, belajar dan tidak serakah. Apalagi saat itu pertumbuhan rohani saya belum seperti sekarang. Mudah tergiur untung besar, bahkan tidak bertanya dulu pada Tuhan, ini oke or tidak.

Jiwasraya saya ikut investasi juga. Untung gak besar. Orang Jawa itu gak pernah gak untung… Sudah rugi masih bisa bilang untung. Padahal itu punya pemerintah. Ya dikembalikan sich, dicicil dan lama. Daripada pusing saya pilih kembali secepatnya meski rugi.

****
Ada teman yang japri diskusi tentang investasi, setelah saya post artikel:

Tentu artikel ini bukan untuk yang jago di bidang keuangan tapi mungkin bisa membantu ibu-ibu seperti saya…

“Chris mama mau invest….. Oke ga?”

“Pokoknya gampang. Terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) ga? Kalau ga, gak usah! Jika tiba-tiba hilang, mau cari kemana? Investasi itu ambil bond pemerintah saja. Memang bisa naik turun. Mama ngerti kan, bond itu ada jatuh temponya. Kalau rugi ya diemin. Tunggu sampai jatuh tempo akan balik 100% lagi.”

Saya pegang prinsip itu. Dibantu juga oleh Relationship Manager (RM) beberapa bank. Saya lihat, yang hasilnya oke, simpan lebih besar di sana.
Reksadana ya pilih yang isinya perusahaan blue-chip.
Pilih bond yang jatuh temponya gak lama, biasa naik turunnya tidak terlalu drastis.

Semua gak ada yang pasti di dunia ini.
Saya bukan tipe yang berani… Pilih untung gak usah terlalu besar tapi aman. Enak makan enak tidur.
Pernah juga meski bond pemerintah, akhirnya cut-loss, jual rugi karena trendnya turun terus. Ngeri saya…. Jatuh temponya lama pula.
Sebel juga sama RM yang menyarankan ambil bond seri tersebut, ternyata rugi.

Akhirnya saya belajar, gak bisa menyalahkan orang lain. Itu sepenuhnya tanggungjawab saya sendiri.
Selama kita tidak mau mengakui kesalahan dan bertobat, artinya berbalik dari jalan yang salah dan mengubah pola pikir yang salah, kita akan stagnan, mandeg, jalan di tempat.
Jika bertobat, baru Tuhan bisa menolong kita.

Di dalam doa dan perenungan, saya mendapat pengertian baru,
Duit/harta itu kalau mau datang, gak ada yang bisa menghalanginya. Demikian pula, saat mau hilang, bisa hilang dalam sekejap.
Karena itu hati jangan melekat pada harta, karena sumber berkat kita yang sejati itu Tuhan sendiri.
Saya belajar jangan sampai semua itu membuat hidup saya tidak bahagia, stress dll. Itu menjadi penyebab berbagai penyakit.
Selama saya bersama dengan Tuhan, semua akan baik-baik saja.

Semakin dekat dengan Tuhan, makin banyak menyimpan firman Tuhan, hidup makin tenang dan Tuhan pertemukan dengan orang-orang baik dan tepat.
Teringat quotes ini:

When you flow with The Lord, you will find all things fall into place.

Ketika Anda mengalir dengan Tuhan, Anda akan menemukan segala sesuatu jatuh pada tempat yang seharusnya.

Bagaimana pendapat Anda?

“A wise person should have money in their head, but not in their heart.” Jonathan Swift.

Orang bijak seharusnya memiliki uang di kepala mereka, tetapi tidak di hati mereka.”  Jonathan Swift.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Tawanan Perang.”
Mungkinkah Mentaati Seluruh Perintah Allah?
TIPS BERTEMAN