Articles

Di Negeri Beruang Kutub dan Gudang Harapan Dunia

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Negeri Beruang Kutub dan Gudang Harapan Dunia

Pagi ini saya kembali terbangun di Longyearbyen, Svalbard.
Masih sulit dipercaya bahwa saya berada di hampir 78° lintang utara, begitu dekat dengan Kutub Utara.

Yang paling menarik adalah Midnight Sun di sini ternyata berbeda dengan yang kami alami di Lofoten.
Di Lofoten, langit memang terang sepanjang malam. Tetapi cahayanya lembut.

Di Svalbard berbeda.

Jam 9 malam, matahari masih bersinar terik seperti jam 12 siang di Indonesia.
Terang benderang.
Seolah-olah matahari lupa, ini sudah waktunya pulang.

Tubuh berkata malam.
Tetapi mata berkata siang.
Rasanya aneh sekaligus mengagumkan.

Pagi itu kami memulai city tour menyusuri alam liar Svalbard.

Pemandangan pertama yang menyambut kami adalah burung-burung Arctic yang beterbangan rendah di atas tundra.
Tidak lama kemudian kami melihat rusa kutub Svalbard (reindeer) sedang berjemur santai.
Sebagian berjalan di lereng gunung.
Sebagian lagi sibuk mencari makan di antara rerumputan pendek.
Sesekali kami juga melihat Arctic Fox, rubah kutub yang berlari cepat melintasi hamparan tanah yang luas.

Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian saya.
Semua guide membawa senapan.
Bukan satu.
Semua.
Awalnya saya mengira itu hanya formalitas.
Ternyata tidak.
Di luar kawasan kota, beruang kutub bisa muncul kapan saja.

Karena itulah sebelum kami turun dari kendaraan, guide selalu turun lebih dahulu.

Mengamati keadaan sekitar.
Barulah pintu dibuka dan kami diperbolehkan keluar.
Bahkan kami diminta tetap berjalan berkelompok.

Di Svalbard, manusia selalu diingatkan bahwa alam masih menjadi penguasa sesungguhnya.

Yang juga menarik adalah tanah yang kami injak.
Sekilas tampak biasa.
Tetapi ternyata tidak.
Tanah itu disebut tundra.
Saat musim panas, lapisan atasnya mencair sehingga terasa lembek ketika diinjak.

Namun beberapa sentimeter di bawahnya masih terdapat permafrost, lapisan tanah yang membeku permanen sepanjang tahun.
Saat musim dingin, daerah yang sama tertutup salju tebal selama berbulan-bulan.

Karena itulah kehidupan di sini tidak mudah.
Rusa-rusa kutub harus menggali salju untuk menemukan rumput yang tersembunyi di bawahnya.

Dalam perjalanan kami bahkan menemukan tulang-belulang seekor rusa yang mati secara alami sekitar dua tahun lalu.

Masih tergeletak di alam terbuka.
Tidak dipindahkan.
Tidak dibersihkan.

“From nature, back to nature,” kata Fernando.

Dari alam, kembali ke alam.

Bagian tubuhnya telah dimanfaatkan hewan-hewan lain dalam rantai kehidupan Arctic.
Tidak ada yang terbuang.
Alam memanfaatkan semuanya.

Menjelang siang kami berhenti di sebuah tenda sederhana untuk makan siang.
Menu yang tersedia cukup praktis.
Aneka nasi instan berbumbu, pasta, dan makanan siap saji khas outdoor.

Lucunya, kami menambahkan teri yang dibawa dari Indonesia.
Dan ternyata…
Enak juga!

Kami tertawa sambil berfoto memegang makan siang masing-masing.

Setelah itu kami menuju salah satu tempat paling penting di dunia:
Svalbard Global Seed Vault.

Banyak orang menjulukinya sebagai Bank Benih Dunia.
Atau Doomsday Vault.
Gudang harapan umat manusia.

Di sinilah lebih dari 1,3 juta sampel benih dari seluruh dunia disimpan pada suhu sekitar minus 18 derajat Celsius, jauh di dalam gunung.

Padi dari Asia.
Jagung dari Amerika.
Gandum dari Eropa.
Dan ribuan tanaman pangan lainnya.

Saya sangat tersentuh ketika mendengar tujuan tempat ini.
Benih-benih itu disimpan sebagai cadangan jika suatu hari terjadi perang, bencana alam besar, perubahan iklim ekstrem, atau kehancuran pertanian di suatu negara.

Dengan kata lain, ketika dunia kehilangan masa depannya, dunia masih memiliki salinannya di Svalbard.

Betapa luar biasanya.
Di tempat yang tampak tandus.
Di tempat yang hampir tidak memiliki pohon.
Di tempat yang begitu dingin dan terpencil.
Dunia justru menyimpan harapannya.

Bukankah itu sangat mirip dengan cara Tuhan bekerja?
Sering kali Dia menyimpan hal-hal paling berharga di tempat yang tidak pernah kita duga.

Sebelum kembali ke kota, kami berhenti di sebuah rambu terkenal bergambar beruang kutub.

Di bawahnya tertulis:
“Gjelder hele Svalbard.”

Artinya:
“Berlaku untuk seluruh Svalbard.”

Bukan hanya kawasan tertentu.
Bukan hanya tempat wisata.
Tetapi seluruh kepulauan Svalbard.
Rambu itu seperti pengingat bahwa kita hanyalah tamu.
Alam Arctic adalah tuan rumahnya.

Dalam perjalanan pulang saya sempat bertanya kepada Fernando dan Lorenzo.

“Apakah kalian tidak bosan tinggal di Svalbard yang sepi seperti ini?”

Mereka saling tersenyum.

“Never.”

Lalu Fernando berkata,
“Di sini hidup lebih sederhana. Orang belajar menikmati apa yang benar-benar penting.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Mungkin itulah pesona Svalbard.
Bukan sekadar gunung salju.
Bukan sekadar beruang kutub.
Bukan sekadar Seed Vault.
Tetapi ketenangan yang membuat kita kembali menyadari apa yang benar-benar penting.

Semakin lama berada di sini, semakin saya sadar bahwa tempat ini bukan sekadar destinasi wisata.

Ini adalah pengingat bahwa dunia yang Tuhan ciptakan jauh lebih besar, lebih unik, dan lebih menakjubkan daripada yang pernah kita bayangkan.

Di tempat yang paling dingin sekalipun, Tuhan tetap menyimpan harapan.

Sungguh luar biasa….

“Hva var det slags liv, dette bak disken? Nei, det var her i mørket og kulden, i ensomheten og den uendelige stillheten, at jeg fant det egentlige livet.” – Henri Rudi.

“Kehidupan macam apa itu di balik meja toko? Tidak, justru di sini, di dalam kegelapan dan kedinginan, dalam kesendirian dan keheningan yang tak bertepi, aku menemukan kehidupan yang sebenarnya” – Henri Rudi tentang Svalbard.

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Pikiran Apa Yang Melintas Di Kepala Kita?
Ketika Doa Berubah, Jawaban Itu Terlihat.
DECISION & DESTINY