TIDUR BUKAN MEMBUANG WAKTU
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
TIDUR BUKAN MEMBUANG WAKTU
Beberapa hari lalu saya membaca sebuah posting yang membuat saya berhenti sejenak.
Diceritakan seorang anak muda berusia 29 tahun. Tidak minum alkohol. Tidak merokok. Rajin gym tiga kali seminggu. Berat badan normal. Kolesterol dan tekanan darahnya disebut normal.
Kelihatannya sehat sekali.
Suatu pagi, tangan kanannya tidak bisa digerakkan. Bicaranya mulai pelo dan pandangannya kabur.
Dibawa ke rumah sakit.
Stroke.
Usianya baru 29 tahun.
Setelah berbagai pemeriksaan, menurut cerita itu dokter menanyakan satu hal yang sederhana,
“Berapa jam kamu tidur?”
“Empat sampai lima jam. Kadang kurang. Saya bangun pagi untuk latihan.”
Bertahun-tahun ia menjalani pola seperti itu.
Saya tidak tahu rekam medis orang dalam posting tersebut, sehingga tentu kita tidak bisa menyimpulkan kurang tidur sebagai penyebab pasti strokenya.
Tetapi yang membuat saya tertarik, peringatan di balik cerita itu ternyata sejalan dengan ilmu kedokteran.
American Heart Association memasukkan tidur yang sehat sebagai salah satu dari delapan komponen penting kesehatan jantung. Orang dewasa dianjurkan tidur rata-rata 7–9 jam setiap malam. Tidur yang cukup membantu proses pemulihan sel, jaringan dan pembuluh darah. Kurang tidur yang berlangsung terus-menerus berkaitan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan stroke.
Mak jleb!
Kita bisa begitu disiplin menjaga makanan.
Rajin olahraga.
Minum vitamin.
Menjaga berat badan.
Tetapi bangga berkata,
“Saya cukup tidur empat jam.”
Seolah-olah sedikit tidur adalah medali bagi orang produktif.
Padahal tubuh tidak terkesan dengan kesibukan kita.
Tubuh mempunyai hukum yang harus dihormati.
Saya jadi teringat John G. Lake, seorang tokoh iman yang luar biasa. Pelayanannya di Afrika Selatan berkembang sangat besar. Setelah bertahun-tahun menanggung beban pelayanan yang berat, catatan sejarah pelayanannya sendiri menyebut ia kembali ke Amerika dalam keadaan kelelahan secara fisik.
Iman besar tidak membuat tubuh berhenti membutuhkan istirahat.
Wow…
Kadang kita mengira beristirahat berarti kurang rajin.
Padahal Sang Pencipta merancang tubuh kita membutuhkan ritme: bekerja dan beristirahat.
Ada waktu menabur.
Ada waktu menuai.
Ada waktu berlari.
Dan ada waktu tidur.
Kita tidak perlu merasa bersalah karenanya.
Bahkan mesin mahal pun membutuhkan maintenance. Anehnya, kita rela melakukan servis rutin mobil agar mesinnya awet, tetapi tubuh sendiri dipaksa bekerja tanpa henti.
“Saya sibuk.”
“Banyak pekerjaan.”
“Masih ada yang harus diselesaikan.”
Besok lagi.
Besok lagi.
Tubuh diam.
Sampai suatu hari tubuh berbicara lebih keras.
Tentu tidur cukup bukan jaminan seseorang tidak akan pernah sakit. Orang yang hidup sangat sehat pun bisa mengalami penyakit. Jangan membalik prinsip ini lalu menghakimi orang sakit seolah-olah pasti salah menjaga tubuh.
Bukan begitu.
Pesannya sederhana: iman dan hikmat bukan musuh.
Kita percaya Tuhan sebagai sumber kesehatan, sekaligus menghormati tubuh yang dipercayakan kepada kita.
Olahraga itu baik.
Makanan sehat itu baik.
Bekerja keras itu baik.
Tetapi istirahat pun baik.
Jangan memakai produktivitas hari ini dengan cara yang diam-diam mencuri kesehatan hari esok.
Mungkin salah satu bentuk kedewasaan bukan hanya tahu kapan harus bekerja lebih keras, tetapi juga mempunyai hikmat untuk berkata,
“Cukup untuk hari ini. Besok saya lanjutkan.”
Tidurlah.
Dunia masih bisa berputar beberapa jam tanpa kita.
Dan besok pagi, kita bangun dengan tubuh yang lebih siap untuk menjalani panggilan kita dengan baik.
“Take rest; a field that has rested gives a bountiful crop.” – Ovid
“Beristirahatlah; ladang yang telah beristirahat menghasilkan panen yang berlimpah.” – Ovid
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
“Jangan begitu sibuk membangun masa depan sampai kita menghabiskan tubuh yang dibutuhkan untuk menikmatinya. Bekerja adalah hikmat, tetapi tahu kapan harus berhenti dan beristirahat juga hikmat.” – Yenny Indra
“Don’t get so busy building the future that you wear out the body you’ll need to enjoy it. Working is wisdom, but knowing when to stop and rest is wisdom too.” – Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
Apa Yang Harus Dilakukan Saat Menanti Jawaban Tuhan?
Juni 21, 2020
“Apakah Anda Di Dalam Terang?”
September 24, 2020
