TIDAK SEMUA YANG SALAH HARUS DILURUSKAN
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
TIDAK SEMUA YANG SALAH HARUS DILURUSKAN
Pernahkah kita mendengar seseorang bercerita, lalu merasa ada bagian yang kurang tepat?
Bukan hari Jumat, melainkan Sabtu. Bukan tiga jam, tetapi hampir lima jam. Bukan dia yang mengusulkan, melainkan orang lain.
Rasanya ingin segera menyela, “Bukan begitu ceritanya!”
Saya pun pernah mengalaminya.
Dulu, ketika mendengar cerita yang tidak persis sesuai kejadian, rasanya risih. Apalagi kalau ceritanya membuat seseorang terlihat lebih hebat daripada kenyataannya.
Bukankah fakta harus benar?
Tentu saja!
Tetapi belakangan saya belajar bahwa tidak semua ketidaktepatan perlu dikoreksi, terutama jika tidak mengubah inti cerita dan tidak merugikan siapa pun.
Saya membaca sebuah kisah menarik.
Seorang suami sedang makan malam bersama keluarga istrinya. Ketika istrinya bercerita tentang perjalanan mereka, ia berkali-kali menyela untuk membetulkan detail kecil.
Salah hari. Salah waktu. Salah urutan kejadian.
Baginya, itu hanya koreksi biasa.
Namun, istrinya semakin diam.
Sang mertua memperhatikan, lalu bertanya, “Apakah koreksi tadi mengubah inti ceritanya?”
Ternyata tidak.
Kemudian ia mengatakan sesuatu yang menyentuh hati.
Setiap kali kamu mengoreksi istrimu di depan orang lain, tanpa disadari kamu bisa membuat orang meragukan ceritanya. Dan yang lebih menyakitkan, istrimu merasa kamu tidak berada di pihaknya.
Wow! Mak jleb!
Terkadang kita begitu sibuk memastikan setiap detail benar, sampai lupa menjaga perasaan orang yang sedang berbicara.
Kita memenangkan ketepatan sebuah cerita, tetapi kehilangan kehangatan hubungan.
Saya mulai belajar bertanya kepada diri sendiri, “Memangnya penting sekali?”
Kalau hari yang disebut salah, tetapi inti ceritanya tetap sama, siapa yang dirugikan?
Kalau seseorang sedikit melebih-lebihkan perannya, tetapi tidak merugikan orang lain, apakah saya harus langsung meluruskannya?
Who cares?
Bukan berarti kejujuran tidak penting.
Jika menyangkut nama baik seseorang, keputusan bisnis, uang, tanggung jawab, atau kebenaran yang dapat menyesatkan orang lain, tentu perlu diluruskan.
Tetapi kalau hanya urusan remeh-temeh, apakah semuanya layak diperdebatkan?
Ada harga yang harus dibayar untuk setiap pertengkaran. Waktu, energi, suasana hati, bahkan kedekatan hubungan.
Saya semakin menyadari bahwa tidak semua perdebatan perlu dimenangkan.
Kadang kita merasa harus mengoreksi karena ingin menjaga kebenaran. Namun, kalau mau jujur memeriksa hati sendiri, jangan-jangan ada juga keinginan untuk membuktikan bahwa kita lebih tahu.
Kitab Amsal mengingatkan bahwa kebijaksanaan membuat seseorang panjang sabar, dan mengabaikan pelanggaran merupakan kehormatan baginya.
Saya suka prinsip ini.
Kedewasaan bukan hanya mengetahui kapan harus berbicara, tetapi juga memahami kapan lebih baik membiarkan sesuatu berlalu.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.
Menjaga kerukunan bukan berarti membiarkan diri terus-menerus diremehkan.
Jika sebuah kebiasaan mulai melukai harga diri, menghilangkan kesempatan kita berbicara, atau membuat kita merasa tidak dihargai, hal itu layak dibicarakan secara pribadi, dengan tenang dan penuh kasih.
Kita bisa bersikap lembut tanpa kehilangan ketegasan.
Kita bisa memilih damai tanpa harus selalu mengalah dalam segala hal.
Saya pun masih terus belajar.
Belajar tidak mudah tersinggung. Tidak terburu-buru mengoreksi. Tidak menjadikan setiap perbedaan sebagai persoalan besar.
Sebab semakin lama menjalani kehidupan, semakin saya menyadari bahwa hubungan yang baik jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam perdebatan kecil.
Orang-orang yang mengasihi kita tidak membutuhkan kita selalu benar.
Mereka membutuhkan kita hadir, mendengarkan, menghargai, dan memberi ruang bagi mereka untuk menjadi dirinya sendiri.
Jadi, ketika lain kali mendengar cerita yang sedikit meleset, mungkin kita bisa tersenyum dan membiarkannya selesai.
Toh, tidak ada yang dirugikan.
Jangan sampai demi membetulkan sesuatu yang kecil, kita justru merusak sesuatu yang jauh lebih berharga.
Karena pada akhirnya, bukan setiap detail yang perlu kita menangkan.
Kadang, menjaga hati dan hubungan jauh lebih penting daripada membuktikan siapa yang benar.
God is good, all the time!
“In every good marriage, it helps sometimes to be a little deaf.” – Ruth Bader Ginsburg.
“Dalam setiap pernikahan yang baik, terkadang kita perlu sedikit menulikan telinga.” – Ruth Bader Ginsburg.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
“Wisdom is not just knowing what is right, but knowing what is worth correcting and what is better left alone.”
“Kebijaksanaan bukan sekadar mengetahui apa yang benar, tetapi memahami mana yang perlu diluruskan dan mana yang lebih baik dibiarkan berlalu.” – Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
Golden Eye… Pierce Brosnan…, Romantic Bridge & Castles.
September 20, 2019
Kekuatan Dari Kata TIDAK
Desember 21, 2019
