DUA PULUH ENAM MUJIZAT Ketika Apa yang Terakhir Menjadi Awal dari Mujizat
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
DUA PULUH ENAM MUJIZAT
Ketika Apa yang Terakhir Menjadi Awal dari Mujizat
Kesaksian R. W. Schambach
Catatan: Kisah ini merupakan kesaksian penginjil R. W. Schambach yang dibagikan oleh sahabat saya, P. Jacob. Karena sangat memberkati, saya merangkumnya untuk teman-teman.
Seorang ibu membawa anaknya yang hampir berusia empat tahun ke kebaktian kesembuhan yang dilayani A. A. Allen.
Menurut kesaksian R. W. Schambach, anak itu dilahirkan dengan 26 penyakit dan kelainan berat. Ia buta, tuli, bisu, kedua tangannya lumpuh, dan kaki-kakinya mengalami kelainan bentuk. Para dokter bahkan memperkirakan ia tidak akan hidup melewati ulang tahun pertamanya.
Tetapi anak itu bertahan hidup!
Sepanjang minggu, sang ibu menghadiri tiga kebaktian setiap hari, berharap anaknya didoakan. Namun kartu doanya tidak pernah terpilih.
Akhirnya ia menemui Schambach.
“Pak Schambach, saya hanya mempunyai dua puluh dolar terakhir. Hotel sudah dibayar, kami sudah makan dan mengikuti kebaktian sepanjang minggu. Tetapi anak saya belum juga didoakan.”
Ia hampir menyerah dan hendak pulang.
Schambach memintanya datang sekali lagi malam itu. Jika kartu doanya tetap tidak terpilih, ia berjanji akan membawa anak tersebut kepada A. A. Allen.
DUA PULUH DOLAR TERAKHIR
Malam itu, Allen mengajak jemaat memberikan persembahan iman.
Tiba-tiba Schambach melihat ibu tersebut berlari ke depan dan memasukkan sesuatu ke kantong persembahan.
Ternyata dua puluh dolar!
Seluruh uang yang dimilikinya.
Padahal ia masih harus pulang dari Birmingham, Alabama, ke Knoxville, Tennessee, bersama anaknya.
Schambach begitu tersentuh hingga menangis di belakang panggung.
“Tuhan, sepanjang minggu saya berusaha mengajarkan iman kepada wanita ini. Tetapi malam ini, ajarkanlah saya iman melalui dirinya.”
Wuih… menarik sekali!
KETIKA ROH KUDUS BEKERJA
Sekitar lima belas menit setelah berkhotbah, Allen tiba-tiba berhenti.
“Saya sedang dibawa oleh Roh.”
Ia mulai menggambarkan sebuah rumah sakit, ruang bersalin, dan lima dokter yang mengelilingi bayi dengan 26 penyakit.
Para dokter memperkirakan bayi itu tidak akan hidup sampai usia satu tahun. Namun kini usianya hampir empat tahun.
Schambach langsung mengenali kisah tersebut!
Allen kemudian menggambarkan perjalanan seorang ibu bersama anaknya menggunakan mobil Ford tua, melintasi perbatasan Tennessee dan Alabama.
Akhirnya ia berseru, “Ibu, engkau ada di sini malam ini! Bawalah anakmu ke depan. Tuhan akan memberikan 26 mujizat!”
Sang ibu berlari membawa anaknya.
Menurut Schambach, ketika Allen mendoakannya, perubahan luar biasa mulai terjadi.
Lidah anak yang sebelumnya selalu menjulur masuk kembali ke mulutnya. Matanya yang keruh menjadi jernih. Kedua tangannya mulai bergerak dan lurus. Kaki-kakinya berubah.
Kemudian anak itu diletakkan di lantai.
Ia berdiri!
Berjalan!
Bahkan berlari melintasi panggung dan melompat ke pelukan ibunya.
Untuk pertama kalinya, ia mengucapkan, “Mama!”
Bayangkan sukacita sang ibu!
Kesaksian itu membangkitkan iman jemaat. Schambach menceritakan bahwa orang-orang yang menggunakan kursi roda mulai berdiri, pasien di atas tandu bangun, dan beberapa orang buta menyatakan dapat melihat.
Suasana kebaktian dipenuhi sukacita.
TERNYATA BELUM SELESAI!
Seminggu kemudian, Schambach menerima surat dari ibu tersebut.
Ia menceritakan bahwa anaknya telah diperiksa di rumah sakit selama seminggu. Menurut surat itu, para dokter menyatakan anaknya sembuh dari 26 penyakit dan kelainan yang sebelumnya dideritanya.
Tetapi ada cerita lain yang tidak kalah menarik.
Ingat dua puluh dolar terakhir yang diberikannya?
Setelah kebaktian, orang-orang berdatangan menyalami sang ibu.
Seorang wanita menyelipkan uang dua puluh dolar ketika berjabat tangan. Kemudian orang lain melakukan hal serupa.
Sang ibu akhirnya menghitung uang yang diterimanya.
Jumlahnya 235 dolar!
Cukup untuk membiayai kebutuhan mereka selama pemeriksaan di rumah sakit dan perjalanan pulang.
Dua puluh dolar terakhir ternyata bukan akhir ceritanya!
PELAJARAN IMAN
Nach, ada satu hal penting yang tidak boleh kita salah pahami.
Tuhan tidak membutuhkan dua puluh dolar untuk menyembuhkan anak tersebut!
Kesembuhan bukan sesuatu yang dapat dibeli dengan persembahan.
Yesus telah membayar harga penebusan melalui karya-Nya di kayu salib. Kita menerima janji-janji Tuhan berdasarkan anugerah-Nya melalui iman, bukan karena berhasil memberikan persembahan yang cukup besar.
Tindakan ibu tersebut merupakan respons iman pribadinya, bukan rumus yang harus ditiru semua orang.
Jangan sampai kisah ini membuat orang berpikir bahwa untuk mengalami mujizat, mereka wajib memberikan seluruh uang terakhirnya.
Bukan itu pesannya!
Yang menyentuh saya justru keberanian sang ibu mempercayai Tuhan ketika keadaan tampak begitu sulit.
Schambach sendiri mengakui bahwa melalui wanita tersebut, ia belajar tentang iman.
Bukankah kita pun masih terus belajar?
Sering kali kita membatasi kemungkinan berdasarkan apa yang terlihat. Ketika uang menipis, kesempatan habis, atau dokter menyampaikan prognosis yang berat, kita menganggap semuanya sudah berakhir.
Padahal keterbatasan manusia tidak membatasi kuasa Tuhan.
Efesus 3:20 mengingatkan bahwa Tuhan sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, menurut kuasa yang bekerja di dalam kita.
Schambach menutup kesaksiannya dengan ungkapan terkenal:
“You can’t beat God giving.”
“Kita tidak akan pernah dapat mengalahkan Tuhan dalam hal memberi.”
Bukan karena Tuhan berutang kepada kita, melainkan karena Dia adalah sumber segala yang baik.
Apa yang kita anggap terakhir belum tentu merupakan akhir cerita.
Ketika keadaan berkata, “Sudah tidak ada lagi,” iman tetap memandang kepada Tuhan yang sanggup melakukan perkara-perkara yang melampaui kemampuan manusia.
“God is more eager to answer than we are to ask.” – Smith Wiggllesworth.*
*”Tuhan jauh lebih rindu menjawab daripada kerinduan kita untuk meminta.” – Smith Wiggllesworth
Yenny Indra
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan
“Yang terakhir di tangan kita belum tentu menjadi akhir di tangan Tuhan.”
“What is last in our hands is not necessarily the end in God’s hands.”
– Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
“Turunlah dari Roller Coaster.”
Mei 3, 2020
Masa Lalu Yang Terus Menghantui….
Juni 29, 2020
