JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN UNTUK DIAM
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN UNTUK DIAM
Pernahkah kita merasa begitu yakin berada di pihak yang benar, sehingga rasanya harus segera menjelaskan, membela diri, bahkan membuktikan bahwa orang lain keliru?
Apalagi ketika perkataan seseorang menyakitkan hati. Rasanya sulit sekali menahan diri untuk tidak membalas.
Namun, setelah menjalani kehidupan pernikahan selama puluhan tahun, saya belajar satu hal yang sangat berharga.
Tidak semua hal yang benar harus disampaikan saat itu juga.
Terlebih dalam pernikahan, kemampuan untuk diam dapat menghindarkan kita dari ribuan pertempuran yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Ketika dua orang sedang emosi, masing-masing merasa benar. Semakin dijelaskan, semakin panjang perdebatannya. Persoalan kecil pun bisa berkembang menjadi pertengkaran besar.
Dalam budaya keluarga Asia, menjaga harga diri dan wibawa sering dianggap penting. Bagi sebagian orang, terutama mereka yang dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu terlihat kuat, mengakui kesalahan atau meminta maaf bukan perkara mudah.
Karena itu, mendesak seseorang untuk segera mengakui kesalahannya ketika suasana sedang panas justru bisa membuatnya semakin defensif.
Saya memilih pendekatan yang berbeda.
Benar atau salah, saya memilih diam terlebih dahulu.
Bukan berarti saya setuju atau menganggap persoalannya tidak penting. Saya hanya menyadari bahwa penjelasan sebaik apa pun sulit diterima ketika hati sedang dipenuhi emosi.
Saya menunggu beberapa jam, bahkan terkadang beberapa hari, sampai suasana kembali tenang.
Barulah saya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana saya melihat persoalannya, dan apa yang perlu diselesaikan.
Ternyata hasilnya jauh berbeda.
Apa yang sebelumnya berpotensi menimbulkan pertengkaran, kini bisa dibicarakan dengan kepala dingin.
Hidup itu membutuhkan strategi. Termasuk strategi menjaga hubungan.
Ada satu hal yang menurut saya sangat penting.
Sering kali yang paling menyakitkan dalam pertengkaran bukanlah persoalan awalnya, melainkan kata-kata yang terucap ketika emosi.
Seseorang mungkin mengatakan sesuatu yang sangat tajam, padahal sesungguhnya ia tidak benar-benar bermaksud demikian.
Ia hanya sedang marah, kecewa, atau merasa tersudut.
Tetapi kata-kata yang sudah terucap tidak dapat ditarik kembali.
Ironisnya, setelah pertengkaran selesai, persoalan awalnya mungkin sudah terlupakan. Namun, perkataan yang menyakitkan justru terus diingat bertahun-tahun kemudian.
Bahkan ada luka yang begitu dalam sehingga sulit sekali dimaafkan.
Padahal semuanya mungkin dapat dihindari jika salah seorang bersedia berhenti berbicara.
Itulah sebabnya diam pada saat yang tepat bukanlah kelemahan, melainkan bentuk pengendalian diri.
Firman Tuhan mengajarkan kita untuk cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah.
Perhatikan urutannya.
Mendengar lebih dahulu, bukan bereaksi lebih dahulu.
Saya belajar mengajukan satu pertanyaan sebelum menjawab sesuatu yang membuat hati panas.
“Apakah perkataan saya akan memperbaiki keadaan, atau hanya melampiaskan kekesalan saya?”
Sebab ada perbedaan besar antara berbicara untuk menyelesaikan persoalan dan berbicara untuk memenangkan perdebatan.
Tentu diam bukan berarti membiarkan masalah serius atau perlakuan yang menyakitkan terus berlangsung. Ada waktunya kita perlu berbicara tegas dan menetapkan batasan.
Tetapi kita tetap dapat memilih waktu, cara, dan perkataan yang bijaksana.
Semakin dewasa seseorang, semakin ia menyadari bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Apa gunanya memenangkan argumen, tetapi kehilangan kedamaian, kepercayaan, dan kedekatan dengan orang yang kita kasihi?
Bukankah tujuan pernikahan bukan mencari siapa yang paling benar, melainkan bagaimana dua orang dapat terus berjalan bersama?
Saya tidak ingin memenangkan perdebatan sesaat, kemudian menghabiskan berhari-hari untuk memulihkan hubungan yang terluka.
Kadang kemenangan terbesar justru terjadi ketika kita memilih untuk tidak bertengkar.
Diam sejenak bukan berarti persoalan selesai. Tetapi diam memberi kesempatan agar persoalan dapat diselesaikan tanpa menambah luka baru.
“Even fools are thought wise if they keep silent, and discerning if they hold their tongues.” — Proverbs
“Bahkan orang bodoh dianggap bijaksana ketika ia berdiam diri, dan dianggap berpengertian ketika ia menahan lidahnya.” — Amsal
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
“Silence at the right moment is not defeat. It is wisdom that protects what love has built.” — Yenny Indra
“Diam pada saat yang tepat bukanlah kekalahan. Itulah kebijaksanaan yang melindungi apa yang telah dibangun oleh kasih.” — Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
Apakah Ini Salahku? Oh NOooo….
Februari 4, 2020
Hidup Yang Ditukar.
Januari 21, 2019
