Articles

“Launching Syntegra di Rumah Perubahan…”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Launching Syntegra di Rumah Perubahan…”

“Berapa di antara Saudara yang baru pertama kali ke sini?” tanya Prof. Rhenald Kasali saat menyambut para tamu di Rumah Perubahan.

Banyak yang mengangkat tangan.

“Aduh, ke mana aja Saudara-saudara?” candanya.

Hadirin pun tertawa.

Beliau kemudian berseloroh tentang lokasi Rumah Perubahan.

“Ini Jakarta. Lewat sedikit ke situ, Bekasi!”

Suasana langsung cair dan akrab.

Sabtu, 31 Oktober 2026, saya menghadiri official launching Syntegra di Andaliman Resto & Cafe, Jakarta Escape, kawasan Rumah Perubahan.

Saya diundang oleh sahabat saya, Harianto Tian, yang bersama adiknya dan seorang rekan membangun Syntegra.

Ternyata acara ini membuka wawasan saya tentang perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin luar biasa.

Prof. Rhenald menjelaskan bahwa AI dapat membuat manusia menjadi *super human*.

Manusia super?

Wah, menarik sekali!

Bukan berarti kita mendadak memiliki kekuatan seperti Superman, melainkan kemampuan manusia dapat meningkat berlipat ganda dengan bantuan teknologi.

Salah satu contohnya adalah Syntegra.

Platform ini mengusung konsep:

Satu Visi, Satu Platform, Satu Pusat AI, Seluruh Bisnis Terintegrasi.

Biasanya, untuk mengetahui kondisi perusahaan, kita harus bertanya kepada berbagai bagian. Gudang untuk stok, penjualan untuk order, bagian personalia untuk kehadiran karyawan, dan sebagainya.

Bagaimana kalau semuanya dapat diakses melalui satu asisten AI?

Dalam demonstrasi pengelolaan lapangan golf, Nesia, asisten AI Syntegra, ditanya tentang jumlah caddy yang masuk kerja, siapa yang absen, berapa pemain yang datang, kelompok mana yang sudah selesai, masih bermain, atau sedang bersiap-siap.

Bahkan informasi stok dan pekerjaan perbaikan pun dapat ditanyakan.

Semua dijawab berdasarkan data yang terhubung dengan sistem.

Wow! Praktis sekali!

Ada pula demonstrasi EMMA, agen AI untuk informasi pendidikan.

Seorang tamu menanyakan sekolah di Jepang, beasiswa pemerintah, fasilitas asrama, biaya tempat tinggal, hingga kemungkinan memperoleh uang saku.

AI membantu menelusuri dan menyajikan berbagai informasi tersebut.

Bayangkan berapa banyak waktu yang dapat dihemat!

Namun, yang paling menarik bagi saya adalah penjelasan Prof. Rhenald tentang perbedaan AI sebagai tools dan agents.

AI tools membantu kita mengerjakan tugas, sedangkan AI agents dapat menjalankan serangkaian pekerjaan untuk mencapai tujuan yang kita tentukan.

Misalnya, AI tools membantu membuat laporan.

AI agent dapat dirancang untuk mengumpulkan data dari berbagai bagian, menyusun laporan, menemukan hal yang perlu diperhatikan, bahkan menyiapkan tindak lanjut.

Tentu manusia tetap harus menentukan tujuan, memberikan batasan, dan memeriksa hasilnya.

Prof. Rhenald juga menceritakan persoalan matematika rumit yang telah lama menyulitkan para ahli, tetapi AI mampu membantu menemukan penyelesaiannya dengan sangat cepat.

Luar biasa!

Teknologi yang dahulu hanya kita bayangkan dalam film kini semakin nyata.

Beliau kemudian mengingatkan tentang kalkulator.

Dahulu, sebagian guru dan profesor menentang penggunaan kalkulator karena khawatir anak-anak menjadi malas berpikir dan kehilangan kemampuan berhitung.

Sekarang?

Siapa yang tidak menggunakan kalkulator?

Teknologi yang dahulu dianggap ancaman akhirnya menjadi alat bantu sehari-hari.

Demikian pula AI.

Namun, ada perbedaan penting.

Kalkulator memberikan hasil berdasarkan operasi hitung yang kita masukkan. Sedangkan AI bisa memberikan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, padahal belum tentu benar.

Karena itu, semakin canggih teknologi, semakin penting kemampuan manusia untuk berpikir kritis.

Jangan sampai AI semakin pintar, tetapi manusianya justru semakin malas berpikir!

Prof. Rhenald juga membahas bagaimana teknologi akan mengubah berbagai industri.

Bahkan cara membangun rumah di masa depan dapat berubah dengan penggunaan robot dan material bangunan yang semakin praktis.

Apakah semua prediksi itu akan terjadi persis seperti yang dibayangkan? Belum tentu.

Namun, perubahan sedang berlangsung.

Saya jadi teringat bagaimana dahulu komputer mengubah cara kita bekerja. Kemudian internet mengubah cara kita berkomunikasi dan berbisnis.

Sekarang AI membuka babak baru.

Mereka yang bersedia belajar akan memiliki semakin banyak kesempatan. Sebaliknya, yang menolak mengikuti perkembangan berisiko tertinggal.

Bukan berarti kita harus menjadi ahli teknologi.

Mulailah dari kebutuhan kita sendiri. Pelajari, praktikkan, periksa hasilnya, lalu tingkatkan kemampuan sedikit demi sedikit.

Saya pun masih terus belajar.

Semakin mengenal AI, semakin saya kagum dengan kemampuannya. Tetapi saya juga semakin menyadari bahwa teknologi tetaplah alat.

Pengetahuan, pengalaman, integritas, akal sehat, dan kebijaksanaan manusia tidak boleh ditinggalkan.

Acara kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai tanda peluncuran Syntegra.

Saya pulang membawa satu pelajaran berharga.

Jangan takut pada teknologi baru. Yang perlu kita khawatirkan justru ketika dunia terus berkembang, sementara kita berhenti belajar.

AI dapat membuat kita menjadi manusia yang jauh lebih mampu dan produktif.

Tetapi syaratnya, kitalah yang mengendalikan AI, bukan sebaliknya.

Karena manusia super bukanlah manusia yang menyerahkan seluruh pemikirannya kepada AI, melainkan manusia yang menggunakan AI untuk memperbesar kemampuannya tanpa kehilangan kebijaksanaannya.

*Keep learning, keep growing!*

“The illiterate of the 21 st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” – Alvin Toffler.

“Orang yang buta huruf pada abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak mampu belajar, meninggalkan cara lama, dan belajar kembali.” – – Alvin Toffler.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“The greatest danger isn’t that technology is advancing too fast, but that we stop learning while the world keeps moving forward.”

“Bahaya terbesar bukanlah teknologi berkembang terlalu cepat, melainkan ketika dunia terus bergerak maju, sementara kita berhenti belajar.” – Yenny Indra

Please follow and like us:
Pin Share

Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com