Articles

Punya Emas, Tapi Tidak Ada Toko! oh…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Punya Emas, Tapi Tidak Ada Toko! oh…

Kadang saya merenungkan perjalanan bangsa Israel dan Tuhan itu luar biasa.

Bayangkan, mereka keluar dari Mesir setelah mengalami perbudakan dan penindasan selama beberapa generasi. Tetapi mereka tidak keluar sebagai rombongan budak miskin yang tidak mempunyai apa-apa.

Sebelum mereka pergi, Tuhan menyuruh bangsa Israel meminta barang-barang perak, emas dan pakaian kepada orang Mesir.

Dan orang Mesir memberikannya!

Keluaran 12:35-36 bahkan mengatakan bahwa dengan cara itu mereka “merampasi orang Mesir.”

Wow!

Setelah bekerja sebagai budak bertahun-tahun, mereka keluar membawa kekayaan.

Seolah-olah upah yang selama ini tidak mereka nikmati dibayar sekaligus ketika mereka meninggalkan Mesir.

Tetapi kemudian Tuhan membawa mereka ke…

padang gurun.

Nah, di sinilah menurut saya menarik.

Mereka punya emas.

Punya perak.

Punya barang-barang berharga.

Tetapi…

mau shopping di mana?

Ha… ha….

Tidak ada mall.

Tidak ada restoran.

Tidak ada supermarket.

Tidak ada marketplace.

Mendadak emas yang mereka bawa tidak bisa menghasilkan air ketika haus dan tidak bisa menciptakan makanan ketika lapar.

Tuhan sedang memperlihatkan sesuatu yang sangat penting:
Kekayaan adalah berkat, tetapi kekayaan bukan Sumber.

Di Mesir mereka mengenal sistem yang menyediakan kebutuhan melalui kerja keras sebagai budak.

Di padang gurun mereka harus belajar mengenal Tuhan sebagai Sumber mereka.

Ketika panas, ada tiang awan.

Ketika malam, ada tiang api.

Ketika lapar, manna turun dari langit.

Dan manna pun mempunyai aturan supernatural yang unik.

Hari biasa, kalau disimpan sampai besok, manna menjadi busuk.

Tetapi menjelang Sabat?
Mereka mengumpulkan dua kali lipat dan manna yang sama bisa bertahan sampai keesokan harinya.

Tuhan seperti sedang berkata,
“Pemeliharaanmu tidak bergantung pada manna. Pemeliharaanmu bergantung kepada-Ku.”

Lebih dahsyat lagi, Mazmur 105:37 mencatat bahwa ketika Tuhan membawa mereka keluar, tidak ada yang lemah di antara suku-suku mereka.

Ulangan 8:4 mengatakan pakaian mereka tidak menjadi usang dan kaki mereka tidak membengkak selama empat puluh tahun. Ulangan 29:5 bahkan menyebut pakaian dan kasut mereka tidak menjadi usang.

Serba supernatural.

Masalahnya, bangsa Israel lebih cepat keluar dari Mesir daripada Mesir keluar dari pikiran mereka.

Tubuh mereka sudah bebas.
Hati mereka masih sering menoleh ke belakang.
Setiap menghadapi kesulitan, mereka mengeluh.

Makanan?
Ingat Mesir.

Kesulitan?
Mesir lagi.

Menghadapi musuh?
Ingin kembali ke Mesir.

Padahal di depan mereka ada Tanah Perjanjian yang berlimpah susu dan madu.

Ulangan 1:2 memberi detail yang menyentak: perjalanan dari Horeb menuju Kadesh-Barnea melalui pegunungan Seir sebenarnya hanya sebelas hari perjalanan.
Namun generasi yang keluar dari Mesir akhirnya berputar-putar di padang gurun selama puluhan tahun.

Mak jleb!

Ternyata jarak menuju janji Tuhan tidak selalu menjadi masalah terbesar. Cara berpikir kitalah yang kadang membuat perjalanan menjadi sangat panjang.
Lalu muncul generasi berikutnya.
Yosua memimpin mereka memasuki Tanah Perjanjian.

Apa pesan Tuhan kepadanya?

Yosua 1:8.
Renungkan Firman itu siang dan malam.
Perkatakan.
Lakukan dengan hati-hati apa yang tertulis di dalamnya.
Barulah perjalananmu berhasil dan engkau beruntung.
Mereka tetap menghadapi peperangan.
Tanah Perjanjian bukan tanah tanpa musuh.
Tetapi berulang kali mereka menyaksikan kemenangan yang tidak mungkin dihasilkan oleh kekuatan manusia semata.

Tembok Yerikho runtuh setelah mereka mengelilinginya dan bersorak.

Dalam peperangan lain, Tuhan mengacaukan musuh, bahkan batu-batu besar dari langit menghantam mereka.

Tuhan yang berperang bagi umat-Nya.

Dan saya rasa di sinilah pelajarannya bagi kita.

Kita bahkan memiliki sesuatu yang generasi Israel di padang gurun tidak miliki seperti kita sekarang: Firman Tuhan yang tertulis lengkap di tangan kita.

Kita bisa membacanya.

Merenungkannya.

Memperkatakannya.

Dan menyelaraskan cara berpikir serta tindakan kita dengannya.

Jangan sampai memiliki Alkitab tetapi cara berpikir kita tetap seperti budak yang baru keluar dari Mesir.

Tuhan bukan sedang mengajar kita memandang rendah kekayaan. Justru Dialah yang memberi kemampuan untuk memperoleh kekayaan.

Tetapi jangan pernah menukar Pemberi dengan pemberian-Nya.

Emas bisa menjadi alat.

Tetapi emas bukan sumber.

Sumber kita tetap Tuhan.

Dan ketika kita mengenal Sang Sumber, padang gurun sekalipun tidak mempunyai kuasa untuk menentukan masa depan kita.

Karena tujuan Tuhan bukan membuat kita berputar-putar di padang gurun.

Ada Tanah Perjanjian di depan. Saatnya memperbarui pikiran, mempercayai Firman, lalu berjalan masuk.

“What comes into our minds when we think about God is the most important thing about us.” – A.W. Tozer.

“Apa yang muncul dalam pikiran kita ketika memikirkan Tuhan adalah hal terpenting tentang diri kita.” – A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Kadang yang memperpanjang perjalanan bukan jauhnya tujuan, tetapi cara berpikir lama yang kita bawa menuju masa depan.”

“Sometimes it is not the distance to our destination that prolongs the journey, but the old mindset we carry into the future.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Kebahagiaan Itu Dihidupi, Bukan Dikejar.
Musim – Musim Kehidupan & Grand Design Tuhan.
Belajar Memberi Grace: Melihat Orang Lain dengan Kaca Mata Baru