Articles

Menikah dengan Orang yang Terus Berubah… Oh!


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menikah dengan Orang yang Terus Berubah… Oh!

Baru-baru ini saya belajar sesuatu yang menarik dari seorang wanita yang sudah menikah lebih dari 60 tahun.

Setelah puluhan tahun menikah, ia berkata, akhirnya ia berhenti menuntut suaminya untuk selalu mengerti dirinya.

Bukan karena menyerah terhadap pernikahannya. Justru karena ia semakin memahami pernikahan.

Bertahun-tahun ia berusaha menjelaskan isi pikiran dan perasaannya kepada seorang pria yang sungguh-sungguh mencintainya, tetapi memang dia tidak melihat dunia dengan cara yang sama.

Akhirnya ia menyadari sesuatu.

Suaminya mungkin tidak akan pernah memahaminya, seperti sahabat wanitanya memahami dirinya. Tidak seperti ibunya dahulu. Tidak seperti seseorang yang mempunyai cara berpikir dan kepekaan yang mirip dengannya.

Tetapi bukan berarti suaminya kurang mencintainya.
Dia hanya mencintai dengan cara yang berbeda.

Lewat tindakan. Kehadiran. Tanggung jawab. Kesetiaan. Dan setelah lebih dari 60 tahun, pria itu tetap berada di sisinya.

Mak jleb!

Kadang-kadang masalahnya bukan pasangan kita kurang baik, melainkan kita meminta satu orang suami ini, menjadi segala-galanya bagi kita.

Kita ingin pasangan menjadi kekasih, sahabat terbaik, teman curhat, teman traveling, partner bisnis, pendengar sempurna, orang yang mengerti tanpa dijelaskan, bahkan harus menyukai segala sesuatu yang kita sukai.

Berat sekali!

Ada kebutuhan yang memang kita temukan dalam pernikahan. Ada yang kita temukan dalam persahabatan. Ada yang kita temukan dalam hubungan dengan Tuhan. Dan ada pula ruang pribadi yang perlu kita miliki untuk bertumbuh dan menikmati kehidupan.

Pernikahan yang sehat tidak berarti dua orang harus melebur menjadi satu pribadi yang identik.
Mereka tetap dua pribadi berbeda yang memilih berjalan bersama.

Saya kemudian teringat sebuah wisdom tentang persahabatan puluhan tahun. Rahasianya ternyata sederhana: *mereka tidak menuntut satu sama lain tetap menjadi orang yang sama.*

Suami yang dikenal pada usia 25 tahun tentu tidak persis sama ketika berusia 35, 45, 55, apalagi 65.

Orang berubah.

Menikah, punya anak, kehilangan orang yang dicintai, mengalami keberhasilan, kegagalan, kekecewaan, menemukan tujuan baru. Semua pengalaman itu membentuk kita.

Begitu pula dalam pernikahan.

Orang yang kita nikahi puluhan tahun lalu sudah berubah.

Dan surprise… kita juga!

Karena itu mungkin salah satu seni terbesar dalam pernikahan bukan sekadar mencintai orang yang kita nikahi dahulu, tetapi terus belajar mengenal siapa dirinya sekarang.

Kadang kita terjebak berkata, “Kamu dulu tidak begini.”

Memang.

Dulu kita pun tidak seperti sekarang.

Pernikahan bisa menjadi melelahkan ketika kita terus meminta pasangan kembali pada versi lamanya. Padahal kehidupan sedang membawa kami berdua memasuki musim yang baru.

Tentu perubahan bukan alasan untuk membenarkan perilaku buruk, ketidaksetiaan atau sikap yang merusak. Kasih tetap membutuhkan rasa hormat, tanggung jawab dan batas yang sehat.

Tetapi dalam kehidupan normal, manusia memang bertumbuh.
Mungkin setelah puluhan tahun menikah, kita perlu kembali berkenalan.

Apa yang sekarang penting baginya?

Apa yang sedang dipikirkannya?

Apa yang dahulu disukainya tetapi sekarang tidak lagi?

Apa impiannya pada musim kehidupan ini?

Dan mungkin pertanyaan yang sama perlu kita ajukan kepada diri sendiri.

Tuhan tidak menciptakan pernikahan supaya dua manusia saling menguras sampai masing-masing kehilangan jati dirinya. Justru dalam kasih yang sehat, keduanya mempunyai ruang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang semakin matang.

Akhirnya saya mengerti.
Pernikahan yang panjang bukan kisah dua orang yang tidak pernah berubah.
Justru sebaliknya.

Mereka sudah berubah berkali-kali, tetapi terus belajar mencintai versi terbaru satu sama lain.

Dan pemahaman ini membuat kita bisa menghindari ribuan pertempuran yang sebenarnya tidak perlu.

Kebenarannya, kita tidak pernah benar-benar bisa mengubah seseorang. Semakin kita memaksa pasangan menjadi seperti yang kita inginkan, semakin mudah hubungan berubah menjadi medan perang.

Pada akhirnya saya belajar, bukan dia yang harus saya ubah. Saya yang memilih untuk berubah.

Saya belajar membiarkan Tuhan bekerja terlebih dahulu di dalam diri saya. Mengubah cara saya melihat, merespons, berbicara, mengampuni dan mengasihi. Ketika hidup Tuhan semakin bebas mengalir melalui diri kita, perubahan itu akan terlihat dalam sikap dan kehidupan sehari-hari. Dan sering kali, tanpa banyak tuntutan, kehidupan kita justru mulai memengaruhi pasangan.

Bukan manipulasi. Bukan tekanan. Bukan pula seribu nasihat yang tidak diminta.
Kehidupan yang berubah mempunyai suara yang jauh lebih keras daripada tuntutan.

Karena itu, mungkin investasi terbaik untuk sebuah pernikahan bukanlah menghabiskan seluruh energi memikirkan bagaimana mengubah pasangan.
Melainkan membangun hubungan yang intim dan berkualitas dengan Tuhan.

Biarkan Dia memenuhi ruang-ruang yang selama ini kita tuntut untuk dipenuhi oleh pasangan. Biarkan kasih, hikmat dan damai-Nya mengalir melalui kita.

Lalu kita akan menemukan sebuah kebebasan yang indah:

Saya tidak harus mengubah pasangan saya untuk dapat mengasihinya. Saya hanya perlu terus bertumbuh bersama Tuhan, lalu mengasihi dia dari kelimpahan yang saya terima dari-Nya.

Dan barangkali itulah salah satu bentuk cinta yang paling dewasa:

“Aku tidak menuntutmu menjadi orang yang dulu kunikahi. Aku mau terus mengenal, menghargai dan mencintai pribadi yang sedang Tuhan bentuk hari ini.”

“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.” – Leo Tolstoy.

“Semua orang berpikir untuk mengubah dunia, tetapi tidak seorang pun berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.” — Leo Tolstoy.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Jangan habiskan hidup untuk membentuk pasangan sesuai keinginan kita. Biarkan Tuhan membentuk kita, lalu kasih-Nya mengalir dan mengubah suasana.”

“Don’t spend your life shaping your spouse into who you want them to be. Let God shape you, then let His love flow through you and change the atmosphere.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Apa Hubungan Orang Percaya dengan Pemerintahan Sipil?”
Rendah Hati Atau Egois?
Kata Tuhan : DILARANG BODOH!