Articles

“Kalau Bukan untuk Bahagia, Lalu untuk Apa Kita Menikah?”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Kalau Bukan untuk Bahagia, Lalu untuk Apa Kita Menikah?”

Pernikahan itu tidak mudah. That’s why marak perceraian di mana-mana. Saya berpuluh-puluh tahun belajar dari berbagai buku tentang pernikahan dan masih harus terus belajar.

Sampai saya menemukan pelajaran ini.

Ternyata para wanita dalam Alkitab menikah bukan supaya bahagia melainkan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri: tujuan Allah.

Ini mengubah cara saya memandang pernikahan.

Hari ini kita sering masuk ke dalam pernikahan dengan pertanyaan, “Apakah dia akan membuat saya bahagia?” “Apakah kebutuhan saya akan terpenuhi?” “Apakah dia pasangan yang sesuai dengan harapan saya?”

Tidak salah menginginkan kebahagiaan dalam pernikahan. Tetapi kalau kebahagiaan menjadi pusatnya, kita akan mudah kecewa. Sebab pernikahan mempertemukan dua manusia yang sama-sama sedang bertumbuh, bukan dua manusia sempurna.

Perhatikan perempuan-perempuan dalam Kitab Suci.

Sara mengikuti Abraham ketika Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya menuju tempat yang bahkan belum diketahuinya. Rut memilih tetap bersama Naomi ketika secara manusia keputusan itu tidak memberikan keuntungan baginya. Priskila bersama Akwila bukan hanya membangun rumah tangga, tetapi juga mengambil bagian dalam pelayanan dan membantu pertumbuhan jemaat mula-mula.

Ada pula perempuan Sunem yang bersama suaminya membuka rumah bagi nabi Elisa. Ester bahkan menggunakan pengaruhnya di hadapan raja untuk menyelamatkan bangsanya.

Mereka tidak hidup dengan pertanyaan, “Apa yang bisa saya dapat dari pernikahan ini?”

Mereka hidup dengan kesadaran, “Apa yang dapat Tuhan lakukan melalui kehidupan saya?”

Saya tertarik dengan prinsip Pengkhotbah 4:9-10: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri… Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya.”

Betapa indahnya!

Pernikahan bukan terutama tentang dua orang yang saling memenuhi semua kebutuhan emosional. Pernikahan adalah dua orang yang belajar berjalan bersama, saling menguatkan, saling mengoreksi, dan saling menolong untuk menjadi semakin serupa dengan kehendak Allah.

Tentu saja tidak berarti istri harus selalu mengikuti suami dalam segala hal. Alkitab justru menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat memiliki pengaruh yang sangat kuat.

Abigail menghentikan Daud dari tindakan yang akan mendatangkan pertumpahan darah. Ester berani mengambil risiko untuk menyelamatkan bangsanya. Artinya, pengaruh seorang istri bukan sesuatu yang harus ditakuti atau ditekan. Yang penting adalah bagaimana pengaruh itu digunakan.

Pengaruh tanpa hikmat dapat menjadi manipulasi. Tetapi pengaruh yang dipimpin Roh Kudus dapat membawa keselamatan, damai dan perubahan.

Itulah sebabnya saya menyukai pertanyaan ini:

“Atmosfer rohani seperti apa yang sedang saya ciptakan di rumah saya setiap hari?”

Amsal 14:1 berkata, “Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.”

Kita mungkin tidak bisa mengontrol respons pasangan kita. Kita tidak bisa memaksa suami berubah. Kita juga tidak bisa menentukan hasil dari setiap keputusan.

Tetapi kita bisa memilih bagaimana kita merespons.

Kita bisa memilih untuk berbicara dengan hikmat.

Kita bisa memilih kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam.

Kita bisa memilih tidak membalas kemarahan dengan kemarahan.

Kita bisa memilih membawa Firman Tuhan ke dalam rumah, bukan membawa setiap persoalan menjadi peperangan.

Dan yang paling penting, kita bisa mempercayakan hasilnya kepada Tuhan.

Sara tidak dapat menghasilkan janji Allah dengan kekuatannya sendiri. Rut tidak dapat memaksa Boas menjadi penebusnya. Ester tidak dapat menjamin bagaimana raja akan merespons.

Bagian mereka adalah ketaatan. Hasil akhirnya berada di tangan Tuhan.

Saya pikir inilah kedewasaan dalam pernikahan.

Bukan mencari pasangan yang sempurna, tetapi menjadi pasangan yang terus kembali kepada hikmat Tuhan.

Bukan sibuk menghitung apa yang kurang dari pasangan, tetapi bertanya, “Tuhan, bagaimana Engkau ingin memakai saya di dalam keluarga ini?”

Sebab pernikahan yang kuat tidak dibangun oleh manusia yang sempurna.

Pernikahan yang kuat dibangun oleh dua manusia yang tidak sempurna, tetapi terus belajar kembali kepada Tuhan.

Dan mungkin inilah warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan kepada anak-anak kita: bukan sekadar keluarga yang terlihat baik dari luar, tetapi sebuah rumah di mana mereka melihat iman, kasih, pengampunan, hikmat dan ketergantungan kepada Tuhan.

Karena pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang berapa bahagia kita menjalani hidup bersama, tetapi berapa banyak tujuan Allah yang dapat lahir melalui kehidupan kita bersama.

“Marriage is not about finding someone who completes you, but becoming two people who help each other become who God created them to be.”

“Pernikahan bukan tentang menemukan seseorang yang melengkapi kita, tetapi menjadi dua orang yang saling menolong untuk menjadi seperti yang Tuhan ciptakan.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Pernikahan berubah ketika kita berhenti bertanya, ‘Apa yang bisa kudapat darinya?’ dan mulai bertanya, ‘Apa yang Tuhan ingin lahir melalui kami?”

“Marriage changes when we stop asking,
‘What can I get from it?’ and start asking,
‘What does God want to bring forth through us?””
– Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Serba-Serbi Doa Kesembuhan, Part 3 : Kesembuhan Supernatural.*
Orphan Spirit, Roh Yatim Piatu.
Napoleon Bonaparte Kalah Perang Karena Gunung Tambora di Indonesia????? Lhah Bagaimana Mungkin?