Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

Paul Milligan: Ketika Integritas Menjadi Strategi Bisnis dan Pelayanan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Paul Milligan: Ketika Integritas Menjadi Strategi Bisnis dan Pelayanan

Tidak banyak orang yang benar-benar berhasil di dua dunia sekaligus: bisnis dan pelayanan. Lebih jarang lagi yang dampaknya lintas generasi dan lintas negara. Paul Milligan adalah salah satunya. Hidupnya membuktikan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari besar keuntungan semata, tetapi dari apa yang dibenahi, diperbaiki, dan ditinggalkan bagi banyak orang.

Paul bukan sekadar CEO Andrew Wommack Ministries. Ia adalah pembenah sistem, orang yang Tuhan pakai untuk menata fondasi AWM dan Sekolah Charis agar bisa bertumbuh sehat, stabil, dan berjangka panjang. Ketika ia masuk lebih dalam dalam kepemimpinan, pelayanan ini berubah dari pola top-down yang kaku menjadi organisasi yang bisa diperluas, dimultiplikasi, dan direplikasi secara global.

Andrew Wommack pernah hampir bangkrut pada tahun 1996. Bukan karena pelayanan tidak berbuah, tetapi karena kurangnya pemahaman management. Visi rohani besar, tetapi tidak diimbangi pengelolaan yang tepat. Di titik itulah Tuhan mengirim Paul Milligan. Bukan untuk mengambil alih mimbar, tetapi untuk membenahi belakang layar.

Hasilnya nyata.
Pendapatan dan jumlah staf AWM berlipat ganda. Auditorium dan fasilitas besar dibangun. Charis berkembang ke puluhan negara dan ratusan kota. Semua ini bukan terjadi karena mujizat instan, tetapi karena keputusan-keputusan benar yang konsisten.

Salah satu keteladanan Paul yang paling kuat adalah integritas tanpa kompromi.

Dalam salah satu bisnis besar yang ia jalankan, Paul diminta memberikan uang suap agar proyek dapat berjalan. Ia menolak. Akibatnya, ia dikeluarkan dan digantikan supplier lain. Selama satu tahun penuh, Paul kehilangan keuntungan besar. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada pembenaran rohani.

Setahun kemudian, praktik kotor itu terbongkar. Pemerintah Amerika Serikat justru mencari Paul dan mempercayakan proyek yang jauh lebih besar kepadanya. Keuntungannya dua kali lipat dari yang hilang sebelumnya. Apa yang hilang karena integritas, dikembalikan Tuhan melalui jalur yang bersih.

Ini pelajaran mahal:
integritas mungkin membuat kita kehilangan uang hari ini, tetapi menyelamatkan masa depan kita.

Paul Milligan juga mengajarkan prinsip yang sering disalahpahami orang percaya. Ia berkata, kehendak Tuhan tidak otomatis terjadi hanya karena kita berdoa. Anugerah Tuhan sudah menyediakan segalanya di dalam roh, tetapi *dibutuhkan respons iman yang konkret.*

Kerjakan bagian kita dengan serius.
Kumpulkan pengetahuan.
Bangun tim yang tepat.
Bekerja dengan excellence.

Setelah semua itu dilakukan, beristirahatlah di dalam Tuhan. Jangan stres. Jangan memaksa hasil dengan kekuatan sendiri. Di titik kita berhenti, Tuhan mulai mengerjakan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan. Di sanalah supernatural bekerja.

Paul juga menegaskan bahwa banyak orang sebenarnya sudah didoakan dan diberkati Tuhan, tetapi menganulir berkat itu sendiri karena kurang komitmen. Talenta ada. Peluang ada. Tetapi tidak dikerjakan dengan konsisten dan bertanggung jawab.

Keteladanan Paul bukan pada kata-katanya, tetapi pada hidup yang selaras. Apa yang ia ajarkan, itulah yang ia jalani. Ia berhasil membangun hampir dua puluh perusahaan, dan tetap menjadi pelayan Tuhan yang berbuah. Kombinasi ini sangat langka.

Hari ini Paul Milligan sudah menyelesaikan pertandingannya. Ia dipromosikan ke kemuliaan. Namun pengaruhnya tidak berhenti. Ia hidup dalam sistem yang dibenahi, pemimpin yang diperlengkapi, dan pelayanan yang terus menjangkau dunia.

Ia membuktikan satu hal:
ketika bisnis dibangun di atas Firman, dan pelayanan dikelola dengan hikmat, dampaknya akan jauh melampaui satu generasi.

Selamat jalan, Paul Milligan, guru yang kukagumi…

Engkau telah mengakhiri pertandingan dengan baik dan memelihara imanmu sampai garis akhir. Surga bersukacita menyambutmu, karena hidupmu berkenan dan berbuah.

Jejakmu tertinggal di bumi, tetapi upahmu menantimu di kekekalan. Apa yang engkau tabur dalam ketaatan, integritas, dan kasih, kini dituai dalam kemuliaan. Hamba yang baik dan setia, masuklah dalam sukacita Tuhanmu.

Sampai berjumpa kembali, di rumah Bapa, di tempat di mana jerih lelah berubah menjadi sorak sorai.

“One person with a belief is equal to ninety-nine who have only interests” — John Stuart Mill III.

“Satu orang dengan keyakinan lebih kuat daripada sembilan puluh sembilan orang yang hanya memiliki minat” — John Stuart Mill III.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tur Harbin: Dari Dunhua ke Snow Village: Cantik, Dingin, dan Dalam Maknanya.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Dari Dunhua ke Snow Village: Cantik, Dingin, dan Dalam Maknanya.

Dunhua itu kota transit. Titik berhenti sebelum kami masuk ke Hailin Snow Village. Kota kecil bernuansa China–Korea. Tulisan Korea hampir di seluruh sudut kota. Unik, dingin, dan tenang.

Saat hendak naik bus, Frank, local guide kami, menunjuk ke depan hotel. “Itu Buddha duduk tertinggi di dunia, menghadap ke selatan. Katanya sedang berhadapan dengan Buddha duduk yang lebih kecil di Hongkong. Biar ada teman ngobrol,” ujarnya sambil tertawa. Kami ikut tertawa. Humor receh tapi menghangatkan.

Lalu muncullah kisah Ratu Qixi, ratu paling boros. Setiap hari harus makan seratus macam hidangan.
Alamaaak….bagaimana makannya coba?

Istana mewah, tubuh terawat, wajah dipuja. Tapi usia tetap berjalan. Tak ada kosmetik yang bisa menahan waktu.

Di pegunungan dingin, hidup snow frog, katak kecil yang bisa berbulan-bulan bahkan ratusan hari tanpa makan. Lemaknya dipercaya menjaga daya hidup. Frank bilang, di dekat hotel kami, snow frog legendaris itu ada. Maka Qixi percaya, minyak snow frog bisa membuat awet muda. Konon, saat wafat, snow frog ikut dikubur bersamanya. Duh… kasihan snowfrognya.

Legenda ini sederhana tapi menampar. Manusia bisa membeli segalanya, kecuali keabadian. Dan yang dikejar mati-matian sering kali tidak pernah mengenyangkan jiwa. Tidak ada kepuasan sejati di luar Tuhan.

Mengapa harus transit di Dunhua?
Bu Rita menjelaskan, inilah beda tur premium dan tur biasa. Perjalanan diatur supaya tubuh tidak lelah. Bukan dihajar jarak. Ada tur yang bolak-balik Snow Village sampai waktu habis di jalan. Sampai lokasi sudah capek, penuh turis. Bahkan ada yang ke Harbin tapi tidak ke Snow Village.Padahal tempat ini cantik luar biasa.

Sengaja masuk lewat Dalian juga, agar tubuh kita tidak kaget. Dinginnya bertahap hingga paling dingin di Harbin. Strategi yang cerdik.

Tur Bu Rita TX Travel ini menginap di tengah Snow Village. Bayar tiket dan ada gate untuk masuk di lokasi ini. Ibaratnya, betul-betul di tengah ‘Disneyland’ nya.
Wuih… nikmat.

Depan hotel penuh resto dan pedagang street food. Sate, sosis, mala skewers pedas hangat, tahu, jamur, sayur berbumbu. Ada buah beku alami, dingin tapi manis segar.
Ada pilihan berbagai minuman hangat.
O ya juga jagung rebus or bakar yang rasanya seperti ketan yang pulen.
Tinggal pilih.

Ada pula supermarket, Starbucks, toko-toko. Mau naik dog sledding – kereta yang ditarik plastik, tempat duduk plastik atau kayu berbagai model yang ditarik manusia juga ada. Bisa untuk bawa koper-koper juga.
Pokoknya fasilitas lengkap.

Di belakang hotel, naik tangga sedikit, spot foto ramai sekali. Banyak orang-orang yang live streaming. Malam hari jepret-jepret. Jam delapan, kembang api mekar. Ciamiiik.

Dan kami beramai-ramai membuat ‘lukisan cantik’. Saat air panas dilempar ke udara minus lebih dari 20 derajat, ia tak sempat jatuh sebagai air.
Dalam sekejap, air itu meledak menjadi awan kristal es, berkilau diterpa cahaya, seperti debu cahaya surgawi yang menari sebentar… lalu lenyap.
Menarik sekali.

Pagi hari kami foto lagi. Sama-sama cantik, tapi keindahannya beda. Malam penuh lampu warna-warni, pagi soft tenang… Semua ini memungkinkan, karena kami menginap di Snow Village.

Kata Bu Rita, hotel ini harus booking setahun sebelumnya. Beliau sampai ganti agen dua kali demi hotel-hotel di lokasi khusus ini. Worth it.

Dilanjut naik jeep ke Yangcao. Suhu -28°C, terasa seperti -35°C. Salju turun, angin kencang.
Cemara-cemara dibungkus salju tebal. Seperti kartu Natal hidup.

Lanjut ke Snow Gallery. Lebih dingin lagi… minus 28 derajad tapi serasa minus 41 derajad. Cemara lebih banyak lagi dan semua diselimuti salju seperti pemandangan yang kerap kita lihat di kalender atau tiktok.

Patung-patung berbagai boneka salju yang lucu, lampion merah dan berbagai asesoris manis ada di ke dua lokasi indah itu.
Foto, video, tertawa, menari bersama teman-teman…. senangnya…
Liburan jadi hidup.

Anehnya, justru karena salju turun, jalan tidak licin. Klo tidak turun salju, es mengeras bak kaca itulah yang licin sekali. Bisa terpeleset that’s why mesti pakai spike paku-paku di sepatu.

Saljunya putih bersih, halus. Sampai alis dan bulu mata memutih. Menurut B. Rita, salju di kutub tidak bisa demikian karena butir-butir saljunya lebih besar.
Segenggam salju dilempar ke udara… wuih. Indah sekali.

Nach … ketela manis, sate dan sweet ice & snow pot yang manis segar, laris manis. Sambil beli, numpang menghangatkan tangan yang kedinginan.

Yang lucu, P. Mul & B. Mega, pasangan dokter ini beli ketela hanya untuk menghangatkan tangan. Saat mendingin, ditukar lagi dengan yang masih panas…. wkwkwk….

Dinner malam ini, steak ala Rusia karena kami mrnginap di tengah-tengah Volga Manor, kampung Rusia.
Hotel kami dikelilingi pahatan-pahatan es.
Keren abis dah….
Lanjut kisahnya di artikel besok.

*”You have made us for Yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in You.” – Augustine of Hippo.*

*”Engkau menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau.” – Augustine of Hippo.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Sejak semalam, hujan salju turun cukup deras. Tidak heran saat bangun pagi, salju di sekitar hotel sudah tebal. Putih bersih, senyap, dan entah kenapa selalu bikin hati terasa lebih adem.

Di mana ada salju tebal, sekitarnya otomatis kelihatan cantik. Pohon, jalan, atap bangunan, semua seperti diselimuti keheningan. Suhu turun ke minus 14°C, tapi rasanya jujur saja seperti minus 20°C. Angin tajam, dingin menggigit. Nah lho… baju “perang” pun resmi dimulai. Berlapis-lapis tanpa kompromi. Wkwkwk.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Imperial Palace Shenyang.

Istana ini sudah berusia sekitar 400 tahun, dibangun tahun 1625. Bahkan lebih tua dari Forbidden City di Beijing. Di sinilah fondasi Dinasti Qing dimulai, jauh sebelum mereka menguasai seluruh Tiongkok.

Ada kisah menarik tentang Nurhaci, pendiri Dinasti Jin Akhir dan tokoh kunci lahirnya Qing. Ia bukan bangsawan istana. Ia adalah kepala suku Manchu yang hidup keras, ditempa peperangan, dan kehilangan ayah serta kakeknya karena konflik dengan Dinasti Ming.

Dari luka itulah, Nurhaci menyatukan suku-suku Manchu lewat disiplin militer yang ketat dan sistem Eight Banners yang legendaris.

Eight Banners atau Sistem Delapan Panji adalah sistem organisasi unik yang membagi masyarakat Manchu ke dalam delapan panji berwarna. Ini bukan cuma pasukan perang, tetapi sistem hidup: tentara, keluarga, logistik, dan kepemimpinan menyatu dalam satu struktur. Dengan sistem ini, Nurhaci menyatukan suku-suku yang tercerai-berai menjadi satu kekuatan besar. Dari sinilah Dinasti Qing punya mesin kekuasaan yang rapi, loyal, dan sangat efektif.

Shenyang menjadi pusat kekuasaannya, dan istana ini adalah simbol awal mimpi besar yang kelak mengubah sejarah Tiongkok.

Keunikan istana ini terasa kuat. Arsitekturnya bukan Han murni, bukan Mongol. Ini perpaduan Manchu-Han, dengan tata ruang yang lebih ringkas, praktis, dan sarat nuansa militer. Bahkan ada paviliun yang dirancang khusus untuk diskusi strategi perang, bukan sekadar upacara simbolik.

Kami pun segera berfoya-ria di sana. Foto ini, foto itu, sambil menahan dingin. Salju membuat istana tua ini tampak makin anggun dan berwibawa.

Berjalan di tempat berusia 400 tahun, di tengah salju dan sunyi, saya merasa sejarah tidak sedang berteriak.
Ia sedang berbisik. Dan justru itu yang membuatnya terasa hidup.

Dari Shenyang kami menuju Changchun.

Malam itu kami dinner di resto Korea Utara.
Lho… bukannya kami sedang di Changchun, China?

Yes. Betul sekali.
Dari Changchun ke perbatasan Korea Utara hanya sekitar 2,5 jam. Dan di kota ini, keberadaan restoran Korea Utara memang bukan hal yang aneh. Tapi pengalaman kami malam itu… jujur, jauh dari kata biasa.

Semua pelayannya adalah *gadis-gadis cantik dari Korea Utara.* Bukan sembarang pelayan. Mereka lulusan universitas ternama di Pyongyang. Tinggi badan, penampilan, latar belakang keluarga, bahkan kesetiaan politik *hingga tiga generasi*, semuanya diseleksi ketat. Baru setelah itu mereka diizinkan bekerja di luar negeri, termasuk di China.

Pertanyaannya langsung muncul di kepala:
_Kok bisa lulusan universitas bagus, cantik, terdidik, hanya jadi pelayan restoran?_

Itulah yang terjadi dengan negara yang masih terisolasi.
Mereka hanya bisa menikmati sekitar 50% penghasilannya.

Di luar negeri mereka bisa mendapat gaji yang lebih besar.
Gaji mereka sekitar 4.000 yuan per bulan, tapi mereka hanya perlu 300–500 yuan karena hidupnya hanya dari mess ke resto. Sisanya dikirim ke Korea Utara. Dari jumlah itu, setelah dipotong pajak dll oleh pemerintah, baru sisanya kurang dari 50% diberikan kepada keluarga mereka.

Mereka bekerja tujuh hari penuh, tinggal di mess, dan hanya mendapat libur dua jam per minggu. Setiap hari wajib membuat laporan detail: bertemu siapa, bicara apa, melakukan apa. Tidak boleh pacaran. Tidak boleh menikah dengan orang non-Korea Utara. Nekad melanggar? Keluarga mereka yang jadi jaminan. Penjara… atau lebih dari itu.

Lalu makanannya?
Wuih… enak! Bahkan
jauh lebih variatif dibanding saat kami benar-benar ke Korea Utara. Ada 14 macam hidangan, semua tersaji rapi. Malam itu juga ada hiburan. Gadis cantik menyanyi, diiringi akordion, berpindah dari satu ruang VIP ke ruang lainnya. Profesional. Tersenyum. Tapi matanya… tenang sekaligus kosong.

Mencicipi hal baru, ditambah pengalaman yang tidak biasa, selalu membuat saya tersadar:
itulah alasan saya suka travelling. Bukan cuma lihat tempat, tapi *melihat kehidupan.*

Dan hati saya bersyukur.
Lahir di Indonesia.
Menikmati kebebasan. Bukan hanya kebebasan fisik, tapi *kebebasan rohani*. Mengenal Tuhan yang penuh kasih. Tuhan yang memampukan kita hidup di atas situasi apa pun. Bersama-Nya, tidak ada yang mustahil.

Mengenal-Nya secara pribadi membuat hidup bermakna.
Dan kekekalan… sudah terjamin.

Praise The Lord!

He who has a why to live can bear almost any how.” – Viktor Frankl

“Orang yang memiliki alasan untuk hidup, dapat bertahan dalam hampir segala keadaan.” – Viktor Frankl

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Jejak Kenangan di Brisbane & Sydney dengan Regent Seven Seas Cruise.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jejak Kenangan di Brisbane & Sydney dengan Regent Seven Seas Cruise.

Brisbane… Brisbane… Brisbane… kota yang penuh kenangan.
Dengan penuh antusias kami mengikuti tour Leisure Brisbane.

Bagi P. Indra dan saya, ini bukan sekadar jalan-jalan. Ini seperti napak tilas perjalanan puluhan tahun lalu, saat kami mengantar Christian yang baru lulus SD untuk sekolah SMP sekaligus sekolah golf di Brisbane.
Waktu itu ia masih sangat kecil. Dan jujur saja, kami pun masih sangat minim pengalaman. Banyak keputusan diambil dengan iman yang polos, nyaris nekat. Tapi justru di sanalah kami melihat satu hal yang tak pernah berubah: Tuhan setia. Ia peduli. Ia menyertai. Ia mengubah keterbatasan kami menjadi kebaikan.

Saat hari ini ‘look back’ – kami menoleh ke belakang, jelas terlihat tangan Tuhan yang menuntun setiap langkah. Hati ini terharu. Terpukau. Dipenuhi rasa syukur.
God is good all the time. All the time, God is good.

Perjalanan mengitari kota Brisbane sungguh menyenangkan. Kota ini berubah banyak dalam 15 tahun terakhir. Terakhir kami ke sini saat Christian wisuda.
Kini gedung-gedung menjulang lebih modern, sungai tampak lebih hidup, dan kota terasa lebih rapi serta tertata.

P. Indra terlihat paling menikmati momen ini. Di tengah city, sambil video call dengan Christian, beliau menunjuk satu per satu lokasi yang dulu sering kami lewati. Elizabeth Street, tempat gereja Christian dulu beribadah, kini sudah berubah fungsi. King Street, Ann Street, dan Brisbane River terlihat makin cantik, lebih tertata, dan terasa hidup.

Hari itu 25 Desember. Natal. Banyak toko dan restoran tutup. Kota terasa lebih tenang, seolah memberi ruang bagi keluarga untuk berkumpul dan bersyukur. Suasana yang sederhana, tetapi hangat.

Foto-foto ini diambil di Kangaroo Point Cliffs Park, sebuah bukit batu alami yang menghadap langsung ke Brisbane River dan skyline kota. Dari sinilah kita bisa melihat gedung-gedung tinggi Brisbane, Story Bridge, dan aliran sungai yang membelah kota. Tempat ini memang terkenal sebagai spot favorit untuk menikmati panorama kota, terutama di siang hari yang cerah seperti ini. Angin sepoi, langit biru, dan pemandangan yang menenangkan hati.

Keesokan harinya kapal tidak docking. Kami berlayar menuju Sydney.
Dan di sanalah pengalaman lain menanti.

Cuaca cerah dan yang lebih menyenangkan lagi, meski summer temperatur sekitar 19? – 22? C, pas untuk jalan-jalan. Sejuk tetapi ada matahari diiringi semilir angin dingin. Langitnya biru berhiaskan awan-awan cantik, membuat foto-foto makin cantik.

Di Sydney, kami mengikuti Sydney Harbour Cruise sekitar tiga jam.
Rasanya… wow. Santai, elegan, dan menyenangkan. Sambil duduk menikmati pemandangan, kue dan minuman datang silih berganti. Semua disajikan dengan rapi, dan tentu saja… free of charge, khas *Regent Seven Seas Explorer.*

Kami mengitari ikon-ikon Sydney: – Sydney Opera House yang selalu memukau dari sudut mana pun
Sydney Harbour Bridge, megah dan kokoh
The Rocks, kawasan tua penuh sejarah
Circular Quay yang sibuk namun hidup
Fort Denison, pulau kecil dengan kisah militernya
Royal Botanic Garden dan Mrs Macquarie’s Chair, hijau dan menenangkan
Setiap sudut terasa seperti kartu pos hidup.

Yang lucu, hampir hanya kami rombongan orang Indonesia yang sibuk foto sana-sini. Jepret… jepret… ganti pose… ganti angle.
Sementara para bule lebih memilih duduk tenang, menikmati pemandangan tanpa banyak gaya. Mereka Ada juga dua orang Asia lain yang sesekali ikut memotret, tapi selebihnya… kami juaranya.
Hahaha….

Konon orang Asia itu punya ciri khas tersendiri.. Tour guide kami dari Singapura, jika keluarganya datang, yang pertama ditanyakan di Sydney adalah Fish Market alias pasar ikan. Rupanya Sydney Fish Market merupakan fish market kedua terbesar di dunia setelah Tokyo. Unik ya? Yang dicari pertama justru pasar ikan. Tuhan memang kreatif, mencipta manusia dengan berbagai ragamnya.

Dan justru di situ letak keindahannya.
Perjalanan ini bukan soal tempat mewah atau foto indah semata. Tapi tentang mengenang penyertaan Tuhan, melihat kembali jejak langkah-Nya, dan menyadari bahwa hidup ini sungguh penuh anugerah.

Seusai cruise, jalan-jalan santai sambil mencari souvenir cantik dan oleh-oleh untuk keluarga.
MU SEA UM, alias museum laut yang sengaja ditulis unik nan menggelitik.

Dari Brisbane ke Sydney, dari masa lalu ke hari ini, satu hal yang pasti:
Tuhan tidak pernah salah membawa kita berjalan menyusuri setiap musim kehidupan.
Dan setiap musim, selalu ada cerita indah yang Ia ukir.
Mengagumkan bukan?

Praise The Lord!

Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes a memory.” – Dr. Seuss

“Sering kali kita baru menyadari nilai sebuah momen ketika ia telah menjadi kenangan.- – Dr. Seuss

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Di Antara Terumbu Karang dan Angin Laut: Catatan Syukur dari Cairns ke Airlie Beach.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Antara Terumbu Karang dan Angin Laut: Catatan Syukur dari Cairns ke Airlie Beach.

Cairns menyambut kami dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Kota tropis ini seperti tahu persis caranya membuat orang melambat. Pagi itu kami berjalan santai di sekitar area Gonsavale. Tidak ada agenda besar. Hanya langkah kaki, udara hangat, dan suasana yang ramah. Cairns bukan kota yang berisik. Ia tidak berusaha mengesankan. Justru karena itulah ia terasa jujur.

Berjalan di sini mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu harus penuh target. Ada masa di mana kita cukup hadir, cukup mengamati, cukup menikmati. Melihat orang-orang berlalu dengan ritme mereka sendiri. Mendengar suara alam yang bersahut-sahutan. Ada damai yang turun pelan-pelan, tanpa pengumuman.

Cairns juga punya satu mahakarya yang membuatnya dikenal dunia, Great Barrier Reef. Inilah taman bawah laut terbesar di dunia. Luasnya membentang ribuan kilometer, terdiri dari ribuan terumbu karang dan ratusan pulau kecil. Dari udara, ia tampak megah. Dari bawah laut, ia hidup, berwarna, dan penuh detail yang membuat kita terdiam.
Great Barrier Reef bukan sekadar destinasi wisata. Ia seperti galeri ciptaan Tuhan yang diletakkan di bawah permukaan laut. Karang-karang dengan bentuk dan warna yang tidak pernah kita bayangkan. Ikan-ikan kecil berkilau, penyu laut, dan kehidupan yang bergerak harmonis tanpa suara. Melihat atau bahkan sekadar membayangkan keindahannya membuat kita sadar betapa kecilnya manusia, dan betapa luar biasanya Sang Pencipta.

Dari Cairns, keesokan harinya, perjalanan kami berlanjut ke Airlie Beach. Dan suasananya berubah, tapi tetap memikat. Laut di sini berwarna hijau tosca, jernih dan tenang. Sepanjang jalan, mata dimanjakan oleh bunga flamboyan berwarna oranye menyala dan bougenville warna-warni yang tumbuh subur. Alam seakan sedang tidak pelit menunjukkan keindahannya.

Kami singgah di Coral Sea Resort. Pemandangannya langsung menghadap laut. Kapal dan boat cantik berjejer di perairan yang tenang, memberi kesan hidup namun tetap rapi. Ada rasa menyenangkan melihat laut yang tidak kosong, tetapi juga tidak sesak. Semua berada di tempatnya.
Bangunan-bangunan baru di sepanjang pantai menambah sentuhan modern tanpa merusak karakter alamnya. Airlie Beach terasa segar, tertata, dan bersahabat. Tempat yang membuat orang betah duduk lama, menatap laut, tanpa merasa harus melakukan apa pun.

Kenyamanan perjalanan ini semakin terasa karena perhatian pada hal-hal kecil. Snack, kopi, teh, semuanya tersedia dan sudah termasuk dalam fasilitas Regent Seven Seas Explorer. Tidak repot, tidak ribet. Semua mengalir. Ada rasa dimanjakan, tapi dengan cara yang tenang, tidak berisik.

Kami juga mengunjungi Proserpine Museum di Airlie Beach. Museum kecil, sederhana, namun penuh cerita. Tentang sejarah wilayah ini, tentang laut yang menjadi nadi kehidupan, dan tentang orang-orang yang membangun komunitasnya dari waktu ke waktu. Tempat seperti ini selalu mengingatkan bahwa keindahan hari ini tidak muncul begitu saja.

Cairns dengan Great Barrier Reef-nya, dan Airlie Beach dengan laut hijau toscanya, memberi pelajaran yang sama. Dunia ini indah bukan karena kita mengejarnya, tetapi karena kita mau berhenti sejenak untuk melihat. Dan di setiap keindahan itu, ada undangan lembut untuk bersyukur. Tanpa perlu kata-kata besar. Cukup hati yang terbuka dan kopi yang dinikmati perlahan.

“Look deep into nature, and then you will understand everything better.” – Albert Einstein.

“Tataplah alam dengan sungguh-sungguh, maka kita akan memahami banyak hal dengan lebih jernih.” – Albert Einstein.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4 5