Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

Saat Alasan Hilang, Masihkah Kasih Bertahan?”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Saat Alasan Hilang, Masihkah Kasih Bertahan?”

Kita hidup di dunia yang cepat berubah.
Perceraian sudah jadi berita biasa. Awal gebyar-gebyar, sebentar bubar.

Perasaan bisa naik turun, keadaan bisa berubah dalam semalam, dan hubungan sering kali diuji oleh hal-hal yang tidak kita rencanakan.
Di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang jujur dan dalam:
Apakah kasih kita bertahan ketika alasannya hilang?

Banyak orang memulai dengan kasih karena ada alasan. Karena cocok. Karena nyaman. Karena diperlakukan dengan baik. Tapi waktu berjalan, alasan-alasan itu bisa memudar. Perbedaan mulai muncul. Ekspektasi tidak terpenuhi. Luka mulai terasa.

Di titik itulah kasih diuji.

Kasih yang sejati bukan dibangun di atas alasan. Kasih dibangun di atas komitmen.

Komitmen itu tidak selalu emosional. Tidak selalu hangat. Kadang justru sunyi. Tapi di situlah kekuatannya. Karena komitmen membuat kita tetap memilih, bahkan ketika perasaan tidak mendukung.

Kasih seperti ini bukan sesuatu yang bisa kita hasilkan dari kekuatan sendiri. Ini lahir dari hubungan dengan Tuhan. Ketika kita menerima kasih-Nya yang tidak bersyarat, kita mulai punya kapasitas untuk mengasihi dengan cara yang sama.

Bukan karena orang lain layak.
Tapi karena kita sudah lebih dulu dikasihi.

Kasih yang bertahan bukan berarti tanpa tantangan. Justru sebaliknya. Kasih itu ditempa oleh musim demi musim kehidupan. Ada masa mudah, ada masa sulit, ada masa penuh pertanyaan.

Tapi ketika Tuhan menjadi pusatnya, kasih itu tidak runtuh. Ia justru dikuatkan.

Dan menariknya, kasih yang dewasa selalu berjalan berdampingan dengan pengertian.

Di sinilah kita masuk ke bagian yang sering diabaikan: setiap orang membawa cerita.

Tidak ada satu pun dari kita yang datang ke dalam hubungan sebagai “kertas kosong”. Kita semua membawa masa lalu. Pengalaman. Luka. Cara berpikir. Cara bertahan.

Dan sering kali, kita terlalu cepat menilai tanpa benar-benar memahami.

Padahal ketika kita berhenti sejenak dan mau melihat lebih dalam, perspektif kita berubah.

Orang yang terlihat keras, mungkin pernah disakiti.
Orang yang tertutup, mungkin pernah dikecewakan.
Orang yang sulit percaya, mungkin pernah dikhianati.

Cerita tidak membenarkan semua tindakan. Tapi cerita memberi konteks.

Dan konteks mengubah cara kita merespon.

Ketika kita mengerti cerita seseorang, kita jadi lebih sabar. Lebih bijak. Lebih penuh kasih. Kita tidak lagi sekadar bereaksi, tapi mulai memahami.

Dan di situlah kasih menjadi nyata.

Bukan kasih yang dangkal. Tapi kasih yang punya kedalaman.

Hal yang sama juga berlaku untuk hidup kita sendiri.

Masa lalu kita tidak menentukan masa depan kita. Tapi masa lalu membentuk perjalanan kita.

Banyak orang ingin “menghapus” bagian-bagian hidup yang tidak mereka suka. Mereka ingin melupakan, menutup, atau menyangkal.

Padahal justru di situlah sering kali Tuhan bekerja paling dalam.

Bagian yang kita anggap gelap… sering menjadi tempat di mana karakter kita dibentuk.
Bagian yang kita anggap gagal… sering menjadi dasar dari pertumbuhan kita.

Kalau kita menolak cerita kita, kita kehilangan pemahaman tentang bagaimana kita sampai di titik ini.

Dan lebih dari itu, kita bisa kehilangan rasa syukur.

Karena sebenarnya, setiap musim — baik atau tidak — punya perannya.

Tuhan tidak menyia-nyiakan apapun.

Dia sanggup memakai masa lalu, bahkan yang paling tidak nyaman sekalipun, untuk membentuk hati yang lebih kuat, lebih lembut, dan lebih dalam.

Jadi hari ini, mungkin yang perlu kita lakukan bukan mencari hubungan yang sempurna atau hidup yang tanpa luka.

Tapi belajar dua hal sederhana:

Mengasihi dengan komitmen, bukan hanya dengan alasan.
Dan melihat orang dengan pengertian, bukan hanya penilaian.

Karena kasih yang bertahan tidak lahir dari kondisi yang ideal.

Kasih itu lahir dari hati yang sudah disentuh Tuhan… dan memilih untuk tetap mengasihi, di setiap musim.

Dan ketika kita hidup seperti itu, kita tidak hanya mengalami kasih.
Kita menjadi saluran kasih itu sendiri.

“Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that.” – Martin Luther King Jr.

“Kegelapan tidak dapat mengusir kegelapan; hanya terang yang bisa. Kebencian tidak dapat mengusir kebencian; hanya kasih yang bisa.” – Martin Luther King Jr.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Hanya Mampir di “Rumah” Penjara: Rahasia Yusuf dan Mandela Mengubah Nasib.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hanya Mampir di “Rumah” Penjara: Rahasia Yusuf dan Mandela Mengubah Nasib.

Pernahkah kita merasa terjebak dalam situasi yang sangat tidak adil? Mungkin itu lingkungan kerja yang “toxic”, masalah keuangan yang tak kunjung usai, atau hubungan yang terasa menyesakkan. Rasanya ingin marah, protes, dan menyalahkan keadaan yang seolah-olah mengunci langkah kita.
Tapi ada satu detail kecil dari kisah Yusuf yang semakin kita renungkan, semakin terasa dalam maknanya. Ketika ia meminta juru minuman raja untuk mengingatnya, ia berkata: “keluarkanlah aku dari rumah ini.”

Perhatikan pilihan katanya yang sangat tidak lazim. Padahal Yusuf sedang berada di dalam penjara yang gelap, dingin, dan penuh stigma negatif. Namun, ia menyebut penjara itu sebagai rumah.

Wuih…. dahsyatnya!

Yusuf tidak menyebutnya sebagai tempat kutukan atau jurang penderitaan yang menghancurkan hidupnya. Dengan menyebut penjara sebagai “rumah”, Yusuf sedang menunjukkan bahwa ia tidak membiarkan situasi mendefinisikan narasinya. Ia tidak menamai musim hidupnya dengan bahasa kepahitan. Bagi Yusuf, penjara hanyalah tempat tinggal sementara—sebuah transit yang harus ia jalani, bukan identitas permanennya.

DIENK……

Ternyata sering kali, di situlah letak perbedaan antara orang yang akhirnya diangkat naik dan orang yang berhenti di tengah jalan. Yusuf tidak menunggu keadaan berubah untuk tetap hidup benar. Ia tetap berfungsi maksimal, tetap memperhatikan orang lain, bahkan tetap menafsirkan mimpi meski ia sendiri sedang “terkurung”. Ia hidup dari sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kenyamanan situasi.

Pola yang sama kita lihat dalam sejarah modern pada sosok Nelson Mandela. Bayangkan, Mandela menghabiskan 27 tahun hidupnya di penjara Robben Island yang sangat keras. Secara logika, tempat itu dirancang untuk mematahkan semangat manusia, menghancurkan martabat, dan memadamkan harapan.

Tapi apa yang terjadi?
Mandela justru menjadikan penjara sebagai “sekolah kepemimpinan” yang paling berharga. Selama di sana, ia tidak berhenti mendidik dirinya sendiri dan sesama tahanan. Ia belajar kesabaran yang luar biasa, disiplin diri yang ketat, dan empati yang mendalam—kualitas yang justru membentuknya menjadi negosiator ulung di kemudian hari.

Bahkan, Mandela melakukan sesuatu yang hampir mustahil: ia membangun hubungan dengan para penjaganya. Ia mendorong rekan-rekannya untuk memahami “lawan” mereka, bukan sekadar melawan secara emosional. Baginya, penjara bukan akhir dari segalanya, melainkan tempat pembentukan karakter agar ia siap memimpin sebuah bangsa besar yang sedang hancur.
Sangat melegakan, bukan?

Ini memberi kita satu pelajaran penting: Tempat tidak menentukan masa depan kita. Cara kita memandang tempat itulah yang menentukan apakah kita akan dimatangkan atau justru dihancurkan di dalamnya.

Tempatnya bisa berubah-ubah—dari rumah Potifar ke penjara, lalu ke istana—tapi satu hal yang tetap sama adalah penyertaan Tuhan yang kita undang dalam setiap musim.
Tuhan kita itu sangat sopan; Dia menunggu kita melibatkan-Nya untuk mengubah perspektif kita. Yusuf tidak mengambil bahasa “korban” atau merasa sebagai orang yang paling malang sedunia. Ia hidup dari janji Tuhan yang pernah ia terima lewat mimpi, bukan dari kepahitan pengalaman yang sedang ia jalani.

Sering kali, hasil akhir hidup kita tidak ditentukan oleh apa yang kita alami, melainkan oleh bagaimana kita memandang apa yang kita alami. Penundaan bukan berarti penolakan; itu bisa jadi adalah ruang bagi Tuhan untuk memperlebar kapasitas hati kita.

Jadi, jika hari ini kita merasa sedang berada di “penjara” kehidupan, jangan biarkan tempat itu menentukan siapa kita. Jangan jadikan penderitaan sebagai mahkota atau identitas. Sebutlah itu sebagai “rumah” sementara, tempat di mana kita sedang dipersiapkan untuk tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Ketika waktu Tuhan tiba, pastikan kita keluar bukan sebagai pribadi yang hancur dan penuh dendam, tetapi sebagai pribadi yang siap dan matang karena telah lulus dari sekolah pembentukan-Nya yang ajaib.

“I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it.” — Nelson Mandela

“Saya belajar bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemenangan atasnya”. — Nelson Mandela.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Botol Kaca Irena: Ketika Keberanian Sunyi Menggetarkan Surga

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Botol Kaca Irena: Ketika Keberanian Sunyi Menggetarkan Surga

?Pernahkah kita merasa bahwa hidup kita ini “biasa-biasa saja”? Tidak ada panggung besar, tidak ada tepuk tangan riuh, bahkan mungkin kebaikan yang kita lakukan tidak ada yang melihat. Rasanya sepi.

?Tapi tahukah Anda? Ada jenis keberanian yang tidak butuh teriakan. Keberanian yang bentuknya seperti doa pelan, namun sanggup mengubah masa depan.

?Irena Sendler adalah bukti nyatanya. Ia hanya seorang pekerja sosial biasa di Polandia saat Perang Dunia II. Ia tidak punya pangkat jenderal atau kuasa politik. Tapi ia punya satu hal yang tidak bisa dirampas: hati yang tidak mau kompromi dengan ketidakadilan.

?Ketika ribuan orang Yahudi dikurung dan menunggu maut, Irena memilih masuk ke sana. Setiap hari! Risikonya? Disiksa atau ditembak mati. Ia menyelundupkan bayi dalam kotak dan anak-anak dalam karung untuk dibawa ke tempat aman.

?Wuih…. dahsyatnya!

?Dan bagian yang membuat saya tertegun: Irena menulis nama asli anak-anak itu di secarik kertas, memasukkannya ke dalam botol kaca, lalu menguburnya di bawah pohon. Ia berharap suatu hari mereka bisa menemukan kembali jati diri mereka. Itu bukan sekadar kasihan, itu iman yang bergerak!

?Mungkin kita berpikir, “Itu kan zaman perang.” Tapi bukankah hari ini kita juga punya “perang” versi sendiri? Ada perang dalam rumah tangga, perang pikiran melawan rasa takut, hingga perang menghadapi karakter orang yang tidak kunjung berubah. Tidak ada bom, tapi tekanannya luar biasa. Tidak ada penjara fisik, tapi ada penjara emosional.

?DIENK……

Ternyata di situ Tuhan tidak bertanya, “Apakah kamu menyelamatkan ribuan orang?” Ia hanya bertanya, “Apakah kamu mau taat dalam bagian kecil yang Aku percayakan?”

?Keberanian rohani itu sering kali tidak viral. Ia adalah saat kita tetap mengasihi meski diperlakukan tidak adil. Tetap benar saat orang lain manipulatif. Tetap jujur saat lebih mudah diam. Itu sunyi, tapi surga mencatatnya dengan tinta emas.

?Irena pernah disiksa hingga kakinya patah. Namun kalimatnya setelah perang justru menampar saya:
“Saya seharusnya bisa melakukan lebih banyak.”
Sangat melegakan, bukan?

Kalimat itu bukan muncul dari orang yang haus pujian, tapi dari hati yang merasa masih kurang dalam kasih. Sering kali kita merasa sudah cukup sabar, sudah cukup berkorban. Padahal, mungkin Tuhan sedang memanggil kita naik satu tingkat lagi—bukan untuk jadi pahlawan di mata manusia, tapi untuk menjadi matang di mata-Nya.

?Yang paling menyentuh bagi saya adalah botol kaca itu. Dunia mungkin mencoba menghapus identitas kita lewat label orang lain atau situasi yang pahit. Tapi Tuhan menyimpan nama kita. Tidak terkubur, tidak hilang. Kesetiaan kecil dan air mata sunyi Anda tidak ada yang sia-sia.

?Hari ini, mungkin kita tidak sedang menyelamatkan bayi dari peperangan. Tapi kita sedang menyelamatkan iman dan karakter kita agar tidak ikut rusak oleh keadaan. Itu juga peperangan yang mulia!

?Tidak apa-apa jika kita tidak berdiri di panggung besar. Asal ketika Tuhan melihat hidup kita, Ia berkata: “Engkau setia. Engkau tidak menyerah pada kegelapan.”

?Lakukan bagianmu dengan tulus hari ini, walau tak terdengar. Karena dampak dari ketaatan yang sunyi bisa menembus generasi.

“?Every child saved with my help is the justification of my existence on this Earth, and not a title to glory.” — Irena Sendler.

“?Setiap anak yang berhasil diselamatkan dengan bantuan saya adalah pembenaran keberadaan saya di bumi ini, bukan gelar untuk kemuliaan”. — Irena Sendler.

?YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Hagar & EL-ROI: Ketika Tuhan Membuka Mata…. Oh, Ternyata Sudah Ada di Sana!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

?Hagar & EL-ROI: Ketika Tuhan Membuka Mata…. Oh, Ternyata Sudah Ada di Sana!

?Pernahkah kita merasa begitu lelah menghadapi ketidakpastian? Rasanya seperti berdiri di depan padang kosong yang luas, tidak ada petunjuk, tidak ada jawaban. Di saat seperti itu, jujur saja, kadang terselip tanya di hati: Tuhan, Engkau di mana?

?Lucunya, sering kali masalahnya bukan karena Tuhan belum memberi. Masalahnya justru karena mata kita yang belum melihat apa yang sebenarnya sudah Dia sediakan di depan hidung kita.

?Tuhan punya pola yang unik. Berkali-kali Tuhan tidak langsung mengubah keadaan atau menyulap padang gurun jadi taman bunga. Yang Dia lakukan justru sesuatu yang jauh lebih esensial: Dia membuka mata kita.

?Hagar bukan orang asing di rumah Abraham, tapi tiba-tiba dunianya runtuh. Tanpa penjelasan panjang, ia disuruh pergi hanya dengan roti dan sekantong air.

Bayangkan perasaan Hagar. Ini terasa seperti penolakan yang brutal. Ia tidak meminta konflik ini, tapi tiba-tiba ia harus berjalan di padang gurun Bersyeba bersama Ismael yang masih kecil.
?Kadang hidup memang terasa “sekasar” itu. Bukan karena kita bersalah atau berdosa, tapi tiba-tiba keadaan berubah dan kita merasa tidak lagi diinginkan. Di situlah padang gurun kita dimulai.

?Saat air di kantong Hagar habis, ia menyerah. Ia menaruh anaknya di bawah semak dan berjalan menjauh karena tidak sanggup melihat Ismael mati kehausan. Seorang ibu yang hancur hati, duduk dan menangis. Tapi perhatikan, surga tidak pernah diam.

?Tuhan tidak datang dengan kuliah teologi yang panjang. Dia hanya menyatakan hadirat-Nya dan melakukan hal yang luar biasa: Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur.

?Satu hal yang harus kita catat baik-baik: Tuhan tidak menciptakan sumur itu saat itu juga. Sumur itu sudah ada di sana! Yang berubah bukan padang gurunnya, melainkan penglihatan Hagar.

Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya,”

?Sering kali kita pun begitu. Dalam keputusasaan, kita hanya fokus pada “kantong air yang kosong”. Kita merasa semuanya habis, padahal penyediaan Tuhan sebenarnya sudah ada di dekat kita. Ada sebuah janji yang manis: Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawab. Artinya, Tuhan sering kali sudah bekerja jauh sebelum kita sempat berlutut.

?Iman itu bukan memaksa Tuhan menciptakan sesuatu dari nol sesuai kemauan kita. Iman adalah keberanian untuk meminta Tuhan membuka mata kita supaya bisa melihat apa yang sudah Dia sediakan.

?Menariknya, Hagar memberi Tuhan sebuah nama: El-Roi. Artinya: Allah yang melihat aku. Bukan nabi besar yang memberi nama itu, tapi seorang perempuan yang terluka dan tersingkir.

Hagar menemukan rahasia yang indah: Dunia boleh melupakan kita, tapi Tuhan tidak pernah kehilangan koordinat lokasi kita.

Wuih …. dahsyatnya!
Sangat melegakan…..

?Tuhan tidak dengan sengaja membiarkan kantong air kita habis. Namun, sering kali Dia sedang menunggu kita mengundang-Nya untuk terlibat. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat sopan; Dia tidak akan mengintervensi hidup kita jika tidak diizinkan. Dia menunggu “undangan” dari hati kita yang berserah.

?Pintu yang tertutup sering kali bukan penolakan, tapi cara Tuhan mengarahkan kita ke sumber air yang lebih besar saat kita mulai melibatkan-Nya.

?Jadi, kalau hari ini Anda merasa sedang di padang gurun dan merasa ditinggalkan, ingatlah El-Roi masih sama. Dia melihat Anda. Dia mendengar Anda. Sama seperti kepada Hagar, Dia sanggup membuka mata kita untuk melihat “sumur” yang sudah Dia siapkan sejak semula. Karena dalam Kerajaan Allah, penyediaan itu sering kali sudah ada. Kita hanya perlu melibatkan-Nya dan melihat dengan mata iman.

?Lakukan yang terbaik hari ini, undang Dia dalam setiap detail hidupmu, lalu biarkan Tuhan membuka mata kita untuk melihat keajaiban-Nya yang sudah tersedia.

?”The strongest prison is not made of concrete and steel. It is the prison of your mind. God came to open that prison door.” — AR Bernard

“Penjara yang paling kokoh tidak terbuat dari beton dan baja. Melainkan penjara pikiran Anda. Tuhan datang untuk membuka pintu penjara itu.” — AR Bernard

?YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Melepaskan Genggaman, Menemukan Kedamaian.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Melepaskan Genggaman, Menemukan Kedamaian.

Pernahkah kita merasa begitu lelah, padahal fisik kita tidak sedang melakukan pekerjaan berat? Rasanya seperti ada beban tak kasatmata yang menggelayut di pundak, membuat napas terasa sesak dan pikiran terus berputar tanpa henti.

Biasanya, kelelahan jenis ini bukan datang dari tugas yang menumpuk, melainkan dari keinginan kita untuk mengontrol segala hal. Kita ingin memastikan masa depan anak-anak aman, kita ingin proyek di kantor berjalan tanpa cacat, bahkan kita ingin mengatur bagaimana orang lain harus bersikap kepada kita. Kita menggenggam kendali hidup begitu erat sampai jari-jemari kita kaku dan gemetar.

Lucunya, semakin kuat kita menggenggam, semakin kita merasa cemas. Kita takut jika genggaman ini kendur sedikit saja, semuanya akan hancur berantakan. Padahal, hidup ini sering kali bekerja di luar logika dan rencana manusia. Di sinilah pentingnya sebuah seni yang sering kita salah pahami: berserah.

Banyak orang mengira berserah itu berarti pasif atau menyerah pada nasib. Padahal, berserah yang sejati adalah tetap melangkah dan bekerja maksimal, namun berhenti memikul beban hasilnya sendirian.

George Mueller. Suatu pagi di panti asuhannya, ia menghadapi situasi yang mustahil: ada ratusan anak yatim piatu yang sudah duduk rapi di meja makan, tetapi tidak ada sepotong roti pun di dapur. Tidak ada uang, tidak ada stok makanan.

Secara logika, George seharusnya panik, marah, atau sibuk menelepon donatur. Tapi apa yang ia lakukan? Ia justru mengajak anak-anak itu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas makanan yang akan Tuhan sediakan. Ia melepaskan kendali logikanya dan memilih berserah penuh.

Tepat setelah ia mengucapkan “Amin”, terdengar ketukan di pintu. Seorang tukang roti datang membawa berkotak-kotak roti hangat karena ia merasa gelisah sepanjang malam dan merasa harus membakar roti ekstra untuk panti asuhan itu. Tak lama kemudian, tukang susu menyusul karena gerobaknya patah tepat di depan panti, dan ia memberikan seluruh susunya secara gratis daripada mubazir.

George Mueller melakukan bagiannya—ia tetap memimpin, tetap mendidik, dan tetap menyiapkan meja makan—tetapi ia menyerahkan bagian “penyediaan” kepada tangan yang lebih kuat.

Sering kali, yang membuat hidup terasa berat adalah karena kita merasa harus menjadi penanggung jawab atas segala sesuatu. Padahal, kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari segala kalkulasi kita. Saat kita berani melenturkan jemari dan melepaskan ambisi untuk mengatur setiap detail, kita memberi ruang bagi mukjizat untuk bekerja.

Berserah bukan berarti kita kehilangan arah. Berserah justru berarti kita menaruh kepercayaan penuh kepada Pribadi yang tidak pernah salah dalam memimpin. Saat kita berhenti mengandalkan pengertian sendiri, di situlah damai yang sejati mulai mengalir.
Lakukan yang terbaik hari ini, lalu biarkan Tuhan melakukan bagian-Nya yang ajaib. Hidup akan terasa jauh lebih ringan saat kita sadar bahwa kita tidak sedang berjalan sendirian.

Faith is not the belief that God will do what you want. It is the belief that God will do what is right. — Max Lucado

Iman bukanlah keyakinan bahwa Tuhan akan melakukan apa yang kita inginkan. Iman adalah keyakinan bahwa Tuhan akan melakukan apa yang benar. — Max Lucado

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 6