Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

Hagar & EL-ROI: Ketika Tuhan Membuka Mata…. Oh, Ternyata Sudah Ada di Sana!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

?Hagar & EL-ROI: Ketika Tuhan Membuka Mata…. Oh, Ternyata Sudah Ada di Sana!

?Pernahkah kita merasa begitu lelah menghadapi ketidakpastian? Rasanya seperti berdiri di depan padang kosong yang luas, tidak ada petunjuk, tidak ada jawaban. Di saat seperti itu, jujur saja, kadang terselip tanya di hati: Tuhan, Engkau di mana?

?Lucunya, sering kali masalahnya bukan karena Tuhan belum memberi. Masalahnya justru karena mata kita yang belum melihat apa yang sebenarnya sudah Dia sediakan di depan hidung kita.

?Tuhan punya pola yang unik. Berkali-kali Tuhan tidak langsung mengubah keadaan atau menyulap padang gurun jadi taman bunga. Yang Dia lakukan justru sesuatu yang jauh lebih esensial: Dia membuka mata kita.

?Hagar bukan orang asing di rumah Abraham, tapi tiba-tiba dunianya runtuh. Tanpa penjelasan panjang, ia disuruh pergi hanya dengan roti dan sekantong air.

Bayangkan perasaan Hagar. Ini terasa seperti penolakan yang brutal. Ia tidak meminta konflik ini, tapi tiba-tiba ia harus berjalan di padang gurun Bersyeba bersama Ismael yang masih kecil.
?Kadang hidup memang terasa “sekasar” itu. Bukan karena kita bersalah atau berdosa, tapi tiba-tiba keadaan berubah dan kita merasa tidak lagi diinginkan. Di situlah padang gurun kita dimulai.

?Saat air di kantong Hagar habis, ia menyerah. Ia menaruh anaknya di bawah semak dan berjalan menjauh karena tidak sanggup melihat Ismael mati kehausan. Seorang ibu yang hancur hati, duduk dan menangis. Tapi perhatikan, surga tidak pernah diam.

?Tuhan tidak datang dengan kuliah teologi yang panjang. Dia hanya menyatakan hadirat-Nya dan melakukan hal yang luar biasa: Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur.

?Satu hal yang harus kita catat baik-baik: Tuhan tidak menciptakan sumur itu saat itu juga. Sumur itu sudah ada di sana! Yang berubah bukan padang gurunnya, melainkan penglihatan Hagar.

Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya,”

?Sering kali kita pun begitu. Dalam keputusasaan, kita hanya fokus pada “kantong air yang kosong”. Kita merasa semuanya habis, padahal penyediaan Tuhan sebenarnya sudah ada di dekat kita. Ada sebuah janji yang manis: Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawab. Artinya, Tuhan sering kali sudah bekerja jauh sebelum kita sempat berlutut.

?Iman itu bukan memaksa Tuhan menciptakan sesuatu dari nol sesuai kemauan kita. Iman adalah keberanian untuk meminta Tuhan membuka mata kita supaya bisa melihat apa yang sudah Dia sediakan.

?Menariknya, Hagar memberi Tuhan sebuah nama: El-Roi. Artinya: Allah yang melihat aku. Bukan nabi besar yang memberi nama itu, tapi seorang perempuan yang terluka dan tersingkir.

Hagar menemukan rahasia yang indah: Dunia boleh melupakan kita, tapi Tuhan tidak pernah kehilangan koordinat lokasi kita.

Wuih …. dahsyatnya!
Sangat melegakan…..

?Tuhan tidak dengan sengaja membiarkan kantong air kita habis. Namun, sering kali Dia sedang menunggu kita mengundang-Nya untuk terlibat. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat sopan; Dia tidak akan mengintervensi hidup kita jika tidak diizinkan. Dia menunggu “undangan” dari hati kita yang berserah.

?Pintu yang tertutup sering kali bukan penolakan, tapi cara Tuhan mengarahkan kita ke sumber air yang lebih besar saat kita mulai melibatkan-Nya.

?Jadi, kalau hari ini Anda merasa sedang di padang gurun dan merasa ditinggalkan, ingatlah El-Roi masih sama. Dia melihat Anda. Dia mendengar Anda. Sama seperti kepada Hagar, Dia sanggup membuka mata kita untuk melihat “sumur” yang sudah Dia siapkan sejak semula. Karena dalam Kerajaan Allah, penyediaan itu sering kali sudah ada. Kita hanya perlu melibatkan-Nya dan melihat dengan mata iman.

?Lakukan yang terbaik hari ini, undang Dia dalam setiap detail hidupmu, lalu biarkan Tuhan membuka mata kita untuk melihat keajaiban-Nya yang sudah tersedia.

?”The strongest prison is not made of concrete and steel. It is the prison of your mind. God came to open that prison door.” — AR Bernard

“Penjara yang paling kokoh tidak terbuat dari beton dan baja. Melainkan penjara pikiran Anda. Tuhan datang untuk membuka pintu penjara itu.” — AR Bernard

?YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Melepaskan Genggaman, Menemukan Kedamaian.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Melepaskan Genggaman, Menemukan Kedamaian.

Pernahkah kita merasa begitu lelah, padahal fisik kita tidak sedang melakukan pekerjaan berat? Rasanya seperti ada beban tak kasatmata yang menggelayut di pundak, membuat napas terasa sesak dan pikiran terus berputar tanpa henti.

Biasanya, kelelahan jenis ini bukan datang dari tugas yang menumpuk, melainkan dari keinginan kita untuk mengontrol segala hal. Kita ingin memastikan masa depan anak-anak aman, kita ingin proyek di kantor berjalan tanpa cacat, bahkan kita ingin mengatur bagaimana orang lain harus bersikap kepada kita. Kita menggenggam kendali hidup begitu erat sampai jari-jemari kita kaku dan gemetar.

Lucunya, semakin kuat kita menggenggam, semakin kita merasa cemas. Kita takut jika genggaman ini kendur sedikit saja, semuanya akan hancur berantakan. Padahal, hidup ini sering kali bekerja di luar logika dan rencana manusia. Di sinilah pentingnya sebuah seni yang sering kita salah pahami: berserah.

Banyak orang mengira berserah itu berarti pasif atau menyerah pada nasib. Padahal, berserah yang sejati adalah tetap melangkah dan bekerja maksimal, namun berhenti memikul beban hasilnya sendirian.

George Mueller. Suatu pagi di panti asuhannya, ia menghadapi situasi yang mustahil: ada ratusan anak yatim piatu yang sudah duduk rapi di meja makan, tetapi tidak ada sepotong roti pun di dapur. Tidak ada uang, tidak ada stok makanan.

Secara logika, George seharusnya panik, marah, atau sibuk menelepon donatur. Tapi apa yang ia lakukan? Ia justru mengajak anak-anak itu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas makanan yang akan Tuhan sediakan. Ia melepaskan kendali logikanya dan memilih berserah penuh.

Tepat setelah ia mengucapkan “Amin”, terdengar ketukan di pintu. Seorang tukang roti datang membawa berkotak-kotak roti hangat karena ia merasa gelisah sepanjang malam dan merasa harus membakar roti ekstra untuk panti asuhan itu. Tak lama kemudian, tukang susu menyusul karena gerobaknya patah tepat di depan panti, dan ia memberikan seluruh susunya secara gratis daripada mubazir.

George Mueller melakukan bagiannya—ia tetap memimpin, tetap mendidik, dan tetap menyiapkan meja makan—tetapi ia menyerahkan bagian “penyediaan” kepada tangan yang lebih kuat.

Sering kali, yang membuat hidup terasa berat adalah karena kita merasa harus menjadi penanggung jawab atas segala sesuatu. Padahal, kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari segala kalkulasi kita. Saat kita berani melenturkan jemari dan melepaskan ambisi untuk mengatur setiap detail, kita memberi ruang bagi mukjizat untuk bekerja.

Berserah bukan berarti kita kehilangan arah. Berserah justru berarti kita menaruh kepercayaan penuh kepada Pribadi yang tidak pernah salah dalam memimpin. Saat kita berhenti mengandalkan pengertian sendiri, di situlah damai yang sejati mulai mengalir.
Lakukan yang terbaik hari ini, lalu biarkan Tuhan melakukan bagian-Nya yang ajaib. Hidup akan terasa jauh lebih ringan saat kita sadar bahwa kita tidak sedang berjalan sendirian.

Faith is not the belief that God will do what you want. It is the belief that God will do what is right. — Max Lucado

Iman bukanlah keyakinan bahwa Tuhan akan melakukan apa yang kita inginkan. Iman adalah keyakinan bahwa Tuhan akan melakukan apa yang benar. — Max Lucado

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Investasi yang Sia-sia? Nanti Dulu!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Investasi yang Sia-sia? Nanti Dulu!

*”If the ladder is not leaning against the right wall, every step we take just gets us to the wrong place faster.” — Stephen Covey

“Jika tangga tidak bersandar pada dinding yang tepat, setiap langkah yang kita ambil hanya akan membawa kita ke tempat yang salah dengan lebih cepat.— Stephen Covey

?Mak Jleb!

Pernah kita mengalaminya?
?Mungkin kita merasa sudah sekolah bertahun-tahun dengan biaya selangit, namun ujung-ujungnya kita harus berada di rumah atau bekerja di bidang yang jauh berbeda dari gelar yang kita sandang. Rasanya seolah-olah kita sudah bersusah payah memanjat ke puncak, baru sadar kalau tangga kita bersandar di dinding yang salah. Kita merasa semua itu sia-sia atau mubazir.

Namun, jangan terburu-buru menghakimi masa lalu kita. Sesungguhnya, ilmu dan proses itu tidak pernah menguap begitu saja. Pendidikan dan pengalaman itu sedang menempa pribadi kita, mempertajam cara berpikir, dan membentuk karakter kita agar menjadi “bejana” yang siap menampung berkat yang lebih besar. Sering kali, apa yang kita anggap sebagai “kesia-siaan” atau bahkan “malapetaka” hari ini, sebenarnya adalah masa persiapan yang sangat krusial untuk kesuksesan kita di hari esok.

?Mari kita tengok kisah Daniel, seorang pejabat tinggi yang karirnya luar biasa cemerlang. Ia begitu kompeten dan berintegritas sehingga rekan-rekan kerjanya yang iri hati frustrasi mencari celah untuk menjatuhkannya.

Tidak ada korupsi, tidak ada skandal dalam hidupnya. Akhirnya, mereka menjebak Daniel melalui titik yang paling sakral dalam hidupnya: kebiasaannya berdoa kepada Tuhan.

Sebuah undang-undang licik dikeluarkan—siapa pun yang berdoa kepada siapa pun selain raja, harus dilemparkan ke gua singa.

Bayangkan pergumulan batin Daniel saat itu. Ia berada di puncak karir, namun tiba-tiba dihadapkan pada maut. Daniel bisa saja memilih “aman” dengan berdoa diam-diam di dalam hati agar posisinya tetap selamat. Namun, ia memilih tetap setia secara terbuka.

Akibatnya sungguh mengerikan; ia benar-benar dilemparkan ke dalam gua penuh singa yang sedang lapar. Raja sendiri sangat sedih dan gelisah, namun ia tak berdaya melawan hukum yang dibuatnya sendiri.

?Malam itu menjadi malam yang paling menentukan bagi Daniel. Di tengah kegelapan gua yang mencekam, saat singa-singa itu seharusnya menerkam, sebuah mukjizat besar terjadi. Tuhan mengirimkan malaikat-Nya untuk membungkam mulut singa-singa ganas itu. Daniel tetap tenang, bahkan mungkin ia tertidur dalam perlindungan Ilahi di tengah ancaman maut.

Pagi-pagi sekali, Raja datang dengan suara cemas yang bergetar memanggil di bibir gua,
“Daniel, hamba Tuhan yang hidup, apakah Tuhanmu sanggup melepaskanmu?”

Betapa terkejutnya Raja saat mendengar suara Daniel yang tenang menyahut dari kegelapan. Daniel selamat tanpa luka sedikit pun!

Mukjizat ini bukan hanya menyelamatkan nyawanya, tapi juga mengubah seluruh peta politik kerajaan tersebut.

?Melalui peristiwa “gua singa” itulah, keadaan berbalik 180 derajat. Justru para pejabat tinggi yang selama ini menjadi ‘duri yang menyakiti’ bagi Daniel akhirnya dimasukkan ke gua singa, segera diterkam oleh singa-singa itu.

Tanpa “malapetaka” gua singa, Daniel mungkin akan terus diganggu, difitnah, dan dikerjai oleh orang-orang berkuasa itu seumur hidupnya. Melalui kejadian tersebut, jalan Daniel ke depan menjadi bersih, damai, dan posisinya semakin kokoh karena orang-orang toksik di pemerintahan telah disingkirkan oleh keadaan.

Dan lebih penting lagi, Raja melihat bukti betapa Allah Daniel itu dahsyat.

Kadang kita tidak menyadari bahwa “gua singa” dalam hidup kita adalah cara Tuhan untuk membersihkan musuh-musuh kita.

?Dalam hidup, kita memang tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi esok. Apa yang kita anggap sebagai “salah langkah” atau “salah dinding” hari ini, bisa jadi adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari bahaya yang lebih besar atau cara-Nya mempromosikan kita ke level yang lebih tinggi.

Bersyukurlah kita punya Tuhan yang mampu mengubah malapetaka menjadi kebaikan, jika kita mau berserah kepada-Nya. Dia adalah pakar dalam merenda benang kusut menjadi permadani yang indah.
Percayalah, tidak ada yang sia-sia di tangan Sang Maestro selama kita terus berjalan bersama-Nya.

*“God can bring good out of any situation. You may have made a mistake, but God can take that mistake and turn it into a miracle.” — Joel Osteen.

Tuhan dapat mendatangkan kebaikan dari situasi apa pun. Anda mungkin telah melakukan kesalahan, tetapi Tuhan dapat mengambil kesalahan itu dan mengubahnya menjadi mukjizat.— Joel Osteen.
?
YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Sadar Ga? Yang Tidak Terlihat, Justru Itulah yang Paling Mahal….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sadar Ga? Yang Tidak Terlihat, Justru Itulah yang Paling Mahal….

Beberapa hari ini saya membaca kisah yang cukup menggelitik tentang Amsal Sitepu, seorang videografer yang terseret perkara hukum setelah mengerjakan video profil desa.

Amsal sebagai penyedia jasa memberi harga, klien setuju, pekerjaan selesai, lalu di mana letak korupsinya?
Nah, di sinilah ributnya.

Pihak penegak hukum melihatnya dari sisi penggunaan dana negara dan kewajaran anggaran. Semuanya dihitung dan dibandingkan seperti barang pabrikan.
Sementara orang yang bijak melihatnya dari sisi jasa kreatif, yang memang tidak punya harga baku dan kaku.

Salah satu hal yang membuat banyak orang tertegun, karena dalam proses penilaian kasus itu, beberapa unsur kerja kreatif seperti ide, editing, dubbing, cutting, bahkan perlengkapan tertentu, disebut-sebut seolah tidak punya nilai, atau dianggap sangat minim nilainya.
Padahal justru di situlah letak harga dari pekerjaannya.

Kasus ini membuat kita berpikir.
Mengapa di negeri ini, sesuatu yang bisa dipegang sering dianggap lebih bernilai daripada sesuatu yang dipikirkan, dirancang, diolah, dan diciptakan?

Kita masih sangat terbiasa menilai harga kreativitas seperti menilai barang jadi.
Hanya melihat hasil akhirnya, orang bisa berkata:
“Ah, cuma video.”
“Ah, cuma desain.”
“Ah, cuma ide.”

Padahal yang mahal sering kali bukan barangnya.
Yang mahal adalah mata yang bisa melihat sesuatu yang belum dilihat orang lain.
Yang mahal adalah pikiran yang bisa menemukan bentuk, rasa, sudut, komposisi, dan solusi.
Yang mahal adalah keahlian yang lahir dari jam terbang, latihan, kegagalan, dan proses panjang.

Saya jadi teringat pada Elisa, putri saya, ketika dulu kuliah di Melbourne dan memenangkan Australian Fashion Award.

Setelah lulus, Elisa merancang sebuah gaun cantik dengan sentuhan bulu merak. Hasilnya sangat indah. Simple, tetapi memukau. Anggun, tetapi tidak ramai.

Ada sesuatu yang terasa “berbeda” saat gaun itu dikenakan.

Lalu seorang teman berkomentar,
“Sebetulnya modelnya sederhana sekali ya… tetapi entah mengapa kelihatan sedemikian anggun dan memukau?”

Nah, justru “entah mengapa” itulah yang mahal.
Karena yang orang lihat hanya hasil akhirnya.

Yang tidak mereka lihat adalah:
mata yang peka,
rasa artistik,
proporsi yang tepat,
pemilihan material,
jatuhnya potongan,
detail yang nyaris tak terlihat,
dan intuisi kreatif yang tidak bisa dibeli kiloan.
Itulah harga sebuah ide.

Dan lucunya, saat karya seperti itu dijiplak, sekilas mungkin terlihat mirip.
Tetapi ketika dikenakan?
Jauuuuh berbeda.

Mengapa?
Karena ada perbedaan besar antara karya seorang designer sungguhan dan sekadar penjahit.
Penjahit bisa membuat.
Tetapi designer menciptakan.

Designer belajar bertahun-tahun untuk memahami bentuk tubuh, struktur kain, teknik potong, estetika, harmoni, bahkan psikologi visual.
Jadi yang dibayar bukan cuma “jahitannya”, tetapi otaknya, matanya, rasanya, dan ketepatannya.

Begitu juga dalam dunia kreatif lainnya.

Saya juga teringat sebuah kisah lama yang sangat terkenal.

Charles Proteus Steinmetz ahli teknik listrik legendaris dari General Electric, pernah dipanggil untuk memperbaiki generator besar milik Henry Ford.

Setelah menganalisis mesin itu, ia hanya memberi tanda kapur di satu titik. Lalu bagian tertentu diperbaiki, dan mesin kembali normal.

Tagihan yang diberikan membuat orang terkejut.
Ketika Ford meminta rincian tagihan yang mahal itu, muncullah jawaban legendaris:

Making chalk mark on generator: $1
Knowing where to make mark: $9,999
Membuat tanda kapur pada generator: $1*
Mengetahui di mana tanda itu harus dibuat: $9,999

Mak jleb.

Di Indonesia, kita masih sering terlalu pelit menghargai keahlian, gagasan, dan kreativitas.

Kita rela bayar mahal untuk benda bermerek, tetapi keberatan membayar orang yang berpikir.
Kita kagum pada hasil jadi, tetapi sering meremehkan proses kreatif di baliknya.

Padahal, tanpa ide, tanpa skill, tanpa sentuhan ahli, banyak hal yang kita nikmati hari ini tidak akan pernah lahir.

Jadi kalau hari ini kita masih bertanya,
“Kenapa mahal? Kan kelihatannya sederhana…”
Mungkin masalahnya bukan pada harganya.
Mungkin masalahnya adalah:
kita belum cukup paham apa yang sebenarnya sedang kita bayar.
Karena sering kali, yang tampak sederhana itu justru lahir dari pikiran yang tidak sederhana.

Dan sayangnya, di negeri ini, kita masih terlalu sering menghargai barang, tetapi gagal menghormati otak di balik barang itu.
Bagaimana pendapat Anda?

“Quality is never an accident. It is always the result of intelligent effort.” – – John Ruskin.

“Kualitas tidak pernah terjadi secara kebetulan. Kualitas selalu merupakan hasil dari usaha yang cerdas.”- John Ruskin.

YennyIndra
www.yennyindra.com?

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Istirahat: Bukan Kemewahan, Tapi Kunci Kejernihan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Istirahat: Bukan Kemewahan, Tapi Kunci Kejernihan

Istirahat Itu Bukan Hadiah. Itu Strategi.
Istirahat sering punya reputasi buruk. Seolah-olah itu cuma boleh dilakukan setelah kita “pantas.” Setelah target tercapai. Setelah kerjaan beres. Setelah semua orang puas. Padahal cara pikir seperti ini diam-diam melelahkan jiwa.
Kita hidup di dunia yang memuja sibuk. Kalender penuh dianggap tanda berhasil. Capek dianggap bukti setia. Kalau tidak lelah, rasanya bersalah. Seolah-olah nilai hidup diukur dari seberapa keras kita memeras diri.

Padahal ada satu kebenaran sederhana yang jarang diakui: istirahat bukan tanda kalah. Istirahat adalah jalan pintas untuk kejernihan.

Saya belajar ini bukan dari teori, tapi dari hidup. Dari momen-momen ketika otak terasa penuh, doa terasa berat, pikiran muter di tempat, dan solusi seperti menjauh. Anehnya, jawaban hampir tidak pernah datang saat saya memaksa. Jawaban datang justru ketika saya berhenti mengejar.

Saat saya berhenti berpikir terlalu keras.
Saat saya berhenti mengatur segalanya.
Saat saya memberi ruang.
Istirahat yang sejati bukan sekadar tidur. Bukan juga liburan mewah. Istirahat adalah kondisi batin di mana kita berhenti mencengkeram. Kita berhenti memaksa pikiran bekerja di luar kapasitasnya. Kita berhenti menuntut diri untuk selalu “on.”

Dan di situlah sesuatu terjadi.
Pikiran yang tadinya penuh seperti browser dengan terlalu banyak tab, mulai bersih satu per satu. Emosi yang kusut mulai turun volumenya. Ide-ide yang sebelumnya terasa dipaksakan, tiba-tiba muncul dengan alami. Seperti tidak diundang, tapi tepat waktu.

Sering kali, jawaban yang kita kejar berhari-hari muncul hanya beberapa menit setelah kita berhenti mengejar.
Ini bukan kebetulan. Ini cara Tuhan merancang kita.

Otak kita tidak diciptakan untuk terus menekan gas. Ada momen di mana rem justru membuat kita sampai lebih cepat. Ada saat di mana berhenti sejenak membuat langkah berikutnya jauh lebih ringan.

Ironisnya, beberapa momen paling “produktif” dalam hidup saya justru lahir dari melakukan… tidak ada apa-apa.
Jalan kaki tanpa tujuan.
Duduk pagi hari tanpa agenda.
Tidur siang tanpa rasa bersalah.

Diam. Hening. Tidak mengejar apa pun.
Lalu tiba-tiba, saya kembali dengan energi yang berbeda. Fokus lebih tajam. Keputusan lebih sederhana. Pikiran tidak lagi ribut. Yang tadinya terasa berat, sekarang terasa wajar.

Istirahat bukan membuat kita tertinggal. Istirahat membuat kita kembali selaras dengan diri sendiri.

Banyak dari kita sebenarnya bukan kekurangan disiplin. Kita kekurangan ruang. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk mendengar. Ruang untuk membiarkan Tuhan bekerja tanpa terus kita ganggu dengan kecemasan.
Kita sering berkata, “Saya harus berpikir lebih keras.”

Padahal yang dibutuhkan adalah, “Saya perlu berhenti sebentar.”
Ada perbedaan besar antara lelah karena bekerja dan lelah karena melawan ritme hidup. Yang kedua jauh lebih berbahaya, karena sering disamarkan sebagai kerohanian, tanggung jawab, atau kesetiaan.

Istirahat yang benar bukan membuat kita malas. Ia mengembalikan kita pada versi diri yang paling jernih. Versi yang tidak reaktif. Tidak terburu-buru. Tidak haus validasi.

Versi diri yang hadir utuh.
Dan dari tempat itulah, ide mengalir lebih alami. Keputusan lebih tepat. Doa lebih jujur. Hidup terasa lebih ringan.
Jadi kalau hari ini kamu merasa mentok, jangan langsung menambah tekanan. Mungkin bukan dorongan yang kamu butuhkan. Mungkin justru izin untuk berhenti sejenak.

Bukan untuk menyerah.
Tapi untuk kembali.
Karena istirahat bukan akhir dari produktivitas.
Istirahat adalah pintu masuknya.


“Sometimes we need to step back and rest, so that we can see clearly again.”- Henry David Thoreau.

“Terkadang kita perlu mundur dan beristirahat agar bisa melihat dengan jelas kembali.” – Henry David Thoreau.

Update “Seruput Kopi Cantik YennyIndra” sekarang lewat – Channel WhatsApp – Yuuk join di sini :
https://whatsapp.com/channel/0029VbCXRSuL2ATuEVMfPF2S

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 5