Category : Articles

Articles

“Bukan Aku. Itu Tuhan.”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Bukan Aku. Itu Tuhan.”

Pada hari-hari terakhir Januari 2026, sesuatu terjadi di lepas pantai Australia Barat yang membuat banyak orang terdiam. Apa yang seharusnya menjadi rekreasi keluarga yang sederhana berubah menjadi ujian keberanian yang sama sekali tidak mereka duga.

Austin Appelbee baru berusia 13 tahun.
Kebanyakan anak seusianya memikirkan sekolah, permainan, atau makan malam apa nanti. Namun pada Jumat, 30 Januari, Austin memikirkan satu hal: bertahan hidup.

Sore itu, ia bersama keluarganya—ibunya Joanne (47 tahun), adiknya Beau (12 tahun), dan Grace (8 tahun)—berangkat dari sebuah pantai dekat Quindalup, Geographe Bay, untuk bersantai menggunakan satu kayak dan dua papan dayung tiup.

Awalnya tenang. Lalu semuanya berubah.
Angin kencang dan ombak yang meninggi mendorong mereka semakin jauh ke tengah laut. Kayak mereka mulai kemasukan air. Tak lama kemudian, mereka sadar bahwa mereka sudah terlalu jauh dari pantai. Saat-saat yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi ketakutan.

Joanne tahu peluang mereka untuk terlihat sangat kecil. Tidak ada kapal di sekitar. Tidak ada orang lain di pantai. Angin terus membawa mereka semakin menjauh. Menjelang sore, ia mengambil keputusan yang kelak ia sebut sebagai “salah satu keputusan tersulit dalam hidup saya.”

Ia meminta anak sulungnya berenang ke pantai untuk mencari pertolongan.
Bagi kebanyakan dari kita, ini sulit dibayangkan. Seorang ibu mengirim anaknya ke dalam bahaya. Tetapi Joanne tahu, itulah satu-satunya kesempatan mereka. Dan Austin tidak ragu.

Selama empat jam, Austin melawan laut. Awalnya ia mencoba bertahan bersama kayak, tetapi terlalu tidak stabil, jadi ia melepaskannya. Di satu titik, ia bahkan melepaskan pelampungnya karena membuatnya sulit berenang di air yang bergelombang. Ia menggunakan setiap gaya renang yang ia bisa—gaya bebas, dada, punggung—apa pun, asal terus bergerak.

Dan di sinilah bagian yang paling menyentuh.
Austin berdoa sepanjang waktu.
Ia berkata kemudian bahwa ia terus berbicara kepada Tuhan. Ia tahu ini di luar kemampuannya. Ia merasa bukan dirinya yang menopang tubuhnya di air, melainkan Tuhan yang menahannya tetap hidup.

“Aku tidak merasa itu aku,” katanya kemudian. “Itu Tuhan sepanjang waktu.”

Ketika tubuhnya lelah dan pikirannya hampir menyerah, ia terus berdoa. Ia memikirkan hal-hal baik, hal-hal sederhana, agar pikirannya tetap tenang. Ada saat-saat ia takut—bahkan ada laporan hiu di wilayah itu beberapa hari sebelumnya—tetapi ia terus berkata pada dirinya sendiri, “Terus berenang. Terus berenang.”

Sekitar pukul 6 sore, Austin akhirnya mencapai pantai. Ia jatuh tersungkur di pasir, kelelahan. Tetapi perjuangannya belum selesai. Ia bangkit dan berlari hampir dua kilometer menuju tempat mereka menginap, mengambil ponsel keluarga, dan menghubungi layanan darurat.

Panggilan itu memicu operasi penyelamatan besar. Helikopter dan tim laut menyisir perairan. Sekitar pukul 8:30 malam, mereka menemukan Joanne bersama Beau dan Grace, berpegangan pada pelampung tiup, sekitar 14 kilometer dari pantai, dalam kondisi laut yang semakin dingin dan kasar. Mereka telah berada di air hampir sepuluh jam.

Semua selamat.
Saat mendengar kisah ini, satu hal menjadi jelas: ini bukan kebetulan. Bukan keberuntungan semata. Ini adalah keberanian, ketekunan, dan ketenangan hati—dan bagi Austin sendiri, ini adalah pertolongan Tuhan.

Yang membuat kisah ini lebih dari sekadar berita utama adalah betapa nyatanya cerita ini. Austin bukan atlet terlatih. Ia bahkan bukan perenang hebat. Beberapa minggu sebelumnya, ia kesulitan berenang 350 meter tanpa berhenti di sekolah. Namun ketika segalanya dipertaruhkan, ia menemukan kekuatan yang bahkan banyak orang dewasa mungkin tidak miliki.

Ada pelajaran besar di sini. Keberanian tidak selalu terlihat heroik dan dramatis. Kadang keberanian adalah terus melangkah ketika tubuh lelah, ketika hati takut, dan ketika satu-satunya pegangan hanyalah doa.

Pada usia 13 tahun, Austin menunjukkan bahwa keberanian bukan soal umur. Ini soal hati. Dan kadang, seperti yang ia sendiri akui, itu bukan kita—itu Tuhan yang menopang kita sepanjang jalan.
Dia Allah yang tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kita.

Pertanyaannya:
Bersediakah kita mengijinkan-Nya memimpin hidup kita seperti Austin?

“Faith is only real when there is obedience. Only he who believes is obedient, and only he who is obedient believes.” – Dietrich Bonhoeffer.

“Iman hanya nyata ketika ada ketaatan. Hanya orang yang percaya yang taat, dan hanya orang yang taat yang benar-benar percaya.” – Dietrich Bonhoeffer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Preparation Time Yusuf: Proses yang Menentukan Takhta

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Preparation Time Yusuf: Proses yang Menentukan Takhta

Sekolah Yusuf Bernama “Malapetaka”
Kisah Yusuf itu sangat familiar. Begitu familiar sampai kita sering merasa tidak ada lagi hal baru yang bisa dipelajari darinya. Alurnya sudah hafal. Dijual saudara, jadi budak, difitnah, dipenjara, lalu naik pangkat jadi orang nomor dua di Mesir. Selesai.

Namun firman Tuhan tidak pernah kehabisan makna. Selalu ada pewahyuan baru bagi hati yang mau belajar. Dan justru di situlah saya dibuat terdiam.

Selama ini saya menganggap apa yang Yusuf alami sebagai rangkaian malapetaka. Seolah hidupnya penuh ketidakadilan sebelum akhirnya Tuhan “mengganti rugi” dengan jabatan tinggi.

Sampai saya sadar satu hal penting: rumah Potifar bukan musibah. Itu sekolahnya Yusuf.

Potifar bukan orang sembarangan. Tercatat ia adalah seorang perwira tinggi Firaun, kepala pengawal istana. Orang kepercayaan kerajaan. Yusuf ditempatkan di rumah seorang pemimpin besar, bukan secara kebetulan.

Di sanalah Yusuf belajar budaya Mesir, sistem kerja, kepemimpinan, dan manajemen. Potifar memiliki banyak anak buah. Yusuf melihat langsung bagaimana seorang pemimpin mengatur orang, sumber daya, dan tanggung jawab.

Dan dicatat sesuatu yang sangat penting: Potifar melihat bahwa Tuhan menyertai Yusuf.Apa pun yang Yusuf jerjakan, dibuat Tuhan berhasil dan beruntung.

Bukan Yusuf yang mempromosikan diri. Bukan Yusuf yang sibuk membela nasibnya. Kualitas hidupnya berbicara. Keintimannya dengan Tuhan membuahkan hikmat yang membuatnya outstanding.

Sebagai hasilnya, Potifar pun mempercayakan seluruh hartanya tidak hanya yang di rumah tetapi juga di ladang-ladangnya.
Yusuf dipercaya mengurus seluruh milik Potifar, bukan hanya urusan rumah, tetapi juga ladang-ladangnya. Ini bukan detail kecil. Di sinilah Yusuf belajar mengelola aset besar. Tanpa ia sadari, dia sedang dipersiapkan untuk memanage sesuatu yang jauh lebih besar.

Saya pernah membaca, ada orang-orang yang rela membayar sejumlah besar uang hanya untuk Lunch dengan Warren Buffett, orang terkaya nomor 3 di dunia.
Mereka ingin belajar rahasia suksesnya.

Yusuf tidak hanya lunch, tetapi tinggal di rumah Potifar, ‘dimentori’ sampai sedemikian terampil dan sukses mengelola seluruh kekayaan Potifar, meski statusnya sebagai budak.

Lalu datanglah ujian karakter. Godaan dari istri Potifar. Yusuf menolak. Tegas. Bersih. Tidak kompromi.

Akibatnya?
Difitnah dan dipenjara.
Namun Yusuf tidak membela diri. Tidak mengasihani diri. Tidak memosisikan diri sebagai korban. Dia masuk penjara kerajaan, dan di sanalah “sekolah” itu berlanjut.

Pola yang sama terjadi. Yusuf setia. Yusuf melayani. Yusuf bertanggung jawab. Dan Yusuf sudah punya skill dan pengalaman yang mumpuni. Terbukti hasilnya.

Sampai kepala penjara mempercayakan seluruh urusan penjara kepadanya. Lagi-lagi, *setia dalam perkara kecil, dipercaya dalam perkara yang lebih besar.*

Di penjara, Yusuf menafsirkan mimpi kepala juru minuman dan kepala juru roti Firaun. Mimpinya tepat. Satu dipulihkan, satu dihukum mati. Yusuf hanya minta satu hal kecil: “Ingatlah aku.”

Namun dicatat, sesuatu yang menyakitkan tapi jujur: kepala juru minuman itu melupakan Yusuf. Dua tahun lamanya.
Bayangkan. Sudah benar. Sudah setia. Sudah menolong. Tapi dilupakan. Yusuf tetap menjaga hati bebas dari kepahitan. Tetap beriman menanti waktu Tuhan.

Sampai suatu malam, Firaun bermimpi. Bukan mimpi biasa. Mimpi yang membuatnya gelisah. Tujuh lembu gemuk dimakan tujuh lembu kurus. Tujuh bulir gandum baik ditelan tujuh bulir kering. Tidak ada seorang pun yang bisa menafsirkan mimpi itu.

Di titik itulah, ingatan yang terkubur selama dua tahun muncul kembali. Kepala juru minuman berkata, “Ada seorang Ibrani di penjara…”
Dan Yusuf dipanggil.

Yusuf bukan hanya menafsirkan mimpi. Dia *memberi solusi.* Dia menjelaskan krisis tujuh tahun kelimpahan dan tujuh tahun kelaparan, lalu mengusulkan sistem pengelolaan nasional. Penyimpanan, distribusi, dan pengawasan.

Ini bukan ide spontan. Ini buah dari tahun-tahun panjang belajar tanpa panggung.
Firaun melihatnya.
“Adakah orang seperti ini, yang penuh dengan Roh Allah?”

Dalam satu hari, Yusuf diangkat menjadi orang nomor dua di Mesir.
Tidak ada sukses mendadak. Yang ada adalah proses panjang yang tidak disia-siakan Tuhan.

Tentu BUKAN Tuhan yang merancangkan malapetaka tetapi saudara-saudara Yusuf yang iri hati.
Namun rancangan buruk itu diubah Tuhan menjadi kebaikan.

Yusuf tidak mudah tersinggung. Tidak berhenti karena ketidakadilan. Tidak keluar dari proses sebelum waktunya. Dan karena itulah, ketika tanggung jawab besar datang, Yusuf siap.

Seandainya Yusuf tersinggung, memilih bermalas-malasan, tentunya saat kesempatan datang, Yusuf akan gagal.

Pelajarannya sederhana tapi tajam:
Jangan remehkan masa persiapan. Jangan mudah offended.
Preparation time is never wasted time.

Tuhan tahu persis sekolah apa yang kita butuhkan, sebelum Dia mempercayakan perkara besar kepada kita.

Siap praktik? Yuuuk

“Character is not built in moments of comfort, but in seasons of challenge.”
– Unknown

“Karakter tidak dibangun dalam masa nyaman, tetapi dalam musim penuh tantangan.” – – Unknown.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ketika Kesembuhan Membutuhkan Pemulihan Kedua

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Kesembuhan Membutuhkan Pemulihan Kedua

Di awal abad ke-20, ada seorang dokter yang dihormati dunia medis bukan karena ia paling banyak meresepkan obat, tetapi karena ia paling banyak mengingatkan agar dokter tidak sembarangan menggunakannya.

Namanya Sir William Osler.
Osler adalah salah satu pendiri Johns Hopkins Hospital dan dikenal sebagai bapak kedokteran modern.

Ironisnya, justru dari orang inilah muncul peringatan yang terasa sangat relevan hari ini: bahwa pengobatan bisa menjadi masalah baru, jika dilakukan tanpa kebijaksanaan.

Ada sebuah kalimat yang sering dikaitkan dengan Osler, kurang lebih berbunyi begini:

seseorang yang minum obat sering kali perlu sembuh dua kali, sekali dari penyakitnya dan sekali dari obatnya.

Kalimat ini mungkin bukan kutipan literal, tetapi pemikirannya sangat Osler. Ia berkali-kali mengingatkan bahaya overmedikalisasi dan kebiasaan mengobati angka tanpa memahami manusia di baliknya.

Osler percaya satu hal penting: dengarkan pasien, bukan hanya penyakitnya.

Sayangnya, di zaman sekarang, kita sering terbalik.
Kita hidup di era di mana obat bekerja cepat. Tekanan darah bisa ditekan. Gula darah bisa dikontrol. Nyeri bisa diredam. Secara klinis, itu kemajuan besar.

Namun di balik keberhasilan itu, sering ada cerita sunyi yang tidak masuk rekam medis: tubuh yang makin lelah, pencernaan yang rusak perlahan, berat badan yang naik tanpa sebab jelas, emosi yang tidak stabil, dan daftar obat yang terus bertambah.
Bukan karena obatnya jahat.
Tetapi karena tubuh manusia tidak pernah diciptakan untuk diperlakukan seperti mesin.
Obat menekan gejala.

Tubuh sedang berbicara.
Setiap gejala sebenarnya adalah pesan.

Tubuh memberi alarm ketika ada yang tidak selaras. Masalahnya, kita sering sibuk mematikan alarm tanpa bertanya mengapa alarm itu berbunyi.

Pola makan yang salah dianggap biasa.
Stres kronis dianggap normal.
Kurang tidur dianggap wajar.
Peradangan ringan dibiarkan bertahun-tahun.
Akhirnya obat menjadi solusi jangka panjang untuk percakapan yang tidak pernah terjadi.

Inilah yang dulu diingatkan Osler. Bahwa pengobatan tanpa kebijaksanaan akan menciptakan lingkaran:
satu obat menimbulkan efek samping, efek samping itu melahirkan diagnosis baru, diagnosis baru melahirkan resep baru. Tubuh pun bekerja ekstra, bukan untuk sembuh, tetapi untuk bertahan.

Saya tidak sedang menentang dunia medis. Kita bersyukur untuk dokter, rumah sakit, dan obat-obatan. Banyak nyawa tertolong karenanya.

Obat adalah anugerah.
Tetapi obat bukan netral.
Dan bukan solusi tunggal.

Kesembuhan sejati selalu melibatkan lebih dari satu lapisan: pilihan hidup, disiplin harian, keberanian mengubah kebiasaan, dan kerendahan hati untuk mendengarkan tubuh yang selama ini kita abaikan.

Tubuh menyimpan catatan. Selalu.
Ia ingat apa yang kita makan.
Ia ingat stres yang kita tekan.
Ia ingat emosi yang tidak pernah diproses.
Cepat atau lambat, tubuh akan menagih perhatian. Bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan.

Kesembuhan terbaik bukan yang paling cepat, tetapi yang paling utuh.
Yang tidak menciptakan masalah baru untuk diselesaikan.
Yang memulihkan, bukan menumpuk.

Mungkin inilah hikmat lama yang perlu kita dengar kembali. Bahwa menyembuhkan bukan hanya soal menghilangkan gejala, tetapi memulihkan keseimbangan:
Antara tubuh dan pikiran.
Antara iman dan akal.
Antara teknologi dan kebijaksanaan.

Menurut Carl Jung, tubuh adalah media ekspresi dari hal-hal yang tidak disadari oleh pikiran sadar.

Artinya sederhana tapi dalam:

*Apa yang tidak kita akui, tidak kita pahami, atau tidak kita sadari di pikiran, sering muncul lewat tubuh.*

Karena tujuan kita bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup lebih selaras.
Dan kesembuhan yang baik tidak pernah meminta kita sembuh dua kali.

Bagaimana pendapat Anda?

*”The good physician treats the disease; the great physician treats the patient who has the disease.” – Sir William Osler.*

*”Dokter yang baik mengobati penyakitnya; dokter yang besar mengobati manusia yang memiliki penyakit itu – Sir William Osler.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Badai Tidak Menentukan Akhir Cerita

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Badai Tidak Menentukan Akhir Cerita

Kadang hidup terasa seperti badai besar yang tak kunjung reda. Angin masalah datang dari segala arah, petir persoalan menyambar tanpa henti, dan hati pun lelah menanggung semuanya. Pikiran mulai sibuk dengan seribu “bagaimana kalau” — bagaimana kalau gagal, bagaimana kalau tidak selesai, bagaimana kalau semua ini sia-sia?

Itulah jebakan pikiran negatif. Mereka seperti pencuri yang masuk diam-diam, mencuri damai sejahtera dari hati kita. Tapi seperti kata Lisa Osteen, “When negative thoughts bombard your mind, let this be your declaration of faith: It may not look well, but with God’s help — all will go well with the righteous.” Artinya, sekalipun keadaan tampak kacau, selama kita berjalan bersama Tuhan, akhirnya akan berakhir baik.

Masalahnya, di tengah badai hidup, ada begitu banyak suara yang ingin kita dengar.
Suara ketakutan berkata, “Sudahlah, menyerah saja.”
Suara masa lalu mengingatkan, “Kamu pernah gagal, pasti begitu lagi.”
Suara dunia menekan, “Lihat realita, keadaanmu takkan berubah.”

Namun di antara semua suara itu, ada satu suara lembut yang menenangkan: “Jangan takut, Aku menyertai engkau.”
Dan di titik ini, kita punya pilihan — mau mendengarkan suara yang mana?

Kita sering berpikir, baru bisa percaya kalau semua sudah jelas dan pasti. Padahal iman tidak menunggu penjelasan. Iman melangkah dulu, baru melihat mujizat terjadi.

Seperti Petrus di tengah badai. Saat Yesus berjalan di atas air, Petrus berkata, “Tuhan, suruh aku datang kepada-Mu.” Dan Yesus hanya menjawab satu kata: “Datanglah.” Tidak ada jaminan, tidak ada teori cara berjalan di air. Hanya satu kata — datanglah. Petrus melangkah. Selama ia menatap Yesus, ia berjalan di atas air. Tapi ketika fokusnya beralih ke ombak, ia tenggelam.

Kita pun sama. Kalau fokus kita pada masalah, kita tenggelam dalam kekhawatiran. Tapi kalau fokus kita pada Tuhan, kita berjalan di atas badai itu. Rahasia kemenangan hidup orang percaya hanya satu: It’s all about God, not us.

Bukan tentang seberapa kuat atau pintarnya kita, tapi tentang siapa yang menyertai kita. Daud mengalahkan Goliat bukan karena ia ahli perang, tapi karena ia datang “dalam nama Tuhan semesta alam”. Daniel selamat dari gua singa bukan karena singanya jinak, tapi karena Tuhan mengutus malaikat menutup mulut mereka. Semua pahlawan iman tidak berfokus pada kemampuan sendiri, tapi pada kuasa Tuhan yang bekerja melalui mereka.

Jadi ketika pikiran negatif menyerang, ubah menjadi deklarasi iman:
“Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku.”
“Aku lebih dari pemenang oleh Dia yang mengasihi aku.”
“Apa yang mustahil bagi manusia, mungkin bagi Allah.”

Katakan dengan suara iman, bahkan ketika hati masih berat: “All will go well with the righteous.” Percaya dulu, baru lihat hasilnya.

Hidup beriman seperti berjalan di atas tali — kuncinya fokus. Jika pandangan kita ke bawah, ke masalah, kita goyah. Tapi jika mata kita tetap pada Tuhan, kita melangkah dengan mantap.

Hari ini, apa pun badai yang sedang kamu hadapi, ingat: hidup ini bukan tentang kita, tapi tentang Tuhan. Dia yang memulai, Dia yang akan menyelesaikan. Dia yang membuka jalan, Dia pula yang akan menuntun kita sampai akhir.

Karena dengan Tuhan, akhir cerita kita selalu sama: kemenangan.

“God will pass over a million people just to find someone who will believe Him.”— Smith Wigglesworth.

Tuhan akan melewati sejuta orang hanya untuk menemukan satu yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. — Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

Read More
Articles

Hoki Itu Nasib, atau Respon Hidup?


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hoki Itu Nasib, atau Respon Hidup?

Bu Fonny, teman perjalanan saya saat ikut tur menyusuri Sungai Yangtze, menulis satu kalimat singkat di grup chat. Pendek, tapi cukup mengusik pikiran saya.

“Hoki te it – pun su te ji.”
Lalu ia menambahkan penjelasan sederhana namun tajam:
Hoki nomor satu, kemampuan nomor dua.

Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak.
Benarkah hidup ini lebih banyak ditentukan oleh hoki dibanding kemampuan?
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hoki?

Ternyata dalam pemahaman orang Tionghoa, hoki bukan kebetulan buta. Bukan undian, bukan angka keberuntungan, apalagi nasib yang jatuh dari langit tanpa sebab.

Istilah yang dipakai adalah ?? (yùn qì). Artinya bukan sekadar keberuntungan, tetapi aliran hidup yang bertemu dengan timing dan respon manusia.
Dengan kata lain, hoki bukan sesuatu yang ditunggu, tetapi sesuatu yang dijalani.

Orang Tionghoa percaya bahwa hoki dibentuk oleh tiga unsur utama.

Yang pertama (Ti?n shí), waktu yang tepat.
Ada musim menanam, ada waktu melangkah, ada saat menunggu. Tidak semua pintu bisa dibuka bersamaan. Momentum perlu dibaca, bukan dipaksakan.

Yang kedua,(Dì lì), tempat dan kondisi.
Lingkungan, posisi, relasi, dan situasi hidup. Ini sangat praktis. Apakah kita sedang berada di tempat yang mendukung pertumbuhan, atau justru terus menguras energi?

Yang ketiga,(Rén hé), sikap dan relasi manusia.
Ini yang paling ditekankan. Etika, kerja keras, konsistensi, dan cara memperlakukan orang.

Ada pepatah Tionghoa yang sering saya dengar:
Orang yang bisa dipercaya, cepat atau lambat pasti dapat hoki.

Dari sini kita bisa merangkumnya dengan sederhana:
Hoki itu berada di tempat yang tepat, pada saat yang tepat dan menjadi orang yang tepat.

Dan ketika ketiga hal itu bertemu, hidup terlihat “pas”.
Pas waktunya. Pas orangnya. Pas kejadiannya. Kita menyebutnya kebetulan, hoki.
Padahal itu anugerah Tuhan yang bekerja dengan sangat rapi.

Siapa yang bisa mengatur semuanya bisa ‘pas’ ?
Hanya Tuhan!

*Ralph Waldo Emerson* berkata,
“There are no accidents; what we call by that name is the effect of some cause which we do not see.”

“Tidak ada kebetulan; apa yang kita sebut kebetulan adalah efek dari beberapa sebab yang tidak kita lihat.”

Hoki yang dimaksud itu sesungguhnya adalah Anugerah Tuhan.
Meskipun Anugerah itu sudah tersedia, tetapi kesuksesan tidak terjadi secara otomatis.
Dibutuhkan respon kita untuk bertindak dan meraihnya.

Di titik ini, saya teringat kisah seorang gadis muda dari Maluku di Facebook.
Sari Dewi berasal dari Bandaneira. Latar belakangnya sederhana. Setelah lulus SMA, ia merantau ke Jakarta. Kuliah sambil kerja. Gaji pas-pasan. Hidup hemat. Tidak ada priviledge. Tidak ada koneksi besar.
Yang ia miliki hanyalah karakter.

Ia bekerja dengan rapi, tenang, dan bertanggung jawab. Tidak banyak bicara, tidak drama, tidak mengeluh berlebihan. Saat lelah, ia tetap belajar. Saat ditolak mengurus visa, ia memperbaiki diri dan mencoba lagi. Ia tidak menunggu keadaan sempurna untuk bertumbuh.

Akhirnya ia mendapat kesempatan bekerja di Madrid sebagai nanny. Bukan pekerjaan yang terlihat wah, tapi ia mengerjakannya dengan sikap excellent. Detail, bisa dipercaya, konsisten. Orang-orang di sekitarnya melihat sesuatu yang jarang: ketekunan yang sunyi.

Dari situlah kesempatan lain terbuka. Ia direkomendasikan. Dipercaya. Hingga akhirnya bekerja di rumah keluarga David Beckham.Gajinya 52 juta.

Orang luar menyebutnya hoki.
Padahal yang terjadi adalah persiapan panjang yang akhirnya bertemu kesempatan, yang merupakan rahasia kesuksesan, demikian ungkapan Seneca, seorang filsuf Romawi.

Hoki atau Anugerah bisa datang. Kesempatan bisa muncul. Tetapi jika seseorang tidak siap, tidak berani melangkah, takut mengambil tanggung jawab, atau memilih diam, – tidak ada Respon – maka tidak ada yang terjadi.
Kesempatan emas lewat begitu saja.

Itu BUKAN NASIB, tapi pilihannya.

Banyak orang berdoa minta pintu terbuka, tapi tidak siap melangkah ketika pintu itu benar-benar terbuka.

Dalam iman, kita percaya Tuhan berkuasa atas waktu, tempat, dan pertemuan. Tuhan bisa menempatkan kita di momen yang tepat, bertemu dengan orang yang tepat, dan memberi kesempatan yang tepat. Tetapi Tuhan juga menghormati kehendak dan respon kita.

Kita sering menyebutnya hoki.
Padahal Tuhan menyebutnya kesempatan yang dibungkus rapi dalam anugerah.
Dan hidup dibentuk bukan oleh apa yang datang, tetapi oleh bagaimana kita meresponsnya.
Karakter menentukan apakah kesempatan itu bertahan atau hilang.

“Hoki te it – pun su te ji.” – Hoki nomor satu, kemampuan nomor dua.

Hhhmm …cengli.

Betul itu. Harus ada kesempatannya dulu, baru kemampuannya bisa dibuktikan.

Tuhan memberi kesempatan.
Manusia menentukan respon.
Dan di sanalah hidup dibentuk.

Setuju?

“I will prepare, and someday my chance will come.” – Abraham Lincoln.

“Aku akan mempersiapkan diri, dan suatu hari kesempatanku akan datang.” –
Abraham Lincoln

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 10 11 12 13 14 319