Category : Articles

Articles

Hagar & EL-ROI: Ketika Tuhan Membuka Mata…. Oh, Ternyata Sudah Ada di Sana!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

?Hagar & EL-ROI: Ketika Tuhan Membuka Mata…. Oh, Ternyata Sudah Ada di Sana!

?Pernahkah kita merasa begitu lelah menghadapi ketidakpastian? Rasanya seperti berdiri di depan padang kosong yang luas, tidak ada petunjuk, tidak ada jawaban. Di saat seperti itu, jujur saja, kadang terselip tanya di hati: Tuhan, Engkau di mana?

?Lucunya, sering kali masalahnya bukan karena Tuhan belum memberi. Masalahnya justru karena mata kita yang belum melihat apa yang sebenarnya sudah Dia sediakan di depan hidung kita.

?Tuhan punya pola yang unik. Berkali-kali Tuhan tidak langsung mengubah keadaan atau menyulap padang gurun jadi taman bunga. Yang Dia lakukan justru sesuatu yang jauh lebih esensial: Dia membuka mata kita.

?Hagar bukan orang asing di rumah Abraham, tapi tiba-tiba dunianya runtuh. Tanpa penjelasan panjang, ia disuruh pergi hanya dengan roti dan sekantong air.

Bayangkan perasaan Hagar. Ini terasa seperti penolakan yang brutal. Ia tidak meminta konflik ini, tapi tiba-tiba ia harus berjalan di padang gurun Bersyeba bersama Ismael yang masih kecil.
?Kadang hidup memang terasa “sekasar” itu. Bukan karena kita bersalah atau berdosa, tapi tiba-tiba keadaan berubah dan kita merasa tidak lagi diinginkan. Di situlah padang gurun kita dimulai.

?Saat air di kantong Hagar habis, ia menyerah. Ia menaruh anaknya di bawah semak dan berjalan menjauh karena tidak sanggup melihat Ismael mati kehausan. Seorang ibu yang hancur hati, duduk dan menangis. Tapi perhatikan, surga tidak pernah diam.

?Tuhan tidak datang dengan kuliah teologi yang panjang. Dia hanya menyatakan hadirat-Nya dan melakukan hal yang luar biasa: Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur.

?Satu hal yang harus kita catat baik-baik: Tuhan tidak menciptakan sumur itu saat itu juga. Sumur itu sudah ada di sana! Yang berubah bukan padang gurunnya, melainkan penglihatan Hagar.

Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya,”

?Sering kali kita pun begitu. Dalam keputusasaan, kita hanya fokus pada “kantong air yang kosong”. Kita merasa semuanya habis, padahal penyediaan Tuhan sebenarnya sudah ada di dekat kita. Ada sebuah janji yang manis: Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawab. Artinya, Tuhan sering kali sudah bekerja jauh sebelum kita sempat berlutut.

?Iman itu bukan memaksa Tuhan menciptakan sesuatu dari nol sesuai kemauan kita. Iman adalah keberanian untuk meminta Tuhan membuka mata kita supaya bisa melihat apa yang sudah Dia sediakan.

?Menariknya, Hagar memberi Tuhan sebuah nama: El-Roi. Artinya: Allah yang melihat aku. Bukan nabi besar yang memberi nama itu, tapi seorang perempuan yang terluka dan tersingkir.

Hagar menemukan rahasia yang indah: Dunia boleh melupakan kita, tapi Tuhan tidak pernah kehilangan koordinat lokasi kita.

Wuih …. dahsyatnya!
Sangat melegakan…..

?Tuhan tidak dengan sengaja membiarkan kantong air kita habis. Namun, sering kali Dia sedang menunggu kita mengundang-Nya untuk terlibat. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat sopan; Dia tidak akan mengintervensi hidup kita jika tidak diizinkan. Dia menunggu “undangan” dari hati kita yang berserah.

?Pintu yang tertutup sering kali bukan penolakan, tapi cara Tuhan mengarahkan kita ke sumber air yang lebih besar saat kita mulai melibatkan-Nya.

?Jadi, kalau hari ini Anda merasa sedang di padang gurun dan merasa ditinggalkan, ingatlah El-Roi masih sama. Dia melihat Anda. Dia mendengar Anda. Sama seperti kepada Hagar, Dia sanggup membuka mata kita untuk melihat “sumur” yang sudah Dia siapkan sejak semula. Karena dalam Kerajaan Allah, penyediaan itu sering kali sudah ada. Kita hanya perlu melibatkan-Nya dan melihat dengan mata iman.

?Lakukan yang terbaik hari ini, undang Dia dalam setiap detail hidupmu, lalu biarkan Tuhan membuka mata kita untuk melihat keajaiban-Nya yang sudah tersedia.

?”The strongest prison is not made of concrete and steel. It is the prison of your mind. God came to open that prison door.” — AR Bernard

“Penjara yang paling kokoh tidak terbuat dari beton dan baja. Melainkan penjara pikiran Anda. Tuhan datang untuk membuka pintu penjara itu.” — AR Bernard

?YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Melepaskan Genggaman, Menemukan Kedamaian.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Melepaskan Genggaman, Menemukan Kedamaian.

Pernahkah kita merasa begitu lelah, padahal fisik kita tidak sedang melakukan pekerjaan berat? Rasanya seperti ada beban tak kasatmata yang menggelayut di pundak, membuat napas terasa sesak dan pikiran terus berputar tanpa henti.

Biasanya, kelelahan jenis ini bukan datang dari tugas yang menumpuk, melainkan dari keinginan kita untuk mengontrol segala hal. Kita ingin memastikan masa depan anak-anak aman, kita ingin proyek di kantor berjalan tanpa cacat, bahkan kita ingin mengatur bagaimana orang lain harus bersikap kepada kita. Kita menggenggam kendali hidup begitu erat sampai jari-jemari kita kaku dan gemetar.

Lucunya, semakin kuat kita menggenggam, semakin kita merasa cemas. Kita takut jika genggaman ini kendur sedikit saja, semuanya akan hancur berantakan. Padahal, hidup ini sering kali bekerja di luar logika dan rencana manusia. Di sinilah pentingnya sebuah seni yang sering kita salah pahami: berserah.

Banyak orang mengira berserah itu berarti pasif atau menyerah pada nasib. Padahal, berserah yang sejati adalah tetap melangkah dan bekerja maksimal, namun berhenti memikul beban hasilnya sendirian.

George Mueller. Suatu pagi di panti asuhannya, ia menghadapi situasi yang mustahil: ada ratusan anak yatim piatu yang sudah duduk rapi di meja makan, tetapi tidak ada sepotong roti pun di dapur. Tidak ada uang, tidak ada stok makanan.

Secara logika, George seharusnya panik, marah, atau sibuk menelepon donatur. Tapi apa yang ia lakukan? Ia justru mengajak anak-anak itu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas makanan yang akan Tuhan sediakan. Ia melepaskan kendali logikanya dan memilih berserah penuh.

Tepat setelah ia mengucapkan “Amin”, terdengar ketukan di pintu. Seorang tukang roti datang membawa berkotak-kotak roti hangat karena ia merasa gelisah sepanjang malam dan merasa harus membakar roti ekstra untuk panti asuhan itu. Tak lama kemudian, tukang susu menyusul karena gerobaknya patah tepat di depan panti, dan ia memberikan seluruh susunya secara gratis daripada mubazir.

George Mueller melakukan bagiannya—ia tetap memimpin, tetap mendidik, dan tetap menyiapkan meja makan—tetapi ia menyerahkan bagian “penyediaan” kepada tangan yang lebih kuat.

Sering kali, yang membuat hidup terasa berat adalah karena kita merasa harus menjadi penanggung jawab atas segala sesuatu. Padahal, kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari segala kalkulasi kita. Saat kita berani melenturkan jemari dan melepaskan ambisi untuk mengatur setiap detail, kita memberi ruang bagi mukjizat untuk bekerja.

Berserah bukan berarti kita kehilangan arah. Berserah justru berarti kita menaruh kepercayaan penuh kepada Pribadi yang tidak pernah salah dalam memimpin. Saat kita berhenti mengandalkan pengertian sendiri, di situlah damai yang sejati mulai mengalir.
Lakukan yang terbaik hari ini, lalu biarkan Tuhan melakukan bagian-Nya yang ajaib. Hidup akan terasa jauh lebih ringan saat kita sadar bahwa kita tidak sedang berjalan sendirian.

Faith is not the belief that God will do what you want. It is the belief that God will do what is right. — Max Lucado

Iman bukanlah keyakinan bahwa Tuhan akan melakukan apa yang kita inginkan. Iman adalah keyakinan bahwa Tuhan akan melakukan apa yang benar. — Max Lucado

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Investasi yang Sia-sia? Nanti Dulu!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Investasi yang Sia-sia? Nanti Dulu!

*”If the ladder is not leaning against the right wall, every step we take just gets us to the wrong place faster.” — Stephen Covey

“Jika tangga tidak bersandar pada dinding yang tepat, setiap langkah yang kita ambil hanya akan membawa kita ke tempat yang salah dengan lebih cepat.— Stephen Covey

?Mak Jleb!

Pernah kita mengalaminya?
?Mungkin kita merasa sudah sekolah bertahun-tahun dengan biaya selangit, namun ujung-ujungnya kita harus berada di rumah atau bekerja di bidang yang jauh berbeda dari gelar yang kita sandang. Rasanya seolah-olah kita sudah bersusah payah memanjat ke puncak, baru sadar kalau tangga kita bersandar di dinding yang salah. Kita merasa semua itu sia-sia atau mubazir.

Namun, jangan terburu-buru menghakimi masa lalu kita. Sesungguhnya, ilmu dan proses itu tidak pernah menguap begitu saja. Pendidikan dan pengalaman itu sedang menempa pribadi kita, mempertajam cara berpikir, dan membentuk karakter kita agar menjadi “bejana” yang siap menampung berkat yang lebih besar. Sering kali, apa yang kita anggap sebagai “kesia-siaan” atau bahkan “malapetaka” hari ini, sebenarnya adalah masa persiapan yang sangat krusial untuk kesuksesan kita di hari esok.

?Mari kita tengok kisah Daniel, seorang pejabat tinggi yang karirnya luar biasa cemerlang. Ia begitu kompeten dan berintegritas sehingga rekan-rekan kerjanya yang iri hati frustrasi mencari celah untuk menjatuhkannya.

Tidak ada korupsi, tidak ada skandal dalam hidupnya. Akhirnya, mereka menjebak Daniel melalui titik yang paling sakral dalam hidupnya: kebiasaannya berdoa kepada Tuhan.

Sebuah undang-undang licik dikeluarkan—siapa pun yang berdoa kepada siapa pun selain raja, harus dilemparkan ke gua singa.

Bayangkan pergumulan batin Daniel saat itu. Ia berada di puncak karir, namun tiba-tiba dihadapkan pada maut. Daniel bisa saja memilih “aman” dengan berdoa diam-diam di dalam hati agar posisinya tetap selamat. Namun, ia memilih tetap setia secara terbuka.

Akibatnya sungguh mengerikan; ia benar-benar dilemparkan ke dalam gua penuh singa yang sedang lapar. Raja sendiri sangat sedih dan gelisah, namun ia tak berdaya melawan hukum yang dibuatnya sendiri.

?Malam itu menjadi malam yang paling menentukan bagi Daniel. Di tengah kegelapan gua yang mencekam, saat singa-singa itu seharusnya menerkam, sebuah mukjizat besar terjadi. Tuhan mengirimkan malaikat-Nya untuk membungkam mulut singa-singa ganas itu. Daniel tetap tenang, bahkan mungkin ia tertidur dalam perlindungan Ilahi di tengah ancaman maut.

Pagi-pagi sekali, Raja datang dengan suara cemas yang bergetar memanggil di bibir gua,
“Daniel, hamba Tuhan yang hidup, apakah Tuhanmu sanggup melepaskanmu?”

Betapa terkejutnya Raja saat mendengar suara Daniel yang tenang menyahut dari kegelapan. Daniel selamat tanpa luka sedikit pun!

Mukjizat ini bukan hanya menyelamatkan nyawanya, tapi juga mengubah seluruh peta politik kerajaan tersebut.

?Melalui peristiwa “gua singa” itulah, keadaan berbalik 180 derajat. Justru para pejabat tinggi yang selama ini menjadi ‘duri yang menyakiti’ bagi Daniel akhirnya dimasukkan ke gua singa, segera diterkam oleh singa-singa itu.

Tanpa “malapetaka” gua singa, Daniel mungkin akan terus diganggu, difitnah, dan dikerjai oleh orang-orang berkuasa itu seumur hidupnya. Melalui kejadian tersebut, jalan Daniel ke depan menjadi bersih, damai, dan posisinya semakin kokoh karena orang-orang toksik di pemerintahan telah disingkirkan oleh keadaan.

Dan lebih penting lagi, Raja melihat bukti betapa Allah Daniel itu dahsyat.

Kadang kita tidak menyadari bahwa “gua singa” dalam hidup kita adalah cara Tuhan untuk membersihkan musuh-musuh kita.

?Dalam hidup, kita memang tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi esok. Apa yang kita anggap sebagai “salah langkah” atau “salah dinding” hari ini, bisa jadi adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari bahaya yang lebih besar atau cara-Nya mempromosikan kita ke level yang lebih tinggi.

Bersyukurlah kita punya Tuhan yang mampu mengubah malapetaka menjadi kebaikan, jika kita mau berserah kepada-Nya. Dia adalah pakar dalam merenda benang kusut menjadi permadani yang indah.
Percayalah, tidak ada yang sia-sia di tangan Sang Maestro selama kita terus berjalan bersama-Nya.

*“God can bring good out of any situation. You may have made a mistake, but God can take that mistake and turn it into a miracle.” — Joel Osteen.

Tuhan dapat mendatangkan kebaikan dari situasi apa pun. Anda mungkin telah melakukan kesalahan, tetapi Tuhan dapat mengambil kesalahan itu dan mengubahnya menjadi mukjizat.— Joel Osteen.
?
YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Whitney Houston & Kevin Costner: Melihat Melampaui Keraguan: Pelajaran dari Sebuah Persahabatan Sejati.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Whitney Houston & Kevin Costner: Melihat Melampaui Keraguan: Pelajaran dari Sebuah Persahabatan Sejati.

Bayangkan jika film legendaris “The Bodyguard” tidak pernah dibintangi oleh Whitney Houston. Mungkin lagu “I Will Always Love You” tidak akan pernah bergema sedahsyat yang kita kenal sekarang. Tahukah Anda, bahwa di balik layar, pihak studio film awalnya sangat ragu? Mereka menginginkan aktris kulit putih yang sudah berpengalaman, bukan seorang penyanyi muda yang belum pernah berakting.

Namun, Kevin Costner ngotot. Ia pasang badan. Ia berkata dengan tegas kepada pihak studio, “Jika bukan Whitney, maka tidak ada film ini.”

Kevin melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Ia melihat jiwa, bakat, dan kerentanan yang luar biasa dalam diri Whitney. Ia tidak hanya menjadi lawan main, ia menjadi pelindung bagi karier Whitney di Hollywood saat banyak orang meragukannya.

Pernahkah Anda membayangkan, saat perjalanan hidup kita di dunia ini selesai, apa yang akan orang katakan tentang kita? Apakah mereka akan mengingat saldo rekening kita? Jabatan mentereng di kartu nama? Atau seberapa megah rumah yang kita bangun?

Kisah dukungan Kevin ini mencapai puncaknya bertahun-tahun kemudian, di momen yang sangat mengharukan. Ketika Whitney Houston berpulang pada tahun 2012, dunia seolah berhenti berputar sejenak. Pemakamannya di New Hope Baptist Church disiarkan langsung dan ditonton oleh jutaan pasang mata. Semuanya sudah diatur dengan protokol ketat—terstruktur, terkontrol, dan sangat menghargai durasi siaran global.

Lalu, Kevin Costner berdiri untuk memberikan penghormatan terakhir.
Panitia sudah memintanya untuk menjaga pidatonya tetap singkat agar sesuai jadwal televisi. Namun, Kevin memilih untuk mengabaikan batasan waktu demi sebuah kejujuran. Ia tidak berbicara tentang berapa banyak penghargaan Grammy yang diraih Whitney. Sebaliknya, ia membagikan sisi rapuh sang diva yang tidak pernah diketahui publik.

Ia bercerita bagaimana Whitney dulu ragu pada dirinya sendiri saat akan membintangi film itu. Whitney pernah bertanya pelan kepadanya,
“Apakah saya cukup baik? Apakah saya cukup cantik? Apakah mereka akan menyukai saya?”
Pertanyaan-pertanyaan manusiawi yang dunia tidak pernah dengar, tetapi seorang sahabat tidak pernah lupa.

Di akhir pidatonya, Kevin berkata dengan suara yang sarat dengan kasih, bukan sekadar duka: “Pergilah… dikawal oleh pasukan malaikat.” Pada momen itu, jadwal siaran tidak lagi penting. Kamera-kamera canggih itu tidak lagi berarti. Kevin berjalan ke peti jenazah, menciumnya dengan lembut, dan melangkah pergi.

Why?

Karena pada detik itu, ini bukan tentang seorang megabintang global. Ini tentang seorang sahabat yang sedang mengucapkan selamat tinggal.
Kisah ini membuat saya merenung dalam-dalam. Kita sering kali begitu sibuk membangun “citra” agar dunia terkesan. Kita bekerja keras tanpa henti agar dianggap “cukup” oleh standar orang lain. Padahal, pada akhirnya, saat kita kembali kepada Tuhan, yang kita bawa bukanlah tepuk tangan dunia atau piala-piala kristal yang berdebu.
Yang kita bawa pulang adalah Kasih.

Seberapa besar kita telah mengasihi orang-orang di sekitar kita? Seberapa dalam dampak yang kita tinggalkan di hati sesama? Nilai-nilai kehidupan yang sejati tidak ditemukan dalam kemegahan panggung, melainkan dalam ketulusan sebuah persahabatan, dalam keberanian untuk mendukung seseorang saat mereka sedang ragu, dan dalam kesetiaan untuk tetap berdiri di samping mereka saat dunia mempertanyakan kemampuan mereka.

Tuhan menciptakan kita masing-masing dengan sebuah “rancangan” yang spesifik. Dan rancangan itu jarang sekali tentang menjadi yang terhebat, melainkan tentang menjadi yang paling berdampak bagi orang lain. Sukses sejati adalah saat kita menggenapi rencana Tuhan dengan cara menyentuh hidup orang lain—memberi kekuatan bagi yang lemah, menjadi suara bagi yang bungkam, dan menjadi sahabat bagi yang kesepian.

Jangan tunggu sampai “waktu berhenti” bagi kita untuk menyadari hal ini. Mari mulai hari ini, hargai setiap hubungan yang ada. Berhentilah sejenak dari kesibukan mengejar angka, dan mulailah membangun makna. Karena saat tirai kehidupan ditutup, hanya kasih dan ketaatan kita pada rancangan Tuhan-lah yang akan terus bergema di kekekalan.

Think Eternity. Pastikan saat Anda pergi nanti, Anda meninggalkan jejak kasih yang tidak bisa dihapus oleh waktu.

“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”— Maya Angelou.

“Orang akan lupa apa yang Anda katakan, orang akan lupa apa yang Anda lakukan, tetapi orang tidak akan pernah lupa bagaimana Anda membuat mereka merasa berharga.”— Maya Angelou.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Apa Rahasia Cantik Sang Oma?

Seruput Kopi Cantik
?Yenny Indra

Apa Rahasia Cantik Sang Oma?

?Saat sedang asyik perawatan di salon, saya bertemu dengan seorang Oma yang luar biasa mempesona.
Bayangkan, Oma ini sudah berusia 92 tahun! Tapi sungguh, beliau adalah definisi keanggunan yang nyata.

Oma terlihat begitu cantik, cerdas, dengan tata bahasa yang sangat teratur dan sikap yang elegan. Beliau sejak kuliah sudah tinggal di berbagai kota di Australia. Terpelajar. Hingga 4 tahun lalu kembali ke Indonesia.

Hari itu, ternyata beliau sedang merayakan ulang tahunnya. Benar-benar momen yang spesial dan langka.

?Tentu saja, saya langsung “curi ilmu”. “Oma, apa sih rahasianya bisa tetap tampil anggun, cantik, dan segar di usia seistimewa ini?” tanya saya dengan antusias.

Oma itu tersenyum lembut, lalu berbagi satu mutiara kehidupan yang sangat berharga. Beliau bercerita bahwa Papanya, yang sudah meninggal puluhan tahun lalu, selalu menanamkan prinsip yang sangat kuat: “Jangan pernah simpan sakit hati kepada siapa pun. Sakit hati itu yang menimbulkan penyakit dan bikin kita tidak happy.” Oma juga mengenang Papanya sebagai seorang pembelajar sejati yang sangat hobi membaca buku.

Wow..! Suka sekali!

Saya pun langsung terpukau mendengarnya. Betapa menginspirasinya! Papa dari Oma itu sudah tiada selama puluhan tahun, tetapi keteladanan dan ajarannya masih hidup dalam diri Oma. Warisan yang sesungguhnya bukanlah harta, melainkan karakter dan prinsip hidup yang abadi.

?Cerita Oma ini sangat klik dengan kutipan dari AR Bernard yang sedang saya renungkan. Beliau menulis:

?”Have you ever felt hurt by something or someone, and you couldn’t let it go? That long-lasting anger, pain, and resentment is what we call bitterness. And it can easily grow in intimate relationships.”

“Pernahkah kamu merasa terluka oleh sesuatu atau seseorang, dan kamu tidak bisa membiarkannya berlalu? Kemarahan, rasa sakit, dan dendam yang bertahan lama itulah yang kita sebut kepahitan. Dan itu dapat dengan mudah tumbuh dalam hubungan intim.”

?AR Bernard mengingatkan kita bahwa ketika kita gagal melepaskan rasa sakit hati, perasaan itu akan berubah menjadi “bitterness” atau kepahitan. Kepahitan ini seperti racun yang mengendap lama di dalam jiwa. Ironisnya, kepahitan ini justru paling sering tumbuh subur dalam hubungan yang paling dekat dengan kita.

Maya Angelou menasehati,
“You should be angry. You must not be bitter – Kamu boleh marah. Tapi jangan menjadi pahit.”

Apa bedanya marah dan pahit hati?
Marah karena disakiti itu manusiawi. Tapi kalau marah itu dipelihara, dia berubah jadi karakter pahit.

Lalu Maya Angelou menambahkan,

“Bitterness is like cancer. It eats upon the host – Kepahitan itu seperti kanker. la menggerogoti orang yang menyimpannya.”

Nach lho!

?Nasihat Papa si Oma untuk “jangan sakit hati” sesungguhnya adalah perlindungan bagi kesehatan kita sendiri. Jika kita memelihara kepahitan, maka aura kecantikan dan kebahagiaan kita akan meredup. Sebaliknya, Oma ini membuktikan bahwa hati yang bersih dari rasa benci adalah “kosmetik” terbaik yang membuat seseorang tetap bercahaya bahkan di usia 92 tahun.

?Kira-kira, apakah masih ada “sampah” sakit hati yang kita simpan di pojok hati kita?

Yuk, kita belajar dari Oma cantik ini. Jangan biarkan luka masa lalu mencuri kebahagiaan dan kesehatan kita hari ini.
?Lepaskan pengampunan, jaga hati tetap bersih, dan biarkan hidup kita menjadi inspirasi bagi generasi mendatang, sama seperti Papa si Oma yang ajarannya tetap hidup melintasi zaman.

Selamat memanen kedamaian dalam hati Anda!

?”Bitterness is the fruit of refusing to let go of pain. Love is the fruit of choosing to let go of hurt.”— AR Bernard.

*”Kepahitan adalah buah dari penolakan untuk melepaskan rasa pedih. Cinta adalah buah dari pilihan untuk melepaskan rasa sakit.”?— AR Bernard.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 9 10 11 12 13 326