Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

“Pesona Xinjiang: Antara Salju, Sungai Zamrud, dan Sentuhan Kasih Tuhan”


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Pesona Xinjiang: Antara Salju, Sungai Zamrud, dan Sentuhan Kasih Tuhan”

Beberapa bulan lalu, Xinjiang membuka bandara baru ..
Begitu landing… wow sungguh memukau. Jauh lebih modern daripada Beijing International Airport, resmi beroperasi sejak April 2025.
Toko-toko cantik berderet sepanjang jalan…. sungguh mengggoda.

Sekilas, ini terdengar seperti kemudahan perjalanan dan pintu masuk baru ke wilayah yang luas dan kaya budaya. Terkenal sebagai Swiss-nya China. Seperti biasa, jalan bareng Anton Thedy -TX Travel.

Tapi Xinjiang bukan sembarang daerah. Di sini, keamanan diperketat, polisi dan tentara bisa melakukan pemeriksaan berulang kali, dan setiap langkah terasa diawasi. Demikian infonya. Karena daerah Xinjiang selatan terutama, sempat ingin merdeka.

Sukunya Uighur, sebagian besar penduduknya muslim. Ketika perang dunia 1, ada orang-orang Rusia yang lari ke Xinjiang. Mereka sebagian kecil orang Kristen di sini.

Local guide kami bernama Saleh tapi matanya sipit.
Bahkan restonya bergaya timur tengah. Cakep hingga plafondnya yang diberi lampu kecil-kecil bak bintang di langit. Suasana hingga musiknya, serasa di Timur Tengah, bukan China.
Nach inilah hebatnya pemerintah China, pembangunan merata hingga ke pedalaman. Jika rakyat makmur, siapa yang mau memberontak lagi?

Pertama kami menuju taman kota Urumqi, Hongshan Park. Berfoto ria tentunya sambil melemaskan kaki.
Tuhan baik.
Ramalan cuaca hujan tetapi hujan sudah turun semalaman. Jadilah cerah dan sejuk…. wuih senangnya.

Selanjutnya, bayangkan ini: kita berdiri di antara tebing batu merah raksasa, menjulang tinggi dengan bentuk-bentuk alami yang unik—seperti kastil dan menara raksasa yang diukir angin selama jutaan tahun. Itulah Tianshan Grand Canyon di Xinjiang,tempat di mana alam menunjukkan kekuatannya dalam diam.

Di kejauhan, Pegunungan Tianshan membentang megah, puncaknya diselimuti salju abadi yang berkilau di bawah matahari. Di lerengnya, hutan pinus tumbuh rapat—memberi kontras hijau yang menenangkan di tengah warna coklat kemerahan tebing.

Tak jauh dari sana, mengalir sungai hijau jernih, tenang tapi dalam, membelah ngarai seperti pita zamrud. Airnya begitu bersih, sampai kita bisa melihat bebatuan di dasarnya.

Perpaduan antara tebing merah, gunung bersalju, hutan pinus, dan air yang jernih menciptakan pemandangan yang luar biasa—seolah Swiss bertemu Grand Canyon, tapi dengan sentuhan eksotis khas Xinjiang.

Air sungai yang mengalir dari ketinggian hingga ke tempat yang lebih rendah melewati elevasi bebatuan yang bertingkat-tingkat bak air terjun cantik yang membentuk tirai nan indah memukau….

Kami pun menuju spot yang lebih ke atas lagi.
Di puncak Pegunungan Tianshan, tersembunyi sebuah permata alam yang tenang dan memikat: Danau Goose (Goose Lake)
Tempat tinggal angsa hitam yang terkenal.

Danau ini bukan hanya indah, tapi juga seperti tempat di mana waktu berhenti. Suasananya sunyi, damai, dan menyegarkan jiwa-seperti dunia kecil yang tak terjamah hiruk-pikuk manusia.

Tempat ini bukan cuma cantik, tapi bikin hati terdiam. Alam sedang berkhotbah, tanpa kata.

Dan….. Tuhan begitu baik. Kami datang di musim yang terbaik. Daun-daun mulai menguning … tidak hanya itu, hingga pukul 8 malam langit masih terang.
Konon ini hanya terjadi di bulan September hingga awal Oktober.

Saat kami tengah asyik berfoto-ria, turun hujan salju di bulan September… bayangkan…
Bukankah itu *”Love – Gift”* dari Tuhan?

Wow…. kami bersuka ria menikmati keindahan alam, meski sedikit salah kostum… ternyata suhu turun hingga 3? Celcius…
Bbbrrrrr…. dinginnya.
Padahal kemarin di Beijing masih 24?.
Kami pun beramai-ramai beli baju dingin dadakan….
Travelling selalu meninggalkan kesan yang tak terlupakan.

Berada di tengah megahnya ciptaan Tuhan—pegunungan bersalju, sungai jernih, danau sunyi, dan hujan salju yang turun tak terduga—membuat kita tersadar: hidup ini terlalu indah untuk dilewati dengan terburu-buru.
Setiap langkah, setiap momen, adalah hadiah kasih yang tak ternilai.

Xinjiang bukan hanya destinasi, tapi pengalaman yang menyentuh hati dan membuka mata.

Perjalanan hari ini ditutup dengan dinner di kebun cantik, diiringi tarian tradisional yang apiiik.

Terima kasih Tuhan, untuk kesempatan menikmati keindahan ini.
God is good… all the time!

“Travel makes one modest. You see what a tiny place you occupy in the world.” – Gustave Flaubert

“Melancong membuat kita rendah hati. Kita sadar betapa kecilnya tempat kita di dunia.” – Gustave Flaubert.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

The Power of Kindness – Dunia Butuh Lebih Banyak Malaikat Seperti Kita.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

The Power of Kindness – Dunia Butuh Lebih Banyak Malaikat Seperti Kita.

Ketika Conan O’Brien dipecat dari The Tonight Show pada tahun 2009, dunia mengira dia akan baik-baik saja. Ia figur publik, lucu, cerdas, dan terkenal. Tapi di balik layar, hatinya remuk. Perasaan gagal, ditolak, dan dibuang begitu saja menyelimuti hari-harinya.

Di masa-masa seperti itu, kita semua bisa mengerti. Ada saat dalam hidup di mana semuanya terasa gelap. Doa seolah tidak dijawab. Orang-orang menjauh. Kita terpuruk, merasa sendiri, bahkan ditinggalkan oleh mereka yang kita pikir akan tetap ada.

Namun justru dalam momen paling gelap itu, kasih Tuhan bisa hadir… lewat cara yang paling tak terduga.

Di tengah kepedihannya, Conan mendapat telepon dari seseorang yang tidak terlalu dekat dengannya: Robin Williams.
Dia artis yang sangat tenar.
Conan bahkan tidak tahu dari mana Robin bisa mendapatkan nomor pribadinya. Tapi Robin menelepon dan memintanya datang ke sebuah toko sepeda di Santa Monica.

Setibanya di sana, Conan mendapati sebuah sepeda Colnago mewah berwarna hijau cerah yang sudah dibayar penuh atas nama Robin. Tanpa banyak kata, Robin berkata, “Kamu bakal suka sepeda itu, Chief. Keliling aja—kamu bakal merasa lebih baik.”

Terdengar aneh, ya? Tapi saat Conan melihat sepeda itu, ia tertawa. Bukan karena harganya. Tapi karena hatinya disentuh. Ia merasa dilihat. Dihargai. Disayangi. Dan ketika ia mulai mengayuh sepeda itu di udara pantai California, hatinya mulai pulih.

Itulah kuasa kebaikan. The power of kindness.

Tuhan sering bekerja dalam diam. Ia tidak selalu mengirim kilat atau gemuruh. Tapi Dia hadir lewat seseorang yang mau taat pada dorongan lembut di hati. Robin mungkin tidak tahu dampak dari sepeda itu. Tapi kebaikannya menjadi bentuk nyata dari kasih Tuhan—yang menjangkau Conan di saat ia nyaris putus asa.

Kita pun bisa ada di dua sisi.

Di satu sisi, ketika kita berada di lembah hidup, terpuruk dan merasa ditinggalkan, tetaplah buka hati. Jangan tenggelam dalam kepahitan. Jangan tutup diri. Fokuskan hati pada Tuhan, meski tidak ada hal yang terasa masuk akal. Karena di saat kita berpikir semuanya sudah selesai, Tuhan sedang menggerakkan seseorang—entah dari mana—untuk datang membawa penghiburan, harapan, bahkan tawa.

Di sisi lain, ketika Tuhan menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu, walau tampaknya sepele, aneh, atau tidak masuk akal—lakukan saja. Kirim pesan. Telepon seseorang. Belikan kopi. Dengarkan tanpa menghakimi. Atau bahkan… belikan sepeda hijau terang. Siapa tahu, kita sedang menjadi “malaikat” yang dikirim Tuhan untuk menjawab doa orang lain.

Seringkali kita berpikir, untuk dipakai Tuhan harus punya panggung, punya suara besar, atau punya banyak uang. Padahal Tuhan hanya butuh satu hal: hati yang mau peka dan taat. Karena kasih-Nya bekerja lewat tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan besar.

Kasih Tuhan itu nyata. Ia tahu persis kapan dan bagaimana menjangkau anak-anak-Nya yang sedang terluka. Dan ketika Dia ingin menyampaikan kasih-Nya, Dia sering memakai kita—yang bersedia.

Jangan remehkan satu tindakan baik. Jangan anggap sepele satu dorongan dari Roh Kudus yang muncul tiba-tiba di hati kita. Bisa jadi, itulah momen yang menyelamatkan hari seseorang. Bahkan menyelamatkan hidupnya.

Dan saat kita sedang di titik rendah, ingatlah… Tuhan tidak pernah jauh. Dia akan menemukan cara untuk menunjukkan bahwa Dia peduli. Bisa lewat siapa saja. Bisa lewat apa saja.

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Mungkin hari ini, kita sedang menunggu ‘Robin Williams’-kita.

Atau… mungkin justru kita yang sedang dipanggil untuk menjadi Robin bagi orang lain.

Who knows
Yuuuuk taat…..

“Do your little bit of good where you are; it’s those little bits of good put together that overwhelm the world.” – Desmond Tutu.

“Lakukanlah kebaikan kecil di tempatmu berada; karena kumpulan kebaikan kecil itulah yang mampu mengubah dunia – Desmond Tutu.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Keaslian yang Mengalir dari Sumber Kehidupan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Keaslian yang Mengalir dari Sumber Kehidupan.

Identitas diri itu mahal harganya. Di dunia yang sering kali memuja keseragaman—entah dalam cara berpikir, berpakaian, berbicara, bahkan dalam cara bermedia sosial—menjadi diri sendiri terasa seperti tindakan yang radikal. Kita hidup di tengah tekanan untuk cocok, untuk sesuai, untuk dianggap bagian dari “yang normal.”

Dunia mengajarkan: jangan meniru orang lain, tapi jadilah berbeda. Kedengarannya bagus. Tapi izinkan saya menawarkan sudut pandang yang lebih dalam.

Sebagai anak-anak Tuhan, kita memang seharusnya berbeda. Tetapi bukan sekadar berbeda demi terlihat unik. Bukan hanya demi “menjadi diri sendiri” tanpa arah. Kita berbeda karena hidup kita berpijak pada kebenaran yang kekal. Dunia bisa berubah. Standar moral bisa bergeser. Yang dulunya salah, kini bisa jadi benar hanya karena opini mayoritas. Tapi kebenaran Tuhan tidak pernah berubah: dahulu, sekarang dan selama-lamanya Dan di situlah kita berdiri.

Berani hidup sesuai kebenaran Tuhan bukan perkara gampang. Dunia sering menilai kita aneh. Prinsip hidup yang mengedepankan kasih, pengampunan, kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri seringkali dianggap lemah atau ketinggalan zaman. Bahkan dianggap bodoh!
Tapi justru karena kita mengikuti Tuhan, kita tidak berjalan berdasarkan sorak-sorai dunia. Kita tahu arah kita, karena kita mengikuti Pribadi yang menjadi Sumber Kehidupan itu sendiri.

Kita tidak mengcopy manusia. Kita mengcopy Tuhan.

As He is so are we in this world – Seperti Dia ada begitu juga kita di dunia ini.

Apa yang kita lihat dari Tuhan, itulah yang kita tiru. Ketika Dia menunjukkan kasih tanpa syarat, kita belajar memberi tanpa menghitung untung rugi. Saat Dia bersabar, kita pun memilih menahan diri meskipun mudah untuk membalas.

*Tuhan adalah teladan yang tidak pernah salah. Dan semakin kita mengenal-Nya, semakin kita dibentuk menjadi seperti Dia*. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Dia hidup dalam kita dan mengalir melalui kita.
*It’s all about God, not us – Ini semua tentang Tuhan, bukan kita.*

Bayangkan kita seperti bejana tanah liat. Saat kita sendiri biasa saja, bahkan rapuh. Tapi smketika diisi dengan sesuatu yang mulia, bejana itu menjadi saluran yang membawa pengaruh besar. Kita pun seperti itu. Hidup kita bukan untuk dipamerkan, tapi untuk mengalirkan kasih-Nya, hikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan kepedulian-Nya bagi orang-orang di sekitar kita.

Ibarat pena di tangan penulis. Pena tidak bisa menulis dengan sendirinya. Tapi ketika Tuhan yang memegang pena hidup kita, maka setiap tindakan, perkataan, dan keputusan kita bisa menjadi sesuatu yang membangun, menginspirasi, dan membawa terang bagi dunia yang gelap. Kata-kata kita bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menguatkan. Kehadiran kita bukan untuk bersaing, tapi untuk menghidupkan. Karena Tuhanlah penulis sejatinya—kita hanya alat-Nya.

Menjadi asli dalam Tuhan bukan soal mempertahankan ego atau karakter lama. Justru sebaliknya. Kita meninggalkan yang lama supaya bisa menjadi ciptaan yang baru. Keaslian kita bukan hasil dari melawan dunia demi pemberontakan. Tapi karena kita berjalan sesuai rancangan-Nya—dan itu membuat kita berbeda secara alami.

Dunia tidak butuh lebih banyak salinan – copyan. Dunia butuh pribadi yang sungguh-sungguh hidup dalam keaslian yang berasal dari Tuhan. Karena hanya dengan begitu, hidup kita punya dampak yang kekal.

Dan ketika orang melihat hidup kita, harapan kita sederhana: semoga mereka tidak melihat kita, tetapi melihat Tuhan yang bekerja melalui kita.

Jadi, jika hari ini kita merasa tertantang karena berbeda, jangan takut. Itu pertanda baik. Jangan buru-buru menyesuaikan diri hanya demi diterima. Tetaplah jadi pena yang menuliskan kebaikan. Tetaplah jadi bejana yang setia mengalirkan kehidupan. Karena saat kita hidup seturut dengan Tuhan, kita tidak hanya menjadi berbeda. Kita menjadi terang…

Siap praktik? Yuuuk….

*”The Believer is like a mirror reflecting the light of God.” – Corrie ten Boom.*

“Orang yang percaya Tuhan itu seperti cermin yang memantulkan terang Tuhan.” – Corrie ten Boom

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Mintalah, Maka Kamu Akan Menerima.

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Mintalah, Maka Kamu Akan Menerima.

“Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Lukas 11:9)

Ini janji Yesus sendiri. Bukan pendapat orang. Bukan karangan motivator. Tapi anehnya, banyak orang Kristen berdoa, tapi tidak menerima. Lalu mulai mencari-cari alasan: mungkin belum waktunya, mungkin Tuhan tidak mau.

Padahal, kalau Yesus sudah berkata setiap orang yang meminta akan menerima, berarti masalahnya bukan di Tuhan. Mungkin ada yang salah dalam cara kita berdoa atau cara kita menerima.

Yakobus 4:3 bilang, “Kamu berdoa juga, tetapi tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa.”
Artinya, bukan sekadar minta, tapi kita perlu tahu apa yang sudah dijanjikan Tuhan dalam Firman-Nya. Kalau yang diminta adalah bagian dari penebusan Kristus — pengampunan, damai, kesembuhan, hikmat, pemulihan, jodoh, anak, keuangan — semua itu sudah disediakan. Tinggal bagaimana kita percaya dan menerima.

Kita butuh iman. Ibarat listrik sudah terpasang di rumah, tapi lampu tetap gelap kalau tidak ada yang menyalakan saklar. Firman itu janjinya. Perkataan kita adalah saklarnya. Iman menyalakan kuasa Tuhan. Dan konsistensi adalah kuncinya.

Ini bukan teori. Saya ingin bagikan kisah nyata yang luar biasa — yang tidak hanya terjadi di Amerika, tapi juga sampai Afrika. Karena Firman Tuhan bekerja di mana pun, termasuk di Indonesia!

Tahun 1981, Dodie Osteen didiagnosis kanker hati metastasis. Dokter hanya memberi waktu hidup beberapa minggu. Tapi Dodie memilih percaya pada Firman, bukan vonis dokter. Ia pulang ke rumah, menempelkan ayat-ayat kesembuhan di seluruh rumah, memperkatakan janji Tuhan setiap hari, menolak takut, tetap memasak, tetap bergerak sebagai wujud iman bahwa ia disembuhkan. Ia bahkan berdiri secara harfiah di atas Alkitab, menegaskan bahwa hidupnya berdiri di atas Firman. Tidak instan. Tapi beberapa bulan kemudian, tubuhnya bebas kanker — dokter pun tidak bisa menjelaskan secara medis.

Mengapa Dodie begitu beriman?
Sebelumnya, putrinya Lisa lahir dengan tali pusat melilit leher, tidak bisa minum, duduk, atau menelan. Dokter bilang kemungkinan besar Lisa tidak akan berjalan. Tapi John dan Dodie memilih percaya. Mereka mengucap syukur seperti Lisa sudah sembuh, setiap hari. Secara bertahap Lisa berkembang. Sebelum usia 1 tahun, Lisa sudah bisa berjalan. Kini Lisa sehat, cantik, dan aktif melayani Tuhan.

Pengalaman bersama Tuhan ini membuat Dodie memiliki iman yang terlatih.

Pastor Robert Kayanja dari Uganda pernah datang ke rumah John dan Dodie Osteen, tidak hanya disambut secangkir kopi dan doa. Waktu itu dia belum menikah. Dodie mendoakan dan tak lama dia menikah dengan Jessica. Lalu selama 5 tahun mereka belum punya anak. Dodie mendoakan terus sampai lahir anak pertama, lalu disusul anak kembar.

Saat salah satu putrinya didiagnosis kanker dan divonis hidup 3 bulan, Robert kembali mengingat kesaksian Dodie. Ia berdoa setiap hari, berdiri atas Firman. Dalam kunjungannya ke Amerika, Dodie memberikan sapu tangan yang sudah diurapi untuk ditumpangkan pada anaknya. Hasilnya? Anaknya sembuh total.
Hari ini, Pastor Robert menyebut dirinya Black Osteen, saking bersyukurnya.

Kisah lain yang menggetarkan hati tentang George Müller, penginjil dari Inggis, yang berdoa setiap hari untuk lima orang temannya agar mereka diselamatkan.

Orang pertama bertobat setelah beberapa bulan.
Orang kedua, setelah beberapa tahun.
Orang ketiga, setelah 10 tahun.
Orang keempat, 25 tahun kemudian, sesaat sebelum Müller meninggal.
Orang kelima, bertobat setelah kematian Müller, lebih dari 50 tahun sejak Müller mulai berdoa.

Selama puluhan tahun, Müller tidak pernah berhenti mendoakan mereka, meskipun belum melihat hasilnya. Ia percaya bahwa Tuhan akan menjawab doanya — dan benar, semuanya akhirnya menerima Kristus.
Doa Terjawab!

Apa kunci dari semua ini?
Bukan karena suara Tuhan terdengar, mimpi, penglihatan, atau nubuatan.
Hanya satu: berdiri di atas Firman.
Konsisten. Tidak goyah. Tidak peduli berapa lama atau apa pun keadaannya.
Fakta bisa berubah. Firman Tuhan tidak.

Mintalah, maka kamu akan menerima.
Dan jika Firman ini nyata di Amerika dan Afrika, Firman yang sama bekerja juga di Indonesia.

“Ketika kamu kembali kepada Tuhan, tidak ada yang bisa mengalahkanmu.” — Smith Wigglesworth

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” — Yakobus 4:8

Jadi… Siap berdiri di atas Firman dan menerima apa yang sudah dijanjikan-Nya?

God will pass over a million people just to find someone who believes Him.” – Smith Wigglesworth.

“Tuhan akan melewati sejuta orang hanya untuk menemukan satu orang yang sungguh percaya kepada-Nya.” – Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiFirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Luka Mereka, Bukan Milikmu..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Luka Mereka, Bukan Milikmu..

Saya membaca sebuah tulisan dari #ajraharjo yang begitu menusuk hati:

“Ketika seseorang memperlakukanmu dengan buruk, itu mencerminkan masalahnya sendiri, bukan nilai dirimu. Orang yang sehat secara emosional tidak akan menjatuhkan orang lain.”

Kalimat itu sederhana, tapi dalam. Seperti cermin yang memantulkan kenyataan—bukan tentang kita, tapi tentang luka orang lain yang belum selesai.

Ajraharjo bercerita tentang Maya, seorang seniman muda berbakat yang bekerja di galeri seni terkenal. Mimpinya tinggi, semangatnya menyala. Tapi setiap hari, Maya harus menghadapi kurator senior yang sinis, merendahkan, dan sering mengolok-olok karyanya. Bahkan pakaiannya pun dikomentari.

Awalnya Maya mencoba kuat. Tapi lama-lama ia mulai percaya bahwa dirinya memang tidak cukup baik. Bahwa mimpinya terlalu besar untuk bakatnya yang kecil. Bahwa dirinya memang layak direndahkan.

Sampai suatu hari, seorang kolektor seni datang dan terpukau dengan lukisan Maya. Ia memuji kedalaman warnanya, emosi dalam goresannya.

Maya terdiam, lalu bertanya dengan suara pelan, “Bagaimana Anda bisa melihat keindahan itu, sementara kurator saya hanya melihat kesalahan?”

Kolektor itu tersenyum, “Karena dia tidak pernah mampu melihat keindahan—dalam karyamu, bahkan dalam dirinya sendiri.”

Dan di situlah Maya mulai mengerti. Ia bukan masalahnya. Bukan lukisannya yang buruk. Hanya saja, orang yang melihatnya, belum sembuh dari kekosongan dalam dirinya.

Banyak dari kita pernah berdiri seperti Maya. Diserang tanpa sebab, dikritik tanpa kasih, dijatuhkan padahal tak salah. Lalu kita sibuk memperbaiki diri, bukan karena ingin bertumbuh, tapi karena takut dianggap gagal. Kita lupa, luka yang dilemparkan orang lain bukan cermin yang harus kita pakai untuk menilai harga diri.

Tuhan menciptakan kita dengan nilai, bukan berdasarkan pendapat manusia. Nilai itu melekat, tetap utuh—meski orang lain menolak, mengabaikan, bahkan mencibir.

Dalam sebuah pengajaran kuno tertulis, bahwa hati yang penuh dengan kebencian akan mengeluarkan caci maki; tangan yang penuh kepahitan akan mencari sasaran untuk dijatuhkan. Tapi itu bukan tentangmu. Itu cerminan dari jiwanya yang terluka.

Tuhan melihat hati. Bukan hanya perilaku kita, tapi juga motivasi dan luka yang kita bawa. Maka ketika kita menerima perlakuan yang menyakitkan, sebenarnya kita sedang diundang untuk melihat lebih dalam: Apakah aku akan bereaksi seperti mereka, atau tetap berdiri dalam terang yang telah Tuhan berikan padaku?

Orang yang sehat secara rohani dan emosional tidak sibuk menjatuhkan. Mereka terlalu sibuk membangun, mencipta, dan menginspirasi. Mereka tahu bahwa menjatuhkan orang lain tidak membuat mereka lebih tinggi. Justru sebaliknya, memperlihatkan betapa kosongnya dunia batin mereka sendiri.

Ketika seseorang mencoba meruntuhkanmu, jangan lari. Berdirilah tegak.

Bukan untuk membalas, tapi sebagai pernyataan: Aku tahu siapa diriku. Aku tahu siapa yang memegang hidupku. Aku bukan pantulan dari kritikmu, tapi ciptaan Tuhan yang unik dan bernilai.

Terkadang, terang dalam dirimu begitu kuat, sampai-sampai kegelapan dalam diri orang lain merasa terancam. Maka jangan padamkan terang itu hanya karena ada yang merasa silau. Jangan biarkan luka mereka merusak jiwamu. Biarkan mereka dengan pergumulannya, dan teruslah bersinar.

Dan saat hatimu mulai goyah, ingatlah kisah Maya. Ia hampir menyerah karena cermin yang retak. Tapi yang ia butuhkan bukan cermin baru, melainkan keberanian untuk melihat dirinya lewat mata yang lebih tinggi—mata yang melihat bukan hanya kesalahan, tapi potensi, kasih, dan panggilan hidup.

Kadang, kehidupan memaksa kita lewat jalan sempit agar kita belajar membedakan: mana kritik yang membangun, dan mana yang lahir dari kegelapan jiwa orang lain.

Kita tidak bisa memilih bagaimana orang memperlakukan kita. Tapi kita bisa memilih untuk tetap berdiri dalam kasih, dalam pengampunan, dan dalam keyakinan bahwa hidup kita berharga—bukan karena pengakuan mereka, tapi karena Tuhan sendiri yang memberi nilai itu.

Siap praktik?
Mari jadi Pemenang!

“You will never be criticized by someone doing more than you. You will only be criticized by someone doing less.”- Denzel Washington.

“Kamu tidak akan dikritik oleh orang yang melakukan lebih darimu. Kritikan biasanya datang dari mereka yang melakukan lebih sedikit.” – Denzel Washington.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 29 30 31 32 33 410