Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Urho Ghost City – Kota Hantu di Padang Pasir Xinjiang – Grand Bazar & Urumqi Factory Outlet.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Urho Ghost City – Kota Hantu di Padang Pasir Xinjiang – Grand Bazar & Urumqi Factory Outlet.

Bayangkan sebuah kota tanpa penghuni, penuh formasi batu aneh yang menyerupai kuil, istana, bahkan binatang raksasa. Itulah Urho Ghost City, atau Mógui Chéng dalam bahasa Mandarin, yang berarti “Kota Hantu.”

Terletak di Karamay, Xinjiang, kawasan ini terbentuk dari proses alam jutaan tahun lalu. Dahulu sebuah danau, lalu mengering dan diukir angin gurun yang ganas. Suaranya melolong di antara bebatuan, sehingga penduduk lokal menjulukinya “kota setan.”

Saat kereta odong-odong wisata membawa kami berkeliling, pemandangan seolah membawa imajinasi ke dunia lain. Bayangan sore yang jatuh di atas bebatuan membuatnya tampak seperti benteng kuno. Ada yang berbentuk mirip Spinks di Mesir. Tak heran, banyak film Tiongkok mengambil lokasi syuting di sini.

Dibangun pula patung yang menjadi spot foto yang apik.
Pemerintah Tiongkok dengan serius memfasilitasi obyek-obyek wisata sedemikian rupa, sehingga nyaman dikunjungi dan dinikmati.

Tips kecil, jangan lupa kacamata, masker, dan syal—angin bisa tiba-tiba berhembus kencang. Juga payung… walau saat kami datang, selesai explore baru gerimis mulai menitik. Waktu terbaik datang adalah sore hari, ketika langit biru kontras dengan warna cokelat kemerahan batu, menciptakan foto dramatis nan memukau.
O ya ada persewaan menunggang onta cantik juga.
Ada pula kuda di sana.
Jepret… jepret… tak henti-hentinya kami foto bersama sambil bergaya…

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”

Melihat karya alam di Ghost City ini, hati spontan bersyukur: bahkan di tengah padang gurun tandus, tangan Tuhan tetap melukis keindahan-Nya.
Amazing!

Menginap di Dushanzi, sesungguhnya hanya untuk transit, karena langsung ke Urumqi terlalu jauh.

Di Urumqi, ke Grand Bazar, menikmati pasar traditional dengan barang-barang khas Xinjiang.

Mei Tjien membeli penutup kepala cantik berwarna putih berenda. Duh… uniknya…
Kristina & saya pun ikutan membeli dan langsung dipakai…
Jadilah trio kembaran…
Hahaha…. inilah yang membuat liburan dengan teman-teman itu menyenangkan.

Ternyata banyak teman-teman lain yang juga tertarik, sayangnya sudah jauh dari tokonya.
Sayang y…

Ada kue isi coklat dan kacang yang digoreng, lalu disajikan dengan secangkir kecil kopi panas. Bisa pilih Americano atau Coffee Latte.
Menikmatinya bersama kawan sambil berfoto dengan background Nasrudin Hoya…
Jadi ingat buku cerita bacaan masa kecil.
Kenangan masa kecil senantiasa memberikan nuansa khusus yang membawa ke masa lalu.
Kami pun asyik saling menimpali sambil tertawa mengenang Nastudin Hoya.

Factory Outlet Urumqi masih sangat baru dan besar sekali.
Ketika P. Daniel memberi kabar mereka ada di toko Bosideng, kami menyusulnya.
Lho koq ga ada?
Ternyata toko Bosideng ada 4 outlet di sana.
Alamaaak….

Demikian juga dengan brand-brand lainnya, banyak yang memiliki lebih dari 1 outlet.
Strateginya, harus tahu apa yang hendak dicari, agar tidak menghabiskan waktu percuma.
Menyenangkan untuk berbelanja. Discount hingga 70-80%….

Keesokan paginya kami bersiap pulang.
Airport Urumqi juga baru. Yang membuat terpukau, untuk domestic flight saja lebih dari 300 gate.
Wow…. bisa dibayangkan banyaknya penerbangan menuju Urumqi yang menjadi pintu gerbang Xinjiang dari berbagai kota di Tiongkok.

Liburan bukan saja menyenangkan tetapi kesempatan yang Tuhan berikan untuk bertemu dengan teman-teman baru. Membuka kesempatan membangun pertemanan baru dan menabur benih-Nya dalam kehidupan setiap orang yang kita temui.
Mungkin melalui perkataan, sikap atau bahkan body language tanpa kita sadari.
Bukankah setiap kita adalah duta-Nya di dunia ini?

“Look deep into nature, and then you will understand everything better.” — Albert Einstein

“Selamilah alam dengan sungguh-sungguh, maka engkau akan memahami segala sesuatu dengan lebih baik.” — Albert Einstein.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Wow… Kanas Lake! Keindahan yang Jadi Senjata Cerdas Tiongkok”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Wow… Kanas Lake! Keindahan yang Jadi Senjata Cerdas Tiongkok”

Pagi-pagi sekali kami sudah berangkat menuju Kanas Lake National Forest Park. Udara masih segar, matahari perlahan naik dari balik pegunungan. Namun betapa terkejutnya saya, ternyata pengunjung sudah membludak. Bus-bus wisata, mobil pribadi, hingga rombongan tur tampak memenuhi jalan menuju danau yang terkenal ini. Seakan semua orang berlomba untuk tiba lebih awal.

Rupanya pemerintah Tiongkok memang sangat cerdik. Sebelum Covid-19, sekitar 100 juta warganya setiap tahun berlibur ke luar negeri. Dari hitung-hitungan sipoa jelas tidak menguntungkan, devisa begitu saja mengalir keluar. Apa yang dilakukan? Mereka mengubah strategi. Objek-objek wisata dikelola serius: dibuat nyaman, cantik, bersih, dan lengkap fasilitasnya. Mulai dari jalan masuk, transportasi, hotel, restoran, hingga toilet umum – semua dipikirkan dengan detail.

Hasilnya luar biasa. Sampai dengan bulan Oktober ini saja, booking pesawat, hotel, dan paket perjalanan ke Xinjiang sudah menembus 130 juta orang. 98% adalah turis lokal. Wow… betapa lihainya strategi ini, sehingga uang rakyat tetap berputar di dalam negeri, menghidupkan ekonomi lokal dan menyejahterakan masyarakat.

Begitu memasuki kawasan Kanas, suasana langsung berbeda. Hamparan hutan cemara dan birch menyambut kami, menjulang tinggi seakan menjadi pintu gerbang alami. Di musim gugur, dedaunannya berubah warna menjadi emas, jingga, dan merah. Rasanya seperti berjalan di dalam lukisan yang hidup, setiap langkah menghadirkan pemandangan baru yang menakjubkan.

*Kanas* sering disebut sebagai salah satu danau tercantik di Tiongkok, bahkan dijuluki *Swiss-nya Timur*

Tak hanya itu, di sepanjang jalur sungai terdapat kelokan-kelokan cantik seperti Moon Bay, Fairy Bay, dan Wolong Bay. Ajaibnya, warna air di tiap kelokan bisa berbeda, tergantung cahaya matahari dan kandungan mineral alami. Berjalan di sepanjang tepian sungai ini seperti menikmati galeri seni alam, di mana setiap sudut menyuguhkan lukisan baru.

Dan ketika akhirnya sampai di tepi danau, saya terdiam. Uniknya, warna air di Moon Bay (Teluk Bulan) bisa berubah-ubah sesuai musim dan cahaya matahari – kadang biru jernih, kadang hijau toska, bahkan bisa keabu-abuan saat cuaca mendung. Semua itu menambah kesan mistis, seolah benar-benar sedang melihat “bulan” yang jatuh ke bumi.

Fairy Bay (Teluk Bidadari/Peri Teluk) yang tenang dan jernih, sering diselimuti kabut tipis di pagi hari. Suasananya terasa magis, seperti dunia dongeng, sehingga disebut tempat para peri turun bermain.

Puncaknya di Wolong Bay (Teluk Naga Tidur), kelokan sungai yang bentuknya menyerupai naga sedang tidur. Dikelilingi pepohonan rimbun, panorama ini melambangkan kekuatan dan keberuntungan dalam budaya Tiongkok.
Nampak bak pulau yang dikelilingi sungai dimana airnya berwarna biru kehijauan, tenang, seakan sebuah cermin raksasa yang memantulkan langit biru dan gunung bersalju di kejauhan lengkap dengan perpaduan daun hijau kuning serta sedikit merah . Kabut tipis melayang di atas permukaan, memberi kesan misterius nan anggun.
Wow… sulit rasanya menggambarkan dengan kata-kata.

Dan foto cantik pemandangan ini, hasil jepretan teman tur, #JaniWiguna dengan kamera khususnya. Thanks Jani!

Perjalanan ini bukan sekadar wisata mata, tetapi juga wisata hati. Alamnya mengajarkan keteduhan, sementara strateginya mengajarkan kecerdikan. Negeri ini berhasil mengubah “beban devisa keluar” menjadi “mesin ekonomi dalam negeri” hanya dengan menata da mempercantik apa yang sudah mereka miliki.

Wow… Kanas Lake mengingatkan saya bahwa kebijaksanaan bukan hanya soal strategi besar, tetapi juga tentang menghargai dan mengelola dengan baik apa yang ada di tangan kita.

Prinsip yang senantiasa Tuhan ajarkan dan sudah didepositkan di dalam setiap kita.
Setiap manusia itu unik, berbeda, limited edition dan lengkap… apa yang kita butuhkan untuk hidup berkemenangan sudah tersedia di dalam roh kita.
Sudahkah kita berkolaborasi dengan-Nya untuk menjalani hidup ini selangkah demi selangkah bersama-Nya?
Dan setiap langkah, merupakan suatu mujizat!

“Nature is painting for us, day after day, pictures of infinite beauty if only we have the eyes to see them.” – John Ruskin.

“Alam setiap hari melukiskan bagi kita gambar-gambar dengan keindahan tak terhingga, jika saja kita punya mata untuk melihatnya.” – John Ruskin.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
o

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesam

Read More
Articles

“Menjejak Hemu: Dari Scenery Road hingga Ski Resort di Atap Empat Negara”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Menjejak Hemu: Dari Scenery Road hingga Ski Resort di Atap Empat Negara”

Perjalanan pagi ini menuju Hemu Village dimulai melalui jalur baru yang dibuka pada Juni lalu, yang diberi julukan *Scenery Road.* Nama itu memang tepat. Di sebelah kiri, tampak gunung berbatu dengan puncak yang masih tertutup salju. Sementara di kanan, deretan pohon birch mulai menguning, berpadu dengan hijau segar yang masih bertahan. Pemandangan ini sederhana namun menawan.

Semakin jauh, jalan makin dikelilingi gunung bersalju pada ketinggian sekitar 2.700 meter. Ada hal menarik: sebagian pohon pinus berubah kuning sepenuhnya, sebagian tetap hijau, dan ada juga yang bercampur keduanya. Kontras warna ini membuat suasana perjalanan terasa berbeda. Nantinya, daun-daun itu akan memerah lalu gugur. Itulah mengapa September hingga awal Oktober disebut sebagai musim terbaik untuk berkunjung ke Xinjiang—pemandangannya berubah seperti kalender hidup yang terus berganti halaman.

Dari jalur ini, perjalanan dilanjutkan dengan cablecar yang bergerak perlahan di atas hutan pinus dan lembah. Suasananya tenang, memberi waktu untuk menikmati pemandangan tanpa tergesa. Cablecar ini membawa kami menuju *Hemu Ski Resort,* destinasi musim dingin populer di kawasan Altai. Dari ketinggian, seharusnya bisa terlihat perbatasan empat negara sekaligus: China, Mongolia, Rusia, dan Kazakhstan.

Namun saat kami tiba di puncak, sekitar 2.800 meter di atas permukaan laut, hujan salju kembali turun. Udara begitu dingin hingga menusuk tulang, dan kabut tebal membuat pandangan terbatas. Meski demikian, suasana tetap terasa istimewa. Di sana tidak ada kafe modern, tetapi jajanan sederhana seperti ubi bakar panas dan jagung rebus banyak dijual, dan cepat ludes karena menjadi pilihan favorit wisatawan yang kedinginan.

Area ski resort ini juga dilengkapi dengan spot-spot foto yang ditata rapi, sehingga pengunjung mudah menemukan sudut menarik untuk mengabadikan perjalanan mereka. Saat ini, pembangunan hotel berbintang 4 dan 5 serta jalur cablecar baru sedang berlangsung. Semua ini menunjukkan bahwa kawasan ini sedang dipersiapkan menjadi destinasi wisata berskala internasional. Penerintah Tiongkok benar-benar serius mempersiapkannya.

Dari ketinggian ski resort, pandangan mengarah ke bawah menuju desa tradisional Hemu. Desa ini dikenal sebagai salah satu yang terindah di China, dikelilingi hutan birch, pegunungan Altai, dan sering diselimuti kabut tipis di pagi hari. Hemu dihuni oleh suku Tuwa (Tuva), komunitas kecil yang sejak lama hidup sebagai penggembala dan peternak kuda. Mereka tinggal di rumah kayu sederhana dan menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Perubahan zaman membawa pengaruh besar. Hemu kini menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Rumah-rumah kayu tradisional masih berdiri, namun desa telah ditata ulang agar lebih mudah diakses wisatawan. Jalan-jalan desa dipenuhi pengunjung yang ingin merasakan kehidupan etnis Tuwa dari dekat.

Berbagai makanan tradisional dijual di sana. Sate kambing menjadi makanan favorit yang terkenal mahal dibandingkan sapi dan ayam.

Di sepanjang jalan ada kambing-kambing kecil cantik yang sudah didandani, dengan pita, kalung, bunga untuk diajak foto oleh para wisatawan. Tentu ada tarifnya.

Dan menarik sekali. Di beberapa tempat terlihat orang yang sedang menari dengan mengenakan baju traditional.

Bunga matahari, bunga Adonis annua, yang menurut Kristina, semerah darah tentara yang meninggal saat berperang, dan berbagai bunga lain tumbuh berkembang di halaman rumah kayu traditional itu menambah asri suasana di sana. Beberapa spot mirip suasana rumah kayu di Jepang.

Meski interaksi dengan dunia luar semakin banyak, identitas budaya mereka tetap menjadi daya tarik utama. Tradisi lama tetap dijalankan, meski perlahan berpadu dengan modernitas.

Kombinasi inilah yang membuat Hemu berbeda. Di satu sisi, kita bisa merasakan kehidupan tradisional yang sederhana, dan di sisi lain terlihat jelas bagaimana pariwisata membawa perubahan dan peluang baru. Hemu kini menjadi simbol harmoni—antara alam, budaya, dan perkembangan zaman.
Unik ya?

Rumi pernah berkata:
“Wherever you stand, be the soul of that place.”
“Di mana pun engkau berdiri, jadilah jiwa dari tempat itu.”

Hemu seakan mengajarkan hal ini—setiap tempat memiliki jiwanya sendiri. Dan saat kita hadir dengan hati terbuka, kita pun bisa ikut merasakan denyut kehidupan yang ada di dalamnya.
Dan membuat kita makin terpesona dengan kebesaran Tuhan yang menciptakannya.

“The mountains are calling and I must go.” – John Muir.

“Gunung-gunung memanggil, dan aku harus pergi.” – John Muir.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Ketika Alam Bernyanyi: Kisah Cinta dan Perjalanan di Keketuohai & Koktokay”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Ketika Alam Bernyanyi: Kisah Cinta dan Perjalanan di Keketuohai & Koktokay”

Di ujung utara Xinjiang, tersembunyi sebuah lembah bernama Keketuohai. Pegunungan granit menjulang, sungai Irtysh berliku jernih, dan danau biru memantulkan langit seolah cermin. Dulu, kawasan ini dikenal sebagai tambang logam langka, keras dan dingin. Namun, di balik bebatuan dan mineral, tersimpan kisah cinta yang lembut.

Salah satunya terukir dalam lagu “Penggembala di Keketuohai”. Lagu ini menceritakan dua jiwa yang saling mencintai, tapi harus berpisah karena jalan hidup berbeda: satu memilih tetap di padang sebagai penggembala, yang lain pergi jauh mengejar mimpi. Bait-baitnya penuh kerinduan, seperti pegunungan yang kokoh dan danau yang tenang, cinta mereka bertahan meski dipisahkan jarak.

Di lembah ini juga tumbuh sepasang pohon unik. &Pohon birch putih* berdiri anggun seperti seorang gadis 16 tahun. Bila batangnya tertusuk, mengalirlah getah jernih seperti air mata seorang dara yang sedang merindu. Tepat di sampingnya berdiri *pohon cooper* yang gagah, seakan seorang pemuda tampan yang setia menjaga. Keduanya seolah melambangkan kisah cinta dalam lagu itu—perempuan yang rapuh namun tulus, dan lelaki yang kokoh, tetap di sisinya.

Maka tak heran, siapa pun yang datang ke Keketuohai sering terbawa suasana. Di tepi danau atau di bawah rimbun pohon birch dan cooper itu, orang dapat merasakan kerinduan, kesetiaan, dan cinta sederhana yang hidup selamanya dalam nyanyian dan alam.

Konon, sejak ada lagu Keketuohai yang terkenal—ditambah kisah cinta yang memukau—Xinjiang pun menjelma menjadi tujuan wisata yang sangat populer. Lagu dan cerita itu seolah memberi “jiwa” pada keindahan alam yang sebelumnya hanya diam.

Menariknya, saat berkunjung ke Mohe, saya juga menemukan pohon birch putih dan pohon cooper. Sama indahnya, sama menawan, namun di sana tidak ada lagu, tidak ada kisah yang melatarbelakangi. Hasilnya, keindahan Mohe hanya dipandang sebatas pemandangan, tanpa daya tarik emosional yang mengikat hati pengunjung.

Dari sini terlihat, keindahan alam memang memikat, tetapi cerita yang menyertainya mampu menggandakan pesona. Ada pelajaran yang bisa kita ambil: nilai sejati sering kali bukan hanya pada apa yang tampak, melainkan pada makna yang mampu kita rangkai dan bagikan.

Sepanjang perjalanan hari ini, pemandangannya berbeda lagi. Hamparan rumput hijau nan ayu memukau menuju Koktokay National Geopark —salah satu taman yang terkenal dan dilindungi UNESCO.

Koktokay bagaikan surga alam di Xinjiang, dengan *sungai Irtysh* berair biru jernih, lembah granit raksasa, serta batuan unik berusia jutaan tahun. Di dalamnya, berdiri gagah sebuah batu besar berbentuk lonceng, seakan menjadi penanda keagungan alam. Sungai yang jernih mengalir tenang hingga tampak jelas bebatuan di dasarnya, memberi kesan damai dan murni. Di tepiannya, bunga-bunga cantik berwarna pink bermekaran, menambah sentuhan manis pada panorama.

Pepohonan birch dan hutan lebat berpadu dengan tebing granit, menghadirkan pemandangan bak lukisan hidup. Saat musim gugur, dedaunan keemasan memantul di air sungai, menciptakan suasana romantis yang sulit dilupakan.

Pendek kata, Koktokay merupakan perpaduan antara museum geologi raksasa dan taman alam memesona, membuat siapa pun betah larut dalam keindahannya.

Fasilitasnya dibangun apik, jembatan, spot-spot foto, look-out yang sudah dipilih dengan seksama.
Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini…. jepret sini, jepret sana, sambil tertawa lepas…
Wuih… senangnya.

Traveling with friends means making memories that even time can’t erase

Bepergian dengan teman berarti membuat kenangan yang bahkan waktu tidak dapat menghapusnya.

Perjalanan pun berlanjut dari Koktokay menuju Burqin. Di sepanjang padang luas, terlihat garis-garis berwarna kuning dan hijau terbentang seperti lukisan alam. Saat mendekat, barulah jelas bahwa itu adalah lahan setelah panen melon dan semangka. Buah-buahan segar itu ada yang disusun rapi bergaris-garis, ada pula yang dibiarkan bertebaran di tanah, memamerkan warna kuning cerahnya. Tak heran, Xinjiang memang terkenal dengan semangka, melon, dan anggurnya yang manis sekali—semanis perjalanan indah yang menemani hari ini.

“Happiness is only real when shared.” – Christopher McCandless.

“Kebahagiaan hanya benar-benar nyata ketika dibagikan – – Christopher McCandless.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tianshan Tiantze – Permata Surgawi di Tengah Pegunungan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tianshan Tiantze – Permata Surgawi di Tengah Pegunungan.

Perjalanan kali ini membawa saya ke sebuah tempat yang begitu indah, hingga sulit dilukiskan dengan kata-kata: Tianshan Tiantze, yang juga dikenal sebagai Heavenly Lake. Nama itu memang tidak berlebihan, karena danau ini seakan-akan merupakan potongan kecil dari surga yang diturunkan ke bumi.

Sejak awal perjalanan, saya dibuat kagum oleh keseriusan pemerintah Tiongkok dalam mengelola destinasi wisata ini. Jalan raya yang membentang mulus bagaikan karpet panjang, disiapkan agar setiap wisatawan dapat mencapai lokasi dengan nyaman. Bus-bus modern, besar, dan bersih pun berjejer menunggu. Kami menaikinya, lalu meluncur sekitar 40 menit melewati hamparan pegunungan yang menjulang megah.

Sepanjang perjalanan, mata saya dimanjakan oleh pemandangan hijau yang menyejukkan. Gunung-gunung Tianshan berdiri anggun, sebagian puncaknya masih tertutup salju, kontras dengan pepohonan pinus yang rindang di bawahnya. Konon, puncak Tianshan dipercaya menjulang begitu tinggi hingga seakan-akan menyentuh langit. Saat mendongak, saya bisa memahami mengapa legenda itu lahir. Ada kesan agung yang membuat manusia merasa kecil di hadapan keperkasaan alam.

Di sepanjang jalan, kami juga melihat batu-batu besar yang tampak seperti pahatan seni. Padahal bentuk itu tercipta alami, hasil tiupan angin yang mengikisnya selama ratusan tahun. Pemandangan itu membuat saya tertegun. Betapa sabarnya alam bekerja, tanpa tergesa, namun menghasilkan karya yang mempesona.

Setibanya di kawasan danau, kami bersiap menaiki perahu.
Pemandangan di sekitar danau itu sungguh menakjubkan. Airnya jernih, memantulkan langit biru dan pepohonan pinus yang berbaris di sekeliling. Di antara batu-batu gunung yang mengitari danau, kadang terselip hamparan rumput hijau, menghadirkan sentuhan lembut di tengah kokohnya bebatuan. Angin sepoi membelai wajah, menghadirkan rasa damai yang tak ternilai.

Untuk keselamatan, semua penumpang diwajibkan mengenakan pelampung. Saat itulah kami harus melepas tas, ponsel, dan barang bawaan. Entah bagaimana, di tengah kesibukan berganti pelampung dan semangat hendak berfoto, saya lupa di mana meletakkan ponsel utama saya.

Awalnya saya baru menyadari saat berada di atas kapal, ketika selesai berfoto ria, barulah menyadari ponsel itu tidak ada. Hati saya tercekat. Mencoba mencarinya, tapi ga ada. Segera saya melapor ke tour leader dan mereka diarahkan untuk membuat laporan polisi. Barulah setelah itu, kami bisa diminta melihat rekaman CCTV bersama polisi. Sungguh menakjubkan, kamera tersebar hampir di setiap sudut. Dari rekaman terlihat jelas aktivitas kami, dan kemungkinan besar ponsel itu terjatuh saat saya berfoto di tepi danau.

Ada rasa sedih, tentu. Namun di sisi lain saya juga belajar menerima. Sambil berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa sebagai solusinya, untuk menemukannya kembali.

Teringat kata-kata Viktor Frankl dalam bukunya “Man’s Search for Meaning.”

“Between stimulus and response, there is a space. In that space is our power to choose our response. In our response lies our growth and our freedom.”

“Di antara stimulus dan respons, di situ ada ruang. Di ruang itulah kekuatan kita untuk memilih respons. Dalam respons itulah terletak pertumbuhan dan kebebasan kita.”

Respon apa yang hendak saya ambil?
Apakah saya bisa tetap percaya, beriman dan bersyukur kepada-Nya?
Apakah damai sejahtera-Nya tetap menguasai hati ini? Atau justru panik, marah dan kecewa.

Sambil menatap danau yang jernih, saya berbisik lirih:
“Apa pun yang terjadi, saya Memilih percaya kepada Tuhan. Ini keteledoran saya sendiri dan saya yang bertanggung jawab. Fondasinya, tetap percaya, God is good all the time….”*

Setelah keputusan ditetapkan, “All is well, O my soul – Semua baik-baik saja, wahai jiwaku….”

Maafkan teman-teman … perjalanan terlambat karena mencari HP.
Terimakasih untuk kasih, pengertian dan kebersamaan teman-teman semua, P. Anton & P. Samsul.

Setelah menikmati keindahan danau, kami menuju restoran tak jauh dari sana. Hidangan lokal tersaji di atas meja, dan yang membuat suasana semakin berkesan adalah tarian tradisional yang ditampilkan. Gerakan lincah penuh keceriaan seolah menyampaikan pesan bahwa hidup ini, meski kadang kehilangan, tetap pantas dirayakan.

Saya menyadari betapa pentingnya setiap bangsa menjaga dan merawat kebudayaannya. Sama seperti pemerintah Tiongkok yang rela berinvestasi besar demi membangun akses, menyediakan transportasi yang nyaman, serta menjaga kelestarian alam di Tianshan Tiantze. Semua itu bukan hanya demi mendatangkan wisatawan, tetapi juga untuk menghargai warisan berharga yang dipercayakan kepada mereka.

Pengalaman di Tianshan Tiantze bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi juga pelajaran kehidupan. Dari jalan raya yang rapi, saya belajar bahwa setiap pencapaian indah selalu didahului dengan persiapan yang baik. Dari perahu yang mengelilingi danau, saya diingatkan bahwa hidup adalah perjalanan—terkadang tenang, terkadang berombak, bahkan kadang kehilangan sesuatu di tengah jalan. Dari batu-batu yang dibentuk angin, saya belajar bahwa waktu, sekalipun terasa keras, bisa menghasilkan keindahan yang tak disangka.

Dalam perjalanan pulang, kami melewati sabana,padang gurun dengan rumput-rumput keringnya. Kadang terlihat di sana sini ada menjangan atau kancil yang tengah merumput. Dan kincir angin besar…
Cantiknya….. lengkap!

Semua ini akan selalu menjadi pengingat, ada hal-hal agung yang membuat manusia belajar merendah, bersyukur, dan tak berhenti mengagumi karya Sang Pencipta.

“In every walk with nature one receives far more than he seeks.” – John Muir.

“Dalam setiap langkah bersama alam, manusia menerima jauh lebih banyak daripada yang ia cari.” – – John Muir.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 28 29 30 31 32 410