Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

NOISE…..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

NOISE…..

Beberapa hari terakhir, drama tumbler Tuku yang tertinggal di KRL membuat jagat maya ribut besar. Masalahnya sederhana, tapi hebohnya membesar seperti bola salju. Orang berdebat, berspekulasi, emosinya naik—padahal intinya cuma satu barang yang tertinggal. *Ini contoh paling segar tentang bagaimana noise bekerja: hal kecil dibesarkan sampai menutup hal besar yang sebenarnya jauh lebih penting.*

Noise itu membuat kita kesulitan mendengar suara Tuhan. Sama seperti sinyal HP yang putus-putus, pesan yang masuk jadi kabur. Kita salah baca situasi, salah mengerti maksud, akhirnya salah ambil keputusan. Noise bukan sekadar ribut-ribut; dia melelahkan pikiran dan menguras energi. Kita burn out, tapi tidak sadar apa penyebabnya.

Yang lebih ironis, ketika sudah jenuh dan ingin istirahat, apa yang kita lakukan? Buka HP, scroll media sosial. Kita pikir itu “hiburan,” padahal yang masuk justru informasi baru yang belum tentu benar, penuh opini, penuh drama. Yang seharusnya jadi waktu tenang, malah menambah butek di kepala. Noise double…. hahaha….
Aneh tapi nyata!

Kita juga tidak terbiasa duduk diam. Tidak terbiasa berhenti berpikir. Tidak terbiasa menenangkan diri. Padahal Tuhan berbicara lewat ketenangan, bukan keributan. Suara-Nya lembut. Kalau hati penuh suara lain, bagaimana kita bisa menangkap suara-Nya?

Tujuan noise sangat penting untuk dipahami: mendistraksi kita dari isu yang sebenarnya. Noise dibuat semakin keras supaya kita begitu kewalahan sampai akhirnya lupa apa inti persoalannya. Sampai muncul pertanyaan polos, “Eh… sebenarnya kita ribut soal apa sih tadi?” Itu tujuan utamanya: membuat kita kehilangan fokus.

Guuubbrrrraaak…..

Noise bisa mengacaukan semua sektor hidup. Tapi garis besarnya tetap sama: distraksi dari hal yang penting, yang nyata, yang substansial. Noise membuat kita sibuk dengan hal-hal kecil sampai hal-hal besar—yang justru menentukan hidup—tidak lagi kita lihat. Kita terjebak pada yang remeh. Fokus kita tercecer.

Dalam hubungan keluarga saja, ini terasa sekali. Berantem dengan pasangan, mulainya karena hal kecil—ada komentar, ada nada suara, ada salah paham. Tetapi begitu noise ikut bermain, emosi meninggi, perdebatan melebar, dan ujung-ujungnya kita lupa akar masalah yang sebenarnya. “Lho, tadi kenapa kita berantem ya?”

Noise mengalihkan perhatian kita dari inti, sampai kita kehilangan arah.

Tuhan berkata, “Yang hatinya teguh, Kau jagai dengan damai sejahtera.”.
Hati teguh itu hati yang mau berhenti dari noise, mau diam sebentar, mau mendengar. Dalam keheningan itulah Tuhan menjaga kita dengan damai yang tidak bisa diberikan dunia.

Saya semakin sadar: bukan Tuhan yang sulit didengar. Kitalah yang terlalu banyak memberi tempat bagi suara lain. Begitu kita memilih tenang, menutup pintu bagi keributan, suara Tuhan langsung terasa lebih jelas. Bukan karena Dia berteriak lebih keras, tetapi karena kita mengurangi gangguan.

Kasus tumbler itu mungkin hanya drama kecil. Tapi pelajarannya dalam: noise bisa membuat hidup kita ribut tanpa arah. Kita bisa lupa apa yang penting. Lupa apa inti persoalan. Lupa mendengar Tuhan.

Makanya hari ini, mari pilih keheningan. Dunia boleh ribut, tapi hati kita tetap bisa damai. Di situlah suara Tuhan terdengar paling jelas. Dalam tinggal TENANG dan percaya, disitulah terletak kekuatanmu.

Mau? Yuk praktik….

“In the midst of movement and chaos, keep stillness inside of you.” – Deepak Chopra

“Di tengah gerak dan kekacauan, peliharalah keheningan di dalam dirimu.” – Deepak Chopra

YennyIndra
www.yennyyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Pernahkah kita merasa sulit memberi karena takut kekurangan? Pikiran logis manusia selalu berkata: kalau memberi, berarti berkurang. Tetapi Firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda. Memberi bukan membuat kita kekurangan, tetapi justru membuka jalan bagi Tuhan untuk mengalirkan berkat-Nya.

Paulus menulis, “Barangsiapa menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Barangsiapa menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6). Ini bukan peribahasa rohani. Ini hukum Tuhan—setegas hukum menabur dan menuai dalam pertanian.

Seorang petani tidak pernah berharap panen tanpa menabur. Ia rela menanam sebagian hasilnya ke tanah, karena tahu benih itu tidak hilang. Benih itu hanya “ditanam”—untuk kembali dalam bentuk panen yang berlipat. Begitu pula dengan memberi. Uang yang kita taburkan di tangan Tuhan bukan lenyap; itu sedang ditanam dalam ladang rohani, menghasilkan panen—baik di dunia ini maupun dalam kekekalan.

Masalahnya, banyak orang ingin menuai besar tetapi tidak pernah menabur. Mereka ingin diberkati tanpa mau memberi. Itu seperti petani yang berharap panen padi tanpa menanam satu butir pun. Prinsip Tuhan selalu dimulai dari tindakan iman: kita memberi dulu, baru menerima. Tuhan tidak bisa memberkati sesuatu yang tidak kita lepaskan.

Namun sangat penting mengerti: Tuhan tidak melihat nominal, tetapi hati.

Andrew Wommack menegaskan, seorang miliuner bisa memberi satu juta dolar dan tetap pelit, sementara orang sederhana yang memberi seribu rupiah bisa dianggap murah hati. Karena Tuhan menilai motivasi, bukan angka.

Ada orang memberi hanya karena ingin diberkati. Mereka menabur bukan karena kasih, tetapi karena ingin menuai. Memberi dengan tujuan mengharapkan imbalan seratus kali lipat bukanlah iman yang murni, melainkan bentuk rohani dari keserakahan. Inilah akar teologi kemakmuran—mengutamakan berkat, bukan Pemberi Berkat.

Kita tidak memberi untuk memanipulasi Tuhan. Kita memberi sebagai respons kasih dan ucapan syukur. Tuhan tidak bisa ditipu dengan “strategi rohani.” Ia melihat kedalaman hati kita.

Seperti anak yang berkata “Aku cinta Mama,” padahal niatnya minta hadiah. Kata-katanya benar, tetapi motivasinya salah. Tuhan ingin kita memberi karena cinta kepada-Nya, bukan karena kalkulasi.

Karena itu Paulus mengingatkan, “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan. Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7).
Kata “sukacita” berasal dari hilaros—akar kata hilarious. Tuhan menyukai pemberian yang lahir dari kegembiraan yang tulus.

Nancy Dufresne pernah berkata, “Memberi bukan tindakan emosi, melainkan keputusan iman yang dipimpin Roh Kudus.”

Berkat Tuhan selalu terdiri dari dua bagian: benih dan roti.
Benih untuk ditabur, roti untuk dimakan.
Artinya, tidak semua yang kita terima harus diberikan. Ada bagian untuk kebutuhan, ada bagian untuk kembali ditaburkan. Hikmat terletak pada membedakan mana benih, mana roti.

Karena itu, bijaksana kalau kita mulai melatih diri menyisihkan bagian untuk memberi:

– untuk gereja tempat kita bertumbuh,
– untuk menolong orang yang membutuhkan,
– untuk misi dan pelayanan Injil,
– untuk keluarga dan kebutuhan pribadi.

Memberi bukan reaksi sesaat karena provokasi, tetapi keputusan yang lahir dari doa, persekutuan dengan Tuhan, dan pimpinan Roh Kudus.

Saat memberi lahir dari kasih, selalu ada damai sejahtera. Tidak ada ketakutan akan kekurangan. Sebab kita tahu: tangan yang memberi selalu dijaga Tuhan. Andrew berkata, “Kalau Tuhan bisa mengalirkan uang lewat kita, Ia akan mengirimkannya kepada kita.”

Tuhan mencari saluran, bukan waduk.
Jika setiap kali diberkati kita menyalurkannya kembali untuk pekerjaan Tuhan dan menolong orang lain, Ia akan mempercayakan lebih banyak kepada kita—karena alirannya tetap bersih dan tidak mandek di tangan kita.

Memberi yang cerdas bukan hanya memberi “perbuatan baik,” tetapi memberi sesuatu yang berdampak kekal. Itu sebabnya saya suka membagikan buku-buku rohani yang membangun. Satu buku bisa mengubah kualitas hidup seseorang. Dan perubahan itu masuk kategori “buah kekekalan”—yang tidak bisa hilang.

Hukum memberi dan menerima dalam kerajaan Allah sangat berbeda dari cara dunia. Dunia berkata, kalau memberi berarti kehilangan. Tetapi Tuhan berkata, memberi dengan hati benar justru membuat kita berkelimpahan.

“Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepadamu, supaya kamu senantiasa memiliki segala kecukupan dalam segala hal dan berkelimpahan dalam setiap pekerjaan baik.” (2 Korintus 9:8)

Guru saya, Greg Mohr, selalu berkata: Tuhan ingin kita berkelimpahan—artinya cukup untuk diri sendiri dan ada extra untuk memberkati orang lain. Bukan supaya kita hidup mewah, tetapi supaya kita mampu memberi lebih banyak. Kita diberkati untuk menjadi berkat.

Ketika kebutuhan kita tercukupi dan kita tetap murah hati, banyak orang akan memuji Tuhan. Itulah tujuan berkat: memuliakan Allah. Tuhan tidak menilai berapa banyak yang kita beri, tetapi seberapa banyak kasih yang terkandung di dalamnya.

Dan ketika kasih menjadi alasan kita memberi, berkat akan datang bukan karena kita mengejarnya—tetapi karena Tuhan melihat bahwa kita bisa dipercaya menjadi saluran berkat-Nya.

“As God is exalted to the right place in our lives, a thousand problems are solved all at once- including why and how we give.” – A.W. Tozer.

“Ketika Allah ditinggikan pada tempat yang benar dalam hidup kita, seribu masalah terselesaikan sekaligus-termasuk mengapa dan bagaimana kita memberi.” – A.W. Tozer.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Cara Mengatasi Kepanikan & Mengendalikan Emosi.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Cara Mengatasi Kepanikan & Mengendalikan Emosi.

Ada banyak masalah yang baru pertama kali saya hadapi. Wajar kalau bingung dan bertanya, harus mulai dari mana? Kalau masalah yang berulang, kita sudah tahu pola dan solusinya. Tetapi masalah baru sering membuat hati goyah.

Hampir setiap hari saya menulis dan menerjemahkan materi pengajaran yang membangun iman. Setiap kalimat yang saya tulis, sebenarnya saya pun sedang belajar. Kesaksian dan pertolongan Tuhan jumlahnya sudah “segunung”. Namun tetap saja saya merasakan jarak antara apa yang saya ketahui secara mental dan apa yang benar-benar saya rasakan di dalam hati.

Orang lain mungkin melihat saya tenang. Tapi saya tahu persis isi hati saya. Ada gelisah yang muter-muter di kepala. Tidak benar, tetapi tidak pergi meski saya sudah baca firman, berdoa, dan deklarasi. Bahkan ikut terbawa ke dalam mimpi.

Pernah mengalaminya?

Pagi ini saya bangun subuh, berdoa, dan membaca firman.
“Tuhan, saya tahu ini tidak benar. Kenapa saya gelisah? Tolong saya mengerti hati-Mu dan mengatasi ini.”

Kadang kita merasa tidak connect dengan Tuhan. Apa yang harus dilakukan?

Saya ingat nasihat *Greg Mohr: kalau hati terasa berat, berdoalah dalam roh.*
Saya pun taat. Lalu saya menemukan penyebab jarak itu: saya sedang panik. Merasa beriman, tetapi hati meronta.

Tuhan mengingatkan satu prinsip sederhana yang sering kita lewatkan:
Let not your heart be troubled.
Jangan biarkan hatimu bermasalah.

Panik muncul ketika kita lebih percaya situasi daripada janji Tuhan. Dan respons pertama dalam situasi krisis sering menentukan arah berikutnya. Kalau kita langsung panik, pikiran menjadi kacau, sulit mendengar suara Tuhan, dan makin sulit bertindak dalam iman.

Sebaliknya, saat pikiran diperbarui oleh firman, kita bisa tetap tenang dalam tekanan. Kita bergerak berdasarkan iman, bukan emosi negatif.

Andrew Wommack berkata:
“Emosi adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang buruk. Jika Anda tidak mengendalikan emosi Anda, emosi Anda akan mengendalikan Anda.”

Ia menambahkan: lebih mudah mengendalikan emosi sejak awal sebelum melebar ke ketakutan dan kepanikan. Kalau sudah terlanjur liar, 80–90% kasus sulit membalikkan keadaan. Karena itu, langkah pertama menghadapi krisis adalah: Jangan panik. Percaya. Lalu mulai beroperasi dalam iman.

Emosi itu seperti kuda. Kalau kita bisa mengendalikannya, ia menjadi alat yang berguna. Tapi kalau kita membiarkannya liar, kita bisa terlempar dan malah terluka.

Andrew pernah mendoakan Hannah Terradez, anak kecil yang menderita penyakit autoimun langka, Eosinophilic Enteropathy. Berkali-kali didoakan tetapi tidak sembuh. Tetapi ketika Andrew berdoa, Hannah sembuh secara supernatural. Mengapa?

Andrew menjelaskan, banyak orang mendoakan Hannah tetapi hati mereka panik melihat kondisinya yang mengerikan. Doanya terdengar benar, tetapi tidak lahir dari iman. Padahal bagi Tuhan, tidak ada sakit berat atau ringan. Andrew datang dengan keyakinan bahwa Tuhan ingin setiap orang sehat. Ia berfokus pada kemampuan Tuhan, bukan pada keadaan. Iman bekerja — dan mujizat terjadi.

Iman timbul dari pendengaran. Apa yang kita dengarkan menentukan arah hidup kita. Saat saya mendengarkan pengajaran Andrew, iman saya bangkit. Ketika iman hadir, kepanikan hilang dengan sendirinya.

Orang di sekitar — bahkan P. Indra — tidak tahu apa yang terjadi dalam hati saya. Tetapi saya tahu. Saya berubah. Masalahnya masih sama, tetapi ada damai sejahtera yang menguasai pikiran dan hati. Dan saya sadar: kalau Allah menyertai saya, siapa yang bisa melawan?

Bagaimana dengan Anda? Mari belajar bersama.

Tidak peduli apa yang kita hadapi hari ini, ingatlah:
Tuhan, Allahmu, menyertaimu. Ia berperang untukmu dan memberikan kemenangan.

“Self-awareness is the key to emotional intelligence. If you understand your emotions, you can control them.” – Daniel Goleman

“Kesadaran diri adalah kunci kecerdasan emosional. Jika Anda memahami emosi Anda, Anda dapat mengendalikannya.” – – Daniel Goleman

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Fasilitas VS Karakter, Mana Yang Membawa Kesuksesan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Fasilitas VS Karakter, Mana Yang Membawa Kesuksesan?

Sebelum dunia mengenal istilah anak sultan yang sibuk pamer kemewahan di media sosial, ada seorang anak miliarder yang justru belajar membersihkan talang air di rumahnya sendiri. Namanya Howard Buffett, anak tengah dari Warren Buffett, salah satu orang terkaya di dunia.

Warren tidak membesarkan anak-anaknya di rumah mewah penuh fasilitas. Mereka tinggal di rumah yang sama sejak 1958, sederhana, tanpa penjaga atau pelayan. Ia tidak ingin anak-anaknya hidup nyaman tapi kehilangan makna.

“Kalau kami pergi menonton film, kami tak pernah tahu apakah ayah akan membayari tiketnya atau tidak,” kata Howard sambil tertawa dalam wawancara dengan Fortune. “Bagi ayah, setiap orang harus menanggung bebannya sendiri.”

Itu bukan ucapan kosong. Howard kecil menghabiskan akhir pekan dengan memotong rumput, menyapu halaman, dan membersihkan talang air yang mampet. Warren Buffett percaya bahwa tanggung jawab tidak tergantung pada jumlah rekening bank. Ia ingin anak-anaknya belajar bahwa kerja keras membentuk jiwa, dan rasa syukur tumbuh dari proses, bukan dari kemudahan.

Howard pun menanamkan prinsip yang sama kepada anaknya. Suatu hari, ketika Howie — anaknya — tahu bahwa Michael Jordan datang ke Omaha, ia meminta duduk di sebelah sang legenda NBA. Ia pikir, karena nama belakangnya “Buffett”, tentu ia bisa mendapatkan tempat istimewa. Howard menatap lembut dan berkata, “Privilege tidak sama dengan hak.”
Kata-kata itu menggambarkan seluruh filosofi hidup keluarga Buffett: nama besar bukan tiket menuju hak istimewa, melainkan tanggung jawab untuk tetap rendah hati.

Howard kemudian memilih jalan hidup yang sederhana. Ia menjadi petani jagung dan kedelai di pinggiran Omaha, sekaligus menjabat komisaris daerah — pekerjaan yang nyaris tak terbayangkan untuk anak seorang miliarder.

Bayangan orang pada umumnya, anak miliarder ya menjabat CEO Perusahaan, Menteri, Direktur Bank, aktivitas nasional sering masuk TV dsb.
Sedangkan Komisaris Daerah, skala kerjanya lokal, terbatas satu wilayah. Gajinya relatif kecil dibanding jabatan nasional atau korporasi besar. Sorotan media minim.Tidak memberi status sosial “tinggi” di mata orang yang mengejar popularitas atau kekuasaan.

Tapi Howard bahagia. Ia tahu, arti hidup bukan diukur dari posisi, tapi dari kontribusi.

Warren Buffett sendiri menegaskan bahwa ia tidak akan memberikan seluruh kekayaannya kepada anak-anaknya. Ia berkata, ia hanya ingin memberi cukup agar mereka bisa melakukan apa yang mereka inginkan, tetapi tidak cukup untuk membuat mereka tidak perlu melakukan apa pun. Sebuah prinsip yang bijak — karena uang tanpa tanggung jawab hanya menghasilkan kemalasan, bukan makna.

Di tengah dunia yang mengagungkan kemewahan dan kesuksesan instan, kisah keluarga Buffett adalah teguran lembut: kekayaan bisa diwariskan, tetapi karakter harus dibangun.
Banyak orang ingin anaknya “lebih mudah” dari dirinya, padahal kemudahan yang berlebihan justru melemahkan mental. Hidup tanpa tantangan tidak akan melahirkan ketangguhan.

Kita semua tahu bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari kemewahan, melainkan dari rasa berharga karena berjuang. Itulah yang Warren Buffett ajarkan: nilai hidup tidak diukur dari apa yang kita punya, tapi siapa kita saat harus berjuang tanpa fasilitas. Ia mengajarkan disiplin, kerja keras, dan integritas — nilai-nilai yang sejatinya juga menjadi fondasi iman.

Tuhan pun mendidik kita dengan cara serupa. Ia tidak memanjakan, tapi membentuk. Ia tidak memberi segalanya sekaligus, karena Ia tahu, pertumbuhan karakter lahir dari tanggung jawab. Kematangan muncul ketika kita belajar menghargai hasil kerja tangan sendiri.

Kisah keluarga Buffett mengingatkan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari saldo, tapi dari hati yang kuat, tekun, dan jujur. Dunia mungkin menilai kesuksesan dari mobil dan rumah, tapi Tuhan menilai dari kesetiaan dan integritas.

Howard Buffett pernah berkata, “Ayah saya tidak meninggalkan warisan uang, tapi ia meninggalkan nilai hidup yang jauh lebih mahal.”
Dan itulah warisan terbaik yang bisa kita berikan pada anak-anak kita — bukan harta, tetapi karakter dan nilai-nilai yang memuliakan Tuhan.

“It is not what you do for your children, but what you have taught them to do for themselves that will make them successful human beings.”

“Bukan apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita yang menjadikan mereka berhasil, tapi apa yang kita ajarkan agar mereka mampu melakukannya sendiri.” — Ann Landers

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Stop Menunggu Perasaan, Mulai Dari Ketaatan

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Stop Menunggu Perasaan, Mulai Dari Ketaatan

Salah satu jebakan paling halus dalam kehidupan rohani adalah ini: kita terlalu sibuk menunggu perasaan. Merasa siap dulu. Merasa penuh kuasa dulu. Merasa berani dulu. Merasa diurapi dulu. Baru setelah itu mau melangkah.

Padahal iman tidak pernah bekerja dengan sistem tunggu perasaan. Iman bekerja dengan ketaatan.

Banyak orang berkata,
“Aku belum merasa ada kuasanya.”
“Aku belum merasa siap pelayanan.”
“Nanti kalau rohaninya sudah lebih kuat.”

Masalahnya, kalau kita terus menunggu perasaan, kita bisa berhenti di situ sampai tua. Bahkan sampai napas terakhir.

Reinhard Bonnke pernah menulis bahwa baptisan Roh Kudus memberikan kuasa yang permanen, tetapi bukan perasaan berkuasa yang permanen. Ini penting sekali. Jangan salah ukur.

Alkitab sendiri berkata,
“Kami mempunyai harta ini dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2 Korintus 4:7)

Kuasa itu ada. Tapi dibungkus dalam tubuh rapuh, perasaan naik turun, kondisi yang tidak selalu ideal.

Bonnke memberi ilustrasi tentang kabel listrik bertegangan tinggi. Dari luar kelihatannya biasa saja, entah sedang dialiri listrik atau tidak. Tapi saat arus mengalir, kuasanya nyata.

Begitu juga kita. Kuasa Tuhan di dalam kita tidak untuk terus dirasakan, tetapi untuk dipakai saat dibutuhkan.

Saya pernah mengalami ini sendiri. Dalam masa kelelahan dan tekanan, waktu itu saya tidak merasa rohani sama sekali. Tidak ada perasaan “diurapi”. Tidak ada semangat meluap-luap. Yang ada hanya rasa lelah. Tapi ada tugas pelayanan yang harus dijalankan. Tidak ada pilihan mundur.

Dan saya bertindak dengan iman.

Waktu mulai melangkah, waktu mulai berbicara, waktu mulai setia melakukan bagian saya, sesuatu terjadi. Bukan karena saya tiba-tiba merasa kuat, tapi karena Tuhan setia pada janji-Nya.

“Yesus berkata: Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku…” (Kisah Para Rasul 1:8)

Perhatikan, bukan berkata: “Kamu akan merasa kuat.”
Tetapi: “Kamu akan menerima kuasa.”

Kuasa itu bukan sensasi. Kuasa itu realitas rohani.

Sering kali masalah kita adalah ingin merasakan dulu baru melangkah. Padahal Tuhan mau kita melangkah dulu baru mengalami.

Dalam 2 Timotius 1:7 tertulis,
*“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

Roh yang membangkitkan kekuatan. Artinya kekuatan itu ada. Tinggal mau atau tidak kita memakainya.

Tapi ada satu hal yang harus jujur kita akui: Tuhan tidak memaksa.

Dia bertanya, seperti di Yesaya 6:8,
“Siapakah yang akan Kuutus? Dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”

Bukan siapa yang paling siap.
Bukan siapa yang paling merasa berkuasa.
Tapi siapa yang mau.

Karena di Kerajaan Allah, tidak ada wajib militer. Ada ketaatan sukarela.

Banyak orang berdoa supaya Tuhan memberi mereka “dorongan kuat” sampai akhirnya mereka tidak bisa menolak. Mereka ingin dipaksa jadi rajin, dipaksa berani, dipaksa melayani. Tapi itu bukan cara kerja Tuhan.

Tuhan menghormati kehendak kita.

Yakobus 2:17 mengingatkan,
“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”

Iman yang cuma menunggu perasaan, tapi tidak melangkah, tidak akan pernah melihat kuasa itu bekerja.

Kuasa Tuhan itu bukan seperti lampu hias yang bikin kita merasa hangat. Kuasa Tuhan itu seperti mesin yang bekerja saat kita menekan pedal.

Kalau kita tidak menekan, tidak akan ada gerakan.

Jangan tunggu merasa berani. Lakukan yang benar.
Jangan tunggu merasa kuat. Ambil langkah iman.
Jangan tunggu merasa diurapi. Ketaatan lebih berharga dari sensasi.

Karena firman Tuhan juga berkata:
“Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17)

Bukan oleh perasaan.
Bukan oleh mood.
Bukan oleh suasana hati.

Dan pelajaran terbesarnya adalah ini:
Saat kita berdiri dan melangkah, meskipun hati kosong dan tubuh lelah, di situlah kuasa Tuhan sering bekerja paling nyata.

Bukan karena kita kuat.
Tapi karena Dia setia.

Praktik yuuuk….

“Faith doesn’t wait for feelings. It acts on God’s Word.” – Reinhard Bonnke.

“Iman tidak menunggu perasaan. Iman bergerak berdasarkan Firman Tuhan” – Reinhard Bonnke.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 25 26 27 28 29 416