Articles

Qinghai: Ketika Hujan Mengubah Itinerary…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Qinghai: Ketika Hujan Mengubah Itinerary…

Hari kedua perjalanan kami di Qinghai, tujuan utamanya adalah Qinghai Lake, danau air asin pedalaman terbesar di Tiongkok.

Danau ini benar-benar besar. Luasnya sekitar 4.600 kilometer persegi, sementara Pulau Bali sekitar 5.600 kilometer persegi.

Bayangkan, sebuah danau luasnya hampir menyamai Pulau Bali!

Pantas ketika memandangnya, rasanya bukan sedang melihat danau.

Lebih mirip laut.

Air membentang luas sampai ke horizon. Qinghai Lake berada di dataran tinggi sekitar 3.200 meter di atas permukaan laut dan juga terkenal sebagai habitat serta tempat persinggahan berbagai jenis burung migran.

Kami sudah membayangkan berjalan di area tepi danau, melihat burung-burung beterbangan di pantai, memberi mereka makan….
Sayangnya hari itu hujan.

Bukan hujan sebentar lalu berhenti.
Hujan terus turun.
Kami tidak bisa turun menikmati tepi danau dan berfoto seperti yang sudah dibayangkan. Akhirnya Qinghai Lake kami nikmati dari kejauhan sambil minum kopi.

Ya sudah…
Dibawa happy saja.

Sehebat apa pun manusia membuat itinerary, tetap ada hal-hal yang tidak bisa kita atur.
Salah satunya cuaca.

Tetapi ternyata ceritanya belum selesai.

Ketika kami berjalan menuju toilet, eh… di dekat toilet justru ada bunga warna-warni yang cantik

Merah, kuning, ungu dan berbagai warna lainnya tersusun seperti karpet hidup.

Nah…

Yang di danau tidak bisa foto, di dekat toilet malah dapat spot foto!

Ha… ha….

Langit boleh kelabu, tetapi bunga-bunganya tetap cerah.
Jepret… jepret….
Cakep juga ternyata!

Kadang traveling memang lucu. Kita sudah membayangkan akan mendapatkan foto terbaik di tempat wisata utama, ternyata tidak bisa. Eh, justru menemukan sesuatu yang cantik di tempat yang sama sekali tidak diperhitungkan.

P. Indra bahagia, sibuk mengubah foto-foto teman-teman menjadi video lucu-lucu dengan AI.
Ternyata, selalu ada cara kreatif menikmati sesuatu bukan?

Keesokan harinya, itinerary kami seharusnya menuju Kanbula National Forest Park.

Ternyata hujan belum juga berhenti.
Bahkan hujan turun terus sepanjang hari hingga malam.

Saat itu pemerintah Tiongkok memang sedang meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem. Beberapa hari sebelumnya, kawasan perbatasan Nepal–Tibet baru saja mengalami bencana banjir bandang yang sangat dahsyat akibat runtuhnya gletser dan material batu di Himalaya. Air, lumpur dan bebatuan menerjang lembah, menghancurkan permukiman, jalan serta jembatan. Ratusan orang meninggal dan banyak lainnya masih dinyatakan hilang.

Di Qinghai sendiri, hujan lebat saat itu meningkatkan risiko banjir, longsor dan aliran lumpur sehingga pemerintah setempat meningkatkan status kesiapsiagaan di sejumlah wilayah.

Safety first.

Kanbula pun ditutup untuk pengunjung.

Sayang memang, karena sepanjang perjalanan kami bisa melihat betapa uniknya kawasan Kanbula.

Pegunungannya berwarna kemerahan,tanahnya berwarna merah, berpadu dengan pepohonan hijau, sementara beberapa bagian mulai berwarna kuning.
Merah, hijau, kuning…
Menarik….

Meski tidak bisa masuk ke kawasan wisatanya, setidaknya kami masih bisa menikmati pemandangannya dari perjalanan.

Karena Kanbula tutup, perjalanan dilanjutkan menuju Guide Ancient City.

Kami berjalan-jalan di kawasan kota tua tersebut dan mengunjungi sebuah monastery. Suasananya sangat berbeda dari Qinghai Lake. Perjalanan ini memang menarik—dalam beberapa hari saja kami berpindah dari danau garam, pegunungan, kota tua, hingga monastery.

After lunch, perjalanan dilanjutkan menuju Kumbum Monastery, yang juga dikenal sebagai Ta’er Temple, dekat Xining.

Kumbum merupakan salah satu biara Buddha Tibet yang paling penting di Qinghai dan salah satu pusat utama tradisi Gelug dalam Buddhisme Tibet. Kompleksnya luas, sehingga kami menggunakan shuttle bus untuk menjelajahinya.

Dua hari di Qinghai benar-benar mengajarkan bahwa traveling tidak selalu berjalan sesuai itinerary.

Qinghai Lake hujan.
Tidak bisa foto di tepi danau.
Kanbula malah tutup.
Rencana berubah.

Tetapi kami tetap minum kopi, menemukan hamparan bunga cantik dekat toilet, menikmati pegunungan merah dari kejauhan, mengunjungi kota tua dan melihat monastery-monastery yang menarik.

Tidak semua yang direncanakan berhasil dikunjungi, tetapi selalu ada sesuatu yang bisa dinikmati.
Bukankah justru kejadian-kejadian seperti inilah yang kelak paling seru diceritakan?

Hari ini saatnya kami meninggalkan Xining.
Sebelum menuju train station, kami sempat mampir ke pasar tradisional. Menarik melihat kue-kue, buah dan sayuran segar dengan harga yang sangat murah. Bahkan masih ada kue hangat, lezat ala jadul yang kalau dikonversikan harganya sekitar seribu rupiah. Peach segar pun hanya sekitar 5 yuan.

Kami mencicipi berbagai jajanan sambil bercanda dan tertawa bersama teman-teman.

Ternyata bahagia saat traveling tidak selalu harus datang dari tempat wisata spektakuler. Menikmati jajanan sederhana dan tertawa bersama teman pun bisa menjadi kenangan yang menyenangkan.

Perjalanan dilanjut dengan bullet train dari Xining menuju Xi’an.

Bye-bye Qinghai…

Xi’an, here we come!

Itinerary boleh berubah.

The journey continues.


“Life is what happens to you while you’re busy making other plans.” – John Lennon

“Hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sedang sibuk membuat rencana-rencana lain.” – John Lennon

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Ketika tempat yang kita tuju tertutup, jangan ikut menutup mata. Bisa jadi keindahan sedang menunggu di tempat yang tidak kita rencanakan.”

“When the place we planned to visit is closed, don’t close your eyes with it. Beauty may be waiting somewhere we never planned to find” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Orang-orang percaya, ‘yang tidak percaya’.”
Bagaimana Cara Mengikuti Rancangan Tuhan?
Le Petit Chef Jakarta – Cerita Apa Yang Anda Sampaikan?