Articles

Sommaroy: Pulau yang Mengajak Dunia Melepas Jam Tangan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sommaroy: Pulau yang Mengajak Dunia Melepas Jam Tangan

Melewati sebuah jembatan sepanjang sekitar 600 meter yang hanya cukup dilalui satu mobil secara bergantian, akhirnya kami tiba di tujuan utama perjalanan ini.: Sommarøy, yang dikejar karena terpesona kisah di Tiktok.

Pulau kecil di kawasan Arctic yang selama setahun terakhir hanya saya lihat di video-video perjalanan.

Kini saya benar-benar berada di sana.
Kami sudah berada di sekitar 69° Lintang Utara.
Masuk jauh ke kawasan Arctic, alias kutub utara.

Dan semakin saya melihatnya, semakin saya mengerti mengapa banyak orang menyebut Norwegia sebagai Stairway to Heaven.

Sebelum memasuki Sommarøy, perhatian saya tertuju pada sebuah pulau bergerigi yang berdiri gagah di tengah laut.

Namanya Pulau Håja.

Bentuknya begitu khas sehingga banyak orang percaya pulau inilah yang menginspirasi desain Arctic Cathedral di Tromsø yang terkenal itu.

Arsiteknya, Jan Inge Hovig, ternyata sengaja membiarkan misteri itu tetap hidup.

Kadang ia mengatakan inspirasinya berasal dari gunung es.
Kadang dari tenda suku Sami.
Kadang dari rak pengering ikan.
Kadang pula dari Pulau Håja.

Sampai beliau meninggal dunia, tidak ada yang tahu jawaban pastinya.
Dan mungkin memang tidak semua keindahan harus dijelaskan.
Sebagian cukup dikagumi.

Sommarøy sendiri hanya dihuni sekitar 300 penduduk.
Sebagai perbandingan, seluruh kepulauan Lofoten yang begitu luas hanya memiliki sekitar 28.000 penduduk.

Tetapi yang membuat saya kagum, pulau kecil ini memiliki hampir semua yang dibutuhkan.

Ada sekolah.
Ada supermarket.
Ada museum kecil.
Ada pelabuhan.
Ada fasilitas umum.
Lengkap.
Seperti sebuah dunia mini yang berdiri sendiri di tengah lautan Arctic.

Pulau ini juga dikelilingi banyak pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya.
Dari kejauhan tampak seperti batu-batu zamrud yang ditaburkan Tuhan di atas laut biru kehijauan.

Dan warna lautnya sungguh luar biasa.
Ketika langit mendung, air laut berubah menjadi abu-abu lembut.
Tetapi begitu matahari muncul, warnanya berubah menjadi hijau turquoise yang memukau.
Seolah-olah seseorang baru saja mengganti warna seluruh lautan.

Kami menginap di Sommarøy Arctic Hotel, satu-satunya hotel besar di pulau itu.
Dan tentu saja lokasinya yang terbaik.
Hotel ini memiliki lagoon sendiri.
Pantai pribadi.
Pasir putih.
Air sebening kristal.
Dan pemandangan yang membuat kita sulit berhenti memotret.

Malam itu suhu sekitar delapan derajat Celsius.
Bagi kami dingin.
Tetapi puluhan remaja Norwegia masih berenang dan bermain di pantai.
Padahal jam sudah malam.
Atau setidaknya seharusnya malam.

Karena di sini, malam dan siang menjadi konsep yang membingungkan.
Langit tetap terang.
Matahari masih bercahaya.
Dan tubuh kita seperti kehilangan orientasi waktu.

Ada satu spot yang sangat cantik di tengah Sommarøy.
Tiga rumah mungil yang berdiri anggun menghadap laut.
Persis seperti kartu pos.
Saya berfoto di sana.
Ternyata Private property.

Di Norwegia, hak milik pribadi benar-benar dihormati.
Tidak boleh sembarangan masuk.
Tidak boleh sembarangan parkir.
Bahkan untuk mengambil foto pun ada batas yang harus dihormati.

Awalnya terasa merepotkan.
Tetapi kemudian saya mengerti.
Mungkin karena itulah tempat-tempat seperti ini tetap terjaga keindahannya.

Namun keunikan terbesar Sommarøy bukanlah pantainya.
Bukan pula hotelnya.

Melainkan sebuah ide yang membuat dunia tercengang.

Pada tahun 2019, seorang warga bernama Kjell Ove Hveding mengusulkan agar Sommarøy menjadi Time-Free Zone, zona bebas waktu pertama di dunia.

Alasannya sederhana.
Selama musim panas, matahari tidak benar-benar terbenam selama sekitar 69 hari.

Siang dan malam menjadi kabur.
Jam tujuh malam terasa seperti jam dua siang.
Jam dua pagi bisa terasa seperti sore hari.
Kalau ingin minum kopi di pantai jam dua pagi, silakan.
Kalau ingin berenang jam empat pagi, juga silakan.

Bahkan saat kampanye itu diluncurkan, sebagian warga benar-benar menyimpan jam tangan mereka di laci.

Sebagian melepas jam dinding dari rumah.
Mereka ingin hidup mengikuti cahaya dan musim, bukan jarum jam.

Media internasional langsung heboh.
Lebih dari 1.600 media dunia memberitakannya.
Jangkauannya mencapai sekitar 1,2 miliar pembaca global.

Yang lebih mengejutkan lagi, belakangan diketahui bahwa kampanye tersebut merupakan strategi promosi wisata yang sangat cerdas.
Biayanya hanya sekitar 60.000 dolar AS.
Tetapi nilai publisitas yang dihasilkan diperkirakan mencapai 11,4 juta dolar AS.
Brilian.

Sebuah pulau kecil berpenduduk 300 orang berhasil membuat dunia membicarakan dirinya.

Namun setelah berada di sini, saya merasa keberhasilannya bukan semata karena pemasaran yang hebat.
Melainkan karena mereka menjual sesuatu yang memang dirindukan banyak orang.

Mereka menjual sebuah pertanyaan.
*Bagaimana jadinya jika hidup kita tidak terus-menerus dikuasai oleh waktu?*

Karena sesungguhnya banyak orang lelah.
Lelah mengejar jadwal.
Lelah mengejar target.
Lelah mengejar sesuatu yang selalu bergerak lebih cepat daripada dirinya.

Sommarøy seolah berbisik,
“Sesekali, lepaskan jam tanganmu.”

Bukan secara harfiah.
Tetapi di dalam hati.
Berhentilah sejenak.

Nikmati momen yang sedang Tuhan berikan.

Karena hidup bukan hanya soal mengelola waktu.

Tetapi juga tentang menikmati waktu yang telah dianugerahkan kepada kita.

“Jangan terlalu sibuk menghitung waktu hingga lupa menikmati kehidupan yang Tuhan berikan.”
Setuju?

“The butterfly counts not months but moments, and has time enough.”— Rabindranath Tagore .

“Kupu-kupu tidak menghitung bulan, melainkan momen. Dan itu sudah cukup baginya.” — Rabindranath Tagore .

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Pertama Yang Tak Terlihat, lalu Yang Terlihat
Bagaimana dengan Seksualitas dan Identitas Diri?
Seberapa Besar Wadah Kita?