Articles

Kalau Ada Surga di Bumi, Mungkin Beginilah Rasanya…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kalau Ada Surga di Bumi, Mungkin Beginilah Rasanya…

Konon orang Norwegia sering berkata,
“Jika ada surga di bumi, mungkin itulah Lofoten saat Midnight Sun.”

Setelah seharian menjelajahi Lofoten dari Svolvær menuju Å Village, Reine dan Hamnøy, saya mulai mengerti mengapa mereka berkata demikian.

Lofoten bukan sekadar indah.

Lofoten itu membuat kita berhenti berbicara.

Lalu hanya memandang.

Dan berulang kali berkata,

“Wow…”

Pagi itu cuaca tidak terlalu bersahabat.
Mendung.
Sedikit gerimis.
Gunung-gunung besar yang menjulang tinggi sebagian tertutup awan.

Tetapi justru di situlah keunikannya.
Di Lofoten, cuaca bisa berubah berkali-kali dalam sehari.

Saat mendung, air laut terlihat abu-abu keperakan.
Tenang.
Dingin.
Hampir seperti cermin logam raksasa.

Namun begitu matahari muncul dan menyentuh permukaan laut, keajaiban terjadi.
Air yang tadinya abu-abu langsung berubah menjadi hijau turquoise.
Biru kehijauan.
Berkilauan.

Seolah seseorang baru saja mengganti warna laut dengan sapuan kuas raksasa.
Saya sampai berkali-kali mengucek mata.
Apakah ini laut yang sama?

Lofoten terdiri dari beberapa pulau besar yang saling terhubung oleh jembatan-jembatan cantik dan jalan yang berkelok mengikuti garis pantai.

Tujuan kami hari itu adalah Å Village.

Ya, namanya hanya satu huruf.

Å.

Huruf terakhir dalam alfabet Norwegia.
Dan secara harfiah menjadi ujung jalan Lofoten.
Wuih… uniknya!
The end of the road.
Tidak ada lagi jalan setelah itu.
Hanya laut.
Pulau-pulau kecil.
Dan cakrawala yang luas.

Sepanjang perjalanan menuju Å, mata kami dimanjakan oleh pemandangan yang rasanya seperti keluar dari kartu pos.

Rumah-rumah nelayan merah.
Gudang-gudang kayu merah tua.
Perahu-perahu kecil.
Laut biru.

Dan gunung-gunung batu raksasa yang berdiri gagah langsung dari permukaan laut.

Kadang saya bertanya dalam hati,

“Tuhan, bagaimana mungkin ada tempat secantik ini?”

Salah satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah ikan cod yang dijemur di mana-mana.

Bau ikan kering cukup terasa di beberapa tempat.

Ribuan ikan cod tergantung berjajar pada rak-rak kayu besar.

Pemandangan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lofoten selama ratusan tahun.

Yang unik, ikan cod kering ini keras sekali.

Hampir seperti kayu.

Ternyata sebelum diolah, ikan tersebut direndam beberapa hari hingga kembali menyerap air dan menjadi lebih lunak.

Tradisi lama yang masih bertahan hingga sekarang.

Kami berhenti makan siang di Reine.
Salmon steak.
Resto di sana hanya 2. Selalu full dengan grup.
Dan mungkin salah satu lokasi makan siang tercantik yang pernah saya alami.

Di depan restoran terbentang laut yang tenang.
Beberapa orang bermain kayak.
Banyak yacht yang parkir di sana.

Sementara di belakangnya berdiri tebing-tebing raksasa yang menjulang ke langit.
Makanannya enak.
Tetapi pemandangannya membuat makanan terasa lebih nikmat.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Hamnøy.

Di sinilah saya benar-benar terpukau.

Hamnøy mungkin adalah salah satu tempat yang paling sering muncul dalam foto-foto promosi Norwegia.

Dan setelah melihatnya sendiri, saya mengerti alasannya.

Rumah-rumah merah berdiri di tepi laut.
Air yang tenang memantulkan bayangan gunung.

Di kejauhan, puncak-puncak batu menjulang seperti benteng raksasa.
Sebagian masih menyimpan sisa-sisa salju musim dingin.
Sementara lerengnya ditutupi warna hijau yang segar.

Begitu matahari keluar setelah hujan berhenti, seluruh pemandangan berubah.

Seolah tirai dibuka.
Gunung-gunung bersinar.
Laut berkilauan berubah warna dari abu-abu saat mendung, menjadi hijau turqoise.

Rumah-rumah merah menjadi semakin hidup.
Dan warna-warna alam muncul dengan penuh percaya diri.

Saya hanya bisa berdiri diam.
Menikmati.
Bersyukur.
Terpukau.
Menyerap semuanya.
Karena ada keindahan yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya oleh kamera.

Di beberapa tempat kami juga melihat saluran air khusus untuk salmon.
Orang Norwegia sangat memperhatikan kelestarian alam.
Mereka membantu ikan-ikan salmon bermigrasi kembali ke hulu sungai saat musim bertelur tiba.
Melihat itu saya kembali teringat pelajaran kemarin.
Salmon selalu menemukan jalan pulang.

Mungkin karena Tuhan memang menciptakan setiap makhluk dengan tujuan dan arah yang jelas.

Sepanjang perjalanan hari ini, saya semakin menyadari satu hal.
Damai bukan hanya sesuatu yang kita rasakan.
Damai adalah hadiah dari Tuhan.
Damai adalah kompas.
Damai adalah petunjuk.
Dan damai itulah yang membawa saya sampai ke tempat ini.

Melihat gunung-gunung yang luar biasa.
Laut yang berubah warna.
Rumah-rumah nelayan yang cantik.
Dan karya Tuhan yang begitu megah.

Ada tempat-tempat yang membuat kita kagum.

Tetapi ada tempat-tempat yang membuat kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihatnya.

Lofoten termasuk yang kedua.

“Anugerah Tuhan membawa saya sampai di sini.”

Praise The Lord!

“The farther I travel, the more I realize: I did not discover the beauty. God simply allowed me to see it.” – Yenny Indra.

Semakin jauh saya melangkah, semakin saya sadar: bukan saya yang menemukan keindahan itu. Tuhanlah yang memperkenankan saya melihatnya.”- Yenny Indra.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Apakah Tuhan mengijinkannya?
Siap Menyongsong Perubahan? Ini Caranya!
Apa Rahasia Terciptanya Mujizat?